Tuesday, March 28, 2017

Accidentally Love





Cast :

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun
Irene Red Velvet as Irene or Bae Joo Hyun

Rating :  NC 18

Author : Choi Anna 


Matahari sore itu sudah membenamkan dirinya diantara awan awan berwarna jingga keemasan dan menyadari tugasnya untuk bersiap menyinari belahan dunia yang lain, perlahan langitpun  berubah kebiruan dan  menggelap.  Tokyo Dome, Tempat itu bukannya semakin sepi tak berpenghuni, tetapi malah semakin bising.  Suara riuh yang berasal dari gadis gadis  dengan lightstick berwarna hitam bercahaya putih adalah alasan nya . Kata  ‘Encore..... Encore...... Encore....’ terus menerus digaungkan di sebuah venue berkapasitas 55.000 penonton yang membentuk silver ocean memukau. di stadion bisbol itu sedang diselenggarakan sebuah konser boy group terkenal Korea Selatan. EXO, begitu mereka disebut. Boygroup tersukses beberapa tahun belakangan ini sedang melakukan Konser World Tour yang ketiga, dan Jepang merupakan pemberhentian terakhir untuk konser yang bertajuk EXOrdium itu

Sunday, March 12, 2017

Andante (Part 2 of 3)

*Andante*

Sebulan berlalu, Baekhyun mulai sulit menghubungi Chaeyeon. Bahkan untuk menyapanya di klinik saja dia kesulitan. Kliniknya selalu ramai dan itu dijadikannya alasan untuk tidak menemui Baekhyun. Hari ini Baekhyun ingin menemui Chaeyeon karena dia akan ke Manhattan selama sebulan untuk short course. Tapi Chaeyeon tidak mengangkat teleponnya atau bahkan membuka pesan dari Baekhyun. Barisan pesan dari Baekhyun saja tidak memiliki tanda tanda sudah dibaca oleh Chaeyeon.



Baekhyun mencoba menemui Chaeyeon ke klinik dua jam sebelum keberangkatannya, tetapi kebetulan Chaeyeon sedang pergi ke luar. Baekhyun tidak bisa lagi menunggu atau pesawatnya bisa meninggalkan Baekhyun serta mimpi mimpinya.



Baekhyun akhirnya meninggalkan Korea tanpa berpamitan langsung dengan Chaeyeon. Satu minggu setelah keberangkatan Baekhyun, Chaeyeon baru membuka pesan pesan dari Baekhyun. Alih alih menyesal karena tidak bertemu Baekhyun sebelum keberangkatannya, Chaeyeon malah bersyukur karena dia tidak perlu lagi bertemu dengan Baekhyun untuk waktu yang lama. Itu memungkinkan Chaeyeon untuk segera melupakan Baekhyun.



Tapi satu bulan terlalu singkat untuk melupakan seseorang, apalagi orang itu sudah belasan tahun Chaeyeon cintai.



Hubungan Chaeyeon dengan pria kencan butanya berjalan baik. Chaeyeon mulai berusaha membuka hatinya untuk pria itu. Jeon Joon Hyung, dia adalah dokter bedah syaraf di rumah sakit terkenal di Seoul. Sejauh ini dia pria yang baik dan menyenangkan walau sedikit kaku. Berbeda dengan Baekhyun yang senang bercanda. Ah menyebalkan, lagi lagi Chaeyeon membandingkan pria lain dengan Baekhyun... sosok Baekhyun memang sulit tergantikan.



Kontrak Bangunan Klinik Chaeyeon sudah habis dan dia memilih untuk pindah ke tempat yang baru. Cukup jauh dari klinik sebelumnya. Chaeyeon benar benar ingin memulai kehidupan barunya dan menjauh dari Baekhyun.



Satu bulan terlewati dengan cepat. Setelah selesai dengan project short course nya di Manhattan, Baekhyun kembali dengan memantapkan hatinya. Rasanya aneh, dia begitu merindukan Chaeyeon. Tapi keterlaluan bagi Baekhyun karena sahabatnya itu bahkan tidak pernah  menghubunginya sekalipun.



Sehari setelah kepulangannya, Baekhyun langsung mengunjungi klinik Chaeyeon yang ternyata sudah kosong, dia menghubungi Chaeyeon dan menanyakan alamat kliniknya tetapi Chaeyeon mengajaknya bertemu di lapangan basket seperti biasa.

“Yaa! kau benar benar sesuatu!” teriak Baekhyun mengetahui Chaeyeon sudah berada sepuluh meter jauhnya dari tempatnya berdiri. “Kau benar benar akan meninggalkanku seperti ini?”

“Tidak ada yang abadi dari persahabatan antara pria dan wanita Baek, pada akhirnya kita harus berpisah untuk menjalani hidup masing masing. Kau dengan pasanganmu, begitupun aku.”


“Lalu maksudmu kau ingin mengakhirinya? Huh?”


“Aku hanya menjaga jarak, agar aku bisa menyelesaikan perasaanku padamu.”


“Apa harus dengan cara seperti ini. Aku ingin kita tetap bersama.”


“Jangan egois Baek, kau mungkin bisa menutup mata  dan telingamu berpura pura tidak tahu perasaanku. Tapi aku tidak bisa. Aku tersiksa dengan perasaanku. Kau selalu menciptakan batas, memperjelasnya berkali kali dan itu menyakitiku.”


“Tapi, kita tidak harus...”



“Baekhyun-ah, bisakah kita tidak usah bertemu? Biarkan hatiku menyelesaikan perasaanku padamu.”



