Tuesday, November 10, 2015

Emily (Part 8)




<Emily pov>

Draft novel ‘Memories’ ku sudah berakhir di tangan editor, aku hanya menunggu mereka mengedit naskah dan mengalih bahasakannya menjadi bahasa korea. Bekerja di musim yang dingin membuatku menjadi banyak makan, berat badanku naik beberapa kilogram tapi mungkin otakku telah menyusut. Aku telah menggunakan segala daya dari sistem saraf pusatku secara berlebihan beberapa bulan ini.  AKu harap hasilnya sesuai dengan harapanku dan harapan perusahaan.


Aaaaargh, coffe…coffe…coffe…

Bahkan siang hari sudah membuatku mengantuk, jangan sampai aku berubah jadi manusia nocturnal lagi. jangan sampai panda memberikan kantung matanya padaku.  Jangan sampai aku menjadi manusia kelelawar yang bangun di malam hari dan tidur di siang hari.

Sepertinya aku butuh kopi
“Aku mau keluar sebentar, apa ada yang mau pesan makanan?” Aku menanyakan pada rekan divisiku.

“Aku.. tolong belikan sandwich, aku tidak bisa keluar karena mood menulisku sedang bagus.” Kata Shin Hae.

“Baiklah… ada yang lain?”

“ Aku, aku sedang diet jadi belikan jus strawberry saja siang ini.” Lee So Ra mengangkat tangannya diujung ruangan.

“Waah sejak kapan kau diet?” Tanyaku pada wanita yang sudah berkali kali mengucapkan kata diet yang bagiku hanya mitos. Dia pasti akan melupakan dietnya dan memesan banyak junk food esok harinya. Ini sudah yang keempat kalinya dia melakukan ini setelah kedatanganku.

“Sejak kau bilang aku lebih gemuk, tidak seperti saat kau datang kemari.” Katanya sedikit sewot.

“Ya Tuhan, kau benar benar percaya ucapanku?” Saat itu aku memang mengatakan padanya bahwa dia jadi lebih gemuk dan aku benar benar tidak bohong soal itu. Jadi dia benar benar memikirkan ucapanku?

“Diam lah, tidak ada yang bisa mencegahku diet sekarang.”

“Hahaha, baiklah..” Jawabku menyelesaikan perdebatan soal diet dengannya. Karena tidak berguna bila berdebat hari ini, emosinya tentang diet masih sangat kuat, tapi aku rasa besok dia akan mengajakku makan jajangmyeon,  ramyeon dan patbingsu sekali jalan.  

Iya, dia selemah itu soal diet.

Kedai kopi favoritku berada di ujung jalan, aku sangat suka berjalan kaki menuju kesana karena jalanan kota Seoul tidak pernah membosankan. Apalagi ini sudah hampir melewati musim dingin, salju adalah hal yang paling ingin ku lihat. Melihat salju bak kapas kapas putih yang menghujani tubuhku

“Aaah, ngomong ngomong kapan salju pertama turun ya?” Aku berjalan cepat, ternyata cuaca dingin musim ini benar benar menusuk, mungkin karena belum terbiasa dengan cuaca seekstrim ini.

Bagi seorang penulis, kopi dan salju adalah pasangan paling sempurna di musim dingin.

“Nona, berikan aku  satu kopi dan satu sandwich keju.” Aku menunggu pesananku di meja dengan vibrator di tangan dan membaca tabloid fashion yang ku beli saat perjalanan kemari.

“Nona, nona… pesanan anda telah siap.” Kata pelayan kedai. Aku bahkan tidak melihat vibrator di mejaku bergetar dan menyala. Aku mengambil pesanan dan segera beranjak kembali ke kantor.

Brrukkkk….

Lagi lagi sebuah logam keras menyentuh lututku. Kali ini mobil keluaran jerman berwarna hitam elegan. Sandwich dan kopi milikku terserak ke aspal, begitu pula tabloid yang ku beli. Kenapa mobil mobil di sini suka sekali menabrak lututku sih?

“Kau baik baik saja nona? Apa ada yang terluka? ” Laki laki yang mengendarai BMW  L series itu segera keluar menghampiriku. Wajahnya sungguh terlihat mengkhawatirkan. “Ada yang sakit? Ayo aku antar ke rumah sakit.” Katanya, nada suaranya bergetar, tangannya juga bergetar hebat.

