Author : Cho Anna
Genre : Drama, Romance
Cast :
Cho Kyuhyun
Kim Min Young
Lee Dong Hae
Other cast :
Find by your self
(Hai readers, akhirnya posting lagi chapter selanjutnya dari CH, masih sama kaya sebelumnya, cerita ini belum lulus edit. Sebenernya chapter ini udah jadi beberapa minggu yang lalu dan niat mau dipost setelah diedit, tapi berhubung author agak males ngeditnya, karena masih ngurus revisi skripsi yang bertubi tubi..hehe jadi dipost seadanya dan sangat sederhana. Oiya, masih tentang ceritanya. Kalau misalkan readers pernah baca alur cerita yang sama di FF lain itu adalah ketidak sengajaan. Karena CH ini murni ide author. Yah, akhirnya...author ucapkan selamat membaca dan dibutuhkan otak kanan readers semua agar bisa menghadapi jebakan typo :D haha *mulai ngaco*)
Tetap saja, aku masih tidak bisa
melupakannya. Semalaman aku hanya memikirkan ciuman bodoh itu. Bodoh? Aku tidak
terlalu yakin dengan kata bodoh. Karena aku sempat menikmatinya dan aku
merasakan kehangatan dalam ciuman itu. Dan ada satu hal lagi yang membuatku
tidak mudah melupakannya. Karena ciuman semalam adalah ciuman pertamaku. Cho
Kyuhyun merampas ciuman pertamaku.
Dan hari ini masih ada pertemuan
dengan tim penelitian, apa yang harus kulakukan saat bertemu Kyuhyun. Aku
berjalan menuju Laboratorium, kali ini laboratorium adalah sebuah tempat nomer
satu yang ingin kuhindari. Apalagi kalau bukan karena Cho Kyuhyun.
“Kim Min Young-sshi?” Sapa seseorang
di belakangku. Suara itu…? Matilah aku sekarang juga.
“Ne, Kangsanim.” Jawabku setelah
mendengar suara itu.
“Aku mencarimu kemana mana, Ah iya,
aku ingin kau bersama Cho Im atau yang lainnya mengantar surat ini ke professor
Min Jae di departemen sebelah. Dia mungkin bisa membantu kita mencarikan subjek
penelitian yang memungkinkan. Kata
Kyuhyun dengan wajah serius.
“Ne aegesseumnida, tapi.. kangsanim..”
“Wae yo?”
“ Masalah yang kemarin…”
“Kemarin? Tentang?”
“ Tentang kejadian di apartemenmu
kemarin, aku ingin melupakannya dan aku minta kau juga melupakannya.”
“Kejadian apa ? Aah ciuman semalam.
Aku bahkan sudah lupa. Karena kau mengingatkanku aku jadi ingat lagi. Baiklah,
aku minta maaf telah membuatmu terkejut tetapi aku akan segera melupakannya
tenang saja. Aku mungkin sangat lelah jadi agak tidak terkontrol. Nah, ini suratnya…”
“Ne? Ne…”aku mengambil surat yang Cho
Kyuhyun sodorkan padaku.
“ Ah iya, aku hampir lupa. Setelah kau
mengantar itu. Segera berikan lembar hasil kerja kemarin.”
“Ne, Kangsanim.”
Aku harus berkali kali lipat terkejut
dengan caranya menyembunyikan emosinya. Dia bahkan sangat datar setelah apa
yang dilakukannya padaku. Dan apa dia bilang? Dia tidak mengingatnya. Setelah
memelukku dan merampas ciuman pertamaku dia melupakannya. Daebak… hebat sekali
Cho Kyuhyun itu.
****
(Author Pov)
“Bagaimana kalau akhir bulan ini saja?
Tidak banyak hal yang sedang kita lakukan kan?” Kata Aboji pada Lee Dong Hae.
“Akhir bulan ini bukankah dua minggu
lagi?”
“Iya, Kau boleh mengambil cuti selama
dua hari.”
“Apa tidak terlalu cepat?”
“Kau sendiri yang bilang ingin
mempercepat pertunangan.”
“Aku tidak ada masalah dengan hal ini
Aboji. Tapi aku akan bertanya pada Min Young apakah dia menyetujuinya atau dia
ada rencana lain” Jawab Lee Dong Hae
“Yaa, aku serahkan tanggal pertunangan
pada kalian berdua. Dan ingat. Pertunangan adalah acara yang tidak main main. Karena
kau sedang mencoba menjalin komitmen dengan seorang wanita. Jadi Aboji harap,
kau menghilangkan kebiasaanmu membawa dokter magang ke club. Aboji sangat malu
mendengar berita itu.”
“Eoh? Aboji dapat kabar itu dari
mana?”
“Hahahah, kau anakku Lee Dong Hae, aku
tidak akan membiarkanmu tanpa kontrol. Aku juga tahu apa yang kau lakukan
setiap hari.”
“Aboji, kau mengirim Spy?”
“Spy? Hahahaha… kau ada ada saja.
Bagaimana mungkin aku memata matai anak
sendiri. Sudah, Aboji lelah. Kau segera temui keluarga mereka untuk
membahasnya. Kapan saja mereka ingin, kita akan menyanggupinya.
*****
“Dua minggu lagi…”
“Ne? Dua minggu lagi?” tanya Min Young
kaget
“kalau itu terlalu cepat untukmu kau
bisa memilih hari lain. Itu hanya usul dari aboji.”
