Wednesday, March 23, 2016

Kyu sided of "Still You"




Pertemuanku dengan Hyeon di lift kantor baruku membangunkan kenangan yang sudah bertahun tahun ku endapkan karena cinta baru yang membersamaiku.  Perasaanku? Jangan tanyakan perasaanku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa hatiku masih bergetar melihatnya berdiri di sana. Mulutku membeku, aku bahkan tidak bisa mengucapkan salam atau sapaan yang pantas untuk seseorang yang sudah sangat lama tidak ku temui.



Hubungan kami memang tidak baik semenjak dia melepaskanku sore itu. Saat aku mengatakan aku selalu memikirkan Hae Kyung, calon istriku sekarang. Saat itu, aku berpikir dia tidak mencintaiku karena dia dengan sangat mudah melepaskanku. Kemudian Hae Kyung hadir mengisi hari hariku dengan sikapnya yang jauh berbeda dengan Hyeon.



Ada beberapa hal yang tidak bisa aku dapatkan dari Hyeon tapi aku mendapatkannya dari Hae Kyung. Hae Kyung orang yang sangat ceria, dia aktif dan agresif. Aku sangat menyukainya. Aku merasa semua yang aku lakukan selalu disambut baik oleh Hae Kyung berbeda dengan Hyeon yang sangat pasif dan hanya tersenyum bila aku melakukan sesuatu padanya, Hae Kyung bisa mengimbangiku.



Kami bisa saling bertukar cerita sampai berjam jam dan saling mengungkapkan perasaan masing masing. Berbeda jika aku dengan Hyeon, aku akan menjadi satu satunya orang yang bercerita ribuan kalimat tetapi Hyeon hanya akan mendengarnya dan tersenyum. Jika aku mengucapkan kata cinta, dia hanya  tersenyum, memandangku dengan tatapan matanya yang tidak ku mengerti. Apakah dia menyukainya atau dia menatapku geli dengan kalimat kalimat itu. Aku tidak tahu apakah Hyeon benar benar mencintaiku atau tidak. Karena ekspresinya yang datar dan tidak pernah membalas pernyataan cintaku, membuatku meraguinya.



Aku sangat menikmati waktu waktuku yang seru dan menyenangkan bersama Hae Kyung. Aku benar benar jatuh hati padanya walaupun aku baru mengenalnya satu bulan hingga akhirnya kami memutuskan untuk berkencan. Satu dua bulan berlalu, aku masih merasakan kenyamanan. Bulan ketiga cintaku masih berkembang dengan sempurna. Aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan bersama Hyeon.



Tapi bulan bulan berlalu. aku merasakan ada yang hilang dari diriku. Aku terlalu nyaman dengan Hae Kyung, tapi ketika menilik ke dalam hatiku, aku merasa kosong. Hampa...Aku merindukan Hyeon...
Tiga tahun berlalu, aku masih menjalani hubunganku dengan Hae Kyung.  Hae Kyung memintaku meminangnya pada suatu malam dan aku menyetujuinya. Aku melakukan itu untuk menyakinkan diriku bahwa sudah tidak ada waktu lagi untuk bermain main dengan sebuah hubungan. Aku juga menginginkan hubungan yang serius agar hatiku tidak goyah lagi. Aku harus berkomitmen dengan Hae Kyung.



Setelah pesta pertunangan, aku malah semakin tidak yakin. Kenapa cinta yang bertahun tahun ku bangun ini malah semakin rapuh karena aku masih memikirkan Hyeon. Cinta lamaku, yang aku tinggalkan demi seorang Hae Kyung.



Pertemuanku pagi ini dengan Hyeon di lift kantor benar benar seperti takdir yang mempermainkan hatiku. Mungkin bagi Hyeon ini adalah takdir yang kejam. Tapi aku sedikit bersyukur dengan takdir ini. Entah apa yang terjadi padaku, aku sedikit merasa lega dan bahagia. Tapi apa yang bisa ku lakukan padanya. Sekarang aku adalah pria yang sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menggelar pernikahan.



Aku sudah bekerja sama dengan wedding planner untuk pernikahanku, gedung sudah ku pesan dua bulan sebelumnya. Foto prewedding sudah tersebar di SNS milikku dan milik Hae Kyung. Gaun pengantin? Aku sudah melakukan fitting dua kali dan besok akan ketiga kalinya. Undangan sudah tercetak ribuan lembar. Jadi tidak ada alasan untuk membatalkan semuanya.



Tapi saat terbukanya pintu lift dan melihat Hyeon berdiri di ujung luar sana, rasanya aku ingin berlari dari semua rencana pernikahan itu. Aku semakin yakin jika perasaanku pada Hyeon masih banyak. Melebihi perasaanku pada Hae Kyung. Tapi apa yang harus ku lakukan? Seumur hidupku aku tidak pernah melanggar komitmenku sendiri dan aku juga tidakpernah berencana menggagalkan pernikahanku  yang  89% telah dipersiapkan dengan sangat baik.



Di kantor, aku selalu mencuri pandangku pada Hyeon. Atau aku terkadang mendapati Hyeon sedang memperhatikanku entah sejak kapan. Saat tatapan mata kami bertemu, dia akan menunduk atau berpura pura melihat layar desktopnya.



Malam ini aku melihat Hyeon duduk di kursi kerjanya sendirian. Semua rekan kerjanya sudah pulang. Hyeon kedapatan lembur malam itu. Aku kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal untuk ku serahkan ke atasanku. Aku ingin sekali menyapanya, tapi Hyeon terlihat menghindariku. Aku menyadari itu sejak  kedatanganku kemari. Dia bahkan tidak berada di dekatku barang satu meter saja. Dia menjauhiku sebisa mungkin, dan menghindar untuk berbicara padaku. Jika suatu saat kami kebetulan berada dalam satu lift atau satu lorong. Dia tidak akan menatapku. Dia hanya akan menunduk dan berpura pura tidak melihatku. Aku juga sering melihatnya membalikkan badan saat mengetahui aku akan berjalan mendekatinya.



Aku tidak menyapa Hyeon saat bersama rekan kerjaku karena pasti akan membuat kami canggung, terlebih Hyeon yang sangat tertutup. Saat aku mencoba bertanya padanya soal kebiasaan makannya yang tidak pernah habis, rekan rekanku malah bertanya bagaimana aku tahu tentang kebiasaan itu. Itu membuatku harus menggunakan berbagai macam alasan yang bodoh, mmebuatku jera dan  tidak akan pernah melakukannya lagi.



Setelah aku meninggalkan dia di ruangan tanpa sapaan, aku menuju lantai 24 untuk bertemu dengan manajer pemasaran. Akhirnya kami dipertemukan lagi di dalam lift malam itu. Hyeon terlihat begitu terkejut, sebenarnya tidak jauh berbeda denganku. Aku juga terkejut tetapi aku  bisa mengatasinya.



Lift malam itu terasa sangat lambat, apa karena aku gugup  satu lift dengannya atau memang karena kami tidak saling bertegur sapa hingga membuat suasana menjadi sangat dingin.



Akhirnya ku beranikan diri menyapanya. Aku cukup terkejut dengan jawabannya. Dia memintaku untuk tidak menyapanya seperti yang biasa ku lakukan di kantor saat bersama rekan kerja kami.  Padahal bukan maksudku untuk pura pura tidak mengenalnya. Aku hanya mencari waktu yang tepat, untuk menyapanya dan berbicara padanya. Tapi Hyeon sudah terlanjur salah paham.



Hujan malam itu akhirnya membawaku duduk berdua bersama Hyeon. Aku mengantarnya pulang setelah berdebat cukup panjang. Dia mungkin terkejut aku membentaknya, tapi aku tidak ingin dia pulang sendirian malam begini dengan pakaiannya yang basah kuyup itu.



Aku jadi teringat saat saat bersamanya dulu, walaupun aku sangat aktif dalam hubungan kami dan Hyeon yang pendiam serta menuruti saja apa mauku terus menerus mendominasi hubungan kami. Tapi aku benar benar merindukannya. Aku merindukan dia duduk disampingku begini. Tapi kali ini aku tidak bisa menggenggam erat tangannya seperti dulu.Mengisi sela sela jarinya dengan jari jariku. Menciumnya punggung tangannya puluhan kali. Sekarang Hyeon selain pendiam, dia terlihat tidak suka padaku, dia bahkan tidak mau menjawab pertanyaanku.



Tapi lebih dari itu, ketika aku duduk bersamanya lebih lama, aku menyadari sisi lain dari sikapnya yang tidak menyukaiku. Tentu saja dia tidak akan menyukaiku setelah apa yang kulakukan padanya, tapi aku melihat hal lainnya. Dia bersikap acuh dan kasar padaku hanya untuk menutupi perasaannya. Setelah melihatnya di kantor, aku merasa dia masih memendam rasanya padaku, terlebih, dia tidak lagi menjalin hubungan dengan pria lain seperti kata teman temannya.



Setelah aku mengantar Hyeon ke apartemennya yang belum berubah sejak empat tahun yang lalu, dompet Hyeon tertinggal di mobilku, dia mungkin melupakannya setelah mengambil kartu nama saat ibunya menelepon.



“Apa aku antarkan saja sekarang? Atau besok ku berikan di kantor saja?”



Tetapi saat aku tidak sengaja membuka dompet itu, aku sungguh tidak menyangka bahwa Hyeon masih menyimpannya walaupun sudah empat tahun kami berpisah.



“Foto ini...?”



Aku duduk di belakang kemudiku cukup lama, memandangnya dan berpikir apa yang akan ku lakukan dengan dompet Hyeon dan juga foto itu.



Foto itu merecall memoriku bersamanya lima tahun lalu, Aku memeluk Hyeon tanpa melihat kamera dan Hyeon yang mengambil gambarnya. Hyeon sangat menyukai foto itu, karena dia menyukai sisi kanan tubuhku dan juga wajahku.


“Sisi kananmu lebih tampan, Kyu” . Walaupun sisi kiriku juga sama tampannya, tapi tetap saja aku harus mengiyakan apa yang Hyeon katakan. Hyeon menyukai sisi kanan tubuhku.

Iya, aku memang harus mengantarnya sekarang karena mungkin besok Hyeon membutuhkan dompetnya, dan yang tidak kalah penting. Aku harus tahu mengapa dia masih menyimpan foto kami di sana.


“Kau meninggalkannya di mobilku. Aku pikir barang ini sangat penting jadi aku mengantarkannya sekarang.”  Kataku sambil  menunjukkan dompet berwarna hitam pink yang sedari tadi kupandangi di dalam mobil.



Hyeon mengulurkan tangannya untuk mengambil dompetnya tapi aku mencegahnya. Aku menarik dompetnya lagi




“Kembalikan...” Pinta Hyeon.




“Tidak... aku sangat penasaran dengan sesuatu.”




“Aku tidak akan menjawab rasa penasaranmu Kyu, jadi kembalikan dan pergilah.” Hyeon masih saja bersikap acuh padaku.



“Kenapa masih ada foto kita di sini?” Tanyaku.



“ Aku tidak sempat membereskan isi dompetku Kyu, cepat kembalikan.” Jawaban yang tidak masuk akal. Hyeon mungkin sudah mengganti dompetnya beberapa kali. Aku ingat persis dompet milik Hyeon dulu, dan berbeda dengan yang ku genggang sekarang. Tapi mengapa foto kami masih terpajang di sana.




“Selama empat tahun?” Cecar Kyuhyun.




“Iya...”




“Kau pikir masuk akal?”




“Lalu aku harus bagaimana? Jangan membuat keributan malam begini Kyu. Pulanglah.”




“Kalau begitu ijinkan aku masuk! Aku masih ingin bicara padamu” Pintaku




“ Tidak Kyu, pulang lah...”




“Atau aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini.”




“Ini hanya foto Kyu, aku akan melepasnya dan masalah selesai. ”
Bagiku masalahnya tidak akan selesai hanya dengan Hyeon melepas foto itu dari dompetnya. Tapi foto itu masih tersimpan rapi di dompetnya selama empat tahun. Apa Hyeon memang belum bisa melupakanku? Yaa pasti belum, jika sudah dia pasti tidak akan mengijinkan dirinya melihatku setiap dia membuka dompetnya.




“Apa kau masih mencintaiku?”  Tanyaku.



“Kau..”



Aku menarik tangan Hyeon dan masuk ke apartemennya. Apartemen yang bahkan tidak berubah sejak empat tahun yang lalu. Lampu hias di samping televisinya adalah pemberian dariku saat ulang tahunnya. Dia masih menyimpannya, karpet yang dia beli bersamaku di pusat perbelanjaan itu, wallpaper dindingnya masih sama, kami memilihnya berdua dan memasangnya bersama sama. Kenangan itu perlahan seperti diputar seperti film dokumenter dengan efek sepia. Tapi aku merindukannya.



“Kenapa Hyeon?”




“ Aku tidak...” Hyeon menyanggah kata kataku.




“Bohong. Kenapa kau masih mencintaiku? ” Aku menatap ke dalam matanya yang sendu.




“Aku tidak...”




“Mau berapa kali lagi kau menyangkalnya Hyeon?”




