*Andante*
Sebulan berlalu, Baekhyun mulai
sulit menghubungi Chaeyeon. Bahkan untuk menyapanya di klinik saja dia
kesulitan. Kliniknya selalu ramai dan itu dijadikannya alasan untuk tidak
menemui Baekhyun. Hari ini Baekhyun ingin menemui Chaeyeon karena dia akan ke
Manhattan selama sebulan untuk short course. Tapi Chaeyeon tidak mengangkat
teleponnya atau bahkan membuka pesan dari Baekhyun. Barisan pesan dari Baekhyun
saja tidak memiliki tanda tanda sudah dibaca oleh Chaeyeon.
Baekhyun mencoba menemui Chaeyeon
ke klinik dua jam sebelum keberangkatannya, tetapi kebetulan Chaeyeon sedang
pergi ke luar. Baekhyun tidak bisa lagi menunggu atau pesawatnya bisa
meninggalkan Baekhyun serta mimpi mimpinya.
Baekhyun akhirnya meninggalkan
Korea tanpa berpamitan langsung dengan Chaeyeon. Satu minggu setelah
keberangkatan Baekhyun, Chaeyeon baru membuka pesan pesan dari Baekhyun. Alih
alih menyesal karena tidak bertemu Baekhyun sebelum keberangkatannya, Chaeyeon
malah bersyukur karena dia tidak perlu lagi bertemu dengan Baekhyun untuk waktu
yang lama. Itu memungkinkan Chaeyeon untuk segera melupakan Baekhyun.
Tapi satu bulan terlalu singkat
untuk melupakan seseorang, apalagi orang itu sudah belasan tahun Chaeyeon
cintai.
Hubungan Chaeyeon dengan pria
kencan butanya berjalan baik. Chaeyeon mulai berusaha membuka hatinya untuk
pria itu. Jeon Joon Hyung, dia adalah dokter bedah syaraf di rumah sakit terkenal
di Seoul. Sejauh ini dia pria yang baik dan menyenangkan walau sedikit kaku.
Berbeda dengan Baekhyun yang senang bercanda. Ah menyebalkan, lagi lagi
Chaeyeon membandingkan pria lain dengan Baekhyun... sosok Baekhyun memang sulit
tergantikan.
Kontrak Bangunan Klinik Chaeyeon
sudah habis dan dia memilih untuk pindah ke tempat yang baru. Cukup jauh dari
klinik sebelumnya. Chaeyeon benar benar ingin memulai kehidupan barunya dan
menjauh dari Baekhyun.
Satu bulan terlewati dengan
cepat. Setelah selesai dengan project short course nya di Manhattan, Baekhyun
kembali dengan memantapkan hatinya. Rasanya aneh, dia begitu merindukan Chaeyeon.
Tapi keterlaluan bagi Baekhyun karena sahabatnya itu bahkan tidak pernah
menghubunginya sekalipun.
Sehari setelah kepulangannya,
Baekhyun langsung mengunjungi klinik Chaeyeon yang ternyata sudah kosong, dia
menghubungi Chaeyeon dan menanyakan alamat kliniknya tetapi Chaeyeon
mengajaknya bertemu di lapangan basket seperti biasa.
“Yaa! kau benar benar sesuatu!”
teriak Baekhyun mengetahui Chaeyeon sudah berada sepuluh meter jauhnya dari
tempatnya berdiri. “Kau benar benar akan meninggalkanku seperti ini?”
“Tidak ada yang abadi dari
persahabatan antara pria dan wanita Baek, pada akhirnya kita harus berpisah
untuk menjalani hidup masing masing. Kau dengan pasanganmu, begitupun aku.”
“Lalu maksudmu kau ingin
mengakhirinya? Huh?”
“Aku hanya menjaga jarak, agar
aku bisa menyelesaikan perasaanku padamu.”
“Apa harus dengan cara seperti
ini. Aku ingin kita tetap bersama.”
“Jangan egois Baek, kau mungkin
bisa menutup mata dan telingamu berpura
pura tidak tahu perasaanku. Tapi aku tidak bisa. Aku tersiksa dengan perasaanku.
Kau selalu menciptakan batas, memperjelasnya berkali kali dan itu menyakitiku.”
“Tapi, kita tidak harus...”
“Baekhyun-ah, bisakah kita tidak
usah bertemu? Biarkan hatiku menyelesaikan perasaanku padamu.”
“Chaeyeon-ah...”
“Aku mohon..” Chaeyeon menunduk
menyembunyikan pertahanannya yang sudah runtuh. Air matanya sudah tidak
terbendung.
“Chaeyeon-ah, apa perasaanmu
sesakit itu?” tanya Baekhyun.
“Eoh...”
“Kalau begitu berkencan lah denganku.Lalu kau tidak akan sesakit itu kan?” Baekhyun memberi
solusi.
“Sudahlah Baekhyun-ah... jangan memaksakan sesuatu yang
tidak kau inginkan. Itu membuatku semakin terlihat menyedihkan” Jelas Chaeyeon.
Chaeyeon menjauh, meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku dengan kalimat
terakhir Chaeyeon padanya.
Andante// Baekhyun pov
Aku membeku di malam musim dingin yang hampir usai, berdiri
terpaku oleh kalimat terakhir sahabatku, Jung Chaeyeon. Aku merasakan hatiku
hancur melihat Chaeyeon meninggalkanku seperti ini. Apa hatinya juga sehancur milikku? Apa dia benar
benar akan melupakanku.
