Monday, June 19, 2017

What's Wrong With My Age (Sequel Introduction)






Riuh rendah gadis gadis yang membentuk pagar betis mengantarkan tujuh pria yang penuh dengan pesona itu ke dalam sebuah mobil van berwarna hitam. Tak hentinya mereka mengulurkan dan melambaikan tangan. Satu diantara mereka terlihat tak baik, sang maknae. Ia memilih segera masuk ke mobil menuju kursi belakang sementara yang lain masih sibuk tersenyum kepada para gadis meski dilanda kelelahan luar biasa. Walaupum sedang memiliki jadwal konser, mereka masih menyempatkan diri datang ke acara radio. Sungguh luar biasa ketujuh pria ini. 


Sang leader juga terlihat sangat lelah, namun dengan ramah meminta semua yang datang untuk segera pulang karena cuaca sedang dingin.



Setelah ketujuh pria itu masuk ke dalam mobil, manajer segera melajukan mobilnya menembus jalanan Seoul yang masih padat meski sudah tengah malam.



“ Yaa, sepertinya kalian harus mengucapkan selamat tinggal pada mobil ini.” Kata Manajer.




“Benarkah Hyung? lalu mobil apa yang akan kita dapatkan?”  tanya pria tertua diantara mereka.




“Emm, paling tidak van dengan harga lebih dari seratus ribu dollar.”




“Jinjja?” Sang leader terkejut. "bukankah ini terlalu cepat?" tanyanya lagi. 




“Jinjja yo Hyung? Apa mobil seperti milik SoNyeoShiDae Sunbaenim?” tanya pria berwajah alien. Jangan bayangkan alien dengan mata wajah oval, bertubuh hijau dan turun dari UFO. Dia tidak seperti itu, Kau tahu drama "Man from the Star"? Yaa paling tidak dia makhluk yang  ketampanannya hampir sama dengan pemeran utamanya.






Manajer Hyung mengangguk. “Kita lihat saja besok!”




Tiga dari tujuh pria disana terlalu bersemangat hingga terus menebak nebak mobil apa yang akan mereka dapatkan. Mobil van baru, hadiah bagi mereka yang sudah bekerja keras selama empat tahun sejak debut mereka. Tak ada yang menyangka popularitas mereka berkembang secepat itu.  Tujuh pria muda dengan semangat membara,  anggota sebuah boygroup terkenal Korea Selatan yang kini sangat diperhitungkan.  Bangtan Sonyeondan, atau Bangtan Boys atau Bulletproof Boys. Ah terserah saja kalian menyebutnya apa, yang jelas mereka dikenal sebagai BTS.



Perlu kuperkenalkan?





Yah, bukankah lebih baik begitu?





Lihat pria di sebelah manajer Hyung, dia adalah leader dari boygroup Ini. Nam Joon, Kim Namjoon. Dia dikenal sebagai rapper dengan bibir yang seksi (OK author, berhenti membayangkan!). Kemampuan Rap nya luar biasa, oleh karena itu agensi memberikannya nama panggung “Rap Monster.”




Beralih ke pria dibelakangnya, pria tertua dengan julukan “Handsome car door guy” itu semakin percaya diri setelah dunia menyebutnya  “Worldwide Handsome” saat menghadiri gelaran Billboard yang mencuri perhatian dengan istilah “Pria ketiga dari Kiri”, Kim SeokJin. Pria yang selalu menyebut dirinya tampan dan memiliki tingkat narsistik tertinggi daripada member yang lain ini memiliki stage name “Jin”





Suga, Apa yang harus kugambarkan tentang pria ini.  Kulitnya yang bersinar dan kepribadiannya yang manislah yang membuatnya memiliki nama panggung Suga... karena dia manis seperti suga(r).
 Saat member membuat lelucon, hanya dia yang mungkin tak akan tertawa. Dia memiliki wajah "Oh, I'm done with you." pada setiap lelucon para member. Dia juga membenci melakukan segala sesuatu kecuali bermusik dan tidur, Haha bermalas malasan adalah hobi bagi Suga. Andai saja pemilik nama asli Min Yoongi ini  dilahirkan kembali, Kupikir dia akan sangat cocok menjadi batu dikehidupan keduanya.




J-Hope, dia mengisi posisi dancer dan rapper di grup. Ah aku juga tak tahu apa yang harus kukatakan tentang dia. Pria yang penuh semangat dan menenangkan ini begitu dicintai oleh para member. Meski banyak orang mengatakan dia tidak tampan, tapi demi Tuhan. Mereka harus bertemu dengannya langsung. Aku jamin seribu persen mulut mereka akan mencabut kata kata nista itu. Pemilik nama Jung Hoseok ini duduk tepat di belakang Jin. Dia sedang sibuk dengan handphone nya memposting sesuatu di twitter tentang aktifitas mereka hari ini..





“Ya, Park Jimin!” sapaan yang tak pernah membosankan. Lihat apa yang dilakukannya sekarang. Mengambil gambar dirinya sendiri dengan berbagai angle di handphonenya  yang kemudian akan ia post di akun twitter BTS. Pria dengan eye smile yang mempesona itu tak akan pernah membiarkan para fans nya menderita tanpa foto selfie imutnya. Bagian yang kusuka darinya adalah garis rahang yang sempurna. Kepribadiannya sehari hari dan image nya diatas panggung saaaaaaaaangat jauh berbeda.




Kim Taehyung, seseorang dengan stage name V itu nampak menggoyang goyangkan kepalanya, bernyanyi  dengan earphone menggantung di telinga.Tapi  biar kutebak, dia pasti tidak menyalakan musik. Atau bahkan mungkin dia tidak mencolokkkan earphone nya di handphone atau di ipod. Dia melakukan sesuatu hal konyol sesuka hatinya. “Dia makhluk yang aneh! Dia spesies yang berbeda!” kata Jin.  (Benar, karena dia adalah Alien...)





Jungkook, adalah pria termuda diantara semuanya. Posisinya dalam BTS? Dia vocal, rap, dance, apalagi? Dia melakukan segalanya dengan baik, karena ia adalah "Golden Maknae" Pria termuda dengan berbagai talenta. Dia akan menyentuh hatimu jika kau dengarkan setiap desah nada suaranya. Dia akan menghiburmu dengan tingkahnya di variety show, dia terlalu bekerja keras hingga sering melukai dirinya sendiri agar orang lain terhibur olehnya. Secara subjektif, bagiku suaranya adalah yang terbaik. Ia tumbuh bersama para Hyung sejak SMA, dari seorang remaja dengan bobot tubuh tak seberapa hingga menjadi dewasa dengan abs dan otot bisep di lengan kokohnya.






“Hyung, bukankah besok kita tak ada jadwal?” tanya V pada manajernya.





“Yaa, tapi kita harus bersiap siap karena lusa kita terbang ke Paris.”





“Bukankah jadwal ke Paris itu minggu depan Hyung?”  tanya Suga.





