Tuesday, March 28, 2017

Accidentally Love





Cast :

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun
Irene Red Velvet as Irene or Bae Joo Hyun

Rating :  NC 18

Author : Choi Anna 


Matahari sore itu sudah membenamkan dirinya diantara awan awan berwarna jingga keemasan dan menyadari tugasnya untuk bersiap menyinari belahan dunia yang lain, perlahan langitpun  berubah kebiruan dan  menggelap.  Tokyo Dome, Tempat itu bukannya semakin sepi tak berpenghuni, tetapi malah semakin bising.  Suara riuh yang berasal dari gadis gadis  dengan lightstick berwarna hitam bercahaya putih adalah alasan nya . Kata  ‘Encore..... Encore...... Encore....’ terus menerus digaungkan di sebuah venue berkapasitas 55.000 penonton yang membentuk silver ocean memukau. di stadion bisbol itu sedang diselenggarakan sebuah konser boy group terkenal Korea Selatan. EXO, begitu mereka disebut. Boygroup tersukses beberapa tahun belakangan ini sedang melakukan Konser World Tour yang ketiga, dan Jepang merupakan pemberhentian terakhir untuk konser yang bertajuk EXOrdium itu


Lagu medley penutup (Encore) pun dibawakan, dan sukses membuat penonton berteriak ekstrem, mereka tidak ingin konser berakhir. Ada yang menangis, ada pula yang berteriak kencang tak ingin mereka menyudahinya. Demi bumi yang menyuarakan lagu lagu mereka, mereka begitu dicintai oleh para EXO-L, nama fans resmi EXO.


Disela sela encore, suara dari sebagian penonton terdengar di ujung stadion yang lain“Baekhyun...Baekhyun... Baekhyun...” teriak fans.  Mereka kehilangan satu anggota yang juga dinantikan selama encore.  Salah satu main vocal mereka yaitu Baekhyun, ia tidak muncul ke pannggung setelah sebelumnya mundur ke backstage bersama member yang lain.


Ketidak hadiran Baekhyun adalah kekacauan yang terjadi di belakang panggung, Baekhyun jatuh pingsan setelah penampilan terakhirnya saat dia hendak mengganti baju untuk penampilan encore. Nafasnya memendek, sesak dan tersengal.



Dia dilarikan ke rumah sakit setelah ambulans datang karena kehabisan nafas. Staminanya tidak begitu baik kala itu tapi dia memaksa untuk tetap tampil agar tidak mengecewakan fansnya. Profesionalitasnya yang begitu tinggi itu membuat kondisinya yang sedang buruk semakin parah. Meski begitu,  betapapun kacaunya kejadian di backstage, EXO harus  tetap melanjutkan konser tanpa anggota yang lengkap.



Dokter mendiagnosis Baekhyun mengalami kelelahan bekerja yang ekstrem dengan tingkat stress yang cukup tinggi, yang di butuhkan Baekhyun saat ini adalah istirahat dan menjauh dari dunianya sebentar untuk memulihkan fisik dan psikisnya.



“Baekhyun-ah, kita  sudah menyiapkan semuanya.” Kata Manajer. Baekhyun yang masih bersandar di ranjang rumah sakit dengan infus yang menggantung itu mengangguk. Kondisi tubuhnya sudah baik setelah tiga hari berada di ranjang bangsal rawat inap rumah sakit.



“Kau tidak mau kutemani? Kita bisa bersenang senang bersama” tawar Chanyeol. Sahabat satu grupnya itu khawatir pada Baekhyun, bagaimana bisa setelah sakit dia malah ingin pergi sendirian tanpa siapapun.



“Tidak Chan, kau bilang keluargamu sangat merindukanmu. Kau pulang saja, aku juga ingin pergi sendirian.” Tolak Baekhyun.  Baekhyun memang ingin melepaskan diri sebentar dari segala hal tentang EXO baik itu member, kepopuleran dan image yang selama ini dibangunnya di EXO. Dia sedang merasa lelah atas segala yang sudah dicapainya. Dia ingin berjalan seperti  pria biasa tanpa menggunakan masker dan topi, tanpa hoodie yang menutupi kepalanya. Dia ingin berjalan dengan nyaman pergi melihat para pedagang kaki lima tanpa merasa dikejar dan diminta berfoto bersama oleh fans yang ditemuinya. Dia benar benar sedang merindukan saat saat dia masih belum dikenal banyak orang.



