_Kyusided_
Aku sungguh bersyukur akhirnya Hyeon menerimaku kembali
setelah lima tahun perpisahan kami. Kalau saja aku tidak menjadi pria yang
pengecut. Aku tidak perlu menunggu waktu selama itu untuk kembali pada Hyeon.
Kalau saja aku tahu Hyeon masih mengharapkan kedatanganku
dua tahun setelah perpisahan kami. Aku pasti akan datang dan meminta maaf
seperti yang dia katakan.
“Apa kau pikir aku tidak akan memaafkanmu kalau kau datang walaupun sangat
terlambat? Kau seharusnya datang,
meminta maaf padaku. Jika aku masih belum memaafkanmu. Teruslah minta maaf.
Jika aku masih mengusirmu, kau seharusnya datang lagi esok harinya dan lakukan
setiap hari sampai aku memaafkanmu.”
Itu adalah kata kata Hyeon yang paling
ku sesali.
Aku duduk bersama Hyeon di
kantin Teater setelah selesai pertunjukan untuk mengganjal perutku. Tenagaku
habis. Pertunjukan tadi adalah pertunjukan terakhirku di teater Seoul, dan dua
hari lagi aku memulai pertunjukan di beberapa kota.
“Bagaimana kalau aku
bertemu ayah dan ibu lagi besok malam?” Tanyaku pada Hyeon. Hyeon masih
mengaduk aduk minumannya dan memikirkan sesuatu.
“Kau benar benar yakin
akan menemui mereka lagi?”
Hubunganku dengan Hyeon
sudah baik baik saja semenjak kejadian dramatis malam itu. Kami kembali menjadi
pasangan kekasih dan semakin romantis seperti pasangan baru dari hari ke hari.
Sayangnya, orang tua Hyeon
menentang hubungan kami.
Bagaimana tidak? Aku sudah
melukainya di hari pernikahan kami. Aku menjadi pengecut di hari pernikahan
kami. Meninggalkannya dengan luka dan rasa malu yang mungkin tidak akan pernah
dia dan orang tuanya lupakan.
Seharusnya saat itu aku
membalas pesannya dan menghubunginya. Bukan hanya mengetik beberapa kata
kemudian menghapusnya kembali. Seharusnya aku meneleponnya atau menulis pesan
padanya untuk menungguku.
Kalau saja aku tidak
terlalu pengecut aku tidak akan menunggu saat saat seperti ini selama lima
tahun.
Bodohnya aku!
Kalau Jong Hyeon tidak menikah dengan Ji Won. Dia
pasti menikah dengan Hyeon, dan aku tidak akan memiliki kesempatan untuk
mendapatkan Hyeon kembali. Ini adalah kesempatanku, aku tidak boleh mengecewakan Hyeon lagi.
“Aku yakin Hyeon, Aku sudah mengecewakan orang tuamu, jadi tugasku seakarang adalah meyakinkan orang tuamu kembali. Apa perlu aku melamarmu hingga mereka
percaya lagi padaku?”
“Kau lari saat pernikahan
Kyu, lamaranmu tidak akan ada artinya.”
“Kalau pernikahan?”
“ Apa perlu ku tegaskan
lagi? Kau pergi saat pernikahan Kyu. Menjanjikan pernikahan tidak akan ada
artinya juga.”
“Apa maksudmu tidak ada
kesempatan lagi?”
“Bersabarlah, kita hadapi
orang tuaku bersama sama. Ibuku sangat tahu aku masih mencintaimu. Apakah
seorang ibu akan membiarkan anaknya bersedih hati sepanjang waktu?”
“Lalu ayahmu?”
“ Kau harus bekerja lebih
keras untuk itu.”
****
Satu bulan berlalu setelah
pembicaraan itu. Tuhan tahu aku begitu tulus untuk memulainya kembali bersama
Hyeon, begitu pula orang tua Hyeon. Mereka menyetujui hubungan kami setelah
pembicaraan yang panjang, tak jarang perdebatan terjadi antara Hyeon dan orang tuanya.
Pernikahan kami
dilaksanakan di Seoul. Tapi kami memutuskan untuk mengundang keluarga dan kerabat
dekat saja.
