Sunday, September 4, 2016

Final Goodbye

Tertidur lagi, tepat disampingku dengan tubuh atletisnya yang hanya terbungkus selimut tebal putih hitam, warna kesukaanku, aku juga berbaring disampingnya. Menatap wajah lelah yang sialannya tampak selalu mempesona.


Sudah berapa kali aku berakhir disini bersamanya, dengan wajah polosnya dia selalu membuatku luluh tanpa pembalasan.



Baiklah, cap saja aku sebagai gadis berhati lemah. Tapi bagaimana lagi... Aku benar benar masih mencintainya seperti orang bodoh.



Hari ini dengan sedikit mabuk, dia datang padaku dengan penyesalannya entah untuk yang keberapa kali, matanya memerah. Dia menyihirku dengan permintaan maafnya lagi.



Dia frustasi, katanya.



Melihatku bersama  seorang pria di sebuah cafe dimana dia berada di sana sedang berkencan  dengan wanita baru incarannya.



“Ku mohon, jangan meninggalkanku. ” Katanya.  Dia menyeka air matanya sekali lagi. “Aku menyesal, aku pikir aku sudah tidak mencintaimu dan bermain main dengan Hyerin. Tapi melihatmu bersama pria lain, itu benar benar membuatku sakit.”



Jika aku melakukannya sekali dia sudah merasakan sakit, lalu bagaimana denganku? Sudah berapa kali dia melakukan  ini padaku dan aku masih bisa membuka tanganku lebar lebar ketika dia berusaha memelukku lagi.



Saat itu, aku sudah berencana melepaskannya dan menjalin hubungan dengan orang baru yang kupikir akan membuatku melupakan cintaku yang cukup gila, ku pikir pria yang kutemui itu cukup baik untuk menjadi pasanganku.  Tetapi betapapun pria lain cukup baik, hatiku belum berubah dan masih mencintai dia.



Sudah berapa kali dia mengatakan permintaan maaf di hadapanku, dan aku selalu ingin mempercayainya.  Dia yang selalu datang padaku ketika menyesal dan kemudian mencampakanku ketika dia mengenal wanita lain.



Setiap dia muncul di depan apartemenku, aku selalu menangis. Aku bersyukur dia akhirnya kembali lagi padaku.



Tapi aku harusnya tahu, cintanya padaku seperti musim. Berganti setiap tiga bulan sekali. Dia menggenggam hatiku ketika aku ingin membuka hati untuk orang lain. Namun ketika aku mulai yakin pada permintaannya untuk kembali, dia melemparkanku jauh jauh dengan berbagai alasan yang bahkan sangat dibuat buat.



“Kau benar benar melukai harga diriku. Haruskah kita menyelesaikan hubungan kita sampai disini? Sepertinya aku harus mengejar karirku saja daripada harus selalu bertengkar denganmu.” Katanya pada suatu malam.



Mobilnya perlahan meninggalkanku, dia hanya meninggalkan bekas asap knalpot tepat di seluruh wajahku.



Apa salahku, apa kata kataku ada yang menyinggungnya? Mengapa dia begitu sensitif dengan perkataanku? Bahkan aku sudah meminta maaf padanya dan dia hanya mengatakan malas menjawab pertanyaanku lagi.



Satu hari dia tidak menghubungiku,



Aku sudah sangat gelisah, entah mengapa, aah mungkin karena aku ketakutan dia akan meninggalkanku lagi.  



Aku menghubunginya sekali, dia menjawab satu kata saja. Aku menghubunginya untuk kedua kali, dia juga menjawab pesanku dengan satu kata singkatan saja.



Rasa rasanya langit yang menaungiku akan runtuh lagi untuk yang kesekian kalinya.



 “Apa kau akan meninggalkanku lagi?” tanyaku padanya.



Dia tidak pernah memberiku jawaban itu. Dia hanya mengatakan tidak tahu harus melakukan apa.



Dan tidak jarang muncul kalimat seperti ini terucap dari mulutnya



“Sepertinya aku menyukai gadis lain.”




Benar saja, langit saat itu bagiku runtuh dengan segenap isinya. Meteorit meteorit  seakan menghujani jantungku bertubi tubi.  Aku mungkin sudah hampir gila karena selalu diperlakukan seperti ini.



“ Bukankah  keterlaluan kau mencari cari alasan hanya untuk membuat kita berpisah lagi?”



“Bukankah alasannya sudah sangat jelas, kau melukai harga diriku.”



Iya, harga dirinya sangat tinggi hingga tidak sanggup ku gapai. Bahkan hatiku yang sudah terlampau sering disakiti olehnya  itu tidak bisa membayar lunas atas harga dirinya yang terluka.



Dia begitu pendendam...



Dan Aku begitu takut kehilangannya. Sungguh...



Aku sangat mengingat bagaimana dia menjadikan alasan alasan tak masuk akal itu sebagai senjata untuk terlepas dariku, dan aku pun melepasnya. Bukan tanpa alasan...


Bagiku dia tidak pernah pergi, dia hanya mencintaiku dan hanya bermain main dengan wanita lain. Tapi aku tidak menyadari bahwa hatiku juga selalu terluka ketika dia bermain dengan wanita lain yang dikenalnya.



Jika dia sudah mulai menunjukan tanda tanda ingin mendekati gadis lain, aku bisa tidak makan hingga berhari hari. Sekalipun aku tahu dia akan kembali padaku nanti seperti sebelumnya. Tapi hatiku tetap saja merasa terluka...



Hingga suatu hari aku jatuh pingsan karena kehabisan energi. Aku tidak makan selama beberapa hari dan mendiamkan segelas kopi di meja kerjaku. Sahabatku yang khawatir karena aku tidak menjawab teleponnya mendapatiku tergeletak di samping ranjang dengan wajah pucat pasi. Katanya...aku hampir saja mati.


Aku dilarikan ke UGD, tanpa sayatan di pergelangan tangan, berbeda seperti perkiraan orang orang. Kalau saja mereka tahu aku takut melukai diriku sendiri, mereka mungkin tidak akan berspekulasi aku akan membunuh diriku sendiri dengan sebilah pisau. Bagiku luka di hatiku sudah paling menyakitkan. Jadi untuk apa aku menyayat pergelangan tanganku.



Dia tahu aku dilarikan ke rumah sakit, tapi dia mengacuhkanku. Dia hanya berpikir aku sedang menarik simpatinya atau mencari perhatiannya.



“Kau benar benar tidak mau menemuinya? Kau tidak sadar ini semua karena ulahmu?” tanya sahabatku padanya.




“ Aku tidak pernah memintanya untuk bersedih atau tidak makan karenaku. Dia melakukannya dengan sukarela. Apa itu kesalahanku?”



Kenyataan itu membuatku terpuruk lagi. Sekarang aku tahu, betapapun besarnya aku terluka karenanya, dia tidak akan peduli padaku.  Apa aku harus bertahan dengan sesuatu yang ku sebut cinta ini? Cinta yang membunuhku perlahan lahan.



Entah bagian tubuhku bagian mana yang bereaksi atas kesakitan itu, aku tidak ditampar atau di tusuk dengan belati. Aku hanya mendengar alat alat yang menopang bagian vital tubuhku berbunyi. Sebelumnya, dokter mengatakan pada sahabatku kalau aku mengalami syok pada jantung.




Tapi tiba tiba semua orang berbaju putih mengerumuniku, aku masih mendengar percakapan mereka hingga  kemudian tidak sadarkan diri. 



 aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.



Dia muncul dari pintu kedatangan. Aku pikir dia akan memelukku yang sudah berdiri menyambutnya dengan air mata. Aku pikir dia datang menjengukku, mengucapkan penyesalan seperti biasanya dan kembali bersamaku.



Tapi dia melewatiku.



Menghampiri  sebuah tempat tidur yang masih dikerumuni orang orang berbaju putih.



Dia menangis disana, terus menerus meminta maaf dan meminta orang itu untuk bangun.



Apa wanita itu kekasih barunya? Hebat, dia bahkan ke rumah sakit untuk   kekasihnya, tetapi dia tidak sekalipun mau menemuiku di sini.


