Emily part 9
<author pov>
“Selain menabrak mobil, kau juga hobi meninggalkan barang barangmu ya? Teledor sekali kau nona.” Suara seorang pria yang baru saja masuk ke kedai kopi langganan Emily.
“Kau?”
“Ini handphonemu, kenapa kau selalu meninggalkan barang barangmu?”
“Aah benar, aku teledor sekali. Terimakasih banyak. Tapi bagaimana kau bisa tahu aku di sini?”
“Hanya menebak, mungkin saja kau berada di sini lagi.”
Emily tertawa, memang mudah ditebak. Emily pasti akan kemari di jeda waktu istirahat atau waktu waktu dia ingin keluar kantor. Kopinya enak dan tempatnya nyaman jika didatangi sendiri.
“Hei, kita sudah berkali kali bertemu tapi aku tidak tahu namamu.”
“Emily… “
“Aaa, Emily. Kau bukan keturunan Korea?”
“Bukan.”
“Kau tidak menanyakan namaku?”
“Aku sudah tahu.”
“Kalau sudah tahu kenapa selalu memanggilku tuan kartu nama.”
“Haha, karena kau selalu memberikan kartu nama padaku.”
“Haha, begitu rupanya. Jadi kau benar benar tahu namaku?”
Emily mengangguk lalu meneguk kopi pesanannya, “Cho Kyung Do-sshi…”
“Mwo?? Nugu?” Pria itu hampir menyemburkan kopi yang sedang diteguknya.
“Cho Kyung Do-sshi.” Emily menjawab santai.
“Hahaha, kau benar benar salah paham. Hei, itu nama Ayahku.”
“Benarkah? Tapi di kartu nama itu?”
“Iya, maaf aku memberi kartu nama ayahku. Aku sangat buru buru saat itu jadi aku memberikan apa yang kuambil di dompet. Ternyata yang terambil adalah kartu nama milik Ayahku.”
“Jadi siapa namamu?”
“Perkenalkan, namaku Cho Kyuhyun.”
“Aaa, Cho Kyuhyun, Nama member termuda Super Junior.”
“ Hei, aku lebih tampan dari Cho Kyuhyun yang itu, hish yang benar saja membandingkan ku dengannya.”
“Ciih, pria macam apa yang membanding bandingkan dirinya dengan idol.”
“Ohiya, ngomong ngomong kau bekerja di mana? Kalau dilihat dari kantor dekat sini. Mungkin kau bekerja di Runs Entertainment atau Liquor Style ah atau Lee Publishing?”
“Yaa, Lee Publishing.”
“Waaah, bagaimana rasanya bekerja di dunia percetakan buku. Pasti melelahkan. Kau bagian apa?”
“Aku hanya pegawai Intern (magang).”
“ Ooh. Tenang saja. Sebentar lagi kau pasti bisa jadi pegawai tetap. Bekerja keraslah.”
“Tentu saja aku selalu bekerja keras. Kau tenang saja. ”
“Waah, Sepertinya jam istirahatku sudah habis, aku harus segera kembali.”
********
<Cho Kyuhyun pov>
Rapat dengan dewan direksi yang berlangsung selama dua jam ini membahas tentang merosotnya harga saham tiap hari sepeninggal Aboji. Beberapa artis yang kontraknya hampir berakhir memutuskan untuk bekerja sama dengan agensi lain. Beberapa film yang dibuat juga tidak berjalan dengan baik. Income perusahaan akhir akhir ini menurun drastis.
Apa yang salah denganku? Apa aku benar benar tidak mampu memimpin perusahaan?
Semalam pengacara Aboji menemuiku, dan dia menyampaikan wasiat Aboji. Lagi lagi ini soal anak haram itu. Aboji benar benar akan memasukkan anak haram itu ke dalam perusahaan. Sekuat apapun aku menolak, wasiat aboji tetap harus dijalankan.
Tok tok tok
“Selamat pagi Hyung..” Sapa seseorang setelah masuk ke ruanganku. Suaranya sangat kukenal. Pria yang kupukuli beberapa bulan yang lalu di suatu malam. Anak dari seorang wanita hina itu datang menemuiku dengan pakaian jas hitam yang rapi.
