Wednesday, November 18, 2015

No Secret!

Hahaha…. I just want to say… I love drama. My life is full of drama and I proud of it.

Drama.. bagi banyak orang mungkin adalah sesuatu yang terlihat sangat berlebihan. Okay that’s right. Lalu apakah salah jika hidup kita penuh dengan drama? Ooo.. tentu saja tidak. Siapa sih yang mengklasifikasikan dan mengkategorisasikan drama dalam hidup adalah sebuah kesalahan?

Aku menyukai drama, aku suka membuat cerita sendiri dalam pikiranku sebelum aku mulai menulis. Aku tidak pernah membuat diriku menjadi tokoh dalam drama yang ada dalam pikiranku. Semuanya adalah makhluk makhluk ciptaan Tuhan lain yang kadang kuanggap cocok dalam visualisasi nantinya. Ketika aku menyukai Miroslav Klose. Maka aku akan membuat drama tentangnya, jika aku menyukai Cho Kyuhyun maka aku akan mulai memikirkan cerita cerita mengenai hidupnya.
Terkadang aku heran ketika orang lain menghindari drama karena drama adalah sesuatu yang mereka pikir berlebihan,tapi  aku malah menyukainya. Aku menyukai hidup dalam menciptakan sebuah drama? Apa aku tidak normal? Saat itu aku bertanya pada diiriku sendiri sejak kapan aku menyukai drama. Apa sejak aku sering membuka buka fancfiction, atau saat aku mulai menyukai seorang pria, atau saat aku jatuh hati pada pria pria hebat semacam Miro dan Kyuhyun.
Tapi malam ini aku mulai merecall satu persatu memoriku. Sejak kapan aku mulai mencintai drama. Aku jadi ingat ketika kelas 4 SD, aku membuat cerita untuk tugas drama bahasa Indonesia. Teman teman menyerahkan tugas membuat ceritanya padaku. Dan aku menyelesaikannya. Ini adalah awal mula aku membuat naskah drama, dan hasilnya belum begitu memuaskan. Karena buktinya kelompok kami tidak masuk sebagai drama terbaik. Baiklah tidak apa apa, aku juga tidak suka pelajaran drama. Aku terlalu grogi untuk berakting di depan banyak orang.
Pelajaran Bahasa Indonesia tentang drama tidak berhenti di Sekolah Dasar. Karena tahun keduaku di Sekolah menengah pertama, kami mendapatkan tugas untuk membuat naskah drama dan menampilkannya di depan kelas. Tugas menulis naskahpun diserahkan kepadaku dan satu temanku. Kami berusaha membuat sebuah cerita yang sangat menarik bergenre Horor. Aku masih ingat ceritanya adalah tentang teka teki villa tua. Di sana aku berperan sebagai Hazzel, seorang bocah laki laki si ketua rombongan.  Kenapa aku berperan sebagai laki laki? Karena tidak ada laki laki di kelompok  ku dan aku satu satunya yang berambut pendek. Aku masih ingat betul siapa nama hantunya. Karmaya yang menyedihkan dan teman teman hazzel yang kembar dan Gio si tampan penakut. Kalian tahu? kami sukses mendapat nilai A dalam naskah dan penampilan terbaik. Aku semakin percaya diri dengan naskah drama yang aku buat.
Aku masih belum mencoba untuk menulis, karena aku pikir menulis adalah aktifitas yang sangat tidak menyenangkan. Berkutat dengan tulisan tulisan dan bagiku sangat melelahkan. Tetapi tanpa sadar aku menjadi suka membaca, sebuah modal utama untuk menulis.
Membuat naskah drama juga ku lakukan di Sekolah menengah Atas. Project akhir pelajaran bahasa Indonesia adalah menampilkan sebuah drama. Dan lagi lagi aku didapuk sebagai penulis naskah. Drama ini berjudul “Hantu Senonoh” Aaah benar, kenapa sejak dulu hanya horror dan horror. Aaah perlu kalian tahu juga, judul tersebut memang cukup membuat orang bertanya tanya. Apa sih hantu senonoh? Apa hantunya melakukan kejahatan seksual atau semua yang berhubungan dengan  hal hal yang tidak patut di contoh. You are totally wrong. Drama ini adalah parody dari Romeo and Juliet yang akhirnya menjadi hantu yang berada di “Sono noh…” dimana orang orang mendengarnya menjadi senonoh.
Kami membuat ruang pertemuan orang tua di sekolah menjadi teater sementara  dan memberlakukan tarif masuk (Rp 5000) untuk menonton drama kami. Dan akupun menjadi sutradara dalam latihan kami. Kalian tahu? Di dalam latihan drama ini juga banyak drama lain yang berkembang. Tentang kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan dan temanku yang pingsan karena dipaksa mencintai teman sekelasnya dengan ancaman dia tidak akan ikut drama jika dia tidak membalas cintanya. Lucu bukan? Hidup memang penuh dengan drama. Mengapa banyak orang terlalu membenci drama?
Di akhir  pertunjukan, kami merasa kami telah sukses besar menggarap project drama itu. Tiket kami terjual habis dan salah satu teman SMPku yang menyempatkan hadir berkomentar baik tentang drama kami. Lalu dia mengatakan padaku satu hal. “Kamu berbakat kalo bikin naskah drama.”  Haruskah aku berbangga hati? Sepertinya belum saatnya. Karena masih ada saja orang yang benci drama karena dia membenci orang yang menyukai drama. Bingung? Ah sudahlah… Aku juga sedikit bingung kenapa aku tiba tiba merecall ingatan ingatan itu. Tapi setelah mengingatnya. Bolehkan aku bermimpi menjadi penulis naskah drama? Sejujurnya aku masih terlalu kesulitan membuat naskah novel atau fanfiction. Dan menulis naskah drama aku pikir lebih mudah karena tidak perlu adanya monolog yang terlalu panjang.

