Tuesday, November 10, 2015

Emily (Part 2)


Emily (Part 2)
Emily adalah seorang penulis tetap di salah satu perusahaan penerbit ternama di Jakarta. Dia sudah menjalani kehidupannya sebagai penulis sejak dia masuk kuliah, bekerja sebagai penulis lepas selama tiga tahun dan bekerja menjadi penulis tetap penerbit pada tahun keempat. Semuanya dijalaninya dengan sangat tekun dan tanpa mengenal lelah, dan hasilnya tentu saja. Novel novel roman mahadahsyat yang dipajang di seluruh toko buku di Indonesia.


Siapa yang tidak mengenal Emily, gadis berperawakan mungil dan cantik dengan hidung yang sedikit mancung. Kulitnya seputih susu dengan mata coklat yang bulat. Gayanya yang sangat lembut selalu menjadi image baik yang melekat pada dirinya. Otak dan imajinasinya tentang kisah kisah cinta nan romantis meluluhkan perasaan pembacanya. Tidak heran akhir akhir ini dia begitu tenar dikalangan pecinta novel fiksi roman.

Tapi daftar keunggulan keunggulan yang dimilikinya seakan runtuh oleh hancurnya hati Emily. Pikirannya kosong, Raut cerianya tiga bulan ini nampak absen dari wajah mungilnya dan tawa yang dia tampilkan tidak ubah hanya kegetiran yang disamarkan. Tampak jelas oleh kawan kawannya yang keseharian duduk bergabung bersamanya dalam tim.

Ternyata seorang penulis novel roman yang pintar mengaduk aduk perasaan pembacanya pun hatinya sangat lemah, selemah  tokoh tokoh yang dia gambarkan dalam novelnya.  Wanita melankolis ini hatinya telah patah, mungkin bukan hanya patah..melainkan hancur.

“Lo ada masalah Mil?” tanya kepala penulis di divisinya. Emily hanya menggeleng enggan dan terus memandang notebook yang sedari tadi hanya berada di posisi standby. Wallpaper notebooknya telah berganti dengan gambar pelangi, tidak lagi gambar fotoboxnya bersama Wedha.

“Kak Emil, dipanggil Pak Dae Han tuh.” Kata Nadya setelah keluar dari ruangan penuh kaca tepat di depan tempat duduk Emily. Pak  Dae Han adalah seorang Chief Editor berkewarganegaraan Korea Selatan. Dia adalah seorang Chief Editor perusahaan penerbitan ternama di Korea Selatan yang bekerja sama dengan perusahaan tempat Emily bekerja sekarang.
“Ada apa?” Tanya Emily dengan sedikit berbisik pada Nadya. Emily tidak begitu yakin dengan pemanggilannya yang tiba tiba.  Nadya hanya mengedikkan bahunya tanda tidak mengerti apa yang akan terjadi pada Emily. Emily mendadak khawatir tentang produktifitasnya menulis saat ini. Apa dia dipanggil karena belum menyerahkan satu lembarpun hasil tulisannya ke bagian editing?

Emily melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan Pak Dae Han. Wajah oriental dengan  sedikit sentuhan  double eye lid dari pisau bedah itu menyambut Emily dengan tersenyum. Kemeja batik adalah kebanggaan baginya. Iya, pak Dae Han adalah penggila batik Indonesia. Perjalanannya menjelajah kota kota di Indonesia hanya untuk mencari lembaran batik di setiap daerah. Benar benar pemburu batik paling loyal untuk ukuran warga Negara asing.

“Emily, silakan duduk.” Kata Pak Dae Han masih dengan bahasa Indonesia yang kaku.

“Terimakasih pak.” Emily mengambil tempat di kursi depan meja kerja Pak Dae Han. Menggenggam tangannya sendiri yang mulai merasa cemas.

“Baiklah, langsung saja ke pokok permasalahannya. Sejujurnya saya sedikit kecewa dengan produktifitasmu akhir akhir ini karena kamu tidak menunjukkan beberapa progress untuk tulisan selanjutnya.” Kata Pak Dae Han tanpa ada pembukaan kalimat yang menyenangkan.

“Maafkan saya pak, saya akan berusaha lebih keras.”

“Begini saja, Kau lihat ini?” Pak Dae Han menyodorkan sebuah novel dengan cover berwarna merah dari laci mejanya . Emily sangat mengenal cover itu, karena desain cover itu adalah yang terbaik menurut Emily.

Sebuah novel yang sempat sukses setahun yang lalu dan sampai sekarang masih terus dicetak adalah salah satu mahakarya terbaik Emily. Kini Pak Dae Han membuat novel itu ada di hadapannya.  

“Bukankah ini novel Memories, Pak?”

“Kamu bisa buka isinya!”
Betapa terkejutnya hati Emily melihat tulisan yang ada di dalamnya bukanlah tulisan latin, atau bahkan berbahasa Indonesia. Tapi barisan huruf huruf dengan bulatan dan kotakan kotakan yang tidak begitu asing di mata Emily.