*Andante* Author pov
Baekhyun menghadiri konser
Jennifer Kim di Lotte Venue. Jennifer Kim adalah seorang pemain cello yang
dikenalnya beberapa waktu lalu. Dia menjadi salah satu tamu kehormatan Jennifer karena
perkenalannya dengan seniman itu di Manhattan. Baekhyun juga sempat berduet
bersama di konser memainkan piano dan flute nya. Konser yang menyuguhkan
kolaborasi yang sempurna. Jennifer yang anggun serta Baekhyun yang terlihat
gagah dengan jas hitam dan dasi kupu kupu itu membuat malam semakin manis.
Rambut kecoklatannya semakin membuat Baekhyun memukau penonton. Aura bintangnya
memang tidak terbantahkan sejak lama. Dia telah menghancurkan sekaligus
menambah daftar idola favorit para penonton
wanita di dalam venue.
Senyuman Baekhyun memikat siapa saja, dia benar benar mampu mengobrak
abrik perasaan wanita hanya dengan senyuman dan matanya. Dia penggoda yang
alami... Byun Baekhyun adalah sesuatu...
Acara telah selesai, Baekhyun dan
beberapa staff mengadakan pesta makan malam bersama sebelum mengakhiri
pertemuan. Saat Baekhyun ingin bertemu
rekannya di lobby dia melihat Chaeyeon masuk dari pintu hotel. Dia begitu
percaya diri karena akhirnya Chaeyeon menemuinya disini. Dia mengundang
Chaeyeon di konser tetapi Chaeyeon mengatakan dia sibuk hingga malam hari.
Baekhyun tidak menyangka Chaeyeon akan menemuinya meski hubungan mereka sedang
tidak baik.
Tapi sebelum Baekhyun berhasil menghampirinya,
Seorang pria memakai kemeja hitam menghampiri Chaeyeon dan membawanya menuju
lift.
“Baekhyun-sshi..” Panggil
Jennifer yang membuat Baekhyun menoleh ke arahnya. Di sisi lain, Chaeyeon juga mendengar seorang
wanita memanggil nama pria yang selama ini menghuni hatinya itu, dia menoleh
mencari arah datangnya suara.
Betapa terkejutnya Chaeyeon
ketika melihat Baekhyun sedang menatap dan memberikan pipinya kepada wanita lain.
“Oh, baginya semudah itu mencari
wanita. Kenapa tidak sejak dulu saja?” Chaeyeon menggumam.
“Huh?” Tanya Jeon Joon Hyung.
“Oh, tidak. Emm, ngomong ngomong
kemana kita akan makan malam?” tanya Chaeyeon. Kau akan tau nanti.” Jawab Pria
itu menyimpan rapat rahasia kemana mereka akan pergi.
Ini kejutan kedua bagi Chaeyeon
pada hari ini. Sebuah suite room dengan ratusan lilin serta bunga bunga di
ranjang berukuran besar. Awalnya Chaeyeon cukup tersentuh sebelum akhirnya dia melihat
sebuah bungkusan aluminium di nakas ranjang itu.
“Kenapa? Bukankah kita sudah
dewasa?’ tanya Joon Hyung.
“Apa ini yang kau sebut makan
malam romantis? Huh?” Tanya Chaeyeon.
“Ayolah Chaeyeonie, aku tahu kau
juga menginginkannya.”
“Sepertinya kau salah..” Chaeyeon
pergi sebelum kemarahannya memuncak. Dia tak habis pikir, Mereka bahkan baru
saling mengenal, mereka belum memiliki hubungan yang lebih dari itu. Benar
mereka berkencan, tetapi tidak ada status apapun yang menjamin Chaeyeon harus
menyerahkan segalanya untuk Joon Hyung.
Kemudian dia teringat Baekhyun, sedekat apapun mereka.
Bahkan jika mereka berada di dalam atap yang sama dan ranjang yang sama,
Baekhyun tidak akan menyentuhnya dengan......
“Argh, kenapa harus Baekhyun lagi yang kuingat?” Chaeyeon
mengacak rambutnya, bus kota membawanya pulang ke rumah setelah insiden hotel
tadi.
Tidak langsung pulang, Chaeyeon melangkahkan kakinya ke
lapangan basket tempat dia dan Baekhyun selalu berkeluh kesah bersama meski
sudah tengah malam.
Baekhyun duduk di sana dengan jas yang terserak di kursi
penonton, kemejanya digulung rapi. Pandangannya menuju lapangan basket yang gelap. Tangan kanannya memegang setitik
api.
“Aku baru tahu kalau Baekhyun adalah seorang perokok.”
Katanya. Chaeyeonpun duduk di
baris yang sama dengan Baekhyun. Tetapi dia menjaga jarak, cukup jauh. Mereka
bisa menempatkan satu buah truk diantara keduanya. Baekhyun membuang puntung rokoknya segera
setelah dia menyadari Chaeyeon ada di sana.
Baekhyun tersenyum kecut.
“Sepertinya kau belajar sangat keras untuk membuatku tidak
menyukaimu lagi. Tapi kau benar benar tidak perlu merokok Baek.”
“Aku tidak merokok karenamu. Jangan berspekulasi.” Jawab
Baekhyun bernada sinis.
“Yaak, bicaramu.... Kau marah padaku?” Tanya Chaeyeon.
“ Entahlah.”