Bagi yang tidak menyukai drama, aku pikir mereka harus berpikir ulang. Wanita wanita pecinta film atau novel cinta? Bukankah itu drama? Wanita penikmat drama Korea? Bukankah itu drama? Bahkan pria pria yang dengan kerasnya menyuarakan benci drama juga termakan oleh drama. Drama dalam sepak bola misalnya, drama adu pinalti yang membuat mereka mengumpat atau berteriak.  atau yang terbaru adalah drama dalam event balap internasional Moto GP, drama antara Marquez  dan Vale yang saling berkejaran dan saling tendang di Sepang Malaysia serta drama akhir season 2015 di Valencia. Mereka saling bela, saling umpat dan saling membenarkan pembalap idolanya. Dan jika dicermati, hidup kita adalah drama yang ceritanya kita buat sendiri.
Drama tentang pria yang kau sebut bukan pria dan akhirnya tetap kau maafkan dan kembali padamu adalah salah satu drama dalam hidupmu. Apalagi yang mau ingin kau tahu? Bahkan kau membuka blog pribadiku yang semua isinya adalah drama. Kau menikmatinya? Atau Kau menertawakannya? Kau mengumpatnya? Hei, jangan membenci sesuatu karena orang yang kau benci menyukainya.

 Waaah, daebak! kau masih membacanya sampai disini? Ckckck kau terlalu naïf mengatakan tidak menyukai drama. Ah atau kau tidak punya tempat untuk mencari tahu tentangku sampai kau berada di sini?  Sudahlah, kalian sudah berlalu dari hidupku jadi ayo jalani hidup masing masing.  
Dan satu lagi, aku masih punya tumblr, kalau kau mau lihat juga boleh… tapi cari sendiri ya. Aku malas mengetiknya untukmu.  