“Bukankah perasaanku padamu itu adalah urusanku” Jawabnya.




“Tapi kenapa? Aku sudah mengkhianatimu Hyeon.” Aku sudah menghianatinya dan meninggalkannya. Tapi kenapa Hyeon masih begitu mencintaiku seperti ini.




“Andai saja aku bisa menjelaskan.  Aku tidak tahu alasannya, semuanya terjadi terus menerus. Saat aku mencoba melupakanmu , aku malah menata kenangan kita satu persatu. ” Aku melihat cairan itu mengkristal di mata kecilnya.




“Saat aku mencoba untuk melupakanku , aku malah semakin sering mengingatmu .  Sampai akhirnya aku menyerah untuk melupakanmu. Aku membiarkan diriku hidup dalam bayangan masa lalu kita. Aku tidak peduli bagaimana sakitnya. Tapi sampai empat tahun ini, aku berhasil mengatasinya. Kau lihat kan? Aku baik baik saja sekarang.”



“Hyeon, aku benar benar ..”




“Aku sudah menjawab rasa penasaranmu itu kan?”




“Iya, tapi...”




“Biarkan ini menjadi urusanku Kyu. Kau pulanglah...”



Aku masih berdiri di sana dengan kebimbangan perasaanku. Aku bahkan tidak mengingat Hae Kyung, karena saat itu di hatiku dipenuhi nama Hyeon Jung.  “Hyeon, bisakah ini menjadi urusanku juga?”




“Bagaimana jika aku juga masih mencintaimu?” 




“Berhenti bercanda dan pulanglah Kyu.”




“ Hyeon dengarkan aku dulu!”




“Apa? Bagaimana jika kamu masih mencintaiku? Kau tidak salah ucap? Atau aku yang salah dengar?”




“tidak Hyeon!” di sana kami mulai berdebat.




“ Kau akan menikah sebentar lagi dan kau mengatakan itu?”



“Aku tahu aku sudah gila karena hal ini, tapi aku benar benar merindukanmu. Empat tahun berlalu tapi aku masih merindukanmu Hyeon.”




“Kita sudah berakhir Kyu. Kau dan aku sangat tahu hal itu!”



“Tapi perasaan kita masih sama seperti dulu. Kau juga harus mengakui itu.”




“ Perasaan kita? Perasaanku saja Kyu, kau tidak!”



Aku terdiam, Hyeon ada benarnya. Kalau perasaanku masih sama padanya kenapa aku malah bersama wanita lain, merencanakan pernikahan dengan wanita lain dan tidak berusaha menggapainya kembali. Hyeon pasti sangat kecewa padaku bahkan saat pertemuan yang sangat tidak berpihak pada kami. Tapi aku masih mencintainya, sangat... dan dalam...



“Aku tidak bohong Hyeong..”




“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah semua ini? Kau akan membatalkan pernikahanmu dan kembali padaku? Apa semudah itu kau mempermainkan komitmenmu pada wanita, huh?”



Aku membisu lagi. Hyeon benar lagi dan aku tidak bisa mengelak.




“kita tidak akan bisa bersama Kyu.”




“Kau menyalahi takdir Tuhan Hyeon. Aku tahu Tuhan mempertemukan kita  seperti ini ada  tujuannya.”



“ Mungkin kau yang menyalah artikan takdir Tuhan itu Kyu.”




“Hyeon...!”



Apa benar kita tidak bisa bersama, Hyeon?





Still You





Mengapa rindu yang tidak berujung ini selalu mengetuk setiap  malamku?  Mengapa aku masih merindukannya? Mengapa yang kuingat hanya memori di kala senja saat  kami melangkah bersama di gerbang besar dan menghabiskan banyak waktu berdua?



Aku semakin terbiasa dengan kenangan kenangan yang tidak pernah lepas sedetik saja dari otakku. tapi aku sudah merasa baik baik saja dan ku pikir aku semakin baik baik saja sekarang.



Mungkin kenangan itu memang tidak bisa tergantikan, atau aku yang tidak mau menggantinya dengan kenangan lain?



Tapi kenangan lain tentang siapa? Aku bahkan masih tidak memiliki seseorang untuk menciptakan kenangan yang baru untuk menutupi kenangan lamaku.


Mengapa tidak memiliki seseorang untuk menciptakan kenangan baru?
Ya Tuhan, Tidak bisakah mereka diam dan tidak menanyakannya?



Atau perlu ku jawab dengan hal yang begitu menyakitkan seperti
‘sejujurnya aku tidak bisa melupakan dia’.


Dia, yang kini pasti sudah semakin baik dengan hidup barunya.


“Selamat pagi nona Seo...” Sapa Ran Ahjumma, seorang petugas kebersihan  di kantor tempatku bekerja. Aku hanya melambaikan tangan padanya dan berlari menuju lift.  Ran Ahjumma tersenyum. Kebiasaanku sudah bisa terbaca, selalu terlambat pada hari Senin setelah weekend yang membuatku terlena. Jangan anggap aku terlalu bersemangat liburan hingga melupakan jam kantor. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk keluar dari kamarku yang menyedihkan.




“Aku sudah menyiapkan susu rendah lemakmu di lemari pantry. Jangan lupa meminumnya.” Katanya lagi. Aku melingkarkan telunjuk dan ibu jariku membentuk tanda OK dan tersenyum.




Akuadalah  salah seorang staff HRD di perusahaan produksi makanan instan di Korea.  Orang orang menganggapku seorang pendiam dan kaku dan aku setuju dengan penilaian itu. Aku tidak mampu bergaul dan tidak punya teman ataupun  sahabat. Kehidupanku biasa saja, pergi ke kantor lalu pulang ke apartemen dan tidak melakukan apapun. Kehidupanku empat tahun lalu malah lebih menyedihkan, aku hanya berangkat ke kampus, lalu pulang dan menangis. Tapi sekarang, menangis sudah tidak lagi ku lakukan.



Prestasiku di kantor juga tidak mencolok, aku melakukan pekerjaaan sesuai perintah atasan dan tidak melakukan gebrakan gebrakan “out of the box”  agar karyawan bisa meningkatkan kinerjanya seperti yang rekan rekan HRDku lakukan. Untuk promosi jabatan atau apalah maksudnya, aku tidak tertarik. Tidak terlambat sampai di kantor adalah hal terbaik yang bisa ku lakukan.



Rekan kantorku bukannya mengucilkanku, tapi aku yang menutup diriku sendiri. Aku berbicara pada mereka seperlunya dan lebih sering mengunci mulutku. Jika kami sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu, aku pasti akan berada di paling ujung pembicaraan dan memilih untuk diam atau mendengarkan mereka mengobrol saja. Saat di kantin, Jika mereka menanyakan kehidupan pribadiku, aku hanya akan tersenyum dan memilih melanjutkan aktifitas mengunyahku. 



Aku terbiasa hidup sendiri, jangankan untuk menjalin hubungan dengan pria. Menjalin pertemanan dengan wanita saja sulit ku lakukan. Di kantor, hanya Ran Ahjumma yang sabar menghadapi sikap pendiamku. Iya, petugas kebersihan yang tadi ku temui di lobi kantor. Dia begitu tulus memperlakukanku, tidak seperti teman teman yang lain, mereka tidak mengucilkanku tapi membicarakanku di belakang. Menganggapku boneka hidup atau robot kantor. Aku benci kemunafikan itu.



Kebiasaanku untuk menyendiri memang sudah kulakukan sejak  masih kuliah, aku tidak memiliki sahabat dekat, Ayah Ibuku sudah lama tinggal di Jepang dan aku menolak untuk ikut dengan mereka. Alasannya adalah hidup di Korea saja sudah terlampau sulit bagiku menyesuaikan diri dan bergaul dengan orang lain, apalagi di negara lain dengan bahasa yang berbeda pula. Aku mungkin tidak akan bicara selamanya.



Kehidupan kuliahku yang kupikir akan biasa biasa saja dan datar seperti berkutat dengan buku buku tebal, perpustakaan, kuliah, bertemu profesor,  pulang apartemen dan mengerjakan tugas akhirnya berubah sedikit demi sedikit setelah kehadirannya di hidupku.



Pria itu, yang merubah kehidupan monotonku menjadi sangat sempurna. Cho Kyuhyun, pria itu mendekatiku dan memintaku menjadi kekasihnya. Aku sungguh tidak percaya, Kyuhyun yang begitu menyenangkan dan disukai banyak gadis bisa menyukai gadis yang kaku sepertiku. Tapi kehidupan cintaku dan dia selalu menjadi hujatan karena aku yang sangat tidak menyenangkan bisa mendapatkan cinta pria yang disukai banyak orang. "The Weird and The Lovable couple" begitu mereka selalu memanggil kami.



Aku tidak peduli, hanya mengingat bahwa dia adalah milikku dan dia berada di sisiku saja aku sangat bahagia. Melakukan aktifitas bersamanya dan mengakhirinya hingga senja.  Berjalan bersamanya diantara pohon pohon tinggi sebelum meninggalkan gerbang kampus, atau menghabiskan waktu di apartemenku dengan menonton film serta memesan jjangmyeon kesukaannya.



Tapi aku adalah aku.Walaupun perasaanku sangat bahagia, kepribadianku tidak berubah hanya karena aku mencintai seseorang. Aku tidak menjadi terbuka atau menjadi seseorang yang mudah mengungkapkan rasa cintanya, aku sangat buruk untuk mengungkapkan rasa sayangku padanya. Terlalu malu bagiku untuk mengakui bahwa aku mencintainya seperti yang selalu dia katakan padaku. Untuk menunjukkan perasaanku,  Aku melakukannya dengan cara yang lain, selalu menuruti keinginannya, mengiyakan semua kata katanya, menjadi pendengar setianya dan tidak pernah berdebat apapun dengannya.



Tapi seiring berjalannya waktu,  dia sepertinya mulai jenuh padaku. Tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersamaku seperti sebelumnya. Dia tidak pernah terlihat menungguku saat  selesai kuliah. Tidak mengirimi pesan seperhatian dulu atau meneleponku setiap waktu lagi. Aku tahu ada yang disembunyikannya akhir akhir ini.




Hingga pada akhirnya, aku melihatnya suatu sore di taman kampus bersama Shin Hae Kyung. Gadis paling populer di kampus kami.



Kalau sudah begini, aku hanya bisa berlari ke apartemenku dan menangis hingga pagi.


Aku benar benar ingin tahu apa alasan dia menjaga jaraknya denganku dan malah duduk bercanda bersama Hae Kyung di sana. Apa aku melakukan kesalahan hingga dia tidak lagi seperti dulu. Aku benar benar ingin tahu apa yang membuatnya berubah. Jika dia mau menjelaskan dan memintaku untuk melakukan apa yang dia inginkan aku pasti akan melakukannya. Asalkan dia kembali seperti seseorang yang kucintai dulu.



Tapi sore itu, sekembalinya aku dari kuliah terakhir.  Kami duduk membisu di tempat yang sama saat aku melihat dia bersama Hae Kyung. Taman kampus, yang selalu menjadi tempat pertemuan kami.




“Entah kenapa, akhir akhir ini aku selalu memikirkan gadis lain, maafkan aku...”




“Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku padanya.  “Mengejarnya?” lanjutku.




“Aku tidak tahu...” jawabnya lemah.




Kata kata itu meruntuhkan harapanku, ketika aku ingin memulainya dari awal dan memperbaiki segalanya. Dia malah menjatuhkan perasaanku sedalam dalamnya. Menyakitkan, sungguh...




Akhirnya dengan senyuman getir di bibirku, aku memilih untuk melepaskannya. Membiarkan dia terus memikirkan gadis lain. Membiarkan dia mengejar cinta barunya dengan mengorbankan perasaanku yang sudah hancur. Aku bisa apa selain melepaskannya? Memaksanya untuk tinggal walaupun dia menaruh hati pada gadis itu? Aku tidak sekejam itu. Aku sangat mencintainya, dia adalah orang yang sangat berarti di hidupku, tapi aku tidak akan egois untuk memikirkan perasaanku saja.



Aku melepaskannya, agar dia meraih kebahagiaannya dan agar aku menemukan kebahagiaan yang baru. Tapi ternyata tidak semudah itu, apa yang harus ku lakukan jika aku tidak bisa melupakannya? Apa aku harus berada dalam kenangan yang selalu membersamaiku? Kenanganku tentang dia?




Ting...




Pintu lift terbuka seperti takdir. Seperti mengulang kembali kenangan senja milikku dengan dia. Dia berdiri di dalam sana dengan kebanggaannya dan aku berdiri di sisi luar dengan detakan jantung yang tidak lagi berirama. Kakiku rasanya terpaku di luar lift, terlalu sulit melangkah masuk.




“Nona, kau tidak mau masuk?” tanya seseorang lainnya. Perlahan aku masuk dan berdiri membelakangi mereka. Saat aku melirik ke arah tombol lift. Kenapa hanya lantai 23 yang  menyala? Oh Ya Tuhan, jadi tujuan kami sama? 