“Kau tenang saja, dia akan baik baik saja Chan. Aku sudah menyiapkan tempat yang nyaman untuk Baekhyun sesuai keinginannya.”



“Kemana?” Tanya Chanyeol penasaran.


“Kaysersberg.” Jawab Manajer Hyung.


“Kay....ser... eodi?” Masa bodoh, Chanyeol bahkan tidak bisa mengeja namanya.


“Perancis.” Jawab Baekhyun.


“Apa? Sejauh itu?” Chanyeol membelalakan matanya.




*accidentally, love*


Airport de Strasbourg, pukul 10.00 pagi



Pesawatnya sudah mendarat di negeri anggur setelah menempuh perjalanan panjang. Baekhyun menggendong tas ransel kotak berwarna hitam dan sebuah koper di tangan kanannya, berjalan keluar menuju pintu kedatangan dengan kacamata hitam bertengger mengapit hidung mancungnya. Mata Bekhyun berkeliling mencari cari seseorang yang akan menjemputnya  sampai dia menemukan seorang gadis berwajah oriental berusia sekitar empat atau lima  tahun yang digendong di pundak seorang pria perancis. Mereka membawa kertas bertulis nama Baekhyun. Baekhyun menemukannya, orang yang menyewakan rumah yang akan digunakan Baekhyun selama dia berada di Kaysersberg sekaligus yang akan mengurusi segala macam keperluan Baekhyun disana. Oh benar, tidak mungkin Baekhyun hanya dibiarkan saja menuju kesana tanpa perencanaan matang.



Pria perancis itu bernama Steve, dan anak gadisnya bernama Clara. Steve adalah orang perancis asli yang menikah dengan perempuan Korea. Tidak heran jika Clara memiliki wajah perancis dan korea secara bersamaan yang membuat gadis itu semakin cantik secara genetik.



“Kau tahu EXO?” tanya Baekhyun pada Clara setelah mereka berkendara menuju pedesaan tempat Baekhyun akan beristirahat.



“ Tentu saja, aku suka Suho.” Jawab Clara dengan bahasa korea yang sedikit terbata.



“ Kenapa? kenapa tidak suka padaku?” tanya Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal, pria itu cemburu karena anak secantik dia malah menyukai Suho Hyung.




“Aku suka pria yang tinggi, mianhae Oppa.” Jawaban Clara membuat Baekhyun tercengang, ketika tinggi badannya dipermasalahkan oleh gadis yang tidak lebih tinggi dari pusarnya.



“Aku juga tinggi, lihat kau saja tidak lebih tinggi dari Oppa.”



“ Karena aku masih kecil, aku akan menyusul tinggi badanmu  jika aku seusiamu, dan Suho Oppa akan menyukaiku.” Jawab Clara. Ah, hati Baekhyun lagi lagi disayat oleh perkatan lugu gadis lima tahun itu.



Tak butuh waktu lama untuk masuk ke daerah pedesaan tempat mereka akan tinggal. Baekhyun langsung disambut oleh udara yang menyegarkan, di kanannya terdapat pegunungan Vosges yang berderet indah di sebelah barat  dan juga pemandangan  kebun anggur yang sangat luas. Kaysersberg adalah salah satu area perkebunan anggur terbaik di Alsace Perancis. Tak cukup pada pemandangan alamnya yang memukau, bentuk bangunan khas Alsace yaitu rumah berdinding kayu yang dicat warna warni serta berderet menghimpit membentuk jalanan sempit itu juga membuat Baekhyun bersemangat untuk selalu berdecak kagum pada setiap sudut pedesaan itu.




“Gaya Alsace! Yeah” Sorak Baekhyun setelah sampai di kota kecil impiannya itu.



