Tuesday, November 10, 2015

Emily (Part 3)



Pagi ini adalah waktu keberangkatan Emily dan tim editor menuju Korea Selatan. Rombongan berjumlah empat orang, Emily, dua tim editing yang biasa bekerja bersama Emily dan satu orang editor senior yang pernah bekerja di LPC. Setelah berpamitan dengan teman teman kantornya. Mereka segera menuju bandara untuk terbang ke negeri Ginseng dan mulai bekerja disana.


Sungguh udara yang berbeda ditawarkan negeri ginseng ini. Daun daun berubah kekuningan,karena bulan September adalah dimulainya musim semua dedaunan berubah jingga dan saling berguguran. Autumn,musim yang indah yang tidak ditemukan di Indonesia.

(Emily pov)
Aku tidak pernah menyangka berada di jauh dari kepulauan Indonesia, bekerja di Lee Publishing Company dan diberi kesempatan menikmati udara Korea Selatan. Aku tidak perlu menjelaskan apa bedanya Seoul dan Jakarta, walaupun Jakarta tidak begitu nyaman daripada di sini ,tapi  aku tetap ingin kembali ke sana setelah pekerjaanku selesai.

Kami ditempatkan dalam sebuah Mess perusahaan. Sebuah rumah beraksen tradisional korea di tengah gemerlapnya kota Seoul.  dengan tiga kamar tidur dan beberapa ruang lain. Kami juga diberi sebuah van untuk berangkat ke kantor. Tidaklah buruk. Paling tidak mereka menghormati kedatangan kami dan memberikan kami fasilitas yang sangat memadai.

Ini adalah awal yang baru untuk kami semua dan terlebih untukku. Memulai kehidupan baru dengan orang orang baru, membangun kembali semangatku yang sempat hancur beberapa bulan lalu. Saatnya untuk mengurai kenangan kenangan tentang Wedha dan menggantinya dengan memori memori baru yang tidak akan terlupakan. Tidak ada yang lebih indah dari ini, Tuhan pasti punya rencana lain yang akan mengindahkan

****
<First day>
Setelah dibekali acces card dan beberapa pengarahan dari nona Nam Young, tangan kanan Pak Dae Han, mereka sepertinya cukup paham siapa orang dibalik meja Chief Editor di Lee Publishing Company.

“Chief Editor kami adalah anak kedua dari CEO LPC.” Jelas nona Nam Young. Mereka mengangguk mengerti mendengar penjelasan nona Nam Young di dalam lift yang mengantarkan mereka ke lantai 17. Lantai para penulis dan editor.

“Ini adalah ruang editing, kalian bertiga akan berada di sini bersama editor yang lain. Dan Emily-sshi, kau akan bekerja di ruang sebelah sana dengan para penulis yang lain. Itu ruang semi outdoor dan itu ruang istirahat. Mari kuantar ke ruang Chief Editor, beliau sudah menunggu kita.” Kata Nona Nam Young sambil berjalan mendekati ruangan Chief Editor yang berada di antara ruang editing dan ruang penulis.
“Permisi Gwajangnim, saya membawa tim dari Indonesia, untuk menyapa Anda.” Begitulah sekiranya nona Nam Young membawa mereka ke ruang Kepala Editor.

“Eoh? Mereka sudah datang? masuklah dan silakan duduk…”
Seorang pria muda dengan kemeja hitam dan dasi yang menggantung di lehernya menyambut mereka dengan ramah. Tidak seperti yang dibayangkan Emily dan rekan rekannya. Ekspektasi tentang Chief Editor dengan usia paruh baya, berkepala botak dan kacamata mini telah terbantahkan dengan sempurna. Seorang pria berkulit seputih porselen dengan image hangat dan ramah. Wajahnya, tidak perlu diragukan lagi. Sekilas mirip gitaris CNBlue yang charming itu, dan ini adalah untuk pertama kalinya sebuah ekspektasi mereka  lebih buruk dari  realita.

“Annyeong Hasseo…” sapa Emily dan rekannya sambil membungkukkan badan pada calon atasan mereka.

“Anyyeong hasseo, well.. I’ve been waiting for you all. Perkenalkan nama saya Lee Jong Hyun. Chief editor Lee Publishing Company. Nice to meet you!”

(Emily pov)
Chief Editor kami, Ah tidak bisa begitu saja diabaikan. Wajah rupawannya dan keramah tamahannya  benar benar membuatku terpesona saat pertama kali melihatnya. Pria yang aku pikir seusia denganku itu sudah mendapatkan posisi yang sangat diperhitungkan di perusahaan, dan  aku juga sangat yakin, beliau duduk di posisinya tentu bukan hanya karena perusahaan ini adalah milik orang tuanya, tetapi beliau memiliki kemampuan untuk memimpin divisi ini.