Benar benar ini adalah takdir yang kejam ketika aku harus mengetahui bahwa dia bekerja di tempat yang sama denganku, bahkan satu departemen.  Dia baru saja dipindahkan dari perusahaan periklanan ke perusahaan kami untuk mengatasi kinerja pegawai yang semakin menurun dan banyak terjadi turn over . Dedikasinya pada perusahaan sebelumnya sangat baik, dia bukan dibuang dan dipindahkan begitu saja ke perusahaan kami, kedatangannya kemari adalah permintaan langsung dari CEO kami yang juga pemilik perusahaan periklanan tempatnya bekerja sebelumnya. 




“Ini adalah Staff HRD baru kita, Cho Kyuhyun. Silakan memperkenalkan diri.” Kata Manajer kami.



Cho Kyuhyun, dia masih tetap sama, selalu mempesona siapapun dan selalu dikelilingi banyak gadis gadis. Sementara yang lain mulai mendekatinya, aku malah menjauh, dan lihat saja Yeo Bi, dia akan menyisir rambutnya ribuan kali dan memegang cerminnya setiap menit untuk membetulkan letak poninya yang bergeser sedikit dari tempatnya.  Cho Kyuhyun adalah tipe semua gadis di departemen kantor kami. Tidak heran jika Yeo Bi mulai bertingkah.





“ Ku dengar Tae Yang Corps lebih baik karenamu.” Puji Yoo Jin. 




“Haha, bagaimana bisa seorang staff HRD sepertiku bisa membuat Tae Yang lebih baik. Karyawanlah yang mau berubah untuk membangun perusahaannya  lebih baik.” Jawab Kyuhyun.



 Dia selalu ramah dan rendah hati. Selalu tersenyum dan bersikap baik pada semua orang. Bahkan pria pun akan iri pada kepribadiannya yang sempurna. Lihat saja sekarang, dia sudah mengambil hati semua rekan kerjaku dengan kepribadiannya yang menyenangkan.




Aku menatapnya dari jauh, tidak menyapanya. Dia saja tidak menyapaku saat di lift, wajahnya pun biasa saja saja melihatku di sana. Baiklah, memang lebih baik tetap seperti itu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya.





 Atau memang benar kata orang orang dulu, bahwa dia malu memiliki kekasih sepertiku dan saat ini dia tidak ingin semua orang  kantornya tahu hubungan kami di masa lalu.





Baiklah, jika kau tidak ingin semua orang tahu tentang masa lalu kita bukankah itu lebih baik?




***


Seperti biasa, kantin selalu menjadi tempat favorit kami jika terlalu malas pergi ke luar mencari makan pada jam istirahat, dan kali ini topik yang teman teman departemen ku bicarakan adalah Kyuhyun. Mantan kekasihku.




“Oh iya, ku dengar dia sudah memiliki kekasih.” Kata Go Eun.




“Iya, mereka  berpacaran  sejak kuliah dan sebentar lagi mereka akan menikah, Dia benar benar pria yang setia. aku melihat di SNS miliknya, beberapa foto preweddingnya sudah tersebar.  Kalau saja aku mengenalnya lebih awal. Aku akan mengejar Kyuhyun sampai dapat.” Jelas Yeo Bi.



“Kau mencari tahu tentang Kyuhyun sampai ke SNS nya? Kau stalker atau apa.” Tanya Go Eun heran. Benar, jika Yeo Bi menyukai seseorang, dia tidak akan setengah setengah mencari informasi, dan untungnya Yeo Bi mencari tahu hingga titik dimana Kyuhyun  berpacaran dengan kekasihnya yang sekarang.



Aku rasanya ingin menyangkal sekencang kencangnya saat Yeo Bi mengatakan bahwa Kyuhyun adalah pria yang setia. Rasanya tenggorokanku gatal dan ingin meluruskan kekeliruan penilaian mereka tentang Kyuhyun.  Dia meninggalkanku demi gadis lain, itu yang dinamakan setia? Demi Tuhan, mereka tidak tahu saja. Siapa yang membuatku tidak bersemangat hidup seperti ini.




“Uhuk....” Aku tersedak saat tiba tiba Kyuhyun menarik kursi di hadapanku sambil menenteng makan siangnya.



“Boleh aku bergabung?” Tanya Kyuhyun.




“ Tentu saja.”  Yeo Bi dengan sigap menjawab pertanyaan itu.




“Kyuhyun-sshi, ku dengar kau akan menikah bulan depan? Benarkah?” Tanya Kang Haneul.





“Waaaa, bagaimana kalian bisa tahu bahkan undangan belum ku sebar?”




 Ya Tuhan pembicaraan apalagi ini. Haruskah mereka  menanyakan hal itu, dan haruskah Kyuhyun menjawabnya begitu. Apa sekarang dia sedang memamerkan hubungannya padaku?


Foto Prewedding? Ah, aku bahkan tidak pernah berpikir tentang foto prewedding dengannya. Dia berada disisiku saja sudah sangat cukup membuatku bahagia walaupun aku tidak mampu mengungkapkannya.




“Jadi sebentar lagi Kyuhyun menikah, Begitu pula Haneul,  Go Eun akan segera bertunangan, dan Yeo Bi, ah biarlah dia mencari pria tampan pilihannya, aku sudah malas mendekatinya, dia selalu memilih pria lain.” Kata Yoo Jin.




“Heiiii, kenapa membawa bawa namaku lagi?” Yeo Bi sebal, pria di sampingnya itu selalu menggodanya dan kemudian mencampakannya, begitu saja seterusnya hingga aku bisa berorasi di depan kalian semua.





“Dan kau Hyeon, apa yang akan kau lakukan dengan statusmu yang single selama bertahun tahun itu?” Tanya Go Eun.




Yeo Bi dan Go Eun sama saja, mereka selalu saja menggangguku dengan pertanyaan pertanyaan seputar status lajangku yang memang sudah cukup berkarat. Mereka juga tahu aku tidak akan menjawabnya, tapi mereka tidak pernah menyerah menggangguku.




Selama ini aku sudah cukup bersabar  setiap mereka mengejek status lajangku ini, tapi kali ini mengapa mereka harus menanyakannya di depan Kyuhyun. Bukankah selain menyakitkan, itu sangat menjatuhkan harga diriku? Bagaimana bisa mantan kekasihku hampir menuju pelaminan tetapi aku masih tidak bisa pergi dari kenangan tentangnya.




“Ehm, aku kembali ke meja dulu. Pekerjaanku masih banyak.” Akhirnya senjata andalan terakhirku kupergunakan. Biasanya aku hanya bisa mengabaikan mereka dan terus menikmati makananku. Tapi kali ini Kyuhyun berada di sana, kerongkonganku tiba tiba rasanya tersumbat.  Semua makananku tidak bisa masuk ke lambungku.





“Hyeon Jung-sshi, Kenapa kau selalu tidak menghabiskan makananmu? ”  Pertanyaan itu muncul dari seseorang yang duduk di hadapanku baru saja.





Kyuhyun masih mengingatnya? Kebiasaan itu? Aku memang tidak pernah menghabiskan makananku, jadi sebelum aku memakan makananku, aku akan menaruh setengahnya di piring Kyuhyun. Sebelum dia mengomel lebih banyak tentang makananku aku akan memasang wajah kekenyangan  yang selalu berhasil membuat dia menghabiskan semua yang ada di piringnya.




“Aku sudah kenyang.” Jawabku lalu pergi meninggalkan kantin.




“Kyuhyun-sshi, kenapa kau bisa tahu Hyeon tidak pernah menghabiskan makanannya?” Yeo Bi penasaran mengapa Kyuhyun tahu soal kebiasaan makanku. Samar samar ku dengar jawaban yang begitu menggelikan.



“Aa, itu? Aku diberitahu pak Hwang soal kebiasaan kalian semua.”




"Haah? Pak Hwang? Apa kau tidak salah?" Yeo Bi terkejut mendengarnya.



Cih, jawaban konyol seorang Kyuhyun itu membuatku tertawa. Apakah Kyuhyun tahu kalau Yeo Bi itu ssi cantik yang sangat jorok, dia suka mengelap ingusnya dengan tangan kemudian berjabat tangan dengan siapapun, atau Go Eun yang suka berfoto dimanapun  hingga tak bisa menikmati kegiatannya. Atau Haneul yang suka mengoleksi blue film di handphone pribadinya dan Pak Hwang yang sering mengonsumsi obat penenang karena pekerjaannya yang terlalu berat.




Kenapa harus pak Hwang yang memberi tahu kebiasaan kebiasaan mereka. Dia bahkan tidak bisa memperhatikan dirinya sendiri? 

***


Malam ini aku harus mengerjakan beberapa laporan hingga selesai.  Semua pegawai di lantai 23 sudah pulang, kecuali aku dan beberapa petugas keamanan. Saat aku membereskan semua laporanku  dan bersiap pulang, tiba tiba sosok tinggi yang selalu muncul dalam kenangan malamku kini muncul dalam dunia nyataku. Dengan tergesa gesa dia mengambil beberapa berkas yang sepertinya tertinggal di mejanya. Aku menunduk, agar dia tidak melihatku. Tapi sepertinya dia melihatku. Mata kami bertemu beberapa detik kemudian aku memalingkan wajahku.



Aku benar benar khawatir dia akan menghampiriku dan menyapa.




Tapi setelah melihatku, dia pergi begitu saja. Menyapa? Mendekat padaku saja tidak. Berhenti berkhayal Hyeon. Dia sudah tidak tertarik lagi padamu.




Aku mengatur kembali nafas dan irama jantungku. Aku terlalu percaya diri jika Kyuhyun akan menghampiriku. Benar, dia sudah memiliki kekasih dan akan segera menikah. Mengapa dia harus menyapaku? bahkan saat kami hanya berdua dan tidak ada yang tahu.




Otot otot leherku rasanya kaku, mataku lelah karena belasan jam memandang layar desktop, otakku mendidih karena beberapa laporan tadi dan hatiku, kenapa hatiku masih bergetar saat melihat Kyuhyun bahkan hanya dari kejauhan, bukan satu langkah atau satu inchi di hadapanku. Apa benar aku masih belum bisa berpaling dari pesona pria itu?





Ting....





Aku benar benar heran dengan takdir yang selalu terbuka bersamaan dengan lift kantorku. Kyuhyun berada di sana dengan tas kerja dan berkas berkas yang diambilnya baru saja. Aku masih mematung sampai Kyuhyun harus menekan tombol tahan agar pintunya tidak segera tertutup.



“Kau tidak masuk? Akan lama jika menunggu lift yang lain. Ini sudah jam sebelas. Tidak baik wanita sendirian di kantor.” Katanya.



Aku melangkah masuk ke dalam lift tanpa sepatah katapun. Begitupun keadaan di dalam lift saat melewati satu demi satu lantai kantornya. Aku berdiri di belakangnya, menatap punggung lebar itu. Aku benar benar ingin memeluknya. 


Tiba tiba Kyuhyun menyamakan posisinya, dan berdiri bersebelahan denganku.




“Bagaimana kabarmu........ Hyeon?” Pertanyaan itu keluar dari bibir Kyuhyun yang membuat ku  harus mengakui bahwa kami  pernah saling mengenal sebelumnya. Bahkan tidak hanya saling mengenal, tetapi pernah saling membahagiakan.




Ini lah yang kutakutkan jika kami bertemu hanya berdua, membuat sebuah percakapan seperti manusia yang saling mengenal satu sama lain. Walau aku sangat ingin, tapi itu tidak boleh terjadi lagi.



“Bersikaplah seperti  biasanya. Seperti  kau tidak pernah mengenalku.”




“bukan begitu Hyeon-ah, aku hanya ingin  menyapamu di waktu yang tepat.”




“Dan bagiku tidak pernah ada waktu yang tepat untuk saling menyapa lagi, Kyuhyun-sshi.”




“Apa kau baik baik saja setelah aku pergi?”Tanyanya. Aku tidak menjawab lagi, hingga pintu lift terbuka dan aku bergegas keluar.



“Kau menyimpan dendam padaku?”



Aku berhenti, ingin sekali mulut ini menyangkal dan menjelaskan betapa sebenarnya aku ingin merengkuhnya dalam pelukanku lagi, seperti dulu.  Tapi seketika harapan itu ku tepis jauh jauh, setelah mengingat tentang rencana pernikahannya itu. Yaa, aku terluka lagi, di tempat yang sama.




Ting,




Aku mendengar bunyi lift tertutup dan menelan Kyuhyun ke parkir underground.



Menyimpan dendam? Kalau saja aku bisa menyimpan dendam kemudian bisa membalaskannya padamu dan hatiku akan menjadi baik baik saja. Pasti sudah akan kulakukan.




Bukan Kyu, aku tidak menyimpan dendam padamu, aku menyimpan rapi kenangan kita dan itu yang membuatku tidak bisa menerima pertanyaan pertanyaan tadi.




Bagaimana kabarku? Apa aku baik baik saja? Apa aku menyimpan dendam? Aah benar, sudah lama aku bahkan tidak menanyakan hatiku tentang semua ini.  Hai hati, apa kau baik baik saja setelah kedatangan Kyuhyun di kantor? Yaah, dia tidak menjawabnya seperti mauku. Tapi dadaku terasa nyeri , dan itu menyakitkan.



