<Emily part 4>
“Yak, brengsek kau mengganggu tidurku.” Teriak seorang pria setelah turun dari mobil yang dikendarainya di parkiran mobil. Sebuah tinju melayang dari tangan pria itu ke pria lain dihadapannya. Setelah puas mendaratkan kepalan tangannya ke wajah pria di hadapannya. Dia berjalan menjauh, memilih kembali ke mobilnya.
Pria yang disampingnya hanya meringis menahan sakit bekas tinjuannya. “Kau yakin aku hanya mengganggu tidurmu? Tidakkah kehadiranku mengganggu keberadaanmu di dunia ini… Cho… Kyu..Hyun…sshi..” Kedua pria ini saling menatap sengit. Senyuman licik si penerima tinju menyeringai. Ada dendam yang berkecamuk dari kedua matanya.
“Aku dengar kau semakin memprihatinkan Hyung, kalau kau tak mampu meneruskan mengurus perusahaan. Biar aku saja yang mengurusnya.” Katanya sambil memegangi rahang dan sudut bibirnya yang robek.
“Brengsek!! Jangan memanggilku dengan kata itu!” Teriak Pria, yang dipanggil Cho Kyuhyun oleh pria di hadapannya. “Dan apa? Perusahaan? Jangan pernah mimpi kau bisa menginjakkan kakimu di sana!”
“Benarkah? Bagaimana jika aku bisa?”
“Akan ku tendang keluar! Sebelum kau sempat melangkah satu jengkal saja dari lantai perusahaanku.”
“Usahamu begitu keras Hyung..”
“Brengsek!!!” Pukulan ke dua tepat mengenai tempat yang sama dengan pukulan pertama. “Jangan pernah berniat mengusik perusahaan jika hidupmu tidak ingin seperti neraka. Camkan itu!” Teriak Cho Kyuhyun meninggalkan pria yang dihajarnya.
Cho Kyuhyun, pria berkepribadian pembangkang, menyukai kebebasan dan tidak suka diatur adalah seorang calon penerus generasi ketiga perusahaan produksi perfilman Korea Selatan Cho Confession Entertainment.Orang orang pun akan ragu dengan deretan sifat buruknya itu apakah dia mampu untuk meneruskan perusahaan keluarganya. Cho Kyuhyun bahkan tidak peduli tentang meneruskan perusahaan. Dia hanya melakukan hal semaunya dan sesuka hatinya. Hingga muncul wacana bahwa Cho Kyung Do, ayah Cho Kyuhyun akan membawa orang lain untuk bergabung di dalam perusahaan.
Saudara tiri? Persetan dengan saudara tiri. Aku tidak akan membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku apapun yang terjadi. Tidak akan aku biarkan dia melenggang masuk ke perusahaan. Anak pelayan itu benar benar melangkah terlalu jauh. Mimpimu terlalu tinggi bung…bangunlah!
Kyuhyun menancapkan pedal gasnya dalam dalam menuju rumah besar Aboji dan Eommeoni.
“Aboji, aku tidak akan membiarkan kau memasukkan anak pelayan itu ke perusahaan. Apapun yang terjadi.” Kyuhyun menerobos masuk kamar orang tuanya.
“Keputusan aboji sudah bulat. Kau tidak bisa menolaknya lagi.” Kata Aboji. Matanya tidak memandang kedatangan anaknya yang benar benar sudah kehilangan sopan santunnya itu. Matanya bahkan tidak memandang barang sedetik, perhatiannya hanya pada buku setebal sepuluh centi di tangannya.
Sebenarnya apa yang ada dipikiran aboji sampai harus membawa bawa anak itu ke perusahaan. Apa aboji tidak tahu keputusan itu bisa mempengaruhi perusahaannya kemudian hari.
“Aboji, nasib saham perusahaan akan anjlok jika aboji membuat keputusan yang salah. Bagaimana dengan dewan direksi?” Kyuhyun masih saja memberikan alasan agar Ayahnya membatalkan keputusannya membawa anak hasil perselingkuhan dengan pelayannya dulu.
“Bahkan jika perusahaan bangkrut besok, kau juga tidak peduli. Kenapa sekarang memikirkan saham perusahaan?” Nada meninggi aboji terdengar bahkan sampai ke luar ruangan.
“Eomma, katakan sesuatu pada aboji.”
“Memangnya apa yang bisa ibumu lakukan? Dia akan mendukung semua keputusanku. Aku sudah menuruti maumu tapi kau menghancurkan hidupmu seperti itu? Apa aku harus membiarkan perusahaan yang sudah mati matian kakekmu bangun hancur begitu saja seperti hidupmu? Benar benar berandalan ini..” Eomma Cho Kyuhyun tidak bisa berbuat apa apa selain menuruti keinginan suaminya. Sudah ratusan kali ibunya membela Kyuhyun di hadapan suaminya tapi Kyuhyun bahkan tidak peduli. Ibunya mempertahankan jabatan itu untuk Kyuhyun tetapi Kyuhyun mengabaikannya.
“Bagaimana jika aku mau memimpin perusahaan? Apa kau akan tetap membawa dia?” tawar Kyuhyun.
“Berandalan sepertimu mana bisa memimpin perusahaan..”
“Aboji, jebal…”
“Apa yang akan kau lakukan jika dalam rapat direksi kau ditolak untuk menjadi pemimpin tertinggi perusahaan? Sudahlah, kita sudahi perdebatan ini. Aboji akan berangkat ke Swiss, kita bicarakan ini setelah Aboji pulang.”
“Aboji… Aboji…” Kyuhyun ditinggalkan di kamar mereka. Ibunya berjalan mengekor suaminya. Tapi wajah sendunya masih tetap menatap anak satu satunya itu. “Uri Kyuhyunie, mianhae…” ucap ibunya tanpa suara.
***

No comments:
Post a Comment