Wednesday, April 29, 2015

Complicated Heart (Chapter 5)


Author : Cho Anna

Genre : Drama, Romance

Cast : 
Cho Kyuhyun

Kim Min Young

Lee Dong Hae

Other cast : 

Find by your self

(Hai readers, akhirnya posting lagi chapter selanjutnya dari CH, masih sama kaya sebelumnya, cerita ini belum lulus edit. Sebenernya chapter ini udah jadi beberapa minggu yang lalu dan niat mau dipost setelah diedit, tapi berhubung author agak males ngeditnya,  karena masih ngurus revisi skripsi yang bertubi tubi..hehe jadi dipost seadanya dan sangat sederhana. Oiya, masih tentang ceritanya. Kalau misalkan readers pernah baca alur cerita yang sama di FF lain itu adalah ketidak sengajaan. Karena CH ini murni ide author. Yah, akhirnya...author ucapkan selamat membaca dan dibutuhkan otak kanan readers semua agar bisa menghadapi jebakan typo :D haha *mulai ngaco*)




Tetap saja, aku masih tidak bisa melupakannya. Semalaman aku hanya memikirkan ciuman bodoh itu. Bodoh? Aku tidak terlalu yakin dengan kata bodoh. Karena aku sempat menikmatinya dan aku merasakan kehangatan dalam ciuman itu. Dan ada satu hal lagi yang membuatku tidak mudah melupakannya. Karena ciuman semalam adalah ciuman pertamaku. Cho Kyuhyun merampas ciuman pertamaku.
Dan hari ini masih ada pertemuan dengan tim penelitian, apa yang harus kulakukan saat bertemu Kyuhyun. Aku berjalan menuju Laboratorium, kali ini laboratorium adalah sebuah tempat nomer satu yang ingin kuhindari. Apalagi kalau bukan karena Cho Kyuhyun.
“Kim Min Young-sshi?” Sapa seseorang di belakangku. Suara itu…? Matilah aku sekarang juga.
“Ne, Kangsanim.” Jawabku setelah mendengar suara itu.
“Aku mencarimu kemana mana, Ah iya, aku ingin kau bersama Cho Im atau yang lainnya mengantar surat ini ke professor Min Jae di departemen sebelah. Dia mungkin bisa membantu kita mencarikan subjek penelitian yang memungkinkan.  Kata Kyuhyun dengan wajah serius.
“Ne aegesseumnida, tapi.. kangsanim..”
“Wae yo?”
“ Masalah yang kemarin…”
“Kemarin? Tentang?”
“ Tentang kejadian di apartemenmu kemarin, aku ingin melupakannya dan aku minta kau juga melupakannya.”
“Kejadian apa ? Aah ciuman semalam. Aku bahkan sudah lupa. Karena kau mengingatkanku aku jadi ingat lagi. Baiklah, aku minta maaf telah membuatmu terkejut tetapi aku akan segera melupakannya tenang saja. Aku mungkin sangat lelah jadi agak tidak terkontrol.  Nah, ini suratnya…”
“Ne? Ne…”aku mengambil surat yang Cho Kyuhyun sodorkan padaku.
“ Ah iya, aku hampir lupa. Setelah kau mengantar itu. Segera berikan lembar hasil kerja kemarin.”
“Ne, Kangsanim.”

Aku harus berkali kali lipat terkejut dengan caranya menyembunyikan emosinya. Dia bahkan sangat datar setelah apa yang dilakukannya padaku. Dan apa dia bilang? Dia tidak mengingatnya. Setelah memelukku dan merampas ciuman pertamaku dia melupakannya. Daebak… hebat sekali Cho Kyuhyun itu.

****
(Author Pov)
“Bagaimana kalau akhir bulan ini saja? Tidak banyak hal yang sedang kita lakukan kan?” Kata Aboji pada Lee Dong Hae.
“Akhir bulan ini bukankah dua minggu lagi?”
“Iya, Kau boleh mengambil cuti selama dua hari.”
“Apa tidak terlalu cepat?”
“Kau sendiri yang bilang ingin mempercepat pertunangan.”
“Aku tidak ada masalah dengan hal ini Aboji. Tapi aku akan bertanya pada Min Young apakah dia menyetujuinya atau dia ada rencana lain” Jawab Lee Dong Hae
“Yaa, aku serahkan tanggal pertunangan pada kalian berdua. Dan ingat. Pertunangan adalah acara yang tidak main main. Karena kau sedang mencoba menjalin komitmen dengan seorang wanita. Jadi Aboji harap, kau menghilangkan kebiasaanmu membawa dokter magang ke club. Aboji sangat malu mendengar berita itu.”
“Eoh? Aboji dapat kabar itu dari mana?”
“Hahahah, kau anakku Lee Dong Hae, aku tidak akan membiarkanmu tanpa kontrol. Aku juga tahu apa yang kau lakukan setiap hari.”
“Aboji, kau mengirim Spy?”
“Spy? Hahahaha… kau ada ada saja. Bagaimana mungkin  aku memata matai anak sendiri. Sudah, Aboji lelah. Kau segera temui keluarga mereka untuk membahasnya. Kapan saja mereka ingin, kita akan menyanggupinya.