“Aku sudah mengirimnya ke Lee Publishing Company.” Emily lebih terkejut lagi dengan apa yang dikatakan Pak Dae Han. “Aku telah mengirimnya ke sana sebulan yang lalu, mereka menyukainya dan CEO Lee Publishing meminta novel ini hadir dalam versi Korea.” Pak Daehan menjelaskan dengan sangat antusias.

Emily tentu saja terkejut Pak Dae Han telah melakukan hal ini pada Novelnya. Emily tahu ini adalah kesempatan baik untuknya tetapi sungguh tidak mudah untuk menerima mentah mentah apa yang mereka tawarkan untuk Emily.

“ Versi Korea Pak?”

“ Itu jika kau berkenan. Kau hanya perlu membuat cerita yang sama hanya saja cerita diubah  berlatarkan negeri kami.” Pak Dae Han mengayunkan novelnya ke hadapan Emily.

“ Jadi maksud Bapak?”

“ Terbanglah ke Korea untuk mengurus ini dan bekerjalah disana selama enam bulan.” Ucap Pak Dae Han sementara matanya menatap keragu raguan Emily.

“Maksud Bapak di LPC?” Emily sedikit tidak percaya dengan tawaran yang super menggiurkan itu. Sebuah penerbit kenamaan yang siapa saja ingin bekerja dibawah naungannya. Penerbit yang mencetak ribuan karya terbaik kini melambaikan tangannya pada Emily melalui tangan Pak Dae Han. Tapi kepercayaan diri Emily menurun melihat hasil kerjanya akhir akhir ini.

“Tapi pak, apa saya sanggup? Bahkan dalam kondisi saya yang benar benar sedang tidak produktif, bapak memberikan kesempatan emas ini pada saya? ” Emily menanyakan keyakinan Pak Dae Han.

“ Apapun yang terjadi padamu, jangan biarkan bakatmu tenggelam sia sia, jadi tolong pikirkan kesempatan bagus ini. Cobalah suasana baru! Kau bisa mengeksplor dengan musim yang sedang terjadi di sana atau dengan lingkungan yang kau datangi. Kau tidak bisa menulis tentang Korea kalau kau belum pernah ke sana kan?” terang Pak Dae Han lagi. Emily masih terdiam di kursinya. Memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan dengan tawaran langka ini. “Bagaimana Emily?”

“Berapa orang yang akan berada dalam tim saya, Pak?”

“Kau satu satunya penulis dan tiga orang dari bagian editor. Jadi pertimbangkan baik baik.” Pak Dae Han menjawab kegelisahan Emily. Emily memperbaiki duduknya semakin tidak nyaman. Ada saja hal yang membuatnya khawatir dengan semua yang serba mendadak ini.

“Lalu bagaimana dengan pekerjaan saya di sini? Tidak bisakah dikerjakan di Indonesia saja?”
“Jika kau kerjakan disini mungkin kau tidak mendapatkan feelnya. Bagaimana kau menulis tentang Korea bahkan kau belum pernah kesana? Kau tenang saja, kau bisa menyelesaikan sisa pekerjaanmu dan bersiap ke Korea. Kita bisa menunda proyek novelmu yang selanjutnya setelah kepulanganmu. Bagaimana? Bukankah salah satu mimpimu untuk menjadi penulis yang karyanya dinikmati di seluruh dunia? Nah, Korea adalah jembatan pertama. Pikirkan baik baik!” Jelas Pak Dae Han yang sepertinya telah mempersiapkan semuanya untuk Emily.

“ Baiklah pak, saya akan memikirkannya dan membuat keputusan segera.”

“Saya harap kau tidak menyia nyiakan kesempatan ini. Saya juga sangat ingin kemampuan menulismu berkembang di sana.”

“Baik pak, terimakasih saya akan membuat keputusan yang terbaik.”

Emily keluar dari ruangan atasannya dengan pikiran yang sedikit berkecamuk. Tidak mudah memutuskan hal itu, mengingat prestasinya beberapa minggu ini menurun. Kekhawatirannya tentang bagaimana mengatur perasaannya dan kekhawatiran tidak melakukan pekerjaan dengan benar mengingat segala upayanya akhir akhir gagal untuk tetap melanjutkan menulis.

“Mil, Ada apa?” Tanya rekan setim Emily sekaligus sahabat terbaiknya di kantor, Winda yang sedari tadi sudah menunggu Emily keluar dari ruang Chief editor. Emily menghela nafasnya panjang.

“ Win, kira kira gue bisa belajar bahasa Korea instan nggak ya? ” Tanya Emily pada sahabatnya.