“ Baiklah, nikmati saja tiap hembusan asap itu hingga kau
mati.” Chaeyeon menggertak sekaligus menumpahkan kemarahannya pada
Baekhyun. Dia meninggalkan Baekhyun di
lapangan. Baekhyun yang sedari tadi sama sama menahan amarahnya akhirnya membuka
suara.
“Baiklah, dan nikmati saja peranmu sebagai pemuas nafsu pria
yang baru kau kenal!” Jawab Baekhyun tidak kalah kejam.
“Mworago?” Chaeyeon berbalik dan menghentikan langkahnya.
“Sudahlah, lakukan saja seperti maumu.”
“Chogiyeo Baekhyun-sshi, Kau menganggapku semudah itu? Lalu
bagaimana denganmu? kau juga bebas melakukan apa saja, kau bebas menatap wanita
lain, kau bebas menciumnya di depan umum.
Lalu apa bedanya kau dan aku huh?“
“ Mencium wanita lain apanya...” Debat Baekhyun
“Sudah lah, lakukan saja seperti maumu.” Chaeyeon berhasil
mengembalikan kata kata Baekhyun tepat di depan matanya.
Chaeyeon kembali ke rumahnya setelah melepaskan segala
perasaan marahnya pada Baekhyun. Baekhyun pun demikian. Mereka tidak sadar,
kemarahan mereka adalah karena kecemburuan satu sama lain dan mereka salah
paham satu sama lain.
*Andante*
Baekhyun sudah berdiri di depan rumah Chaeyeon saat Chaeyeon
akan berangkat ke klinik. Dia ingin menanyakan sesuatu yang tidak dipahaminya
sejak semalam.
“Yaaa, katakan padaku kapan aku mencium wanita lain?”
“Sudahlah Baek... Pergilah.”
“Sepertinya kau salah orang Jung Chaeyeon.”
“Benarkah? Jadi aku semalam salah melihat seseorang di Lotte?”
“Apa? Kau melihatku?”
“Eoh! Mencium wanita yang sangat cantik di lobby. Puas?
Pergilah”
“ Hahaha kau salah sangka Yeonie, dia temanku, dari Amerika.
Kau tahu kan bagaimana budaya Amerika?”
“Ooh, jadi kau sekarang adalah Byun Bacon? Bukan Byun
Baekhyun?”
“Kau pikir itu lucu, huh? Lalu bagaimana denganmu? Kau masuk
ke kamar hotel semalam bersama pria kencan butamu itu? kau pikir aku tidak tahu
kau tidur bersama pria itu.”
Chaeyeon tertawa.
“Lalu kau pikir siapa yang kau temui semalam di lapangan basket? Kalau aku tidur
dengannya kenapa tidak kulakukan sampai pagi? Toh tidak ada yang mengawasiku?
Benar benar tidak masuk akal.”
“Jadi kau tidak....”
“Tidak! Puas?”
“Yaa, tapi wanita kemarin. Dia benar benar temanku.”
“Aa benar, kau memang sangat suka berteman dengan wanita.”
Chaeyeon sinis
“Jung Chaeyeon...”
“Byun Bacon, pergilah dengan teman wanita Amerikamu itu.
jadi kau bisa menatapnya dan menciumnya. Aku tidak akan peduli lagi.”
“Yak Jung Chaeyeon!”
“Apa lagi Baek? Aku mau berangkat kerja.”
“Noona sabtu besok bertunangan, kau harus datang.”
“Baerin Eonni? Oh, aku akan datang.” Jawab Chaeyeon kemudian
berlalu meninggalkan Baekhyun.
*Andante*
Acara pertunangan dilaksanakan di kebun belakang rumah Tuan
Byun, dekorasi lampu lampu sederhana dan bunga bunga bernuansa putih menambah
kesan elegan. Kakak Baekhyun terlihat tersenyum bahagia bersama tunangannya,
dan Baekhyun sibuk menyapa tamu begitu juga kedua orang tua Baekhyun. Jung
Chaeyeon datang seorang diri dengan rok berwarna biru selutut dan baju putih
tulang yang cukup transparan hingga membuat tanktopnya tercetak jelas dari
luar. Baekhyun yang menyadari kedatangan Chaeyeon langsung menariknya ke dalam
rumah.
“Yaa, pakaian apa yang kau pakai itu...” Baekhyun melepas
jasnya dan memakaikannya ke badan Chaeyeon. “Kau itu wanita, disana banyak pria
yang akan memperhatikanmu jika kau terlalu sexy.”
“Tidak masalah, aku kemari memang untuk mencuri perhatian
para pria.”
“Yaa, kau benar benar seputus asa itu?”
“Eoh...” Jawab Chaeyeon lalu pergi menemui kakak Baekhyun.
“Eonni, selamat... waaah kau cantik sekali.”
“Terimakasih Chaeyeon-ah, setelah itu giliran kau dan
Baekhyun ya.”
“Giliran apanya..” Chaeyeon mengerutkan bibirnya.
“Chaeyeon-ah, Eonni tau kau mencinta Baekhyun.”
“Tidak ada gunanya jika hanya aku yang mencintainya, eonni.
Dia bahkan bersikeras menganggapku sahabat. “
“Anak itu memang benar benar. Dia bahkan tidak tahu perasaannya
sendiri. Oh, Chaeyeon-ah nikmati pestanya ya, aku mau menemui bosku dulu.”
“Emm....” Jawab Chaeyeon disertai anggukan.