“ Benar, itu sangat cepat bagiku. Tapi
bagaimanapun bukankah kita akan tetap bertunangan? Bagiku dua minggu lagi tidak
masalah. “
“Jeongmal?”
“Ne, aku akan bicarakan hal ini dengan
Park Ahjussi dan Eomma.
“Gumawo Min Young-ah, kau bersedia
bertunangan denganku. Gumawo, kau mau berusaha mencintaiku.”
“Nado Dong Hae-ya. Jeongmal Gumawo. ”
Dong Hae dan Min Young segera melahap
makanan yang sedari tadi mereka acuhkan karena pembicaraan penting ini.
“Dong Hae ya, kau tahu Soo Young patah
hati saat mendengar kita akan bertunangan.”
“Benarkah?”
“Kau harus tahu, dia yang lebih dulu
menyukaimu. Dia tergila gila padamu saat kita makan malam waktu itu.”
“Jeongmal? Gadis kecil itu?”
“Heish, jangan menganggapnya gadis
kecil atau kau bisa dilempar dengan sepatunya. Dia selalu berlagak dewasa.”
“Aku juga menyukai Soo Young, dia
gadis cantik yang lucu.”
“Benarkah? Apa aku harus cemburu
mendengarnya?” Goda Min Young.
“Ne, kau harusnya cemburu, Min Young
Sshi..”
Min Young dan Dong Hae menyelesaikan
makan malam mereka dan segera mengantar Min Young pulang.
“Min Young-sshi, kau bisa memasak?”
“Sedikit..”
“Aku ingin mencoba masakanmu.”
“Aaah, aku takut kau akan keracunan..”
“Hahaha, skill memasakmu pasti buruk.”
“Tidak juga, aku bisa memasak tapi
tidak sehebat Eommaku.”
“Besok kau ku jemput sepulang kuliah,
kita ke apartemenku. aku ingin mencoba masakanmu.”
“Haruskah?”
“Aku ingin istriku nanti memasak
sarapan untukku tiap pagi”
“Jadi ini semacam tes?”
“Tentu saja, aku tidak mau menjadi
suamimu kalau kau memasak makanan beracun.”
“Tidak akan Dong Hae-sshi, kau akan
menyesal mengatakan itu padaku.”
“Kita buktikan saja besok.” Senyum
Dong Hae menguar dari wajahnya.
*****
Laboratorium Kelompok.
(Min Young pov)
“Kim Min Young-sshi berkemaslah dan
ikut aku sekarang!”
“Wae yo? Tanya Min Young sebal karena
masih berkutat dengan lembaran kertas di depannya.
“Ayo jangan banyak bicara..”
“Kemana?”
“Nanti ku jelaskan di mobil.”
Setelah mengemasi tasku dan beberapa
lembar kertas. Aku mengikuti Cho Kangsanim ke mobilnya. Dia selalu saja
memerintah.
“Ada apa?”
“Kita harus menemui professor Min Jae
sekarang di rumahnya.”
“Kenapa aku harus ikut?”
“Karena beliau menginginkanmu hadir
juga.”
“Geurae, Arraseo.”
Kyuhyun melajukan mobilnya menuju
rumah Profesor Min Jae. Aku diberi beberapa pengarahan dan beberapa bocoran
tentang pertemuan mereka. Kita hanya diberi waktu ssepuluh menit untuk
menjelaskan alasan mengapa professor Min
Jae harus membantu penelitian kami. Setelah mengerti sebagian besar pokok yang
akan kami bicarakan, aku mulai berpikir pikir sendiri pertanyaan pertanyaan
yang mungkin muncul.
“Oh my God!” Kata Kyuhyun setelah aku
merasakan mobil yang kutumpangi sedikit oleng.
“Wae yo?”
Kyuhyun meminggirkan mobilnya dan
mengecek ban mobil depan. Benar perkiraanku, Sepertinya bocor.
“bukankah di belakang ada ban
cadangannya?”
“Itu juga bocor.”
“lalu kenapa kau membawanya kalau itu
juga bocor?”
“Sebentar aku akan menelepon professor
Min Jae. “
Kyuhyun keluar dari mobilnya dan
mencari sebuah nomor. Pasti nomor telepon Professor Min Jae. Setelah mengobrol
tidak cukup lama, Kyuhyun menutup teleponnya dan masuk kembali ke dalam mobil.
“Acara hari ini dibatalkan, karena
Profesor Min Jae sudah dalam perjalanan ke Bandara menuju Jepang. Dia tidak dapat menunggu lagi.”
“Lalu subjek kita?”
“Kita perlu mencari link orang orang
baru lagi.”
“Astaga…memulai dari awal lagi
memetakan letak subjek satu persatu?”
“Hei, ini belum ada apa apanya Kim Min
Young-sshi, aku dulu telah ditolak berbagai macam orang untuk penelitianku.
Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja. Masih banyak orang yang mau
membantu kita.”
“Ne Kangsanim, lalu bagaimana ban
mobilnya.”
“Sebentar aku akan memanggil derek”
Kata Kyuhyun mengangkat teleponnya. Namun dari dalam mobil terlihat tidak
berhasil. Dia lalu mengetuk pintu kaca mobil mengisyaratkan aku harus
menurunkannya.”
