Sunday, September 4, 2016

Final Goodbye

Tertidur lagi, tepat disampingku dengan tubuh atletisnya yang hanya terbungkus selimut tebal putih hitam, warna kesukaanku, aku juga berbaring disampingnya. Menatap wajah lelah yang sialannya tampak selalu mempesona.


Sudah berapa kali aku berakhir disini bersamanya, dengan wajah polosnya dia selalu membuatku luluh tanpa pembalasan.



Baiklah, cap saja aku sebagai gadis berhati lemah. Tapi bagaimana lagi... Aku benar benar masih mencintainya seperti orang bodoh.



Hari ini dengan sedikit mabuk, dia datang padaku dengan penyesalannya entah untuk yang keberapa kali, matanya memerah. Dia menyihirku dengan permintaan maafnya lagi.



Dia frustasi, katanya.



Melihatku bersama  seorang pria di sebuah cafe dimana dia berada di sana sedang berkencan  dengan wanita baru incarannya.



“Ku mohon, jangan meninggalkanku. ” Katanya.  Dia menyeka air matanya sekali lagi. “Aku menyesal, aku pikir aku sudah tidak mencintaimu dan bermain main dengan Hyerin. Tapi melihatmu bersama pria lain, itu benar benar membuatku sakit.”



Jika aku melakukannya sekali dia sudah merasakan sakit, lalu bagaimana denganku? Sudah berapa kali dia melakukan  ini padaku dan aku masih bisa membuka tanganku lebar lebar ketika dia berusaha memelukku lagi.



Saat itu, aku sudah berencana melepaskannya dan menjalin hubungan dengan orang baru yang kupikir akan membuatku melupakan cintaku yang cukup gila, ku pikir pria yang kutemui itu cukup baik untuk menjadi pasanganku.  Tetapi betapapun pria lain cukup baik, hatiku belum berubah dan masih mencintai dia.



Sudah berapa kali dia mengatakan permintaan maaf di hadapanku, dan aku selalu ingin mempercayainya.  Dia yang selalu datang padaku ketika menyesal dan kemudian mencampakanku ketika dia mengenal wanita lain.



Setiap dia muncul di depan apartemenku, aku selalu menangis. Aku bersyukur dia akhirnya kembali lagi padaku.



Tapi aku harusnya tahu, cintanya padaku seperti musim. Berganti setiap tiga bulan sekali. Dia menggenggam hatiku ketika aku ingin membuka hati untuk orang lain. Namun ketika aku mulai yakin pada permintaannya untuk kembali, dia melemparkanku jauh jauh dengan berbagai alasan yang bahkan sangat dibuat buat.



“Kau benar benar melukai harga diriku. Haruskah kita menyelesaikan hubungan kita sampai disini? Sepertinya aku harus mengejar karirku saja daripada harus selalu bertengkar denganmu.” Katanya pada suatu malam.



Mobilnya perlahan meninggalkanku, dia hanya meninggalkan bekas asap knalpot tepat di seluruh wajahku.



Apa salahku, apa kata kataku ada yang menyinggungnya? Mengapa dia begitu sensitif dengan perkataanku? Bahkan aku sudah meminta maaf padanya dan dia hanya mengatakan malas menjawab pertanyaanku lagi.



Satu hari dia tidak menghubungiku,



Aku sudah sangat gelisah, entah mengapa, aah mungkin karena aku ketakutan dia akan meninggalkanku lagi.  



Aku menghubunginya sekali, dia menjawab satu kata saja. Aku menghubunginya untuk kedua kali, dia juga menjawab pesanku dengan satu kata singkatan saja.



Rasa rasanya langit yang menaungiku akan runtuh lagi untuk yang kesekian kalinya.



 “Apa kau akan meninggalkanku lagi?” tanyaku padanya.



Dia tidak pernah memberiku jawaban itu. Dia hanya mengatakan tidak tahu harus melakukan apa.



Dan tidak jarang muncul kalimat seperti ini terucap dari mulutnya



“Sepertinya aku menyukai gadis lain.”




Benar saja, langit saat itu bagiku runtuh dengan segenap isinya. Meteorit meteorit  seakan menghujani jantungku bertubi tubi.  Aku mungkin sudah hampir gila karena selalu diperlakukan seperti ini.



“ Bukankah  keterlaluan kau mencari cari alasan hanya untuk membuat kita berpisah lagi?”



