Emily part 11
Kedai Kopi di dekat kantornya selalu menjadi tempat terbaik setelah melepas penat di kantor serta kunjungannya ke beberapa toko buku. Sekarang Emily hanya tinggal menyelesaikan beberapa kunjungan promosinya dan dalam waktu satu bulan dia akan kembali ke Indonesia.
Sebuah Email masuk ke handphonenya. Beberapa hari ini emailnya tidak pernah sepi, selalu penuh dengan penggemar novelnya dan beberapa pekerjaan dari kantor. Tapi kali ini email yang masuk bukan dari keduanya, dari seseorang yang tidak asing, namun sempat bisa dia lupakan karena pekerjaannya di Lee Publishing.
Emily menghentikan gerak tangannya. Menatap sekali lagi layar handphonenya dan memastikan siapa yang memberinya pesan.
From : WedhaAditya@gmail.com
Emily tidak langsung membuka isi pesannya. Dia masih menimbang nimbang. Apakah dia harus membukanya atau tidak. Mengingat betapa sulitnya waktu waktu berjalan tanpa dia beberapa waktu yang lalu dan sekarang hidupnya sudah lebih mudah, Emily hanya takut dengan membukanya, maka hidupnya akan kembali sulit. akhirnya Emily memutuskan untuk tidak membacanya. Membiarkannya menjadi penghuni kotak masuk Emailnya tanpa ia baca.
“Aku sudah bertahan sampai sejauh ini. Tidak perlu membuka luka lama kan?” Gumamnya dan segera melanjutkan beberapa tulisan terbarunya. Tapi sungguh, pikirannya hanya kepada nama si pengirim Email tadi.
“Iya, membacanya saja, lalu setelah itu lupakan.” Emily menggumam lagi.
Wedha,
<Emily pov>
“Ada apa dengan pria ini? Bukankah sangat jelas dia meninggalkanku demi wanita lain di sana? Dan apa? Dia menungguku di Indonesia. Hei Wedha Aditya, jikapun aku kembali ke Indonesia. Apa kau pikir aku akan kembali padamu?” Aku merutuk, merasa kesal dengan email yang Wedha kirimkan padaku. Ah apakah ini kesal? Aku bahkan menertawai diriku sendiri yang masih begitu menyedihkan. Sebenarnya lebih tentang ‘kenapa kau seperti ini? Aku sudah baik baik saja sekarang. Kenapa kau memberiku sebuah email? Bukankah itu menyedihkan untukku? Aku sudah baik baik saja sekarang walaupun perasaanku belum hilang, tapi aku sudah terbiasa tanpamu. Mengapa memberiku harapan? Mengapa kau muncul lagi setelah pergi? Apa yang sedang kau lakukan padaku?’
Dalkomhan ne geu mal nal jugineun ne geu mal
(Those sweet words of yours Those words of yours that kill me )
Gamanhi kkaemulmyeon sseudisseun geu mal geumanhae
(The words that bitter to taste, stop it)
Miwohaji motae saranghaji do motae
(I can’t hate you, I can’t love you either)
Gyeolguk domangchyeoborindan geu mal jebal geuman geumanhae
(You said you re going to run away. Please stop…stop it)
(bittersweet, superjunior)
Tiba tiba seorang pria mendatangi mejaku, membawa setumpuk berkas, sebuah laptop dan segelas kopi pesanannya.
“Permisi, boleh aku duduk disini? Aku melihat tidak ada kursi kosong dan ada pekerjaan yang harus segera ku kirimkan ke atasanku.” Katanya. Pria dengan stelan jas abu abu muda itu memintaku berbagi meja. Dan aku mengijinkannya karena sepertinya dia cukup kesulitan dengan semua bawaannya. Lagipula dia hanya ingin melakukan pekerjaannya. Tidak ada salahnya sedikit memudahkan perkara hidup seseorang.
“Gwaencanha, Duduklah..” Aku mempersilakan dia duduk di kursi tepat didepanku.
“Terimakasih…” jawabnya. Tanpa mempedulikan sekitarnya, dia sudah mulai beraksi dengan laptop di hadapannya. Iya, computer jinjing kami saling membelakangi. Melakukan pekerjaan masing masing selama beberapa waktu.
“Akhirnya..” Celetuk pria itu. Mataku yang sedari tadi hanya tertuju pada layar didepanku kini tertarik untuk memandangnya. ‘Orang sibuk kelas atas’ pikirku. Bahkan di jam jam istirahatnya. Dia masih mengurusi pekerjaan untuk dia kirimkan ke atasannya.
Aku berencana menyudahi pekerjaanku dan pergi ke kantor, tapi pria itu menahanku. Menatap novel yang berada di tangan kananku. Iya, novel Memories.