“Sudah kukatakan pada kalian tadi malam, LV meminta untuk mengajukan pemotretan kalian tiga hari lagi. Jadi kalian harus bersiap.  Ini benar benar kesempatan besar untuk kalian.” Terang manajer.




*WWWMA*


Van berhenti di drop off  bandara Incheon. Suga membuka pintu mobilnya dan memasuki pintu keberangkatan internasional.  Ah benar, fashion airport! Itu pasti harapan kalian kan? Baiklah kuceritakan satu persatu airport fashion dari para member.



Suga memakai kaos hitam dipadukan coat biru langit, celana jeans hitam mengkilap dengan sepatu vans tinggi berwarna hitam putih. Tidak lupa. Beani danMasker tersemat untuk menutupi kepala dan wajahnya








Di pintu yang lain, Rap monster  tampil santai dengan celana  jeans warna hitam, atasan stripe merah hitam dipadukan jaket jeans biru benhur dan beani yang senada. Dia tak menutupi wajahnya dengan masker. Baginya masker membuatnya sulit bernafas dan itu masalah baginya.






Jungkook keluar dengan celana jeans berwarna biru dan kaos hitam. beany abu abu menutupi sebagian besar rambutnya , serta masker yang senada dengan kaos dan tasnya. Timberland Boot berwarna cokelat membuatnya terkesan kasual dan manly. 




Jin dengan gaya andalannya, kaos hangat lengan panjang berwarna abu abu dipadukan dengan celana jeans hitam, sepatu hitam, topi hitam serta kacamata bulat.














Yaa Taehyung-a, berhenti menggunakan atasan Gucci ketika kau akan melakukan pemotretan LV. Kau sungguh tidak berhati hati!




Taehyung : Apa aku salah? *innocent face*


Kim Taehyung atau V mengenakan celana hitam dan jaket jeans biru pudar dari Gucci, begitupun sepatu bulu yang dia gunakan. Sebenarnya dia adalah manusia Gucci, tapi dia harus menjalani pemotretan untuk Louis Vuitton dengan member Bangtan. 




J-hope memakai sweater semi turtle neck berwarna putih dipadukan coat cokelat muda, topi senada dan kacamata bulat. Ini Hobi yang kau bilang tidak tampan.? Terkutuklah kau setelah melihatnya bergaya seperti ini!



Dan Park Jimin, dia tampil sangat cool hanya dengan kaos putih dan celana jeans berwarna hitam. Sunglases hitam dan sepatu berwarna kuning cerah. Rambut copper rednya sangat cocok dengan gayanya. Park Jimin Jjang!!







Coordy, Stylish, Manajer bergerombol bersama mereka berjalan di belakang memasuki ruang check in.




“Wasssaaaa.... kita terbang ke Paris!” kata Taehyung bersemangat.


****


WWWMA Sequel Introduction





Tuesday, June 13, 2017

What's Wrong with My Age?









Noonan neomu yeppeoseo namjadeuli gaman an dweo

Huendeullineneun geunyeoae mam sashil algo isseo

Geunyeoaegae sarangeun Hansoonganae neukkimil ppoon

Molla haedo nayegaen salmae everything
(Replay- SHINee)



“Aku pergi dulu...” Kata seorang pemuda menjauh dari kerumunan teman temannya. Seperti biasa, dia memasang earphone di kedua telinganya dan menyalakan lagu favoritnya “Replay- SHINee” dari ipod. Dia berjalan cepat keluar sebuah gedung sekolah, melewati siswa siswa lain yang berjalan searah dengannya. Dia selalu begitu setiap hari, begitu bel berbunyi, dia akan  segera keluar dari sekolah dengan terburu buru.

Seragam kuningnya membuat remaja SMA ini terkesan imut dan sialan tampan. Para gadis yang sudah tahu kebiasaannya selalu pulang cepat sudah bergumul sejak dari depan kelasnya hingga gerbang sekolah hanya untuk melihat pria ini berjalan dengan wajahnya yang datar. Ada yang sibuk memfotonya, dan ada yang hanya mengikuti pria muda nan tampan itu dari dekat. Dia bukan artis ataupun selebritis. Tapi penggemarnya tak bisa kau hitung dengan jarimu.

Dia apatis! Meski dia tahu dia begitu populer di sekolah.

Bahkan setelah keluar dari komplek sekolah pun, dia selalu ditatap dengan kekaguman oleh gadis gadis dari sekolah lain. Tentu saja, seragam kuning yang dipakainya itu juga menarik perhatian mereka. Tak ada yang lebih menarik perhatian daripada seragam kuning milik Seoul of Performance and Art. terlebih dia adalah Jeon Jungkook. Salah satu siswa populer SOPA yang ketampanannya menembus ruang dan waktu... Ah berlebihan. Tapi sungguh, wajahnya sesempurna cheonsa!

Di balik hingar bingar kehidupan sekolahnya yang penuh dengan penggemar yang terang terangan mengungkapkan perasaan padanya atau yang hanya mengaguminya dalam diam, Jeon Jungkook tak pernah peduli... bahkan tak ada yang tahu bahwa dia membenci apa yang orang orang kagumkan padanya.


Heuh, aku membenci kenyataan bahwa aku masih mengenakan seragam berwarna kuning ini, disaat setiap gadis mengarahkan tiap pandangannya padaku dan mengagumi apa yang ada padaku dan apa yang melekat di diriku. Aku mulai kesal... Kenapa bukan dia yang begitu? Mengapa dia tak melihat yang sama seperti gadis gadis itu?

Mengapa dia begitu membenci seragamku... dan juga wajah imutku.


Jeon Jungkook, Remaja SMA itu berjalan menyusuri beberapa komplek perkantoran dan berhenti di sebuah kantor majalah fashion. Tidak tidak, jangan berpikiran terlalu jauh. Dia tidak kesana untuk menjadi model mereka, tidak... meski dia tahu dia tak akan ditolak jika masuk ke dalam sana dan mengajukan diri sebagai model mereka.

Karena hal ini berulangkali terjadi jika dia sedang berada di sana....

Dia hanya berdiri bersandar di tembok dekat pintu keluar sambil terus memeriksa jam tangannya.


“Bukankah ini sudah waktunya.” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Sambil menghentak hentakkan sepatu kirinya ke lantai, pemuda ini juga terus menoleh ketika seseorang keluar dari pintu di hadapannya.

Senyumnya melebar, ketika hentakan sepatu hak tinggi yang dikenalnya semakin kencang dan seseorang yang ditunggunya muncul memenuhi bayangan netranya yang bulat. Benar, jangankan hentakan sepatunya, pemuda itu bahkan tahu betul bagaimana irama nafasnya.


Wanita yang ditunggunya berhenti, membuang wajahnya dan mendesah kesal. Wanita itu  menghampiri Jungkook dengan malas.


“Kau lagi?”