“Hah? Kenapa Lo nanyanya gitu? Jangan jangan…” Winda menebak nebak pembicaraan Emily dengan Pak Dae Han. Emily mengangguk pelan dengan wajah mungilnya yang sepenuhnya bimbang. Apapun yang mereka pikirkan adalah sama.

“Lee Publishing?” Tanya Winda kegirangan. Sekali lagi Emily hanya mengangguk lemas di kursi kerjanya. Dia membuka handphonenya dan mengetik beberapa kata yang dia tujukan ke orang tuanya.

“Aah, udah gue duga. Laah,  terus kenapa muka lo kaya gitu?” Winda keheranan. Karena jika itu Winda dia pasti sudah terlalu bahagia dengan tawaran yang bahkan lebih dari emas itu.  

“Nggak tau Win, tapi gue ngerasa belum yakin aja.” Jawab Emily sambil terus memainkan handphone dan memutar mutar kursi kerjanya.

“Bukannya ini kesempatan bagus. Jadi apa yang mau diambil?”

“Memories!!” Katanya sambil menunjuk novel yang berada lemari display. Novel yang sudah terjual ratusan ribu kopi  walaupun belum bisa mengalahkan novel pertamanya yang menembus dua juta kopi. Tapi Memories belum berakhir… penerbit terus saja mencetak ulang novel itu. Dan kini, penerbit besar negeri ginseng menginginkan novelnya dicetak di sana.

“Tepat banget dugaan gue. Memories itu novel lo yang paling keren.” Senyum bahagia Winda jelas terpancar mengiringi kabar baik untuk Emily. Tapi Emily malah belum merasakan kebahagiaan atas berita itu.

“Paling keren atau paling bisa bikin lo nangis semaleman gara gara kisahnya hampir sama kaya kisah cinta lo? “ Emily mencibir sahabatnya itu.

“Ah ni anak nggak ngerti banget kalo gue lagi ngasih semangat.”

“Menurut lo gimana Win?”

“Lo masih tanya gue? Hei!! Bukan masalah lo bisa bahasa Korea atau bukan kan? Tapi lo masih belom bisa ngobatin luka hati lo yang bikin pikiran lo nggak jelas  kemana. Udah deh Mil, kalo saran gue mendingan lo ikut aja. Bahasa Inggris lo kan oke. Perusahaan sekelas LPC pasti pegawainya pada ngerti bahasa Inggris lah. Nah kalo soal hati lo yang hancur itu. Mendingan lo kesana juga buat menenangkan diri lo. Cari suasana baru, kerja ditempat yang baru dengan pengalaman baru. Itu bakal sedikit demi sedikit ngilangin pikiran pikiran lo yang cuma inget sama Wedha doang. Udah lah, lupain Wedha. Sekarang fokus ke karir lo dulu. Ini tuh kesempatan emas yang nggak bisa dateng dua kali.” Ucapan Winda yang panjang lebar itu sedikit meredakan kekhawatiran Emily.

“Lo tau kan gue gimana sekarang? Nulis aja gue nggak bisa. Gimana kalo gue nggak nyelesein  novel itu disana?”

“Nggak mungkin, Elo tuh Emily. Orang yang bisa mengubah keadaan terpojok jadi inspirasi hebat. Lo harusnya lebih ngerti diri lo. Saat ini emang lo mungkin terpuruk. Tapi enggak selamanya kalo lo mau berubah?”

“Jadi gue terima aja nih LPCnya?”

“Yaah terserah lo sih, tapi menurut gue sih nggak ada kesempatan sebaik ini. Dan lo berhak mendapat kesempatan ini. Kalo itu gue, gue nggak perlu mikir. Gue jawab langsung ditempat Pak Dae Han saat itu juga. Sayangnya novel gue nggak sebagus punya elo.”

“Aaaaah Winda, Lo kece badai kalo kayak gini. Untung gue punya sahabat kaya lo.. bersyukur banget gue.” Emily menarik tubuh Winda kepelukannya. Pelukan beberapa detik dua sahabat yang benar benar saling mendukung.

“Yaiyalaah, Winda gitu. Eh berapa lama lo disana?”

“Deadlinenya sih enam bulan.. Yaa paling sekitar itu.”

“Aaah, gue bakal kangen dong sama lo. Kasih oleh oleh Oppa ganteng satu ya bungkusin ke sini. Minimal kaya Pak Dae Han lah. Secara dia kan paling bening disini.”

“ Udah sama pak Dae Han aja sono! Dia juga bening.”

“Hahaha, andai aja Pak Dae Han mau sama gue..Eh eh, berarti ucapin selamat tinggal dong buat Wedha. Biar nggak songong dia jadi orang. Baru kerja di Singapore aja udah belagak nggak setia.”

“Yaudah, ngapain sih bahas Wedha lagi, gue aja udah nggak pernah bahas.”

“Elo nggak bahas, tapi nangis di kamar sendirian. Ngeri tau nggak?”

“Sotoy banget…”

No comments:

Post a Comment