<Author pov>
Pria itu memandang sebuah buku yang dipegang Emily. Buku itu adalah buku yang sama dengan yang dia berikan kepada kakak tirinya yang juga bosnya. Akhirnya pria itu berinisiatif menanyakan komentarnya tentang novel itu pada wanita di hadapannya.
“Nona, kau membacanya juga?” Choi Min Ho bertanya pada Emily tentang novel di tangannya itu.
“Ini?” Tanya Emily. Min Ho hanya mengangguk. “Iya, aku membacanya. Apa kau juga membacanya.” Emily mengiyakan pertanyaan Min Ho.
Min Ho juga mengangguk. “Aku juga membacanya beberapa hari yang lalu. Waah hebat sekali penulisnya. Bahkan aku yang seorang pria saja merasa tersentuh dengan cara penulis menyampaikan kisah kisah pilunya” Min Ho dan Emily akhirnya mengobrol banyak hal tentang novel itu. Semuanya tentang novel itu kecuali satu kenyataan bahwa Emily adalah penulis novel yang sedang terkenal itu.
“Kau sepertinya tau banyak soal novel ini?” Tanya Min Ho.
“Ah tidak banyak, aku hanya mengerti bagaimana perasaan si penulis saja.” Jawab Emily. Bukan tanpa sebab Min Ho mengbrol tentang novel itu. Dia benar benar ingin tahu komentar nyata tentang novel Memories.
“Aa, merasakan perasaan si penulis? Aigoo, Baiklah Emily-sshi, kau lebih baik kembali ke kantor karena jam istirahat kita sudah habis.” Emily tertawa kecil, membahas tentang jam istirahat rasanya seperti dia sedang berada di sekolah menengah dulu. Emily mengangguk, membereskan barang bawaannya dan keluar dari kedai bersama Min Ho.
***
“Sajangnim, presdir LPC menolak pertemuan jika kau menemuinya hanya demi Memories.” Sekretaris Yoo melaporkan hasil perbincangannya dengan pihak LPC.
“ Mwo? Wae?” Tanya Kyuhyun pada Sekretaris Yoo.
“Sudah begitu banyak production house yang ingin membeli Memories.”
“ Maksudmu kita terlambat?”
“ Berita baiknya LPC menolak semua PH yang ingin membeli Memories. Jadi kita masih punya kesempatan.” Jawab Sekretaris Yoo.
Bukankah persetujuan untuk memfilmkan sebuah novel bukan keputusan dari penerbit? Tapi langsung dari penulis novel tersebut. Pikir Kyuhyun.
“Ada satu cara untuk mendapatkan persetujuan itu sajangnim.”
“ Menemukan penulisnya.” Tebak Kyuhyun.
“Bingo!” Sekretarisnya mengiyakan.
“ Cepat cari kontak penulisnya. Aku akan menemuinya langsung hari ini juga.”
“LPC merahasiakannya Sajangnim.”
“Apa segitu saja kemampuanmu sekretaris Yoo? Bukankah bayaranmu sangat mahal disini? Perkara mudah jika hanya mencari informasi nomer telepon seseorang. ” Kyuhyun mendesak bawahannya untuk mencari nomer telepon penulis Memories bagaimanapun caranya.
“Ne, algeseumnida..” Jawab Sekretaris Yoo patuh.
*****
“Saya sudah menghubungi Milly Kim, Sajangnim. Tapi sayangnya dia sudah mengganti nomor teleponnya beberapa bulan yang lalu. Dan saya belum menemukan nomor handphonenya yang baru. Saya akan berusaha secepatnya untuk menemukan penulis Memories, sajangnim.”
“Aaargh, Milly Kim..kenapa kau begitu sulit ditemukan?” Gumamnya. Kyuhyun menyuruh sekretarisnya kembali mencari data data tentang Milly Kim. Kyuhyun memutar otaknya, sambil menggenggam novel Memories di tangannya. Dia terus saja memikirkan cara bagaimana menemukan Milly Kim sementara LPC menyembunyikannya. Bahkan promosi ke beberapa toko buku dihentikan karena terlalu banyak PH yang datang dan membuat tim penerbit bingung.
Penerbit mengatakan “Tidak perlu promosi lagi, novel ini sudah menemukan tempat tersendiri untuk para pecinta novel roman. Kita berhasil melakukannya. ”
Tiba tiba dia teringat seseorang, seseorang yang selama ini mengganggu pikiran Kyuhyun. Seseorang yang ditabraknya dua kali dengan mobilnya, seseorang dengan sikap cerobohnya. Seseorang itu bahkan telah membuat aktifitas Kyuhyun yang super padat rela mengunjungi kedai kopi dekat kantornya tanpa alasan.