“Chaeyeon-ah...”



“Aku mohon..” Chaeyeon menunduk menyembunyikan pertahanannya yang sudah runtuh. Air matanya sudah tidak terbendung.



“Chaeyeon-ah, apa perasaanmu sesakit itu?” tanya Baekhyun.



“Eoh...” 



“Kalau begitu berkencan lah denganku.Lalu  kau tidak akan sesakit itu kan?” Baekhyun memberi solusi.




“Sudahlah Baekhyun-ah... jangan memaksakan sesuatu yang tidak kau inginkan. Itu membuatku semakin terlihat menyedihkan” Jelas Chaeyeon. Chaeyeon menjauh, meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku dengan kalimat terakhir Chaeyeon padanya.



Andante// Baekhyun pov

Aku membeku di malam musim dingin yang hampir usai, berdiri terpaku oleh kalimat terakhir sahabatku, Jung Chaeyeon. Aku merasakan hatiku hancur melihat Chaeyeon meninggalkanku seperti ini.  Apa hatinya juga sehancur milikku? Apa dia benar benar akan melupakanku.





*Andante* Author pov

Baekhyun menghadiri konser Jennifer Kim di Lotte Venue. Jennifer Kim adalah seorang pemain cello yang dikenalnya beberapa waktu lalu. Dia menjadi salah satu tamu kehormatan Jennifer karena perkenalannya dengan seniman itu di Manhattan. Baekhyun juga sempat berduet bersama di konser memainkan piano dan flute nya. Konser yang menyuguhkan kolaborasi yang sempurna. Jennifer yang anggun serta Baekhyun yang terlihat gagah dengan jas hitam dan dasi kupu kupu itu membuat malam semakin manis. Rambut kecoklatannya semakin membuat Baekhyun memukau penonton. Aura bintangnya memang tidak terbantahkan sejak lama. Dia telah menghancurkan sekaligus menambah daftar  idola favorit para penonton wanita di dalam venue.

Senyuman Baekhyun memikat  siapa saja, dia benar benar mampu mengobrak abrik perasaan wanita hanya dengan senyuman dan matanya. Dia penggoda yang alami... Byun Baekhyun adalah sesuatu...


Acara telah selesai, Baekhyun dan beberapa staff mengadakan pesta makan malam bersama sebelum mengakhiri pertemuan. Saat Baekhyun ingin bertemu rekannya di lobby dia melihat Chaeyeon masuk dari pintu hotel. Dia begitu percaya diri karena akhirnya Chaeyeon menemuinya disini. Dia mengundang Chaeyeon di konser tetapi Chaeyeon mengatakan dia sibuk hingga malam hari. Baekhyun tidak menyangka Chaeyeon akan menemuinya meski hubungan mereka sedang tidak baik.

 Tapi sebelum Baekhyun berhasil menghampirinya, Seorang pria memakai kemeja hitam menghampiri Chaeyeon dan membawanya menuju lift.

“Baekhyun-sshi..” Panggil Jennifer yang membuat Baekhyun menoleh ke arahnya.  Di sisi lain, Chaeyeon juga mendengar seorang wanita memanggil nama pria yang selama ini menghuni hatinya itu, dia menoleh mencari arah datangnya suara.

Betapa terkejutnya Chaeyeon ketika melihat Baekhyun sedang menatap dan memberikan pipinya kepada wanita lain.

“Oh, baginya semudah itu mencari wanita. Kenapa tidak sejak dulu saja?” Chaeyeon menggumam.


“Huh?” Tanya Jeon Joon Hyung.



“Oh, tidak. Emm, ngomong ngomong kemana kita akan makan malam?” tanya Chaeyeon. Kau akan tau nanti.” Jawab Pria itu menyimpan rapat rahasia kemana mereka akan pergi.


Ini kejutan kedua bagi Chaeyeon pada hari ini. Sebuah suite room dengan ratusan lilin serta bunga bunga di ranjang berukuran besar. Awalnya Chaeyeon cukup tersentuh sebelum akhirnya dia melihat sebuah bungkusan aluminium di nakas ranjang itu.



“Kenapa? Bukankah kita sudah dewasa?’ tanya Joon Hyung.



“Apa ini yang kau sebut makan malam romantis? Huh?” Tanya Chaeyeon.



“Ayolah Chaeyeonie, aku tahu kau juga menginginkannya.”


“Sepertinya kau salah..” Chaeyeon pergi sebelum kemarahannya memuncak. Dia tak habis pikir, Mereka bahkan baru saling mengenal, mereka belum memiliki hubungan yang lebih dari itu. Benar mereka berkencan, tetapi tidak ada status apapun yang menjamin Chaeyeon harus menyerahkan segalanya untuk Joon Hyung.

Kemudian dia teringat Baekhyun, sedekat apapun mereka. Bahkan jika mereka berada di dalam atap yang sama dan ranjang yang sama, Baekhyun tidak akan menyentuhnya dengan......

“Argh, kenapa harus Baekhyun lagi yang kuingat?” Chaeyeon mengacak rambutnya, bus kota membawanya pulang ke rumah setelah insiden hotel tadi.

Tidak langsung pulang, Chaeyeon melangkahkan kakinya ke lapangan basket tempat dia dan Baekhyun selalu berkeluh kesah bersama meski sudah tengah malam.
Baekhyun duduk di sana dengan jas yang terserak di kursi penonton, kemejanya digulung rapi. Pandangannya menuju lapangan basket  yang gelap. Tangan kanannya memegang setitik api.


