07.00 PM KST
Kyuhyun melepas jas kantornya dan disampirkan di tangan
kiri, sedangkan tangan kanannya memegang handphone sebelum keluar dari lift.
Dia berhenti di lantai 20 kemudian berjalan keluar dari lift
dan memencet tombol kombinasi pasword pintu berwarna coklat emas itu.
Istrinya sudah menyambut Kyuhyun dengan hati berbunga bunga,
dan lagi lagi dia terpesona dengan seseorang yang baru saja masuk ke apartemen
mereka. Kemeja putihnya dan jas biru donker yang tersampir di tangan kirinya serta hentakan
sepatunya yang mantap serta wangi parfum khasnya yang begitu maskulin.
Hyeon Jung segera mengambil tas kerja Kyuhyun dan
meletakkannya di ruang kerjanya.
“Kau memasak?”
Hyeon mengangguk,
“Memangnya kondisimu sudah baik?”
“Aku sudah lebih baik, jadi aku memasak sedikit untuk makan
malam kita.”
“Syukurlah, tapi
walaupun begitu seharusnya kau tidak perlu memasak. Kita bisa makan di luar.”
“Benarkah, kalau begitu ayo makan di luar. Kita bisa
membiarkan makanan ini.”
“Jangan pemborosan. Karena kau sudah memasak jadi sebaiknya
kita memakannya. Kita bisa pergi makan lain kali.”
Tlululut tlululut tlululut...tlululut tlululut tlululut
Handphone Kyuhyun berbunyi, panggilan masuk dari seseorang
yang diberikan janji bertemu malam ini.
Kyuhyun mengambil teleponnya dan menjauh dari meja makan menuju ruang
kerjanya.
“Ne Chagi... Mian.. aku tidak bisa kesana malam ini.”
Katanya. Cara bicaranya sedikit melemah, terkesan berbisik bisik. “Ne, arra... tapi aku ada kepentingaan yang
tidak bisa ku tinggalkan.” Jawab Kyuhyun. “Ku mohon mengertilah... Hyeon sakit,
aku tidak bisa meninggalkannya. “ Kyuhyun memijit mijit kepalanya sendiri.
Kemungkinan di seberang sana membuatnya tertekan dengan sebuah permintaan. “Apa
tidak ada hari lain huh? Kenapa harus sekarang?... Aku tahu aku sudah berjanji
padamu kemarin. Tapi Hyeon sakit. Alasan? Apa bagimu kesakitan bisa menjadi
alasan seseorang? Demi Tuhan, Sarah..
Aku mencintaimu!! Kenapa harus mempermasalahkan ini? Aku hanya tidak
menepatinya sekali.....Chagi... chagi... Sarah-sshi... Sarah-sshi...” Kyuhyun
mengacak acak rambutnya dan membuang handphonenya ke kursi istirahat di ruang
istirahatnya. Dia sedikit frustasi
dengan wanita itu. Sarah. Sarah hanya menagih janji Kyuhyun bahwa dia akan
menemaninya sampai malam tapi Kyuhyun malah berada di apartemennya bersama
istrinya.
Sarah membenci keadaan itu, dimana Kyuhyun memperhatikan
istrinya dan mengabaikan diri Sarah. Apakah ini kecemburuan atau hanya rasa
ingin memiliki Kyuhyun seutuhnya yang membuat dia menjadi wanita yang posesif
terhadap Kyuhyun.
“Hyeon? Em.. sejak kapan berada di situ?” Hyeon masih
terdiam. Tubuhnya di sana tapi pikirannya entah kemana.
“Oh, baru saja. Aku sepertinya meninggalkan lap makan disini
saat membawa tasmu kemari. Aku Cuma mau mencari” matanya berkeliaran di sekitar
ruang kerja Kyuhyun. “Eh, ketemu.”
Hyeon berjalan keluar ruangan, Kyuhyun di sampingnya tapi
Hyeon tidak peduli dan hanya mengambil lap makannya.
Mereka makan berdua, tanpa saling bicara lagi. Situasinya
menjadi canggung karena rasa bersalah Kyuhyun dan Hyeon Jung yang tidak lagi
bicara, hanya sendok dan garpu yang beradu di piringnya menjadi sumber suara
paling dominan di meja makan. Kyuhyun
merasa penasaran, apakah Hyeon mendengar percakapan telepon tadi atau tidak.
Hyeon menghabiskan makanannya begitu juga Kyuhyun. Setelah
mencuci bersih semuanya. Hyeon masuk ke kamarnya dan membuka buku PR yang harus
dikerjakan.
Bukunya dilempar begitu saja, pikirannya terus bergumul pada
telepon tadi. Hyeon mendengarnya. Semua, tanpa terlewat satu barispun.
Aku mencintaimu?
Chagi?
Sarah?
Apalagi yang kuingat?
Aaa... mianhae.
Hyeon sakit... aku
tidak bisa meninggalkannya.
Lalu apa aku harus
sakit agar kau tidak meninggalkanku. Oppa? Mengapa begitu menyedihkan aku bagimu.
“Hyeon, kau sedang apa?” Kyuhyun mengintip dari pintu kamar
Hyeon.
“Membaca, Mengerjakan
PR dan Belajar soal soal Ujian SAT.” Jawab Hyeon
“Jangan terlalu memaksa. Kau masih sakit. Tidurlah cepat..”
Kyuhyun menarik Hyeon dari meja belajarnya dan membaringkannya ke ranjang.
Hyeon tidak mengelak. Dia menuruti permintaan Kyuhyun. “mau ku temani?”
“Oppa..”
“Hm..”
“Apa aku harus sakit dulu agar diperhatikan olehmu? Apa aku
harus mengetahui sikapmu di belakangku
agar kau bersikap baik padaku?”