Dia mengambil segelas champagne dan meneguknya seorang diri.
Memandang sekeliling, mencari pria yang mungkin akan cocok dengannya. Tetapi
pandangannya bertemu sosok Baekhyun bersama wanita di lobby hotel malam itu. Baekhyun
bicara di dekat telinganya dan tertawa bersama. Mereka terlihat akrab satu sama
lain. Bahkan tangan wanita itu menyandar di bahu Baekhyun.
Sungguh pemandangan yang membuat Chaeyeon naik darah.
Chaeyeon kemudian berjalan keluar area pesta.
Duduk sendiri di halaman depan. Dia melepas jas Baekhyun yang tersampir
di bahunya.
“Kau memintaku menutup pakaianku agar tidak menjadi
perhatian para pria tapi kau menggoda wanita.” Chaeyeon melempar jasnya ke
kursi, kemudian mengambilnya, meremasnya dan melemparkan kembali.
“Sedang kesal nona?” tanya seseorang di belakang
Chaeyeon. Chaeyeon berbalik, ingin tahu
siapa yang menanyainya. Tapi Chaeyeon memalingkan wajah lagi. Dia tak
mengenalnya. Jadi tidak perlu menanggapi pertanyaannya.
“Boleh aku duduk disini?”
“Ya, duduk saja.” Jawab Chaeyeon. Dia mengambil
handphonenya, membuka satu aplikasi lalu menutupnya, membuka SNS lalu
menutupnya, membuka aplikasi yang lain lalu menutupnya lagi.
“Kalau tidak ada apapun di handphonemu kenapa pura pura
sibuk begitu?” Kata Pria itu. Merasa tersindir Chaeyeon menatapnya.
“Kau bicara padaku?” Tanya Chaeyeon. Pria itu mengangguk.
Kalau dilihat lihat dia cukup tampan, rambutnya bergelombang dan tinggi.
Wajahnya juga imut...
“Kalau kau tidak tau apa apa diamlah, urusi saja urusanmu.”
Chaeyeon kembali menatap kosong handphonenya. Benar, tidak ada apa apa disana.
“Nee, Jung Chaeyeon-sshi..” Kata Pria itu.
“Bagaimana kau tahu namaku?” Chaeyeon penasaran mengapa pria
yang tidak dikenalnya itu tahu nama lengkapnya.
“Entahlah, aku hanya tahu saja. Ada apa? Kenapa tidak ke
dalam?”
“Aku bosan, ingin pulang saja.” Jawab Chaeyeon singkat.
“Aku juga bosan di dalam, ingin jalan jalan keluar?” Ajak
Pria itu pada Chaeyeon.
“Kenapa aku harus jalan jalan keluar bersamamu? Aku tidak
mengenalmu”
“Kita kan sama sama bosan di dalam, ayo lah..” Pria itu
menarik pergelangan tangan Chaeyeon.
“Yaa, Park Chanyeol, mwohae?” Baekhyun muncul dari belakang
dengan suara lantangnya.
‘oh jadi ini Park Chanyeol’ pikir Chaeyeon, orang yang
selalu Baekhyun ceritakan jika dia pulang konser atau acara musik saat mereka
masih kuliah.
“ Eoh,aku bosan di dalam dan ingin mengajaknya keluar.”
Jawab pria itu santai. Park Chanyeol adalah sahabat Baekhyun yang lain,
mereka sering bertemu di berbagai acara
musik saat kuliah dulu, dan terakhir mereka sama sama dikirim keAmerika bersama
Baekhyun beberapa bulan yang lalu. Mereka menjadi teman akrab disana dan
sekarang sampai mereka sama sama kembali ke Korea.
“Tidak perlu, Chaeyeon-ah, Eomma mencarimu. “ kata Baekhyun.
Jung Chaeyeon pergi begitu saja
meninggalkan jas Baekhyun di kursi halaman depan untuk menemui ibu Baekhyun.
“Yaa, yaaa... pakai jasmu!” Suruh Baekhyun
“Itu kan jasmu kenapa aku yang harus memakainya.” Jawab
Chaeyeon terlihat kesal sambil berlalu.
“Ya, Chanyeol-ah, jangan menggoda Chaeyeon. Jebal..” Ini
terkesan seperti sebuah perintah daripada permintaan.
“Wae..? Dia tidak punya pacar kan apa salahnya?” Tanya
Chanyeol.
“Aku tidak mengizinkannya.”
“Memangnya kau siapa mengatur hidup gadis itu? Kau kan hanya
sahabatnya” Terang Chanyeol.
Ini pertama kalinya kata ‘Kau kan hanya sahabatnya’ menjadi
kenyataan yang terlalu menyakitkan bagi Baekhyun. Tapi Baekhyun tidak pernah menyadari kenyataan
menyakitkan itu adalah perasaan cintanya yang tidak mampu ia definisikan.
“Dasar pria tidak peka..” rutuk Chanyeol pada Baekhyun.
“Mworago?”
“Haha bodoh, kau boleh tidak peka pada perasaan orang lain.
Tapi tidak peka dengan perasaanmu sendiri? Kau benar benar pria bodoh tak
tertolong Baek..”
Chaeyeon menghampiri ayah dan Ibu Baekhyun, mereka mengobrol
panjang lebar. Tapi tak lama, Baekhyun menemui mereka dan berbincang sebentar
sampai akhirnya dia kembali menghampiri wanita itu. Mengobrol lagi dengan sangat akrab.