*****
“Dua minggu lagi…”
“Ne? Dua minggu lagi?” tanya Min Young kaget
“kalau itu terlalu cepat untukmu kau bisa memilih hari lain. Itu hanya usul dari aboji.”
“ Benar, itu sangat cepat bagiku. Tapi bagaimanapun bukankah kita akan tetap bertunangan? Bagiku dua minggu lagi tidak masalah. “
“Jeongmal?”
“Ne, aku akan bicarakan hal ini dengan Park Ahjussi dan Eomma.
“Gumawo Min Young-ah, kau bersedia bertunangan denganku. Gumawo, kau mau berusaha mencintaiku.”
“Nado Dong Hae-ya. Jeongmal Gumawo. ”
Dong Hae dan Min Young segera melahap makanan yang sedari tadi mereka acuhkan karena pembicaraan penting ini.
“Dong Hae ya, kau tahu Soo Young patah hati saat mendengar kita akan bertunangan.”
“Benarkah?”
“Kau harus tahu, dia yang lebih dulu menyukaimu. Dia tergila gila padamu saat kita makan malam waktu itu.”
“Jeongmal? Gadis kecil itu?”
“Heish, jangan menganggapnya gadis kecil atau kau bisa dilempar dengan sepatunya. Dia selalu berlagak dewasa.”
“Aku juga menyukai Soo Young, dia gadis cantik yang lucu.”
“Benarkah? Apa aku harus cemburu mendengarnya?” Goda Min Young.
“Ne, kau harusnya cemburu, Min Young Sshi..”
Min Young dan Dong Hae menyelesaikan makan malam mereka dan segera mengantar Min Young pulang.
“Min Young-sshi, kau bisa memasak?”
“Sedikit..”
“Aku ingin mencoba masakanmu.”
“Aaah, aku takut kau akan keracunan..”
“Hahaha, skill memasakmu pasti buruk.”
“Tidak juga, aku bisa memasak tapi tidak sehebat Eommaku.”
“Besok kau ku jemput sepulang kuliah, kita ke apartemenku. aku ingin mencoba masakanmu.”
“Haruskah?”
“Aku ingin istriku nanti memasak sarapan untukku tiap pagi”
“Jadi ini semacam tes?”
“Tentu saja, aku tidak mau menjadi suamimu kalau kau memasak makanan beracun.”
“Tidak akan Dong Hae-sshi, kau akan menyesal mengatakan itu padaku.”
“Kita buktikan saja besok.” Senyum Dong Hae menguar dari wajahnya.

