Hahaha…. I just want to say… I love drama. My life is full
of drama and I proud of it.
Drama.. bagi banyak orang mungkin adalah sesuatu yang
terlihat sangat berlebihan. Okay that’s right. Lalu apakah salah jika hidup
kita penuh dengan drama? Ooo.. tentu saja tidak. Siapa sih yang
mengklasifikasikan dan mengkategorisasikan drama dalam hidup adalah sebuah
kesalahan?
Aku menyukai drama, aku suka membuat cerita sendiri dalam
pikiranku sebelum aku mulai menulis. Aku tidak pernah membuat diriku menjadi
tokoh dalam drama yang ada dalam pikiranku. Semuanya adalah makhluk makhluk
ciptaan Tuhan lain yang kadang kuanggap cocok dalam visualisasi nantinya.
Ketika aku menyukai Miroslav Klose. Maka aku akan membuat drama tentangnya,
jika aku menyukai Cho Kyuhyun maka aku akan mulai memikirkan cerita cerita
mengenai hidupnya.
Terkadang aku heran ketika orang lain menghindari drama
karena drama adalah sesuatu yang mereka pikir berlebihan,tapi aku malah menyukainya. Aku menyukai hidup dalam
menciptakan sebuah drama? Apa aku tidak normal? Saat itu aku bertanya pada
diiriku sendiri sejak kapan aku menyukai drama. Apa sejak aku sering membuka
buka fancfiction, atau saat aku mulai menyukai seorang pria, atau saat aku
jatuh hati pada pria pria hebat semacam Miro dan Kyuhyun.
Tapi malam ini aku mulai merecall satu persatu memoriku.
Sejak kapan aku mulai mencintai drama. Aku jadi ingat ketika kelas 4 SD, aku
membuat cerita untuk tugas drama bahasa Indonesia. Teman teman menyerahkan
tugas membuat ceritanya padaku. Dan aku menyelesaikannya. Ini adalah awal mula
aku membuat naskah drama, dan hasilnya belum begitu memuaskan. Karena buktinya
kelompok kami tidak masuk sebagai drama terbaik. Baiklah tidak apa apa, aku
juga tidak suka pelajaran drama. Aku terlalu grogi untuk berakting di depan
banyak orang.
Pelajaran Bahasa Indonesia tentang drama tidak berhenti di
Sekolah Dasar. Karena tahun keduaku di Sekolah menengah pertama, kami
mendapatkan tugas untuk membuat naskah drama dan menampilkannya di depan kelas.
Tugas menulis naskahpun diserahkan kepadaku dan satu temanku. Kami berusaha
membuat sebuah cerita yang sangat menarik bergenre Horor. Aku masih ingat
ceritanya adalah tentang teka teki villa tua. Di sana aku berperan sebagai
Hazzel, seorang bocah laki laki si ketua rombongan. Kenapa aku berperan sebagai laki laki? Karena
tidak ada laki laki di kelompok ku dan aku
satu satunya yang berambut pendek. Aku masih ingat betul siapa nama hantunya.
Karmaya yang menyedihkan dan teman teman hazzel yang kembar dan Gio si tampan
penakut. Kalian tahu? kami sukses mendapat nilai A dalam naskah dan penampilan
terbaik. Aku semakin percaya diri dengan naskah drama yang aku buat.
Aku masih belum mencoba untuk menulis, karena aku pikir
menulis adalah aktifitas yang sangat tidak menyenangkan. Berkutat dengan
tulisan tulisan dan bagiku sangat melelahkan. Tetapi tanpa sadar aku menjadi
suka membaca, sebuah modal utama untuk menulis.
Membuat naskah drama juga ku lakukan di Sekolah menengah
Atas. Project akhir pelajaran bahasa Indonesia adalah menampilkan sebuah drama.