Perasaan terlukaku memuncak, bukan hanya terluka, tapi aku marah karena dia benar benar tidak peduli padaku. Aku menghampirinya... berniat menyeretnya keluar dan memberi paling tidak satu tamparan keras di pipinya. Iya, hanya itu keberanian yang kupunya.



Tapi, mengapa aku melihat diriku berbaring? Aku melihat sahabatku menangis, aku juga melihat dia menangis, menyesali kesalahannya.



“Hyeon...” panggilnya. “ Ku mohon jangan meninggalkanku seperti ini.”




***

Sunday, August 14, 2016

Regret



Ponselku baru saja berdering ketika aku menyelesaikan artikel yang harus ku serahkan pada editor besok pagi. Lagi lagi telepon dengan nomor yang disembunyikan.



Aku sudah sedikit malas meladeni telepon ini. Dia selalu membuang waktuku tanpa bicara sepatah katapun di ujung sana.


“Hallo, kau tidak mau bicara? Yasudah kututup saja..”  jawabku seperti biasa.



Sepertinya ini telepon yang ke enam dan aku sudah berencana tidak akan mengangkatnya lagi jika dia menelepon.

Saturday, June 4, 2016

Escape (part 4)

Bersama malam menepis sepi

Jiwaku berputar diantara ragaku

Dan juga akalku..

Aku bukannya tidak waras.

Aku hanya mencintaimu... terlalu


Kyuhyun masuk ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Sosok Shinra yang akhir akhir ini menjadi satu satunya orang yang menjadi penghuni rumah besar ini selain Kyuhyun sedang sibuk dengan panci panas diatas kompor yang menyala. Dia sedang bersenandung sebelum melihat Kyuhyun datang.

“Eoh, Kyuhyun-sshi... anda perlu sesuatu? Aku bisa mengambilkannya.”


“Air putih...” Jawab Kyuhyun singkat kemudian duduk di kursi dapur.


“Kau sedang apa?”


“Memasak ramen.”

“Tidak ada makan malam? Apa Hyukjae belum mengirimkan pengganti bibi Chang? Aish, kurang ajar dia. Kenapa dia malah asik pacaran sementara dia belum menyelesaikan tugasnya dengan benar.”


“Apa? Tuan Hyukjae sedang pacaran?”

Tetapi ada yang aneh dengan perasaan Shinra, dia terkejut mendengar Hyukjae sedang pacaran. Dia cemburu, benar dia cemburu. Shinra menyukai Hyukjae dan Shinra menyadari itu sejak pertemuan pertamanya.

Aah, harusnya aku tahu pria setampan dan semapan Hyukjae pasti sudah memiliki kekasih. Apa yang kau pikirkan Kim Shinra? Menjadi kekasihnya? Oh ayolah.. kau siapa?

“Ooh, emm... saya tahu mungkin saya lancang, tapi jika tidak keberatan kenapa tidak makan ramen bersama saya?”


 “ Aku tidak makan ramen.” Jawab Kyuhyun sambil memutar gelasnya.


“ah, pasti karena tidak sehat.”


“Tapi baiklah, letakkan pancinya di sini.”


“Mwo? Tidak di ruang makan?”


“Di sini saja!”


Shinra dengan semangat meletakkan panci ramen dihadapan mereka. Memberikan sumpit dan mangkuk kecil untuk alas.

“Kimchi? Bibi Chang tadi siang membawa beberapa makanan olahannya kemari.” Kata Shinra, membuka kulkas besar yang berisi beberapa kotak makanan olahan.

Kyuhyun mengangguk semangat. Tidak ada kimchi seenak olahan bibi Chang. Ibunya? Dia adalah sosialita yang tidak akan menyentuhkan tangannya dengan bubuk cabai dan sawi putih. Tidak akan!! Jadi hanya Kimchi bibi Chang yang terbiasa di lidahnya.


Kyuhyun melahapnya dengan rakus, dia seperti merindukan masakan ini setelah sekian juta tahun lamanya.


“Anda sangat lapar?” Tanya Shinra heran, Shinra akhirnya tidak tega menghabiskan ramen di dalam panci. Kyuhyun tidak peduli dan tetap melahapnya sampai dia mengangkat pancinya untuk meminum kuahnya.


‘”Eoh, habis?” Kyuhyun seakan terhipnotis  untuk menghabiskan ramen dan kemudian tersadar setelah isi pancinya habis


“ Anda mau dibuatkan lagi?” tawar Shinra.


“Tidak, sepertinya aku menghabiskan jatahmu juga. Maaf..” Kyuhyun terlihat syok.


“Tidak apa apa, saya sudah kenyang melihat anda makan dengan lahap.” Senyum Shinra.


Tidak apa apa sayang, aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan dengan lahap

“aish, bayangan itu lagi!” Kyuhyun mengerang. “Aku pergi dulu, dan pastikan Hyukjae mendapatkan pengganti bibi Chang sejam besok pagi.”


“Ne?”


“Oh iya, minggu depan kita ke Maldives. Em, bukan hanya kita. Hyeon, Hyunbin, Hyunra dan Hyukjae, aaa dan mungkin kekasih Hyukjae. Jadi bersiaplah. Katakan pada kepala Staff Min kau harus mengurus paspor dan sebagainya.”


“Ne?”


Kyuhyun meninggalkan Shinra dengan sepanci kosong ramen yang sudah mati matian dibuatnya dengan penuh cinta. Untuk dirinya sendiri.

Shinra menghela nafas “ Ku pikir dia sudah sadar dengan kematian istrinya. Kenapa menyebut nyebut mereka lagi?”

Dan tuan Hyukjae yang lucu itu, dia akan bersama kekasihnya. Lalu aku bersama siapa di sana? Aku benar benar cemburu.


Incheon Airport.

Oh Tuhan, bagaimana aku mau menghadapi Hyukjae dan kekasihnya? Aku bisa mati cemburu melihat mereka bermesraan di sana.


Shinra seharusnya gembira dengan liburan yang tidak murah ini. Tetapi dia mengkhawatirkan perasaannya jika bertemu dengan Hyukjae dan kekasihnya.

“Kyuhyun!” Panggil Hyukjae dari jauh.

Dia mendorong sebuah troley berisi dua buah koper besar. Satu miliknya sendiri dan satu milik Han So Hee.


“Ayo cepat, pegawai macam apa yang membuat bosnya menunggu. Kau sungguh luar biasa Lee Hyukjae!”

“ aku menjemput baby Han dulu Kyu, tidak suka sekali melihatku senang.” Gerutu Hyukjae.

Baby Han? Oh baiklah... sepertinya hubungan mereka berjalan dengan sangat baik hingga Hyukjae bisa memanggilnya dengan kata ‘baby’

“Hallo, Shinra-sshi...”


“anyeong, Hyukjae-sshi...”


“Shinra? Kim Shinra?” Han So Hee mengenali gadis yang baru saja disapa Hyukjae.


“Baby Han, kau mengenal Shinra.”


“Han Seonsaengnim?”


“Benar, kau Kim Shinra... Bagaimana kabar ibumu?”


“Dia baru saja keluar dari rumah sakit dan masih membutuhkan perawatan sesekali. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi di sini. Apa kabar saem?”


“Aku sangat baik, Aku pindah tugas di sini. Bagaimana bisa kau disini?”


Jadi ini kekasih Hyukjae sshi? Seorang gadis sempurna yang bahkan aku tidak ada bandingan separuhnya. Dia seorang psikiater yang menangani ibuku tiga tahun yang lalu. Dia membuatku ingin melanjutkan kuliahku di jurusan kedokteran jiwa, tapi untuk sekolah itu, aku membutuhkan banyak uang yang lebih baik kugunakan untuk perawatan ibuku. Aku bisa saja mengajukan pinjaman kampus, tetapi tidak ada yang bisa menjamin. Sehingga kuputuskan untuk mengambil kursus baby sitting.


Aku harus menyerah dan mengikhlaskan tuan Hyukjae pada dokter idolaku. Bukankah aku melakukan hal yang sangat keren!

Tetap saja perasaan Shinra tidak bisa dibohongi. Dia cemburu...

 “aku bekerja menjadi baby sitter...”

 *********************************************************************************




Escape (part 3)

Sudah sekitar seminggu Shinra tinggal di rumah itu. Berakting selayaknya baby sitter yang menjaga bayi bayi Kyuhyun yang tidak berwujud.