“Aku harus ke bengkel sebentar, di
ujung jalan sana. Karena semua yang aku hubungi tidak menjawab dan ada yang
sibuk. Kau di dalam mobil saja, Ne? ”
“Ne, Kangsanim…”
Peluh di dahinya meluncur di wajah
putih bersihnya membuatku kembali terpesona. Pria itu, apa yang tidak bisa dia
banggakan. Semuanya sangat menarik. Aku lihat dia berjalan menuju bengkel mobil
itu. Punggung tegapnya, melihat punggungnya saja aku sudah sangat senang.
Kenapa perasaanku menjadi seperti ini?”
Aku bosan di dalam.. aa, disana ada
tempat duduk. Aku keluar saja. Udara disini biasanya bagus. Sambil menunggu Cho
Kyuhyun dari bengkel mobil. Musik dari headset menggema di telingaku. Aku
mendengarkan lagu sambil memandang sekeliling serta laju beberapa mobil yang sangat
jarang melintasi jalan itu.
Headsetku dilepas oleh seseorang, aku
terperanjat kaget walau ku pikir itu adalah Cho Kyuhyun. Ternyata tebakanku
salah, di belakangku muncul beberapa pria yang saat ini sedang melingkari ku.
Salah satu dari mereka lah yang melepaskan satu headset dari telinga kananku.
“Hei nona manis? Kenapa sendirian
duduk disini..”
“Tasmu bagus, handphonemu
juga…serahkan pada kami.”
Aku berlari ke dalam mobil namun saat
aku menyentuh gagang pintu mobil Kyuhyun. Tanganku kembali di raih oleh mereka.
Merampas tasku dan mengacak acak isinya. Dan sebagian lagi ada yang mencba
menyentuh tubuhku. Aku ,mencoba melarikan diri, namun gagal. Aku mengerang dan
memohon untuk tidak melakukan apapun. Tapi mereka malah lebih tertarik melihat
tubuhku. Setelah mengacak acak isi tasku dan mengambil uang dari dalam
dompetku. Salah satu dari mereka memegang tangan kananku dan salah satu yang
lain memegangi tangan kiriku. Tubuhku lemas, kakiku seakan meruntuh ke bawah.
Tulang tulangku rasanya melembek. Teriakanku juga melemah.
“Dasar bajingan brengsek..Beraninya
mengeroyok wanitaku.” Sebuah tinjuan besar melayang pada salah satu dari
mereka. Tinjuan dari tangan kekar Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun bertarung dengan
lima orang tadi. Wajahnya beberapa kali terkena pukulan dan tendangan dari
mereka di bagian punggungnya. Lima banding satu memang bukan lawan yang
sebanding. Tapi sama seperti tujuh tahun silam, mereka semua berlima pergi
setelah Kyuhyun menyebabkan satu tangan anggota geng itu patah. Kyuhyun adalah
pemenangnya walau wajahnya cukup hancur. Sudut bibir kanannya berdarah, pipi
kanan juga lebam serta pelipisnya sobek.
Dia masih terduduk di trotoar setelah perkelahian itu. Aku masih
ketakutan berdiri di sudut tembok yang di belakang kursi yang kududuki.
Kyuhyun berdiri segera, berjalan
lambat ke arahku. Dengan tenaga yang tersisa dia berjalan selangkah demi
selangkah. Dia berhenti di depanku.
“Sudah ku bilang jangan ke luar dari
mobil.” Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya dan memelukku.
“Kenapa kau selalu dalam bahaya kalau
aku tidak di sampingmu? Kenapa kau tidak bisa kabur dari mereka? Kenapa kau
tidak mendengarkanku? Kim Min Young-sshi, kau harusnya bisa bertahan dan pergi
sejauh mungkin jika ada orang yang menjahatimu.” Suaranya parau dan tertahan.
“Cho Kangsanim…” Aku memanggilnya
memastikan dia baik baik saja.
“Tidak bisakah kau membuatku tenang
dan berada disisiku saja? Kenapa kau selalu membuatku khawatir?” Aku mendengar
suaranya bergetar. Dan bahuku basah oleh sesuatu.. Astaga… Cho Kyuhyun. Kau
sedang menangis? Aku yang masih berdiri kakupun akhirnya menggerakkan tanganku
melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Mian Hae, Jeongmal Mian hae, Oppa…”
Akupun menangis di pelukannya.
*****
“Kuantar kau pulang..” Kata Kyuhyun
padaku.
“Tidak, ayo ke rumah sakit dulu, kau
lebam begitu.”
“Tidak usah, aku bisa mengobatinya
sendiri.”
“Kalau begitu aku yang akan
mengobatinya.”
“Tidak perlu, kau pulang saja dan
jangan kemana mana.”
“Ne…mulai saat ini, aku akan menuruti
maumu”
Kyuhyun mengantarku pulang, dia
mengantarku sampai taman dekat rumah. Aku tidak ingin Eomma tahu aku pulang
dengan pria lain, apalagi pria itu adalah Cho Kyuhyun. Kyuhyun mengerti dan dia
mengatakan padaku akan pulang ke rumah untuk mengobati wajahnya. Tapi setelah
memasuki gerbang rumahku aku berubah pikiran. Mian Hae Kyuhyun aku tidak
menuruti maumu, sekalii saja.
(Author pov)
Min Young sampai di rumahnya dan
bergegas menuju kamanya di lantai dua. Mengambil kunci mobilnya, menyambar
kotak p3k di kotak obat dan mengeluarkan Hyundai kesayangannya dari garasi.
“Eomma, aku pergi dulu. Ada sesuatu
yang harus kuurus.”