Thursday, November 12, 2015

Tuesday, November 10, 2015

Emily (Part 11)



Emily part 11

Kedai Kopi di dekat kantornya selalu menjadi tempat terbaik setelah melepas penat di kantor serta kunjungannya ke beberapa toko buku. Sekarang Emily hanya tinggal menyelesaikan beberapa kunjungan promosinya dan dalam waktu satu bulan dia akan kembali ke Indonesia.

Emily (Part 10)




Emily part 10
Beberapa hari berlalu. Cho Kyuhyun dibuat pusing karena perusahaan ayahnya, harga saham semakin terpuruk, merangkak satu dollarpun tidak. Dia benar benar tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Artis artisnya semakin banyak yang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak. Untuk pertama kalinya Cho Confession tidak masuk dalam 5 besar agensi dengan penghasilan terbanyak.

Emily (Part 9)


Emily part 9

<author pov>
“Selain menabrak mobil, kau juga hobi meninggalkan barang barangmu ya? Teledor sekali kau nona.”  Suara seorang pria yang baru saja masuk ke kedai kopi langganan Emily.

Emily (Part 8)




<Emily pov>

Draft novel ‘Memories’ ku sudah berakhir di tangan editor, aku hanya menunggu mereka mengedit naskah dan mengalih bahasakannya menjadi bahasa korea. Bekerja di musim yang dingin membuatku menjadi banyak makan, berat badanku naik beberapa kilogram tapi mungkin otakku telah menyusut. Aku telah menggunakan segala daya dari sistem saraf pusatku secara berlebihan beberapa bulan ini.  AKu harap hasilnya sesuai dengan harapanku dan harapan perusahaan.

Emily (part 7)




Hari hari berlalu dengan cepat, udara musim gugur yang dingin, berubah semakin dingin.  Emily mengeratkan mantel hangat yang menempel di tubuhnya. Berjalan di pedestrian yang ramai bersama pejalan kaki yang lain. Boot hitam tinggi yang dibelinya kemarin mempercantik kaki jenjangnya. Wajahnya yang seputih susu itu merona merah, pucuk hidungnya juga memerah, dan hal yang paling menyenangkan dari udara dingin adalah asap yang keluar dari mulutnya. Tidak ada yang lebih menarik dari memonyongkan bibirnya dan mengeluarkan kabut kabut asap dari dalam mulutnya . Dan lagi lagi ini adalah permainan menggelikan dari manusia tropis seperti Emily.
“Waaaw, winter almost come!”
******
Rapat dewan direksi untuk pengangkatan CEO baru Cho Confession (CC) Entertainment sedang dilakukan. Seorang pewaris perusahaan kelas atas seperti Cho Kyuhyun tidak bisa berkabung terlalu lama. Bahkan setelah pemakaman ayahnya, dia harus segera ke Swiss menemui relasi kerja yang seharusnya ditemui oleh ayahnya saat itu.
Sepertinya, rapat tidak berjalan dengan baik, karena keputusan dewan direksi berlangsung stuck,hasil voting menunjukkan 50 % anggota direksi menginginkan Cho Kyuhyun menggantikan posisi ayahnya, namun 50% yang lain menolaknya. Alasannya beragam, dan kebanyakan dari mereka mengandalkan rumor rumor yang beredar tentang Cho Kyuhyun. Seorang anak CEO berandalan dan tidak pernah belajar tentang perusahaannya tentu saja tidak akan sanggup memimpin perusahaan sekelas CC Entertainment, walaupun dia adalah generasi ke tiga pendiri perusahaan tersebut.
“ Saya mengerti keresahan semua orang sibuk disini tentang kelangsungan perusahaan, tapi dengan segala kerendahan hati, saya akan berusaha untuk mempertahankan perusahaan tetap menjadi yang terbesar di Korea Selatan. Saya tahu musibah meninggalnya ayah saya adalah hal yang berada di luar kendali saya, dan menjadi anak dari  CEO perusahaan juga di luar kendali saya, tapi sebagai orang yang akan memimpin perusahaan ini saya akan membuatnya lebih dari yang ayah saya bisa lakukan.”
“Kami sangat menyukai semangat anda, tapi bagaimana anda akan mewujudkannya?”
“Kenaikan harga saham yang signifikan hingga 15% selama 6 bulan.”Kata Cho Kyuhyun percaya diri.
“6 bulan? Bukankah Itu terlalu lama?”
“ 5 bulan?” Tanya Kyuhyun.
“Bagaimana jika 10% selama 3 bulan?”

