Tuesday, November 10, 2015

Emily (Part 6)



Emily sampai di rumah dengan kondisi yang memprihatinkan. Kawan kawan serumahnya sedang kebingungan mencari keberadaannya. Mereka bahkan menelepon polisi dan mencari di sekitaran kantor dan rumahnya semalaman ini.  


“Emily, lo darimana aja?” Stefanie adalah satu satunya orang yang berada di rumah. Ricky  dan Agus sedang mencarinya di seluruh jalanan dari kantor menuju rumahnya. “Badan lo kenapa kok diperban gitu?”

“Gue ditabrak orang tadi, jadi gue ke rumah sakit. Tapi udah nggakpapa kok.”

“Duh Mil, pokoknya mulai  besok lo harus pulang sama kita kita. Lo nggak boleh  kaya gini lagi. Kok bisa sih sampe ditabrak?”

“ Dia lagi buru buru..”

“Jadi semaleman ini lo di rumah sakit?  Lo kan bisa ngehubungin kita.”

“Handphone gue ilang, kayaknya jatoh pas gue ketabrak, udah yang penting kan gue selamet sampe rumah. Gue istirahat bentar ya, bangunin jam 6.Gue mau nyiapin presentasi buat jam 9. Agus sama Ricky suruh pulang tuh.”

******



<Emily pov>

Musim gugurku yang pertama, aku menikmatinya di negeri ginseng. Daun daun berguguran sangat cantik dengan warna kekuningan. Aku masih terpesona dengan alam tempat tinggal baruku. AKu harus mengunjungi kota kota lain negeri ini. Aku yakin aku bisa mendapatkan banyak inspirasi menulis. Negeri dengan romantisme daun maple jingga yang menjadi alas berjalan. Udara sejuk yang menggelitik kulit para manusia tropis sepertiku.

Presentasi dimulai, aku mempersiapkannya dengan sangat singkat. Tapi mereka sepertinya tidak kecewa dengan presentasiku. Bolehkah aku sedikit berbangga untuk awal pekerjaanku ini? Ah tidak, aku rasa belum saatnya.

Masih banyak yang harus kau lalui Emily. Tidakkah kau terlalu cepat berpuas diri?

Kerja bagus Emily-sshi, you got it!”  Lee Jong Hyun gwajangnim memuji presentasiku yang berlangsung baru saja. Beberapa Editor dan kepala divisi penulis akhirnya menyetujui pembuatan novel Memories ku dalam versi Korea. Tanggung jawab sepenuhnya pengerjaan novel ini berada di tangan penulis  dan Chief Editor
“Khamsahamnida, gwajangnim.” Sangat melegakan ketika semua berjalan sesuai rencana. Aku harus bekerja lebih baik dari sebelumnya.

“By the way….” Kata Chief editor menunjuk kepalaku yang dibalut perban di hari presentasiku.

“Eoh? Hanya kecelakaan kecil Gwajangnim..”

“Kau harusnya lebih berhati hati dengan kepalamu, semua idemu berasal dari situ kan?” Katanya, kakinya melangkah meninggalkan ruang presentasi dengan membawa draft novelku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa inggris. Di depan pintu dia berbalik ke arahku. “Oiya, akan kusiapkan kontrak kerja kita, kau bisa menandatanganinya di ruangan kepala penerbit besok.”

“Nee, algesseumnida.”

*****

No comments:

Post a Comment