“Hei, kau baru pulang sudah mau pergi
lagi?”
“Eomma, kalau Aku berhutang pada
seseorang, dan orang itu sedang kesulitan apa aku harus membantunya?”
.”Kenapa kau tanya begitu.”
“Sudahlah Eomma, aku tidak ada waktu
jawab saja.”
“ Yaa jelas kau harus menolongnya,
Eomma selalu bilang padamu kan untuk selalu menolong orang yang kesulitan.”
“Eommaku adalah yang terbaik, aku akan
melakukannya Eomma, jadi jangan khawatir dan aku akan segera pulang.”
Min Young menginjak pedal gas nya
dalam dalam ingin segera sampai ditempat tujuan. Tiba tiba ponselnya berdering.
Dia memasang handsfree ke telinganya dan mengangkat telepon itu.
“Yeobseo..”
“Min Young-sshi. Kau dimana? kau tidak
lupa kan kalau kau ada janji denganku?”
“Astaga, Mian Hae Dong Hae-sshi, Aku
lupa.”
“Tidak apa apa, kau dimana sekarang.
Aku akan menjemputmu dan kita belanja bersama.”
“Dong Hae-sshi mian hae, apa kita
tidak bisa menundanya besok? Aku ada sesuatu yang harus kuurus.”
“ Benarkah? Apa itu?”
“ Eem, temanku sakit aku harus segera
mengobatinya.”
“Haha, kau bercanda ya? Aku yang
dokter, aku yang harusnya mengobati orang yang sakit.”
“Aku tidak sedang bercanda Lee Dong
Hae-sshi. Dia benar benar harus ditolong. Apa kau tidak apa apa janjinya ku
batalkan? Atau kalau perlu setelah aku mengobatinya aku akan pergi ke
apartemenmu”
“Kau mau aku membantumu memeriksa
temanmu?”
“Anni, tidak usah. Dia pasti akan
sangat canggung. Dia hanya lebam, aku ingin mengompresnya saja.”
“Baiklah, kalau begitu. Aku langsung
pulang ke apartemenku saja. Kau tunggui saja temanmu. Kita bisa melakukannya
besok malam”
“Kau benar benar tidak marah padaku?”
“Untuk apa marah, kau sedang melakukan
aktifitas kemanusiaan, apa aku harus marah?” Tanya Dong Hae sambil tertawa
kecil.
“Uri Euisanim sangat pengertian.
Baiklah, aku sudah sampai. Ku tutup telponnya.”
“Ne…Min Young-Sshi… fighting!” Kata
Lee Dong Hae.
Min Young tidak habis pikir, Ada apa
dengannya? Dia membatalkan janji dengan Dong Hae hanya untuk mengobati luka Cho
Kyuhyun. Padahal Cho Kyuhyun mengatakan akan mengobatinya sendiri. Setelah
mobilnya terparkir di basement. Min Young naik menuju apartemen Kyuhyun di
lantai 6.
Tingtong..tingtong…
“Yaa sebentar…” Kyuhyun melihat Min
Young berada di depan apartemennya dari layar intercom segera membuka pintu.
“Ada apa kau kemari, sudah ku bilang
kau di rumah saja.”
“Aku harus mengobatimu, Cho
Kangsanim.”
“Aku sudah baik baik saja, aaak…”
Tangan Kyuhyun menyenggol pipinya yang lebam itu.
“Kau berteriak seperti itu bagaimana
bisa baik baik saja.”
“Kau punya es batu?”
“Di kulkas. “
“Aku akan mengompres pipimu dan menutup
pelipismu dengan perban. Kau duduk saja disini” Kata Min Young sambil menunjuk
sofa yang sedang didudukinya.
Min
Young sangat telaten mengobati Kyuhyun. Dia mulai dari sudut bibirnya yang
kemerahan, lalu membersihkan pelipisnya dan menutup dengan perban dan terakhir
mengompres pipinya.
“Caap, selesai…bagaimana ?” Kata Min
Young.
“Aaah, wajah tampanku… kapan kau akan
kembali?” Tanya Kyuhyun dengan bayangnya sendiri di cermin.
“Geeizz, kau ini. Kau tetap tampan
walau wajahmu seperti itu.”
“Aku tahu…” Jawab Kyuhyun sambil
membolak balikkan wajahnya dari cermin.
“Cho Kangsanim, Aku belum mengatakan
sesuatu padamu tadi.”
“Apa lagi? bukankah kau sudah banyak
bicara hari ini”
“Khamsahaeyo…. Jeongmal
Khamsahaeo..kalau kau tidak segera kembali aku mungkin sudah..“
“Sudahlah, aku bersyukur tidak terjadi
apa apa padamu..” Kata kata Kyuhyun baru saja melelehkan hati Min Young. Min
Young tersenyum, perasaan bencinya pada Kyuhyun lenyap.
“ Kau pasti lapar, mau ku masakkan
sesuatu?”
Bagaimana Cho Kyuhyun bisa makan kalau
kondisinya begini. Kyuhyun menyodorkan pipinya menunjukkan betapa tersiksanya
dia jika makan sesuatu.
“Baiklah, akan ku buatkan bubur saja untukmu.”
Kata Min Young.
****
(Kim Min Young pov)
Hari ini seharusnya aku memasak di
dapur apartemen Lee Dong Hae bukan di dapur apartemen Cho Kyuhyun. Aku tidak
tahu apa yang menyeretku ke apartemen Pria ini, aku masih berpikir ini benar
karena aku hanya ingin membantunya yang kesusahan karena menolongku.