“Aku baru tahu kalau Baekhyun adalah seorang  perokok.”  Katanya.  Chaeyeonpun duduk di baris yang sama dengan Baekhyun. Tetapi dia menjaga jarak, cukup jauh. Mereka bisa menempatkan satu buah truk diantara keduanya.  Baekhyun membuang puntung rokoknya segera setelah dia menyadari Chaeyeon ada di sana.

Baekhyun tersenyum kecut.


“Sepertinya kau belajar sangat keras untuk membuatku tidak menyukaimu lagi. Tapi kau benar benar tidak perlu merokok Baek.”


“Aku tidak merokok karenamu. Jangan berspekulasi.” Jawab Baekhyun bernada sinis.


“Yaak, bicaramu.... Kau marah padaku?” Tanya Chaeyeon.


“ Entahlah.”


“ Baiklah, nikmati saja tiap hembusan asap itu hingga kau mati.” Chaeyeon menggertak sekaligus menumpahkan kemarahannya pada Baekhyun.  Dia meninggalkan Baekhyun di lapangan. Baekhyun yang sedari tadi sama sama menahan amarahnya akhirnya membuka suara.


“Baiklah, dan nikmati saja peranmu sebagai pemuas nafsu pria yang baru kau kenal!” Jawab Baekhyun tidak kalah kejam.

“Mworago?” Chaeyeon berbalik dan menghentikan langkahnya.

“Sudahlah, lakukan saja seperti maumu.”

“Chogiyeo Baekhyun-sshi, Kau menganggapku semudah itu? Lalu bagaimana denganmu? kau juga bebas melakukan apa saja, kau bebas menatap wanita lain, kau bebas menciumnya di depan umum.  Lalu apa bedanya kau dan aku huh?“


“ Mencium wanita lain apanya...” Debat Baekhyun


“Sudah lah, lakukan saja seperti maumu.” Chaeyeon berhasil mengembalikan kata kata Baekhyun tepat di depan matanya. 

Chaeyeon kembali ke rumahnya setelah melepaskan segala perasaan marahnya pada Baekhyun. Baekhyun pun demikian. Mereka tidak sadar, kemarahan mereka adalah karena kecemburuan satu sama lain dan mereka salah paham satu sama lain.
*Andante*
Baekhyun sudah berdiri di depan rumah Chaeyeon saat Chaeyeon akan berangkat ke klinik. Dia ingin menanyakan sesuatu yang tidak dipahaminya sejak semalam.

“Yaaa, katakan padaku kapan aku mencium wanita lain?”


“Sudahlah Baek... Pergilah.”

“Sepertinya kau salah orang Jung Chaeyeon.”

“Benarkah? Jadi aku semalam salah melihat seseorang di Lotte?”

“Apa? Kau melihatku?”

“Eoh! Mencium wanita yang sangat cantik di lobby. Puas? Pergilah”


“ Hahaha kau salah sangka Yeonie, dia temanku, dari Amerika. Kau tahu kan bagaimana budaya Amerika?”


“Ooh, jadi kau sekarang adalah Byun Bacon? Bukan Byun Baekhyun?”

“Kau pikir itu lucu, huh? Lalu bagaimana denganmu? Kau masuk ke kamar hotel semalam bersama pria kencan butamu itu? kau pikir aku tidak tahu kau tidur bersama pria itu.”

Chaeyeon tertawa.

“Lalu kau pikir siapa yang kau temui  semalam di lapangan basket? Kalau aku tidur dengannya kenapa tidak kulakukan sampai pagi? Toh tidak ada yang mengawasiku? Benar benar tidak masuk akal.”


“Jadi kau tidak....”


“Tidak! Puas?”

“Yaa, tapi wanita kemarin. Dia benar benar temanku.”


“Aa benar, kau memang sangat suka berteman dengan wanita.” Chaeyeon sinis

“Jung Chaeyeon...”


“Byun Bacon, pergilah dengan teman wanita Amerikamu itu. jadi kau bisa menatapnya dan menciumnya. Aku tidak akan peduli lagi.”

“Yak Jung Chaeyeon!”


“Apa lagi Baek? Aku mau berangkat kerja.”


“Noona sabtu besok bertunangan, kau harus datang.”


“Baerin Eonni? Oh, aku akan datang.” Jawab Chaeyeon kemudian berlalu meninggalkan Baekhyun.


*Andante*

Acara pertunangan dilaksanakan di kebun belakang rumah Tuan Byun, dekorasi lampu lampu sederhana dan bunga bunga bernuansa putih menambah kesan elegan. Kakak Baekhyun terlihat tersenyum bahagia bersama tunangannya, dan Baekhyun sibuk menyapa tamu begitu juga kedua orang tua Baekhyun. Jung Chaeyeon datang seorang diri dengan rok berwarna biru selutut dan baju putih tulang yang cukup transparan hingga membuat tanktopnya tercetak jelas dari luar. Baekhyun yang menyadari kedatangan Chaeyeon langsung menariknya ke dalam rumah.

“Yaa, pakaian apa yang kau pakai itu...” Baekhyun melepas jasnya dan memakaikannya ke badan Chaeyeon. “Kau itu wanita, disana banyak pria yang akan memperhatikanmu jika kau terlalu sexy.”


“Tidak masalah, aku kemari memang untuk mencuri perhatian para pria.”


“Yaa, kau benar benar seputus asa itu?”


