Thursday, May 5, 2016

Catatan Hati di Long Weekend




Sejak pagi tadi, saya melakukan pekerjaan rumah yang cukup banyak. Mencuci baju, membersihkan rumah, mencuci galon yang kotor, membereskan kamar yang berantakan entah sejak kapan, membersihkan dapur dan berbelanja banyak keperluan rumah. Saya sudah merasa, ini bukan saya yang baik baik saja. Saya melakukan pekerjaan yang  terlalu banyak dibanding biasanya, namun saya merasa I'm not doing well.  Setelah melakukan semuanya, saya juga masih menyempatkan berolahraga, covering dance kekoreaan seperti biasa.

Setelah satu jam dengan hanya dua lagu yang diulang ulang (gfriend - me gustas tu and rough) akhirnya saya merasakan lelah. Lelah luar biasa. Mungkin di luar sana banyak yang sudah terbiasa dengan aktifitas pekerjaan rumah yang menumpuk. Tapi saya tidak. Jika sudah mencuci, maka saya akan membersihkan rumah esok harinya. Atau jika sudah membersihkan dapur, maka saya tidak akan membereskan kamar.

Akhirnya saya sadar, begitulah saya ketika suasana hati saya sedang buruk, melakukan pekerjaan rumah yang sangat banyak. Ah tapi saya pikir itu coping emosi yang bagus untuk kelangsungan kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal. Seseorang pun pernah berkata ketika saya mengeluhkan rumah dan kamar yang sudah mirip kapal pecah. “Ngambeklah, maka rumahmu akan bersih.”

Tapi suasana hati yang buruk  tetap saja buruk. Setelah semuanya selesai pun hati saya masih gelisah. Saya masih bertanya tanya ada apa.

Saya lalu menerka nerka, mungkin karena besok long weekend jadi saya kesal, sangat kesal. Awalnya saya kesal karena jadwal pelatihan saya yang seharusnya dilakukan minggu ini harus diundur minggu depan. Itu artinya, saya membuang waktu lagi. Saya benar benar kesal soal long weekend ini. Sudah beberapa malam ini saya bermimpi tentang ujian munaqosah dan wisuda. Sampai saya harus bermimpi bertemu mbak Aida, pemilik salon rias wisuda yang katanya terkenal bagus. Oh ya Allah, saya benar benar semangat karena mimpi mimpi itu. Terlebih lagi, karena rencana rencana setelah munaqosah yang sudah saya rancang untuk melegakan hati yang porak poranda lagi pasca seseorang berpisah dengan seseorang yang lain. Haha, alih alih senang. Saya malah semakin tidak bisa maju ke depan. Bodoh! Saya saja tidak tahu hubungan macam apa yang mereka jalani sekarang. 

Ketika saya tidak memiliki apapun untuk di tonton atau dikerjakan. Akhirnya saya menawarkan diri menemani sahabat saya ke kampus mengambil surat ijin penelitian.  Suasana hati saya semakin buruk karena jalanan macet! Oh ayolah, long weekend dimulai besok tapi kenapa  sudah banyak Si B, D, dan F berseliweran di kota ternyaman ini.Saya benar benar tidak suka long weekend di kota ini. Seharusnya saya ikut Mas Aping pulang dan menghabiskan long weekend di rumah.

“Tapi sabtu kamu harus ke sekolah kan?” tanya sahabat saya.

Setelah menemaninya ke kampus, saya mengajaknya untuk nongkrong, kedai susu selalu jadi pilihan. Kenapa? Karena sehat, saya memang suka susu segar apalagi rasa anggur. Andai saja wine diperbolehkan. Mungkin saya sudah jatuh cinta pada wine. Syukurlah ini hanya susu segar.

Alih alih nongkrong dan bicara asik, sahabat saya malah sibuk dengan laptopnya dan saya jadi sibuk dengan handphone saya. Siapapun saya hubungi supaya saya tidak kesal. Suasana hati saya tidak bertambah baik tapi semakin buruk.

Kami kembali ke kos,  Merasa lelah dan badmood. Saya memilih mendengarkan musik dan berbaring.

Apa yang terjadi jika suasana hati sedang buruk kemudian tidur. Ah sialannya, aku harus bermimpi tentang seseorang lagi. Seseorang yang mungkin sudah saya pikirkan sejak pagi tadi. Menangis? Aku tidak tahu kapan terakhir aku menangisi seseorang itu. Aku bahkan sudah lupa kapan tepatnya. Yang jelas bukan saat saya tahu seseorang itu menjalin kasih dengan seseorang yang lain. 


Tapi sore ini saya menangis.


