Thursday, May 12, 2016

11 Mei 2016



Belajar tentang kehidupan lagi.

Membandingkan kehidupan orang tua dan anak anak.


Siang ini matahari nampaknya malu malu, tidak ada terik  ataupun sinar yang masuk ke dalam ruanganku. Aku masih membolak balikkan badan di tempat tidur luas milik kakakku. Aku tidur di sana setelah kamarku di bajak oleh seseorang.

Aku keluar karena ada ribut ribut di depan. Segerombolan anak anak berteriak dan berlari saling mengejar. Seseorang dengan tepung dan telur menjadi sasarannya.

“Pasti anak itu berulang tahun.” Pikirku

Kemudian aku kembali masuk ke rumah dan menyalakan televisi.

Tetapi mereka semakin ramai. Aku keluar lagi untuk memastikan apa yang terjadi.


“Oh, saling dorong biar pada basah.”  Gumamku lagi. Di depan kontrakanku ada sungai kecil yang mengalir, memang cukup bening dan sering dipakai untuk mandi dan mencuci pakaian oleh penduduk setempat. Mereka saling dorong dan saling lempar di sana. Teman temannya melihat dan tertawa. Satu lagi kawannya di hempaskan ke sungai itu dan tawa kemudian meledak lagi.

Aku senang mengamati mereka, anak anak yang bermain tanpa gadget, suaranya yang nyaring saling berteriak mengingatkan masa kecilku dulu. Bermain di tepi sungai serayu atau memasak daun daun yang ditemukan di pinggir jalan.  Masalahnya hanya siapa yang harus berjalan paling akhir di jalan setapak menuju sungai atau siapa yang harus menjadi pembeli dan siapa yang akan menjadi penjual.

Seperti anak anak itu, masalahnya mungkin hanya bagaimana caranya agar dia tidak ikut di dorong, di hempaskan atau di seret oleh teman temannya masuk ke dalam sungai kecil itu. Sangat simpel...
Dan jika mereka terlanjur masuk ke dalam masalah itu, resikonya adalah bajunya akan basah, hal buruknya mungkin mereka akan dimarahi orang tua atau yang paling parah, mereka akan masuk angin atau flu.


Satu jam kemudian, sebuah mobil pick up terparkir di halaman depan. Anak tetangga sebelahku berlari menghampiri kendaraan roda empat yang berwarna biru itu.

Ayahnya bangkrut!

Anak itu nampak senang, dia membantu orang tuanya mengangkat  peralatan yang mudah di jangkau oleh kekuatan tangan kecilnya.

Ayahnya sibuk mengangkat barang barang yang besar dari dalam rumah seperti lemari, meja belajar, ember, kulkas dan barang yang lainnya.

Sang ibu sudah sibuk mengepel lantai sejak siang tadi karena bau wipol sudah sampai ke area rumahku.

Ya, mereka akan meninggalkan rumah mereka yang belum ada satu tahun mereka tempati. Mungkin hanya enam bulan. Aku ingat mereka menjadi tetanggaku sejak desember 2015.

Anak itu masih dengan ceria mengangkat barang barang dan memberikannya kepada supir pick up untuk di tata. Seandainya dia tahu ayahnya telah bangkrut. Tidak mungkin ada senyum seceria itu di wajahnya.  Ah, bahkan dia mungkin tidak tahu apa itu bangkrut.

Sebagai tetangganya yang sangat dekat, secara tempat. Tanpa diberitahu apapun aku sudah sedikit tahu apa yang terjadi.

Sang Ayah sudah tidak pernah bekerja sejak lama, begitupun ibunya yang hanya ibu rumah tangga. Kendaraan merekapun sudah berubah dari dua kuda besi yang masih sangat baru menjadi kuda bekas besi yang gelap. Mereka yang awalnya suka duduk di depan teras sambil bercanda keterlaluan berisiknya hingga membuatku benar benar ingin pulang karena merindukan keluargaku, kini semakin tertutup, mereka tidak pernah keluar rumah.

Aku masih ingat bagaimana mereka datang dengan kemapanan yang cukup, memiliki dua kendaraan bermotor dan dapur yang mengeluarkan aroma yang menggiurkan tiga kali sehari. Aku pikir mereka memang suka sekali memasak. Dapurnya tidak pernah sepi. Tapi tidak lama, kebiasaan kebiasaan itu berubah.