“Eoh, Noona...” jawab Jungkook dengan senyuman terlebarnya yang tak pernah ditunjukkan pada siapapun. Jungkook terkenal dingin di sekolah dan oleh teman temannya dia dijuluki pria musim dingin karena jarang bicara apalagi pada gadis gadis yang mengantri padanya di sekolah. Tapi seketika, pria musim dingin ini akan berubah hangat jika bertemu dengan Bae Joo Hyun, wanita yang ditunggunya sedari tadi.

“Kau tidak bisa terus seperti ini Jungkook-a..” wanita bernama Bae Joo Hyun itu mengusap dahinya. Dia lelah dengan pekerjaannya dan ingin segera pulang. Tapi Jungkook mendatanginya setiap sore di kantor.


“Mian, tapi aku tak akan menyerah begitu saja Noona. Jadi berikan aku kesempatan sekali lagi.”


“ Kau tidak akan berhasil, Jeon Jungkook!” Yakin wanita itu.


“Noona, ayolah.  Kita kencan sekali lagi. Ya?”


“Pulanglah, aku hari ini sangat lelah. Lagipula siapa yang akan berkencan dengan siswa berseragam SMA sepertimu?Yaa! kau harusnya memikirkan bagaimana caranya masuk universitas dan belajar dengan giat. Bukan mendatangiku setiap hari dikantor.”


“Ya, setelah aku berkencan denganmu. Aku akan belajar dengan giat. Joohyun-noona” Janji Jungkook pada JooHyun.


“Jungkook-ah, ku beritahu padamu. Noona ini saaaaaangaaaaaaat jauh usianya diatasmu. Tidak bisakah kau berkencan dengan gadis seusiamu saja?”


“Shireo!! Mereka berisik merepotkan dan Aku hanya menyukaimu..”


“Yaa, perlu kukatakan berapa kali padamu. Aku tidak akan memiliki kekasih 6 tahun lebih muda dariku. Sekalipun aku menyukaimu, aku tidak akan pernah berkencan denganmu. Aku bisa saja dipenjara karena mengencani anak dibawah umur. Bukankah itu gila?”  


“Sekalipun kau menyukaiku?”


“Ya.”



“Lalu bagaimana caranya agar noona mau menjadi kekasihku?”



“Jadilah enam tahun lebih tua dariku.”



“Noona.. tidak masuk akal.”

“Kau mencintaiku. Apa bagimu itu masuk akal? Bagiku sama sekali tidak!” Joo Hyun meninggalkan Jungkook didepan kantornya dan berjalan secepat mungkin.

Penolakan ini bukan yang pertama, Jungkook sudah mengalami yang lebih pedih dari ini dan tentunya berkali kali. Jadi kata kata JooHyun bukanlah hal yang harus dipikirkan. Dia hanya perlu datang lagi besok dan mengungkapkan perasaannya lagi. Tak ada yang tahu kapan air akan menjadikan batu menjadi berlubang. Air hanya akan berusaha terus menerus menghujaninya.

Jungkook mengekor Joo Hyun, cukup jauh karena dia tak mau disangka penguntit. Jungkook menatapnya dari seberang jalan yang lain. Berjalan beriringan. Melihat Joo Hyun kelelahan dengan sepatu haknya dan beristirahat di salah satu bangku di tepi jalan. Jungkok bahkan sudah tahu apa yang akan dilakukan Joo Hyun setelah melepaskan sepatunya yang menyiksa itu.


Sebelum JooHyun merilekskan saraf saraf tegang di kakinya dengan menepuk nepuk betis, Jungkook menghampiri JooHyun, dia berlutut di hadapan Joo Hyun, menarik salah satu kakinya dan memijat punggung kaki Joo Hyun dengan lembut.

Joo Hyun menarik kakinya, merasa canggung dengan posisi mereka, tapi Jungkook tetap menariknya lagi ke genggamannya.


“Sudah kubilang, noona seharusnya bawa sepatu flat untuk pulang ke rumah. Kenapa noona tidak pernah mau mendengarkanku. Huh?” Kepala Jungkook mendongak ke atas, ia membutuhkan jawaban Joo Hyun.

“Kau juga tak pernah mendengarkanku. Kau tetap tidak mau pergi meski sudah kusuruh pergi.”


“Eeii, aku tidak akan pergi hanya karena Noona menyuruhku pergi. Aku sudah terbiasa dengan omelan, makian, siksaan dan kalimat kalimat pedas darimu jadi Aku sudah kebal... “ senyumnya begitu mengembang sempurna. Tak ada yang tahu jika seorang Jeon Jungkook punya senyum semerekah itu,


“Ciih...” Joo Hyun tersenyum remeh.


“Noona, aku menyukaimu apapun yang terjadi. Jadi aku tak akan pernah mundur meski Noona menyuruhku pergi berkali kali.” Ucap Jungkook. Dia melepas kedua sepatu kets nya dan memberikan pada JooHyun.


“Pakai saja milikku, perjalanan pulang masih sangat jauh dan high heels ini pasti akan menyiksamu sepanjang jalan.”  Jungkook berdiri dan tangan kanannya mengambil sepasang high heels milik JooHyun.

“Yaa, bagaimana dengan kakimu? Kau juga butuh alas kaki.”



“ Haha, tak apa.” Dia memandang kakinya sendiri yang hanya terbalut kaus kaki berwarna abu abu sambil menggerakan jari jarinya.


“Yaa, bagaimana bisa pria dengan seragam keren itu tidak mengenakan alas kaki? Orang orang pasti akan memperhatikanmu. Kau tidak malu?”


 “Aku tidak peduli, kau bahkan tak menganggapku begitu. Jadi untuk apa?”


“Jangan memulai atau kusuruh kau pergi sekarang juga!”


“Noona,  Bukankah yang kulakukan ini sangat keren? Tidak ada pria yang berpikir untuk memberikan sepatunya pada wanita yang disukainya agar wanitanya tidak kesakitan di jalan.”


“Heol, berhenti menonton drama romance yang menjijikan Jeon Jungkook. Aku takut kau salah tumbuh menjadi pria yang hanya memikirkan tentang cinta dan menjadi tidak realistis tentang kehidupan yang lain.” Jelas Joo Hyun. “Dan satu lagi, jangan menyebutmu pria. Ku mohon! kau masih remaja di bangku SMA.”


“Ugh, satu satunya yang kubenci dariku, adalah kenyataan bahwa aku masih SMA, berkeliaran dengan seragam kuning yang membuatku tampak begitu muda dan menggemaskan!”

“Yaa, kenapa kau membenci itu? Muda dan menggemaskan. Bukankah itu keren? Semua orang menginginkan itu.”


“Tapi tidak membuat noona suka padaku.” Jawab Jungkook penuh makna. “aku harus menjadi pria manly seperti tipemu kan?”


“Yaa, berperilakulah sesuai usiamu, Jeon Jungkook!”


Bae JooHyun menghela nafas, sulit menjelaskan pada laki laki belia yang masih menggebu gebu soal cinta. Mau dijelaskan bagaimanapun, Jeon Jungkook akan melakukan sesuatu sesuka hatinya.