“Apa maksudmu Hyeon?”
“Oppa, kau pasti sudah tahu. Aku ingin sendiri. Apa oppa
bisa menutup pintu kamarku dari luar?” Hyeon Jung mengusirnya, dengan
kalimatnya yang begitu halus.
Tadi malam, pelukan Kyuhyun adalah obat dari ketakutannya
dalam gelap, tadi pagi pertengkaran kedua kakak adik ini membuatnya semakin
merasa di sayangi oleh suaminya. Tapi malam ini Kyuhyun sudah melukainya lagi.
“Aku ingin bersamamu di sini.” Jawab Kyuhyun.
“Oppa, pergilah menemui wanita yang meneleponmu tadi. Temui
dia, kau sudah berjanji untuk menemuinya malam ini kan?”
“Ah itu cuma teman Hyeon, jadi tidak perlu kau khawatirkan.”
“Dia orang yang sama dengan wanita di apartemen Min Ho kan?”
Kyuhyun terdiam, rasanya dia sedang ditelanjangi oleh Hyeon
karena Hyeon tahu tentang hubungannya dengan Sarah.
“Temui dia Oppa, tapi ku harap. Ini menjadi yang terakhir
kalinya kau menemui wanita itu.” Permintaan tulus seorang istri, agar suaminya
tidak lagi menjalin asmara dengan wanita lain di luaran sana.
“Bicaramu yang tidak tidak saja, aku tidak akan pergi ke
manapun. Aku akan stand by di ruang
tengah. Kalau kau membutuhkan apapun panggil saja aku, atau kalau aku
tertidur,bangunkan saja.”
“Kenapa? kau tidak
mau menemuinya untuk yang terakhir kali? Kau akan menemuinya besok dan besoknya
lagi? ”
“Hyeon!!!!”
Mata mereka saling bertemu, Kyuhyun yang semakin kesal
dengan Hyeon Jung membentaknya tanpa sadar.
“Jika kau tidak pernah mengingatku sebagai istrimu. Paling
tidak kau harus mengingat jabatanmu sebagai presdir. Kalau kau membuat
kesalahan dengan membuat rumor rumor yang buruk tentang reputasimu. Karirmu
yang akan hancur, saham tidak akan berkembang dan sainganmu akan mengambil
kesempatan menguasai kursimu.” Jelas Hyeon Jung.
Kyuhyun tak menghiraukannya lagi, dia melangkah keluar dari
kamar Hyeon dan menutupnya kencang.
Bantingannya seiring dengan air yang semakin menggenang di mata
Hyeon. Hyeon Jung berusaha begitu keras
menahan emosinya dan perasaannya yang terluka, bagaimana tidak. Suaminya sudah
ketahuan memiliki wanita lain dan Hyeon Jung selalu berusaha membuat semuanya
seperti tidak terjadi apa apa.
Kali ini dia tidak ingin membuatnya seperti tidak terjadi
apa apa, setidaknya bicarakan baik baik dengan Kyuhyun, meminta Kyuhyun untuk
mengakhiri hubungannya dengan Sarah. tapi suaminya selalu berkilah. Mengatakan
bahwa dia tidak mengerti yang Hyeon Jung bicarakan.
Kyuhyun yang sedang ditekan, menjadi sedikit bimbang.
Mengakhiri cintanya dengan Sarah, Kyuhyun merasa dia tidak akan sanggup.
Kebutuhan instingnya sebagai manusia dan sebagai pria selalu tercukupi dengan
keberadaan Sarah. Tapi Kyuhyun juga semakin lama tidak mampu menjelaskan
perasaannya kepada Hyeon. Gadis berisik, polos dan baik itu membuat Kyuhyun ingin
melindunginya. Kebaikannya meluruhkan rasa dendam yang dia rasakan selama ini,
dan untuk meninggalkan Seo Hyeon Jung, dia sepertinya harus menyiapkan puluhan
ribu lapis rasa tega dan kebencian yang bertumpuk.
Tapi Hyeon bukan tipe
gadis yang mudah di benci
Kalau saja Kyuhyun bisa memiliki keduanya... Aaah Benar.
Kyuhyun sudah memiliki keduanya.
Brengsek bukan?
Tapi bagaimana Hyeon Jung berusaha setenang mungkin
mempertahankannya. Sedangkan kini Sarah
semakin berani menuntut segalanya milik Kyuhyun. Termasuk perasaan, waktu dan
uangnya.
Bagi Kyuhyun, Sarah da Hyeon adalah dua orang yang berbeda
tetapi saling melengkapi hatinya.
Perasaan ingin dimanja selalu di dapatkannya dalam diri Sarah, walau dia harus
mengeluarkan satu buah cek berisi ratusan dollar atau ratusan ribu won permalam,
namun naluri lainnya sebagai lelaki membuatnya ingin melindungi Hyeon Jung yang
masih remaja dan begitu rapuh. Apalagi setelah kejadian pemadaman itu. Kyuhyun
semakin ingin melindunginya.
Kyuhyun tetaplah pria brengsek, mencintai dua hati dalam
waktu yang bersamaan. Mencintai wanita lain saat sudah memiliki seorang istri.
Menjalin hubungan dengan seseorang, sementara ada seseorang lain yang dengan
sabar menunggunya di rumah.
Hari hari berlalu seperti biasa, Kini Hyeon Jung yang
sedikit menutup diri pada Kyuhyun maupun pada Min Ho. Saat ditanya oleh Min Ho
tentang hubungannya dengan Kyuhyun, dia selalu mengatakan baik baik saja, namun
wajahnya sedikit berubah. Tidak seceria dulu. Tidak se blak blakan dulu atau
tidak terus membela Kyuhyun seperti yang dilakukannya kemarin kemarin.