“Tidak apa apa, aku hanya…. ” Aku terdiam sebentar, menatap seseorang yang sedang mengulurkan tangannya padaku. Otakku seperti me-recall suatu peristiwa yang aku alami beberapa bulan lalu, dan pria itu?

“Kau, pria kartu nama kan?” Aku sepertinya mengingat kejadian yang beberapa bulan lalu di rumah sakit.

“ Aku? pria apa?” tanyanya, mungkin baginya asing mendapat julukan itu.

“ Kau pria yang di rumah sakit? Yang menabrakku waktu itu kan?” aku memastikan siapa pria yang sekarang berada di hadapanku. Wajahnya tampak tidak asing walaupun aku tidak mengambil perhatian penuh padanya saat itu.

“Kau? Wanita yang di ruang emergency?”  Dia malah berbalik tanya padaku. Aku mengangguk. Dia juga sepertinya mengenalku setelah kuingatkan tentang peristiwa itu. Dia mengajakku ke rumah sakit tapi ku tolak karena aku pikir aku baik baik saja. Hanya telapak tangan menyangga tubuh kecilku yang tergores sedikit.

“Kenapa kau sering sekali jatuh di depan mobil orang lain?” Katanya, setelah mengajakku pergi ke kedai kopi yang baru saja ku singgahi. Kami bicara berdua setelah dia mengambil beberapa inisiatif untuk meminta maaf padaku. Dia mentraktirku secangkir kopi dan mau mengganti barang barangku yang jatuh.

“Kau yang sering menabrak lutut orang yang berjalan kaki. Sekarang kau tidak lari dan melempar kartu namamu lagi? ” Jawabku tidak mau kalah.

“Maaf untuk kejadian waktu itu, aku meninggalkanmu sendirian di jalan.” Pria dihadapanku ini  menunjukkan penyesalannya karena meninggalkanku di jalanan sendirian.

“Aaah, tidak… aku yang minta maaf karena mengomel padamu. Oiya, aku juga ingin berterimakasih padaku tentang biaya rumah sakit. Sebenarnya aku mau berterimakasih saat itu tapi sepertinya  waktunya tidak cocok.” Jelasku.

“Ooh saat itu, iya.. saat ayahku meninggal.” Jawab Pria itu. Dia menunduk. Aku pikir dia menyembunyikan kesedihannya di bawah sana.

“Kau sudah baik baik saja kan sekarang? Aku sebenarnya ingin berterimakasih padamu saat itu, tapi sepertinya..”

“Tidak apa apa, aku sudah baik baik saja sekarang.” Jawabnya.

Baik baik saja apanya? Bahkan dari matamu aku melihat ada kekosongan, wajah kehilangan bahkan masih kentara, senyummu tidak benar benar lepas, dan lihat saja tadi saat aku jatuh karena kau tabrak. Ekspresimu adalah ekspresi bersalah yang berlebihan, kau hanya menabrak bagian paling luar celana kerjaku. Bahkan tidak menyentuh kulitku. Tapi rasa bersalahmu menjadi jadi.

“Ngomong ngomong siapa namamu?” Pria itu meneguk gelas kopinya setelah bertanya tentang namaku.

“Aku? namaku em…” belum sempat ku sebutkan nama. Panggilan telepon berdering di saku mantel dinginku.

“Yeobseyo, ne gwajangnim. Ne, Ne, baiklah. Aku segera kembali ke kantor.” Aku melihat arloji yang melingkari tangan kiriku, benar saja. Jam istirahat telah habis dan siang ini aku harus bertemu dengan chief editor membahas tanggal rilis novelku.

“Maaf, sepertinya aku harus pergi, terimakasih untuk kopi dan sandwichnya. Cho Kyung Do-sshi”

“Tapi… tunggu.. Bagaimana kau tahu..”

“Mian mian…aku pergi dulu.”

****
<Kyuhyun pov>
Wanita itu meninggalkanku yang masih duduk dengan segelas Americano yang kupesan.  Apa dia bilang? Cho Kyung Do? Hei, bagaimana bisa dia tahu nama itu? Tapi itu kan nama aboji, bukan namaku?

Kartu nama itu?

Aah benar, kartu nama itu kan milik aboji. Aku selalu membawa kartu nama aboji untuk menyelesaikan masalah. Aaah, yang benar saja, namaku Cho Kyuhyun… bukan Cho Kyung Do.

Eoh? Dompet gadis itu… ?