“Aku tidak mau kau pergi ke tempat kerja ku lagi, atau aku tidak akan pernah menemuimu lagi. Arra?”


“Emm.... entahlah..” Ujar Jungkook sambil memiringkan kepalanya. Bukan Jeon Jungkook bila mudah menyerah hanya karena JooHyun menyuruhnya begini dan begitu.


“YA!!”


“Huh, Noona bus kita datang. Ayo, aku antar kau pulang...” Tunjuk Jungkook pada bus yang akan membawa mereka pulang ke rumah.

Jeon Jungkook, pemuda ini sudah menyukai JooHyun sejak dia berusia 15 tahun. Ah atau mungkin malah jauh sebelum itu. Awal pertemuan mereka adalah ketika  Jungkook masih di awal remaja. Sebuah pertemuan yang emosional saat itu membuat Jungkook menaruh hati pada JooHyun meski Jungkook tahu, Bae JooHyun jauh lebih tua darinya.

Perbedaan usia mereka sekitar 6 tahun, tapi Jungkook tidak peduli. Dia selalu yakin bahwa menyukai seseorang atau bahkan mencintainya tidak harus dibatasi usia. Tidak harus disyaratkan pria harus lebih tua atau minimal seusia dengannya.

Itu kuno, sekarang hal hal semacam itu sudah tanpa dinding pembatas. Semua orang memiliki hak untuk mencintai siapapun tanpa memikirkan rentang usia, atau dogma tentang pria harus lebih tua daripada wanita.


Aku mencintai JooHyun noona, dan aku akan membuat JooHyun noona juga mencintaiku.

Keyakinan itu semakin besar setiap melihat JooHyun. Apalagi ia tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan penuh semangat, selalu berpikiran positif pada setiap hal. Murah senyum dan mempesona banyak pria.

Ah sial, aku paling benci hal terakhir.


Pengakuan pertamanya adalah saat dia duduk di bangku akhir sekolah menengah pertama. Saat itu JooHyun hanya tertawa ketika Jungkook memberikan sekotak cokelat dan boneka teddy bear. Entah siapa yang mengajarkan itu semua pada Jungkook, dan JooHyun hanya tertawa geli mendengar pengakuan anak remaja itu.

“Ini menggelikan Jeon Jungkook, aku noonamu. Enam tahun lebih tua darimu. Bagaimana aku bisa berkencan denganmu. Heol! kau sudah seperti adikku jungkook-a, kau tidak bisa melindungiku.”


“Aku bisa!”


“Yaa, Jeon Jungkook. Dengarkan noona. Kau belum dewasa untuk mengerti apa itu berkencan. Apa itu mencintai. Apa itu berbagi dengan pasangan. Aku paham karena kau sudah remaja, kau pasti menyukai lawan jenismu. Tapi menyukai noona itu tidak benar Jungkook-a. Kau harus menyukai teman sebayamu.”

Awalnya Jungkook menyerah dan berusaha menyukai teman wanitanya di kelas. Tapi Jungkook gagal. Dia selalu membandingkan JooHyun noona-nya dengan teman wanitanya itu. Dan pada akhirnya, dia selalu berkata  “JooHyun noona memang yang terbaik.”


Dia kembali mengejar JooHyun saat dia masuk SMA, dan ini hampir memasuki tahun ke duanya  di SMA. Pekerjaan Jungkook setelah menyelesaikan pelajarannya di sekolah adalah menemui JooHyun di kampus, dan setelah JooHyun menyelesaikan studinya. Jungkook masih mengejar JooHyun hingga ke tempat kerjanya.

Hari itu berlalu seperti biasa, Jungkook mengantar JooHyun sampai di depan jalan setapak menuju rumah JooHyun. JooHyun selalu menolak jika Jungkook ingin mengantarnya ke depan pintu rumahnya. Dia hanya menciptakan batas, agar Jungkook tak perlu berharap lebih lagi pada JooHyun.


 Bukan Jeon Jungkook namanya jika dia menyerah setelah perjuangan panjangnya mengejar JooHyun noona. Ketika JooHyun memintanya untuk tidak datang ke kantor. Dia memilih menunggu JooHyun di halte dekat rumah tinggalnya.


Meski Jungkook sering mengikuti kemanapun JooHyun pergi, tapi Jungkook tak serendah itu untuk menjadi penguntit JooHyun. Yaa, JooHyun pasti merasa terganggu karena terus dikejar oleh  laki laki SMA di usianya yang sudah hampir seperempat abad. Tapi dia melihat niat baik Jungkook padanya dan JooHyun tidak melihat obsesi yang berlebihan pada Jungkook terhadap dirinya. Pemuda itu memiliki cara yang elegan hanya untuk membuat Joohyun terkesima pada setiap pembuktian pembuktian yang dia lakukan untuk menarik hati wanita itu.


Dan sekali lagi, aku terkesima melihat bagaimana dia melepas sepatunya dan memberikannya padaku tanpa ragu... (Bae Joo Hyun)

*WWWMA*


Sore bersinar seperti biasanya, dan lagi gadis gadis itu terus mengarahkan lensa kameranya pada sosok yang sama seperti kemarin. Jeon Jungkook. Beberapa bulan belakangan ini dia tidak mencoba memotong rambutnya, dan membuat hairstyle nya sedikit berbeda. Dia menyemir rambutnya menjadi sedikit pirang kecoklatan, ah apalah itu yang jelas dia melakukan sedikit pergantian model rambut hari ini terlepas dari warnanya. Dan lagi lagi itu membuat semua mata menatapnya dengan kagum... bahkan banyak teman teman lelakinya iri pada ketampanrupawanan pria musim dingin itu.

Dia tak pergi ke tempat biasa, dia hanya berlari ke halte bus dan kembali ke rumah. Mengganti seragamnya dengan kemeja dan membenahi sedikit rambutnya dengan wax lalu kemudian pergi.

Asal kalian tahu saja, dia menjadi puluhan kali tampan dengan kemeja dan warna rambutnya yang baru. Dia cocok.... So Fucking Handsome!



Meski tak ke kantor JooHyun, Jeon Jungkook tetap berniat menemui wanita itu. Tepat... dia menunggu di halte tempat dia biasa turun sepulang kantor. Sore yang cerah itu berlarut larut menjadi gelap. Jeon Jungkook tetap berada di halte bus, menunggu sosok JooHyun yang selalu membuatnya cinta mati.

“Noona, aku ingin memberitahumu sesuatu. Bisakah kita bertemu setelah kau pulang kerja?”


Tapi waktu menunjukkan pukul 09.00 malam dan JooHyun belum nampak juga. Pesan dari Jungkook bahkan belum terbaca. Apa dia begitu sibuk sampai menyelesaikan pekerjaan sampai selarut ini? Batin Jungkook.


Setiap bus yang datang, menjadi harapan baru bagi Jungkook dan bus kali ini adalah harapan yang ke sembilan. Tapi JooHyun masih saja belum nampak meski hanya desahan nafas kesalnya jika ia melihat Jungkook di depan matanya.