Kesal, Chaeyeon mengambil segelas wine dari nampan pelayan. Dia meminumnya
sekali teguk dan meminta satu gelas lagi. Memutar mutar gelasnya dan meneguknya
hingga habis dan membakar tenggorokannya. Tak tahan dengan pemandangan
menyebalkan itu, Chaeyeon akhirnya pamit pulang dengan alasan merasa lelah dan
ada banyak pekerjaan yang harus dilakukannya besok.
Dunianya berputar
putar sepertinya Chaeyeon sudah sedikit mabuk. Tubuhnya terasa panas dan dia
ingin segera keluar dari pesta ini. Melihat Chaeyeon terhuyung pergi keluar
pesta, Baekhyun mengikutinya, dia khawatir Chanyeol menemukannya dan
mengajaknya pergi lagi.
“Chaeyeon-ah,, tunggu..” Panggil Baekhyun. Chaeyeon berhenti
persis di depan pintu gerbang. “kau mau
kemana?” tanya Baekhyun.
“Aku mau pulang, aku lelah.”
“ Kuantar?” Tawar
Baekhyun, tapi Chaeyeon menggeleng tidak mau.
“Tidak usah, pestanya kan belum berakhir.”
“Tapi kau.... em... aku tidak tega melihatmu naik bus. Aku
takut ada pria yang mengganggumu.” Kata Baekhyun.
“Aku bisa melindungi diriku Baek, aku bukan anak kecil. Aku
sudah dewasa.” Jawab Chaeyeon yang masih sempoyongan.
“Pakai Jasku, huh? Bawa jasku pulang...” pinta
Baekhyun. Chaeyeon menggeleng dan
pergi. “yaa, Chaeyeon-ah, tunggu...”
Baekhyun menahan tangan Chaeyeon. Tapi Chaeyeon mengelak.
“Jangan menyentuhku.” Bentak Chaeyeon, dia tidak bisa
menyeimbangkan tubuhnya karena dua gelas wine itu sudah sedikit membuatnya
mabuk.
“Yaa. Kau mabuk? Tunggu disini aku akan keluarkan mobil.”
“Kembali saja ke pesta, temani saja teman Amerikamu itu. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi.” Chaeyeon
merajuk.
“Yeonie-ya! Ku mohon.” Panggil Baekhyun. Yeonie adalah
panggilan kesayangan Baekhyun untuk sahabatnya itu. Dimana jika Chaeyeon
mendengar Baekhyun memanggilnya begitu, kemarahannya akan memudar seketika.
Tapi panggilan itu kini sudah tidak lagi seperti sihir yang
meluluhkan Chaeyeon.
Tiiin.... klakson mobil hitam berbunyi dan berhenti di depan
keduanya. Kaca mobilnya otomatis terbuka dan terlihat Chanyeol di dalam sana.
“Chaeyeon-sshi, kau mau pulang?” Tanya sahabat Baekhyun itu.
“Eoh...” Jawab Chaeyeon.
“Sepertinya rumah kita satu arah. Bagaimana kalau kau ikut
bersamaku, bukankah tidak baik wanita naik bus malam malam sendirian?”
“Bolehkah?” tanya Chaeyeon yang diiringi anggukan oleh
Chanyeol. Chaeyeon memang merasa lelah jika harus menunggu bus atau menunggu
taxi, jadi dia mengiyakan ajakan Chanyeol dan membuka pintu mobil, bersiap
masuk. Tapi tangan Baekhyun lebih dulu mencegahnya naik mobil sahabatnya.
“Chanyeol-ah, kau boleh pergi sekarang. Aku yang akan
mengantarnya” Kata Baekhyun. Chanyeol tersenyum dan mengisyaratkan kalau dia
akan pergi lebih dulu.
“Yaa, jangan menarik tanganku...aak... sakit...” Chaeyeon
mengeluh kesakitan. Air matanya mengalir tanpa dia sadari.
“Chaeyeon-ah, manhi
apa?” Tanya Baekhyun yang tidak dijawab oleh Chaeyeon kecuali tangisan yang
tidak bisa dibendung.
“Chaeyeon-ah, aku pikir kita sudah berbaikan, tetapi kenapa
kau seperti ini lagi? Kau benar benar tidak mau berbaikan denganku?” Baekhyun
melepaskan jasnya dan memakaikannya ke bahu Chaeyeon dan lagi lagi Chaeyeon
menepisnya.
“Pakaikan saja pada gadis yang dari tadi menempel padamu
Baek, pakaiannya lebih terbuka dari pakaianku kau pasti sangat menyukainya. Kau
dekat dengannya, berbicara tanpa jarak, menyusur pandanganmu ke tubuhnya, kau juga menyentuhnya, dan semalam kau
menciumnya.”
“ Chaeyeon-ah jebal, aku hanya mengucapkan sampai jumpa
saja. Aku tidak memakai bibirku untuk menyentuh pipinya. Kami sama sama
menggunakan pipi saat itu.”
“Diam lah, aku tidak tahan mendengarnya.” Chaeyeon menutup
kedua telinganya. Nada suaranya
meninggi.
“Yaa, kenapa kau marah marah padaku. Kau kekasihku? Apa kau kekasihku? Kenapa mempermasalahkanku
dekat dengan wanita lain? ” Pertanyaan itu begitu saja keluar dari bibir
Baekhyun.