Hyung? Sapaan jahannam dari seorang anak haram itu benar benar membuatku gerah. Aku tidak akan pernah sudi menganggapnya adik apapun yang terjadi. Suhu tubuhku rasanya naik beberapa derajat dan hatiku benar benar terasa terbakar ketika dia memanggilku Hyung.
“ Apa yang kau lakukan di sini?”
“Kau belum tahu Hyung? Aku kesini untuk menyapa kakak sekaligus atasanku.”
“Apa maksudmu dengan atasan?”
“Perkenalkan Kyuhyun-hyung, aku adalah manajer produksi baru dari Cho Confession Entertainment, Choi Min Hoo imnida.”
“ Kau? Manajer Produksi? Atas perintah siapa? Aku Pemegang kuasa tertinggi di sini!”
“Bukankah Pengacara Won sudah memberitahumu tentang wasiat Aboji?”
Aah benar, wasiat aboji tentang memasukkan Anak ini ke perusahaan. Tapi bukankah itu terlalu cepat? Pengacara Won baru memberitahuku semalam. Kenapa anak ini sudah berada di sini dengan kesombongan yang luar biasa.
“Tenang saja Hyung, aku disini untuk membantu perusahaan. Bukan untuk menjatuhkanmu seperti yang selalu kau lakukan padaku.”
“Anak brengsek ini benar benar…”
“Sepertinya kau banyak pekerjaan, aku juga akan menyapa yang lain. Kalau begitu aku pergi dulu. “ Kata Min Ho meninggalkanku yang sudah mengepalkan tanganku geram.
*****
<author pov>
Emily semakin sibuk dengan jadwal kunjungan ke berbagai toko buku untuk melakukan review novelnya. Bertemu dengan para pembaca novelnya dan juga fanclub yang baru baru ini terbentuk. Seperti dugaan Chief editor, novel Emily akan mengalami ledakan penjualan, dan itu benar benar terbukti. Di hari pertama, hanya dalam waktu empat jam setelah beberapa toko dibuka. Rak yang berisi novel Emily telah habis.
Emily memang belum terkenal di Korea selatan, tetapi kekuatan Lee Publishing mempengaruhi para pecinta novel. Seorang penulis yang belum terkenal di Korea seperti Emily memiliki nilai penjualan fantastis tentu saja karena penerbit yang membawanya. Penerbit yang sudah terkenal karena menggandeng novelis novelis terbaik, penerbit yang mencetak penulis penulis yang akhirnya terkenal. Dan penerbit yang sering sibuk menolak perusahaan entertainment yang ingin mengambil novel novel terbaik untuk di filmkan.
“Emily-sshi, selain fansclub kau juga punya antifans.” Kata Han Yeon Seol, tim produksi saat dia bertemu di kantin perusahaan.
“Apa? Antifans? Kenapa? Memangnya novelku kenapa?” Emily tidak mengerti mengapa ada antifans padahal karyanya belum seterkenal itu di Korea. Antifans? Bukankah berlebihan?
“ Beginilah Korea Selatan Jagganim. Kalau kau punya fansclub, maka bersiaplah dengan terbentuknya antifans. Tapi walaupun begitu, itu berarti kau sudah memiliki nama sebagai penulis hebat.”
“ AKu sungguh tidak mengerti.”
“Tidak perlu kau pikirkan, urusi saja penjualan novelnya. Dan aku rasa cetakan kedua akan dimulai beberapa minggu lagi. Tim produksi benar benar dibuat sibuk akhir akhir ini.” Katanya sambil meneguk kopi yang dipesannya baru saja.
“Benarkah? Maafkan aku, karena aku tim produksi jadi bekerja lebih keras. ” Emily merasa bersalah, dia menunduk memutar mutar ujung gelasnya yang masih setengah penuh.
“Aaaa, apa maksudmu dengan ‘maafkan aku’. Kami bekerja keras berarti perusahaan maju pesat kan? Tenang saja.” Jawab Yeon Seol.
“Kau sudah bekerja keras..” Emily member semangat kepada Seniornya di kantor.
“Kau juga… aaa, aku mau kembali ke ruang produksi.” Yeon Seol beranjak dari duduknya. Membawa gelas yang berisi kopi pesanannya dan mengambil beberapa makanan ringan.

No comments:
Post a Comment