Aku mengesampingkan perhatianku untuk
Lee Dong Hae calon tunanganku tetapi malah lebih memperhatikan pria yang saat
ini berada bersamaku. Kenapa aku sangat
bahagia berada dekat dengannya.
“ Mau ku bantu?” Tanya Kyuhyun padaku.
“Tidak usah Cho Kangsanim, kau
istirahat saja.”
“Min Young-sshi, aku minta kau jangan
memanggilku Cho Kangsanim saat di luar kampus., rasanya kaku sekali.”
“Lalu kau mau dipanggil apa?” tanyaku
sambil terus mengaduk bubur yang hampir matang.
“ Aku suka panggilanmu saat kau memelukku
terakhir setelah perkelahian tadi siang.”
Aku berpikir keras. Memangnya aku
memanggilnya dengan sebutan apa tadi? Aku sama sekali tidak ingat.
“Kau tidak ingat?” Tanyanya, Aku
menggeleng pelan sambil mencoba mengingat ingat. Oppa? Astaga aku memanggilnya
Oppa? Apa yang ku pikirkan sampai memanggilnya Oppa. Min Young-sshi kau pasti
sudah gila.
“Aniyo… aku tidak ingat pernah mengatakan
apapun.”
“ Terserah kau saja kalau begitu.”
“Cho Kangsanim, Aku lebih nyaman
dengan panggilan itu sekarang.”
Tentu saja alasanku sebenarnya bukan tentang
kenyamanan, Oppa? Dia bukan kakakku lagi dan dia juga bukan kekasihku. Tidak
akan mudah menggunakan kata Oppa untuk memanggilnya. kenangan buruk saat dia
menjadi oppaku, aku ingin sekali melupakannya. Dan memanggilnya oppa, maka aku
sedang mengeruk luka lama.
*****
(Kyuhyun pov)
Setelah merebahkan tubuhku di sofa
sambil memencet mencet remot tv mencari acara yang bagus. Bel pintu apartemenku
berbunyi berulang ulang. Siapa lagi orang yang mencariku. Sepertinya hari ini
aku banyak tamu. Aku merutuki siapa yang sedari tadi memencet bel tanpa jeda.
Dari layar intercom terdengar suara yang tidak asing, Ah iya, pria itu tidak
berubah, selalu tidak sabaran.
“Hei, Cho Kangsanim, cepat buka
pintunya.”Kata Seorang dari luar. Aku membuka pintunya dan melihat pemilik
suara itu yang sedang berdiri, memasukan kedua tangannya di saku celana.
“Astaga Wajahmu kenapa?” Tanya pria itu
“Ada apa kau kemari?” Tanyaku tanpa
basa basi.
“Kau meneleponku tadi sore? Ada apa?” Kami
berdua hanya saling melempar tanya.
“Kau lihat wajahku kan? Aku butuh
penangananmu. Tapi kau tidak mengangkatnya. Yasudah aku pulang saja.”
“Kenapa tidak ke rumah sakit? Kau kan
bisa menemuiku di rumah sakit.”
Aku baru kemarin masuk rumah sakit
karena alergi udang, bukankah lucu kalau aku masuk rumah sakit lagi karena
wajahku babak belur.
“ Aku malas.” Jawabku singkat.
“Tapi ngomong ngomong apa yang
membuatmu berkelahi?” Tanya Dong Hae semakin penasaran.
“ Gadis itu..” Jawabku sambil
tersenyum
“Yang selalu kau ceritakan padaku
berulang ulang di Swedia ?” Tanya Dong Hae memperbaiki duduknya siap
mendengarkan keluh kesah sahabatnya yang mungkin sebentar lagi akan dilanda
perasaan bimbang yang parah, ya aku sendiri. Haha, kenapa aku jadi melankolis
seperti ini.
“ Gadis kecil itu menjadi mahasiswaku
sekarang..”
“Benarkah? Lalu bagaimana sikapnya
padamu?”
“Sejak awal pertemuan kami dia sangat
membenciku, aku sudah kehilangan akal bagaimana cara mendekatinya. Tapi tiba
tiba dia mendaftar sebagai tim penelitianku. Bukankah ini takdir?”
“Haash, bagaimana bisa Cho Kyuhyun
yang rasional ini menjadi percaya takdir. Aku jadi sangat penasaran dengan
gadis itu.” Dong Hae terkekeh geli.
“Kau terlambat, dia sudah pulang”
“ Dia kesini? Menjengukmu?” Aku mengangguk
mengiyakan pertanyaan Dong Hae.
“Jadi kalian sudah dekat?” Tanyanya
lagi lebih penasaran.
“Haha, tidak juga. Tapi entahlah.”
“maksudmu?”
“Kami tidak dekat, tapi saat aku
mencoba memeluknya dia tidak menolak, ketika aku menciumnya, dia juga tidak
menolak. Tapi esok harinya, dia menyuruhku melupakan kejadian itu. Aku tidak
tahu jalan pikirannya dan apa yang dia rasakan padaku. Bikin aku frustasi saja.”
“Ciiih, kau benar benar menceritakan
hal semacam itu padaku? Kau benar benar putus asa? haha” Dong Hae meledekku.
“Aaah, iya kenapa aku menceritakan
bagian itu ya… lupakan saja. Ngomong ngomong kau tidak berkencan?”