Dan lagi lagi aku didapuk sebagai penulis naskah. Drama ini berjudul “Hantu
Senonoh” Aaah benar, kenapa sejak dulu hanya horror dan horror. Aaah perlu
kalian tahu juga, judul tersebut memang cukup membuat orang bertanya tanya. Apa
sih hantu senonoh? Apa hantunya melakukan kejahatan seksual atau semua yang
berhubungan dengan hal hal yang tidak
patut di contoh. You are totally wrong. Drama ini adalah parody dari Romeo and Juliet
yang akhirnya menjadi hantu yang berada di “Sono noh…” dimana orang orang
mendengarnya menjadi senonoh.
Kami membuat ruang pertemuan orang tua di sekolah menjadi teater
sementara dan memberlakukan tarif masuk (Rp
5000) untuk menonton drama kami. Dan akupun menjadi sutradara dalam latihan
kami. Kalian tahu? Di dalam latihan drama ini juga banyak drama lain yang
berkembang. Tentang kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan dan temanku yang
pingsan karena dipaksa mencintai teman sekelasnya dengan ancaman dia tidak akan
ikut drama jika dia tidak membalas cintanya. Lucu bukan? Hidup memang penuh
dengan drama. Mengapa banyak orang terlalu membenci drama?
Di akhir pertunjukan,
kami merasa kami telah sukses besar menggarap project drama itu. Tiket kami
terjual habis dan salah satu teman SMPku yang menyempatkan hadir berkomentar
baik tentang drama kami. Lalu dia mengatakan padaku satu hal. “Kamu berbakat
kalo bikin naskah drama.” Haruskah aku
berbangga hati? Sepertinya belum saatnya. Karena masih ada saja orang yang
benci drama karena dia membenci orang yang menyukai drama. Bingung? Ah sudahlah…
Aku juga sedikit bingung kenapa aku tiba tiba merecall ingatan ingatan itu.
Tapi setelah mengingatnya. Bolehkan aku bermimpi menjadi penulis naskah drama?
Sejujurnya aku masih terlalu kesulitan membuat naskah novel atau fanfiction.
Dan menulis naskah drama aku pikir lebih mudah karena tidak perlu adanya
monolog yang terlalu panjang.
Bagi yang tidak menyukai drama, aku pikir mereka harus
berpikir ulang. Wanita wanita pecinta film atau novel cinta? Bukankah itu
drama? Wanita penikmat drama Korea? Bukankah itu drama? Bahkan pria pria yang
dengan kerasnya menyuarakan benci drama juga termakan oleh drama. Drama dalam
sepak bola misalnya, drama adu pinalti yang membuat mereka mengumpat atau
berteriak. atau yang terbaru adalah
drama dalam event balap internasional Moto GP, drama antara Marquez dan Vale yang saling berkejaran dan saling
tendang di Sepang Malaysia serta drama akhir season 2015 di Valencia. Mereka
saling bela, saling umpat dan saling membenarkan pembalap idolanya. Dan jika
dicermati, hidup kita adalah drama yang ceritanya kita buat sendiri.
Drama tentang pria yang kau sebut bukan pria dan akhirnya
tetap kau maafkan dan kembali padamu adalah salah satu drama dalam hidupmu. Apalagi
yang mau ingin kau tahu? Bahkan kau membuka blog pribadiku yang semua isinya
adalah drama. Kau menikmatinya? Atau Kau menertawakannya? Kau mengumpatnya? Hei,
jangan membenci sesuatu karena orang yang kau benci menyukainya.
Waaah, daebak! kau
masih membacanya sampai disini? Ckckck kau terlalu naïf mengatakan tidak
menyukai drama. Ah atau kau tidak punya tempat untuk mencari tahu tentangku
sampai kau berada di sini? Sudahlah,
kalian sudah berlalu dari hidupku jadi ayo jalani hidup masing masing.
Dan satu lagi, aku masih punya tumblr, kalau kau mau lihat
juga boleh… tapi cari sendiri ya. Aku malas mengetiknya untukmu.