“Do Joon-ah, kau membawa buku catatan yang kau pinjam kan?”
Tanya Hyeon pada teman sekelasnya setelah pulang sekolah. Do Joon membawa catatan pelajaran sosial
Hyeon minggu lalu dan berjanji mengembalikannya sebelum pelajaran Sosial besok
siang.
“Ya Tuhan, aku lupa. Bagaimana ini, setelah pulang sekolah,
aku harus pergi ke peringatan kematian kakekku di Busan, jadi aku tidak bisa
mengantarnya. Kau mau mengambilnya di rumahku?”
“ Heuh, Ya Tuhan. Sudah kuduga jadi seperti ini kalau aku
meminjamkan catatan padamu. Baiklah, aku akan mengambilnya.”
Beberapa hari ini Min Ho sibuk latihan fisik untuk seleksi
timnas Sepak Bola Korea Selatan U-19 jadi Hyeon dan Min Ho jarang bertemu. Saat
Hyeon mengiriminya pesan untuk menemani mengambil catatan di rumah Do Joon, Min
Ho tidak menjawab. Dan Hyeon melihat Min Ho ditengah lapangan sedang melakukan
Physical Training dengan beberapa kawannya yang juga masuk sebagai calon
seleksi timnas.
“ Yaah, kalau sudah jadi pemain sepak bola timnas, pasti dia sangat sulit kutemui.
Baiklah, aku sendiri saja yang mengambil catatanku.”
Setelah mengambil catatan Sosialnya di rumah Do Joon, dia
sengaja berjalan jalan di sekitaran Gangnam. Siapa tahu dia melihat sesuatu
yang bisa membuatnya ingin membawa pulang. Sudah puluhan abad rasanya Hyeon
tidak pernah berbelanja. Lagipula dia agak malas di rumah, dan ingin mengetes
saja. Jika Hyeon pergi hingga larut, apakah Kyuhyun akan mencarinya dan
meneleponnya.
Boleh lah sekali saja membuat
dia khawatir karena aku belum pulang sekolah selarut ini.
Hyeon memilih berjalan kaki menyusuri pertokoan dan butik
butik ternama. Kemudian mampir ke butik langganan ibunya dan dia saat mereka
masih sering berbelanja bersama atau saat ada acara perusahaan ayahnya
yang harus mengenakan baju yang formal.
“Aku mau ambil yang ini tapi bisa minta ukuran yang sedikit lebih kecil? Bagian perutnya masih
terlihat menggembung.” Kata Hyeon pada pegawai butik. Dengan senyum ramah khas
pegawai pada pelanggan VIPnya dia mengambil baju dengan ukuran yang diminta.
Eoh, siapa dia?
Sepertinya aku pernah melihat wanita itu sebelumnya.
Dari balik jendela display butik langganannya, dia melihat
Sarah berjalan dengan bajunya yang super minim dan penampilannya yang sangat
menggoda, Ya... Super Hot! Ekstra Sexy!
“Agasshi...ini..”
“Simpan dulu, aku akan kembali setelah menyelesaikan
urusanku.”
Entah mendapatkan inisiatif
dari mana, kakinya tiba tiba melangkah keluar butik mengikuti wanita
itu.
Lekuk tubuhnya sempurna. Rambutnya yang hitam tergerai, dan
dress mininya yang menunjukkan kaki jenjang sempurna.
Benar, dia adalah
wanita yang ku lihat di apartemen Min Ho. Mau kemana dia memakai pakaian yang
bahkan tidak menutupi lima puluh persen tubuhnya itu. Astaga, dadanya... aah
milikku saja tidak ada separuhnya. Oh, memalukan. Apa benar aku ini
wanita.Kakinya? Kenapa begitu terawat. Tidak seperti kakiku yang sering terkena
debu saat menunggu bus atau subway dan debu debu lapangan sekolah karena
terlalu sering menonton Min Ho bertanding. Tangannya, Waah, pasti sangat
lembut. Tidak seperti tanganku yang sering teriris pisau karena memasak. Dan
tingginya... Ya tuhan, aku ingin mati saja karena bersaing dengannya.
Jadi karena dia
cantik, tinggi, berdada besar dan berkulit mulus hingga Kyuhyun Oppa tergila
gila padanya. Aaah, pantas saja Kyuhyun Oppa bahkan tidak melirikku saat aku
berada di pelukannya.
Hyeon!! Sadarlah!
Sarah masuk ke tempat kerjanya yang terlihat classy dan
mewah. Myeon City, casino terbesar di Korea Selatan. Hyeon Jung hanya
mengawasinya dari jarak sepuluh meter. Penjaganya tinggi besar dan mengerikan.
Sekali pukul saja Hyeon yakin dia akan tersangkut di namsan tower. Ada beberapa orang yang tidak mendapat akses
masuk, dan ada beberapa lainnya yang
harus dengan pemeriksaan yang kompleks. Masuk.. tidak... masuk... tidak...
Sebuah mobil hitam kemudian berhenti di depan pintu masuk,
pemiliknya keluar dan menyerahkan kuncinya pada salah satu penjaga tadi.
“Tangkap!!” katanya, dan mobilnya dibawa oleh penjaga ke
ruang parkir bawah tanah.
Mobilnya terasa tidak asing, dan pria yang keluarpun begitu.
“ Kyuhyun Oppa..?” Hyeon belum percaya dengan siapa yang
berdiri di depan bangunan itu. Tapi mobilnya, dia sangat yakin karena itu
adalah hadiah pemberian orang tuanya saat Hyeon
masuk SMA.