Belum berapa lama aku melangkah keluar dari kantorku, hujan sudah mengguyur jalanan hingga setengah basah. Jarak antara kantor dengan halte masih beberapa ratus meter lagi. Apa aku harus naik taxi?




Tiba tiba mobil porsche hitam berhenti tepat di tempatku berteduh. Seseorang membuka kaca jendela dan menawarkan diri untuk mengantar. Lagi lagi pria itu adalah Kyuhyun. Kenapa dia tidak pergi saja, kenapa menggangguku dengan menawari tumpangan?




Dia mengklakson berkali kali.




“Aku naik bus saja?” Aku melanjutkan perjalananku, tapi hujan semakin deras. Ya Tuhan, kenapa harus hujan di saat dramatis seperti ini.




“Kau tidak lihat ini jam berapa? Sudah jarang bus beroperasi.” Kyuhyun mengikutiku dengan mobilnya tepat di sisi jalan.




“Kalau begitu aku naik taxi saja.” Begitu aku turun ke jalan untuk menghentikan taxi. Tangan besar itu menarik tanganku dan memaksaku masuk ke mobilnya.



“Aku bilang masuk!”  Kyuhyun berteriak padaku. Satu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, berteriak dan  dengan ototnya yang semakin mencengkeram tangan kecilku. Aku tentu saja terkejut dengan perlakuannya padaku. Bukankah Kyuhyun yang dulu tidak sekasar ini?




 Aku begitu perasa hingga mau menangis.




Kyuhyun menarikku masuk ke mobilnya, aku yang masih syok dengan teriakan tadi masih tidak menyangka. Bagaimana bisa aku duduk di samping kemudi bersama Kyuhyun. Membisu berdua seperti ini mengingatkanku pada hari dimana aku melepaskannya. Melepasnya untuk berjuang mendapatkan hati gadis lain.




Kyuhyun mengambil jasnya di kursi belakang dan memberikan padaku. Tanganku tidak menyambutnya. Aku tidak menerimanya sampai Kyuhyun meletakkan jas hitam itu di pangkuanku.





“Aku tahu kau kedinginan.”




Kau salah besar Kyu! Aku bahkan kepanasan hingga tidak bisa bernafas, jantungku berdetak tidak karuan dan...





“dan...” Kyuhyun mendehem seperti ragu ragu mengatakannya” Ehm,  dalamanmu terlihat dari luar” Refleks segera aku menutupi tubuhku dengan jasnya.



“Yak!”




“Itu sebabnya aku tidak mau kau pulang naik bus atau naik taxi. Mereka bisa melihatnya.”





“Lalu kau pikir kau orang yang punya hak untuk melihatnya?”




“Itu sebabnya aku memberimu jas kantorku. Kau tidak pernah berpikir aku pria mesum kan?”




Aku tidak menjawabnya lagi, yah aku memang tidak ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Kyuhyun.  Lebih baik diam dan memperhatikan jalanan saja.




“Turunkan aku di halte bus terdekat saja.”




“aku akan mengantarmu, kau masih di apartemen yang dulu kan?”




“Kyuhyun-sshi...”



Belum sempat aku melanjutkan kata kataku. Telepon masuk dari Eomma di Jepang. Seperti biasa, eomma selalu menelepon pada jam jam malam seperti ini.



“Yeobseo eomma...Di perjalanan pulang dari kantor. Wae...?  Ah sebentar kuperiksa dulu... siapa? Sepertinya aku pernah punya kartu namanya sebentar kuambil dompet dulu..  Ah ketemu, iya mau kubacakan nomornya? Atau ku foto kartu namanya? Baiklah, sebentar lagi ku kirimkan.. oh, ini. Aku lembur eomma,  masih dalam perjalanan...akuu naik taxi... nee... nee... saranghae eomma. Ne...” aku menutup teleponnya dan memasukkan handphone dan kartu nama tadi ke dalam tas.




“Taxi?" tanya Kyuhyun.




"Taxi dengan supir yang memaksa." Jawabku.




" Eomma? Bagaimana kabar beliau?”





“Keuman! Kau tidak bisa diam dan menyetir saja?”


Kemudian suasananya kembali seperti semula, dua orang yang membisu dan tidak tertarik untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur beku. Bibir kami beku, begitupun tubuhku yang sudah tidak lagi tertarik untuk aktif bergerak. Aku lelah dengan pekerjaanku dan kali ini aku juga lelah karena harus berhadapan dengan Kyuhyun.




Aku terbangun dari tidurku dan mengecek penunjuk waktu di tanganku.




“Oh, jam 1? Kenapa tidak membangunkanku?”  Tanyaku. Perjalanan dari kantor ke apartemenku mungkin hanya 30 menit jika menggunakan mobil pribadi. Jadi dipastikan kami sampai di apartemen jam dua belas malam dan aku tidur di sana sudah sejak satu jam yang lalu?




“Kau lelah, mana berani aku membangunkanmu.” Jawab Kyuhyun. Ah, pria ini masih saja manis padaku padahal dia mau menikah dengan wanita lain. Kalau saja kau bukan milik siapa siapa Kyu, aku pasti akan sangat bahagia berada di sampingmu seperti ini. Bahkan tidak hanya satu jam, dua jam atau tiga jam. Asalkan bersamamu begini aku sangat bahagia.



“Terimakasih tumpangannya, dan aku tidak berharap kau melakukan ini lagi. Kau harus ingat dengan calon istrimu, tidak baik mengantar wanita lain pulang tengah malam begini.”



“Tidak, calon istriku tentu akan mengerti. Dia tidak akan marah kalau aku mengantar rekan kerjaku yang kemalaman di jalan. Walaupun dia adalah seorang wanita. Bukankah setiap wanita harus dilindungi.”



Lalu kenapa dia harus mempertegas kata calon istri di depanku? apa dia sangat membanggakannya?



“Yaah, mungkin begitu Kyu. Tapi akan berbeda ceritanya kalau yang kau antar adalah mantan kekasihmu yang kau tinggalkan demi calon istrimu.”





“Apa? Mantan kekasih?”Tanya Kyuhyun.





“Aa, atau kau tidak pernah menganggapku mantan kekasih?”



Apa yang ku katakan sekarang? Ah mulutku, kenapa kau begitu kurang ajar sampai mengatakan hal yang sudah ku tahan sejak kedatangannya. Aku membuka pintu mobil dan bergegas masuk ke apartemen. Aku berjalan menuju kamarku masih dengan merutuki kebodohanku tentang pembicaraan tadi.



Malam ini agendaku sudah bisa ku tebak. Aku perlu menyiapkan tissue dan bantal untuk meredam suaranya. Demi Tuhan, kenapa malam seperti ini datang lagi? Kenapa Tuhan menambahkan lagi jumlah malam yang harus kuhabiskan dengan menangisi Kyuhyun? Kenapa hatiku begitu perasa dan mudah menangis?



Ting tong... ting tong...




Dan kenapa ada yang bertamu malam malam begini apa mereka tidak punya jam? Dimana sopan santunnya? 



Aku terkejut ketika yang berada di depan pintu apartemenku adalah Kyuhyun. Mau apa lagi dia di sini? Membuatku menangis lagi? Ku Mohon Kyu, pergilah dari hidupku.




“Kau meninggalkannya di mobilku. Aku pikir barang ini sangat penting jadi aku mengantarkannya sekarang.”  Kata Kyuhyun sambil  menunjukkan dompet berwarna hitam pink milikku. Aku tidak mau berurusan dengannya lagi dan menghabiskan malamku segera, jadi aku menengadahkan tanganku untuk meminta dompetku kembali.




Tapi Kyuhyun menarik dompetku lagi.



“Kembalikan...”




“Tidak... aku sangat penasaran dengan sesuatu.”




“Aku tidak akan menjawab rasa penasaranmu Kyu, jadi kembalikan dan pergilah.” Aku tidak mengerti  apa yang Kyuhyun katakan sampai dia membuka dompetku dan menemukan sesuatu di sana. Hal yang membuatku juga sangat terkejut. Aku melupakan sesuatu..




“Kenapa masih ada foto kita di sini?” Benar saja, aku bahkan belum mengganti foto kami berdua dalam dompet. Foto yang diambil saat kami merayakan seratus hari masa pacaran kami. Kyuhyun merangkulku tanpa melihat kamera dan aku yang mengambil gambarnya. Aku sangat menyukai angle kanan Kyuhyun jadi aku memilih foto itu untuk ku pajang dalam dompetku. 




“ Aku tidak sempat membereskan isi dompetku, cepat kembalikan.” Dan aku tidak berniat menggantinya.





“Selama empat tahun?” Cecar Kyuhyun.




“Iya...”




“Kau pikir masuk akal?”




“Lalu aku harus bagaimana? Jangan membuat keributan malam begini. Pulanglah.”




“Kalau begitu ijinkan aku masuk!”





“ Tidak Kyu, pulang lah...”





“Atau aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini.”





“Ini hanya foto Kyu, aku akan melepasnya dan masalah selesai. ”





“Apa kau masih mencintaiku?” Pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Kyuhyun. Membuat jantungku semakin tidak bisa dikendalikan.




“Kau..”



Kyuhyun menarik tanganku dan masuk ke apartemenku. Berdiri di sana cukup lama dengan tatapannya yang seteduh dulu.




“Kenapa Hyeon?” Suaranya parau begitu Kyuhyun menyadari kenyataan bahwa aku masih begitu dalam padanya.




“ Aku tidak...” Sanggahku.




“Bohong. Kenapa kau masih mencintaiku? ” Tatapan teduh itu masih saja bergelayut di mata onixnya  yang selalu membuatku hatiku jatuh padanya.





“Aku tidak...”




“Mau berapa kali lagi kau menyangkalnya Hyeon?”




“Bukankah perasaanku padamu itu adalah urusanku?”  Aku tidak tahan lagi dengan tekanan atas pertanyaan pertanyaan itu. Memangnya kenapa kalau aku masih mencintainya? Apakah ada alasan untuk melarangku masih mencintainya hingga saat ini.





“Tapi kenapa? Aku sudah mengkhianatimu Hyeon.”





“Andai saja aku bisa menjelaskannya.  Aku tidak tahu alasannya, semuanya terjadi terus menerus. Saat aku mencoba melupakanmu , aku malah menata kenangan kita satu persatu. ” Air mataku menggenang di ekor mata kecilku.




“Saat aku mencoba untuk melupakanku , aku malah semakin sering mengingatmu .  Sampai akhirnya aku menyerah untuk melupakanmu. Aku membiarkan diriku hidup dalam bayangan masa lalu kita. Aku tidak peduli bagaimana sakitnya. Tapi sampai empat tahun ini, aku berhasil mengatasinya. Kau lihat kan? Aku baik baik saja sekarang.”




“Hyeon, aku benar benar ..” Wajah Kyuhyun berubah sendu, tatapannya semakin dalam ke arahku yang sudah berurai air mata entah sejak kapan.




“Aku sudah menjawab rasa penasaranmu itu kan?” Aku ingin segera mengakhiri perdebatan ini. Aku menghela nafas. Entahlah, apakah ini perdebatan atau sebuah pengakuan.





“Iya, tapi...”




“Biarkan ini menjadi urusanku Kyu. Kau pulanglah...”



Kami berdua masih mematung saling berhadapan. Satu langkah lagi mungkin dia bisa menggapaiku atau jika aku sudah kehilangan akal sehat,aku bisa saja memeluknya.



“Hyeon, bisakah ini menjadi urusanku juga?” Kyuhyun mulai membuatku bingung. Aku hanya menatapnya tanpa berkedip.






“Bagaimana jika aku juga masih mencintaimu?”  





Ps : This story is inspired by apriliasapphireblue-MyEx- I just read and take the important point,Then change aprilia style  to my style, change the ending and some dialogs.  If you have heard or know the dialogs, you may someone who said that or we may be in the same situation. It's not plagiarism. 

Monday, March 14, 2016

CECESOL...



Berawal dari notifikasi direct message instagram di handphoneku tentang cecepy (cewe cewe happy) yang personelnya Julia Perez, Ayu Tingting dan Sazkia Gotik dari salah satu sahabat terbaikku. Panggil saja namanya dewi. Ini nama sebenarnya.  Isi Dmnya begini “Ayo nyaingin Cecepy, bertiga sama Thian” candanya. 

Aku dan Dewi adalah sahabat sejak awal masuk kuliah, dan kami menjadi sangat akrab karena kami mengerti perasaan masing masing. Perasaan apa? Tentu saja, perasaan dikhianati. Korban LDR, begitu orang orang yang mengetahui ceritanya menganggap kami. Dan kisah kami sungguh sangat mirip. Hanya saja, dia masih bisa bersikap baik pada mantan kekasihnya dengan hati malaikatnya itu. Tapi aku tidak, hatiku masih penuh kebencian walaupun perasaanku masih tetap sama.