“ Apa anda tidak keterlaluan tuan Park Jeon Soo.” Salah satu dewan direksi dari kubu Cho Kyuhyun menanggapi tawaran kubu yang menolak Cho Kyuhyun sebagai CEO.
“Baiklah, 10% dalam 3 bulan.” Kata Cho Kyuhyun, ia bahkan menyetujuinya tanpa berpikir.
“Tuan, ini tidak semudah yang anda bayangkan. Bahkan ayah anda belum pernah melakukannya.”
“Benarkah? Kita harus membuktikannya kalau begitu.” Cho Kyuhyun berdiri dengan gagah penuh percaya diri.
<Cho Kyuhyun pov>
Aku benar benar tanpa bayangan ketika menyetujui 10% dalam tiga bulan. Aku pikir 10% itu  angka yang mudah untuk diraih, tapi Ketua Shin, tangan kanan ayahku mengatakan padaku aku sedang menggali lubang kuburku sendiri.  
Begitulah dunia bisnis, bahkan ketika sekumpulan orang berada di satu atap perusahaan yang sama, mereka juga akan saling menjatuhkan. Itu adalah alasan mengapa aku tidak pernah menyukai perusahaan ayahku. Hidup bersama orang orang yang tidak bisa dipercaya karena mereka semua berusaha saling menjatuhkan. Menjilat yang berkuasa dan meremehkan yang bukan apa apa.
Duduk di kursi hitam dengan sandaran yang menjulang tinggi dan kaki kakinya yang berputar inipun rasanya membosankan. Sendirian di ruang sebesar ini, tanpa bertatap muka dengan siapapun. Didatangi hanya untuk dimintai tanda tangan. Selebihnya aku tidak akan punya teman di kantor.
Pegawai kan bisa jadi temanmu.
Benarkah? Tidak mungkin, dia akan bersikap sopan di depanku tapi mengomel di belakangku. Mereka akan canggung jika aku satu meja makan dengan mereka dan akan membuat segala sesuatu itu terlihat baik, yaah orang orang faking good yang berada diantaraku, yaa para munafik itu. Begitu pula para dewan direksi, siapa yang akan menjadi lawan dan kawan semuanya bukan soal seberapa lama kita mengenal mereka. Atau seberapa lama mereka bekerja bersama kita. Jika ada pihak yang lebih menguntungkannya, maka dia akan beralih dalam sekejap. Mencari kesetiaan dalam perusahaan adalah kesulitan. Aku benar benar harus mencari orang orang yang loyal terhadap ayahku. Dia pasti akan membantuku soal kenaikan harga saham. Aaah, aku frustasi di hari pertamaku sebagai CEO.
“Telepon Supir Nam, siapkan mobil di depan.”
“Sajangnim, anda mau kemana?” tanya sekretaris Yoo.
“Aku mau keluar sebentar. Aku bosan berada di kantor.”
“Baiklah, saya akan bersiap…” Kata Sekretaris Yoo
“Yaak, Apa kau juga mau mengikutiku kemanapun aku pergi?”
“Ne?”
“Tetap di kantor. Aku hanya keluar sebentar.”

Emily (Part 6)



Emily sampai di rumah dengan kondisi yang memprihatinkan. Kawan kawan serumahnya sedang kebingungan mencari keberadaannya. Mereka bahkan menelepon polisi dan mencari di sekitaran kantor dan rumahnya semalaman ini.  