Huh, Aku menggendong udara, memandikan tanganku sendiri dan bicara pada dinding.
Shinra menghela nafas.
Rumah itu semakin sepi, karena pengawal sudah tidak lagi berada di sana. Kyuhyun meminta staff kepala untuk membebas tugaskan mereka karena bayangan Hyeon tidak menyukainya. Hanya tinggal staff kepala dan Bibi Chang yang tinggal di sana. Staff kepala terkadang sibuk di kantor atau di rumah Besar, sehingga bibi Chang adalah satu satunya teman bicara Shinra yang berwujud manusia  di rumah sebesar istana itu. Tapi kini, bibi Chang pun ikut  pergi.  Bukan karena Kyuhyun mengusirnya juga. Tetapi karena penyakit suaminya sudah semakin parah.  Bibi Chang harus menjaganya sepanjang waktu hingga akhirnya dia berpamitan.

“Jae-ya, carikan satu pelayan yang  seperti bibi Chang, dia baru saja meninggalkan rumah. Aku benar benar sedih.” Kyuhyun bicara pada Hyukjae di teleponnya.  

Kyuhyun sangat menyayangi bibi Chang seperti keluarganya sendiri. Dia sudah bekerja pada keluarga Cho hampir dua puluh lima tahun. Bibi Chang diperintahkan untuk ikut bersama Kyuhyun di rumahnya sejak 5 tahun lalu oleh ibunya.

Dia yang paling mengerti selera makan Kyuhyun melebihi ibu Kyuhyun sendiri. Dia mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah di rumah sebesar itu sebelum beberapa pelayan membantunya. Namun beberapa pelayan itu juga akhirnya dipindahkan ke rumah besar. Rumah ayah dan Ibunya, dan hanya bibi Chang saja yang tersisa. Kyuhyun benar benar sedih ketika Bibi Chang pamit, dan dia masih berharap suatu saat bibi Chang kembali ke rumahnya.

“Kau suruh saja Shinra mengerjakan pekerjaan bibi Chang, dan ambil satu pelayan dari rumah besar.” Kata Hyukjae santai.


“Yaak, Shinra hanya bertugas mengurus bayi bayiku Lee Hyukjae!”


“Sebenarnya aku tidak suka ada orang baru di rumah itu lagi.” Gumam Hyukjae

Kekhawatiran Hyukjae hanyalah bagaimana jika kondisi Kyuhyun diketahui lebih banyak orang? jika dia mengambil orang dari luar lagi, dia akan membuat perjanjian lagi. Maka semakin bertambah orang yang kemudian mengetahui kondisi Kyuhyun. Itu akan berbahaya, banyak sekali pihak yang menginginkannya jatuh.

“Yaa! Ini perintah dari atasanmu.”


“Dan aku mengatakan hal itu sebagai sahabatmu Kyu. Sudah lah aku mau istirahat, kau tahu aku baru saja mengurus pembelian resort mu di maldives itu kan? Beri aku waktu istirahat sampai besok.”


“Bagaimana kau sudah lihat? Bagus kan tempatnya? Aku ingin mengajak istriku dan bayi bayiku ke sana. Kau harus mengosongkan beberapa jadwalku minggu depan.” Kyuhyun membuka percakapan lain yang tidak mendapat tanggapan bagus dari Hyukjae.


“Ku tutup.” Pungkas Hyukjae.


“Yaak... yaak!! Lee Hyukjae!!!!”


Lee Hyukjae tidak mau lagi berurusan dengan bayangan istri atau bayi bayinya, kalaupun dia harus berurusan. Maka urusannya adalah menyadarkan Kyuhyun untuk menerima kenyataan bahwa istri dan anak yang dikandung istrinya telah meninggal.

Kyuhyun mendengus, Hyukjae semakin seenaknya saja dengan perintahnya.

“Hyukjae sudah gila, dia pikir siapa bosnya? Berani sekali menutup teleponku.” Gerutu Kyuhyun.
**********************************************************************************

Shinra mengikat rambut dan menggulung lengan kaos panjangnya. Dia memakai sarung tangan karet dan mulai sibuk di dapur. Dia mencuci semua peralatan bekas dia memasak.

Pagi tadi Hyukjae menelepon Shinra, dia minta untuk mengurus dapur rumah Kyuhyun dan memasak untuk sarapannya, karena Kyuhyun tidak pernah melewatkan sarapannya sekalipun.

“Shinra shi, kenapa kau disini?”


“Saya hanya mencuci beberapa peralatan yang kotor dan menyiapkan sarapan.”


“Pergi lihat Hyunra dan Hyunbin. Bukankah sudah waktunya memandikan mereka?”


“Saya akan menyelesaikan ini dan....”


“Kau baby sitter, mengapa mengurus pekerjaan rumah huuuh?” Kyuhyun membentaknya. “Aku akan mendapatkan ganti bibi Chang dan dia akan mengurus dapurnya. Kau urus saja hyunbin dan Hyunra. Kau dibayar untuk itu. Bagaimana bisa kau memasak dan mencuci piring kotor sementara kau memegang anak anakku.”

Shinra sudah tidak bisa berkutik. Dilepasnya sarung tangan karet pink di tangannya dan pergi ke kamar. Meninggalkan Kyuhyun dengan sederet sarapan sederhana di atas meja makan.


“Tuan, kata Hyukjae-sshi  anda tidak pernah melewatkan sarapan jadi saya membuatkan beberapa makanan untuk sarapan. Saya harap anda menyukainya.”

Dia kemudian pergi ke kamar Hyunra dan Hyunbin.  Dia selalu pergi ke kamar ini, duduk di sana sendirian sampai Kyuhyun pergi ke kantor. Satu persatu ingatan kembali membawa Shinra pada peristiwa yang cukup mengguncang perasaannya  tiga tahun lalu.

“Yeobo, kapan kau akan keluar? Sarapan sudah siap.” Seorang wanita paruh baya itu memanggil suaminya untuk segera sarapan. Putrinya yang berseragam SMA itu duduk di hadapannya. Dia menunduk, memperhatikan makanan yang sudah dilahap sejak tadi  meski ibunya meminta untuk menunggu ayahnya keluar dan makan bersama.


“Tidak perlu menunggu ayah, bu. Aku sudah terlambat masuk sekolah. Aku harus sarapan dulu.”

Matanya berkaca kaca, dia tidak ingin makan bersama ayahnya. Oh ayolah, bukan tidak ingin. Tetapi tidak bisa.

“Ayah akan mengantarmu ke sekolah agar kau tidak terlambat.”


“Ibu ku mohon!!!” gadis itu meletakkan sumpit dan sendoknya kasar dan berteriak. 


Gadis itu menangis, ibunya pun tak lama ikut menangis. Sarapan pagi yang seharusnya menjadi kegiatan yang membuat semua orang bisa bersemangat melakukan aktifitas. Malah menjadi adegan memilukan setiap pagi. Gadis itu tidak bisa lagi menahannya setelah berbulan bulan dia berakting selayaknya sang ayah masih bersamanya. Dia sudah sangat muak saat ibunya selalu memanggil ayahnya setiap pagi dengan kata “Yeobo”


Ibu gadis itu tidak menerima ketiadaan suaminya.

Dan gadis itu adalah Kim Shinra.

Itulah mengapa dia menerima pekerjaan ini tanpa pikir panjang. Dia pernah mengalaminya dan sampai saat ini dia masih mengalaminya. Ibunya baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena skizofrenia. Skizofrenia ini adalah dampak dari buruknya penerimaan diri ibunya terhadap kematian suaminya.

Dia terus meyakini dan meyakini bahwa suaminya masih hidup sehingga dia sering berbicara sendiri. Keyakinan itu bukan dia tidak tahu bahwa suaminya sudah meninggal. Dia tahu dan sangat mengingatnya. Tapi keyakinan keyakinan bahwa suaminya tidak akan meninggalkan dia di dunia ini menjadi pemicu delusinya.