“Dia membatalkannya, makanya aku
kesini.” Kata Dong Hae berbaring di sofaku sambil menggerak gerakkan kakinya
yang tertutup kaos kaki abu abu.
“Aaa pantas saja kau kesini, tumben
sekali. Kau bilang waktu itu, kalau dia mahasiswaku kan? Dia semester berapa? “
“Semester 5.” Jawab Dong Hae. Aku
mengambil dua botol cola di kulkas dan beberapa makanan ringan untuk teman
mengobrol.
“Siapa namanya?” Sebelum Dong Hae
sempat menjawabnya. Bel pintu apartemenku berbunyi lagi. Kali ini siapa lagi
yang datang, kenapa banyak sekali yang mengunjungiku malam ini.
“Dong Hae-ya, bisa tolong bukakan
pintu?”
“Okay…”
(Author pov)
Dong Hae berjalan menuju pintu,
seperti kebiasaannya tanpa melihat intercom. Dengan segera Dong Hae membuka
pintu untuk melihat siapa yang datang. Dong Hae cukup terkejut, dia sangat
mengenal postur tubuh itu, wajah itu, dan rambut coklat itu.
“Kim Min Young-sshi? Ada apa kemari?
Kau mencariku? ” Dong Hae tercekat, melihat sosok calon tunangannya di depan
pintu apartemen sahabatnya.
“Dong Hae-sshi, bagaimana kau ada di…”
Belum sempat Min Young melanjutkan kata katanya. Kyuhyun berjalan mendekat ke
pintu. Menanyakan kepada Dong Hae siapa yang datang. kemudian melihat intercom,
gadis yang baru saja pergi dari apartemennya sekitar beberapa menit yang lalu
sekarang ada di depan pintu apartemennya lagi.
“Kim Min Young-sshi? Ada yang terlupa
sampai kau datang lagi?” Tanya Kyuhyun setelah melihat Min Young berdiri kaku
di pintu apartemennya
“Cho Kangsanim, sepertinya… aku
meninggalkan kunci mobilku di sini.” Min Young tampak canggung mengatakan itu.
Karena di depannya kini ada calon tunangannya. Bingo, dia sekarang sedang
ketahuan. Membatalkan kencan untuk menemui pria lain.
“Benarkah? Aku tidak melihatnya dari tadi.
Kau cek saja di dalam.”
Dong
Hae adalah orang yang paling terkejut disini. Dia terdiam melihat Min Young
berlalu masuk ke dalam apartemen sahabatnya itu. Dia seperti sedang
mengumpulkan memori memori yang sudah ada di otaknya, memprosesnya dan
membentuk sebuah kesimpulan yang.. Aaah tidak mungkin.
Pria
itu melangkah masuk dengan susah payah, apa yang dilihatnya sekarang adalah
tunangannya dengan mudah masuk ke apartemen sahabatnya, menggeledah meja kerja
sahabatnya. Dia masih berharap apa yang ada di hadapannya tidak sesuai dengan
apa yang ada di pikirannya.
Kim Min Young telah menemukan kuncinya
diantara beberapa tumpukan kertas dan tas kerja milik Kyuhyun
“Aah iya Kim Min Young, kenalkan ini
sahabatku Lee Dong Hae.” Kata Cho Kyuhyun.
“Kami sudah…” Jawab Min Young yang
langsung di sela saja oleh Dong Hae.
“Senang berkenalan denganmu, aku Lee
Dong Hae.” Dong Hae mengulurkan tangannya ingin menjabat Min Young. Min Young
kebingungan dengan sikap Dong Hae. Dia hanya ikut mengulurkan tangannya pada
Dong Hae namun tidak berkata sepatah katapun. Setelah melewati adegan paling
canggung sedunia itu, akhirnya Min Young segera pamit pulang. Meninggalkan Dong
Hae yang terduduk lemas di sofa dan Kyuhyun yang mengantarnya sampai depan
pintu. Dong Hae masih berharap apa yang dipikirannya adalah salah salah dan
salah.
Kyuhyun tersenyum melihat Min Young
datang lagi. Setelah mengantar Min Young ke depan pintu, Kyuhyun kembali ke
dalam. Duduk di sofa dan tersenyum.
“Gadis itu…” Dong Hae bertanya
“Iya benar, gadis itu tadi yang selalu
ku ceritakan padamu. Bagaimana cantik tidak? Akhirnya aku bisa mengenalkannya
padamu”
“ Cantik, sangat cantik…”
“Hah, kenapa aku sangat bahagia ya
melihat dia datang lagi.”
Dong Hae masih dalam duduknya,
berpikir panjang. Apa yang sudah dilakukannya? Dia berlagak sok tidak mengenali
calon tunangannya sendiri demi menjaga perasaan sahabatnya. Suasana menjadi
sangat dingin, Dong Hae tidak secerewet tadi.
“Dong Hae-ya, wae yo?”
“Eo? Ani…sepertinya aku lelah.”
“Kau mau tidur di sini?”
Handphone Dong Hae bergetar, sebuah
notifikasi dari aplikasi chatnya muncul di layar ponselnya.
From : Kim Min Young
“Kau masih disana? Aku
menunggumu di parkiran. Sepertinya kita perlu bicara.”
Dong Hae membacanya sekali dan
membiarkannya beberapa saat. Lama lama jengah juga membiarkan pesan dari Min
Young tidak dibalas.
To : Min Young
“ Kau pulanglah dulu,
ini sudah malam. Besok pagi kita bicara.”