“Eoh...” Jawab Chaeyeon lalu pergi menemui kakak Baekhyun.


“Eonni, selamat... waaah kau cantik sekali.”


“Terimakasih Chaeyeon-ah, setelah itu giliran kau dan Baekhyun ya.”


“Giliran apanya..” Chaeyeon mengerutkan bibirnya.


“Chaeyeon-ah, Eonni tau kau mencinta Baekhyun.”


“Tidak ada gunanya jika hanya aku yang mencintainya, eonni. Dia bahkan bersikeras menganggapku sahabat. “

“Anak itu memang  benar benar. Dia bahkan tidak tahu perasaannya sendiri. Oh, Chaeyeon-ah nikmati pestanya ya, aku mau menemui bosku dulu.”


“Emm....” Jawab Chaeyeon disertai anggukan.

Dia mengambil segelas champagne dan meneguknya seorang diri. Memandang sekeliling, mencari pria yang mungkin akan cocok dengannya. Tetapi pandangannya bertemu sosok Baekhyun bersama wanita di lobby hotel malam itu. Baekhyun bicara di dekat telinganya dan tertawa bersama. Mereka terlihat akrab satu sama lain. Bahkan tangan wanita itu menyandar di bahu Baekhyun.

Sungguh pemandangan yang membuat Chaeyeon naik darah. Chaeyeon kemudian berjalan keluar area pesta.  Duduk sendiri di halaman depan. Dia melepas jas Baekhyun yang tersampir di bahunya.

“Kau memintaku menutup pakaianku agar tidak menjadi perhatian para pria tapi kau menggoda wanita.” Chaeyeon melempar jasnya ke kursi, kemudian mengambilnya, meremasnya dan melemparkan kembali.

“Sedang kesal nona?” tanya seseorang di belakang Chaeyeon.  Chaeyeon berbalik, ingin tahu siapa yang menanyainya. Tapi Chaeyeon memalingkan wajah lagi. Dia tak mengenalnya. Jadi tidak perlu menanggapi pertanyaannya.


“Boleh aku duduk disini?”


“Ya, duduk saja.” Jawab Chaeyeon. Dia mengambil handphonenya, membuka satu aplikasi lalu menutupnya, membuka SNS lalu menutupnya, membuka aplikasi yang lain lalu menutupnya lagi.

“Kalau tidak ada apapun di handphonemu kenapa pura pura sibuk begitu?” Kata Pria itu. Merasa tersindir Chaeyeon menatapnya.


“Kau bicara padaku?” Tanya Chaeyeon. Pria itu mengangguk. Kalau dilihat lihat dia cukup tampan, rambutnya bergelombang dan tinggi. Wajahnya juga imut...


“Kalau kau tidak tau apa apa diamlah, urusi saja urusanmu.” Chaeyeon kembali menatap kosong handphonenya. Benar, tidak ada apa apa disana.


“Nee, Jung Chaeyeon-sshi..” Kata Pria itu.


“Bagaimana kau tahu namaku?” Chaeyeon penasaran mengapa pria yang tidak dikenalnya itu tahu nama lengkapnya.


“Entahlah, aku hanya tahu saja. Ada apa? Kenapa tidak ke dalam?”


“Aku bosan, ingin pulang saja.” Jawab Chaeyeon singkat.



“Aku juga bosan di dalam, ingin jalan jalan keluar?” Ajak Pria itu pada Chaeyeon.


“Kenapa aku harus jalan jalan keluar bersamamu? Aku tidak mengenalmu”


“Kita kan sama sama bosan di dalam, ayo lah..” Pria itu menarik pergelangan tangan Chaeyeon.


“Yaa, Park Chanyeol, mwohae?” Baekhyun muncul dari belakang dengan suara lantangnya.

‘oh jadi ini Park Chanyeol’ pikir Chaeyeon, orang yang selalu Baekhyun ceritakan jika dia pulang konser atau acara musik saat mereka masih kuliah.


“ Eoh,aku bosan di dalam dan ingin mengajaknya keluar.” Jawab pria itu santai. Park Chanyeol adalah sahabat Baekhyun yang lain, mereka  sering bertemu di berbagai acara musik saat kuliah dulu, dan terakhir mereka sama sama dikirim keAmerika bersama Baekhyun beberapa bulan yang lalu. Mereka menjadi teman akrab disana dan sekarang sampai mereka sama sama kembali ke Korea.

“Tidak perlu, Chaeyeon-ah, Eomma mencarimu. “ kata Baekhyun.  Jung Chaeyeon pergi begitu saja meninggalkan jas Baekhyun di kursi halaman depan untuk menemui ibu Baekhyun.

“Yaa, yaaa... pakai jasmu!” Suruh Baekhyun

“Itu kan jasmu kenapa aku yang harus memakainya.” Jawab Chaeyeon terlihat kesal sambil berlalu.

“Ya, Chanyeol-ah, jangan menggoda Chaeyeon. Jebal..” Ini terkesan seperti sebuah perintah daripada permintaan.


“Wae..? Dia tidak punya pacar kan apa salahnya?” Tanya Chanyeol.


“Aku tidak mengizinkannya.”


“Memangnya kau siapa mengatur hidup gadis itu? Kau kan hanya sahabatnya” Terang Chanyeol.

Ini pertama kalinya kata ‘Kau kan hanya sahabatnya’ menjadi kenyataan yang terlalu menyakitkan bagi Baekhyun.  Tapi Baekhyun tidak pernah menyadari kenyataan menyakitkan itu adalah perasaan cintanya yang tidak mampu ia definisikan.