Halusinasinya juga semakin berkembang setelah dia mengatakan mendengar mobil suaminya pulang kantor dan memanggil manggil mereka sambil membawakan kue ulang tahun Kim Shinra. Itu adalah halusinasi pertama ibunya, dan makin lama bukan hanya halusinasi auditorinya . Halusinasi visualnya pun akhirnya nampak pada dua tahun terakhir. Dia bicara seolah suaminya berpamitan pergi ke kantor atau sarapan bersama seperti biasa.

Bagaimana itu tidak menjadi tekanan pada Shinra, ayahnya yang sangat menyayanginya pergi untuk selama lamanya, seharusnya dia memiliki ibu untuk bisa saling menguatkan. Tapi ibunya malah lebih terpuruk daripada dirinya.

“Mengapa aku masuk ke dunia fantasi seperti ini lagi.” Keluhnya kemudian.











Bar kecil di sudut kota ini sangat tenang. Tidak seperti bar lainnya yang dipenuhi musik yang memekakkan telinga. Tempat dimana seseorang membutuhkan ketenangan atas rasa penat setelah seharian bekerja.

Pria dengan gummy smile khasnya itu duduk dengan segelas beer. Dia tidak mabuk, tidak akan. Hubungannya dengan seorang gadis sedang berjalan dengan sangat lancar. Dia bertemu dengan gadis incarannya beberapa hari lalu dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan ini  yang lebih santai dan tenang.

Han So Hee, ingat kan? Psikiater yang dia temui. Teman kakaknya, Lee Sora. Tidak disangka hubungan mereka berjalan cukup baik walaupun Hyukjae baru menemuinya sekali setelah pertemuan pertamanya. Jadi ini adalah pertemuan ketiga, namun tujuannya adalah membahas kondisi Kyuhyun. Baiklah bukan hanya itu, sambil menyelam  minum air ditambah berpose selfie di dasar sana. Mungkin istilah terbarunya begitu. Selain membahas kondisi Kyuhyun, Hyukjae  juga ingin bertemu dengan So Hee.

“Bagaimana kondisi Kyuhyun?” gadis yang ditunggu Hyukjae itu datang, dia langsung duduk dan tanpa basa basi dia menyodorkan pertanyaan inti pertemuan.


“Masih sama, dan... aku tidak tahu harus bagaimana.”


“Kau tidak mengikuti permainannya kan?”


“M.. em, seperti saranmu.”


“Memang sulit untuk membujuknya pergi memeriksakan diri. Tapi aku benar benar berpikir dia harus mendapatkan konseling.”


“Lalu bagaimana aku bisa membawanya?Kau sudah tau dia pasti akan...”


“Lee Hyukjae, disini kau rupanya.” Sosok tinggi yang dikenalnya menghampiri meja dan duduk di kursi kosong yang tersisa. “Siapa? pacarmu? Sepertinya yang kemarin bukan dia?” serang sosok tinggi itu yang tidak lain adalah sahabat sekaligus bosnya. Cho Kyuhyun.


“Yaak!” Hyukjae kesal atas selorohan Kyuhyun.


“ Siapa?” tanya So Hee pada Hyukjae.


Hyukjae hanya mengedikkan bahu “Abaikan saja dia.”


“Yaa, kau tidak mau mengenalkan pacar baru pada sahabatmu?”


“Oh jadi kau sahabatku?  Kau tidak pulang saja? Kenapa di sini?”


“Aku ingin mampir minum sebentar, tapi karena ada kau selera minumku  jadi hilang. Sebenarnya aku sedikit bosan sendirian di rumah. Aku pergi dulu. ”


“Kkah...” usir Hyukjae.


“Oh ya, aku mau liburan ke villa baruku bersama Hyeon, Hyunbin dan Hyunra. Dan kau, sepertinya harus ikut untuk menghandle pekerjaan di sana.”


“Apa aku boleh bawa dia?” tunjuk Hyukjae pada So Hee.


“Asal jangan membawa kakakmu yang cerewet itu Lee Hyukjae haha.”


“Sialan!!”

Kyuhyun pergi dari bar setelah lima menit bersama Hyukjae. Kyuhyun bisa saja duduk bersama mereka dan minum bersama tapi dia memilih pulang.

“Itu Kyuhyun kan?” Tanya So Hee, hyukjae mengangguk


. “Kau tidak mengambil hati kata kata temanku tadi kan?”

So Hee mengerutkan dahi, tidak mengerti “Tentang?”


“Jangan salah paham karena aku bukan pria yang memiliki banyak wanita.”


“Hahaha, yang benar saja. Kenapa aku harus memikirkan hal itu?”


“Mm... jadi kau tidak memikirkan hal itu kan? Syukurlah.”


“Jangan salah paham, Kita hanya psikiater dan perantara klien. Apa yang perlu aku pikirkan tentang kau mempermainkan banyak wanita. Bukankah itu urusanmu? Dan apa kau tidak sadar? kau baru saja mengusir klien yang seharusnya bisa menemui psikiaternya... hahaha” jawab So Hee.


Jawabannya meruntuhkan hati Hyukjae. Jadi dia hanya perantara klien. Hyukjae kemudian kehilangan semangat. Kupu kupu  yang menari nari di dalam perutnya seakan teracuni dan mati.


“Bukankah Kyuhyun mengatakan dia bosan sendirian di rumah?”  tanya So Hee.


“Molla...” Hyukjae sudah sebal dengan  pembahasan ini.


“Itu artinya dia tidak berdelusi atau berhalusinasi.”


“Bisa kau jelaskan intinya saja?”


“Jangan marah padaku dan temui aku di rumah sakit pada jam istirahat.” So Hee menyunggingkan senyumnya.


“Aku besok sibuk.”


“Apa kau pikir aku tidak? Kita bisa lihat besok apa Lee Hyukjae yang menyukaiku akan tetap menjadi perantara klien atau lebih dari itu.”


“Aku tidak menyukaimu.”


“Haha, benarkah? Ya sudah kalau begitu kau hanya akan jadi perantara klien selamanya.”


Aah sial, Hyukjae terpesona. Dia berniat mengangkat tinggi tinggi gengsinya tapi dia tetap penasaran. Gadis ini bisa saja membuat Hyukjae membumbung tinggi, menjatuhkannya, dan kemudian membuat Hyukjae semakin ingin menemuinya.

**********************************************************************************


Escape (part 2)

Kyuhyun mondar mandir di depan kamarnya. Sikapnya memang semakin aneh, seperti yang dikatakan kepala staff Min. Dia mengambil handphone dan menelepon seseorang.

“Hyukjae-ya, kau belum menemukan baby sitter yang kuminta? Hyeon benar benar kesulitan mengurus dua bayiku sendirian” Panggilan Kyuhyun pada Handphone Hyukjae itu disambut dengusan Hyukjae.


“Aku sudah menghubungi perusahaan penyalur baby sitter, tunggu saja sebentar lagi.” Hyukjae mulai malas. Dia berpikir Kyuhyun sudah melupakan permintaan konyol itu.


“Kau yakin dia berpengalaman?” Tanya Kyuhyun memastikan. Kinerja Hyukjae memang tidak pernah diragukan. Tapi Kyuhyun selalu saja khawatir. Sifat perfectionistnya kadang menjengkelkan banyak orang.


“Aku sudah meminta mereka menyiapkan yang terbaik. Kau tenang saja!” Jawab Hyukjae.


“kau belum memastikannya sendiri?”


“Apa yang harus kupastikan pada orang yang tidak akan melakukan apapun di sana huh?” Hyukjae bertanya kesal. Untuk apa mempekerjakan baby sitter sementara dia tahu bahwa dia tidak memiliki seorang anakpun?


“Lee Hyuk Jae! Mau kupotong setengah gajimu!?”


Baiklah potong saja Cho Kyuhyun, aku tidak butuh uangmu. Aku butuh kesembuhanmu!!!!


“Baiklah..... aku akan memastikannya.”

Aaaaish sial, mengapa yang keluar malah aku akan memastikannya.  Ah dasar mulutku, ah kau sungguh materialistik Hyukjae-ya.  Aah, mengapa aku selalu tidak bisa mengalahkan Kyuhyun dalam perdebatan...aaah betapa payahnya diriku.