Kyuhyun masuk ke bangunan itu tanpa kesulitan. Penjaganya
sudah tahu tentang Kyuhyun, termasuk posisinya yang sudah naik level dari
seorang pecundang judi menjadi seorang CEO perusahaan. Berita semacam itu
berkembang sangat cepat tersebar di casiono. Apalagi hanya menyangkut kisah
hidup para penjudi di sana.
Tanpa berpikir panjang, Hyeon ingin mengetahui apa yang
Kyuhyun lakukan di dalam. Dia berjalan menuju pintu masuk dengan dua penjaga
besar tadi. Mencoba dengan segenap keberaniannya memasuki casino yang sama
sekali tidak dia tahu ada bahaya macam apa yang bisa mengintainya.
Tangan kedua penjaga tadi menyilang. Menghalanginya masuk.
“Wae?”
“Pelajar tidak boleh memasuki casino.”
“aish Jjinjja. Tapi suamiku ada di dalam. Pria yang baru
saja masuk dengan mobil hitam. Kau tahu dia kan?”
“Bagaimana bisa pelajar SMA sudah bersuami.” Penjaga itu
menertawakan Hyeon.
“Tapi tolong katakan padaku siapa pria yang baru saja masuk.
Aku ingin memastikan apakah dia suamiku atau bukan.”
“Maaf, kami tidak menjual informasi apapun.”
Haish... Kesal dengan kedua penjaga tadi, akhirnya Hyeon
bertanya baik baik padanya,walaupun tangannya sudah ingin meninju dua penjaga
tadi, tapi Hyeon sadar dia akan diperlakukan lebih parah jika berurusan dengan
mereka.
“Oke, baiklah. Jadi, bagaimana aku bisa masuk ke sana?”
Hyeon menunjuk ke bagian dalam casino tersebut.
“Datanglah dua tahun lagi, dengan baju yang seksi dan tentu
saja Uang yang sangat banyak. ahahaha” Kekeh salah satu penjaga diikuti ejekan
dari penjaga lainnya. “Anak SMA mau ke
casino? Kau harusnya minta uang
papamu dan pergi membeli buku
pelajaran.”
“Yaak, kau pikir aku tidak punya uang banyak?”
Semakin tidak masuk akal saja syarat wajib masuk casino. Dua tahun lagi... yang benar saja
Heol, suamiku berada
di dalam sana malam ini bersama Sarah, selingkuhannya. Dan aku di suruh datang
kemari dua tahun lagi? Mereka pasti sudah gila.
Aah, butik!
Hyeon kembali lagi ke butik mengambil dress yang dibelinya.
“Aaah, cocok sekali agasshi...” kata Pegawai yang
melayaninya setelah melihat Hyeon mencoba baju pilihannya.
“Aku ambil ini dan akan langsung kupakai. Oh tolong tas
yang berkilau itu. Haish, bagaimana bisa
wanita dewasa menyukai tas yang melihatnya saja membuat matanya rusak. Aku
ambil ini.” Setelah membayar seluruhnya, Hyeon pergi menuju gerai kosmetik di samping butik.
“Terlalu repot jika aku membeli semuanya, lagipula siapa
yang akan memakai sisanya nanti.”
Akhirnya Hyeon berdandan dengan sampel sampel kosmetik di dalam gerai. Memilih warna warna tegas agar
terlihat berlipat lipat lebih tua dari usianya.
“Ya Tuhan, wajahku ini terlalu baby face. Kenapa hanya naik
3 tahun saja setelah memakai kosmetik.” Kali ini dia merutuki nasib baiknnya
yang memiliki wajah semungil itu.
Hyeon kembali ke casino, memakai dress diatas lutut dan
dandanan yang sedikit dipaksakan. High heelsnya yang terlalu tinggi membuatnya
sulit berjalan. Tapi dia menyeimbangkan diri.
Tas bling blingnya membuat dia sudah terlihat berkelas. Ah apapun itu,
berkelas atau memalukan yang penting dia
sudah lolos dari dua penjaga yang tadi melarangnya masuk.
“Yes, apa ku bilang. Hanya bermodal baju minim saja aku bisa
masuk.”
Hyeon berjalan jalan di sekitar Casino, tidak jarang dia
mendapati mata pria pria menjelajahi tubuhnya yang hanya terbalut minidress
hitam dan tas yang menyilaukan.
Matanya membalas tajam tatapan itu.
apa yang kau lihat.
Aku bahkan tidak memiliki tubuh seindah wanita wanita yang berada di sini. Ahh
dadaku rata, pantatku? Astaga... apa aku diciptakan dari batang korek api?
Hyeon melihat sebuah kerumunan, pria pria berjas yang sedang
bermain diatas meja judi. Penasaran dengan yang terjadi, Hyeon mendekat.
Tapi ada pria yang menyapanya. Seorang pria yang sangat
tampan, mempesona, seperti malaikat yang sayapnya telah patah hingga dia
terpaksa harus menetap di bumi.
“Sendirian saja nona?” tanya pria itu. Hyeon hanya mendehem dan kembali mendekati
kerumunan itu.
“Kau tertarik pada permainan poker?” Tanyanya lagi.
“Poker?”
Pria itu menunjukkan meja yang dikelilingi banyak penonton.
Oh jadi ini yang
dinamakan permainan poker.
“Kenapa ramai sekali? Apa biasanya begitu? Ada banyak meja
judi di sini. Kenapa mereka tidak memakainya?”
“Ini pertarungan harga diri nona, King of the Gambler!
Dengan hadiah wanita cantik. Sama sepertimu, Sangat cantik. Tapi kuakui nona,
kau lebih cantik.” Wajah Hyeon memerah malu. Di puji oleh seorang pria bak
malaikat nan tampan.