*****
Laboratorium Kelompok.
(Min Young pov)
“Kim Min Young-sshi berkemaslah dan ikut aku sekarang!”
“Wae yo? Tanya Min Young sebal karena masih berkutat dengan lembaran kertas di depannya.
“Ayo jangan banyak bicara..”
“Kemana?”
“Nanti ku jelaskan di mobil.”
Setelah mengemasi tasku dan beberapa lembar kertas. Aku mengikuti Cho Kangsanim ke mobilnya. Dia selalu saja memerintah.
“Ada apa?”
“Kita harus menemui professor Min Jae sekarang di rumahnya.”
“Kenapa aku harus ikut?”
“Karena beliau menginginkanmu hadir juga.”
“Geurae, Arraseo.”
Kyuhyun melajukan mobilnya menuju rumah Profesor Min Jae. Aku diberi beberapa pengarahan dan beberapa bocoran tentang pertemuan mereka. Kita hanya diberi waktu ssepuluh menit untuk menjelaskan alasan mengapa professor  Min Jae harus membantu penelitian kami. Setelah mengerti sebagian besar pokok yang akan kami bicarakan, aku mulai berpikir pikir sendiri pertanyaan pertanyaan yang mungkin muncul.
“Oh my God!” Kata Kyuhyun setelah aku merasakan mobil yang kutumpangi sedikit oleng.
“Wae yo?”
Kyuhyun meminggirkan mobilnya dan mengecek ban mobil depan. Benar perkiraanku, Sepertinya bocor.
“bukankah di belakang ada ban cadangannya?”
“Itu juga bocor.”
“lalu kenapa kau membawanya kalau itu juga bocor?”
“Sebentar aku akan menelepon professor Min Jae. “
Kyuhyun keluar dari mobilnya dan mencari sebuah nomor. Pasti nomor telepon Professor Min Jae. Setelah mengobrol tidak cukup lama, Kyuhyun menutup teleponnya dan masuk kembali ke dalam mobil.
“Acara hari ini dibatalkan, karena Profesor Min Jae sudah dalam perjalanan  ke Bandara menuju Jepang.  Dia tidak dapat menunggu lagi.”
 “Lalu subjek kita?”
“Kita perlu mencari link orang orang baru lagi.”
“Astaga…memulai dari awal lagi memetakan letak subjek satu persatu?”
“Hei, ini belum ada apa apanya Kim Min Young-sshi, aku dulu telah ditolak berbagai macam orang untuk penelitianku. Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja. Masih banyak orang yang mau membantu kita.”
“Ne Kangsanim, lalu bagaimana ban mobilnya.”
“Sebentar aku akan memanggil derek” Kata Kyuhyun mengangkat teleponnya. Namun dari dalam mobil terlihat tidak berhasil. Dia lalu mengetuk pintu kaca mobil mengisyaratkan aku harus menurunkannya.”
“Aku harus ke bengkel sebentar, di ujung jalan sana. Karena semua yang aku hubungi tidak menjawab dan ada yang sibuk. Kau di dalam mobil saja, Ne? ”
“Ne, Kangsanim…”
Peluh di dahinya meluncur di wajah putih bersihnya membuatku kembali terpesona. Pria itu, apa yang tidak bisa dia banggakan. Semuanya sangat menarik. Aku lihat dia berjalan menuju bengkel mobil itu. Punggung tegapnya, melihat punggungnya saja aku sudah sangat senang. Kenapa perasaanku menjadi seperti ini?”
Aku bosan di dalam.. aa, disana ada tempat duduk. Aku keluar saja. Udara disini biasanya bagus. Sambil menunggu Cho Kyuhyun dari bengkel mobil. Musik dari headset menggema di telingaku. Aku mendengarkan lagu sambil memandang sekeliling serta laju beberapa mobil yang sangat jarang melintasi jalan itu.
Headsetku dilepas oleh seseorang, aku terperanjat kaget walau ku pikir itu adalah Cho Kyuhyun. Ternyata tebakanku salah, di belakangku muncul beberapa pria yang saat ini sedang melingkari ku. Salah satu dari mereka lah yang melepaskan satu headset dari telinga kananku.
“Hei nona manis? Kenapa sendirian duduk disini..”
“Tasmu bagus, handphonemu juga…serahkan pada kami.”
Aku berlari ke dalam mobil namun saat aku menyentuh gagang pintu mobil Kyuhyun. Tanganku kembali di raih oleh mereka. Merampas tasku dan mengacak acak isinya. Dan sebagian lagi ada yang mencba menyentuh tubuhku. Aku ,mencoba melarikan diri, namun gagal. Aku mengerang dan memohon untuk tidak melakukan apapun. Tapi mereka malah lebih tertarik melihat tubuhku. Setelah mengacak acak isi tasku dan mengambil uang dari dalam dompetku. Salah satu dari mereka memegang tangan kananku dan salah satu yang lain memegangi tangan kiriku. Tubuhku lemas, kakiku seakan meruntuh ke bawah. Tulang tulangku rasanya melembek. Teriakanku juga melemah.
“Dasar bajingan brengsek..Beraninya mengeroyok wanitaku.” Sebuah tinjuan besar melayang pada salah satu dari mereka. Tinjuan dari tangan kekar Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun bertarung dengan lima orang tadi. Wajahnya beberapa kali terkena pukulan dan tendangan dari mereka di bagian punggungnya. Lima banding satu memang bukan lawan yang sebanding. Tapi sama seperti tujuh tahun silam, mereka semua berlima pergi setelah Kyuhyun menyebabkan satu tangan anggota geng itu patah. Kyuhyun adalah pemenangnya walau wajahnya cukup hancur. Sudut bibir kanannya berdarah, pipi kanan juga lebam serta pelipisnya sobek.  Dia masih terduduk di trotoar setelah perkelahian itu. Aku masih ketakutan berdiri di sudut tembok yang di belakang kursi yang  kududuki.
Kyuhyun berdiri segera, berjalan lambat ke arahku. Dengan tenaga yang tersisa dia berjalan selangkah demi selangkah. Dia berhenti di depanku.
“Sudah ku bilang jangan ke luar dari mobil.” Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya dan memelukku.
“Kenapa kau selalu dalam bahaya kalau aku tidak di sampingmu? Kenapa kau tidak bisa kabur dari mereka? Kenapa kau tidak mendengarkanku? Kim Min Young-sshi, kau harusnya bisa bertahan dan pergi sejauh mungkin jika ada orang yang menjahatimu.” Suaranya parau dan tertahan.
“Cho Kangsanim…” Aku memanggilnya memastikan dia baik baik saja.
“Tidak bisakah kau membuatku tenang dan berada disisiku saja? Kenapa kau selalu membuatku khawatir?” Aku mendengar suaranya bergetar. Dan bahuku basah oleh sesuatu.. Astaga… Cho Kyuhyun. Kau sedang menangis? Aku yang masih berdiri kakupun akhirnya menggerakkan tanganku melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Mian Hae, Jeongmal Mian hae, Oppa…” Akupun menangis di pelukannya.

*****
“Kuantar kau pulang..” Kata Kyuhyun padaku.
“Tidak, ayo ke rumah sakit dulu, kau lebam begitu.”
“Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri.”
“Kalau begitu aku yang akan mengobatinya.”
“Tidak perlu, kau pulang saja dan jangan kemana mana.”
“Ne…mulai saat ini, aku akan menuruti maumu”
Kyuhyun mengantarku pulang, dia mengantarku sampai taman dekat rumah. Aku tidak ingin Eomma tahu aku pulang dengan pria lain, apalagi pria itu adalah Cho Kyuhyun. Kyuhyun mengerti dan dia mengatakan padaku akan pulang ke rumah untuk mengobati wajahnya. Tapi setelah memasuki gerbang rumahku aku berubah pikiran. Mian Hae Kyuhyun aku tidak menuruti maumu, sekalii saja.