>>>> 

Pemilik lembaga penyalur baby sitter menunjukkan pada Hyukjae beberapa foto dan daftar riwayat hidup beberapa calon baby sitter berlisensi yang direkomendasikan. Tapi Hyukjae tidak tertarik. Mereka semua terlalu tua. Hyukjae tidak menyukai wanita tua. Dia suka wanita yang masih muda dan cantik. Persetan dengan pengalaman dan kemampuan, paling tidak matanya harus diberi vitamin A setiap dia pergi ke rumah Kyuhyun.

“Dia masih baru tuan, pengalamannya belum terlalu banyak.”  Kata pemilik lembaga saat Hyukjae menunjuk foto seorang gadis yang masih sangat muda.


“Kalau kau selalu memberikan pekerjaan pada yang lebih berpengalaman. Kapan orang yang baru seperti dia akan mendapatkan pengalaman? Aku ingin nona ini. Nona Kim.... Shin...Ra” Kata Hyukjae mengeja nama gadis itu.  Demi Tuhan, jangan percaya pada kata kata Hyukjae sepenuhnya.

“Baiklah, saya akan memanggilnya.”


Lee Hyukjae membawa Kim Shin Ra ke rumah Kyuhyun, seorang gadis  muda yang manis dan sudah cukup membuat matanya segar setelah melihatnya. Di sela perjalanan mereka ke rumah Kyuhyun,  Hyukjae membawanya ke kedai kopi.


“Kim Shin Ra-sshi, aku ingin membuat perjanjian denganmu.” Kata Hyukjae. “ Kau bisa menerimanya atau menolaknya saat ini. Kau tidak diijinkan menolak setelah mengetahui apa yang terjadi pada rumah yang akan kau datangi.”

“Maksud anda?”

“Singkat saja, aku tidak butuh kemampuan baby sittingmu. Terserah saja kalau kau tak bisa melakukan pekerjaan menjaga bayi, karena aku hanya membutuhkan kemampuan aktingmu.”


“Ne?”


“Kau tidak diperbolehkan membocorkan informasi pada siapapun apa yang terjadi di rumah itu dan... gajimu dua juta won perbulan. Bagaimana?”


“Ne?” Gadis itu semakin kaget.


“Wae? Kau tidak paham?”


“apakah  yang kulakukan ini termasuk tindakan kriminal? Kenapa gajinya banyak sekali?”


“Tidak, hanya menutupi aib seseorang yang sangat penting. Atau lebih halusnya menyembuhkan sahabatku yang sedang sakit. Bagaimana?”


Kim Shin Ra menimbang nimbang, dia menjadi sangat khawatir dengan pekerjaan barunya itu. Mengapa perjanjiannya terlihat mengerikan. Tetapi dua juta won bukan uang yang sedikit. Sekalipun dia menjaga banyak bayi, dia tidak akan mendapat gaji setinggi itu. Dan dia juga membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya. Tidak ada alasan baginya menolak pekerjaan itu selama bukan sebuah tindakan kriminal.


Hyukjae membawanya ke rumah Kyuhyun. Shinra harus memahami apa yang terjadi di rumah itu sebelum Hyukjae memberitahunya lebih jauh.

Kyuhyun sedang duduk santai di ruang televisi saat Hyukjae dan Shinra masuk ke rumah itu. Shinra menyapanya dan Kyuhyun menyambutnya. Memintanya untuk segera membereskan perlengkapan dan bertemu istrinya di kamar bayi mereka.

“Istriku, ini baby sitter yang kau minta.” Kata Kyuhyun di kamar bayinya. Hyukjae memijit mijit dahinya, Hyukjae tahu pasti Shinra sangat terkejut, dia menatap Shinra kemudian.  Seolah bertanya Bagaimana? Kau sudah tahu situasinya sekarang?

“Nona Kim, kau bisa menaruh barang barangmu di kamar. Istirahatlah dulu.”

Kim Shin Ra berdiri mematung sangat lama, menatap arah dimana Kyuhyun bicara pada istrinya baru saja. Sangat lama, tak lama kemudian. Dia tersenyum, membungkuk memberi salam dengan mata yang mengkristal. Shinra mungkin menahan air matanya.


“Shinra-sshi?” Panggil Kyuhyun

“Shinra-sshi?” Hyukjae juga berusaha memecah lamunannya. 


“Eoh,, ne.” Jawab Shinra. Dia pergi menuju kamarnya diantar Hyukjae, membereskan pakaian dan barang barang yang dibawanya. Mulai saat ini, Shinra akan tinggal di kamar ini dan melakukan pekerjaannya untuk menjaga bayi, mungkin lebih tepatnya berakting untuk menjaga bayi.

“Kau ingin menyerah?” tanya Hyukjae di sela aktifitasnya memasukkan baju bajunya ke lemari. “Kau bisa menghentikan aktifitasmu dan angkat kaki dari sini kalau kau mau.”


Shinra menggeleng. “Aku akan melakukannya, kau tenang saja...”


“Benarkah, kau mungkin akan kesulitan nantinya. Bosmu itu bisa menjadi super emosional suatu saat, dan menjadi hangat suatu saat. ” jelas Hyukjae


“Tidak apa apa, aku bisa mengatasinya.”


“ Kalau begitu selamat bergabung. Aku tidak tahu apa jadinya kalau bukan kau yang menerima pekerjaan ini, mungkin mereka akan kabur begitu melihat kejaidan tadi..Oh iya, bukankah kau lebih muda dariku? Tapi aku lebih suka kalau kita seumuran.  mulai sekarang panggil aku Eunhyuk.”  Hyukjae mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri lagi dengan nama yang berbeda.


“Eunhyuk?”

“ Ne, nama pertemananku adalah Eunhyuk.  Dan jangan memanggilku oppa oppa, aku sebal mendengarnya. Sudah terlalu banyak yeo-dongsaeng yang aku punya. Aku sahabat sekaligus bawahan Cho Kyuhyun yang tadi itu. Mungkin lebih tepatnya orang kepercayaannya.  Oh iya, aku ingin bertanya. Bukankah ekspresimu tadi berlebihan. Aku pikir tadi kau mau menangis.“


“Oh.... hanya terkejut saja.” Jawab Shinra. “Eunhyuk-sshi, apa kau tidak membawanya ke psikiater?”


“Aku sedang mengusahakannya.”


“Yaah, membawanya ke rumah sakit jiwa atau ke psikiater pasti melukainya.”


Memang serba salah menjadi seorang Hyukjae, dia pasti saat ingin menyembuhkan sahabatnya, tapi di sisi lain. Dia tidak mungkin terang terangan membawanya ke psikiater mengingat betapa temperamentalnya Kyuhyun belakangan ini.

Melanjutkannya dan mengiyakan permainannya, sama saja menjatuhkan diri Kyuhyun. Berpura pura melihat Hyeon benar benar mengerikan. Dia merasa seperti bicara dengan hantu gentayangan.  Tapi ketika Hyukjae mengelak keberadaan Hyeon, Kyuhyun bisa saja membunuhnya dengan mudah.

Kini, seseorang yang lain masuk dalam lingkaran permasalahan ini. Kim Shinra. Seorang gadis polos yang tidak tahu apapun akhirnya harus mulai ikut campur.


“Jae-ya! Kau dimana?” Teriak Kyuhyun dari entah ruangan yang mana. Suaranya menggema dan Hyukjae segera beranjak dari pembicaraannya.


“Kenapa tuan Cho berteriak?” Tanya Shinra. “Apa kau membuat kesalahan? Apa aku tidak diharapkan bekerja di sini dan dia ingin memprotesmu?”


“Hei tenang saja, dia biasa seperti itu. Lagipula salah siapa memiliki rumah sebesar ini. Jadi dia harus mengikhlaskan pita suaranya kencang hanya untuk memanggilku atau memanggil pelayan yang lain.

“Haha, kau benar juga. Ya sudah cepat sana pergi...”






Escape (part 1)

Seseorang yang sangat kau cintai itu telah pergi.

Mengapa kau tidak menyadarinya?

Mengapa kau menipu dirimu sendiri?

Apa kau sudah gila?



Sore itu matahari perlahan turun, musim semi kali ini sangat cerah seakan memancarkan kebahagiaan pada orang orang yang menikmatinya. Seorang pria muda duduk di teras belakang rumahnya yang sangat luas dengan pemandangan hamparan bunga bunga berwarna kuning cerah. Di mejanya tergeletak dua cangkir teh camomile yang masih terisi penuh.