Oh tidak, aku kemari
bukan untuk tersipu atau menonton pertandingan pria pria konyol itu yang hanya
memperebutkan seorang wanita. Aku kemari
untuk mencari suamiku.
“Siapa mereka?” dari keriuhan terdengar sayup sayup suara
beberapa wanita yang saling bergosip.
“Cho Kyuhyun dan Kim Jong Woon. Betapa beruntungnya Sarah
karena dia selalu menjadi taruhan pria pria tampan itu.” Jawab wanita di
sampingnya.
Cho Kyuhyun?
Sarah?
“ Ku dengar Cho Kyuhyun yang menyedihkan itu sekarang jadi
Presdir. Pantas saja Sarah mau
menemuinya lagi.” Pembicaraanpun berlanjut.
“Kau tidak ingat saat Kyuhyun dipukuli oleh gerombolan
pengawal Direktur Mobil itu? Kau tidak melihat Sarah meninggalkannya begitu
saja dengan luka di sekujur
tubuhnya demi pria kaya itu beberapa
bulan lalu?”
“Apa Kyuhyun itu bodoh? Dulu setiap malam dia kemari hanya
untuk Sarah, agar Sarah tidak
menghabiskan waktunya bersama pria lain.”
“Apa bedanya Sarah dengan kita, bahkan aku lebih segala
galanya darinya.”
“Yaaa, yaaa yaaa... kalian bergosip lagi. Bukankah sudah ku
bilang layani tamu kalian huh? Jangan mengganggu Sarah, dia aset berharga casino
kita.” Tegur Manajer Casino yang ber rahang tegas dan berwajah layaknya preman.
Sorak kemenangan muncul dari kerumunan itu. Salah satu pria pergi meninggalkan meja judi
tiba tiba. Wajahnya penuh dendam dan amarah.
“Eoh, Jong Woon oppa?”
Hyeon mengenali sosok itu.
Kim Jong Woon
seseorang yang bertarung di meja judi adalah saudara
sepupunya, Kim Jong Woon. Kabar terakhir dia berada di Kanada mengurus perusahaan ayahnya yang
hampir bankrut, tapi berkat tangan dewanya
perusahaan itu sudah menjadi lima perusahaan terbesar di Kanada.
Hyeon ingin mengejarnya, tapi matanya kembali dikejutkan
oleh pria yang berdiri dari meja judinya itu dengan senyum kemenangan.
“Kyuhyun-oppa?”
“Oppa... Kyuhyun Oppa...”
Tangan Hyeon Jung kemudian ditarik oleh seseorang.
Menyeretnya keluar tanpa ampun dan agak sedikit kasar.
“Yak, Neo Miccheosseo?” wajah pria yang menyeret Hyeon memerah karena
emosi dan khawatir sehingga tanpa sadar membentak Hyeon
Jung.
“Min Ho-ya.... Kyuhyun Oppa di sana...” Hyeon Jung melepaskan tangannya dari
genggaman Min Ho tapi Min Ho menariknya lebih keras.
“Yaaaaak...” Min Ho menariknya.
“Apa kau sudah gila berada di sana sendirian? Kau tahu itu
tempat apa? Kau tahu seberapa bahayanya seorang gadis berada di sana? Lalu apa ini? Kau memakai baju apa ini? Huh?
Tas berkilau? Sepatu hak tinggi? Hyeon!! Sadarlah.”
“Tapi Kyuhyun Oppa ada di sana.”
“Aku tahu!!!!! Tapi kau tidak perlu kesana. Kau bisa menunggunya
di rumah. Kenapa harus kesana?”
Hyeon terkejut mendengar pengakuan Min Ho. Min Ho tahu kalau
Kyuhyun berada di sana?
“Kau tahu?” Otot tangannya melemah, seperti tulang tulangnya
juga melunak. Dia tidak lagi memaksa
untuk melepaskan diri dari genggaman Min Ho.
“Iya...” Jawab Min Ho
dengan nafasnya yang pendek, terengah engah. Dia melihat Hyeon masuk dengan
pakaian minim itu dan dia ingin memaksa masuk untuk menghentikan Hyeon,
tapi dia malah dilempar keluar oleh
penjaga penjaga itu. Ide yang sama seperti yang Hyeon Jung lakukan pun
dilakukan Min Ho. Kemeja parlente yang
dibelinya dengan kartu kredit saja sudah
membuat penjaga itu meloloskannya masuk.
“Kalian mempermainkanku?” tanya Hyeon Jung.
“Mempermainkan apa? Ya Tuhan Hyeon. Aku tidak pernah...”
“Kau sahabatku kan? Kau melakukan ini padaku? Jadi ini yang
dilakukan Kyuhyun Oppa sepanjang malam sebelum menikah denganku. Jadi itu
mengapa dia tidak pernah berada di apartemennya setiap malam karena dia pergi berjudi
dan tidur dengan wanita itu? Kau tahu semuanya dan mendorongku untuk tetap menikahinya?
“Hyeon...!”
“Lepaskan tanganku..” Hyeon ingin sekali meneriaki Min Ho,
mengumpat sekasar kasarnya dan sekencang kencangnya. Tapi tenaganya telah
habis. Setelah bergelut dengan dua penjaga super besar itu, dan mencari cari
suaminya di dalam casino serta tarikan Min Ho pada tangannya yang serasa hampir
putus. Suara yang dia keluarkan bahkan tidak sekencang suara mobil yang lalu
lalang di depannya. “Jebal...”
Min Ho melepaskan tangannya, membiarkan Hyeon berjalan
sendirian. Kemudian dia melepas jas parlentenya. Mengejar Hyeon dan memakaikan
jasnya untuk menutupi tubuh Hyeon yang terekspos karena terlalu minim.