Suatu saat kami bergosip tentang Display Picture BBM seseorang. Salah satu temanku di kampus, namanya Thian. Dia sudah berpacaran dengan kekasihnya seusia pacaranku dengan mantan kekasihku. Tiga tahun. Mereka lebih intens bertemu karena satu  kampus dan satu tempat kerja paruh waktu.  Suatu saat, Display Picture Thian adalah kekasihnya yang akan berangkat menuju Jakarta untuk bekerja.  Keisengan kami pun sebagai senior korban LDR  muncul dengan mengatakan “Duh Thian LDR. Delok wae, dilit neh ilang.” (( Trans  : Duh Thian LDR. Liat saja, sebentar lagi (pacarnya) ilang )) dan Dewi pun menambahi “Delok Wae, dilit neh nggandeng sing anyar.” (trans : Liat saja, sebentar lagi gandeng yang baru)

Belum juga aku dan Dewi melupakan kalimat itu seiring berjalannya waktu. Kami mengetahui kalau Thian sudah putus dengan kekasihnya.

“Kak, liat PMnya tian!” kata Dewi.

Ketika aku menskrol recent update di BBM, statusnya cukup frontal dan semua orang juga tahu untuk siapa status itu diberikan.

“Dasar kelakuan dari dulu kaya gitu yaa mau gimana juga nggak bakal berubah!”

“Silakan pergi dengan semua kebohongan kamu!”

“Jane ket mbiyen yo ngono, tapi aku wae sing pekok!” ( Trans : Sebenarnya dari dulu kaya gitu, tapi aku aja yang bodoh!)

Karena dibekali empati yang semakin di asah karena tuntutan tugas kampus, akhirnya kami bertanya tentang masalahnya. Setelah dia menceritakan semuanya, entah kenapa kami bertiga menjadi dekat. Saling menanyakan kabar masing masing, bagaimana move on berjalan dan berandai andai akan sesuatu.

Selain itu, bagian terpenting dari sekumpulan cewe yang dikhianati ini adalah saling menguatkan.

“Aku lo, dijanjeni dilamar bar wisuda..hahahaha” (Aku lo, dijanjiin dilamar setelah wisuda)  Kata Thian, tapi sebelum  Thian wisuda mereka sudah putus lebih dulu.

“dia lo, udah minta maaf ro aku eh dibaleni neh, milihe sing berjas putih. Apalah dayaku sing mung berjas hujan. hahahaha” (dia loh, udah minta maaf sama aku, eh diulangi lagi, (dia) memilih yang berjas putih (dokter). Apalah dayaku yang cuma berjas hujan) “ Itu kata kata Dewi yang selalu ku ingat.

“Julian lo, selama pacaran ngomong ameh nglamar setelah tiga lebaran. Wis ngomong bapake soal ngelamar. Eh lagi 2 lebaran wis nggandeng cewe liyo. Foto prewedding wisan hahahaha.” (Julian lo, selama pacaran selalu bilang mau melamar setelah tiga lebaran. Udah ngomong bapaknya soal melamar. Eh baru dua lebaran udah nggandeng cewe lain. Udah foto preweding juga.) Timpalku.

Kenapa menyelipkan hahahaha dibelakang kalimat kalimat kami, entahlah. Kami hanya menertawakan diri kami sendiri. Begitu mudahnya percaya dengan kalimat kalimat mereka yang hanya omong kosong tanpa bukti. Kalimat kalimat yang keluar dari mulut mereka  dengan mudah dan dengan mudahnya juga dipercaya oleh kami.

Satu atau dua teman kami selalu bertanya, "Gimana udah move on?"


"Udah lah..." Jawabku. Aku selalu tidak ingin merasa rapuh walaupun sebenernya masih sangat terluka. 



"Jadi pacarnya siapa sekarang?"



Kami dengan gasspoll selalu mengatakan " Emang move on harus punya pacar ya? Eh bertahan hidup sendiri setelah ditinggal sampai sejauh ini aja udah hebat loh. Kenapa harus move on dengan orang lain? Ntar disakitin lagi, move on nya nggak kelar kelar dong?"


Bagiku, Move On adalah pembebasan hati agar siap untuk menerima hati yang baru, bukan memindahkan hati dari satu laki laki (yang membuatmu terluka) ke laki laki yang lain (yang secara tidak sadar juga bisa membuatmu terluka). Karena cara move on begitu akan menimbulkan resiko yang sama. Seperti pengalamanku dari Febrian ke Julian. 

Kembali ke permasalahan, kalau secara kasar, kami mengatakan mereka adalah pria pria seperti kacang yang lupa kulit. Kesamaan mereka adalah mereka meninggalkan kami setelah mereka mendapatkan pekerjaan yang baik, tetapi mereka lupa siapa yang menemaninya berjuang saat masih kuliah. Saat uang mepet kami rela kalau hanya makan indomie berdua, atau kami patungan agar bisa makan hari itu, kami rela tidak kemana mana saat malam minggu karena uang saku menipis dan belum  mendapat pasokan uang dari orang tua. Yah, semuanya tentu saja bukan hanya tentang uang, tapi tentang perjuangan kami. Aku yang Jombor-UIN-Jombor , atau Jombor –Tegalrejo-Jombor sebelum dia memiliki sepeda motor , Jogja Solo Jogja seharian karena Hendra terlalu sibuk bekerja hingga Dewi yang harus mendatanginya setiap waktu atau Thian yang berjuang menyambung hidup di Jogja bersama kekasihnya.

Tapi Kota besar dengan segala keangkuhannya itu melahap kesetiaan kekasih kekasih kami dengan berbagai alasan. Mereka tidak kuat menjalani hubungan jarak jauh atau perasaan tidak selevel lagi seperti yang dirasakan Thian. Aku dan Dewi hanya seorang mahasiswa yang masih berjuang untuk lulus dan Thian yang sudah lulus tetapi belum mendapatkan pekerjaan. Jadi apa hebatnya kami? 


Semua terasa lucu ketika selalu muncul pertanyaan yang dilematis seperti, “bagaimana jika mereka ingin kembali padamu?”

Aku paling bisa menebak keputusan Dewi, dia akan iya tanpa syarat apapun. Hatinya secantik malaikat bila semuanya itu masih tentang Hendra. Dia selalu bilang kalau Julian Jahat, tapi ketika aku bilang Hendra sama jahatnya bahkan lebih jahat, dia tidak akan terima. “Hendra itu nggak jahat. kak!” Cih, menyebalkan bukan? Tapi begitu lah Dewi jika berurusan tentang Hendra. Sedangkan aku dan Thian, kami hampir sama. Perasaan kami dengan mantan kekasih kami juga masih sama. Tapi kali ini harus dengan logika, apa kami sebodoh itu seandainya menerima mereka kembali? Tapi kami tidak pernah mengingkari perasaan perasaan kami yang masih utuh. Jadi sebelum hal itu benar benar terjadi, kami berdoa kepada Tuhan agar orang yang lebih baik akan datang pada kami lebih cepat.


Tiga gadis bodoh ini semakin akrab saja, saling menguatkan dengan meme meme di  instagram atau sekedar curhat tentang perasaan masing masing. Tapi karena aku dan dewi sudah mengalaminya begitu lama, kami tidak terlalu berfokus pada hal hal semacam itu. Memperbaiki diri dan melakukan aktifitas yang bisa mengabaikan perasaan perasaan itu sudah menjadi keahlianku dan Dewi. Tapi Thian masih perlu banyak waktu, dia baru saja patah hati.Thian masih sangat terluka, aku tahu. Dia masih dalam tahap tidak menerima kenyataan bahwa kekasihnya meninggalkannya begitu mudah. Sampai kapanpun aku menjelaskan bagaimana aku bertahan, dia tidak akan mengerti. Dia hanya perlu menjalaninya, dia butuh waktu lebih lama agar bisa menerima keadaan. 

 Sayangnya Thian sudah pulang dari perantauannya di Jogja, Rumahnya di Bekasi dan saat ini dia tidak memiliki teman sebaya untuk berbagi keluh kesahnya, berbeda denganku yang masih bersama sahabat sahabat terbaikku di sini.



“Jadi udah siap mau nyaingin cecepy?” kata Dewi.



“Jadi siapa nama kita?” Tanya Thian. “Gimana kalau Cecaku?”



“Apaan tuh?” tanyaku



“Cewe cantik kuat...hahaha” Thian geli sendiri dengan akronim yang dibuatnya. Aku juga geli mendengar kata cantik dan kuat.



“ Gimana kalau ceuceu ceuceu solehah?”  kataku setelah mendapat pancingan dari Thian dengan kata kata Sholehah.



Haha, tentu saja kami masih jauh dari kata Sholehah. Gadis sholehah tidak akan berpacaran atau galau karena ditinggal mantan kekasih. Tapi paling tidak, nama itu menjadi sebuah doa untuk kami. Doa gadis gadis bodoh yang sedang mencemaskan jodoh dan sibuk memperbaiki diri.



Thursday, March 10, 2016

All, In (Love) part 3

07.00 PM KST


Kyuhyun melepas jas kantornya dan disampirkan di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang handphone sebelum keluar dari lift.



Dia berhenti di lantai 20 kemudian berjalan keluar dari lift dan memencet tombol kombinasi pasword pintu berwarna coklat emas itu.



Istrinya sudah menyambut Kyuhyun dengan hati berbunga bunga, dan lagi lagi dia terpesona dengan seseorang yang baru saja masuk ke apartemen mereka. Kemeja putihnya dan jas biru donker yang  tersampir di tangan kirinya serta hentakan sepatunya yang mantap serta wangi parfum khasnya yang begitu maskulin.



Hyeon Jung segera mengambil tas kerja Kyuhyun dan meletakkannya di ruang kerjanya.



“Kau memasak?”




Hyeon mengangguk,




“Memangnya kondisimu sudah baik?”




“Aku sudah lebih baik, jadi aku memasak sedikit untuk makan malam kita.”




“Syukurlah,  tapi walaupun begitu seharusnya kau tidak perlu memasak. Kita bisa makan di luar.”




“Benarkah, kalau begitu ayo makan di luar. Kita bisa membiarkan makanan ini.”




“Jangan pemborosan. Karena kau sudah memasak jadi sebaiknya kita memakannya. Kita bisa pergi makan lain kali.”




Tlululut tlululut tlululut...tlululut tlululut tlululut



Handphone Kyuhyun berbunyi, panggilan masuk dari seseorang yang diberikan janji bertemu malam ini.  Kyuhyun mengambil teleponnya dan menjauh dari meja makan menuju ruang kerjanya.



“Ne Chagi... Mian.. aku tidak bisa kesana malam ini.” Katanya. Cara bicaranya sedikit melemah, terkesan berbisik bisik.  “Ne, arra... tapi aku ada kepentingaan yang tidak bisa ku tinggalkan.” Jawab Kyuhyun. “Ku mohon mengertilah... Hyeon sakit, aku tidak bisa meninggalkannya. “ Kyuhyun memijit mijit kepalanya sendiri. Kemungkinan di seberang sana membuatnya tertekan dengan sebuah permintaan. “Apa tidak ada hari lain huh? Kenapa harus sekarang?... Aku tahu aku sudah berjanji padamu kemarin. Tapi Hyeon sakit. Alasan? Apa bagimu kesakitan bisa menjadi alasan seseorang? Demi Tuhan, Sarah..  Aku mencintaimu!! Kenapa harus mempermasalahkan ini? Aku hanya tidak menepatinya sekali.....Chagi... chagi... Sarah-sshi... Sarah-sshi...” Kyuhyun mengacak acak rambutnya dan membuang handphonenya ke kursi istirahat di ruang istirahatnya.  Dia sedikit frustasi dengan wanita itu. Sarah. Sarah hanya menagih janji Kyuhyun bahwa dia akan menemaninya sampai malam tapi Kyuhyun malah berada di apartemennya bersama istrinya.



Sarah membenci keadaan itu, dimana Kyuhyun memperhatikan istrinya dan mengabaikan diri Sarah. Apakah ini kecemburuan atau hanya rasa ingin memiliki Kyuhyun seutuhnya yang membuat dia menjadi wanita yang posesif terhadap Kyuhyun.



“Hyeon? Em.. sejak kapan berada di situ?” Hyeon masih terdiam. Tubuhnya di sana tapi pikirannya entah kemana.



“Oh, baru saja. Aku sepertinya meninggalkan lap makan disini saat membawa tasmu kemari. Aku Cuma mau mencari” matanya berkeliaran di sekitar ruang kerja Kyuhyun. “Eh, ketemu.”




Hyeon berjalan keluar ruangan, Kyuhyun di sampingnya tapi Hyeon tidak peduli dan hanya mengambil lap makannya.



Mereka makan berdua, tanpa saling bicara lagi. Situasinya menjadi canggung karena rasa bersalah Kyuhyun dan Hyeon Jung yang tidak lagi bicara, hanya sendok dan garpu yang beradu di piringnya menjadi sumber suara paling dominan di meja makan.  Kyuhyun merasa penasaran, apakah Hyeon mendengar percakapan telepon tadi  atau tidak.




Hyeon menghabiskan makanannya begitu juga Kyuhyun. Setelah mencuci bersih semuanya. Hyeon masuk ke kamarnya dan membuka buku PR yang harus dikerjakan.