(Author pov)
Min Young sampai di rumahnya dan bergegas menuju kamanya di lantai dua. Mengambil kunci mobilnya, menyambar kotak p3k di kotak obat dan mengeluarkan Hyundai kesayangannya dari garasi.
“Eomma, aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus kuurus.”
“Hei, kau baru pulang sudah mau pergi lagi?”
“Eomma, kalau Aku berhutang pada seseorang, dan orang itu sedang kesulitan apa aku harus membantunya?”
.”Kenapa kau tanya begitu.”
“Sudahlah Eomma, aku tidak ada waktu jawab saja.”
“ Yaa jelas kau harus menolongnya, Eomma selalu bilang padamu kan untuk selalu menolong orang yang kesulitan.”
“Eommaku adalah yang terbaik, aku akan melakukannya Eomma, jadi jangan khawatir dan aku akan segera pulang.”

Min Young menginjak pedal gas nya dalam dalam ingin segera sampai ditempat tujuan. Tiba tiba ponselnya berdering. Dia memasang handsfree ke telinganya dan mengangkat telepon itu.
“Yeobseo..”
“Min Young-sshi. Kau dimana? kau tidak lupa kan kalau kau ada janji denganku?”
“Astaga, Mian Hae Dong Hae-sshi, Aku lupa.”
“Tidak apa apa, kau dimana sekarang. Aku akan menjemputmu dan kita belanja bersama.”
“Dong Hae-sshi mian hae, apa kita tidak bisa menundanya besok? Aku ada sesuatu yang harus kuurus.”
“ Benarkah? Apa itu?”
“ Eem, temanku sakit aku harus segera mengobatinya.”
“Haha, kau bercanda ya? Aku yang dokter, aku yang harusnya mengobati orang yang sakit.”
“Aku tidak sedang bercanda Lee Dong Hae-sshi. Dia benar benar harus ditolong. Apa kau tidak apa apa janjinya ku batalkan? Atau kalau perlu setelah aku mengobatinya aku akan pergi ke apartemenmu”
“Kau mau aku membantumu memeriksa temanmu?”
“Anni, tidak usah. Dia pasti akan sangat canggung. Dia hanya lebam, aku ingin mengompresnya saja.”
“Baiklah, kalau begitu. Aku langsung pulang ke apartemenku saja. Kau tunggui saja temanmu. Kita bisa melakukannya besok malam”
“Kau benar benar tidak marah padaku?”
“Untuk apa marah, kau sedang melakukan aktifitas kemanusiaan, apa aku harus marah?” Tanya Dong Hae sambil tertawa kecil.
“Uri Euisanim sangat pengertian. Baiklah, aku sudah sampai. Ku tutup telponnya.”
“Ne…Min Young-Sshi… fighting!” Kata Lee Dong Hae.

Min Young tidak habis pikir, Ada apa dengannya? Dia membatalkan janji dengan Dong Hae hanya untuk mengobati luka Cho Kyuhyun. Padahal Cho Kyuhyun mengatakan akan mengobatinya sendiri. Setelah mobilnya terparkir di basement. Min Young naik menuju apartemen Kyuhyun di lantai 6.
Tingtong..tingtong…
“Yaa sebentar…” Kyuhyun melihat Min Young berada di depan apartemennya dari layar intercom segera membuka pintu.
“Ada apa kau kemari, sudah ku bilang kau di rumah saja.”
“Aku harus mengobatimu, Cho Kangsanim.”
“Aku sudah baik baik saja, aaak…” Tangan Kyuhyun menyenggol pipinya yang lebam itu.
“Kau berteriak seperti itu bagaimana bisa baik baik saja.”
“Kau punya es batu?”
“Di kulkas. “
“Aku akan mengompres pipimu dan menutup pelipismu dengan perban. Kau duduk saja disini” Kata Min Young sambil menunjuk sofa yang sedang didudukinya.

            Min Young sangat telaten mengobati Kyuhyun. Dia mulai dari sudut bibirnya yang kemerahan, lalu membersihkan pelipisnya dan menutup dengan perban dan terakhir mengompres pipinya.
“Caap, selesai…bagaimana ?” Kata Min Young.
“Aaah, wajah tampanku… kapan kau akan kembali?” Tanya Kyuhyun dengan bayangnya sendiri di cermin.
“Geeizz, kau ini. Kau tetap tampan walau wajahmu seperti itu.”
“Aku tahu…” Jawab Kyuhyun sambil membolak balikkan wajahnya dari cermin.
“Cho Kangsanim, Aku belum mengatakan sesuatu padamu tadi.”
“Apa lagi? bukankah kau sudah banyak bicara hari ini”
“Khamsahaeyo…. Jeongmal Khamsahaeo..kalau kau tidak segera kembali aku mungkin sudah..“
“Sudahlah, aku bersyukur tidak terjadi apa apa padamu..” Kata kata Kyuhyun baru saja melelehkan hati Min Young. Min Young tersenyum, perasaan bencinya pada Kyuhyun lenyap.
“ Kau pasti lapar, mau ku masakkan sesuatu?”
Bagaimana Cho Kyuhyun bisa makan kalau kondisinya begini. Kyuhyun menyodorkan pipinya menunjukkan betapa tersiksanya dia jika makan sesuatu.
“Baiklah, akan ku buatkan bubur saja untukmu.” Kata Min Young.