“Noona, kenapa malam sekali kau pulang?” gumam Jungkook.

Tak keluar dari bus, sosok yang ditunggunya datang. Berjalan sempoyongan dari sisi kanan jalan. Wajahnya memerah penuh dan  langkahnya tak beraturan.

“Aigoo, wanita ini minum minum ternyata.” Sangka Jungkook. “ Apa harinya sangat berat?”
“Noona, gwaencanha? Kau mabuk?” Jungkook menggenggam lengan JooHyun tapi Wanita itu melepasnya.


“Lepas Kookie-a!!” selorohnya “Jangan menyentuhku, jangan mengikutiku, jangan menggangguku. Araseo!!”



“Noona, kau tidak baca pesanku?” tanya Jungkook.


“Aku tidak tahu, aku tidak mau tahu dan jangan mengirimiku pesan! Kau anak kecil menyebalkan. Jangan ganggu noona!” bicara Joohyun semakin tak karuan. Sudah dipastikan, dia pasti sudah menenggak beberapa botol soju.

“Noona, berapa botol yang kau minum? Kau terlihat sangat mabuk.”



“Tidak aku tidak mabuk, Yak! Jangan bicara denganku. Jauh jauh dariku!”


“Tidak noona, aku akan mengantarmu pulang.”


“Yaa Jeon Jungkook, kenapa kau tidak pernah mendengarkanku, kenapa... kenapa... kenapa... kenapa? ” JooHyun berteriak. Dia bersikap bodoh di depan banyak orang, melempar senyum pada setiap pria dan bertingkah sok manis. “jangan mengikutiku!” teriak Joohyun lagi. Jungkook kemudian diam. Mundur dan pura pura tak peduli. Joohyun berjalan gontai, dengan bau alkohol yang menguar dari bibir pink alaminya.

Jungkook berjalan di belakang wanita mabuk itu. memastikannya untuk pulang ke rumah dengan selamat.

“Jungkook-a, jangan mengikutiku!!” teriak Joohyun dari jauh setelah ia tiba di gang dekat rumah Joohyun. Meski mabuk, Joohyun masih sadar akan banyak hal. Termasuk  langkah  kaki yang sedari tadi mengikutinya.


“Aku memaafkanmu kali ini, tapi lain kali. Aku tak akan berbaik hati membiarkanmu mengikutiku.”


“ Noona!”


“Pulanglah!” kata Joohyun dalam keadaan mabuknya. Dia menyuruh Jungkook kembali.

“Yaa yaa.. Baiklah.” Jawab Jungkook menurut. Jungkook berbalik arah, dan mengurungkan niatnya untuk memberitahu Joohyun tentang hal besar yang ingin diceritakannya sejak tadi.


Meski sudah menjauh, tapi perhatiannya masih terpusat pada JooHyun. Jungkook berjalan mundur agar tetap bisa melihat Joohyun berjalan menuju rumahnya.



“Waaa, lihat! Bukankah itu Joohyun?” Suara muncul dari sekelompok pria yang berjalan tepat di depan Jungkook. Jungkook mengalihkan perhatiannya pada mereka.


“Yaa, bagaimana? Sepertinya dia mabuk.” Kata suara yang lain.


“Bagaimana kalau...” para pria itu saling bertatapan dengan senyuman bengis.


“Kita perlu memberinya pelajaran karena dia menolakku dengan kasar kan?” kata salah satu dari mereka.


“Yaa, dia juga melaporkanku ke polisi karena  aku terus saja mengikutinya.”


“Bagaimana?” tanya yang lain. Anggukan pria yang lain memberikan tanda mereka harus beraksi. Jungkook Melihat ada yang tak beres  dengan mereka segera mengikuti sekelompok pria tadi.


“Yaa, Joohyun-ah...” teriak salah satu dari mereka dan sementara yang lain dengan sigap langsung mengambil langkah untuk menghalangi jalan wanita itu ke rumahnya.


Seseorang menyentuh tangan Joohyun, menariknya dengan paksa dan membenturkannya ke pagar rumah orang lain.

“YAA! Lepaskan tangan kotor kalian!”  Pekik seseorang. Jeon Jungkook menghampiri mereka. Memukul satu persatu dengan tangan kekarnya. Pemain taekwondo sabuk hitam itu menendang salah satu dari mereka hingga tersungkur. Jungkook belum tersentuh oleh tangan mereka sedikitpun. Satu persatu dari mereka jatuh tak berdaya oleh tendangan dan hantaman kaki Jungkook.


Mereka masih tidak menyerah, satu dengan seseorang yang lain bekerja sama,  mereka menyerang dari segala arah dan membuat Jungkook terkena satu pukulan tepat di pipinya. Saat Jungkook lemah, seseorang dari arah berlawanan berusaha menyentuh punggungnya tapi Jungkook mampu menghindar.


“Pria brengsek!”


Jungkook melepas tendangan berputarnya dan membuat salah satu limbung. Tapi dia tak bisa menghindari tendangan di sampingnya yang membuat dia terjatuh tepat di hadapan Joohyun.


“Jungkook-a!” Joohyun gemetar.


Jungkook marah seketika melihat wanita yang dicintainya ketakutan. “Noona, tenanglah. Aku akan menghajar mereka semuanya.”


Jungkook pantang mundur, dia menghampiri  sekelompok pria itu dan menghajarnya satu persatu. Meski Jungkook tak bisa terhindar dari pukulan, tapi dia berhasil membuat mereka bertekuk lutut dan kesakitan. Jungkook menang atas perkelahian satu banding lima. Dibantu dengan jurus jurus dari ekstrakulikuler taekwondonya di SMA.


Jungkook berdiri, menghampiri Joohyun yang masih ketakutan dan menggenggam tangannya.


“Gwaenchana?” tanya Jungkook khawatir dan Joohyun mengangguk. Rasa rasanya pengaruh alkohol pada Joohyun sudah menguap hilang. Joohyun sadar penuh dan tetapi kakinya terasa lemas.

Tak mau mengambil resiko. Jungkook memaksa untuk mengantar Joohyun pulang dan wanita itu hanya mengangguk. Hening, mereka berjalan bersama tanpa ada sepatah katapun terucap. Mereka sibuk dengan pikirannya masing masing meski mereka tahu, mereka sedang memikirkan satu sama lain.


“Sampai...” Kata Jungkook. “Masuklah... setelah itu baru aku akan pergi.” Kata Jungkook.  Joohyun menatap laki laki yang sudah menyelamatkannya malam itu. Dia melihat beberapa goresan di dekat bibirnya dan pipinya lebam.


“Bibirmu berdarah, Jungkook-a.” Kata Joohyun memeriksa wajah Jungkook.


“Tak apa..” jawab Jungkook.


“Masuklah, kau boleh pulang setelah aku mengobatimu!”