Bukunya dilempar begitu saja, pikirannya terus bergumul pada telepon tadi. Hyeon mendengarnya. Semua, tanpa terlewat satu barispun.



Aku mencintaimu?



Chagi?


Sarah?

Apalagi yang kuingat?



Aaa... mianhae.


Hyeon sakit... aku tidak bisa meninggalkannya.



Lalu apa aku harus sakit agar kau tidak meninggalkanku. Oppa? Mengapa begitu menyedihkan aku bagimu.



“Hyeon, kau sedang apa?” Kyuhyun mengintip dari pintu kamar Hyeon.




“Membaca,  Mengerjakan PR dan Belajar soal soal Ujian SAT.” Jawab Hyeon



“Jangan terlalu memaksa. Kau masih sakit. Tidurlah cepat..” Kyuhyun menarik Hyeon dari meja belajarnya dan membaringkannya ke ranjang. Hyeon tidak mengelak. Dia menuruti permintaan Kyuhyun. “mau ku temani?”



“Oppa..”



“Hm..”



“Apa aku harus sakit dulu agar diperhatikan olehmu? Apa aku harus mengetahui  sikapmu di belakangku agar kau bersikap baik padaku?”





“Apa maksudmu Hyeon?”




“Oppa, kau pasti sudah tahu. Aku ingin sendiri. Apa oppa bisa menutup pintu kamarku dari luar?” Hyeon Jung mengusirnya, dengan kalimatnya yang begitu halus.




Tadi malam, pelukan Kyuhyun adalah obat dari ketakutannya dalam gelap, tadi pagi pertengkaran kedua kakak adik ini membuatnya semakin merasa di sayangi oleh suaminya. Tapi malam ini Kyuhyun sudah melukainya lagi.




“Aku ingin bersamamu di sini.” Jawab Kyuhyun.




“Oppa, pergilah menemui wanita yang meneleponmu tadi. Temui dia, kau sudah berjanji untuk menemuinya malam ini kan?”





“Ah itu cuma teman Hyeon, jadi tidak perlu kau khawatirkan.”




“Dia orang yang sama dengan wanita di apartemen Min Ho kan?”




Kyuhyun terdiam, rasanya dia sedang ditelanjangi oleh Hyeon karena Hyeon tahu tentang hubungannya dengan Sarah.





“Temui dia Oppa, tapi ku harap. Ini menjadi yang terakhir kalinya kau menemui wanita itu.” Permintaan tulus seorang istri, agar suaminya tidak lagi menjalin asmara dengan wanita lain di luaran sana.





“Bicaramu yang tidak tidak saja, aku tidak akan pergi ke manapun. Aku akan stand by di ruang  tengah. Kalau kau membutuhkan apapun panggil saja aku, atau kalau aku tertidur,bangunkan saja.”




“Kenapa?  kau tidak mau menemuinya untuk yang terakhir kali? Kau akan menemuinya besok dan besoknya lagi? ”





“Hyeon!!!!”




Mata mereka saling bertemu, Kyuhyun yang semakin kesal dengan Hyeon Jung membentaknya tanpa sadar.





“Jika kau tidak pernah mengingatku sebagai istrimu. Paling tidak kau harus mengingat jabatanmu sebagai presdir. Kalau kau membuat kesalahan dengan membuat rumor rumor yang buruk tentang reputasimu. Karirmu yang akan hancur, saham tidak akan berkembang dan sainganmu akan mengambil kesempatan menguasai kursimu.” Jelas Hyeon Jung.





Kyuhyun tak menghiraukannya lagi, dia melangkah keluar dari kamar Hyeon dan menutupnya kencang.  Bantingannya seiring dengan air yang semakin menggenang di mata Hyeon.  Hyeon Jung berusaha begitu keras menahan emosinya dan perasaannya yang terluka, bagaimana tidak. Suaminya sudah ketahuan memiliki wanita lain dan Hyeon Jung selalu berusaha membuat semuanya seperti tidak terjadi apa apa.



Kali ini dia tidak ingin membuatnya seperti tidak terjadi apa apa, setidaknya bicarakan baik baik dengan Kyuhyun, meminta Kyuhyun untuk mengakhiri hubungannya dengan Sarah. tapi suaminya selalu berkilah. Mengatakan bahwa dia tidak mengerti yang Hyeon Jung bicarakan.



Kyuhyun yang sedang ditekan, menjadi sedikit bimbang. Mengakhiri cintanya dengan Sarah, Kyuhyun merasa dia tidak akan sanggup. Kebutuhan instingnya sebagai manusia dan sebagai pria selalu tercukupi dengan keberadaan Sarah. Tapi Kyuhyun juga semakin lama tidak mampu menjelaskan perasaannya kepada Hyeon. Gadis berisik, polos dan baik itu membuat Kyuhyun ingin melindunginya. Kebaikannya meluruhkan rasa dendam yang dia rasakan selama ini, dan untuk meninggalkan Seo Hyeon Jung, dia sepertinya harus menyiapkan puluhan ribu lapis rasa tega dan kebencian yang bertumpuk.




Tapi Hyeon bukan tipe gadis yang mudah di benci



Kalau saja Kyuhyun bisa memiliki keduanya... Aaah Benar. Kyuhyun sudah memiliki keduanya.  Brengsek bukan?



Tapi bagaimana Hyeon Jung berusaha setenang mungkin mempertahankannya.  Sedangkan kini Sarah semakin berani menuntut segalanya milik Kyuhyun. Termasuk perasaan, waktu dan uangnya.



Bagi Kyuhyun, Sarah da Hyeon adalah dua orang yang berbeda tetapi  saling melengkapi hatinya. Perasaan ingin dimanja selalu di dapatkannya dalam diri Sarah, walau dia harus mengeluarkan satu buah cek berisi ratusan dollar atau ratusan ribu won permalam, namun naluri lainnya sebagai lelaki membuatnya ingin melindungi Hyeon Jung yang masih remaja dan begitu rapuh. Apalagi setelah kejadian pemadaman itu. Kyuhyun semakin ingin melindunginya. 



Kyuhyun tetaplah pria brengsek, mencintai dua hati dalam waktu yang bersamaan. Mencintai wanita lain saat sudah memiliki seorang istri. Menjalin hubungan dengan seseorang, sementara ada seseorang lain yang dengan sabar menunggunya di rumah.



Hari hari berlalu seperti biasa, Kini Hyeon Jung yang sedikit menutup diri pada Kyuhyun maupun pada Min Ho. Saat ditanya oleh Min Ho tentang hubungannya dengan Kyuhyun, dia selalu mengatakan baik baik saja, namun wajahnya sedikit berubah. Tidak seceria dulu. Tidak se blak blakan dulu atau tidak terus membela Kyuhyun seperti yang dilakukannya kemarin kemarin.



“Do Joon-ah, kau membawa buku catatan yang kau pinjam kan?” Tanya Hyeon pada teman sekelasnya setelah pulang sekolah.  Do Joon membawa catatan pelajaran sosial Hyeon minggu lalu dan berjanji mengembalikannya sebelum pelajaran Sosial besok siang.




“Ya Tuhan, aku lupa. Bagaimana ini, setelah pulang sekolah, aku harus pergi ke peringatan kematian kakekku di Busan, jadi aku tidak bisa mengantarnya. Kau mau mengambilnya di rumahku?”




“ Heuh, Ya Tuhan. Sudah kuduga jadi seperti ini kalau aku meminjamkan catatan padamu. Baiklah, aku akan mengambilnya.”



Beberapa hari ini Min Ho sibuk latihan fisik untuk seleksi timnas Sepak Bola Korea Selatan U-19 jadi Hyeon dan Min Ho jarang bertemu. Saat Hyeon mengiriminya pesan untuk menemani mengambil catatan di rumah Do Joon, Min Ho tidak menjawab. Dan Hyeon melihat Min Ho ditengah lapangan sedang melakukan Physical Training dengan beberapa kawannya yang juga masuk sebagai calon seleksi timnas.



“ Yaah, kalau sudah jadi pemain sepak  bola timnas, pasti dia sangat sulit kutemui. Baiklah, aku sendiri saja yang mengambil catatanku.”




Setelah mengambil catatan Sosialnya di rumah Do Joon, dia sengaja berjalan jalan di sekitaran Gangnam. Siapa tahu dia melihat sesuatu yang bisa membuatnya ingin membawa pulang. Sudah puluhan abad rasanya Hyeon tidak pernah berbelanja. Lagipula dia agak malas di rumah, dan ingin mengetes saja. Jika Hyeon pergi hingga larut, apakah Kyuhyun akan mencarinya dan meneleponnya.




Boleh lah sekali saja membuat dia khawatir karena aku belum pulang sekolah selarut ini.



Hyeon memilih berjalan kaki menyusuri pertokoan dan butik butik ternama. Kemudian mampir ke butik langganan ibunya dan dia saat mereka masih sering berbelanja bersama atau saat ada acara perusahaan ayahnya yang  harus mengenakan baju yang formal.



“Aku mau ambil yang ini tapi bisa minta ukuran yang  sedikit lebih kecil? Bagian perutnya masih terlihat menggembung.” Kata Hyeon pada pegawai butik. Dengan senyum ramah khas pegawai pada pelanggan VIPnya dia mengambil baju dengan ukuran yang diminta.




Eoh, siapa dia? Sepertinya aku pernah melihat wanita itu sebelumnya.



Dari balik jendela display butik langganannya, dia melihat Sarah berjalan dengan bajunya yang super minim dan penampilannya yang sangat menggoda, Ya... Super Hot! Ekstra Sexy!



“Agasshi...ini..”




“Simpan dulu, aku akan kembali setelah menyelesaikan urusanku.”



Entah mendapatkan inisiatif  dari mana, kakinya tiba tiba melangkah keluar butik mengikuti wanita itu.



Lekuk tubuhnya sempurna. Rambutnya yang hitam tergerai, dan dress mininya yang menunjukkan kaki jenjang sempurna.



Benar, dia adalah wanita yang ku lihat di apartemen Min Ho. Mau kemana dia memakai pakaian yang bahkan tidak menutupi lima puluh persen tubuhnya itu. Astaga, dadanya... aah milikku saja tidak ada separuhnya. Oh, memalukan. Apa benar aku ini wanita.Kakinya? Kenapa begitu terawat. Tidak seperti kakiku yang sering terkena debu saat menunggu bus atau subway dan debu debu lapangan sekolah karena terlalu sering menonton Min Ho bertanding. Tangannya, Waah, pasti sangat lembut. Tidak seperti tanganku yang sering teriris pisau karena memasak. Dan tingginya... Ya tuhan, aku ingin mati saja karena bersaing dengannya.



Jadi karena dia cantik, tinggi, berdada besar dan berkulit mulus hingga Kyuhyun Oppa tergila gila padanya. Aaah, pantas saja Kyuhyun Oppa bahkan tidak melirikku saat aku berada di pelukannya.



Hyeon!! Sadarlah!




Sarah masuk ke tempat kerjanya yang terlihat classy dan mewah. Myeon City, casino terbesar di Korea Selatan. Hyeon Jung hanya mengawasinya dari jarak sepuluh meter. Penjaganya tinggi besar dan mengerikan. Sekali pukul saja Hyeon yakin dia akan tersangkut di namsan tower.  Ada beberapa orang yang tidak mendapat akses masuk,  dan ada beberapa lainnya yang harus dengan pemeriksaan yang kompleks. Masuk.. tidak... masuk... tidak...



Sebuah mobil hitam kemudian berhenti di depan pintu masuk, pemiliknya keluar dan menyerahkan kuncinya pada salah satu penjaga tadi.



“Tangkap!!” katanya, dan mobilnya dibawa oleh penjaga ke ruang parkir bawah tanah.



Mobilnya terasa tidak asing, dan pria yang keluarpun begitu.



“ Kyuhyun Oppa..?” Hyeon belum percaya dengan siapa yang berdiri di depan bangunan itu. Tapi mobilnya, dia sangat yakin karena itu adalah hadiah pemberian orang tuanya saat Hyeon  masuk SMA.



Kyuhyun masuk ke bangunan itu tanpa kesulitan. Penjaganya sudah tahu tentang Kyuhyun, termasuk posisinya yang sudah naik level dari seorang pecundang judi menjadi seorang CEO perusahaan. Berita semacam itu berkembang sangat cepat tersebar di casiono. Apalagi hanya menyangkut kisah hidup para penjudi di sana.



Tanpa berpikir panjang, Hyeon ingin mengetahui apa yang Kyuhyun lakukan di dalam. Dia berjalan menuju pintu masuk dengan dua penjaga besar tadi. Mencoba dengan segenap keberaniannya memasuki casino yang sama sekali tidak dia tahu ada bahaya macam apa yang bisa mengintainya.



Tangan kedua penjaga tadi menyilang. Menghalanginya masuk.




“Wae?”




“Pelajar tidak boleh memasuki  casino.”




“aish Jjinjja. Tapi suamiku ada di dalam. Pria yang baru saja masuk dengan mobil hitam. Kau tahu dia kan?”



“Bagaimana bisa pelajar SMA sudah bersuami.” Penjaga itu menertawakan Hyeon.