Iya, wanita itu si ceroboh yang meninggalkan dompetnya di kedai, dan si ceroboh yang meninggalkan handphone di gallerynya. Sebenarnya pertemuan terakhir mereka adalah saat Kyuhyun mengembalikan handphone di kedai kopi itu. Tapi kunjungan Kyuhyun ke kedai itu tak berhenti setelah pertemuan mereka. Kyuhyun kadang dengan sengaja mampir saat jam makan siang untuk melihat wanita itu. Tapi sayangnya Kyuhyun tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Kyuhyun ingat wanita itu adalah karyawan magang LPC, dia pasti bisa membantunya mendapatkan nomor telepon Milly Kim. Dicarinya history panggilan masuknya beberapa minggu yang lalu. Dia menskrol ke bawah daftar panggilan yang super panjang itu. Dan akhirnya dia menemukannya. Di tanggal wanita itu mengunjungi Kyuhyun di Gallerynya.
“Ah, aku harus menemui gadis magang itu.” Pikir Kyuhyun.
To : Emily-sshi
Selamat siang Emily-sshi, kau masih ingat padaku? Aku Tuan Kartu nama, Cho Kyuhyun. Bisakah aku bertemu denganmu? Ada hal penting yang harus ku bicarakan.
Selang beberapa menit, layar handphone Kyuhyun bergetar. Pesannya sudah dibalas secepat kilat.
“Aah, bagus!” gumamnya. Setelah mendapat balasan dari Emily. Kyuhyun segera menyambar jas hitam dan kunci mobilnya.
“Kau di kantor saja, aku ada urusan.” Kyuhyun berjalan cepat melewati meja sekretarisnya di depan ruangannya.
“Sajangnim, anda mau kemana?” Sekretaris Yoo bangun dari duduknya dan mengikuti Sajangnimnya pergi.
“Bertemu pemilik kunci. Orang yang mungkin bisa mempertemukan Emily dengan kita. Kau handle jadwalku siang ini.” Jawab Kyuhyun optimis.
“Benarkah? Semoga anda berhasil Sajangnim.” Sekretaris Yoo mendukungnya dengan semangat yang sama.
Tapi tunggu, bukankah terlalu cepat mengatakan Emily sebagai pemilik kunci? Bahkan dia belum mengatakan maksud dan tujuannya bertemu pada Emily. Bagaimana jika dia menolak kerjasama? Entahlah yang jelas Kyuhyun terlalu bahagia karena dia memiliki alasan untuk menemui gadis itu. Dia bersenandung sepanjang jalan, pertama kalinya setelah dia masuk ke perusahaan. Berjalan dengan memutar mutar kunci mobil dan bernyanyi sekenanya.
****
<Kyuhyun pov>
Aku mengancingkan jas resmiku dan menata sedikit rambut cokelatku. Ah bukan menata, karena aku membuatnya sedikit berantakan. Rasanya aneh, mengapa aku begitu bersemangat bertemu dengannya padahal ini hanya pertemuan untuk menawarkan kerjasama tidak resmi.
Lalu, apa aku harus mengatakan yang sejujurnya jika aku adalah CEO dari Cho Confession? Sementara dia tahu aku hanya pemilik gallery mini di Myeongdong.
Setelah sampai di tempat parkir kedai, aku memutuskan untuk membuka jas dan melepas dasiku. Membuka dua kancing teratas dan menggulung lengan kemejaku.
“Aaah, dua kancing. Kau terlalu berlebihan Kyuhyun-ah, kenapa penampilanmu jadi sangat mesum dengan dua kancing terbuka.” Aku mengomentari penampilanku sendiri sebelum masuk ke dalam kedai. Sambil mengancingkan satu kancing atasku, aku beranjak masuk ke dalam kedai.
Aku menebarkan pandanganku ke seluruh penjuru kedai dan gadis itu tepat berada di sisi kanan penglihatanku. Duduk manis dengan tas berwarna coklat dan coat yang senada.
“Kau sudah lama?” Tanyaku yang sudah berdiri di depan meja gadis itu. Apa ini? Kenapa jantungku berdebar debar seperti ini. Jangan bilang kalau aku…
Hei hentikan pikiran itu Kyuhyun-ah. Kau sedang memperjuangkan perusahaanmu sekarang!
“Aa, kau sudah datang Tuan Kartu Nama. Aku baru sampai. Mungkin sekitar lima menit yang lalu.” Jawabnya santai.
“ Maaf membuatmu menunggu. Kau mau pesan sesuatu?”
“Gwaencanha, aku sudah memesan tinggal kau yang belum. Jadi langsung saja, apa hal penting yang mau kau bicarakan itu? Apa aku meninggalkan sesuatu lagi padamu?” Gadis itu mencoba melucu dan aku tertawa dengan gurauannya.