“Tidakpapa noona, akan kuobati sendiri.” Kata Jungkook. “Aku lihat kau lelah dan harus istirahat.” Tapi Joohyun menarik tangan Jungkook masuk ke rumahnya.


“Sekali saja kau harus mendengarkanku.” Kata Joohyun.


Setelah mengetik password pintunya, Joohyun masuk diikuti Jungkook yang mengekor padanya seperti seorang adik.

“Duduklah, aku ambil kotak obat dulu.” Kata Joohyun.

Jungkook lagi lagi menurut, dia duduk di sofa panjang berwarna biru sementara Joohyun masuk ke dalam mengambil perlengkapan p3k miliknya.

Dulu ketika aku sangat ingin mengunjungi rumahnya, dia tidak pernah memberi kesempatan itu. Tapi saat aku tidak sedang menginginkannya. Dia membiarkanku masuk begitu saja... Joohyun noona memang tak bisa ditebak.

Dia hidup dengan baik, seluruh ruangannya rapi, foto itu... ya Tuhan itu sangat lucu. Joohyun noona saat kecil sangat imut. Dia memang sudah cantik sejak kecil, pantas saja jika sekarang dia bagaikan bidadari.

“Mwohae?” tanya Joohyun ketika mendapati Jungkook sedang melakukan safari tour melihat foto foto Joohyun di dinding.


“Hanya melihat lihat, noona sudah cantik sejak kecil.” Aku Jungkook.


Joohyun hanya tersenyum “Duduklah... aku akan mengobati lukamu.” Kata Joohyun.


Jungkook menghampiri Joohyun. Mereka duduk berhadapan sementara Joohyun mengambil sebuah cutton bud dan mengoleskan salep luka disana.

“Sedikit perih, tahanlah...” kata Joohyun. Jungkook menahan sentuhan kapas yang menepuk nepuk pelan pipi dan sudut bibirnya. Sesekali dia terkejut ketika Joohyun berhasil menemukan robekan luka yang berdarah itu. Tapi Jungkook menahannya sekuat tenaga.

“Sakit?” tanya Joohyun. Jungkook menggeleng. “Maaf, membuatmu jadi begini.” Sesal Joohyun. Dia menundukkan wajahnya.


“Jangan meminta maaf karena aku akan lebih terluka jika hal yang buruk terjadi pada noona.”  Jawaban Jungkook membuat Joohyun menatapnya.

“Noona....” sebut Jungkook. “Apa benar kau tidak bisa menyukaiku?”


“Jungkook-a, aku...” Joohyun membuang wajahnya.


“Noona menyukaiku!”  kata Jungkook.


“Tidak...” Joohyun bersikeras


“Bohong...”


“Aku tidak bohong..”


“Matamu mengatakannya noona.”


“Sejak kapan kau bisa bicara dengan mataku.”


Jungkook tidak tertawa dengan candaan Joohyun. Dia terus menatap Joohyun lekat lekat. Begitupun Joohyun yang merasa candaannya tidak berhasil memilih membuang wajahnya lagi. Tapi Jungkook menegakkan dagu Joohyun dengan dua tangannya. Tanpa jeda, Jungkook dan Joohyun bisa saling merasakan tarikan nafas keduanya. Perasaan gugup melanda Joohyun, tapi Joohyun tak berusaha menghindarinya.

Tatapan mereka semakin dalam dan selang sedetik kemudian, bibir Jungkook sudah mendarat persis di bibir Joohyun. Tak disangka, Joohyun memilih memejamkan matanya daripada memprotes perlakuan Jungkook.

Mengapa aku bahkan tak bisa menolak pesona lelaki ini sekarang? Bukankah sudah berkali kali aku berhasil melakukannya? Tapi mengapa kali ini aku tidak bisa? Apa aku masih mabuk? Oh tidak tidak, sepenuhnya aku sadar apa yang terjadi. Tapi mengapa Jeon Jungkook tak bisa kuabaikan? Apa aku juga menyukainya.

Jungkook menuntunnya, menyentuh pipi Joohyun dengan kedua tangannya, . Ciuman lembut mereka terasa penuh cinta. Melebur perasaan mereka yang akhirnya tersampaikan. Ciuman singkat itu berakhir dengan kebingungan Joohyun.



“ Jungkook-a.” Panggil Joohyun setelah mereka melepaskan tautan bibir merah muda keduanya.


“Uh?”



“Datanglah padaku saat kau sudah dewasa.”


“Dengan begitu kau akan menerimaku?” tanya Jungkook, dan wanita di hadapannya itu mengangguk.


“Yaa, aku akan mempertimbangkanmu, Jeon Jungkook”


Senyum lebar Jungkook menghias di wajah tampannya. Perjuangannya mengejar seorang Noona paling tidak tak akan berakhir sia sia. Dia hanya perlu menunggu beberapa tahun lagi hingga usianya menjadi dewasa.


Monday, June 5, 2017

Time Can't Change My Heart (Accidentally Love part 4)



Cast : 

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun EXO

Irene Red Velvet as Bae Joo Hyun / Irene

Other Cast : 

Find it By Ur Self











Malam itu, Baekhyun masih betah menempel pada Young Soo meski Irene sudah membolehkannya pulang setelah makan malam. Ini karena Young Soo merengek minta ditemani tidur di kamarnya sebelum Baekhyun  kembali dan Baekhyun tidak bisa menolaknya.

“Eomma, aku mengantuk.” Kata Young Soo saat mereka sedang menghabiskan waktu malas mereka dengan berbaring di depan televisi. “Eomma, kau mau menemaniku tidur kan?” tanya Young Soo pada ibunya.


“Tentu saja nak. Ayo!  Tapi sebelumnya kau harus mengucapkan selamat tinggal pada paman Baekhyun.”

“Tidak, paman Baekhyun juga akan menemaniku tidur, iya kan paman?” Pinta Young Soo.


Mata Baekhyun terbelalak lebar mendengar permintaan Young Soo. begitu pula Irene yang memperlihatkan ekspresi yang sama, mereka terkejut setengah mati.


“Eomma kan sudah menemanimu tidur, dan paman Baekhyun harus pulang sebelum larut malam Young Soo-ya.” Bujuk Irene.


“Ibumu benar Young Soo-ya, Paman harus bekerja besok jadi paman harus pulang. Kan sudah ada Eomma yang menemanimu.” Timpal Baekhyun yang diiringi wajah kecewa Young Soo. Mukanya di lipat dan bibirnya mengerucut. Lucu sekali...


“Paman  besok bekerja? Bukankah kita sepakat untuk pergi berenang besok. Apa orang dewasa suka melupakan janji? Eomma juga suka melupakan janjinya padaku.”  Si kecil Young Soo merajuk.


“ Ya Tuhan Paman Baekie lupa... Baiklah besok kita berenang jadi bersiaplah. Sekarang sana pergi tidur.”


Young Soo menggeleng “Tidak mau jika Paman dan Eomma tidak menemaniku bersama.”