****
(Kim Min Young pov)
Hari ini seharusnya aku memasak di dapur apartemen Lee Dong Hae bukan di dapur apartemen Cho Kyuhyun. Aku tidak tahu apa yang menyeretku ke apartemen Pria ini, aku masih berpikir ini benar karena aku hanya ingin membantunya yang kesusahan karena menolongku.
Aku mengesampingkan perhatianku untuk Lee Dong Hae calon tunanganku tetapi malah lebih memperhatikan pria yang saat ini berada bersamaku.  Kenapa aku sangat bahagia berada dekat dengannya.
“ Mau ku bantu?” Tanya Kyuhyun padaku.
“Tidak usah Cho Kangsanim, kau istirahat saja.”
“Min Young-sshi, aku minta kau jangan memanggilku Cho Kangsanim saat di luar kampus., rasanya kaku sekali.”
“Lalu kau mau dipanggil apa?” tanyaku sambil terus mengaduk bubur yang hampir matang.
“ Aku suka panggilanmu saat kau memelukku terakhir setelah perkelahian tadi siang.”

Aku berpikir keras. Memangnya aku memanggilnya dengan sebutan apa tadi? Aku sama sekali tidak ingat.
“Kau tidak ingat?” Tanyanya, Aku menggeleng pelan sambil mencoba mengingat ingat. Oppa? Astaga aku memanggilnya Oppa? Apa yang ku pikirkan sampai memanggilnya Oppa. Min Young-sshi kau pasti sudah gila.
 “Aniyo… aku tidak ingat pernah mengatakan apapun.”
“ Terserah kau saja kalau begitu.”
“Cho Kangsanim, Aku lebih nyaman dengan panggilan itu sekarang.”
 Tentu saja alasanku sebenarnya bukan tentang kenyamanan, Oppa? Dia bukan kakakku lagi dan dia juga bukan kekasihku. Tidak akan mudah menggunakan kata Oppa untuk memanggilnya. kenangan buruk saat dia menjadi oppaku, aku ingin sekali melupakannya. Dan memanggilnya oppa, maka aku sedang mengeruk luka lama.




*****
(Kyuhyun pov)
Setelah merebahkan tubuhku di sofa sambil memencet mencet remot tv mencari acara yang bagus. Bel pintu apartemenku berbunyi berulang ulang. Siapa lagi orang yang mencariku. Sepertinya hari ini aku banyak tamu. Aku merutuki siapa yang sedari tadi memencet bel tanpa jeda. Dari layar intercom terdengar suara yang tidak asing, Ah iya, pria itu tidak berubah, selalu tidak sabaran.
“Hei, Cho Kangsanim, cepat buka pintunya.”Kata Seorang dari luar. Aku membuka pintunya dan melihat pemilik suara itu yang sedang berdiri, memasukan kedua tangannya di saku celana.
 “Astaga Wajahmu kenapa?” Tanya pria itu
“Ada apa kau kemari?” Tanyaku tanpa basa basi.
“Kau meneleponku tadi sore? Ada apa?” Kami berdua hanya saling melempar tanya.
“Kau lihat wajahku kan? Aku butuh penangananmu. Tapi kau tidak mengangkatnya. Yasudah aku pulang saja.”
“Kenapa tidak ke rumah sakit? Kau kan bisa menemuiku di rumah sakit.”
Aku baru kemarin masuk rumah sakit karena alergi udang, bukankah lucu kalau aku masuk rumah sakit lagi karena wajahku babak belur.
 “ Aku malas.” Jawabku singkat.
“Tapi ngomong ngomong apa yang membuatmu berkelahi?” Tanya Dong Hae semakin penasaran.
“ Gadis itu..” Jawabku sambil tersenyum
“Yang selalu kau ceritakan padaku berulang ulang di Swedia ?” Tanya Dong Hae memperbaiki duduknya siap mendengarkan keluh kesah sahabatnya yang mungkin sebentar lagi akan dilanda perasaan bimbang yang parah, ya aku sendiri. Haha, kenapa aku jadi melankolis seperti ini.
“ Gadis kecil itu menjadi mahasiswaku sekarang..”
“Benarkah? Lalu bagaimana sikapnya padamu?”
“Sejak awal pertemuan kami dia sangat membenciku, aku sudah kehilangan akal bagaimana cara mendekatinya. Tapi tiba tiba dia mendaftar sebagai tim penelitianku. Bukankah ini takdir?”
“Haash, bagaimana bisa Cho Kyuhyun yang rasional ini menjadi percaya takdir. Aku jadi sangat penasaran dengan gadis itu.” Dong Hae terkekeh geli.
“Kau terlambat, dia sudah pulang”
 “ Dia kesini? Menjengukmu?” Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Dong Hae.
“Jadi kalian sudah dekat?” Tanyanya lagi lebih penasaran.
“Haha, tidak juga. Tapi entahlah.”
“maksudmu?”
“Kami tidak dekat, tapi saat aku mencoba memeluknya dia tidak menolak, ketika aku menciumnya, dia juga tidak menolak. Tapi esok harinya, dia menyuruhku melupakan kejadian itu. Aku tidak tahu jalan pikirannya dan apa yang dia rasakan padaku. Bikin aku frustasi saja.”

