Saturday, November 7, 2015

Emily (Part 1)





Berpeluh peluh Emily menulis setiap kata demi kata yang muncul di setiap pikirannya. Berjuta rangkaian kata yang sudah diungkapkan dalam selembar kertas putih yang akhirnya berubah menjadi tumpukan tumpukan draft tak berdaya di sudut kamarnya. Berantakan…. Tidak tertata.

Wajahnya datar tanpa ekspresi apapun. Notebook yang sedari tadi standby dihadapannya tidak tersentuh sama sekali. Setiap waktu yang berjalan tak digunakannya dengan baik. Dia hanya terdiam di kursi kerjanya.

Kopi yang telah dingin di hadapannya bahkan merengek minta untuk diteguk. Tapi semuanya sama sekali tak disentuh oleh Emily. Jangankan meneguk, memandangnya saja tidak. Bola bola mata Emily hanya tertuju pada tirai yang terbuka dengan pemandangan malam kota yang gemerlap.

Emily menghela nafas panjang, menata satu demi satu memori yang telah dilaluinya bertahun tahun, bersama pria yang dicintainya. Wedha… Yang diakhirinya malam itu, tiga  bulan yang lalu.

“Jangan menungguku, aku tidak akan kembali. Bahkan jika aku kembali, aku tidak akan kembali untukmu.”

Itu adalah kata kata yang terakhir Wedha ucapkan pada Emily sebelum gambar didepan layar notebooknya berubah hitam. Wedha memutus koneksinya secepat mungkin setelah mengatakan kata kata yang melumpuhkan hidup Emily setelahnya.

Tidak ada air mata di pipi Emily, bukan karena dia tidak merasakan kepedihan. Sepedih- pedihnya patah hati adalah bukan ketika seorang wanita menangis sepanjang malam untuk seorang pria. Tapi ketika cairan tanpa warna itu bahkan tidak mampu untuk lolos dari sudut mata sendunya. Karena didalam hatinya tidak ada perasaan lain selain sakit. Tidak ada tempat untuk menangis karena semua ruang perasaannya hanya diliputi rasa getir dari kepedihan hatinya. Perasaan dicampakkan yang begitu nyata, mengerutkan jiwa Emily, dan menghancurkan impian masa depan yang telah dibangunnya dalam daftar yang mereka rencanakan.

Emily tentu tidak baik baik saja, kepedihan itu telah merenggut hidupnya lebih dari sekedar meneteskan air mata. Bahkan lebih dahsyat daripada sekedar meratap sepanjang malam. Iya, Emily berhenti menulis.

Sebuah keputusan yang tidak pernah dia buat. Tapi tubuhnya seakan mengkomando untuk menghentikan segala sesuatu tentang menulis, hatinya tidak pernah lagi memiliki kondisi yang baik untuk mengekspresikan hobi yang telah menjadi segalanya untuk Emily.

Berhenti menulis adalah kejadian yang luar biasa bagi seorang penulis sekelas Emily, sama seperti jika Afghan berhenti bernyanyi atau Fara Quinn yang berhenti memasak. Begitu pula Emily, menulis adalah satu satunya hal yang membuatnya hidup sebagai seorang manusia lalu apa jadinya Emily tanpa tulisan tulisannya?

Bukan benar benar keputusan yang Emily buat, tetapi seakan dunianya runtuh dengan hancurnya hati dan perasaannya.

“Rasanya terlalu aneh aku melihat seorang gitaris hebat dalam film berhenti bermain gitar karena ibunya menikah dengan pria yang sangat dia benci, tapi aku juga melakukan hal yang sama dengan gitaris itu? Kepedihan yang benar benar terlalu menyakitkan jika hanya ditangisi.” Emily tersenyum getir, menertawakan dirinya sendiri. Ternyata tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Malam semakin larut, kopi dingin itu semakin dingin tak terteguk barang setetes. Emily menyandarkan tubuhnya. Meyakinkan dirinya bahwa dia akan mengembalikan hidupnya esok hari, seperti hari hari sebelumnya yang tetap saja berakhir seperti malam ini.

==============
as�j8�)w�

*to be continued*

No comments:

Post a Comment