“Dasar pria tidak peka..” rutuk Chanyeol pada Baekhyun.

“Mworago?”


“Haha bodoh, kau boleh tidak peka pada perasaan orang lain. Tapi tidak peka dengan perasaanmu sendiri? Kau benar benar pria bodoh tak tertolong Baek..”

Chaeyeon menghampiri ayah dan Ibu Baekhyun, mereka mengobrol panjang lebar. Tapi tak lama, Baekhyun menemui mereka dan berbincang sebentar sampai akhirnya dia  kembali menghampiri  wanita itu. Mengobrol lagi dengan sangat akrab. Kesal, Chaeyeon mengambil segelas wine dari nampan pelayan. Dia meminumnya sekali teguk dan meminta satu gelas lagi. Memutar mutar gelasnya dan meneguknya hingga habis dan membakar tenggorokannya. Tak tahan dengan pemandangan menyebalkan itu, Chaeyeon akhirnya pamit pulang dengan alasan merasa lelah dan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukannya besok.

 Dunianya berputar putar sepertinya Chaeyeon sudah sedikit mabuk. Tubuhnya terasa panas dan dia ingin segera keluar dari pesta ini. Melihat Chaeyeon terhuyung pergi keluar pesta, Baekhyun mengikutinya, dia khawatir Chanyeol menemukannya dan mengajaknya pergi lagi.

“Chaeyeon-ah,, tunggu..” Panggil Baekhyun. Chaeyeon berhenti persis di depan pintu gerbang.  “kau mau kemana?” tanya Baekhyun.


“Aku mau pulang, aku lelah.”


“ Kuantar?”  Tawar  Baekhyun, tapi Chaeyeon menggeleng tidak mau.

“Tidak usah, pestanya kan belum berakhir.”


“Tapi kau.... em... aku tidak tega melihatmu naik bus. Aku takut ada pria yang mengganggumu.” Kata Baekhyun.


“Aku bisa melindungi diriku Baek, aku bukan anak kecil. Aku sudah dewasa.” Jawab Chaeyeon yang masih sempoyongan.


“Pakai Jasku, huh? Bawa jasku pulang...” pinta Baekhyun.  Chaeyeon menggeleng dan pergi.  “yaa, Chaeyeon-ah, tunggu...” Baekhyun menahan tangan Chaeyeon. Tapi Chaeyeon mengelak.

“Jangan menyentuhku.” Bentak Chaeyeon, dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya karena dua gelas wine itu sudah sedikit membuatnya mabuk.

“Yaa. Kau mabuk? Tunggu disini aku akan keluarkan mobil.”

“Kembali saja ke pesta, temani saja teman Amerikamu itu.  Aku tidak mau bertemu denganmu lagi.” Chaeyeon merajuk.

“Yeonie-ya! Ku mohon.” Panggil Baekhyun. Yeonie adalah panggilan kesayangan Baekhyun untuk sahabatnya itu. Dimana jika Chaeyeon mendengar Baekhyun memanggilnya begitu, kemarahannya akan memudar seketika.

Tapi panggilan itu kini sudah tidak lagi seperti sihir yang meluluhkan Chaeyeon. 

Tiiin.... klakson mobil hitam berbunyi dan berhenti di depan keduanya. Kaca mobilnya otomatis terbuka dan terlihat Chanyeol di dalam sana.

“Chaeyeon-sshi, kau mau pulang?” Tanya sahabat Baekhyun itu.

“Eoh...” Jawab Chaeyeon.

“Sepertinya rumah kita satu arah. Bagaimana kalau kau ikut bersamaku, bukankah tidak baik wanita naik bus malam malam sendirian?”

“Bolehkah?” tanya Chaeyeon yang diiringi anggukan oleh Chanyeol. Chaeyeon memang merasa lelah jika harus menunggu bus atau menunggu taxi, jadi dia mengiyakan ajakan Chanyeol dan membuka pintu mobil, bersiap masuk. Tapi tangan Baekhyun lebih dulu mencegahnya naik mobil sahabatnya.

“Chanyeol-ah, kau boleh pergi sekarang. Aku yang akan mengantarnya” Kata Baekhyun. Chanyeol tersenyum dan mengisyaratkan kalau dia akan pergi lebih dulu.

“Yaa, jangan menarik tanganku...aak... sakit...” Chaeyeon mengeluh kesakitan. Air matanya mengalir tanpa dia sadari.

“Chaeyeon-ah, manhi apa?” Tanya Baekhyun yang tidak dijawab oleh Chaeyeon kecuali tangisan yang tidak bisa dibendung.

“Chaeyeon-ah, aku pikir kita sudah berbaikan, tetapi kenapa kau seperti ini lagi? Kau benar benar tidak mau berbaikan denganku?” Baekhyun melepaskan jasnya dan memakaikannya ke bahu Chaeyeon dan lagi lagi Chaeyeon menepisnya.

“Pakaikan saja pada gadis yang dari tadi menempel padamu Baek, pakaiannya lebih terbuka dari pakaianku kau pasti sangat menyukainya. Kau dekat dengannya, berbicara tanpa jarak, menyusur pandanganmu ke tubuhnya,  kau juga menyentuhnya, dan semalam kau menciumnya.”


“ Chaeyeon-ah jebal, aku hanya mengucapkan sampai jumpa saja. Aku tidak memakai bibirku untuk menyentuh pipinya. Kami sama sama menggunakan pipi saat itu.”