Min Young menuruti apa yang Dong Hae
bilang, dia sudah membuat masalah pada Dong Hae karena membatalkan kencan, dia
tidak mau membuat masalah lagi tentang ini.
(Dong Hae pov)
Aku tidak mengerti apa yang terjadi
dengan hatiku saat melihat calon tunanganku berada di depan pintu apartemen
sahabatku, Cho Kyuhyun. Aku lebih terkejut lagi tentang gadis kecil Cho Kyuhyun,
yang ternyata juga tunanganku.
Aku bahkan bersikap bodoh, dengan
berpura pura tidak mengenal Min Young agar Cho Kyuhyun tidak kecewa. Cintanya
pada Min Young lebih dari apapun, aku sangat tahu itu.
Tapi aku juga sangat asing dengan
hatiku, rasanya dadaku sakit.
“Tidak apa apa, aku sepertinya sedang
lelah.” Jawabku pada Kyuhyun.
Aku
tidak percaya kali ini aku dihadapkan pilihan tentang persahabatan atau cinta.
Masalah yang klise dan tidak kunjung habis.
“Kau mau tidur di sini?” Tanya Kyuhyun
padaku
“Tidak, aku sebentar lagi pulang..Kau
istirahat yaa, tidak usah berkelahi lagi.” Jawabku dan sedikit membual tentang
istirahat.
****
Pagi ini, aku meluncur cepat ke rumah
Min Young. Karena Min Young merengek meminta kami bicara. Aku tahu dia juga
terkejut kemarin dan aku bisa membacanya dari raut wajahnya saat aku membuka
pintu.
Aku menunggunya di depan rumah, aku
sama sekali tidak tertarik untuk masuk menyapa calon mertuaku, karena moodku
sedang tidak baik.
“Aku sudah di depan, keluar lah…”
Min Young keluar dengan segera,
menghampiri mobilku dan duduk di sebelah kursi kemudi.
“Kita mau kemana? “ Tanyaku.
“Dong Hae-ya, aku ingin meminta maaf
padamu.” Kata Min Young.
“Tentang?”
“Kejadian semalam…aku bisa
menjelaskannya”
“Kau tidak salah, aku mengerti.” Aku
hanya pura pura tenang menghadapi penjelasan demi penjelasan Min Young. Entah
kenapa hatiku sakit, tapi aku tidak bisa
marah pada gadis di sampingku ini.
“Apa Cho Kyuhyun yang memberitahumu?” Aku hanya mendehem menjawab pertanyaannya.
“Seluruhnya?” Min Young heran
“Seluruhnya…” jawabku.
“Dan kau tidak marah?” Min Young masih
saja terus mencecar pertanyaan pertanyaan tentang dia dan Cho Kyuhyun.
Seandainya aku bisa marah padanya, membentaknya, mengatainya berbagai macam
hal.. Tapi aku tidak bisa. Gadis ini terlalu… ah bukan, aku yang sudah terlalu
mencintainya.
“Kau hanya membantunya mengompres
bengkaknya kan? Kenapa aku harus marah. Justru aku berterimakasih padamu, telah
merawat sahabatku.” Aku tersenyum padanya, jelas itu senyum yang dipaksakan hingga
wajahku malah terlihat aneh.
“Jadi Cho Kyuhyun sahabatmu? Eng… kau
tau kan kalau kita dulu saudara tiri, jadi aku tidak mungkin…” Min Young masih
mencoba menjelaskan hubungannya dengan Kyuhyun.
“Aku tahu, tidak usah kau jelaskan
lagi. Dan tidak ada yang perlu di maafkan.
Ah, Bagaimana kalau kita ke supermarket membeli beberapa bahan makanan?
Aku ingin sarapan masakanmu.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan ini.
“Baiklah, kau ingin aku masak apa?”
“Apapun..” Jawab Dong Hae.
***
(Min Young pov)
Hari ini aku berada di dapur apartemen
Lee Dong Hae, sedang memotong beberapa paprika merah dan hijau. Perabotnya
sangat mengkilat dengan beberapa teknologi canggih. Tidak berbeda dengan milik
Kyuhyun.
Dong Hae duduk di kursi bar di dapurnya. Mata
hazelnya tidak berhenti menatap setiap gerak gerikku. Aku tahu dia seperti
sedang mengawasiku.
“Kau tidak mengerjakan sesuatu yang
lain?” Tanyaku, ini semacam pengusiran secara halus agar Dong Hae tidak terus
memandangku seperti itu.
“Tidak, semua sudah beres sebelum aku
pergi menjemputmu.”
“Tenang saja, tuan Lee. Aku tidak akan
membuat dapurmu rusak..”
“Aku ingin melihatmu memasak Nona Kim”
Aku masih berkutat dengan beberapa
bahan yang harus dipotong sementara Dong Hae bangkit dari kursinya, menuju ke
arahku.
“Kau mau membantu?” Tanyaku sambil
menyerahkan dua buah kentang untuk dikupas. Tapi dugaanku salah. Dong Hae
datang dan meraih pinggangku. Dia berdiri di belakangku.
“Dong Hae-sshi…”
“Teruskan saja memotongnya, aku ingin
seperti ini.” Tangan kanannya meraih bahu kiriku dan tangan kirinya tetap di
pinggangku.
Tetap memotong? Yang benar saja?
Bagaimana bisa aku memotong paprika dengan tubuhku dipeluk seperti ini.