Pria itu nampak berbincang dengan seseorang. Tatapannya berbinar, seakan menunjukkan cinta yang mendalam pada yang ditatapnya.



Dia tersenyum dan kadang tertawa renyah, entah lelucon apa yang dia dengarkan. Bahkan semua orang yang melihatnya pun akan tahu bahwa pria itu sangat bahagia.




“Hahaha, enam? Kau tidak salah. Aku sih kuat saja. Memangnya kau mau hamil enam kali?”  Tanya pria itu. Kemudian menyeruput sedikit teh camomilenya.



“Iya aku tahu, rumah kita memang sangat besar. Kau pasti kesepian jika aku pergi ke kantor.” Jawabnya lagi.




“Baiklah, kalau kau mau enam. Aku bahkan mau saja jika kau menginginkan 13 anak. Aku bisa membentuk Super Junior Jr nanti haha...” kekehnya setelah mendapat jawaban dari istrinya.



“Yaa, kau tenang saja, uangku tidak akan habis walaupun aku menyekolahkan seratus anakku di Chohwa.” Pria itu menyombongkan diri lagi.  



Sesaat setelah dia tertawa, ekspresinya berubah masam. Kemudian tatapannya kosong. Dia masuk ke dalam rumahnya.



Rumah dua lantai itu dilengkapi berbagai macam peralatan tercanggih, dilengkapi pengamanan berlapis dan cctv yang bertebaran di sudut ruangan.  Beberapa pengawal juga berdiri di segala pintu yang akan dengan sigap menarik gagangnya jika pria ini melintas dari satu ruangan ke ruangan yang lain.



Tidak mengherankan, karena pria ini adalah pemilik tahta “chaebol” nomor wahid di Korea Selatan. Pemilik yayasan amal terbesar dan sekolah para pangeran dan putri petinggi negara, para pemilik perusahaan besar dan para siswa dengan tingkat kecerdasan diatas rata rata.



Selain yayasan amal dan sekolah elit, dia juga memiliki empat perusahaan lain, antara lain produsen mobil yang sudah mendunia “Hyundai” , periklanan, departemen store serta properti. Dia adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam menggerakkan perekonomian nasional.



Wajahnya sering terpampang dalam majalah bisnis atau surat kabar. Seringkali headline-nya terlalu berlebihan jika memberitakan barisan bisnis milik pria ini “Kerajaan Cho semakin mendunia.” Atau “Cho Group mendongkrak ekonomi Asia lewat bisnis properti.” “ Chohwa, sekolah para bangsawan negeri timur.”



Pria itu bernama Cho Kyuhyun, pria muda dengan sederet bisnis dan kekayaan yang sangat menggiurkan. Kehebatannya dalam menghandle semua bisnis miliknya tidak diragukan lagi. Tidak heran jika dia mendapat sebutan si tangan emas, karena setiap perusahaan yang ditanganinya akan menjadi ladang emas dengan penghasilan yang mencengangkan. Pemberitaan di media massa selalu tentang prestasinya. Kebanggaannya memiliki bisnis dengan penghasilan tertinggi setiap tahun. Banyak yang bisa dibanggakan darinya hingga kehidupan pribadinya.



Cho Kyuhyun orang yang ramah, kepribadiannya hangat, membuat semua orang tidak henti hentinya memuji. Bahkan dia didapuk menjadi 10 pria yang sangat ingin dijadikan suami oleh banyak wanita dengan rentang usia 20 hingga 40 tahun.



Idola baru yang muncul karena bidang bisnis memang jarang terjadi, dan beberapa tahun terakhir memang Kyuhyun menjadi bintangnya.  Pria tampan dan mapan,serta berkepribadian hangat sudah mencuri hati banyak orang.



Tapi tidak lama setelahnya para wanita itu akhirnya patah hati juga, Cho Kyuhyun tidak terlalu bersemangat menikmati kepopulerannya di kalangan wanita hingga akhirnya dia mengkonfirmasi rencana pernikahannya dengan seorang wanita yang masih sangat muda. Usianya baru 19 tahun dan mereka menikah di Bali, salah satu landmark negeri di Asia Tenggara, Indonesia.



Pernikahannya pun mempengaruhi harga saham perusahaannya, mereka sempat turun beberapa bulan dan sulit beranjak naik. Akhirnya Kyuhyun mencoba membungkam beberapa media untuk menghentikan pemberitaan tentang pernikahannya dan dia berhasil. Tidak sulit bagi Kyuhyun membuat media diam.



Ya, memang mengherankan jika berhubungan dengan seorang idola. Mereka bisa menaik turunkan harga saham hanya dengan mengangkat rumor dating atau pernikahan.



Tapi Kyuhyun mulai bekerja keras lagi setelah pernikahan, mengembalikan kejayaan perusahaannya yang sempat sedikit tergelincir dari posisi nomor satu dan mencoba merebut kembali tahtanya.



Tidak sulit, Kyuhyun selalu melakukannya dengan baik apalagi sudah ada istri disampingnya yang menjadi penyulut semangat setiap waktu. Gadis itu masih sangat kekanakan tetapi cintanya pada Kyuhyun menunjukkan kedewasaan. Dia juga berkepribadian hangat seperti Kyuhyun, dia bisa membuat Kyuhyun yang tegang karena pekerjaan menjadi lebih santai, bagi Kyuhyun, tidak ada obat penenang yang paling ampuh selain senyuman istrinya.



Istrinya sangat cantik, tubuhnya kurus mungil bak manekin hidup. Dia selalu mendampingi Cho Kyuhyun jika ada pertemuan perusahaan. Gadis itu, sangat anggun, seperti departemen store berjalan. 

.

Tidak tahu dimana Cho Kyuhyun menemukan gadis secantik malaikat itu. Tapi Kyuhyun benar benar mencintainya. Apapun dilakukannya untuk gadis itu. Kyuhyun sempat meninggalkan rapat pemegang saham karena mendengar istrinya terbatuk di telepon. Kyuhyun juga membatalkan konferensinya karena tahu istrinya tidak enak badan, dan kejadian terakhir, Kyuhyun memecat seluruh sttaff di rumah dan pelayan nya yang lalai membiarkan istrinya pergi ke supermarket sendirian.



Kyuhyun hanya tidak akan membiarkan hal hal buruk menghampiri istrinya. Bahkan kuman seujung kukupun tidak akan mampu menempel di tubuh istrinya dengan berbagai cara.  Kyuhyun bisa mengusir bahaya yang mengintai istrinya dengan power yang dimilikinya.



“ Sudah ku bilang tidak ada pria setampan aku yang akan mencintamu selamanya, mengapa kau tidak percaya, huh?” ucap Kyuhyun di sela sela candaannya di ruang TV.



Istrinya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun.



“Yeobo, besok aku ingin berbelanja...” kata gadis itu pada suaminya.



“Sebutkan saja dimana tempatnya. Singapore? Milan? Kita bisa berangkat sekarang juga menggunakan jet pribadi karena aku tidak suka dengan penerbangan umum. Terlalu berisik”



“ Woaah Kau bilang apa, aku hanya ingin berbelanja keperluan dapur denganmu. Kenapa jauh jauh menggunakan jet pribadi.” Gerutu Hyeon.



“Kau benar benar akan membuat bibi Chang memakan gaji buta?” Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke layar besar di depan mereka, dia tidak begitu menyukai permintaan istrinya.



“Ayolah Kyu, aku ingin menikmati masa masa seperti dulu. Berjalan bebas seperti dulu.”



“Kyu??” Kyuhyun mendelik memamerkan mata evilnya.



“Oppa? Chagi?” goda Hyeon memasang wajah  aegyo nya.



“Yeobo! Kau tidak ingat kau sudah menjadi istriku, huh?” Kyuhyun menegaskan status Hyeon.



Em... Pembicaraan itu berlangsung setahun yang lalu. Kini Kyuhyun duduk termangu di ruang kerjanya. Menatap foto besar pernikahannya dengan Hyeon. Tuxedo hitamnya dan gaun putih tulang Hyeon yang sangat anggun. Wajahnya masih kekanakan tapi itulah pesonanya. Kyuhyun mencintai Hyeon tanpa ada sisa lagi di ruang hatinya.