“Diam lah, aku tidak tahan mendengarnya.” Chaeyeon menutup kedua telinganya.  Nada suaranya meninggi.

“Yaa, kenapa kau marah marah padaku. Kau kekasihku?  Apa kau kekasihku? Kenapa mempermasalahkanku dekat dengan wanita lain? ” Pertanyaan itu begitu saja keluar dari bibir Baekhyun.


“Aniyo....” Jawab Chaeyeon. Jawaban singkat itupun berhasil membuat Baekhyun merasa bersalah. “Aku bukan kekasihmu, Jadi berhentilah menarik tanganku dan memaksaku memakai jasmu.”


“Ch...Chaeyeon-ah, bu bukan.. bukan maksudku....” Baekhyun terbata menyadari kekeliruan ucapannya. Baekhyun harusnya tahu  Chaeyeon memiliki perasaan padanya dan pertanyaan seperti itu tentu saja menyakitinya.


“Jangan mengikutiku. Jangan menemuiku lagi... ” Air mata Chaeyeon kembali membasahi pipinya. Dia berbalik dan berjalan sendirian. Baekhyun hanya melihat punggung sahabatnya itu berlalu, semakin mengecil dan menghilang dipersimpangan.

Chaeyeon berjalan sendirian mencari taxi, tapi mobil hitam yang tadi kembali menghampirinya.

“Hei kenapa berjalan sendirian?” Chanyeol keluar dari mobilnya. “Yaa, kau menangis?” tanya Chanyeol melihat Chaeyeon menangis sepanjang jalan. “Baekhyun tidak mengantarmu?”


“Jangan sebut namanya lagi!”


“Eoh, Baiklah. Masuklah, akan  kuantar kau pulang..” Chanyeol membuka pintu depan dan membimbing Chaeyeon duduk di samping kursi kemudi.  Chaeyeon tidak berdaya untuk menolak dan mengikuti saja mau Chanyeol. Toh dia akan mengantarnya pulang. Malam malam begini pasti sulit mencari taxi. Kepalanya pening dan ingin segera tidur. Dia juga sudah lelah menangis sepanjang jalan.


“Sepertinya kau mabuk, Chaeyeon-sshi?”

“Tidak, aku lelah.”

“Oh iya,kau tadi duduk bersamaku dan kita sudah saling bicara. Apa kau tau namaku?”

“Tentu saja, Park Chanyeol. Teman Baekhyun yang berpenampilan berkelas dari ujung kakinya sampai kepala. Mobil berharga milyaran tapi yang terpenting kau itu menyebalkan. Begitu kata Baekhyun. Aish... kenapa aku harus menyebut namanya lagi.” Chaeyeon semakin meracau, dan Chanyeol tertawa.


“Kau salah menempatkan hal terpenting nona...yang terpenting dariku adalah....”

Ciiit, ban mobil Chanyeol terhenti setelah dia mengerem mendadak. Sebuah mobil berwarna putih memotong jalan untuk menghentikan paksa mobil Chanyeol.


“Yaa, neo micheoseo?” Kata Chanyeol pada seseorang yang hampir mencelakakannya itu.  Baekhyun keluar dari mobil putih yang memotong jalan tadi dan pergi  menuju pintu depan dimana Chaeyeon berada.

“Keluar...” Pinta Baekhyun.

“Shireo!”

“Chaeyeon-ah jebal...” Baekhyun memintanya keluar sekali lagi.

“Sudah kubilang aku tidak mau.” Chaeyeon tetap bersikukuh dengan ucapannya.

“Baekhyun-ah, jangan memaksanya kalau dia tidak mau.” Chanyeol yang kesal dengan Baekhyun pun ikut campur dalam perdebatan mereka.

“Diam kau Park Chanyeol!”

“Yaa, Kau memotong jalanku, hampir mencelakakanku dan Chaeyeon dan sekarang kau menyuruhku diam? Kau pikir aku akan diam?”

“Chanyeol-ah, maafkan aku, tp ku mohon ini urusanku dengan Chaeyeon.”


“Tapi Chaeyeon tidak mau kau mau apa huh?”

“Aku harus bicara dengannya sekarang, kau tahu!?” Baekhyun menggertak.  Chanyeol akhirnya menyeret Baekhyun menjauhi mobilnya.


“Wae?”


“Yaa, kau tahu ini jalan raya? Kalau kita ribut disini kita akan bermasalah dengan polisi. Aku tidak mau ditahan di ruangan itu. Kedua, dia sedang marah padamu Baek, kalau kau memaksanya begini dia akan semakin marah. Biarkan dia dulu. Kau bisa menemuinya di rumah atau dikliniknya. Jangan memaksanya turun di jalanan begini. Kau tidak lihat mobil mobil  itu memperhatikan kita? Kau harus memikirkan perasaan Chaeyeon sekarang. Dia terluka... karena kau dekat dengan Jennifer. Bagaimanapun, dia mencintaimu. Dia tidak akan tahan melihatmu duduk bersama wanita lain, bercanda dengannya, membisikkan sesuatu padanya dan tertawa setelah itu. Apa kau tidak memikirkannya?”

“Apa Chaeyeon seterluka itu?.” Tanya Baekhyun pada Chanyeol. Chanyeol tak menjawab, biarkan Baekhyun yang memikirkan itu semua.


“Aku akan mengantar Chaeyeon pulang, kau jangan khawatir. Temui dia besok atau setelah perasaannya membaik.”