Emily (Part 5)


(Emily part 5)
‘Kau akan menuai yang kau tebar’
Suara sirine ambulans meraung di jalanan malam Seoul setelah terdengar suara mobil yang terseret sejauh ratusan meter.  Darah berceceran di bangku depan mobil. Tubuh seseorang hancur seperti dihantam sesuatu yang besar  dari arah berlawanan. Di bangku belakang, seorang pria tidak sadarkan diri dengan wajah sebelah kanan terluka parah. Di bagian telinganya mengalir darah segar yang tak terhenti.
****

Emily (Part 4)


<Emily part 4>

“Yak, brengsek kau mengganggu tidurku.” Teriak seorang pria setelah turun dari mobil yang dikendarainya di parkiran mobil. Sebuah tinju melayang dari tangan pria itu ke pria lain dihadapannya. Setelah puas mendaratkan kepalan tangannya ke wajah pria di hadapannya. Dia berjalan menjauh, memilih kembali ke mobilnya.

Emily (Part 3)



Pagi ini adalah waktu keberangkatan Emily dan tim editor menuju Korea Selatan. Rombongan berjumlah empat orang, Emily, dua tim editing yang biasa bekerja bersama Emily dan satu orang editor senior yang pernah bekerja di LPC. Setelah berpamitan dengan teman teman kantornya. Mereka segera menuju bandara untuk terbang ke negeri Ginseng dan mulai bekerja disana.

Emily (Part 2)


Emily (Part 2)
Emily adalah seorang penulis tetap di salah satu perusahaan penerbit ternama di Jakarta. Dia sudah menjalani kehidupannya sebagai penulis sejak dia masuk kuliah, bekerja sebagai penulis lepas selama tiga tahun dan bekerja menjadi penulis tetap penerbit pada tahun keempat. Semuanya dijalaninya dengan sangat tekun dan tanpa mengenal lelah, dan hasilnya tentu saja. Novel novel roman mahadahsyat yang dipajang di seluruh toko buku di Indonesia.

Saturday, November 7, 2015

Emily (Part 1)





Berpeluh peluh Emily menulis setiap kata demi kata yang muncul di setiap pikirannya. Berjuta rangkaian kata yang sudah diungkapkan dalam selembar kertas putih yang akhirnya berubah menjadi tumpukan tumpukan draft tak berdaya di sudut kamarnya. Berantakan…. Tidak tertata.

Wajahnya datar tanpa ekspresi apapun. Notebook yang sedari tadi standby dihadapannya tidak tersentuh sama sekali. Setiap waktu yang berjalan tak digunakannya dengan baik. Dia hanya terdiam di kursi kerjanya.

Kopi yang telah dingin di hadapannya bahkan merengek minta untuk diteguk. Tapi semuanya sama sekali tak disentuh oleh Emily. Jangankan meneguk, memandangnya saja tidak. Bola bola mata Emily hanya tertuju pada tirai yang terbuka dengan pemandangan malam kota yang gemerlap.

Emily menghela nafas panjang, menata satu demi satu memori yang telah dilaluinya bertahun tahun, bersama pria yang dicintainya. Wedha… Yang diakhirinya malam itu, tiga  bulan yang lalu.

“Jangan menungguku, aku tidak akan kembali. Bahkan jika aku kembali, aku tidak akan kembali untukmu.”

Itu adalah kata kata yang terakhir Wedha ucapkan pada Emily sebelum gambar didepan layar notebooknya berubah hitam. Wedha memutus koneksinya secepat mungkin setelah mengatakan kata kata yang melumpuhkan hidup Emily setelahnya.