Tidak lagi berada di teras untuk bercanda, tidak ada lagi tawa lepas seperti sebelumnya dan kemudian pertengkaran pertengkaran sering terjadi setelahnya. Aku sering mengamati penerangan rumah mereka, hanya satu lampu yang menyala dan yang lain dibiarkan padam. Pernah suatu malam, mereka harus hidup tanpa penerangan di rumah mereka karena tidak mampu membeli pulsa token listrik. Dua kendaraannya yang masih sangat baru entah berakhir di mana. Teriakan debt collector yang mencegatnya dari depan dan belakang rumah kemudian membawa ayahnya secara paksa ke kantor. Dapur yang biasanya ramai itu lama kelamaan berkurang intensitas penggunaannya. Aroma aroma yang muncul pun tidak semenggiurkan sebelumnya. Telur goreng dan ikan asin memang nikmat disantap, tetapi hanya sesekali. Bukan setiap hari. Aku tidak melihat mereka menyantap itu, tapi baunya  selalu sampai di dapur bahkan kamarku.

Aku benar benar berpikir bahwa Tuhan mampu dengan sangat mudah membuat manusia  berada di atas kemudian terpuruk di bawah. Itu roda kehidupan, katanya...

Dan anak itu sungguh beruntung karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.Jika anak itu seusiaku dulu saat menghadapi kebangkrutan ayahku mungkin dia akan sangat sedih dan terbebani.

Tapi aku masih bersyukur, semua aset milik ayahku dulu masih bisa menutupi kebangkrutan ayahku. Aku masih bisa kembali ke rumahku yang lebih sederhana daripada rumah besarku sebelumnya. Aku hanya kehilangan satu buah kendaraan roda empat dan masih memiliki satu buah sepeda motor. Dan se sulit sulitnya keluargaku, aku masih bisa makan daging dan  masih bisa menikmati listrik dengan tenang. 

Dua kejadian tadi membuatku benar benar belajar, menjadi dewasa tidak lah mudah. Membuat keputusan dan menjalani resiko dari keputusannya adalah tugas orang dewasa.

Permasalahan orang dewasa yang sangat pelik membuatku berpikir tentang apa itu hidup sebagai orang dewasa. Bagaimana bertanggung jawab atas diri pribadi dan keluarganya serta tidak lagi bergantung pada orang tua.

Karena mereka telah dewasa..

Ternyata masalah orang dewasa tidak bisa di selesaikan dengan pulang ke rumah, karena permasalahannya sendiri adalah rumah.

Bagaimana menikah dengan orang yang tidak bekerja?

Bagaimana menjalani hidup serba pas pasan? Bahkan kekurangan.

Walaupun kita tidak ingin mengalami kejadian itu, bukankah sudah ku bilang Tuhan mampu meninggikan kemudian menjatuhkan.  Siapapun bisa menjalani kehidupan yang sulit seperti itu.










Thursday, May 5, 2016

Catatan Hati di Long Weekend




Sejak pagi tadi, saya melakukan pekerjaan rumah yang cukup banyak. Mencuci baju, membersihkan rumah, mencuci galon yang kotor, membereskan kamar yang berantakan entah sejak kapan, membersihkan dapur dan berbelanja banyak keperluan rumah. Saya sudah merasa, ini bukan saya yang baik baik saja. Saya melakukan pekerjaan yang  terlalu banyak dibanding biasanya, namun saya merasa I'm not doing well.  Setelah melakukan semuanya, saya juga masih menyempatkan berolahraga, covering dance kekoreaan seperti biasa.

Setelah satu jam dengan hanya dua lagu yang diulang ulang (gfriend - me gustas tu and rough) akhirnya saya merasakan lelah. Lelah luar biasa. Mungkin di luar sana banyak yang sudah terbiasa dengan aktifitas pekerjaan rumah yang menumpuk. Tapi saya tidak. Jika sudah mencuci, maka saya akan membersihkan rumah esok harinya. Atau jika sudah membersihkan dapur, maka saya tidak akan membereskan kamar.