“Baiklah, tolong antarkan dia pulang.”

“Kau tenang saja. Pergilah..” Chanyeol mengisyaratkan Baekhyun untuk kembali ke mobilnya.  Baekhyun mengangguk. “Baekhyun-ah, kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang?”


“Aku? Apa?”

“Kau sedang mengkhawatirkan Chaeyeon dan kau cemburu padaku. Aku harap kau cepat menyadari perasaanmu Baek..” Chanyeol tersenyum pada temannya. Baekhyun masih berdiri di pintu mobilnya tak mengerti. Apa yang harus Baekhyun sadari?

Chanyeol kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Telepon Chaeyeon berdering dengan setengah sadar Chaeyeon menerimanya.

“Chaeyeonie eodiseo?” tanya seseorang di teleponnya.

“Eoh Eomma, aku sedang pulang dari acara pertunangan Baerin Unnie, ada apa menelepon malam malam begini?” tanya Chaeyeon pada ibunya.

“Jadi sekarang, kau bersama Baekhyun? “

“Tidak aku pulang dengan kenalanku. Ada apa Eomma?’

“ Aku di depan rumahmu dan tidak bisa masuk. Kau mengganti slot kunci?”

“Eoh, belakangan ini banyak pencuri di daerah sana. Tunggu saja, aku sebentar lagi pulang.”

*Andante*

“Eomma, mianhae... kau harusnya memberitahuku dulu kalau akan datang jadi aku bisa mampir ke toko setelah pulang kerja memberikan kunciku.”

“Tak apa, aku hanya menunggu sebentar. Nugu?” tanya Ibu melihat seorang pria yang bukan Baekhyun bersama anak gadisnya.

“Oh, dia temannya Baekhyun.”

“Selamat malam, saya Park Chanyeol, teman Chaeyeon.”  Sapa Chanyeol .

Chaeyeon menoleh pada Chanyeol menatapnya seakan mengatakan ‘apa tidak salah?’  dan Chanyeol membalasnya dengan membuka mulutnya tanpa suara “Wae?”

“Ciih, sejak kapan kita berteman...” gumam Chaeyeon.

“Karena kau sudah sampai dengan selamat dan ada ibumu disini, aku akan pulang ”  Chanyeol kembali ke mobilnya dan pergi.

“Jadi dia yang membuatmu meninggalkan Joon Hyung?” Cecar ibunya tanpa basa basi.

“Bukan bu...”

“Lalu?”

“Joon Hyung membuat dirinya sendiri ditinggalkan.”  Chaeyeon berjalan menuju pintu rumahnya.


“ Ya, apa hebatnya dia dibanding Joon Hyung? Apa pekerjaannya?” tanya Ibunya. Meski terlihat tidak suka, ibunya selalu ingin tahu semua pria yang dekat dengan anaknya itu. Tapi ayolah, ini Chanyeol yang baru dikenal anak gadisnya beberapa saat yang lalu.


“Molla...” Jawab Chaeyeon malas.


“Yaa, bagaimana bisa kau tidak tahu...”

“Aaa... eomma!!! Aku mengantuk mau tidur.” Chaeyeon semakin malas meladeni ibunya yang mulai ingin tau segala hal.

“Yaa, apa pekerjaannya.”

“Eomma!”

“Bagaimana keluarganya?”

“Eomma, aku tidur dulu. Kau juga akan tidur disini kan?aku sudah membereskan kamar tidurmu yang dulu. Kau tidur disana saja. Kalau tidur denganku kau pasti akan banyak bertanya.”

“Tapi Eomma lebih suka Chanyeol daripada Baekhyun.”

“Jangan bicara tentang Baekhyun aku malas.”

 “Kalau begitu kita bicarakan Chanyeol.” Ibunya belum menyerah untuk mengorek informasi tentang pria yang mengantar anaknya pulang dengan mobil mewah seharga lima kali lipat rumah yang ditempati anaknya ini.

“Tidak ada yang bisa dibicarakan tentangnya Eomma.”

“Yaa, kau harus memperhatikan usiamu, kau harusnya sudah dalam hubungan serius dengan seorang pria. Ckck anak ini, aku sudah susah payah mengenalkanmu pada Joon Hyung dan kau meninggalkannya begitu saja.”

“Eomma, aku tidur dulu. Jaljja!” Chaeyeon meninggalkan ibunya yang masih terus bicara soal pria pria itu.

“Terserah kau, mau Joon Hyung, Baekhyun atau Chanyeol. Tahun depan kau harus menikah! Kalau tidak Eomma akan jodohkan kau dengan anak teman Eomma, dia pengacara. Usianya 35 tahun dia sudah siap menikah.”

“Andwe!!!”

*Andante*
Udara musim dingin yang hampir usai ini tetap saja membekukan bibir pria yang sudah berdiri cemas di depan pintu rumah Chaeyeon. Dia ragu untuk membunyikan belnya atau menunggunya di luar hingga Chaeyeon pergi bekerja. Aish, anak itu. Bahkan hari Minggu dia tetap bekerja. Dalihnya, karena hari minggu, maka banyak orang yang memiliki waktu senggang untuk membawa peliharaan mereka ke klinik.

“Omo, Baekhyun-ah apa yang kau lakukan disana, masuk  nak.” Ibu Chaeyeon mendapati Baekhyun yang berdiri membelakangi pintu rumahnya ketika ibunya akan membuang sampah.  