“Aa, kau begitu to the point…”
“ Bukankah itu menarik? Karena aku benci berputar putar tidak jelas. Katakanlah apa yang akan kau bicarakan padaku.” Emily tersenyum.
“Begini, kau bilang kau bekerja di LPC kan?” tanyaku memulai perundingannya. Dia mengangguk. Aku mengeluarkan novel dari tas yang kubawa tadi. “Kalau begitu, kau pasti tahu ini.” Aku menyerahkan sebuah novel Memories yang beberapa hari ini menjadi hal yang membuatku begitu tertekan. Lagi lagi dia mengangguk. Tapi anggukannya ragu. Dia menatapku sebentar lalu menatap novel yang ku bawa.
“ Sebuah novel terbitan dimana aku bekerja.” Jawabnya kemudian. “Aish, aku heran dengan orang orang disini mengapa semuanya bertanya tentang novel memories padaku.” Lanjut gadis itu.
“Ada yang menanyaimu juga? Apa dia minta bekerja sama denganmu?” Tanyaku. Aku mulai khawatir. Apa aku terlambat lagi satu langkah dari yang lain? Tapi sedetik kemudian dia menggeleng.
“Dia hanya ingin tahu komentarku tentang novel ini. Lalu apa tujuanmu menanyakan ini padaku?” Tanya Emily dengan tatapan ingin tahu. Ah, itu menggemaskan.
Temukan aku dengan penulisnya.” Jawabku.
“Mwo???” Emily terkejut.“Tapi, tapi untuk apa?” lanjutnya.
“Ceritanya panjang..” Jawabku. Masih menimbang nimbang apa yang harus kukatakan pada gadis ini.
“Walaupun begitu kau harus menceritakannya padaku Cho Kyuhyun-sshi.” Kali ini Emily menatapku dengan tatapan serius. Sepertinya dia sangat tertarik dengan cerita yang ingin kusampaikan. Haruskah aku mengatakan yang sesungguhnya?
“ Sebenarnya, aku punya teman. Dia bekerja di perusahaan Entertainment, Kau tau CC Entertainment? Yang gedungnya di tepat paling ujung jalan besar ini. Bosnya meminta dia menemukan penulis novel Memories apapun yang terjadi. Lalu dia meminta tolong padaku. Sebagai sahabatnya, jika aku bisa menolongnya. Aku pasti akan menolongnya. Tiba tiba aku ingat kau. Kau kan bekerja di sana. Tidak bisakah kau membantuku.”
Gadis itu memandang gelas Espressonya. Dia juga menimbang nimbang apakah dia akan menolong sahabatku atau tidak. Aah, bukan. Apakah dia akan menolongku atau tidak.
“Aku hanya pegawai magang, apa yang bisa ku lakukan? Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak.” Katanya.
“Kau hanya perlu mendapatkan nomor teleponnya atau bila memungkinkan kau bertemu dengannya. Tolong katakan padanya ada seseorang yang menggantungkan hidupnya pada dia.”
“Waaah, sebegitu pentingkah Milly Kim untuk sahabatmu?” Emily semakin tertarik dengan pembicaraan kami.
“Katakan saja padanya, sahabatku sangat ingin bertemu dengannya.” Jawabku.
“Jika aku tidak bisa melakukannya, Bagaimana?”
“Kau tidak ingin selamanya jadi pegawai magang kan?” Aku mulai melemparkan umpan tentang membuat kesepakatan. Emily hanya menatapku.
“Maksudmu?”
“Jika kau menemukan Milly Kim untuk kami, dan kau masih tetap menjadi pegawai magang di penerbitmu maka kau boleh bekerja di perusahaan sahabatku. Sebagai pegawai tetap perusahaan tentunya. Mereka akan memilihkan pekerjaan yang baik untukmu. Kau bisa menawar gaji yang kau inginkan dan sudahlah.. aku tidak begitu hafal dengan kompensasi yang akan kau dapat yang jelas kau akan menang banyak dengan kesepakatan ini. Asal kau bisa menemukan Milly Kim untuk kami.” Cetusku. Waah hebat sekali aku mengarang cerita. Aku bahkan tidak tahu mengapa cerita semacam ini muncul begitu saja tapi yang jelas hanya cerita murahan semacam ini yang tiba tiba muncul di kepalaku.
Kenapa kau tidak jujur saja Cho Kyuhyun-sshi?
Entah mengapa, aku lebih suka membuat diriku sebagai pemilik gallery daripada seorang Sajangnim di matanya. Apakah itu salah?
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi bisakah kau memberi aku waktu untuk memikirkannya?” Emily memintaku untuk memberinya kesempatan berpikir. Aku menyetujuinya, dan Emily akan memberi jawabannya besok siang. Ditempat yang sama.
****

No comments:
Post a Comment