“ Young Soo-ya..kau kan tahu paman Baekhyun harus...” Jawab Irene. Tapi Baekhyun segera memotong pembicaraannya.


“Baiklah, ayo Youngiee... kita  ke kamar!” Jawab Baekhyun. Dia tak mau berdebat dan membuang waktu.

Irene mengkode, matanya bergerak gerak dan mulutnya bicara tanpa suara yang diikuti kedikan bahu Baekhyun dengan tatapan tajamnya seakan mengatakan. “ayo lakukan saja dan segera akhiri setelah Young Soo tertidur!”

Young Soo terlalu semangat berjalan menuju kamar  sambil menggoyang goyangkan tangannya bak tentara hendak berlatih baris berbaris.  Diikuti Irene dan Baekhyun yang sama sama bersikap salah tingkah.

“Paman Baekie, kau disini...” menepuk tangan kirinya di samping kiri dan menepuk tangan kanan untuk Eommanya “ Eomma disini dan Aku di tengah.” Katanya.

Baekhyun dan Irene menurut saja mereka bertiga berbaring di tempat tidur yang sama tetapi pandangan keduanya berhambur kemana saja, asalkan tidak saling menatap.   Kecanggungan diantara mereka terjadi di atas sekotak tempat tidur kecil milik Young Soo.

“Paman Baekie, mana tangan kirimu?” Young Soo menarik tangan kiri Baekhyun diatas perutnya, begitu pula tangan Irene yang diperlakukan sama “Eomma, mana tangan kananmu?” Young Soo meletakkan kedua tangan mereka di atas perutnya.


“Hmm... aku suka seperti ini...”  Young Soo mengangkat tangan Baekhyun dan meletakkan di atas tangan Irene. Irene yang terkejut langsung menarik tangannya, tapi Baekhyun tiba tiba menangkapnya terlebih dulu dan menggenggamnya. Kepalanya mengangguk, memberi kode pada Irene untuk menurut saja. “Sudah lah turuti saja...” kira kira begitu Irene menafsirkan anggukan dan kedipan mata Baekhyun.


Sudah enam tahun yang lalu, dan Irene masih saja berdebar ketika tangannya berada di genggaman tangan Baekhyun yang tak kalah lentik darinya. Irene tak bisa mengendalikan perasaannya dan memilih menutup mata. Kepala mereka saling berhadapan langsung dan tentu saja membuat manik mata mereka bertemu satu sama lain.

Irene memilih memejamkan mata daripada harus menatapnya begitu. Di genggam tangannya saja membuatnya berdebar, apalagi saling menatap mata. Irene pikir jantungnya akan meledak sebentar lagi.

Tangan Irene, Baekhyun dan Young Soo saling menggenggam diatas perut Young Soo, dan anak ini sudah tak bersuara lagi. Matanya terpejam perlahan masih dengan genggamannya yang kuat. Irene pun terlelap tanpa sadar.

Hanya Baekhyun satu satunya manusia yang terjaga. Sesekali dia menatap Young Soo. Dia akhirnya meyakini bahwa Young Soo memang terlalu mirip dengannya, tak bisa dipungkiri, tanpa tes DNA pun semua orang yakin Baekhyun adalah ayah dari Young Soo. Lalu tatapannya menuju pada sesosok wanita dihadapannya. Dia tertidur dengan nyaman, Baekhyun yakin Irene kelelahan hari ini jadi dia bisa tidur dengan cepat.  Irene yang tertidur begini mengingatkannya pada peristiwa dulu, ketika mereka menghabiskan malam bersama dan kemudian Baekhyun sengaja meninggalkannya.

Oh baiklah, harus kuceritakan kejadian saat itu.

Setelah Irene pergi ke toko pienya, Baekhyun akhirnya sadar apa yang dilakukannya salah dan mungkin akan menimbulkan masalah untuk hidup dan karirnya. Dia mencemaskan apa yang sudah dia lakukan bersama Irene. Jadi dia berpura pura mengatakan produser memajukan jadwal rekaman,  dan pergi begitu saja.  Baekhyun juga sengaja tidak menggunakan SNS nya selama satu tahun untuk menghilangkan jejaknya pada Irene.  

Baekhyun berencana membuat Irene melupakan cinta satu malamnya itu.

Baekhyun mungkin berpikir dia sudah berhasil karena Irene tak pernah muncul lagi atau mengganggunya setelah kejadian itu. Baekhyun pikir Irene sudah melupakannya.

Baekhyun pikir kisahnya bersama Irene sudah tak berjejak lagi.

Pikiran pikiran Baekhyun ternyata salah besar.

Tak pernah di sangka, sikap pengecutnya itu membuatnya bermasalah setelah enam tahun berlalu. Pernikahannya mungkin akan gagal jika Yewon tahu bahwa dia memiliki anak dari wanita lain. Yewon wanita yang memiliki kehormatan dan harga diri yang tinggi. Dia juga tidak pernah mentolerir sebuah kesalahan. Bukan berarti Irene tak memiliki kehormatan atau harga diri, Irene hanya pernah buta oleh cinta pada idolanya, Byun Baekhyun.


Jika ada dua orang wanita di otaknya sekarang, Baekhyun  pun akan refleks membandingkan keduanya.

Irene sangat cantik, Dia sederhana dan sangat keibuan, dia bisa merawat Young Soo dengan baik meskipun berperan sebagai orang tua yang berperan ganda. Pintar memasak tetapi mudah jatuh cinta, dan satu lagi... dia pemilik toko pie dari Alsace.


Yewon, dia juga tak kalah cantik, cerdas dan sangat mandiri, perfeksionis,  ingin segalanya berjalan dengan sempurna. Dia hangat dan ceria, tak segan mengekspresikan cintanya pada Baekhyun berbeda dengan Irene yang polos dan pemalu. Dan satu lagi.... Yewon adalah pewaris tahta perusahaan.

Oh Bukan maksud Baekhyun menjadi materialistik. Tapi keduanya benar benar berbeda satu sama lain, dan saling melengkapi kebutuhan Baekhyun satu sama lain.


Dengan sangat egois, malam itu Baekhyun berpikir tentang “Mengapa aku menginginkan keduanya? Bagaimana jika aku menginginkan keduanya. Apa aku salah?”

Fokus pikirannya terpecah ketika tangan Irene terlepas dari genggamannya. Melihat Irene mencoba membuka mata.  Baekhyun memejamkan mata, dia berpura pura tidur. Selain untuk mengatasikecanggungan, Baekhyun juga tidak ingin ketahuan kalau dia menatap Irene selama dia berbaring di sana  dengan pikiran pikiran dan pengandaiannya yang tidak mudah digapai.

Dalam pejaman matanya dia lalu memikirkan dalam dalam tentang  “memangnya siapa aku? Sekalipun aku seorang idol dan digilai banyak gadis, Yewon akan tetap meninggalkanku jika dia tahu aku memiliki anak... dan Irene, dia memiliki harga diri yang tinggi hingga tak pernah merengek untuk meminta pertanggung jawabanku tentang Young Soo. Jika dia tak memiliki harga diri, dia pasti sudah menemuiku setelah kehamilannya dan membuat masalah kemudian menghancurkan karirku. Aku tahu, aku tak sesempurna itu untuk menginginkan keduanya.”