“Aniyo....” Jawab Chaeyeon. Jawaban singkat itupun berhasil
membuat Baekhyun merasa bersalah. “Aku bukan kekasihmu, Jadi berhentilah
menarik tanganku dan memaksaku memakai jasmu.”
“Ch...Chaeyeon-ah, bu bukan.. bukan maksudku....” Baekhyun
terbata menyadari kekeliruan ucapannya. Baekhyun harusnya tahu Chaeyeon memiliki perasaan padanya dan
pertanyaan seperti itu tentu saja menyakitinya.
“Jangan mengikutiku. Jangan menemuiku lagi... ” Air mata
Chaeyeon kembali membasahi pipinya. Dia berbalik dan berjalan sendirian. Baekhyun
hanya melihat punggung sahabatnya itu berlalu, semakin mengecil dan menghilang
dipersimpangan.
Chaeyeon berjalan sendirian mencari taxi, tapi mobil hitam yang
tadi kembali menghampirinya.
“Hei kenapa berjalan sendirian?” Chanyeol keluar dari
mobilnya. “Yaa, kau menangis?” tanya Chanyeol melihat Chaeyeon menangis
sepanjang jalan. “Baekhyun tidak mengantarmu?”
“Jangan sebut namanya lagi!”
“Eoh, Baiklah. Masuklah, akan kuantar kau pulang..” Chanyeol membuka pintu
depan dan membimbing Chaeyeon duduk di samping kursi kemudi. Chaeyeon tidak berdaya untuk menolak dan
mengikuti saja mau Chanyeol. Toh dia akan mengantarnya pulang. Malam malam
begini pasti sulit mencari taxi. Kepalanya pening dan ingin segera tidur. Dia
juga sudah lelah menangis sepanjang jalan.
“Sepertinya kau mabuk, Chaeyeon-sshi?”
“Tidak, aku lelah.”
“Oh iya,kau tadi duduk bersamaku dan kita sudah saling
bicara. Apa kau tau namaku?”
“Tentu saja, Park Chanyeol. Teman Baekhyun yang
berpenampilan berkelas dari ujung kakinya sampai kepala. Mobil berharga milyaran
tapi yang terpenting kau itu menyebalkan. Begitu kata Baekhyun. Aish... kenapa
aku harus menyebut namanya lagi.” Chaeyeon semakin meracau, dan Chanyeol
tertawa.
“Kau salah menempatkan hal terpenting nona...yang terpenting
dariku adalah....”
Ciiit, ban mobil Chanyeol terhenti setelah dia mengerem
mendadak. Sebuah mobil berwarna putih memotong jalan untuk menghentikan paksa
mobil Chanyeol.
“Yaa, neo micheoseo?” Kata Chanyeol pada seseorang yang
hampir mencelakakannya itu. Baekhyun
keluar dari mobil putih yang memotong jalan tadi dan pergi menuju pintu depan dimana Chaeyeon berada.
“Keluar...” Pinta Baekhyun.
“Shireo!”
“Chaeyeon-ah jebal...” Baekhyun memintanya keluar sekali
lagi.
“Sudah kubilang aku tidak mau.” Chaeyeon tetap bersikukuh
dengan ucapannya.
“Baekhyun-ah, jangan memaksanya kalau dia tidak mau.”
Chanyeol yang kesal dengan Baekhyun pun ikut campur dalam perdebatan mereka.
“Diam kau Park Chanyeol!”
“Yaa, Kau memotong jalanku, hampir mencelakakanku dan
Chaeyeon dan sekarang kau menyuruhku diam? Kau pikir aku akan diam?”
“Chanyeol-ah, maafkan aku, tp ku mohon ini urusanku dengan
Chaeyeon.”
“Tapi Chaeyeon tidak mau kau mau apa huh?”
“Aku harus bicara dengannya sekarang, kau tahu!?” Baekhyun
menggertak. Chanyeol akhirnya menyeret
Baekhyun menjauhi mobilnya.
“Wae?”
“Yaa, kau tahu ini jalan raya? Kalau kita ribut disini kita
akan bermasalah dengan polisi. Aku tidak mau ditahan di ruangan itu. Kedua, dia
sedang marah padamu Baek, kalau kau memaksanya begini dia akan semakin marah.
Biarkan dia dulu. Kau bisa menemuinya di rumah atau dikliniknya. Jangan
memaksanya turun di jalanan begini. Kau tidak lihat mobil mobil itu memperhatikan kita? Kau harus memikirkan
perasaan Chaeyeon sekarang. Dia terluka... karena kau dekat dengan Jennifer.
Bagaimanapun, dia mencintaimu. Dia tidak akan tahan melihatmu duduk bersama
wanita lain, bercanda dengannya, membisikkan sesuatu padanya dan tertawa
setelah itu. Apa kau tidak memikirkannya?”
“Apa Chaeyeon seterluka itu?.” Tanya Baekhyun pada Chanyeol.
Chanyeol tak menjawab, biarkan Baekhyun yang memikirkan itu semua.
“Aku akan mengantar Chaeyeon pulang, kau jangan khawatir.
Temui dia besok atau setelah perasaannya membaik.”
“Baiklah, tolong antarkan dia pulang.”
“Kau tenang saja. Pergilah..” Chanyeol mengisyaratkan
Baekhyun untuk kembali ke mobilnya.
Baekhyun mengangguk. “Baekhyun-ah, kau tidak tahu apa yang sedang kau
lakukan sekarang?”