Akhirnya saya sadar, begitulah saya ketika suasana hati saya sedang buruk, melakukan pekerjaan rumah yang sangat banyak. Ah tapi saya pikir itu coping emosi yang bagus untuk kelangsungan kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal. Seseorang pun pernah berkata ketika saya mengeluhkan rumah dan kamar yang sudah mirip kapal pecah. “Ngambeklah, maka rumahmu akan bersih.”

Tapi suasana hati yang buruk  tetap saja buruk. Setelah semuanya selesai pun hati saya masih gelisah. Saya masih bertanya tanya ada apa.

Saya lalu menerka nerka, mungkin karena besok long weekend jadi saya kesal, sangat kesal. Awalnya saya kesal karena jadwal pelatihan saya yang seharusnya dilakukan minggu ini harus diundur minggu depan. Itu artinya, saya membuang waktu lagi. Saya benar benar kesal soal long weekend ini. Sudah beberapa malam ini saya bermimpi tentang ujian munaqosah dan wisuda. Sampai saya harus bermimpi bertemu mbak Aida, pemilik salon rias wisuda yang katanya terkenal bagus. Oh ya Allah, saya benar benar semangat karena mimpi mimpi itu. Terlebih lagi, karena rencana rencana setelah munaqosah yang sudah saya rancang untuk melegakan hati yang porak poranda lagi pasca seseorang berpisah dengan seseorang yang lain. Haha, alih alih senang. Saya malah semakin tidak bisa maju ke depan. Bodoh! Saya saja tidak tahu hubungan macam apa yang mereka jalani sekarang. 

Ketika saya tidak memiliki apapun untuk di tonton atau dikerjakan. Akhirnya saya menawarkan diri menemani sahabat saya ke kampus mengambil surat ijin penelitian.  Suasana hati saya semakin buruk karena jalanan macet! Oh ayolah, long weekend dimulai besok tapi kenapa  sudah banyak Si B, D, dan F berseliweran di kota ternyaman ini.Saya benar benar tidak suka long weekend di kota ini. Seharusnya saya ikut Mas Aping pulang dan menghabiskan long weekend di rumah.

“Tapi sabtu kamu harus ke sekolah kan?” tanya sahabat saya.

Setelah menemaninya ke kampus, saya mengajaknya untuk nongkrong, kedai susu selalu jadi pilihan. Kenapa? Karena sehat, saya memang suka susu segar apalagi rasa anggur. Andai saja wine diperbolehkan. Mungkin saya sudah jatuh cinta pada wine. Syukurlah ini hanya susu segar.

Alih alih nongkrong dan bicara asik, sahabat saya malah sibuk dengan laptopnya dan saya jadi sibuk dengan handphone saya. Siapapun saya hubungi supaya saya tidak kesal. Suasana hati saya tidak bertambah baik tapi semakin buruk.

Kami kembali ke kos,  Merasa lelah dan badmood. Saya memilih mendengarkan musik dan berbaring.

Apa yang terjadi jika suasana hati sedang buruk kemudian tidur. Ah sialannya, aku harus bermimpi tentang seseorang lagi. Seseorang yang mungkin sudah saya pikirkan sejak pagi tadi. Menangis? Aku tidak tahu kapan terakhir aku menangisi seseorang itu. Aku bahkan sudah lupa kapan tepatnya. Yang jelas bukan saat saya tahu seseorang itu menjalin kasih dengan seseorang yang lain. 


Tapi sore ini saya menangis.


Long Weekend.... LDR

Kenapa saya teringat lagi tentang LDR hanya karena besok adalah long weekend. Saya hanya terkenang akan sebuah hubungan, yang dulu pernah digadang gadang sebagai LDR, karena long weekend akan menjadi surganya waktu para LDR. Kali ini saya memang tidak memiliki partner semacam itu, tetapi saya terkenang. Oh jadi sebenarnya masalah suasana hati ini hanya karena terkenang? Apalagi sekarang, saya benar benar bodoh!



Merasa bosan di kosan sahabat saya, saya menghubungi sahabat saya yang lain, dia sedang bekerja paruh waktu dan saya mendatangi tokonya.



“Aku bete!”



“Yoo melu aku neng amplaz...” kata Sekar. 