“Ciiih, kau benar benar menceritakan hal semacam itu padaku? Kau benar benar putus asa? haha” Dong Hae meledekku.
“Aaah, iya kenapa aku menceritakan bagian itu ya… lupakan saja. Ngomong ngomong kau tidak berkencan?”
“Dia membatalkannya, makanya aku kesini.” Kata Dong Hae berbaring di sofaku sambil menggerak gerakkan kakinya yang tertutup kaos kaki abu abu.
“Aaa pantas saja kau kesini, tumben sekali. Kau bilang waktu itu, kalau dia mahasiswaku kan? Dia semester berapa? “
“Semester 5.” Jawab Dong Hae. Aku mengambil dua botol cola di kulkas dan beberapa makanan ringan untuk teman mengobrol.
“Siapa namanya?” Sebelum Dong Hae sempat menjawabnya. Bel pintu apartemenku berbunyi lagi. Kali ini siapa lagi yang datang, kenapa banyak sekali yang mengunjungiku malam ini.
“Dong Hae-ya, bisa tolong bukakan pintu?”
“Okay…”

(Author pov)
Dong Hae berjalan menuju pintu, seperti kebiasaannya tanpa melihat intercom. Dengan segera Dong Hae membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Dong Hae cukup terkejut, dia sangat mengenal postur tubuh itu, wajah itu, dan rambut coklat itu.
“Kim Min Young-sshi? Ada apa kemari? Kau mencariku? ” Dong Hae tercekat, melihat sosok calon tunangannya di depan pintu apartemen sahabatnya.
“Dong Hae-sshi, bagaimana kau ada di…” Belum sempat Min Young melanjutkan kata katanya. Kyuhyun berjalan mendekat ke pintu. Menanyakan kepada Dong Hae siapa yang datang. kemudian melihat intercom, gadis yang baru saja pergi dari apartemennya sekitar beberapa menit yang lalu sekarang ada di depan pintu apartemennya lagi.
“Kim Min Young-sshi? Ada yang terlupa sampai kau datang lagi?” Tanya Kyuhyun setelah melihat Min Young berdiri kaku di pintu apartemennya
“Cho Kangsanim, sepertinya… aku meninggalkan kunci mobilku di sini.” Min Young tampak canggung mengatakan itu. Karena di depannya kini ada calon tunangannya. Bingo, dia sekarang sedang ketahuan. Membatalkan kencan untuk menemui pria lain.
“Benarkah? Aku tidak melihatnya dari tadi. Kau cek saja di dalam.”
            Dong Hae adalah orang yang paling terkejut disini. Dia terdiam melihat Min Young berlalu masuk ke dalam apartemen sahabatnya itu. Dia seperti sedang mengumpulkan memori memori yang sudah ada di otaknya, memprosesnya dan membentuk sebuah kesimpulan yang.. Aaah tidak mungkin.
            Pria itu melangkah masuk dengan susah payah, apa yang dilihatnya sekarang adalah tunangannya dengan mudah masuk ke apartemen sahabatnya, menggeledah meja kerja sahabatnya. Dia masih berharap apa yang ada di hadapannya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.

Kim Min Young telah menemukan kuncinya diantara beberapa tumpukan kertas dan tas kerja milik Kyuhyun
“Aah iya Kim Min Young, kenalkan ini sahabatku Lee Dong Hae.” Kata Cho Kyuhyun.
“Kami sudah…” Jawab Min Young yang langsung di sela saja oleh Dong Hae.
“Senang berkenalan denganmu, aku Lee Dong Hae.” Dong Hae mengulurkan tangannya ingin menjabat Min Young. Min Young kebingungan dengan sikap Dong Hae. Dia hanya ikut mengulurkan tangannya pada Dong Hae namun tidak berkata sepatah katapun. Setelah melewati adegan paling canggung sedunia itu, akhirnya Min Young segera pamit pulang. Meninggalkan Dong Hae yang terduduk lemas di sofa dan Kyuhyun yang mengantarnya sampai depan pintu. Dong Hae masih berharap apa yang dipikirannya adalah salah salah dan salah.

Kyuhyun tersenyum melihat Min Young datang lagi. Setelah mengantar Min Young ke depan pintu, Kyuhyun kembali ke dalam. Duduk di sofa dan tersenyum.
“Gadis itu…” Dong Hae bertanya
“Iya benar, gadis itu tadi yang selalu ku ceritakan padamu. Bagaimana cantik tidak? Akhirnya aku bisa mengenalkannya padamu”
“ Cantik, sangat cantik…”
“Hah, kenapa aku sangat bahagia ya melihat dia datang lagi.”
Dong Hae masih dalam duduknya, berpikir panjang. Apa yang sudah dilakukannya? Dia berlagak sok tidak mengenali calon tunangannya sendiri demi menjaga perasaan sahabatnya. Suasana menjadi sangat dingin, Dong Hae tidak secerewet tadi.
“Dong Hae-ya, wae yo?”
“Eo? Ani…sepertinya aku lelah.”
“Kau mau tidur di sini?”
Handphone Dong Hae bergetar, sebuah notifikasi dari aplikasi chatnya muncul di layar ponselnya.

From : Kim Min Young
“Kau masih disana? Aku menunggumu di parkiran. Sepertinya kita perlu bicara.”