Surat kabar di meja kerjanya kembali dihamburkan ke sembarang tempat. Wajah frustasinya nampak lagi untuk yang kesekian kalinya setiap hari.



Sekuat dan sekaya apapun diri Kyuhyun, dia tidak bisa bernegosiasi dengan Tuhan soal  nyawa. Tidak ada seorang manusia pun yang mampu membeli kehidupan, Istrinya meninggal dalam kecelakan mobil dalam perjalanannya menjemput Kyuhyun yang baru saja menghadiri konferensi di San Fransisco. Hyeon meninggal sesaat setelah diturunkan dari ambulans yang membawanya ke rumah sakit.



Hari harinya begitu terpukul, dia menggelap dan depresi.  Satu bulan dia habiskan di dalam rumahnya tanpa pergi kemanapun. Pekerjaannya di handle oleh sahabatnya yang menjadi kaki tangannya di perusahaan. Lee Hyuk Jae.



Rumahnya tidak lagi penuh pengawal pribadi, hanya beberapa penjaga pintu utama dan pelayan serta satu juru masak. Kyuhyun memindahkan pengawal pengawal mereka ke tempat yang lain. Katanya itu adalah permintaan Hyeon. Istrinya.



“Kau harus memindahkan beberapa pengawal ke tempat lain, istriku tidak nyaman jika rumahnya banyak pengawal seperti ini. Apalagi ini adalah waktu kami sedang berdua..” Kata Kyuhyun.



Kepala Staff rumah Kyuhyun mengerutkan dahinya.



“Kau tidak dengar yang istriku bilang? Dia ingin pengawal pengawal itu pergi!!” Kepala staff kemudian menuruti saja. Tekanan kematian istrinya membuat Kyuhyun menjadi sangat temperamen.



Berdiam diri, sering murung dan temperamental, begitulah Kyuhyun setelah kepergian istrinya, Hyeon. Tapi yang lebih aneh, Kyuhyun mulai bicara sendiri. Dia bicara sendiri di ruang TV, di dapur dan di kamarnya. Kyuhyun akan marah jika pelayannya menyiapkan satu piring saja di meja makan, dia selalu bicara sendiri sambil memakan sarapannya atau makan malamnya. Dia juga akan marah jika pelayannya hanya menyiapkan satu cangkir teh saja di teras halaman belakang.



“Bunga bunga yang kau tanam itu sudah tumbuh indah, kau memang berbakat membuat keindahan.” Kata Kyuhyun suatu sore. Dia menoleh di samping kirinya. Secangkir teh dan sebuah kursi kosong yang tersisa.



Kepala staff menghubungi Lee Hyuk Jae soal ini, dan Hyuk Jae pun mendapati sahabatnya mulai bicara sendiri. Seolah dia sedang bicara dengan istrinya.




Hyuk Jae duduk di kursi kosong di samping kirinya.



Kyuhyun membentaknya dan berteriak “Mengapa kau duduk di pangkuan istriku. Apa kau sudah gila?”



Hyuk Jae merinding, apa benar di sana ada arwah istrinya atau Kyuhyun yang mulai berhalusinasi.



“Yaak, jangan membuatku takut begitu. Bikin merinding saja.”



Kyuhyun mendebat, dan Hyuk Jae tetap bersikeras mengatakan Hyeon sudah meninggal. Tapi Kyuhyun malah menghadiahi Hyuk Jae bogem mentahnya yang membuat sudut bibir Hyuk Jae sedikit robek.



“Kau saja yang mati Hyuk Jae-ah! Bukan Hyeon!” Kyuhyun meraih kerah baju Hyuk Jae dan mengangkatnya tinggi tinggi. Dia marah karena Hyuk Jae menganggap istrinya sudah meninggal.



Mulai saat itu Hyuk Jae tidak pernah lagi membahas kematian Hyeon. Tidak lucu wajah tampannya selalu dirusak oleh Kyuhyun jika dia berkunjung untuk membahas pekerjaan.



Hyuk Jae pun mulai berakting selayaknya dia bisa melihat Hyeon ada di sana. Menyapa Hyeon di samping Kyuhyun dan berpura pura tertawa dengan lelucon dari Hyeon yang bahkan tidak pernah dia dengar. Namun Kyuhyun menjadi baik baik saja karena sikapnya. Kyuhyun semakin membaik dengan meyakini bahwa Hyeon masih hidup.



Apa yang harus Hyuk Jae lakukan?




*******

“Kenapa dasi yang ini, aku lebih suka yang itu Hyeon.” Kata Kyuhyun di dalam kamarnya. Dia mulai lagi dan Hyuk Jae mendengarnya dari luar kamarnya saat dia akan menjemput Kyuhyun di kamarnya.. Hyuk Jae mulai khawatir dengan Kyuhyun, jika dibiarkan Kyuhyun mungkin akan lebih parah dan muncul halusinasi dan delusi yang lain. Ah yang benar saja, jika orang sepenting dia harus menderita skizofrenia.



“Ini tidak boleh terjadi, sebelum dia menjadi lebih parah, dia harus diobati. Harus... hatinya harus diobati.” Ucap Lee Hyuk Jae mantap.



Di rumah, Lee Hyuk Jae termenung memikirkan sahabatnya yang sudah seperti orang gila karena selalu bicara sendiri. Kyuhyun hanya melakukannya di rumah, tapi di kantor, dia seperti Cho Kyuhyun yang biasanya. Hanya saja boss nya itu lebih pendiam dan temperamental. Kehangatan yang selalu dia tularkan ke siapapun telah hilang.



“Kau kenapa?” tanya Lee Sora.



“aku sedang memikirkan Kyuhyun,  dia benar benar tidak bisa diabaikan.”




“Apa semakin parah? Kenapa tidak membawanya ke psikiater?”




“Dia mungkin akan membunuhku karena menyangka dia gila. Hrrrrr, aku benar benar merasa dia bicara dengan arwah istrinya. Dan aku juga berpura pura melihatnya.“




“Yaaak, apa gila itu penyakit menular? Kenapa kau ikut gila?”




“Yaak! Jangan menyebutnya gila.”




“Lalu harus ku sebut apa? Bawalah ke rumah sakit kejiwaan Hyuk Jae-ah, aku benar benar kasian mendengarnya. Kyuhyun itu adik yang baik. Emm, Bahkan lebih baik dari adikku sendiri.”




“YaaK!”




“Wae? Dia yang membiayai kuliahku di Harvard saat adikku ini sudah tidak peduli padaku.”




“Dan sekarang aku bekerja padanya untuk membayar hutang hutang pendidikanmu itu. Kau pikir Kyuhyun memberimu uangnya secara cuma cuma? Kau tidak tahu saja dia memanfaatkan kepintaranku ini untuk mengurus perusahaannya.”



“Aaah, kau benar juga.  Dan Kyuhyun menggajimu lima kali lipat lebih tinggi dari para  petinggi perusahan. Perusahaan macam apa yang melakukan itu pada orang sepertimu. Kyuhyun memang sudah gila sejak awal”



“Noona, jika kau tidak bisa membantuku lebih baik pergi saja. Pergi sana...”




“Em, bagaimana jika kau bawa Kyuhyun pada kenalanku, dia psikiater di rumah sakit Hakwon, lulusan terbaik di John Hopkins university.  Ku dengar pengalaman penanganannya jugaa sudah cukup banyak. Mungkin Kyuhyun akan baik jika dibawa ke sana.”




“Rumah Sakit Jiwa Hakwon?”




“ Aish, aku heran dengan Kyuhyun, dari sekian banyak bidang  perusahaannya. Mengapa dia tidak mendirikan rumah sakit?  Yayasan sosial, panti asuhan, lembaga amal dia memiliki semuanya. Tetapi Dia tidak memikirkan kesehatan dirinya dan banyak orang. ”




“Dia punya, satu di Afghanistan, satu di palestina,  dua di Uganda dan satu di Afrika Selatan.”



“Jjinjja? Wuaaah, daebak! Lalu apa yang dia tak punya?”




“ Istri... dia kehilangan istri. Kau tau? Betapa terlukanya dia eoh?”