“Aku? Apa?”
“Kau sedang mengkhawatirkan Chaeyeon dan kau cemburu padaku.
Aku harap kau cepat menyadari perasaanmu Baek..” Chanyeol tersenyum pada
temannya. Baekhyun masih berdiri di pintu mobilnya tak mengerti. Apa yang harus
Baekhyun sadari?
Chanyeol kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
Telepon Chaeyeon berdering dengan setengah sadar Chaeyeon menerimanya.
“Chaeyeonie eodiseo?”
tanya seseorang di teleponnya.
“Eoh Eomma, aku sedang pulang dari acara pertunangan Baerin
Unnie, ada apa menelepon malam malam begini?” tanya Chaeyeon pada ibunya.
“Jadi sekarang, kau
bersama Baekhyun? “
“Tidak aku pulang dengan kenalanku. Ada apa Eomma?’
“ Aku di depan rumahmu
dan tidak bisa masuk. Kau mengganti slot kunci?”
“Eoh, belakangan ini banyak pencuri di daerah sana. Tunggu
saja, aku sebentar lagi pulang.”
*Andante*
“Eomma, mianhae... kau harusnya memberitahuku dulu kalau
akan datang jadi aku bisa mampir ke toko setelah pulang kerja memberikan
kunciku.”
“Tak apa, aku hanya menunggu sebentar. Nugu?” tanya Ibu melihat
seorang pria yang bukan Baekhyun bersama anak gadisnya.
“Oh, dia temannya Baekhyun.”
“Selamat malam, saya Park Chanyeol, teman Chaeyeon.” Sapa Chanyeol .
Chaeyeon menoleh pada Chanyeol menatapnya seakan mengatakan
‘apa tidak salah?’ dan Chanyeol membalasnya
dengan membuka mulutnya tanpa suara “Wae?”
“Ciih, sejak kapan kita berteman...” gumam Chaeyeon.
“Karena kau sudah sampai dengan selamat dan ada ibumu disini,
aku akan pulang ” Chanyeol kembali ke
mobilnya dan pergi.
“Jadi dia yang membuatmu meninggalkan Joon Hyung?” Cecar
ibunya tanpa basa basi.
“Bukan bu...”
“Lalu?”
“Joon Hyung membuat dirinya sendiri ditinggalkan.” Chaeyeon berjalan menuju pintu rumahnya.
“ Ya, apa hebatnya dia dibanding Joon Hyung? Apa
pekerjaannya?” tanya Ibunya. Meski terlihat tidak suka, ibunya selalu ingin
tahu semua pria yang dekat dengan anaknya itu. Tapi ayolah, ini Chanyeol yang
baru dikenal anak gadisnya beberapa saat yang lalu.
“Molla...” Jawab Chaeyeon malas.
“Yaa, bagaimana bisa kau tidak tahu...”
“Aaa... eomma!!! Aku mengantuk mau tidur.” Chaeyeon semakin
malas meladeni ibunya yang mulai ingin tau segala hal.
“Yaa, apa pekerjaannya.”
“Eomma!”
“Bagaimana keluarganya?”
“Eomma, aku tidur dulu. Kau juga akan tidur disini kan?aku
sudah membereskan kamar tidurmu yang dulu. Kau tidur disana saja. Kalau tidur
denganku kau pasti akan banyak bertanya.”
“Tapi Eomma lebih suka Chanyeol daripada Baekhyun.”
“Jangan bicara tentang Baekhyun aku malas.”
“Kalau begitu kita
bicarakan Chanyeol.” Ibunya belum menyerah untuk mengorek informasi tentang
pria yang mengantar anaknya pulang dengan mobil mewah seharga lima kali lipat
rumah yang ditempati anaknya ini.
“Tidak ada yang bisa dibicarakan tentangnya Eomma.”
“Yaa, kau harus memperhatikan usiamu, kau harusnya sudah
dalam hubungan serius dengan seorang pria. Ckck anak ini, aku sudah susah payah
mengenalkanmu pada Joon Hyung dan kau meninggalkannya begitu saja.”
“Eomma, aku tidur dulu. Jaljja!” Chaeyeon meninggalkan
ibunya yang masih terus bicara soal pria pria itu.
“Terserah kau, mau Joon Hyung, Baekhyun atau Chanyeol. Tahun
depan kau harus menikah! Kalau tidak Eomma akan jodohkan kau dengan anak teman
Eomma, dia pengacara. Usianya 35 tahun dia sudah siap menikah.”
“Andwe!!!”
*Andante*
Udara musim dingin yang hampir usai ini tetap saja membekukan
bibir pria yang sudah berdiri cemas di depan pintu rumah Chaeyeon. Dia ragu
untuk membunyikan belnya atau menunggunya di luar hingga Chaeyeon pergi bekerja.
Aish, anak itu. Bahkan hari Minggu dia tetap bekerja. Dalihnya, karena hari
minggu, maka banyak orang yang memiliki waktu senggang untuk membawa peliharaan
mereka ke klinik.
“Omo, Baekhyun-ah apa yang kau lakukan disana, masuk nak.” Ibu Chaeyeon mendapati Baekhyun yang
berdiri membelakangi pintu rumahnya ketika ibunya akan membuang sampah.
“ Eommeoni, anda disini? Chaeyeon...” tanya Baekhyun memberi
isyarat.