“Bukankah alasannya sudah sangat jelas, kau melukai harga diriku.”



Iya, harga dirinya sangat tinggi hingga tidak sanggup ku gapai. Bahkan hatiku yang sudah terlampau sering disakiti olehnya  itu tidak bisa membayar lunas atas harga dirinya yang terluka.



Dia begitu pendendam...



Dan Aku begitu takut kehilangannya. Sungguh...



Aku sangat mengingat bagaimana dia menjadikan alasan alasan tak masuk akal itu sebagai senjata untuk terlepas dariku, dan aku pun melepasnya. Bukan tanpa alasan...


Bagiku dia tidak pernah pergi, dia hanya mencintaiku dan hanya bermain main dengan wanita lain. Tapi aku tidak menyadari bahwa hatiku juga selalu terluka ketika dia bermain dengan wanita lain yang dikenalnya.



Jika dia sudah mulai menunjukan tanda tanda ingin mendekati gadis lain, aku bisa tidak makan hingga berhari hari. Sekalipun aku tahu dia akan kembali padaku nanti seperti sebelumnya. Tapi hatiku tetap saja merasa terluka...



Hingga suatu hari aku jatuh pingsan karena kehabisan energi. Aku tidak makan selama beberapa hari dan mendiamkan segelas kopi di meja kerjaku. Sahabatku yang khawatir karena aku tidak menjawab teleponnya mendapatiku tergeletak di samping ranjang dengan wajah pucat pasi. Katanya...aku hampir saja mati.


Aku dilarikan ke UGD, tanpa sayatan di pergelangan tangan, berbeda seperti perkiraan orang orang. Kalau saja mereka tahu aku takut melukai diriku sendiri, mereka mungkin tidak akan berspekulasi aku akan membunuh diriku sendiri dengan sebilah pisau. Bagiku luka di hatiku sudah paling menyakitkan. Jadi untuk apa aku menyayat pergelangan tanganku.



Dia tahu aku dilarikan ke rumah sakit, tapi dia mengacuhkanku. Dia hanya berpikir aku sedang menarik simpatinya atau mencari perhatiannya.



“Kau benar benar tidak mau menemuinya? Kau tidak sadar ini semua karena ulahmu?” tanya sahabatku padanya.




“ Aku tidak pernah memintanya untuk bersedih atau tidak makan karenaku. Dia melakukannya dengan sukarela. Apa itu kesalahanku?”



Kenyataan itu membuatku terpuruk lagi. Sekarang aku tahu, betapapun besarnya aku terluka karenanya, dia tidak akan peduli padaku.  Apa aku harus bertahan dengan sesuatu yang ku sebut cinta ini? Cinta yang membunuhku perlahan lahan.



Entah bagian tubuhku bagian mana yang bereaksi atas kesakitan itu, aku tidak ditampar atau di tusuk dengan belati. Aku hanya mendengar alat alat yang menopang bagian vital tubuhku berbunyi. Sebelumnya, dokter mengatakan pada sahabatku kalau aku mengalami syok pada jantung.




Tapi tiba tiba semua orang berbaju putih mengerumuniku, aku masih mendengar percakapan mereka hingga  kemudian tidak sadarkan diri. 



 aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.



Dia muncul dari pintu kedatangan. Aku pikir dia akan memelukku yang sudah berdiri menyambutnya dengan air mata. Aku pikir dia datang menjengukku, mengucapkan penyesalan seperti biasanya dan kembali bersamaku.



Tapi dia melewatiku.



Menghampiri  sebuah tempat tidur yang masih dikerumuni orang orang berbaju putih.



Dia menangis disana, terus menerus meminta maaf dan meminta orang itu untuk bangun.



Apa wanita itu kekasih barunya? Hebat, dia bahkan ke rumah sakit untuk   kekasihnya, tetapi dia tidak sekalipun mau menemuiku di sini.


Perasaan terlukaku memuncak, bukan hanya terluka, tapi aku marah karena dia benar benar tidak peduli padaku. Aku menghampirinya... berniat menyeretnya keluar dan memberi paling tidak satu tamparan keras di pipinya. Iya, hanya itu keberanian yang kupunya.



Tapi, mengapa aku melihat diriku berbaring? Aku melihat sahabatku menangis, aku juga melihat dia menangis, menyesali kesalahannya.



“Hyeon...” panggilnya. “ Ku mohon jangan meninggalkanku seperti ini.”




***