Tidak ada air mata di pipi Emily, bukan karena dia tidak merasakan kepedihan. Sepedih- pedihnya patah hati adalah bukan ketika seorang wanita menangis sepanjang malam untuk seorang pria. Tapi ketika cairan tanpa warna itu bahkan tidak mampu untuk lolos dari sudut mata sendunya. Karena didalam hatinya tidak ada perasaan lain selain sakit. Tidak ada tempat untuk menangis karena semua ruang perasaannya hanya diliputi rasa getir dari kepedihan hatinya. Perasaan dicampakkan yang begitu nyata, mengerutkan jiwa Emily, dan menghancurkan impian masa depan yang telah dibangunnya dalam daftar yang mereka rencanakan.

Emily tentu tidak baik baik saja, kepedihan itu telah merenggut hidupnya lebih dari sekedar meneteskan air mata. Bahkan lebih dahsyat daripada sekedar meratap sepanjang malam. Iya, Emily berhenti menulis.

Sebuah keputusan yang tidak pernah dia buat. Tapi tubuhnya seakan mengkomando untuk menghentikan segala sesuatu tentang menulis, hatinya tidak pernah lagi memiliki kondisi yang baik untuk mengekspresikan hobi yang telah menjadi segalanya untuk Emily.

Berhenti menulis adalah kejadian yang luar biasa bagi seorang penulis sekelas Emily, sama seperti jika Afghan berhenti bernyanyi atau Fara Quinn yang berhenti memasak. Begitu pula Emily, menulis adalah satu satunya hal yang membuatnya hidup sebagai seorang manusia lalu apa jadinya Emily tanpa tulisan tulisannya?

Bukan benar benar keputusan yang Emily buat, tetapi seakan dunianya runtuh dengan hancurnya hati dan perasaannya.

“Rasanya terlalu aneh aku melihat seorang gitaris hebat dalam film berhenti bermain gitar karena ibunya menikah dengan pria yang sangat dia benci, tapi aku juga melakukan hal yang sama dengan gitaris itu? Kepedihan yang benar benar terlalu menyakitkan jika hanya ditangisi.” Emily tersenyum getir, menertawakan dirinya sendiri. Ternyata tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Malam semakin larut, kopi dingin itu semakin dingin tak terteguk barang setetes. Emily menyandarkan tubuhnya. Meyakinkan dirinya bahwa dia akan mengembalikan hidupnya esok hari, seperti hari hari sebelumnya yang tetap saja berakhir seperti malam ini.

==============
as�j8�)w�

*to be continued*

Triangle 1



Dia mengetuk hatiku tanpa sengaja dan tanpa pernah ada maksud darinya ingin masuk ke dalam hatiku. Aku tahu betul karena itu bukanlah haknya untuk masuk ke dalam hidupku. Tapi aku benar benar tidak mampu menguasai akal sehatku. Aku benar benar jatuh cinta padanya dengan cara yang sangat berbeda. Tidak ada bunga ataupun kata kata romantis. Dia, adalah pria tukang omel. Pekerjaannya hanya  mengomel padaku setiap hari, dia seorang pengeluh, mengeluhkan  waktunya yang terbuang jika bertemu denganku dan dia selalu membuat diriku terlihat bodoh di hadapannya.
“Aku benar benar benci jika Dong Hae menyuruhku kemari menemanimu makan, kau kan bukan anak kecil  yang semua kegiatanmu harus ku temani.”
“Yak, Hyuk Jae-ya, kalau kau tidak mau yasudah kau pergi saja. Lagipula siapa yang menginginkanmu berada di sini.” Jawabku. 
“Kalau bukan karena Dong Hae juga aku tidak akan disini. Tiap kali hanya menemani makan menemani berbelanja menemani menonton film. Tapi kau tidak mau ditemani saat kau mandi.”
“Yak, dasar otak mesum!” Emosiku selalu tersulut jika berurusan dengan pria itu.
Tapi dia tidak pernah beranjak pergi meninggalkanku, bahkan dia tidak akan pergi jika kuusir berkali kali,  dia hanya mengomel sampai makananku habis dan mengantarku pulang setelahnya.
“Makanlah, lalu kuantar kau pulang. Haaish, merepotkan sekali orang sepertimu ini.” Dia selalu mengeluhkan tingkahku padanya, mengataiku dan menyebut diriku orang yang selalu merepotkan orang lain.

