(Emily part 5)
‘Kau akan menuai yang kau tebar’
Suara sirine ambulans meraung di jalanan malam Seoul setelah terdengar suara mobil yang terseret sejauh ratusan meter. Darah berceceran di bangku depan mobil. Tubuh seseorang hancur seperti dihantam sesuatu yang besar dari arah berlawanan. Di bangku belakang, seorang pria tidak sadarkan diri dengan wajah sebelah kanan terluka parah. Di bagian telinganya mengalir darah segar yang tak terhenti.
****
“Apa? Aboji?” Cho Kyuhyun membanting teleponnya secepat kilat, beranjak segera menuju mobil dan pergi ke rumah sakit memastikan kabar yang diterimanya di telepon baru saja.
Ibu Kyuhyun telah menunggu di ruang tunggu emergency, pria di kursi belakang dalam kecelakaan itu adalah tuan Cho Kyung Do, suaminya, ayah Kyuhyun. Ayah Kyuhyun mengalami kecelakaan saat perjalanannya menuju bandara, sebuah truk pengangkut bahan bangunan meremukkan bagian depan mobil bersama supir pribadinya yang meninggal dunia di tempat. Beberapa menit setelah kecelakaan terjadi, supir truk melarikan diri dengan sangat sangat cepat meninggalkan truk dan seisinya.
Raut wajah khawatir yang berlebih tergambar jelas di wajah Nyonya Cho, ibu Kyuhyun. Menunggu dokter melakukan yang terbaik untuk suaminya yang kini terbaring tanpa daya dengan luka di sekujur tubuhnya.
“Oemma…” Kyuhyun memeluk ibunya yang sudah meneteskan butiran butiran kesedihannya. Hatinya sangat terpukul, begitu pula Kyuhyun yang berpisah dengan kondisi berselisih paham.
“Kyu-hyun-ah…” Ibunya menangis didekapan anak satu satunya itu. Air matanya menganak sungai membasahi pipinya yang merah.
“Eomma tenanglah, ada aku disini. Kita harus berdoa untuk keselamatan Aboji.” Dekapan Kyuhyun semakin erat kepada ibunya. Satu satunya wanita yang dicintainya kini menangis tidak tertahankan di dadanya. Melihat ibunya menangis anak mana yang hatinya tidak terluka, dan yang lebih membuatnya terluka lagi adalah karena ayahnya benar benar tidak sadarkan diri sekarang.
“Permisi apakah anda keluarga korban tabrak lari di distrik Songpa?” Seorang pria dengan jaket kulit cokelat mengeluarkan sebuah tanda pengenal kepolisian.
“Ne?”
“Apakah anda keluarga tuan Cho Kyung Do?” Tanyanya lagi.
“Iya…” Jawab Kyuhyun setengah melepaskan pelukan ibunya.
“Bisa kita bicara sebentar?”
Cho Kyuhyun duduk bersama seorang tim investigasi kecelakaan lalu lintas distrik Songpa, tempat kecelakaan terjadi . Menjelaskan kronologi terjadinya kecelakaan yang merenggut supirnya dan ayahnya yang kritis serta pengemudi truk yang tertangkap kamera melarikan diri dari tempat kejadian.
Jadi ini tabrak lari?
<Emily pov>
Aku terbangun dari tidurku yang membuatku semakin linglung. Ada dimana aku sekarang? Ruangan penuh tirai putih bersih dan beberapa wanita berpakaian ungu muda berseliweran di hadapanku
“Emily-sshi, anda sudah bangun?” seorang wanita dengan pakaian ungu mendekat padaku. Mengecek kondisiku dan beberapa luka di kepala dan lututku. Ah iya, aku ingat, aku ditabrak mobil semalam, dan mobil itu pergi begitu saja.
Perawat memanggil dokter di ruang emergency untuk memeriksa kondisiku dan memastikan tidak ada luka dalam yang lebih serius saat aku kecelakaan.