***

Hari pertama yang melelahkan untuk Emily, dia harus mempersiapkan materi presentasinya besok dengan Chief Editor  untuk memastikan bahwa novel ‘memories’ karyanya, akan diterbitkan dalam versi Korea.

“Lo belom mau pulang mil?” Riki sudah menenteng tas kerjanya untuk segera meninggalkan kantor. Tapi Emily masih berkutat dengan notebooknya. Wajahnya sedikit mengkerut, urat urat stress Emily tampak mengalur di dahi dan tepi matanya. Ini baru hari pertama kerja, tapi Emily sudah bekerja terlalu keras.

“Belom, kalian pulang duluan aja. Gue tau kok jalan pulang.” Emily yang masih betah duduk di kursi kerjanya di ruang semi outdoor itu bahkan tidak bergeming dari layar notebooknya. Benar benar style Emily saat bekerja. Konsentrasinya tidak mudah terpecahkan oleh suara suara orang lain.

“Lo yakin?”

“Pulang aja dulu, lagian baru jam delapan. Bentar lagi gue selesai kok” Emily masih saja berkutat dengan notebooknya tanpa melihat pria yang mengajaknya bicara. Riki, salah satu dari tiga rekan editor yang dikirim pak Dae Han ke Lee Publishing.

“Nggak gue tungguin aja?” Tawarnya.

Emily menggeleng, tentu saja tidak perlu repot repot untuk menunggunya. Pekerjaannya sebenarnya masih sangat banyak, mana mungkin dia membiarkan Riki menungguinya.

“Yaudah deh, gue pulang dulu. Kalo ada apa apa kabarin gue ya?”  Riki meninggalkan Emily yang masih tanpa berkedip dengan notebooknya.Suasananya kembali Hening. Karyawan sudah pulang satu demi satu. Hanya tinggal Emily di ruangannya yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan hari pertamanya.

“Oke, ati ati dijalan!”

Emily semakin serius dengan persiapan presentasinya besok pagi. Persiapan ini  harus selesai sekali duduk juga. Emily tidak suka menunda pekerjaan terlalu lama. Bagi Emily, dia pantang mengerjakan tugas kantor di tempat tinggalnya selain hanya untuk menulis. Jadi soal persiapan persentasi dia harus cepat menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang.

Kopi hangat itu menyentuh tenggorokan Emily, tentu saja menyegarkan. Rasanya mata bening Emily telah kembali, kafein memang luar biasa untuk para penikmat malam. Kopi, memang bukanlah minuman favorit Emily. Tapi hanya kopi yang selalu menemaninya dikala terjaga, dikala dia menyusun tulisannya atau dikala dia  menyelesaikan tugas tugas kantornya. Dua jam telah berlalu dan derak langkah sepatu berjalan mendekati ruangan Emily.

“Emily-sshi? Kau belum pulang?” Pemilik suara itu yang Emily temui tadi siang. Pria dengan kemeja hitam dan keramah-tamahannya. Lee Jong Hyun Gwajangnim.

“Eoh? Saya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan, gwajangnim. Anda belum pulang?”

Lee Jong Hyun gwajangnim memasukkan tangannya ke saku celananya. Dia menatap Emily heran, ini adalah hari pertama Emily bekerja di sini. Mengapa sudah ada pekerjaan yang sampai membuatnya lembur di kantor.

“ Pekerjaan? Di hari pertamamu? Kita bahkan belum menandatangani kontrak.” Tanya Lee Jong Hyun yang masih berdiri di pintu depan ruangan itu.

“Hanya sedikit pekerjaan gwajangnim, Mungkin setengah jam lagi selesai.”

“Ini sudah jam 10, kau harus pulang. Jangan bekerja terlalu berat. Bukankah besok kau presentasi?” Emily hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Lee Jong Hyun.

“Jangan jangan kau…” Nampaknya Lee Jong Hyun mengerti  apa yang sedang dikerjakan Emily. “ Kau belum selesai membuatnya?” Tanya Lee Jong Hyun.

“Not yet, gwajangnim. “ Jawab Emily.

Lee Jong Hyun menelusup masuk ke dalam ruangan Emily, mengambil kursi di samping Emily dan melihat layar notebook Emily. . “Apa kau tidak mempersiapkan sebelum kau kesini?”

“ Ada sedikit masalah, tapi saya hanya takut terlalu membual ketika harus menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi saya lebih baik mengerjakan presentasi dari awal.”

“Kalau kau belum siap kita bisa menundanya. Kita punya waktu sampai siang. Ini sudah malam tidak baik untuk seorang wanita berada di kantor sendirian.”

“ Bukankah anda bersama saya sekarang?”

“ Bahkan  lebih membahayakan jika kita hanya berdua, rumor di Korea lebih menyeramkan daripada pembunuhan.”