“Tapi tolong katakan padaku siapa pria yang baru saja masuk. Aku ingin memastikan apakah dia suamiku atau bukan.”




“Maaf, kami tidak menjual informasi apapun.”



Haish... Kesal dengan kedua penjaga tadi, akhirnya Hyeon bertanya baik baik padanya,walaupun tangannya sudah ingin meninju dua penjaga tadi, tapi Hyeon sadar dia akan diperlakukan lebih parah jika berurusan dengan mereka.



“Oke, baiklah. Jadi, bagaimana aku bisa masuk ke sana?” Hyeon menunjuk ke bagian dalam casino tersebut.




“Datanglah dua tahun lagi, dengan baju yang seksi dan tentu saja Uang yang sangat banyak. ahahaha” Kekeh salah satu penjaga diikuti ejekan dari penjaga lainnya.  “Anak SMA mau ke casino?  Kau harusnya minta uang papamu  dan pergi membeli buku pelajaran.”




“Yaak, kau pikir aku tidak punya uang banyak?”





Semakin tidak masuk akal saja syarat wajib masuk casino.  Dua tahun lagi... yang benar saja



Heol, suamiku berada di dalam sana malam ini bersama Sarah, selingkuhannya. Dan aku di suruh datang kemari dua tahun lagi? Mereka pasti sudah gila.



Aah, butik!



Hyeon kembali lagi ke butik mengambil dress yang dibelinya.



“Aaah, cocok sekali agasshi...” kata Pegawai yang melayaninya setelah melihat Hyeon mencoba baju pilihannya.



“Aku ambil ini dan akan langsung kupakai. Oh tolong tas yang  berkilau itu. Haish, bagaimana bisa wanita dewasa menyukai tas yang melihatnya saja membuat matanya rusak. Aku ambil ini.” Setelah membayar seluruhnya, Hyeon  pergi menuju gerai  kosmetik di samping butik.




“Terlalu repot jika aku membeli semuanya, lagipula siapa yang akan memakai  sisanya nanti.” Akhirnya Hyeon berdandan dengan sampel sampel kosmetik di  dalam gerai. Memilih warna warna tegas agar terlihat berlipat lipat lebih tua dari usianya.



“Ya Tuhan, wajahku ini terlalu baby face. Kenapa hanya naik 3 tahun saja setelah memakai kosmetik.” Kali ini dia merutuki nasib baiknnya yang memiliki wajah semungil itu.



Hyeon kembali ke casino, memakai dress diatas lutut dan dandanan yang sedikit dipaksakan. High heelsnya yang terlalu tinggi membuatnya sulit berjalan. Tapi dia menyeimbangkan diri.  Tas bling blingnya membuat dia sudah terlihat berkelas. Ah apapun itu, berkelas atau memalukan  yang penting dia sudah lolos dari dua penjaga yang tadi melarangnya masuk.




“Yes, apa ku bilang. Hanya bermodal baju minim saja aku bisa masuk.”





Hyeon berjalan jalan di sekitar Casino, tidak jarang dia mendapati mata pria pria menjelajahi tubuhnya yang hanya terbalut minidress hitam dan tas yang menyilaukan.
Matanya membalas tajam tatapan itu.



apa yang kau lihat. Aku bahkan tidak memiliki tubuh seindah wanita wanita yang berada di sini. Ahh dadaku rata, pantatku? Astaga... apa aku diciptakan dari batang korek api?



Hyeon melihat sebuah kerumunan, pria pria berjas yang sedang bermain diatas meja judi. Penasaran dengan yang terjadi, Hyeon mendekat.



Tapi ada pria yang menyapanya. Seorang pria yang sangat tampan, mempesona, seperti malaikat yang sayapnya telah patah hingga dia terpaksa harus menetap di bumi.



“Sendirian saja nona?” tanya pria itu.  Hyeon hanya mendehem dan kembali mendekati kerumunan itu.



“Kau tertarik pada permainan poker?” Tanyanya lagi.



“Poker?”



Pria itu menunjukkan meja yang dikelilingi banyak penonton.



Oh jadi ini yang dinamakan permainan poker.




“Kenapa ramai sekali? Apa biasanya begitu? Ada banyak meja judi di sini. Kenapa mereka tidak memakainya?”



“Ini pertarungan harga diri nona, King of the Gambler! Dengan hadiah wanita cantik. Sama sepertimu, Sangat cantik. Tapi kuakui nona, kau lebih cantik.” Wajah Hyeon memerah malu. Di puji oleh seorang pria bak malaikat nan tampan. 



Oh tidak, aku kemari bukan untuk tersipu atau menonton pertandingan pria pria konyol itu yang hanya memperebutkan seorang wanita.  Aku kemari untuk mencari suamiku.



“Siapa mereka?” dari keriuhan terdengar sayup sayup suara beberapa wanita yang saling bergosip.




“Cho Kyuhyun dan Kim Jong Woon. Betapa beruntungnya Sarah karena dia selalu menjadi taruhan pria pria tampan itu.” Jawab wanita di sampingnya.




Cho Kyuhyun?




Sarah?



“ Ku dengar Cho Kyuhyun yang menyedihkan itu sekarang jadi Presdir.  Pantas saja Sarah mau menemuinya lagi.” Pembicaraanpun berlanjut.




“Kau tidak ingat saat Kyuhyun dipukuli oleh gerombolan pengawal Direktur Mobil itu? Kau tidak melihat Sarah meninggalkannya begitu saja  dengan luka di sekujur tubuhnya  demi pria kaya itu beberapa bulan lalu?”





“Apa Kyuhyun itu bodoh? Dulu setiap malam dia kemari hanya untuk Sarah, agar Sarah  tidak menghabiskan waktunya bersama pria lain.”



“Apa bedanya Sarah dengan kita, bahkan aku lebih segala galanya darinya.”




“Yaaa, yaaa yaaa... kalian bergosip lagi. Bukankah sudah ku bilang layani tamu kalian huh? Jangan mengganggu Sarah, dia aset berharga casino kita.” Tegur Manajer Casino yang ber rahang tegas dan berwajah layaknya preman.




Sorak kemenangan muncul dari kerumunan itu.  Salah satu pria pergi meninggalkan meja judi tiba tiba. Wajahnya penuh dendam dan amarah.



“Eoh, Jong Woon oppa?”  Hyeon mengenali sosok itu.




Kim Jong Woon


seseorang yang bertarung di meja judi adalah saudara sepupunya, Kim Jong Woon. Kabar terakhir dia berada di Kanada mengurus perusahaan ayahnya yang hampir bankrut, tapi berkat tangan dewanya  perusahaan itu sudah menjadi lima perusahaan terbesar di Kanada.





Hyeon ingin mengejarnya, tapi matanya kembali dikejutkan oleh pria yang berdiri dari meja judinya itu dengan senyum kemenangan.



“Kyuhyun-oppa?”



“Oppa... Kyuhyun Oppa...”




Tangan Hyeon Jung kemudian ditarik oleh seseorang. Menyeretnya keluar tanpa ampun dan agak sedikit kasar.




“Yak, Neo Miccheosseo?” wajah pria yang menyeret Hyeon memerah karena emosi dan khawatir sehingga tanpa sadar membentak Hyeon Jung.





“Min Ho-ya.... Kyuhyun Oppa di sana...”   Hyeon Jung melepaskan tangannya dari genggaman Min Ho tapi Min Ho menariknya lebih keras.





“Yaaaaak...” Min Ho menariknya.





“Apa kau sudah gila berada di sana sendirian? Kau tahu itu tempat apa? Kau tahu seberapa bahayanya seorang gadis berada di sana?  Lalu apa ini? Kau memakai baju apa ini? Huh? Tas berkilau? Sepatu hak tinggi? Hyeon!! Sadarlah.”






“Tapi Kyuhyun Oppa ada di sana.”





“Aku tahu!!!!! Tapi kau tidak perlu kesana. Kau bisa menunggunya di rumah. Kenapa harus kesana?”




Hyeon terkejut mendengar pengakuan Min Ho. Min Ho tahu kalau Kyuhyun berada di sana?




“Kau tahu?” Otot tangannya melemah, seperti tulang tulangnya juga melunak.  Dia tidak lagi memaksa untuk melepaskan diri dari genggaman Min Ho.




“Iya...”  Jawab Min Ho dengan nafasnya yang pendek, terengah engah. Dia melihat Hyeon masuk dengan pakaian minim itu dan dia ingin memaksa masuk untuk menghentikan Hyeon, tapi  dia malah dilempar keluar oleh penjaga penjaga itu. Ide yang sama seperti yang Hyeon Jung lakukan pun dilakukan Min Ho.  Kemeja parlente yang dibelinya dengan kartu kredit  saja sudah membuat penjaga itu meloloskannya masuk.




“Kalian mempermainkanku?” tanya Hyeon Jung.




“Mempermainkan apa? Ya Tuhan Hyeon. Aku tidak pernah...”




“Kau sahabatku kan? Kau melakukan ini padaku? Jadi ini yang dilakukan Kyuhyun Oppa sepanjang malam sebelum menikah denganku. Jadi itu mengapa dia tidak pernah berada di apartemennya setiap malam karena dia pergi berjudi dan tidur dengan wanita itu? Kau tahu semuanya dan mendorongku untuk tetap menikahinya?



“Hyeon...!”




“Lepaskan tanganku..” Hyeon ingin sekali meneriaki Min Ho, mengumpat sekasar kasarnya dan sekencang kencangnya. Tapi tenaganya telah habis. Setelah bergelut dengan dua penjaga super besar itu, dan mencari cari suaminya di dalam casino serta tarikan Min Ho pada tangannya yang serasa hampir putus. Suara yang dia keluarkan bahkan tidak sekencang suara mobil yang lalu lalang di  depannya. “Jebal...”




Min Ho melepaskan tangannya, membiarkan Hyeon berjalan sendirian. Kemudian dia melepas jas parlentenya. Mengejar Hyeon dan memakaikan jasnya untuk menutupi tubuh Hyeon yang terekspos karena terlalu minim.




“Pulanglah naik taksi. Tas sekolahmu di butik itu kan? Aku juga menitipkan tasku di sana. Aku yang akan mengambilnya jadi kau pulanglah.”




Min Ho memberhentikan taksi dan meminta Hyeon masuk.




“Pak, Tolong antarkan gadis ini ke Castle Apartemen, kalau dia meminta turun di manapun jangan perbolehkan, Dan jika dia mengatakan apapun pura pura saja anda tidak mendengarnya. Tapi sepertinya dia tidak akan mengatakan apapun kecuali menangis jadi anda tenang saja.” Urai Min Ho pada supir taxi yang akan membawa Hyeon.




Kamarnya sudah sangat menderita karena mendengarkan Hyeon menangis sepanjang malam. Tidak ada hal lain yang dilakukan selain membasahi bantalnya dengan air mata yang terus mengalir.  Menangisi suaminya yang kenyataannya sangat berbeda dengan yang dia tunjukan.




 02.00 AM KST




Pintu apartemennya terbuka, Kyuhyun baru kembali dari menghambur hamburkan uang dan bermain main dengan wanita.



Kau memakai uang perusahaan untuk bermain main dengan wanita? Heol, Kau benar benar pria terbaik dalam menipuku Oppa.




Diam diam Kyuhyun membuka kamar Hyeon, melihat lampu tidurnya yang redup membuat Kyuhyun menyalakan lampu utama.




“Kau harus tidur dengan nyenyak Hyeon. Jangan ketakutan lagi. Kamarmu sudah menyala terang sekarang.” Kata Kyuhyun. Hyeon berpura pura memejamkan matanya dan menutupi keduanya dengan masker mata.



“Kau sangat menggemaskan saat tidur...”




Lalu apa Sarah sangat sangat cantik hingga kau selalu ingin tidur dengannya.





“Sayang kau masih SMA, Hyeon...”





Kalau aku sudah dewasa kau mau apa? Meniduriku bergantian setelah kau tidur dengan Sarah?





“Jangan Sakit lagi, aku sungguh mengkhawatirkan kondisimu saat itu.”





“Kenapa? Agar kau tidak menjagaku dan dengan leluasa  bertemu wanitamu itu?





“Maafkan aku Hyeon, akhir akhir ini kau pasti sangat menderita.”




Benar, aku sangat menderita. Melihat suamiku melingkarkan tangannya ke pinggang wanita lain. Melihatnya membawakan makanan untuk wanita lain, menerima telepon dari wanita lain, kemeja terbaiknya dikenakan wanita lain, dan sekarang penghasilan perusahaan kau buat bersenang senang dengan wanita lain. Mau sampai kapan kau melakukan ini padaku? Sampai kapan aku menderita? Apa kau benar benar tidak bisa mencintaiku?




“Tidurlah,besok pagi akan ku antar kau ke sekolah.”





Lagi? Setelah melakukan kesalahan kau  akan menutupinya dengan berbuat baik padaku. Untuk menutupi belangnya  atau karena merasa bersalah? Mengapa aku begitu menyedihkan bagimu?