“Pulanglah naik taksi. Tas sekolahmu di butik itu kan? Aku
juga menitipkan tasku di sana. Aku yang akan mengambilnya jadi kau pulanglah.”
Min Ho memberhentikan taksi dan meminta Hyeon masuk.
“Pak, Tolong antarkan gadis ini ke Castle Apartemen, kalau
dia meminta turun di manapun jangan perbolehkan, Dan jika dia mengatakan apapun
pura pura saja anda tidak mendengarnya. Tapi sepertinya dia tidak akan
mengatakan apapun kecuali menangis jadi anda tenang saja.” Urai Min Ho pada
supir taxi yang akan membawa Hyeon.
Kamarnya sudah sangat menderita karena mendengarkan Hyeon
menangis sepanjang malam. Tidak ada hal lain yang dilakukan selain membasahi
bantalnya dengan air mata yang terus mengalir.
Menangisi suaminya yang kenyataannya sangat berbeda dengan yang dia
tunjukan.
02.00 AM KST
Pintu apartemennya terbuka, Kyuhyun baru kembali dari
menghambur hamburkan uang dan bermain main dengan wanita.
Kau memakai uang
perusahaan untuk bermain main dengan wanita? Heol, Kau benar benar pria terbaik
dalam menipuku Oppa.
Diam diam Kyuhyun membuka kamar Hyeon, melihat lampu
tidurnya yang redup membuat Kyuhyun menyalakan lampu utama.
“Kau harus tidur dengan nyenyak Hyeon. Jangan ketakutan
lagi. Kamarmu sudah menyala terang sekarang.” Kata Kyuhyun. Hyeon berpura pura
memejamkan matanya dan menutupi keduanya dengan masker mata.
“Kau sangat menggemaskan saat tidur...”
Lalu apa Sarah sangat
sangat cantik hingga kau selalu ingin tidur dengannya.
“Sayang kau masih SMA, Hyeon...”
Kalau aku sudah dewasa
kau mau apa? Meniduriku bergantian setelah kau tidur dengan Sarah?
“Jangan Sakit lagi, aku sungguh mengkhawatirkan kondisimu
saat itu.”
“Kenapa? Agar kau
tidak menjagaku dan dengan leluasa
bertemu wanitamu itu?
“Maafkan aku Hyeon, akhir akhir ini kau pasti sangat
menderita.”
Benar, aku sangat
menderita. Melihat suamiku melingkarkan tangannya ke pinggang wanita lain.
Melihatnya membawakan makanan untuk wanita lain, menerima telepon dari wanita
lain, kemeja terbaiknya dikenakan wanita lain, dan sekarang penghasilan
perusahaan kau buat bersenang senang dengan wanita lain. Mau sampai kapan kau
melakukan ini padaku? Sampai kapan aku menderita? Apa kau benar benar tidak
bisa mencintaiku?
“Tidurlah,besok pagi akan ku antar kau ke sekolah.”
Lagi? Setelah
melakukan kesalahan kau akan menutupinya
dengan berbuat baik padaku. Untuk menutupi belangnya atau karena merasa bersalah? Mengapa aku
begitu menyedihkan bagimu?
Setengah tujuh pagi dia sudah bersiap ke sekolah, padahal
jam masuk sekolah pukul 09.00. Setelah menyiapkan sarapan untuk Kyuhyun dia
langsung pergi ke sekolah. Se marah apapun Hyeon, dia masih tetap
seorang istri yang paling tidak harus melayani suaminya.
Kyuhyun turun dari kamarnya dengan jas yang rapi. Sarapannya
sudah siap di atas meja ditambah espresso instan favoritnya.Kyuhyun meneguk
sedikit lalu memanggil Hyeon.
“Hyeon, ayo sarapan. Aku sudah hampir terlambat.” Panggil
Kyuhyun. Dia mengira Hyeon Jung masih di kamarnya sedang bersiap untuk
berangkat sekolah. Tapi Hyeon tidak muncul juga. Di panggil beberapa kalipun
tidak muncul. Akhirnya Kyuhyun menyusulnya ke kamar, mengetuk pintu dan tidak
ada jawaban.
“Hyeon? “
Kamarnya sudah rapi dan tas sekolahnya sudah tidak ada.
“Apa Hyeon sudah berangkat sekolah? Sepagi ini?”
Kyuhyun menghela nafasnya. Sedikit kecewa.
Kenapa aku begitu
kecewa melihat Hyeon sudah pergi dari apartemen sepagi ini.
Ting tong...
“Kau? Ada apa kemari pagi pagi?” Tanya Kyuhyun pada Min Ho.
Akhir akhir ini mereka sering bertengkar karena Hyeon.
“Aku mau mengantar tas Hyeon dan seragamnya. Juga
mengajaknya berangkat sekolah bersama. Cepat panggilkan Hyeon, hyeong. Aku
sedang malas bicara padamu.”
“Hyeon? Sudah berangkat.”
”Yang benar saja, ini jam berapa Hyeong.”
“Aku tahu, aku juga kaget dia sudah tidak ada di kamarnya. Apa
dia ada urusan sampai harus pergi sepagi ini?”
“Kau belum bicara padanya sejak semalam?”
“Aku pulang kantor jam 2 pagi, jadi aku tidak
membangunkannya.”
“Kau yakin kau di kantor sampai jam 2 pagi? Bukan di Myeon
City dengan wanita yang kau gilai itu?”