“Kau kenapa seperti ini?” Tanyaku, aku
meletakkan pisauku dan paprika yang sudah ku belah. Memegang lengan kanan Dong
Hae yang sedang bernafas pelan di telingaku.
“Aku mencintaimu… bagaimana ini? Aku
benar benar mencintaimu.” Dong Hae menggumam pelan tepat di telingaku. Ini
pengakuan seorang pria padaku dengan jarak yang sangat dekat bahkan tubuh kami
sudah menempel tanpa jarak. Dong Hae melepas pelukannya dan menggeser tubuhnya
ke belakang. Membalikkan tubuhku segera.
“Dong Hae-sshi…”
“Tidak bisakah Dong Hae-ya? Atau
Oppa?” Tanya Dong Hae.
“Mwo?” Aku tentu kaget dengan
permintaan Dong Hae.
Kedua tangannya mengunciku di meja
dapur. Tubuhnya semakin mendekat, ku pikir dia akan memeluk, tapi hanya
wajahnya yang semakin berarak maju. Aku tahu apa yang akan Dong Hae lakukan.
Satu detik wajah kami hanya terpaut 5 centimeter saling memandang. Dua detik
kami semakin dekat, tiga detik hidungnya menyentuh hidungku. Empat detik aku
memilih untuk memejamkan mata dan detik kelima…. Aku memalingkan wajahku ke
kanan. Tepat! Dong Hae tidak bisa mendaratkan bibirnya dengan sempurna.
Aku tidak tahu apa yang di lakukan
Dong Hae tapi aku merasa kuncianku terlepas. Aku memberanikan diri membuka
mataku dan melihat Dong Hae menunduk di hadapanku.
“Mianhae Dong Hae-sshi?” Hanya itu
kalimat yang keluar dari bibirku. Bibir yang batal menjadi tempat pendaratan
bibir Dong Hae.
“Apa aku harus menunggu sampai kau
mencintaiku?” Tanya Dong Hae lirih
“Mianhae, Jeongmal mianhae..” Aku
hanya bisa meminta maaf pada Lee Dong Hae.
“Aaah tidak bisa dipercaya…” Dong Hae
mengacak rambutnya frustasi. Lalu kembali ke tempat duduknya tadi. Dia menuang
segelas jus jeruk dan meneguknya sendiri. Kalau saja ini malam hari, aku
menebak dia pasti mengambil wine atau minuman alcohol yang lain. Aku kembali
mengerjakan tugas dapurku.
Aku pikir setelah kejadian tadi Dong
Hae menjadi diam. Apa aku keterlaluan padanya?
“Caaap, makanannya sudah siap..”
Kataku mencairkan suasana. Dong Hae tersenyum kecil dan memperbaiki duduknya.
Aku mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Dong Hae makan dengan enggan,
seperti ada sesuatu yang mengurung pikirannya.
“Tidak enak ya? Ya sudah tidak usah
dimakan.”Aku pura pura mengambil seluruh makananku dari atas meja. Dan berhasil
membuat Dong Hae mencegah piring yang kuangkat.
Ini enak, jangan diambil.” Dia mengambil piringnya dari tanganku dan
meletakkan kembali di meja makan.
“Kalau enak kenapa tidak dimakan, kau
cuma mengaduk nasi dengan sumpit.” Aku sedikit menggerutu. Tapi sepertinya ini
gara gara aku. Aku mengubah suasana baik menjadi canggung karena kejadian tadi.
“Baiklah, setelah makan kuantar kau
pulang.” Kata DongHae padaku. Aku yang sedang menikmati makananku rasanya
jengkel dengan kata katanya. Sumpit yang sedari tadi ada di tanganku ku
letakkan begitu saja diatas meja. Rasa rasanya sudah cukup kenyang mendengar
hal itu.
“Kau tidak makan?”
“Aku sudah kenyang…”
“Aku tidak bisa menghabiskannya
sendirian…”
“Aku memasak untukmu, tidak masalah
kok kalau tidak habis.” Kataku.
“Kau kenapa?” Tanyanya sambil
meletakkan sumpitnya di meja, memandangku lekat lekat.
“Kau yang kenapa?” Aku membalikkan
pertanyaannya. Dong Hae memandangku intens, begitupun aku padanya. Dia meraih
tanganku diatas meja.
“Mianhae… apa kau marah padaku?”
“Kalau kau tidak nyaman bersamaku, aku
akan pulang sekarang jadi kau tidak perlu mengantar.”
“Kau marah karena itu?”
“Aku tidak marah, tapi rasanya tidak
nyaman bersama orang yang tidak menginginkan kita ada di sisinya.” Entah kenapa
mulutku mengeluarkan kata kata mematikan yang bisa dengan mudah membuat Dong
Hae merasa bersalah.
“Bukan begitu…Baiklah kalau begitu aku
minta maaf. Ini masakan pertamamu untukku, Dan ini sangat enak. Maaf membuatmu
tidak nyaman dengan kata kataku barusan. Mianhae. Eoh?”
“Makanlah, kau harus menghabiskannya
untuk mendapat pemberian maaf dariku.” Kataku meledek namja di depanku.
“Mwo? Semua ini?” Dong Hae tersedak
dan segera mengambil segelas air putih di depannya. Aku tertawa puas mengerjai
DongHae, tapi aku lebih senang karena suasana sarapan kami menjadi lebih baik.
“Ne!”
To be continued...

No comments:
Post a Comment