Aku tidak mengerti dengan yang terjadi, tapi aku malah mulai menyukainya. Menunggu kedatangannya dan merindukan omelan omelan tidak pentingnya. Aku benar benar merasa otakku sedikit bergeser dari tempatnya atau hatiku yang sudah mulai buta.
Kau tidak bisa melakukan ini Hye Rin-ah!!

Kali ini aku yang mengomel pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada pria seperti Eun Hyuk. Dia orang yang seenaknya, otaknya penuh pikiran pikiran kotor dan wajahnya yang selalu membuat mimik mimik yang aneh. Tapi satu hal yang pasti, dia selalu ada untukku apapun yang terjadi, dia menjagaku, dan dia adalah seseorang yang tidak akan membiarkanku kesepian.
“Bagaimana jika aku menyukaimu?” Suatu saat kata kata itu pernah muncul diantara makan malam kami. Eun Hyuk menatapku intens, dan menghentikan aktifitas di dalam mulutnya.
Aku terkejut dan juga ikut menghentikan aktifitas di dalam mulutku. Dadaku berdebar dengan pernyataannya dan tanganku gemetar, keringat dingin mengalir dari dahiku. Dia masih menatapku, tanpa jeda.
“bagaimana kalau kita berkencan?” Tatapan serius itu masih saja melekat di wajah innocentnya yang kali ini tanpa mimik menyebalkan. Tapi sedetik kemudian tawanya meledak, meluluhkan suasana dingin yang sempat tercipta beberapa menit yang bagiku terasa sangat lama.
“Haha, kenapa wajahmu sangat serius?” Dia kembali tertawa dan melanjutkan makannya. “Aku hanya khawatir kau akan mengiyakan pertanyaanku,jadi kusudahi saja.” Lanjut EunHyuk.
“ Bisa tidak kau tidak usah bercanda?” Aku benar benar merasa dibodohi dengan pertanyaan pertanyaan itu. Bagaimana jika nafasku berhenti mendengar pernyataan itu?
Sepulang dari makan bersamanya, perasaanku semakin tidak terbendung.  Air mataku mengalir menyadari apa yang terjadi pada hatiku. Aku mungkin tidak akan terlalu bersalah jika bukan EunHyuk yang ku sukai dan aku mungkin bisa dengan mudah mengabaikan pria itu jika dia bukan Eunhyuk.
Tapi pria ini adalah EunHyuk. Seseorang yang tidak boleh ku cintai.
Wanita macam apa yang memiliki kekasih tetapi malah mencintai sahabat kekasihnya?

“DongHae-ya, mengapa aku seperti ini? Apa yang sedang kulakukan padamu?”



*reblog from my tumblr*

Monday, September 14, 2015

Hiatus

Salam Hangat untuk pembaca blog yang tidak pernah diketahui siapa saja orangnya. saya berterimakasih atas perhatian reader semua atas segala waktunya karena telah membaca sekumpulan cerita yang benar benar tidak ada gunanya ini.

Saya sudah lama tidak memposting cerita atau sesuatu yang random di blog ini. Karena beberapa minggu ini saya memutuskan untuk semi hiatus di blogger. Alasannya adalah karena saya ingin fokus dengan apa yang sedang saya kerjakan untuk segera menyelesaikan S1 saya. Selain itu, ide ide yang bermunculan juga seringkali hilang tiba tiba ketika sudah berada di depan dashboard blogger.

Saya masih menulis, dan saya tidak berhenti menulis, saya hanya berpindah tempat dalam menuangkan tulisan saya... Saya hanya ingin hiatus di dunia per bloggeran dan insyaAllah akan dimulai lagi beberapa bulan  ke depan. Terimakasih atas perhatiannya...