“Kau.. kau tahu? ”
“Sudah ku bilang jangan berhubungan dengannya lagi, kenapa
kau masih berhubungan dengannya? Sekarang bukan hanya aku yang tahu, Hyeon juga
tahu. Dia meninggalkanmu sepagi ini? Mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya,
atau pergi ke tempat lain. Dan aku yakin dia tidak akan kembali kemari. ”
“Yaak, Hyeon tidak akan meninggalkanku!”
“Kau yakin? Kau tidak lihat seragam dan tasnya ada padaku? Bukankah
sekolah membutuhkan ini? ”
“Ckck, Min Ho ya.. kau pikir seragam dan tas Hyeon Cuma satu?
Pergilah. Aku mau berangkat ke kantor.”
Di sebuah kedai kopi seorang gadis yang dikucir kuda dengan
seragam sekolahnya duduk menunggu seseorang. Lalu datang seorang wanita bertubuh
sempurna, mereka duduk saling berhadapan. Tatapan mereka tidak bersahabat, yaah
mana mungkin istri dari seorang pria akan bersahabat dengan selingkuhan
suaminya. Tidak ada. Kalaupun ada, bisa dipastikan salah satu dari mereka tidak
menginginkan pria itu.
“Kau tahu, aku sangat lelah. Kenapa menyuruhku kemari?” Tanya wanita itu, Sarah. Dan gadis SMA yang
datang sebelumnya itu, Seo Hyeon Jung.
“Kau tahu kan aku siapa?” Tanya Hyeon Jung. Sarah hanya
menggeliatkan badannya. “Apa kau akan terus terusan menggoda suamiku?”
Sarah tertawa.
“Suami? Siapa? Kyuhyun? Yaak, dia sangat mencintaiku kau
tahu? Dia tidak akan meninggalkanku hanya karena kau seperti ini padaku.”
“Karena kau mengganggunya jadi Kyuhyun terus saja menempel
padamu.”
“ Kau bahkan tidak tahu tentang masa lalunya?Siapa yang
mengganggu siapa? Kau tidak tahu betapa dia tergila gila padaku? Pergi berjudi
setiap malam karenaku, tidur denganku setiap malam agar aku tidak bersama pria
lain. Bahkan saat sudah memiliki istri, dia masih saja menemuiku dan berpacaran
denganku. Kau tahu apa tentang hubungan orang dewasa? Kau bahkan tidak di
sentuhnya.”
‘Itu karena aku masih SMA, dia tidak akan menyentuhku.”
“itu lah masalahmu, kau pikir memiliki istri yang tidak bisa
diajak tidur bersama menyenangkan? Cho Kyuhyun sudah dewasa Hyeon, sudah
berkepala tiga. Dan kau, berapa usiamu? 17? Apa kau pikir Kyuhyun serius dengan
pernikahan kalian. Dia hanya menginginkan perusahaanmu Hyeon.”
“Jangan memanggilku Hyeon! Dan jangan bicara hal buruk soal
Kyuhyun lagi. ”
“Kenapa, Apa itu
panggilan kesayangan? Hah, gadis polos
ini bahkan tidak tahu. Kyuhyun menikahimu karena menginginkan perusahaanmu.”
“Aku tahu..”
“Aaa, pasti. Kyuhyun sudah mengatakannya padamu soal itu.
Tapi, ada satu hal lagi yang pasti kau tidak tahu. Alasan mengapa dia
menginginkan perusahaanmu.”
“ Kau mengarang cerita lagi kan?”
“Aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak. Tapi Kyuhyun
sangat membenci Ayahmu. Dia ingin membalas dendam pada ayahmu. Perusahaan ayah
Kyuhyun yang di akuisisi ayahmu beberapa tahun lalu membuat keluarga Kyuhyun
berantakan. Usahanya hancur dan kedai kopinya tidak berjalan lancar. Kau tahu
akhirnya? dia memiliki kesempatan untuk membalaskan dendam. Ternyata rival ayah
Kyuhyun adalah ayahmu. Ayah seorang gadis polos dan bodoh yang sangat mencintai
anak rivalnya.” Jelas Sarah.
“Sssh, lelucon macam apa ini?”
“kau boleh bertanya pada Kyuhyun, atau pada Ayahmu? Tentu saat
dia sadar. Atau dia mungkin tidak akan sadar?” Kata Sarah.
“Jaga Ucapanmu, Nappeun Yeoja!”
“Hah, paling tidak aku sudah memberitahukan kebenarannya. Kau
seharusnya berterimakasih padaku.” Sarah melangkah pergi dari kedai kopi dan
Hyeon masih membeku di tempat duduknya. Perasaannya kacau, dia sangat tidak
ingin mempercayai Sarah. Dia yakin Sarah hanya ingin mengadu domba Hyeon dan
Kyuhyun.
Kalau aku tidak bisa
mendapatkan Kyuhyun, maka kau juga tidak bisa mendapatkannya Hyeon, ah gadis
bodoh!
***
“Min Ho-ya, eodiya?”
“aku meneleponmu beberapa kali, kenapa tidak menjawab?”
“Eodiya?!!!”
“Aku baru turun dari bus dan sekarang sedang berjalan menuju
sekolah. Ada apa Hyeon? ”
“Jangan masuk ke sekolah, tunggu aku sampai di sana!”
Min Ho dan Hyeon Jung duduk bersebelahan di halte bus dekat
sekolahnya. Tidak ada candaan seperti biasa. Semuanya terasa canggung setelah
kejadian malam itu.
“Kau masih sahabatku?” Tanya Hyeon.
“Tentu saja, tentang kemarin aku minta ma...”
“Akan kumaafkan jika kau jawab pertanyaanku!” Min Ho mengerutkan
dahinya, semakin penasaran tentang apa yang di
“Jelaskan tentang keluarga Kyuhyun dan perusahaan ayahnya.