“Benarkah?” Emily memasang wajah serius namun masih dengan tata sopan dan santun pada atasannya itu.

“Ckck… Apa yang akan dipikirkan para penjaga kantor kalau melihat kita berdua di kantor selarut ini. Dan esoknya, berita itu akan tersebar di seluruh divisi. Kau karyawan baru, sudah berani menggoda tuan Lee, karena mereka telah menghabiskan malam berdua di kantor. ” Mata Lee Jong Hyun menatap langit langit  menakut nakuti Emily dengan kisah imajinasi yang dikarangnya sendiri.

“ Benarkah? Secepat itukah? Kalau begitu, bukankah lebih baik gwajangnim pulang terlebih dahulu?”

“ Aish, jeongmal! Aku yang menyuruhmu pulang kau paham?”

“Tapi pekerjaan saya….”

“ Ini perintah! Kau paham Emily-sshi? Lebih baik kau selesaikan di rumah.  Itu lebih baik bagimu daripada di kantor.” Lee Jong Hyun menunjukkan otoritasnya pada Emily. Emily yang keras kepalapun  tidak dapat melakukan apa apa selain menghentikan aktifitasnya dan mulai berkemas.

“Mau kuantar?”

“ Tidak usah gwajangnim, saya harus pergi ke suatu tempat dulu.”

“Dan kau masih mau pergi lagi?”

“ Hanya berbelanja keperluan sebentar.”

“Baiklah, kalau begitu aku antar kau berbelanja, lalu pulang ke mess segera.”

“Terimakasih gwajangnim, tapi saya rasa tidak perlu. Saya tidak mau merepotkan. Lagi pula saya juga ingin berjalan-jalan di sekitar sini.”

“Benar benar sulit sekali menyuruhmu pulang. Kalau begitu berhati hatilah. Aku telah berhasil membawamu kemari jadi tolong jaga dirimu baik baik. Aku bertanggung jawab atas kalian karena Dae Han sunbae.” Emily tidak pernah menyangka Chief editor adalah orang yang terlalu mempedulikan orang lain. Di detik yang sama, bertambah pula pesona pria muda ini di mata Emily.

Mereka berpisah di lift. Emily menuju lobi dan Lee Jong Hyun menuju tempat parkir. Malam musim gugur yang menyegarkan. Malam gemerlap memang sudah biasa bagi Emily. Bedanya, kali ini dia menikmatinya dengan berjalan kaki. Menembus udara yang sejuk dan guguran daun yang diterpa angin.

“Gue bener bener ada di Korea…” Emily menghela nafasnya, masih sedikit tidak percaya dirinya berada satu negara dengan Jo In Sung, aktor drama favoritnya.  Sambil menenteng tas baru yang dia beli sebelum ke Korea, ia berjalan tanpa ragu melewati pertokoan  wisata malam. Senyumnya mengembang, langkah kakinya terasa ringan setelah sedikit pening dengan persiapan presentasinya. sebenarnya Emily masih ingin menikmati suasana malam kota Seoul. Tapi pekerjaannya memaksa dia segera pulang.

Traffic Light menyala merah sebelum Emily sampai di ujung zebracross. Emily memeriksa handphone sesaat sebelum menyeberang.

“Aah, lowbat segala lagi.” Emily meletakkan handphonenya kembali ke dalam tas kerjanya. Sampai sebuah audi putih melaju dari arah kanan, menyerobot hak Emily untuk menyeberang.

Bruuukkk….

Emily tersungkur ke aspal. Kakinya terluka dan dahinya terbentur lapisan jalanan itu. Emily mengaduh, tapi pengendara mobil itu hanya membuka kaca mobilnya dan membuang secarik kartu nama.

“Cepat ke rumah sakit, dan telepon nomer itu, akan ku ganti tagihan rumah sakitnya. Aku tidak bisa membantu sekarang. Aku benar benar dikejar waktu.” Kata seseorang didalam mobil putihnya. Ia berbelok dan menancapkan pedal gasnya dalam dalam.
Emily merintih, lututnya lecet  dan dahi kirinya terluka. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali beranjak bangkit seorang diri. Tidak ada yang menyaksikan tabrak lari yang dilakukan pria bermobil itu.

 Gwaencanha yo?” tanya seseorang perempuan yang kebetulan melintas dan melihat Emily tersungkur di jalanan.  Emily hanya mengangguk dan kerumunan orang datang menghampiri mereka.

“Apa kau baik baik saja?”

“Apa kau baik baik saja?”

“Telepon 119, palli..palli…” Kata seseorang yang lain.

Mendengar kebisingan dan betapa membingungkan bahasa yang belum Emily mengerti membuat nafas Emily terasa sesak dan sedikit demi sedikit tubuhnya melemah dan Emily kehilangan kesadarannya  di tempat kejadian.

No comments:

Post a Comment