Saturday, September 12, 2015

Let's Grow Old Together

LETS GROW OLD TOGETHER

“Kau benar benar tidak tahu kalau mereka berkencan?” Tanya Yuri pada ku. Aku menggeleng sambil menahan air mata yang kini semakin berat disudut mataku.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Tanyanya lagi. Aku terus saja menggeleng, tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan tentang kabar ini. Yang jelas rasanya menyakitkan, dan aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya. 

“Kau tidak akan mengatakan padanya kalau kau mencintainya.”

“Sudah terlambat Yuri-ya.”

“Lalu kau akan diam saja seperti ini?”

“ Aku harus apa? Dia sudah memiliki kekasih.”

“Apa kau semudah itu menyerah?”

“Aku tidak mungkin mengatakannya, kami bersahabat sejak dulu. Dan selama ini dia hanya menganggapku teman. Tidak pernah lebih dari itu.”

“Kau tahu dari mana?”

“Bahkan saat ada pria mendekatiku, dia hanya menggoda dan selebihnya dia tidak peduli.”

“Kau yakin tidak akan menyesal?”

“Entahlah..” Aku berjalan meninggalkan Yuri yang masih duduk di bangku taman kampus, dia tidak mengejarku. Dia hanya melihatku menjauhinya. Dia tahu, aku hanya butuh sendiri.

Saat berjalan menuju halte bus, seseorang menarik tasku dari belakang. Tentu saja, kelakuan siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.

“Yak, kau mau pulang? Pulanglah bersamaku.”

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”

“Hei, kenapa akhir akhir ini sikapmu aneh padaku? Kau sedang menjauhiku?”

“ Tidak, mungkin hanya perasaanmu saja.”

“ Benarkah? Kalau begitu ayo pulang bersama.”

“Tidak usah, bukannya kau akan pulang bersama kekasihmu?”

“Maafkan aku..”

“Kenapa?”

“Waktuku bersamamu berkurang karena aku memiliki kekasih. Tapi yakinlah, aku tidak akan berubah tentang persahabatan kita.”

Benarkan? Jadi hanya aku yang menganggapnya terlalu berlebihan. Dia tidak pernah merasakan hal yang sama denganku. Bahkan bertahun tahun kita bersahabat. Tidakkah dia pernah memiliki perasaan yang lebih padaku? Kenapa hatiku jadi sesakit ini. Kehilangan waktu waktu pentingku bersama dia tidak pernah ku bayangkan. Apalagi ketika dia mengatakan padaku “Let’s grow old together…” pada malam itu.
Aku terlalu bahagia dan menganggapnya itu adalah ungkapan perasaannya padaku, bahwa dia ingin mengajakku menghabiskan waktu hingga tua bersamanya.

Tapi bahagiaku tidak bisa dihitung minggu, sehari setelah dia mengatakan itu. Yuri mendengar Cho Kyuhyun memiliki kekasih.

Kau tahu seperti apa rasanya?


Thursday, August 20, 2015

Sepotong emosi untuk dia.






Untuk seseorang yang merasa lumrah dengan candaan menggoda dengan alasan kami telah melakukannya sejak lama, bahkan lebih dulu sebelum mengenalmu… Apakah  kau tipe pria yang mudah mengeluarkan kata kata seperti itu pada wanita yang lebih dulu kau kenal daripada aku?

Wednesday, August 5, 2015

Write what you like!







Pagi  yang cerah ini kuawali dengan berjalan cepat menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Dari seberang kamar terdengar suara yang cukup kencang sedikit menceramahiku.

Thursday, July 23, 2015

Lunar Eclipse (Flashback)








Kakiku bergetar ketika dadaku tertimpa tubuh kecilnya setelah terdengar suara tembakan dari senapan pria pria berjas hitam tepat di depanku. Tubuhku tidak lagi kuat menopang, aku ikut tersungkur kebelakang memeluk erat tubuh mungil gadis yang sedari tadi tangannya erat ku genggam.