“Eoh, aku datang semalam,masuklah akan kubangunkan Chaeyeon. Aku sedang memasak,
Benar benar gadis itu, sudah siang begini dia belum bangun. Apa dia bisa
berubah setelah menikah nanti.” rutuk ibunya di sepanjang jalan.
“Eomma, biarkan saja. Aku disini saja menemanimu memasak
sampai dia bangun. Sepertinya dia kelelahan semalam.”
“Aigoo, Baekhyunku sudah tumbuh dewasa. kalian tumbuh dewasa
bersama sama. Aigoo... aku membayangkan jika kalian sama sama sudah menikah,
apa masih bisa bersama seperti ini ya?”
Baekhyun hanya tersenyum menanggapi ibu Chaeyeon yang sedari
tadi membicarakan pernikahan, apa anaknya akan segera menikah? Tanya Baekhyun
dalam hati. Baekhyun mengupas beberapa sayur dan memotong daging, Sementara ibu
Chaeyeon membuat sup.
Suara langkah kaki turun dari anak tangga teratas menuju
lantai bawah. Suara kakinya semakin kencang ketika menapaki anak tangga
terakhir.
“eomma! Kau taruh dimana handukku. Aku kan sudah memberimu
handuk di lemari pakaian. Kenapa....”
Chaeyeon turun hanya dengan mengenakan kaos kebesaran yang
menutupi pahanya, rambut yang berantakan serta bekas make up kemarin masih
menempel di wajahnya. Tidak bisa
dibayangkan bentuk wajahnya seperti apa sekarang. Hancur... dan Baekhyun
menyaksikannya.
Wo... siapa itu?” Chaeyeon terkejut melihat Baekhyun berada
di dapur bersama ibunya. Baekhyun dan Ibu Chaeyeon tertawa melihat tingkah
gadis itu.
*Andante*
“Chaeyeon-ah, kau tidur nyenyak semalam?” tanya baekhyun
berbasa basi.
“Eoh, sangat nyenyak.” Setelah selesai menangis berjam jam
tentunya. Lanjut Chaeyeon dalam hati.
‘bagaimana sayurnya, kau suka?”
“Iya, aku selalu suka masakan ibuku.” Jawab Chaeyeon ketus.
“Yaa, wae geurae? Baekhyun datang kemari untuk mengajakmu ke
klinik bersama dan sikapmu seperti anak kecil yang sedang memusuhi temannya. Dasar tidak dewasa. Aigo...”
“ eomma, masakanmu enak sekali. Aku mau tambah.”
“yaak, yaak yaak... wanita harus menjaga pola makan. Bisa
bisanya kau mau makan nasi sebanyak ini. Kalau kau gemuk bagaimana? Tidak ada
yang mau menikah denganmu.Issh...”Ibu Chaeyeon menepuk tangan Chaeyeon yang
sibuk mengambil nasi dari wadahnya.
“Gwaencanha eommeoni, akan tetap ada pria yang menikahinya
meski dia sebesar itu” Baekhyun menunjuk drum penampung air dapur yang membuat
Ibunya tertawa.
“Yaa, aku tidak akan segemuk itu.” Chaeyeon kesal karena
disamakan dengan drum penampung air.
“Benarkah? Kau tahu orangnya?” tanya Ibu Chaeyeon pada
Baekhyun.
“Ne Eommeoni... “
“Siapa? Katakan padaku.”
“Byun... Baek...Hyun..” Jawab Baekhyun perlahan yang membuat
Chaeyeon tersedak dan menyemburkan
nasinya ke meja.
“Yaa, jorok sekali kau.. aish...ini tidak bisa dimakan lagi.
Aish...” Protes baekhyun.
“ Michineom!” Gumam Chaeyeon.
“Baekhyun-ah, kau serius?”Tanya Ibu Chaeyeon.
“Iya eommeoni, aku serius. Aku ingin menikah dengan Chaeyeon.”
“Jahahaha.... berhenti melucu Baek...”
“Aku serius... Kenapa kita tidak menikah saja. Kita sudah
bersahabat sejak lama.” Tawar Baekhyun.
“Eomma, aku ganti baju dulu.”
Chaeyeon duduk
disebelah kursi kemudi. Mereka berdua berangkat kerja bersama. Chaeyeon
sudah lelah berdebat dengan Baekhyun semalam jadi dia hanya perlu diam saja
sekarang, tentang obrolan tadi. Chaeyeon hanya menganggap Baekhyun sedang tidak
waras.
Bagaimana? Kau mau menikah denganku kan? Lagipula Eomma
sudah menyetujuinya.”
“Apa aku menyetujuinya?
Kau menikah denganku atau dengan Eomma?”
“Aku lelah berdebat denganmu Yeonie,, aku ingin kita seperti
dulu.”
“Bersahabat maksudmu?”
“Tidak, aku ingin kita selalu bersama. ”
“maksudmu?”
“Aku baru menyadarinya Yeonie, kenapa aku sangat terlambat.
Aku tahu ini salahku. Tapi aku benar benar mencintaimu sekarang.”
“Huh?”
“Perasaan ini tumbuh perlahan lahan sampai aku tidak
menyadarinya.”
“Baekhyun-ah...”
“Ah memalukan, setelah sekian lama aku baru menyadarinya. Ah
memalukan ini sangat terlambat.”
“Kau yakin tidak salah menilai perasaanmu?”
“Yaa.. aku yakin dengan perasaanku sekarang Yeon.”
Tbc-