“Kalau kau tidak pergi
saat itu, kita tidak perlu menghabiskan uang dua kali untuk pesta pernikahan.”
Kata Hyeon padaku
“Aku bisa membiayai
pernikahan yang sama seperti sebelumnya. Bahkan lebih mewah.”
Hyeon mendelik padaku. Apa
naluri seorang istrinya sudah mulai muncul, untuk menghemat pengeluaran
suaminya atau ada alasan lain.
“Apa gunanya lebih mewah
kalau kau pergi lagi...” jawab Hyeon
Aku tersenyum menenangkannya. “Tidak akan Hyeon, kali ini
percayalah padaku.”
***
Lima Tahun Kemudian...
“Cho Hyun Ra... mandi!!!”
Seorang gadis kecil berlari kearahku. Kemudian bersembunyi
di balik badanku, tangannya memegang sisi kanan dan kiri jahitan celanaku dan
memiringkan kepalanya, mengintip ibunya
yang sudah kelelahan mengejarnya untuk mandi sore.
“Ayah, ibu berteriak padaku.”
“Hyeon, kenapa berteriak padanya?” Tanyaku.
“Aku sedikit lelah mengurus rumah hari ini, tapi masih harus
berkejar kejaran dengan Hyun Ra selama satu jam, dan dia tetap tidak mau mandi.”
“Hyun Ra sayang, kenapa kau tidak mau mandi?”Tanyaku. Anakku
yang satu ini sedikit keras kepala, sama sepertiku.
“Aku masih ingin bermain yah.” Kata Hyun Ra dengan suara kecilnya.
“Kau bisa bermain lagi setelah mandi sayang, dan kau harus
menuruti apa kata ibumu. Arraci?”
“Ne, algesseumnida...” Ucap gadis kecilku.
Tiba tiba suara bayi menangis dari kamar kami.
“Kau dengar Yeobo? Aku ingin memandikan Hyun Ra sebelum Hyun
Bin bangun. Tapi karena Hyun Bin sudah bangun. Kau saja yang memandikan Hyun Ra.”
Lma tahun sudah berlalu, aku dan Hyeon sudah memiliki dua orang
anak. Cho Hyun Ra, gadis kecil berusia empat tahun itu sangat dekat denganku
dan selalu menempel padaku sepulang kerja. Dia memiliki sifat dan fisik yang
mirip sepertiku. Anak ke dua kami adalah Cho Hyun Bin. Anak laki laki berusia lima bulan, Karena Hyun Bin masih bayi dan butuh pengawasan ibunya selalu, Hyeon keluar dari pekerjaannya dan ku minta untuk fokus pada
mereka berdua.
Untung Hyeon adalah istri yang penurut. Dia mengorbankan
karirnya untuk kedua buah hati kami. Mungkin awalnya berat bagi Hyeon, dari
seorang wanita karir gila kerja menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus dua anaknya
dan bayi besar ini. Tapi Hyeon tahu,
kedua buah hati kami lebih berharga daripada apapun. Hyeon tidak menyesalinya.
Seiring berjalannya waktu, aku semakin mencintainya. Mencintai Hyeon dan dua buah hati kami yang
tumbuh dengan sangat baik.
Masa lalu yang terjadi diantara kami adalah pelajaran hidup bagi kami untuk menghargai setiap waktu, untuk
tidak bersikap pengecut, untuk berani mengambil resiko dan untuk berani
mengakui kesalahan dan kebesaran hati untuk memaafkan.
Kalau saja aku tidak bekerja bersamanya, aku mungkin akan
tersiksa dengan kesendirianku karena selalu merasa bersalah pada Hyeon. Kalau
saja aku tidak berani meminta maaf atas kesalahanku, aku mungkin akan
menyesalinya seumur hidupku.Hyeon mungkin tidak akan hidup bersamaku dan kedua anak anakku.
Bersamanya adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan.
Ternyata lebih baik hidup saling diam setelah bertengkar hebat daripada harus diam sendiri
karena tidak berani mengakui bahwa diri kami masih saling mencintai.