*******
“Permisi nona, apa kau menemukan dompet berwarna hitam dengan tekstur bunga bunga emas?”
Emily bertanya pada salah satu pegawai kedai kopi setelah pulang kerja.  “Sepertinya aku menjatuhkannya di sini.”

“Aaa, benar. Tadi ada seorang pria yang membawa dompetmu. Dia meninggalkan kartu namanya disini. Katanya jika kau ingin mengambilnya kau bisa meneleponnya.”

“Seorang pria?”

“Aku pikir dia yang bersamamu tadi siang. Aku familiar dengan wajahmu karena kau sering kemari.” Kata Pelayan kedai kopi di depanku.
“Oo, jadi pria itu.” Emily menerima uluran kartu nama dari pegawai kedai. “kalau begitu terimakasih, aku akan menghubunginya.”

Beberapa kali Emily menelepon nomor yang tertera di kartu nama pemberian pegawai kedai tadi. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Emily mengiriminya pesan.




To : Tn. Kartu Nama

Selamat malam tuan kartu nama,kau yang memberikan kartu nama kepada pegawai kedai kan?  Bisakah kita bertemu untuk mengambil dompetku. Ada banyak kartu kartu penting di sana.

Satu jam lebih Emily  menunggu balasan dari pria itu. Bahkan handphone tidak pernah lepas tangannya.

“Pria itu benar benar… dia memberiku nomor handphonenya tetapi dia sangat sulit dihubungi.” Emily merutuki nasibnya yang sial hari itu.

“Ya sudah ikhlaskan saja.” Kata Shin Hae. “Mana mungkin dia mau mengembalikan dompet. Jaman sekarang tidak ada orang yang bisa dipercaya.”

“Tapi menurutku, dia bukan tipe orang seperti itu. Dia tidak akan mengambil dompet orang lain dan tidak mengembalikannya. Aah, aku bisa gila. Banyak sekali kartu kartu penting di sana. Menyebalkan sekali kalau sampai mengurus ulang kartu kartu itu.”

“Lebih baik lapor polisi saja agar identitasmu tidak disalah gunakan.”

“Haruskah?”

Shin Hae mengangguk. Dia adalah warga Negara Korea Selatan jadi dia lebih tahu apa yang harus dilakukan jika menemukan kendala semacam ini.

Tluuut….
From : Tn Kartu Nama
Apa kau membutuhkannya sekarang? Maaf aku sangat sibuk malam ini. Apa kita bisa bertemu besok pagi.

Ah, besok pagi aku ada rapat dengan tim editing dan itu sangat penting karena menyangkut rencana promosi novelku. Kalau dia begitu sibuk kenapa harus repot repot membawa dompetku. Dia bisa menitipkannya di kedai.

To : Tn Kartu Nama
Aku tidak yakin dengan besok pagi. Aku benar benar membutuhkannya malam ini. Begini saja, aku yang akan menghampirimu malam ini. Berikan saja alamatmu. Aku yang akan datang ke sana.”

From : Tn Kartu Nama
“baiklah kalau begitu. Baca saja alamat di kartu nama yang ku berikan. Aku sedang berada di sana sekarang.”


Lightblue photo Art? Tempat apa ini? Apa semacam gallery foto? Atau tempat percetakan foto?

Tanpa membuang waktu lagi, Emily mencari taksi menuju alamat yang tertulis di kartu nama pria itu. Setelah sekitar 20 menit berjalan. Taxi Emily berhenti di sebuah bangunan kecil namun dikelilingi  lampu lampu yang sangat terang berwarna biru. Yaah, mungkin sesuai namanya LightBlue.
<Emily pov>
Aku menggeser pintu masuk dan melangkahkan kaki ke dalam bangunan itu. Mataku dimanjakan dengan bingkai bingkai super besar dengan gambar yang indah di dalamnya. Bangunan itu hanya sepetak ruangan, mungkin berukuran 10 x 8 meter atau mungkin lebih lebar sedikit.

Pria itu berada di depan computer jinjingnya, menyadari seseorang masuk ke gallery kerjanya dan mengucapkan salam.

“LightBlue PhotoArt selamat mal… “ Tuan kartu nama itu tidak meneruskan perkataannya “Eoh, kau disini?” Dia segera bangkit dari duduknya. Mempersilahkan aku duduk di bangku panjang yang cukup artistic.