“Kalau anda sudah baik baik saja, anda bisa pulang Emily-sshi.”
“Permisi apakah anda bukan orang Korea?” Tanya peraawat rumah sakit.
“Pantas saja tidak ada database informasi nama anda di rumah sakit kami. Kalau begitu coba untuk menghubungi wali anda. Karena kami tidak menemukan handphone di tas anda jadi kami agak kesulitan.”
“ Handphone, eobseo yo?”
“Eobseo, kami hanya menemukan kartu nama ini tapi kami meneleponnya berulang kali tidak ada jawaban.” Ungkapnya.
“Bisakah saya menyelesaikannya sendiri. Sepertinya saya sudah baik baik saja.”
“Baiklah, anda bisa segera ke bagian administrasi.”
“Oh iya, bisakah anda tunjukkan dimana toilet?” tanyaku
Perawat tersenyum dan menunjukkan sebuah lorong yang akan menghubungkan ruang emergency dengan toilet pasien.
“Anda harus belok kiri setelah lorong itu, dan toilet ada di sebelah kananmu.” Terangnya.
Aku berjalan sendirian menuju toilet dengan kaki dan dahi yang dibalut perban. Ah benar benar hari pertama yang panjang. Dan orang itu, tidak ada tanggung jawabnya sekali hanya meninggalkanku di jalanan dan tidak menolongku. Apa mereka semua hanya menyerahkan kartu nama untuk menyelesaikan masalah.
Aku menyeret kaki kiriku, walaupun luka kecil tapi sungguh membuatku sulit berjalan. Aku benar-benar bersyukur tubuhku tidak banyak yang terluka. Tapi walaupun begitu, tidak ada alasan baginya meninggalkanku hanya dengan secarik kartu nama.
Tidak ada tanggung jawabnya sama sekali.
Kartu nama itu masih ku genggam di tangan kananku. Berjalan menyusuri lorong panjang ruang emergency menuju toilet.
******
<Cho Kyuhyun pov>
Aku begitu terkejut ketika tahu aboji mengalami kecelakaan tabrak lari, supir Kim meninggal dengan kondisi yang cukup parah, dan betapa brengsek orang yang menabraknya itu pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab.
‘Brengsek? Mengacalah! Kau juga brengsek!! Meninggalkan seorang wanita yang kau tabrak di jalanan dan hanya melempar kartu nama dan kata kata tanpa penyesalan. Benar, betapa karma bisa berlangsung begitu cepat!’
Aku berdiri dari dudukku, menyusul Eomma yang sedang menunggu Aboji di ruang penanganan.
Bruukkk
Sebuah lengan kecil menabrak lengan kiriku, langkahnya tertahan dan mengaduh, tangan mungilnya menggenggam lengannya yang mungkin sedang terluka.
“Maaf, apa kau baik baik saja?” tanyaku. Tetapi secarik kertas di genggaman tangannya lebih menarik mataku. Bukankah itu...
“Gwaencanha…” wanita itu terus berjalan sambil memegangi lengan kecilnya yang kutabrak.
“Permisi nona..” Aku menghentikan langkahnya yang cukup kesulitan. Kakinya terpincang pincang menahan luka di salah satu lututnya. Aku ingin memastikan kartu nama yang ada di genggamannya itu adalah benar benar kartu namaku.
“Boleh ku lihat kertas yang ada di tanganmu?”
“Igo?” Tanyanya singkat. “Just take it, I don’t need this.” Jawab wanita itu. Aku mengulurkan tanganku, meraih kertas yang tidak asing bagiku dari tangannya.
“Darimana kau dapat ini?”
“Someone who make me like this gave it to me, Take it if you really need.” Jawabnya. Dia meninggalkanku yang masih berdiri.
“Cepat ke rumah sakit, dan telepon nomer itu, akan ku ganti tagihan rumah sakitnya. Aku tidak bisa membantu sekarang. Aku benar benar dikejar waktu.”