Ternyata sahabat saya mau pergi ngemall cuma mau setor tunai. Saya sih mau aja, yang penting kenangan soal long weekend dan LDR itu segera pergi jauh jauh dari hatiku yang semakin gundah gulana ini.


Kami berempat (Saya, Ina, Sekar, dan mbak Ika) pergi ke salah satu mall di Yogyakarta, saya tidak berniat nonton atau membeli apapun, mengingat minggu depan pengambilan data bakal memakan biaya yang super menguras dompet, saya kemudian hanya clegak cleguk tanpa membeli apapun, sial long dressnya bagus bagus, mukenanya bagus bagus banget!! Besok Ann, pas kamu sudah menyelesaikan semuanya, kau bisa membeli apapun. Kali ini skripsimu yang paling penting.


 Saya hanya ingin berada di keramaian bersama sahabat sahabat saya .  Sekar dan mbak Ika yang  hobi makan, mereka langsung cus ke carrefour dan njogrog di kedai tongji, pesen makanan dan minuman. Sementara saya dan Ina masih sibuk muter muter pameran batik yang keren keren. Rok rok selutut yang megar itu bener bener bikin saya mupeng.Karena rok selutut adalah style impian saya. Saya kadang membayangkan menggunakan rok selutut dengan atasan berkerah setengah sabrina, rambut diikat sesuka hati dan kacamata yang nggak gede gede banget. Terlihat simpel tapi saya selalu suka cewe yang berpenampilan seperti itu.  Tapi Allah membesarkan betis saya sehingga saya tidak mengenakan pakaian pakaian itu. Sungguh cara yang ampuh membuat saya sadar aurat. Walaupun niatnya menutupi kekurangan. Suatu saat, niat itu akan bergerak menjadi sebuah kesadaran yang islami. Jadi saya mendingan kaya gini aja lah.



Setelah lelah mengitari pameran batik batik, saya dan Ina menyusul mereka yang sudah siap makan. Sebuah keberuntungan dikala suasana hati buruk saya harus melihat pria tampan yang sedang menggandeng istrinya.


Awalnya, Saya dan Ina akan menyusul Sekar dan Mbak Ika di Kedai Tongji. Kami berjalan bersisian masih dengan mengobrol tetapi dengan kecepatan marquez dan rossi di lintasan balap. Mungkin karena kupu kupu di perut kami sudah menari nari, mereka ingin makan juga.

Mata saya menangkap sosok tinggi bersih dan mempesona di depan mata. Catet! Mempesona.

Pandangan saya masih menuju pad sosok itu hingga dia berlalu di hadapan saya. Mata saya masih mengawasinya hingga dia masuk ke outlet “backpack”

Saya dan Ina saling memandang. Menyadari sosok pria yang cukup membuat saya terkesan. Dia lebih tampan dan tubuhnya terlihat bagus. Tinggi dan sialan putih bersih. Berbeda sekali dengan yang di layar televisi.


“Kita nggak salah liat kan?” Tanyanya.




“Koe ndelok sopo na?” tanya saya dengan wajah bodoh dan super kucel.



Kemudian kami berteriak serempak



“Fedi Nuril!!!”



Yaa, betapa hebohnya kami berdua. Seorang gadis gadis kota pinggiran yang bertemu dengan aktor terkenal Indonesia tentu saja hal langka. Kami ingin mengajak berfoto tetapi dia masih sibuk berbelanja dan kupu kupu di perut kami tidak bisa mentoleransi apapun. Mau artis kek, mau pejabat kek, pokoknya makan dulu!




Setelah mengisi perut dan heboh berkisah tentang pertemuan kami dengan fedi nuril. Saya pun pulang, setidaknya keberuntungan karena bertemu seorang fedi nuril membuat mood saya sedikit lebih baik, ditambah tangisan tadi. Menangis memang melegakan, dan saya sudah melakukannya dengan baik.



Coping emosi dengan katarsis ini juga cukup baik. Menulis semua apa yang saya rasakan memang membuat mood saya meningkat lagi. Jadi saya bisa tidur dengan suasana hati yang gembira dan bangun dengan semangat yang menyala nyala.

happy longweekend. Rabu rasa Jumat. Kamis rasa sabtu!!


Selamat malam J  happy weekend