“Ne, aku mau mengambil dompetku.” Jawabku. Aku masih terpesona dengan desain interior ruangan itu. Benar benar terkesan classy dengan taburan warna biru yang cantik. Tidak menunjukkan sisi feminine tapi juga tidak terlalu maskulin. Desainnya sangat cocok untuk segala gender.

“Sepertinya banyak barang penting di dompetmu sampai kau jauh jauh kemari, maaf aku tidak bisa mengantarkannya. Aku sedang banyak pekerjaan.” Jelasnya.

“Tidak apa apa. Aku juga ingin berterimakasih padamu karena menyelamatkan dompetku.” Aku duduk di depan meja kerjanya dan meletakkan tas dan handphoneku di atasnya.

“Aah, itu bukan masalah besar, Ini?” tangannya menyodorkan dompet yang diambilnya di laci meja kerjanya , coba dicek isinya. Aku sama sekali tidak membuka isinya. Sungguh..”

“Iya, aku percaya… Jadi ini tempat kerjamu? Kau sendirian? ”Tanyaku, sambil berjalan mengitari bingkai bingkai besar itu. Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, beginilah tempat kerjaku. Bagaimana? Kau mau berjalan jalan di sekitar?”

“ Gwaencanha, aku langsung pulang saja. Sekali lagi terimakasih untuk dompetnya. “ Dan sekali lagi juga pria itu mengangguk. Mengantarku hingga depan pintu gallery fotonya. Senyumnya mengembang sempurna tanpa baking powder sekalipun.

“ Lain kali kau harus lebih memperhatikan bawaanmu” Pesannya padaku.

“Tentu saja. Kalau begitu aku pulang dulu.” Setelah saling membungkuk, aku berjalan pelan menuju halte bus. Benar benar udara dingin yang menusuk tulang tulangku. Musim salju pertamaku di Korea, ini baru awal dan udara belum sepenuhnya berada di suhu terendah. Tapi aku sudah mulai menggigil sekenanya. Gigiku menggeretak kedinginan. Kaki kakiku bergerak terus menerus agar menghasilkan hangat.  Mantel coklat yang kupakai bahkan tidak kuat menahan dinginnya malam yang semakin larut.

“Handphone? Aaaaaargh… Mil, lo ceroboh banget sih!!” Aku memukul mukul kepalaku. Sebenarnya apa yang kupikirkan hingga handphoneku harus kutinggalkan di meja kerjanya. Tidak mungkin kembali ke sana, lagipula ini sudah malam dan aku sudah sangat lelah.
******

Pagi ini, salju pertama turun dan novelku akan siap rilis dan dipasarkan di book store di seluruh Korea Selatan. Tentu saja hatiku berdebar, kerja kerasku beberapa bulan ini akhirnya terbayar. Aku bahagia sekaligus merasa sedikit khawatir. Bahagia karena aku berhasil menerbitkan novelku dalam versi Korea dan aku sedikit khawatir akan hasil yang akan dicapai, aku takut mereka tidak seantusias pembaca Indonesia dalam menyambut karyaku.
Perusahaan telah mempercayakan novelku diterbitkan, maka jadwal kunjungan ke berbagai toko buku juga telah ku kantongi, dan kata chief Jong Hyun, jika penjualan novelku baik maka jadwal kunjungan mungkin akan bertambah.

“Percaya lah Emily, ini adalah hari yang baik.” Aku menggumam dalam hati.

Oh benar, handphoneku. Aku harus mengambilnya setelah selesai rapat ini. Chief JongHyun memberikan aku waktu beristirahat hingga besok. Jadi aku bisa mengambil handphoneku yang tertinggal.

“Jagganim, kau mau kemana?” Tanya salah satu asisten editor.

“Aku mau beli kopi lalu pergi ke suatu tempat. Ada apa?” Tanyaku. 

“Harusnya kau berpesta bersama kami, ini kan hari kau menerbitkan novelmu.”

“Ah begitu, haruskah? Sebenarnya aku sedikit khawatir dengan hasil penjualannya. Mana bisa aku berpesta dengan beban seperti ini?”

“Kau benar juga. Ya sudah istirahat saja. Tapi jagganim, Kau harus yakin dengan karyamu. Novelmu bahkan best seller di Indonesia. Aku yakin di sini juga akan berjalan seperti yang kau harapkan. Kau tenang saja.”

"E’em.” Anggukku

No comments:

Post a Comment