“Apakah kau wanita yang ku tabrak tadi?” Gadis itu terkejut mendengarku.
“Kau yang menabrakku?”
“Kau dapat dari seorang pria di mobil yang menabrakmu kan? Bagaimana keadaanmu? Kau baik baik saja? Apa ada yang terluka parah?”
“Jadi kau yang tidak bertanggung jawab itu? Kalau kau terburu buru ke rumah sakit kenapa aku tidak kau bawa sekalian. Kau malah pergi dengan mobilmu sendirian dan meninggalkanku di jalanan dengan kartu nama itu.” Dia mulai mengomel padaku.Mengatakan banyak hal yang membuatku pusing.
“Bukan begitu, keadaannya mendesak tadi.”
“Ya sudah lupakan saja, aku juga tidak ingin memperpanjang masalah denganmu. Aku akan membayar tagihannya sendiri.”
“Sudah ku bilang aku yang akan membayarnya.”
“ Saya tidak butuh uangmu tuan, saya akan lebih menghargai anda, jika anda ikut membawa saya ke rumah sakit.”
“Iya, aku mengerti. Tapi tidak begitu keadaannya. Baiklah, kalau begitu aku akan mengurus semua administrasinya. Kau tunggu di sini. Lagipula apa bedanya? Paling tidak aku bisa bertanggung jawab salah satunya.”
“Lalu jika aku mati saat kau tabrak, apa kau hanya akan bisa memberikanku kartu namamu dan kabur begitu saja?”
mati? Bukankah keterlaluan menyebut kematian ketika aku hanya menabrak lututnya? hah, wanita ini!
Wanita itu duduk di ruang tunggu administrasi sementara aku mengurus semua biaya perawatannya tentu saja setelah melewati adu mulut yang menyebalkan. Wanita itu benar benar keras kepala. Kenapa tidak sejak tadi saja dia menyetujui kalau dia akhirnya duduk menerima.
*****
Dokter yang bertanggung jawab atas penanganan Ayah Kyuhyun keluar dari ruang operasi. Wajahnya tertunduk lesu diiringi suara tangis Ibu Kyuhyun. Mendengar tangisan seseorang yang tidak asing di telinganya, Kyuhyun beranjak mencari ibunya.
Ibunya terduduk lemas di ruang tunggu, kalau saja para perawat tidak memegangnya pasti ibunya sudah jatuh ke lantai.
“Ayahmu Kyuhyun-ah… ayahmu meninggal..” katanya. Tubuhnya kemudian melemas dan pingsan di pelukan anak laki lakinya.
Emily yang duduk menyaksikan kejadian itu mematung. Ia tidak bisa berkata apa apa. Penyesalan karena terus saja mengomel tentang pertanggung jawaban pria itu membuatnya merasa bersalah.
‘Apa aku keterlaluan? Dia kemari karena menunggui ayahnya yang kritis.’
Emily merasa dirinya terlalu egois, tidak memperhatikan perasaan orang lain. Orang yang hanya bisa mengomel tanpa maklum, tanpa ingin tahu apa yang terjadi. Dia hanya merasa seseorang harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi pada dirinya.
Aku mungkin akan melakukan hal yang demikian jika ayahku yang berada di rumah sakit.
Kyuhyun duduk menunggu ibunya yang terbaring pingsan setelah melihat jenazah ayahnya terbujur kaku di hadapan mereka. Keduanya sama sama terpukul. Tidak pernah menyangka suami dan ayah yang masih terlihat sehat dan bugar saat berangkat ke bandara kini tergeletak tanpa daya dengan wajah kebiruan.
‘benar benar, yang ku tuai adalah apa yang ku tebar. Aku menabrak dan meninggalkan seseorang di jalanan, dan sebagai gantinya, ayahku ditabrak dan ditinggalkan seseorang di jalanan. Hidup bahkan penuh dengan balas dendam’
*******

No comments:
Post a Comment