Belajar tentang kehidupan lagi.
Membandingkan kehidupan orang tua dan anak anak.
Siang ini matahari nampaknya malu malu, tidak ada terik ataupun sinar yang masuk ke dalam ruanganku.
Aku masih membolak balikkan badan di tempat tidur luas milik kakakku. Aku tidur
di sana setelah kamarku di bajak oleh seseorang.
Aku keluar karena ada ribut ribut di depan. Segerombolan
anak anak berteriak dan berlari saling mengejar. Seseorang dengan tepung dan
telur menjadi sasarannya.
“Pasti anak itu berulang tahun.” Pikirku
Kemudian aku kembali masuk ke rumah dan menyalakan televisi.
Tetapi mereka semakin ramai. Aku keluar lagi untuk
memastikan apa yang terjadi.
“Oh, saling dorong biar pada basah.” Gumamku lagi. Di depan kontrakanku ada sungai
kecil yang mengalir, memang cukup bening dan sering dipakai untuk mandi dan
mencuci pakaian oleh penduduk setempat. Mereka saling dorong dan saling lempar
di sana. Teman temannya melihat dan tertawa. Satu lagi kawannya di hempaskan ke
sungai itu dan tawa kemudian meledak lagi.
Aku senang mengamati mereka, anak anak yang bermain tanpa
gadget, suaranya yang nyaring saling berteriak mengingatkan masa kecilku dulu.
Bermain di tepi sungai serayu atau memasak daun daun yang ditemukan di pinggir
jalan. Masalahnya hanya siapa yang harus
berjalan paling akhir di jalan setapak menuju sungai atau siapa yang harus menjadi
pembeli dan siapa yang akan menjadi penjual.
Seperti anak anak itu, masalahnya mungkin hanya bagaimana
caranya agar dia tidak ikut di dorong, di hempaskan atau di seret oleh teman
temannya masuk ke dalam sungai kecil itu. Sangat simpel...
Dan jika mereka terlanjur masuk ke dalam masalah itu,
resikonya adalah bajunya akan basah, hal buruknya mungkin mereka akan dimarahi
orang tua atau yang paling parah, mereka akan masuk angin atau flu.
Satu jam kemudian, sebuah mobil pick up terparkir di halaman
depan. Anak tetangga sebelahku berlari menghampiri kendaraan roda empat yang
berwarna biru itu.
Ayahnya bangkrut!
Anak itu nampak senang, dia membantu orang tuanya
mengangkat peralatan yang mudah di
jangkau oleh kekuatan tangan kecilnya.
Ayahnya sibuk mengangkat barang barang yang besar dari dalam
rumah seperti lemari, meja belajar, ember, kulkas dan barang yang lainnya.
Sang ibu sudah sibuk mengepel lantai sejak siang tadi karena
bau wipol sudah sampai ke area rumahku.
Ya, mereka akan meninggalkan rumah mereka yang belum ada
satu tahun mereka tempati. Mungkin hanya enam bulan. Aku ingat mereka menjadi
tetanggaku sejak desember 2015.
Anak itu masih dengan ceria mengangkat barang barang dan
memberikannya kepada supir pick up untuk di tata. Seandainya dia tahu ayahnya
telah bangkrut. Tidak mungkin ada senyum seceria itu di wajahnya. Ah, bahkan dia mungkin tidak tahu apa itu
bangkrut.
Sebagai tetangganya yang sangat dekat, secara tempat. Tanpa
diberitahu apapun aku sudah sedikit tahu apa yang terjadi.
Sang Ayah sudah tidak pernah bekerja sejak lama, begitupun
ibunya yang hanya ibu rumah tangga. Kendaraan merekapun sudah berubah dari dua
kuda besi yang masih sangat baru menjadi kuda bekas besi yang gelap. Mereka
yang awalnya suka duduk di depan teras sambil bercanda keterlaluan berisiknya
hingga membuatku benar benar ingin pulang karena merindukan keluargaku, kini
semakin tertutup, mereka tidak pernah keluar rumah.
Aku masih ingat bagaimana mereka datang dengan kemapanan
yang cukup, memiliki dua kendaraan bermotor dan dapur yang mengeluarkan aroma
yang menggiurkan tiga kali sehari. Aku pikir mereka memang suka sekali memasak.
Dapurnya tidak pernah sepi. Tapi tidak lama, kebiasaan kebiasaan itu berubah.
Tidak lagi berada di teras untuk bercanda, tidak ada lagi
tawa lepas seperti sebelumnya dan kemudian pertengkaran pertengkaran sering
terjadi setelahnya. Aku sering mengamati penerangan rumah mereka, hanya satu
lampu yang menyala dan yang lain dibiarkan padam. Pernah suatu malam, mereka
harus hidup tanpa penerangan di rumah mereka karena tidak mampu membeli pulsa
token listrik. Dua kendaraannya yang masih sangat baru entah berakhir di mana.
Teriakan debt collector yang mencegatnya dari depan dan belakang rumah kemudian
membawa ayahnya secara paksa ke kantor. Dapur yang biasanya ramai itu lama
kelamaan berkurang intensitas penggunaannya. Aroma aroma yang muncul pun tidak
semenggiurkan sebelumnya. Telur goreng dan ikan asin memang nikmat disantap,
tetapi hanya sesekali. Bukan setiap hari. Aku tidak melihat mereka menyantap
itu, tapi baunya selalu sampai di dapur
bahkan kamarku.
Aku benar benar berpikir bahwa Tuhan mampu dengan sangat
mudah membuat manusia berada di atas
kemudian terpuruk di bawah. Itu roda kehidupan, katanya...
Dan anak itu sungguh beruntung karena tidak mengerti apa
yang sedang terjadi.Jika anak itu seusiaku dulu saat menghadapi kebangkrutan
ayahku mungkin dia akan sangat sedih dan terbebani.
Tapi aku masih bersyukur, semua aset milik ayahku dulu masih
bisa menutupi kebangkrutan ayahku. Aku masih bisa kembali ke rumahku yang lebih
sederhana daripada rumah besarku sebelumnya. Aku hanya kehilangan satu buah
kendaraan roda empat dan masih memiliki satu buah sepeda motor. Dan se sulit
sulitnya keluargaku, aku masih bisa makan daging dan masih bisa menikmati listrik dengan
tenang.
Dua kejadian tadi membuatku benar benar belajar, menjadi
dewasa tidak lah mudah. Membuat keputusan dan menjalani resiko dari
keputusannya adalah tugas orang dewasa.
Permasalahan orang dewasa yang sangat pelik membuatku
berpikir tentang apa itu hidup sebagai orang dewasa. Bagaimana bertanggung
jawab atas diri pribadi dan keluarganya serta tidak lagi bergantung pada orang
tua.
Karena mereka telah dewasa..
Ternyata masalah orang dewasa tidak bisa di selesaikan
dengan pulang ke rumah, karena permasalahannya sendiri adalah rumah.
Bagaimana menikah dengan orang yang tidak bekerja?
Bagaimana menjalani hidup serba pas pasan? Bahkan
kekurangan.
Walaupun kita tidak ingin mengalami kejadian itu, bukankah
sudah ku bilang Tuhan mampu meninggikan kemudian menjatuhkan. Siapapun bisa menjalani kehidupan yang sulit
seperti itu.
No comments:
Post a Comment