Dong Hae membacanya sekali dan membiarkannya beberapa saat. Lama lama jengah juga membiarkan pesan dari Min Young tidak dibalas.
 To : Min Young
“ Kau pulanglah dulu, ini sudah malam. Besok pagi kita bicara.”
Min Young menuruti apa yang Dong Hae bilang, dia sudah membuat masalah pada Dong Hae karena membatalkan kencan, dia tidak mau membuat masalah lagi tentang ini.

(Dong Hae pov)
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan hatiku saat melihat calon tunanganku berada di depan pintu apartemen sahabatku, Cho Kyuhyun. Aku lebih terkejut lagi tentang gadis kecil Cho Kyuhyun, yang ternyata juga tunanganku.

Aku bahkan bersikap bodoh, dengan berpura pura tidak mengenal Min Young agar Cho Kyuhyun tidak kecewa. Cintanya pada Min Young lebih dari apapun, aku sangat tahu itu.
Tapi aku juga sangat asing dengan hatiku, rasanya dadaku sakit.

“Tidak apa apa, aku sepertinya sedang lelah.” Jawabku pada Kyuhyun.
            Aku tidak percaya kali ini aku dihadapkan pilihan tentang persahabatan atau cinta. Masalah yang klise dan tidak kunjung habis.
“Kau mau tidur di sini?” Tanya Kyuhyun padaku
“Tidak, aku sebentar lagi pulang..Kau istirahat yaa, tidak usah berkelahi lagi.” Jawabku dan sedikit membual tentang istirahat.

****
Pagi ini, aku meluncur cepat ke rumah Min Young. Karena Min Young merengek meminta kami bicara. Aku tahu dia juga terkejut kemarin dan aku bisa membacanya dari raut wajahnya saat aku membuka pintu.
Aku menunggunya di depan rumah, aku sama sekali tidak tertarik untuk masuk menyapa calon mertuaku, karena moodku sedang tidak baik.
“Aku sudah di depan, keluar lah…”
Min Young keluar dengan segera, menghampiri mobilku dan duduk di sebelah kursi kemudi.
“Kita mau kemana? “ Tanyaku.
“Dong Hae-ya, aku ingin meminta maaf padamu.” Kata Min Young.
“Tentang?”
“Kejadian semalam…aku bisa menjelaskannya”
“Kau tidak salah, aku mengerti.” Aku hanya pura pura tenang menghadapi penjelasan demi penjelasan Min Young. Entah kenapa hatiku sakit, tapi  aku tidak bisa marah pada gadis di sampingku ini.
“Apa Cho Kyuhyun yang memberitahumu?”  Aku hanya mendehem menjawab pertanyaannya.
“Seluruhnya?” Min Young heran
“Seluruhnya…” jawabku.
“Dan kau tidak marah?” Min Young masih saja terus mencecar pertanyaan pertanyaan tentang dia dan Cho Kyuhyun. Seandainya aku bisa marah padanya, membentaknya, mengatainya berbagai macam hal.. Tapi aku tidak bisa. Gadis ini terlalu… ah bukan, aku yang sudah terlalu mencintainya.

“Kau hanya membantunya mengompres bengkaknya kan? Kenapa aku harus marah. Justru aku berterimakasih padamu, telah merawat sahabatku.” Aku tersenyum padanya, jelas itu senyum yang dipaksakan hingga wajahku malah terlihat aneh.