“Aaah iya, kau benar.”




“Oh Noona, Dokternya laki laki atau....?” antena feromon Hyuk Jae bersungut sungut.



“Jangan berani menggodanya Jae-ya!”




“Aaa, dia wanita.” Hyuk Jae mengangguk gembira. Baiklah, akan ku bawa Kyuhyun ke sana. Bersiaplah noona, psikiater itu akan menjadi adik iparmu.” Hormon hormon cinta Hyukjae selalu saja mudah terprovokasi oleh kata kata “dia wanita.” Oh baiklah, bagaimana jika dia kambing wanita. Apa hormon cintanya akan terprovokasi juga?




“Yaak Yaaak, ku bilang jangan menggodanya!”


Hyuk Jae hanya menari nari sambil melambaikan tangan pada kakak perempuannya, sebelum 
akhirnya mobil hitam yang dikendarainya menembus jalanan malam menuju rumah super mewah milik Kyuhyun.



“Kenapa datang malam malam? Apa ada masalah di perusahaan?” Tanya Kyuhyun



“Kyuhyun-ah, aku ingin bicara padamu. Aku datang sebagai sahabatmu, bukan bawahanmu.”



“Tentang...”



“Istrimu..”



“Berhenti menyebutnya sudah mati atau kau pergi saja ke neraka!”




“Hyeon sudah meninggal Kyu, kau harusnya tahu.”



Kyuhyun tetap mengelak, dia mengatakan  istrinya masih hidup dan sedang mengurus kelahiran anaknya. Hyuk Jae semakin kesal dan menunjukkan foto foto prosesi pemakaman dan berita di surat kabar tentang kecelakaan maut di San Fransisco yang merenggut istrinya, tapi Kyuhyun masih menyangkal dan mengatakan istrinya sedang memeriksa kandungannya. Kyuhyun semakin tidak masuk akal, dan Hyuk Jae selalu saja kalah melawan Kyuhyun. Jadi usahanya untuk membawa Kyuhyun ke psikiater mungkin akan sia sia.



“Aku tidak bisa diam saja seperti ini. Ah, aku mungkin harus membawa rekaman cctv dan menemui psikiaternya sendiri.”




Esok paginya, Kyuhyun menelepon Hyuk Jae. Dia membutuhkan seorang baby sitter karena anaknya sudah lahir dan mereka kembar. Hyeon belum bisa mengurus mereka bersamaan jadi dia membutuhkan tenaga baru. Kyuhyun meminta Hyuk Jae mencarikan baby sitter yang paling berpengalaman, dia harus berlisensi dan tidak memiliki daftar hitam dalam pekerjaannya.



Hyuk Jae merasa frustasi, niatnya menyembuhkan Kyuhyun rasanya semakin sulit karena muncul dua objek halusinasi lainnya.




Tapi Hyuk Jae tidak menyerah. Dia pergi ke Rumah sakit Hakwon dan bertemu dengan kenalan kakaknya.



Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan nama yang sudah disodorkan Soora. Han So Hee. Hyukjae masuk keruangan itu dan menyapa.



“Silakan, ada yang bisa ku bantu?”



“Permisi, Aku  lee Hyuk Jae”



“Ooh, kau adiknya Sora eonni kan?  Dia bilang adiknya akan datang bersama temannya. Lalu dimana temanmu? ” wanita itu mengikat rambutnya ke belakang memperlihatkan leher putihnya yang menggoda. Matanya besar dan bibir merah mudanya membuat Hyuk benar benar terpesona. 



Uuuu uuu uuu....

her eyes, her eyes make the stars look like they're not shining

Her hair, her hair falls perfectly without her trying

She's so beautiful

And I tell her everyday
.
Mata Hyuk Jae tidak berhenti berbinar menatap dokternya. Hyuk Jae benar benar dibuat jatuh hati pada pandangan pertama. Ooh, betapa bersyukurnya dia memiliki kakak seperti Sora. Oh tidak, mungkin maksudnya memiliki kakak yang memiliki teman secantik dokter ini. Hyuk Jae mungkin rela menjadi gila agar bisa menemuinya  setiap terapi.



“Dia tidak bisa datang. Tapi aku membawa rekaman cctv.“ ucap Hyukjae.




“Oh, baiklah. Ayo kita lihat...” mereka nampak mengamati satu demi satu rekaman cctv  dari rumahnya, tapi Hyuk Jae malah tidak bisa berkonsentrasi, matanya sibuk melirik ke arah wanita di sampingnya dan mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang satu itu.



Dokter jiwa ini benar benar tahu caranya mengambil jiwaku yang kesepian ini...Hehei, Aku sudah gila! Aku tergila-gila.




“Sepertinya dia tidak berhalusinasi. Dia juga tidak melihat istrinya.”




“Tapi mengapa dia bicara sendiri seolah oleh melihat seseorang disampingnya?” Tanya Hyukjae. Dia mulai serius. Ini menyangkut kesehatan sahabatnya dan juga nasib deretan perusahaannya yang mungkin akan memburuk dengan kabar ini.




“Dia hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggal. Jadi dia menyangkalnya, dia terus menyangkalnya setiap hari. Buktinya dia sering terlihat menangis di ruang TVnya”




“Apa tidak berbahaya jika dibiarkan saja?”



“Tentu saja berbahaya, resiliensinya sangat rendah karena dia begitu mencintai istrinya, dan ada tendensi dia mengalami delusi. Karena terus menerus menyangkal kematian , dia mungkin akan meyakini kehidupan istrinya, jika dibiarkan terus menerus dia bisa menderita Skizofrenia”



“Skizo? Hh.. tidak, dia tidak boleh. Lalu apa yang harus ku lakukan?” Hyukjae cemas.



“Kau harus membuatnya menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggal. Apa kau benar benar  tidak bisa membawanya kemari?”



“Eoh? Mmm... entahlah. Dia mungkin marah jika aku membawanya ke rumah sakit jiwa. Emm.. apa kebetulan kau bisa bertemu di luar rumah sakit. Di restoran misalnya?”


Oke baiklah, Hyukjae mulai menyerang dengan memanfaatkan kesempatan. Kali ini bukan hanya demi sahabatnya tetapi untuk dirinya sendiri. Hyukjae menginginkan pertemuan selanjutnya dengan dokter jiwa yang sudah menawan hatinya.



“Mmm... tentu saja. Kapan saja kau ada waktu.”


Hyukjae tersenyum, karena harapan untuk pertemuan selanjutnya terbuka lebar, dan sepertinya dokter jiwa itu juga menyukai Hyukjae.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Akan kuhubungi untuk pertemuan selanjutnya.”Tutup Hyukjae. Dokter itu hanya mengangguk dan tersenyum. Hyukjae pergi dari ruangannya, namun sedetik kemudian dia mengetuk lagi.


“Mm... kita mungkin harus membuat janji sebelum bertemu. Jadi, bolehkah aku...meminta nomormu?”


“Kau bisa memintanya pada Sora Eonni.”


“Aaa, kau benar. Tapi akan sangat canggung meminta padanya....”


Dokter cantik itu menghampiri Hyukjae yang berdiri di depan pintu dan mengambil handphone dari tangan Hyukjae. Mengetikkan beberapa deret angka dan menyerahkan kembali pada Hyukjae. Wajah Hyukjae memerah. Dia tersenyum malu karena dokter itu lebih terang terangan.


“Mm, baiklah.. terimakasih, mm...  aku akan meneleponmu. Segera.... ”

Kali ini apa yang dilakukan Hyukjae di depan ruangan Han So Hee. Dia melompat dan menari sekenanya. Mengekspresikan kebahagiaan yang tiada tara. Hubungannya dengan dokter itu mungkin akan berlanjut.

Hyukjae tidak menyadari berapa pasang mata yang menyelidiknya. Ingin tahu apa yang dia lakukan di sana. Mengapa dia menggerak gerakkan tangan, kaki dan kepala serta senyumannya yang tidak pernah berhenti.


“Huh, sepertinya aku sudah menjadi pasien sakit jiwa...” Hyukjae menepuk kemejanya dan berjalan tanpa mantap tanpa peduli orang orang yang menatapnya geli.

Tak apa karena dokter jiwanya Han So Hee yang begitu cantik
******