Long Weekend.... LDR

Kenapa saya teringat lagi tentang LDR hanya karena besok adalah long weekend. Saya hanya terkenang akan sebuah hubungan, yang dulu pernah digadang gadang sebagai LDR, karena long weekend akan menjadi surganya waktu para LDR. Kali ini saya memang tidak memiliki partner semacam itu, tetapi saya terkenang. Oh jadi sebenarnya masalah suasana hati ini hanya karena terkenang? Apalagi sekarang, saya benar benar bodoh!



Merasa bosan di kosan sahabat saya, saya menghubungi sahabat saya yang lain, dia sedang bekerja paruh waktu dan saya mendatangi tokonya.



“Aku bete!”



“Yoo melu aku neng amplaz...” kata Sekar. 



Ternyata sahabat saya mau pergi ngemall cuma mau setor tunai. Saya sih mau aja, yang penting kenangan soal long weekend dan LDR itu segera pergi jauh jauh dari hatiku yang semakin gundah gulana ini.


Kami berempat (Saya, Ina, Sekar, dan mbak Ika) pergi ke salah satu mall di Yogyakarta, saya tidak berniat nonton atau membeli apapun, mengingat minggu depan pengambilan data bakal memakan biaya yang super menguras dompet, saya kemudian hanya clegak cleguk tanpa membeli apapun, sial long dressnya bagus bagus, mukenanya bagus bagus banget!! Besok Ann, pas kamu sudah menyelesaikan semuanya, kau bisa membeli apapun. Kali ini skripsimu yang paling penting.


 Saya hanya ingin berada di keramaian bersama sahabat sahabat saya .  Sekar dan mbak Ika yang  hobi makan, mereka langsung cus ke carrefour dan njogrog di kedai tongji, pesen makanan dan minuman. Sementara saya dan Ina masih sibuk muter muter pameran batik yang keren keren. Rok rok selutut yang megar itu bener bener bikin saya mupeng.Karena rok selutut adalah style impian saya. Saya kadang membayangkan menggunakan rok selutut dengan atasan berkerah setengah sabrina, rambut diikat sesuka hati dan kacamata yang nggak gede gede banget. Terlihat simpel tapi saya selalu suka cewe yang berpenampilan seperti itu.  Tapi Allah membesarkan betis saya sehingga saya tidak mengenakan pakaian pakaian itu. Sungguh cara yang ampuh membuat saya sadar aurat. Walaupun niatnya menutupi kekurangan. Suatu saat, niat itu akan bergerak menjadi sebuah kesadaran yang islami. Jadi saya mendingan kaya gini aja lah.



Setelah lelah mengitari pameran batik batik, saya dan Ina menyusul mereka yang sudah siap makan. Sebuah keberuntungan dikala suasana hati buruk saya harus melihat pria tampan yang sedang menggandeng istrinya.


Awalnya, Saya dan Ina akan menyusul Sekar dan Mbak Ika di Kedai Tongji. Kami berjalan bersisian masih dengan mengobrol tetapi dengan kecepatan marquez dan rossi di lintasan balap. Mungkin karena kupu kupu di perut kami sudah menari nari, mereka ingin makan juga.

Mata saya menangkap sosok tinggi bersih dan mempesona di depan mata. Catet! Mempesona.

Pandangan saya masih menuju pad sosok itu hingga dia berlalu di hadapan saya. Mata saya masih mengawasinya hingga dia masuk ke outlet “backpack”

Saya dan Ina saling memandang. Menyadari sosok pria yang cukup membuat saya terkesan. Dia lebih tampan dan tubuhnya terlihat bagus. Tinggi dan sialan putih bersih. Berbeda sekali dengan yang di layar televisi.


“Kita nggak salah liat kan?” Tanyanya.




“Koe ndelok sopo na?” tanya saya dengan wajah bodoh dan super kucel.



Kemudian kami berteriak serempak



“Fedi Nuril!!!”



Yaa, betapa hebohnya kami berdua. Seorang gadis gadis kota pinggiran yang bertemu dengan aktor terkenal Indonesia tentu saja hal langka. Kami ingin mengajak berfoto tetapi dia masih sibuk berbelanja dan kupu kupu di perut kami tidak bisa mentoleransi apapun. Mau artis kek, mau pejabat kek, pokoknya makan dulu!




Setelah mengisi perut dan heboh berkisah tentang pertemuan kami dengan fedi nuril. Saya pun pulang, setidaknya keberuntungan karena bertemu seorang fedi nuril membuat mood saya sedikit lebih baik, ditambah tangisan tadi. Menangis memang melegakan, dan saya sudah melakukannya dengan baik.



Coping emosi dengan katarsis ini juga cukup baik. Menulis semua apa yang saya rasakan memang membuat mood saya meningkat lagi. Jadi saya bisa tidur dengan suasana hati yang gembira dan bangun dengan semangat yang menyala nyala.

happy longweekend. Rabu rasa Jumat. Kamis rasa sabtu!!


Selamat malam J  happy weekend


No comments:

Post a Comment