Dalam samar samar mata Baekhyun yang terpejam, wanita itu memandangnya penuh tak berkedip atau beranjak menatap hal lain.

“Bogoshipeo!” lirih Irene. Tangannya yang tadi berada dalam genggaman Baekhyun mencoba mendekat ke wajah innocent  Baekhyun yang terlelap. Irene ingin menyentuhnya, sangat ingin.... Tapi Irene urung,  matanya mengkristal hampir tak terbendung.

Irene menahan keinginannya untuk menyentuh wajah yang selama ini dirindukannya dalam diam. Tapi mengungkapkannya seperti ini malah membuatnya ingin menangis.

Irene bangkit dan duduk di samping tempat tidur Young Soo, membelakangi mereka yang  sudah terpejam. Kepalanya mendongak ke atas dan menekan nekan ujung matanya dengan jari jari. Irene tidak mau menangis di hadapan mereka tentu saja.

“Kenapa seperti ini?” Irene bertanya pada dirinya sendiri.

Kakinya melangkah keluar, menuju halaman belakang. Tempat Baekhyun dan Young Soo bermain tadi siang. Irene duduk sendirian di bangku taman berwarna putih. Bahunya bergerak naik turun. Ternyata Irene tak tahan dan menangis di sana.

Dia mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.


“Hallo, Bibi.... bagaimana kabarmu? Eoh, aku baik baik saja.... Yaa... Young Soo sudah bertemu Baekhyun. Dia di kamarsekarang. Yaa.... aku? Apa aku baik baik saja?.....tentu saja  tidak bi. Aku ingin memeluk Baekhyun, aku ingin bercerita betapa aku membutuhkan dia disisi kami.” Irene berhenti berkisah.... sementara seseorang di ujung sana bicara.


“Aku tidak bisa bi, sudah aku bilang aku tidak kemari untuk merusak pernikahannya demi bertanggung jawab atas kami.... Yaa aku tahu... aku pikir aku hanya berharap dia mau menemui Young Soo. Tapi harapanku jadi terlalu banyak. Aku berubah serakah setelah bertemu dengannya...aku ingin memeluknya, aku ingin mengatakan padanya kalau selama ini aku sangat ingin menemuinya. Aku berharap dia masih sama seperti dulu.”

“Iya bi, aku juga ingin bicara padanya berdua saja.... tapi aku takut aku semakin menginginkan Baekhyun.”


Tanpa di sadari, ada seseorang yang memperhatikan Irene di balik pintu. Mendengarkan semuanya... tidak terlewatkan sedikitpun, bahkan hanya senggukan Irene di sela sela pembicaraannya.







Jadi selama ini Irene masih mencintaiku?

Bagaimana bisa?

Aku meninggalkan dia dengan mudah,

Tidak peduli keadaannya setelah kejadian itu.

Membuatnya merawat Young Soo sendirian.

Tapi perasaannya masih begitu dalam padaku?



Baekhyun cukup terkejut dengan kenyataan itu. Irene sangat pintar menyembunyikan perasaannya, seolah olah Irene sudah tak pernah lagi memikirkannya dan hanya memperhatikan dan mendedikasikan dirinya untuk merawat Young Soo.

Baekhyun berbalik, dia masuk ke dalam dan duduk bersandar di meja bar dapur.  Memikirkan banyak hal, seperti sepatah kata yang diucapkan Irene saat dia pura pura tertidur tadi.


Irene merindukanku?


Setelah sedikit tenang, Irene kembali dan melihat Baekhyun duduk merenung di dapur.


"Baekhyun-sshi?" 


“ Dari mana? Aku mencarimu.” Tanya Baekhyun setelah melihat Irene menghampirinya.


“Mencari udara segar, Kenapa ada di dapur? Kau lapar?” tanya Irene.


Baekhyun menggeleng. “ Tidak..” tapi perutnya menggerutu...


Krrrrrrk............... Irene tersenyum, seolah menangkap basah kebohongan lucu Baekhyun. 




“Perutmu marah Baek, tunggu sebentar. Aku akan buatkan makanan untukmu. Sebelum kau pulang”



“ Tidak usah...” tolak Baekhyun segera.



“Sandwich?” Irene bersikeras.




“Tidak Irene....” Baekhyun tak kalah bersikeras.



“Atau kau mau nasi? Aku bisa buatkan omurice atau....”




“Irene-sshi, Jangan bertingkah baik baik saja. Aku benci melihatnya.” Baekhyun menaikkan satu oktaf suaranya, menegaskan kemarahan  atau ketidaksukaannya atau mungkin, kegusarannya.



Baekhyun juga tidak mengerti mengapa kata itu yang keluar dari mulutnya, tapi yang diucapkan Baekhyun baru saja adalah sebuah kejujuran. Baekhyun benci ketika melihat Irene menangis di halaman belakang tadi. Hatinya ikut terluka tanpa disadari. Apalagi setelah tahu, jika itu karena dirinya.



“ Aku hanya akan membuatkanmu makanan.”




“Tidak usah, aku pulang dulu.” Baekhyun tampak tak peduli dan pergi begitu saja.




“Baekhyun-sshi...” Panggil Irene. Irene ragu akan melanjutkan kalimatnya atau tidak, tetapi  Baekhyun sudah terlanjur menoleh padanya.


“Aku membuat pie anggur. Aku pikir kita bisa...”


“Sudah malam Joo Hyun-ah.”Jawab Baekhyun sebelum Irene melanjutkan kata katanya. Bagi Irene, ketika Baekhyun memanggil nama aslinya. Itu adalah permohonan Baekhyun yang sangat mendalam dari hatinya. Dia tidak ingin berlama lama lagi, batin Irene.


“Bawa pulang dorm saja, Aku membuat satu loyang besar kau bisa membaginya untuk Chanyeol-sshi, dan member yang lain.”


“ Jangan terlalu perhatian!” Jawab Baekhyun kaku. “Aku tidak akan tersentuh dengan sepotong pie, dan jangan mencoba membawa kenangan kita enam tahun lalu. Aku sudah melupakannya.” 


Kata kata Baekhyun baru saja membuat Irene tersadar akan satu hal...

 waktu mungkin tidak merubah perasaanmu, tapi mungkin merubah perasaan orang lain. Enam tahun  mungkin tak merubah rumahmu, tapi bisa merubah pekarangan rumahmu menjadi gedung yang tinggi seiring berjalannya waktu.

Pohonpun berbunga  pada musim semi dan kehilangan daunnya ketika musim panas.

Semua hanya tentang waktu.


“Mengapa hanya aku yang tak berubah, ketika waktu sudah merubah segalanya?” batin Irene.


*Accidentally Love*



 tbc_