“ Eommeoni, anda disini? Chaeyeon...” tanya Baekhyun memberi isyarat.

“Eoh, aku datang semalam,masuklah  akan kubangunkan Chaeyeon. Aku sedang memasak, Benar benar gadis itu, sudah siang begini dia belum bangun. Apa dia bisa berubah setelah menikah nanti.” rutuk ibunya di sepanjang jalan.

“Eomma, biarkan saja. Aku disini saja menemanimu memasak sampai dia bangun. Sepertinya dia kelelahan semalam.”

“Aigoo, Baekhyunku sudah tumbuh dewasa. kalian tumbuh dewasa bersama sama. Aigoo... aku membayangkan jika kalian sama sama sudah menikah, apa masih bisa bersama seperti ini ya?”

Baekhyun hanya tersenyum menanggapi ibu Chaeyeon yang sedari tadi membicarakan pernikahan, apa anaknya akan segera menikah? Tanya Baekhyun dalam hati. Baekhyun mengupas beberapa sayur dan memotong daging, Sementara ibu Chaeyeon membuat sup.

Suara langkah kaki turun dari anak tangga teratas menuju lantai bawah. Suara kakinya semakin kencang ketika menapaki anak tangga terakhir.

“eomma! Kau taruh dimana handukku. Aku kan sudah memberimu handuk di lemari pakaian. Kenapa....”

Chaeyeon turun hanya dengan mengenakan kaos kebesaran yang menutupi pahanya, rambut yang berantakan serta bekas make up kemarin masih menempel di wajahnya.  Tidak bisa dibayangkan bentuk wajahnya seperti apa sekarang. Hancur... dan Baekhyun menyaksikannya.

Wo... siapa itu?” Chaeyeon terkejut melihat Baekhyun berada di dapur bersama ibunya. Baekhyun dan Ibu Chaeyeon tertawa melihat tingkah gadis itu.

*Andante*

“Chaeyeon-ah, kau tidur nyenyak semalam?” tanya baekhyun berbasa basi.


“Eoh, sangat nyenyak.” Setelah selesai menangis berjam jam tentunya. Lanjut Chaeyeon dalam hati.


‘bagaimana sayurnya, kau suka?”


“Iya, aku selalu suka masakan ibuku.” Jawab Chaeyeon ketus.


“Yaa, wae geurae? Baekhyun datang kemari untuk mengajakmu ke klinik bersama dan sikapmu seperti anak kecil yang sedang  memusuhi temannya. Dasar tidak dewasa.  Aigo...”

“ eomma, masakanmu enak sekali. Aku mau tambah.”

“yaak, yaak yaak... wanita harus menjaga pola makan. Bisa bisanya kau mau makan nasi sebanyak ini. Kalau kau gemuk bagaimana? Tidak ada yang mau menikah denganmu.Issh...”Ibu Chaeyeon menepuk tangan Chaeyeon yang sibuk mengambil nasi dari wadahnya.


“Gwaencanha eommeoni, akan tetap ada pria yang menikahinya meski dia sebesar itu” Baekhyun menunjuk drum penampung air dapur yang membuat Ibunya tertawa.


“Yaa, aku tidak akan segemuk itu.” Chaeyeon kesal karena disamakan dengan drum penampung air.


“Benarkah? Kau tahu orangnya?” tanya Ibu Chaeyeon pada Baekhyun.


“Ne Eommeoni... “


“Siapa? Katakan padaku.”


“Byun... Baek...Hyun..” Jawab Baekhyun perlahan yang membuat Chaeyeon tersedak  dan menyemburkan nasinya ke meja.

“Yaa, jorok sekali kau.. aish...ini tidak bisa dimakan lagi. Aish...” Protes baekhyun.

“ Michineom!” Gumam Chaeyeon.


“Baekhyun-ah, kau serius?”Tanya Ibu Chaeyeon.


“Iya eommeoni, aku serius. Aku ingin menikah dengan Chaeyeon.”


“Jahahaha.... berhenti melucu Baek...”

“Aku serius... Kenapa kita tidak menikah saja. Kita sudah bersahabat sejak lama.” Tawar Baekhyun.

“Eomma, aku ganti baju dulu.”

Chaeyeon duduk  disebelah kursi kemudi. Mereka berdua berangkat kerja bersama. Chaeyeon sudah lelah berdebat dengan Baekhyun semalam jadi dia hanya perlu diam saja sekarang, tentang obrolan tadi. Chaeyeon hanya menganggap Baekhyun sedang tidak waras. 

Bagaimana? Kau mau menikah denganku kan? Lagipula Eomma sudah menyetujuinya.”

“Apa aku menyetujuinya?  Kau menikah denganku atau dengan Eomma?”


“Aku lelah berdebat denganmu Yeonie,, aku ingin kita seperti dulu.”

“Bersahabat maksudmu?”

“Tidak, aku ingin kita selalu bersama. ”

“maksudmu?”

“Aku baru menyadarinya Yeonie, kenapa aku sangat terlambat. Aku tahu ini salahku. Tapi aku benar benar mencintaimu sekarang.”

“Huh?”

“Perasaan ini tumbuh perlahan lahan sampai aku tidak menyadarinya.”

“Baekhyun-ah...”

“Ah memalukan, setelah sekian lama aku baru menyadarinya. Ah memalukan ini sangat terlambat.”

“Kau yakin tidak salah menilai perasaanmu?”

“Yaa.. aku yakin dengan perasaanku sekarang Yeon.”



Tbc-