Kau tahu banyak kan tentang itu?”
Min Ho menjelaskan semuanya, sama persis dengan yang
disampaikan Sarah, tetapi Min Ho tidak tahu siapa orang di balik akuisisi
perusahaan ayah Kyuhyun.
“Kau tidak tahu?” Tanya Hyeon, Min Ho hanya menggeleng.
“Kenapa kau menanyakan itu?” Hyeon menggeleng
“Aku hanya ingin tahu. Oiya, Choi Min Ho, aku tidak masuk
sekolah hari ini tolong absenkan ya.”
“Yaaa, kau mau kemana?”
“Ada urusan! Penting.”
Handphone Hyeon mati, semalam dia lupa tidak mengecasnya dan
sekarang dia hanya butuh jaringan internet. Dia pergi ke perpustakaan umum yang
juga menyediakan akses internet di PC. Hyeon mengetik beberapa kata kunci dan
yang muncul adalah wajah ayahnya, sekitar tiga atau empat tahun lalu. Ceritanya
terlihat simpang siur, Terlepas dari semua rumor, tetapi dapat dipastikan orang yang mengakuisisi perusahaan ayah
Kyuhyun adalah ayahnya.
“apa harus kupastikan pada Eomma? Aaah, aku bisa gila.”
Hyeon melangkah terhuyung huyung, matanya sedikit berkunang
kunang. Dia berangkat sejak pagi dan belum makan.
Taman penuh tanaman hijau itu menjadi tempat persinggahannya
setelah membeli dua bungkus onigiri instan di minimarket dan minuman dingin. Hyeon
sangat lapar, hingga rasanya lemas karena tenaganya sudah terkuras. Tapi nasi
kepal yang dibelinya tidak terasa enak di mulutnya.
“Kyuhyun Oppa, Jadi begini akhirnya?” Air matanya jatuh
seraya mengunyah onigiri yang berbentuk segitiga itu. Hyeon harus tetap
memakannya, harinya menjadi semakin berat dan dia membutuhkan tenaga untuk
menyelesaikan rasa penasaran ini sampai akhir.
“Aku tidak bisa ke rumah sakit sekarang, bisa bisa Eomma
tahu aku tidak berangkat sekolah.”
Malam semakin larut, Hyeon masih berada di taman yang sama
sejak tadi. Handphonenya mati dan dia hanya melakukan kegiatan yang sama
berulang kali. Bermain ayunan, jika bosan dia akan bermain perosotan, duduk di
ujung atas menara dan turun lagi. Bermain perosotan lagi dan bermain ayunan
lagi.
Dia melewatkan makan malamnya, dan berencana pergi ke rumah
sakit dengan berjalan kaki walaupun jaraknya
cukup jauh jika berjalan kaki, tapi ini yang Hyeon inginkan, menghabiskan waktu
hingga petang dan pulang ke apartemennya saat sudah lelah, jadi dia tidak punya
tenaga lagi untuk menangis dan langsung tidur saja. Toh Kyuhyun akan berada di
Casino hingga petang. Mana tahu dia kalau Hyeon pulang malam.
“Waaaah, kau ternyata sekaya itu Hyeon, kau
tidak ingin tahu bagaimana ayahmu membangun tiga perusahaan itu? Kalau aku
ingin semuanya, apa kau akan memberikannya?”
Tiba
tiba saja Hyeon Jung teringat satu kalimat Kyuhyun yang akhirnya baru Hyeon
sadari sekarang. Kalimat yang keluar dari mulut Kyuhyun saat dia marah karena
Hyeon memintanya menikah dengan Kyuhyun.
Apa kalimat itu maksud dari semua ini?
***
Kyuhyun sudah pulang dari kantornya jam empat dan langsung mencari
Hyeon di sekolah tapi nihil. Dia berencana pergi menuju rumah sakit. Tapi dia
ingin memastikan dulu apakah dia di apartemennya. Dan apartemen masih kosong seperti saat dia
meninggalkannya.
Kyuhyun kebingungan, Kyuhyun mencari di sepanjang jalan dari
sekolah menuju apartemennya dan dari apartemennya ke tempat yang sering Hyeon
tuju menurut arahan arahan Min Ho.
Tapi Kyuhyun tidak menemukannya. Apa mungkin rumah orang
tuanya? Mungkinkah? Atau aku harus ke
rumah sakit terlebih dahulu untuk memastikannya?
“Hyeon?”
“hyeon?”
Bukankah itu Hyeon?
Dia menepikan mobilnya tepat di depan jalanan depan rumah
sakit ayahnya. Hyeon masih mengenakan seragam sekolahnya berjalan sendirian
dengan menundukkan kepalanya. Wajahnya kelelahan karena berjalan terlalu jauh.
“Hyeon...” ditariknya tangan kecil itu menuju pelukannya. “Syukurlah
kamu tidak apa apa.”
“Oppa? ”
“ Kenapa pergi tidak
bilang? Kenapa handphonemu mati dan kenapa jam sembilan malam masih di jalan?
Biasanya kau sudah pulang dan menungguku di ruang tengah dan memasak makan
malam.”
“Biasanya? Ah benar, tapi Oppa selalu pulang jam dua pagi.
Seperti tadi malam. Makanannya sudah dingin dan Oppa ingin tidur saja. Begitu?”
“Tidak begitu Hyeon, aku benar benar mengkhawatirkanmu.”
“kenapa harus mengkhawatirkan anak kecil ini sementara kau
memiliki wanita cantik yang selalu kau banggakan itu?”
“Hyeon!!”
“Oppa....” tatapan
Hyeon kini berubah pedih, melihat ke dalam mata hazzel Kyuhyun.
“ Ayo bercerai saja..”