“Jadi Cho Kyuhyun sahabatmu? Eng… kau tau kan kalau kita dulu saudara tiri, jadi aku tidak mungkin…” Min Young masih mencoba menjelaskan hubungannya dengan Kyuhyun.
“Aku tahu, tidak usah kau jelaskan lagi. Dan tidak ada yang perlu di maafkan.  Ah, Bagaimana kalau kita ke supermarket membeli beberapa bahan makanan? Aku ingin sarapan masakanmu.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan ini.
“Baiklah, kau ingin aku masak apa?”
“Apapun..” Jawab Dong Hae.
***
(Min Young pov)
Hari ini aku berada di dapur apartemen Lee Dong Hae, sedang memotong beberapa paprika merah dan hijau. Perabotnya sangat mengkilat dengan beberapa teknologi canggih. Tidak berbeda dengan milik Kyuhyun.
 Dong Hae duduk di kursi bar di dapurnya. Mata hazelnya tidak berhenti menatap setiap gerak gerikku. Aku tahu dia seperti sedang mengawasiku.
“Kau tidak mengerjakan sesuatu yang lain?” Tanyaku, ini semacam pengusiran secara halus agar Dong Hae tidak terus memandangku seperti itu.
“Tidak, semua sudah beres sebelum aku pergi menjemputmu.”
“Tenang saja, tuan Lee. Aku tidak akan membuat dapurmu rusak..”
“Aku ingin melihatmu memasak Nona Kim”
Aku masih berkutat dengan beberapa bahan yang harus dipotong sementara Dong Hae bangkit dari kursinya, menuju ke arahku.
“Kau mau membantu?” Tanyaku sambil menyerahkan dua buah kentang untuk dikupas. Tapi dugaanku salah. Dong Hae datang dan meraih pinggangku. Dia berdiri di belakangku.
“Dong Hae-sshi…”
“Teruskan saja memotongnya, aku ingin seperti ini.” Tangan kanannya meraih bahu kiriku dan tangan kirinya tetap di pinggangku.
Tetap memotong? Yang benar saja? Bagaimana bisa aku memotong paprika dengan tubuhku dipeluk seperti ini.
“Kau kenapa seperti ini?” Tanyaku, aku meletakkan pisauku dan paprika yang sudah ku belah. Memegang lengan kanan Dong Hae yang sedang bernafas pelan di telingaku.
“Aku mencintaimu… bagaimana ini? Aku benar benar mencintaimu.” Dong Hae menggumam pelan tepat di telingaku. Ini pengakuan seorang pria padaku dengan jarak yang sangat dekat bahkan tubuh kami sudah menempel tanpa jarak. Dong Hae melepas pelukannya dan menggeser tubuhnya ke belakang.  Membalikkan tubuhku segera.
“Dong Hae-sshi…”
“Tidak bisakah Dong Hae-ya? Atau Oppa?” Tanya Dong Hae.
“Mwo?” Aku tentu kaget dengan permintaan Dong Hae.
Kedua tangannya mengunciku di meja dapur. Tubuhnya semakin mendekat, ku pikir dia akan memeluk, tapi hanya wajahnya yang semakin berarak maju. Aku tahu apa yang akan Dong Hae lakukan. Satu detik wajah kami hanya terpaut 5 centimeter saling memandang. Dua detik kami semakin dekat, tiga detik hidungnya menyentuh hidungku. Empat detik aku memilih untuk memejamkan mata dan detik kelima…. Aku memalingkan wajahku ke kanan. Tepat! Dong Hae tidak bisa mendaratkan bibirnya dengan sempurna.
Aku tidak tahu apa yang di lakukan Dong Hae tapi aku merasa kuncianku terlepas. Aku memberanikan diri membuka mataku dan melihat Dong Hae menunduk di hadapanku.
“Mianhae Dong Hae-sshi?” Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirku. Bibir yang batal menjadi tempat pendaratan bibir Dong Hae.
“Apa aku harus menunggu sampai kau mencintaiku?” Tanya Dong Hae lirih
“Mianhae, Jeongmal mianhae..” Aku hanya bisa meminta maaf pada Lee Dong Hae.
“Aaah tidak bisa dipercaya…” Dong Hae mengacak rambutnya frustasi. Lalu kembali ke tempat duduknya tadi. Dia menuang segelas jus jeruk dan meneguknya sendiri. Kalau saja ini malam hari, aku menebak dia pasti mengambil wine atau minuman alcohol yang lain. Aku kembali mengerjakan tugas dapurku.
Aku pikir setelah kejadian tadi Dong Hae menjadi diam. Apa aku keterlaluan padanya?
“Caaap, makanannya sudah siap..” Kataku mencairkan suasana. Dong Hae tersenyum kecil dan memperbaiki duduknya. Aku mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Dong Hae makan dengan enggan, seperti ada sesuatu yang mengurung pikirannya.
“Tidak enak ya? Ya sudah tidak usah dimakan.”Aku pura pura mengambil seluruh makananku dari atas meja. Dan berhasil membuat Dong Hae mencegah piring yang kuangkat.
Ini enak, jangan diambil.”  Dia mengambil piringnya dari tanganku dan meletakkan kembali di meja makan.
“Kalau enak kenapa tidak dimakan, kau cuma mengaduk nasi dengan sumpit.” Aku sedikit menggerutu. Tapi sepertinya ini gara gara aku. Aku mengubah suasana baik menjadi canggung karena kejadian tadi.
“Baiklah, setelah makan kuantar kau pulang.” Kata DongHae padaku. Aku yang sedang menikmati makananku rasanya jengkel dengan kata katanya. Sumpit yang sedari tadi ada di tanganku ku letakkan begitu saja diatas meja. Rasa rasanya sudah cukup kenyang mendengar hal itu.
“Kau tidak makan?”
“Aku sudah kenyang…”
“Aku tidak bisa menghabiskannya sendirian…”
“Aku memasak untukmu, tidak masalah kok kalau tidak habis.”  Kataku.
“Kau kenapa?” Tanyanya sambil meletakkan sumpitnya di meja, memandangku lekat lekat.
“Kau yang kenapa?” Aku membalikkan pertanyaannya. Dong Hae memandangku intens, begitupun aku padanya. Dia meraih tanganku diatas meja.
“Mianhae… apa kau marah padaku?”
“Kalau kau tidak nyaman bersamaku, aku akan pulang sekarang jadi kau tidak perlu mengantar.”
“Kau marah karena itu?”
“Aku tidak marah, tapi rasanya tidak nyaman bersama orang yang tidak menginginkan kita ada di sisinya.” Entah kenapa mulutku mengeluarkan kata kata mematikan yang bisa dengan mudah membuat Dong Hae merasa bersalah.
“Bukan begitu…Baiklah kalau begitu aku minta maaf. Ini masakan pertamamu untukku, Dan ini sangat enak. Maaf membuatmu tidak nyaman dengan kata kataku barusan. Mianhae. Eoh?”
“Makanlah, kau harus menghabiskannya untuk mendapat pemberian maaf dariku.” Kataku meledek namja di depanku.
“Mwo? Semua ini?” Dong Hae tersedak dan segera mengambil segelas air putih di depannya. Aku tertawa puas mengerjai DongHae, tapi aku lebih senang karena suasana sarapan kami menjadi lebih baik.
“Ne!” 

To be continued...

No comments:

Post a Comment