Setengah tujuh pagi dia sudah bersiap ke sekolah, padahal jam masuk sekolah pukul 09.00. Setelah menyiapkan sarapan untuk Kyuhyun dia langsung pergi ke  sekolah.  Se marah apapun Hyeon, dia masih tetap seorang istri yang paling tidak harus melayani suaminya.




Kyuhyun turun dari kamarnya dengan jas yang rapi. Sarapannya sudah siap di atas meja ditambah espresso instan favoritnya.Kyuhyun meneguk sedikit lalu memanggil Hyeon.




“Hyeon, ayo sarapan. Aku sudah hampir terlambat.” Panggil Kyuhyun. Dia mengira Hyeon Jung masih di kamarnya sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Tapi Hyeon tidak muncul juga. Di panggil beberapa kalipun tidak muncul. Akhirnya Kyuhyun menyusulnya ke kamar, mengetuk pintu dan tidak ada jawaban.




“Hyeon? “




Kamarnya sudah rapi dan tas sekolahnya sudah tidak ada.




“Apa Hyeon sudah berangkat sekolah? Sepagi ini?”




Kyuhyun menghela nafasnya. Sedikit kecewa.




Kenapa aku begitu kecewa melihat Hyeon sudah pergi dari apartemen sepagi ini.




Ting tong...




“Kau? Ada apa kemari pagi pagi?” Tanya Kyuhyun pada Min Ho. Akhir akhir ini mereka sering bertengkar karena Hyeon.





“Aku mau mengantar tas Hyeon dan seragamnya. Juga mengajaknya berangkat sekolah bersama. Cepat panggilkan Hyeon, hyeong. Aku sedang malas bicara padamu.”






“Hyeon? Sudah berangkat.”





”Yang benar saja, ini jam berapa  Hyeong.”






“Aku tahu, aku juga kaget dia sudah tidak ada di kamarnya. Apa dia ada urusan sampai harus pergi sepagi ini?”






“Kau belum bicara padanya sejak semalam?”





“Aku pulang kantor jam 2 pagi, jadi aku tidak membangunkannya.”





“Kau yakin kau di kantor sampai jam 2 pagi? Bukan di Myeon City dengan wanita yang kau gilai itu?”





“Kau.. kau tahu? ”





“Sudah ku bilang jangan berhubungan dengannya lagi, kenapa kau masih berhubungan dengannya?  Sekarang bukan hanya aku yang tahu, Hyeon juga tahu. Dia meninggalkanmu sepagi ini? Mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya, atau pergi ke tempat lain. Dan aku yakin dia tidak akan kembali kemari. ”




“Yaak, Hyeon tidak akan meninggalkanku!”





“Kau yakin? Kau tidak lihat seragam dan tasnya ada padaku? Bukankah sekolah membutuhkan ini? ”





“Ckck, Min Ho ya.. kau pikir seragam dan tas Hyeon Cuma satu? Pergilah. Aku mau berangkat ke kantor.”






Di sebuah kedai kopi seorang gadis yang dikucir kuda dengan seragam sekolahnya duduk menunggu seseorang. Lalu datang seorang wanita bertubuh sempurna, mereka duduk saling berhadapan. Tatapan mereka tidak bersahabat, yaah mana mungkin istri dari seorang pria akan bersahabat dengan selingkuhan suaminya. Tidak ada. Kalaupun ada, bisa dipastikan salah satu dari mereka tidak menginginkan pria itu.





“Kau tahu, aku sangat lelah. Kenapa menyuruhku kemari?”  Tanya wanita itu, Sarah. Dan gadis SMA yang datang sebelumnya itu, Seo Hyeon Jung.





“Kau tahu kan aku siapa?” Tanya Hyeon Jung. Sarah hanya menggeliatkan badannya. “Apa kau akan terus terusan menggoda suamiku?”



Sarah tertawa.



“Suami? Siapa? Kyuhyun? Yaak, dia sangat mencintaiku kau tahu? Dia tidak akan meninggalkanku hanya karena kau seperti ini padaku.”




“Karena kau mengganggunya jadi Kyuhyun terus saja menempel padamu.”





“ Kau bahkan tidak tahu tentang masa lalunya?Siapa yang mengganggu siapa? Kau tidak tahu betapa dia tergila gila padaku? Pergi berjudi setiap malam karenaku, tidur denganku setiap malam agar aku tidak bersama pria lain. Bahkan saat sudah memiliki istri, dia masih saja menemuiku dan berpacaran denganku. Kau tahu apa tentang hubungan orang dewasa? Kau bahkan tidak di sentuhnya.”





‘Itu karena aku masih SMA, dia tidak akan menyentuhku.”





“itu lah masalahmu, kau pikir memiliki istri yang tidak bisa diajak tidur bersama menyenangkan? Cho Kyuhyun sudah dewasa Hyeon, sudah berkepala tiga. Dan kau, berapa usiamu? 17? Apa kau pikir Kyuhyun serius dengan pernikahan kalian. Dia hanya menginginkan perusahaanmu Hyeon.”




“Jangan memanggilku Hyeon! Dan jangan bicara hal buruk soal Kyuhyun lagi. ”





“Kenapa, Apa  itu panggilan kesayangan?  Hah, gadis polos ini bahkan tidak tahu. Kyuhyun menikahimu karena menginginkan perusahaanmu.”





“Aku tahu..”




“Aaa, pasti. Kyuhyun sudah mengatakannya padamu soal itu. Tapi, ada satu hal lagi yang pasti kau tidak tahu. Alasan mengapa dia menginginkan perusahaanmu.”





“ Kau mengarang cerita lagi kan?”





“Aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak. Tapi Kyuhyun sangat membenci Ayahmu. Dia ingin membalas dendam pada ayahmu. Perusahaan ayah Kyuhyun yang di akuisisi ayahmu beberapa tahun lalu membuat keluarga Kyuhyun berantakan. Usahanya hancur dan kedai kopinya tidak berjalan lancar. Kau tahu akhirnya? dia memiliki kesempatan untuk membalaskan dendam. Ternyata rival ayah Kyuhyun adalah ayahmu. Ayah seorang gadis polos dan bodoh yang sangat mencintai anak rivalnya.” Jelas Sarah.





“Sssh, lelucon macam apa ini?”




“kau boleh bertanya pada Kyuhyun, atau pada Ayahmu? Tentu saat dia sadar. Atau dia mungkin tidak akan sadar?” Kata Sarah.




“Jaga Ucapanmu, Nappeun Yeoja!”




“Hah, paling tidak aku sudah memberitahukan kebenarannya. Kau seharusnya berterimakasih padaku.” Sarah melangkah pergi dari kedai kopi dan Hyeon masih membeku di tempat duduknya. Perasaannya kacau, dia sangat tidak ingin mempercayai Sarah. Dia yakin Sarah hanya ingin mengadu domba Hyeon dan Kyuhyun.




Kalau aku tidak bisa mendapatkan Kyuhyun, maka kau juga tidak bisa mendapatkannya Hyeon, ah gadis bodoh!



***

 “Min Ho-ya, eodiya?”





“aku meneleponmu beberapa kali, kenapa tidak menjawab?”





“Eodiya?!!!”





“Aku baru turun dari bus dan sekarang sedang berjalan menuju sekolah. Ada apa Hyeon? ”




“Jangan masuk ke sekolah, tunggu aku sampai di sana!”




Min Ho dan Hyeon Jung duduk bersebelahan di halte bus dekat sekolahnya. Tidak ada candaan seperti biasa. Semuanya terasa canggung setelah kejadian malam itu.




“Kau masih sahabatku?” Tanya Hyeon.





“Tentu saja, tentang kemarin aku minta ma...”




“Akan kumaafkan jika kau  jawab pertanyaanku!” Min Ho mengerutkan dahinya, semakin penasaran tentang apa yang di




“Jelaskan tentang keluarga Kyuhyun dan perusahaan ayahnya. Kau tahu banyak kan tentang itu?”




Min Ho menjelaskan semuanya, sama persis dengan yang disampaikan Sarah, tetapi Min Ho tidak tahu siapa orang di balik akuisisi perusahaan ayah Kyuhyun.





“Kau tidak tahu?” Tanya Hyeon, Min Ho hanya menggeleng.




“Kenapa kau menanyakan itu?” Hyeon menggeleng




“Aku hanya ingin tahu. Oiya, Choi Min Ho, aku tidak masuk sekolah hari ini tolong absenkan ya.”




“Yaaa, kau mau kemana?”





“Ada urusan! Penting.”





Handphone Hyeon mati, semalam dia lupa tidak mengecasnya dan sekarang dia hanya butuh jaringan internet. Dia pergi ke perpustakaan umum yang juga menyediakan akses internet di PC. Hyeon mengetik beberapa kata kunci dan yang muncul adalah wajah ayahnya, sekitar tiga atau empat tahun lalu. Ceritanya terlihat simpang siur, Terlepas dari semua rumor, tetapi dapat dipastikan  orang yang mengakuisisi perusahaan ayah Kyuhyun adalah ayahnya.




“apa harus kupastikan pada Eomma? Aaah, aku bisa gila.”




Hyeon melangkah terhuyung huyung, matanya sedikit berkunang kunang. Dia berangkat sejak pagi dan belum makan.  




Taman penuh tanaman hijau itu menjadi tempat persinggahannya setelah membeli dua bungkus onigiri instan di minimarket dan minuman dingin. Hyeon sangat lapar, hingga rasanya lemas karena tenaganya sudah terkuras. Tapi nasi kepal yang dibelinya tidak terasa enak di mulutnya.





“Kyuhyun Oppa, Jadi begini akhirnya?” Air matanya jatuh seraya mengunyah onigiri yang berbentuk segitiga itu. Hyeon harus tetap memakannya, harinya menjadi semakin berat dan dia membutuhkan tenaga untuk menyelesaikan rasa penasaran ini sampai akhir.




“Aku tidak bisa ke rumah sakit sekarang, bisa bisa Eomma tahu aku tidak berangkat sekolah.”





Malam semakin larut, Hyeon masih berada di taman yang sama sejak tadi. Handphonenya mati dan dia hanya melakukan kegiatan yang sama berulang kali. Bermain ayunan, jika bosan dia akan bermain perosotan, duduk di ujung atas menara dan turun lagi. Bermain perosotan lagi dan bermain ayunan lagi.




Dia melewatkan makan malamnya, dan berencana pergi ke rumah sakit dengan berjalan kaki walaupun  jaraknya cukup jauh jika berjalan kaki, tapi ini yang Hyeon inginkan, menghabiskan waktu hingga petang dan pulang ke apartemennya saat sudah lelah, jadi dia tidak punya tenaga lagi untuk menangis dan langsung tidur saja. Toh Kyuhyun akan berada di Casino hingga petang. Mana tahu dia kalau Hyeon pulang malam.




“Waaaah, kau ternyata sekaya itu Hyeon, kau tidak ingin tahu bagaimana ayahmu membangun tiga perusahaan itu? Kalau aku ingin semuanya, apa kau akan memberikannya?”






Tiba tiba saja Hyeon Jung teringat satu kalimat Kyuhyun yang akhirnya baru Hyeon sadari sekarang. Kalimat yang keluar dari mulut Kyuhyun saat dia marah karena Hyeon memintanya menikah dengan Kyuhyun.





Apa  kalimat itu maksud dari semua ini?



***
Kyuhyun sudah pulang dari kantornya jam empat dan langsung mencari Hyeon di sekolah tapi nihil. Dia berencana pergi menuju rumah sakit. Tapi dia ingin memastikan dulu apakah dia di apartemennya.  Dan apartemen masih kosong seperti saat dia meninggalkannya.





Kyuhyun kebingungan, Kyuhyun mencari di sepanjang jalan dari sekolah menuju apartemennya dan dari apartemennya ke tempat yang sering Hyeon tuju menurut arahan arahan  Min Ho.




Tapi Kyuhyun tidak menemukannya. Apa mungkin rumah orang tuanya? Mungkinkah?  Atau aku harus ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memastikannya?




“Hyeon?”




“hyeon?”




Bukankah itu Hyeon?



Dia menepikan mobilnya tepat di depan jalanan depan rumah sakit ayahnya. Hyeon masih mengenakan seragam sekolahnya berjalan sendirian dengan menundukkan kepalanya. Wajahnya kelelahan karena berjalan terlalu jauh.




“Hyeon...” ditariknya tangan kecil itu menuju pelukannya. “Syukurlah kamu tidak apa apa.”




“Oppa? ”





“  Kenapa pergi tidak bilang? Kenapa handphonemu mati dan kenapa jam sembilan malam masih di jalan? Biasanya kau sudah pulang dan menungguku di ruang tengah dan memasak makan malam.”





“Biasanya? Ah benar, tapi Oppa selalu pulang jam dua pagi. Seperti tadi malam. Makanannya sudah dingin dan Oppa ingin tidur saja. Begitu?”





“Tidak begitu Hyeon, aku benar benar mengkhawatirkanmu.”





“kenapa harus mengkhawatirkan anak kecil ini sementara kau memiliki wanita cantik yang selalu kau banggakan itu?”




“Hyeon!!”




“Oppa....”  tatapan Hyeon kini berubah pedih, melihat ke dalam mata hazzel Kyuhyun.






 “ Ayo bercerai saja..”