“Oppa, sampai!” Kata gadis itu. Baekhyun turun dari mobil dan membantu Steve menurunkan kopernya di bagasi belakang.



“Itu rumahnya, istriku sudah membersihkannya pagi ini.” Kata Steve. Seperti permintaan Baekhyun, rumahnya juga bergaya Alsace dengan kekayuan yang berwarna tegas dan bunga bunga yang indah menggantung di dinding dinding kayu.



“Daebak!” Sorak Baekhyun lagi.




Steve memandu Baekhyun menuju rumah yang akan Baekhyun tempati, memberitahu letak letak ruangan dan  beberapa tempat yang mungkin bisa Baekhyun kunjungi. Setelah meletakkan koper dan membereskan baju bajunya ke lemari kecil di kamar utama, dia tak mau membuang waktunya sia sia dengan diam di penginapan. Baekhyun keluar menghirup udara segar Kaysersberg. Bau bau anggur kesukaan Baekhyun juga mendominasi karena tepat di belakang penginapannya. Terbentang ladang anggur milik keluarga Steve.



“Disini kau tidak akan dikenal sebagai EXO, jadi kau bebas berjalan jalan kemanapun tanpa ada fans yang mengganggu, dan ini nomor teleponku. Kalau kau ingin butuh sesuatu, merindukan masakan korea atau yang lainnya, akan kuusahakan dan istriku bisa membuatkan makanan untukmu.” Terang Steve, Baekhyun mengangguk dan berterimakasih sebelum Steve meninggalkannya di sana. Rumah Steve tidak jauh dari tempat yang Baekhyun tinggali, hanya berjarak empat rumah dan satu jalan yang cukup sempit.



“Oppa, kalau kau kembali jangan lupa berikan salamku untuk Suho Oppa, Anyeong!” Clara memberi lambaian sampai jumpa pada Baekhyun dan pergi dengan ayahnya. Baekhyun pun membalasnya dengan tak kalah imut. Pria seperempat abad itu masih sangat hebat untuk membuat ekspresi menggemaskan setara lelaki lima tahun yang memberikan ucapan sampai jumpa pada temannya.



Setelah Steve kembali, Baekhyun berjalan jalan sebentar sambil menikmati sejuknya udara dan paparan sinar mentari sekaligus di kulitnya. Baekhyun sangat menyukai suasana baru ini. Dia pikir dia akan betah berada disana bahkan jika harus selamanya.



Langkah Baekhyun terhenti seketika melihat seorang gadis berkulit sama sepertinya. Gadis itu juga berwajah oriental, dengan rok putih selutut mengendarai sepeda keranjang. Rambutnya di ikat ekor kuda dengan poni terbelah di samping kanan yang menjuntai dan perlahan tersibak angin lembut membuat Baekhyun terkesima.



 Sepedanya berlalu begitu cepat di belokan ujung jalan. Baekhyun masih saja terpesona meski gadis itu sudah berlalu dari pandangannya. “Yeppeo!” Kagum Baekhyun, tapi mengingat tidak banyak gadis gadis oriental disini Baekhyun hanya menebak “Apa dia istrinya Steve?” gumam Baekhyun lalu berkeliling lagi.



Seraya mengambil foto di jalanan Kaysersberg dan membagikannya di grup chat EXO, Baekhyun memamerkan keindahan kota tempatnya berlibur itu pada mereka.



“Yaa, kutebak, kau hanya pura pura tertekan agar bisa sampai ditempat seindah itu.” Kata Chanyeol



“Hyung, aku akan menyusulmu segera.” Kata Sehun.



“Woaa, apa aku harus jatuh pingsan ditengah konser agar aku bisa menikmati pemandangan seperti itu?” Sindir Suho.



“Daebak!”



“Baekhyun-ah, baik baik kau disana, Eoh?”



“Cepat kembali, aku rindu padamu..”



Baekhyun sengaja tidak membalas semua chat dari para member karena niatnya hanya  menggoda mereka. Sesaat handphonenya berdering, nama Steve tertulis di layar berukuran 5 inchi digenggamannya. Dia mengangkat dan mereka berbicara singkat. Baekhyun hanya mengiyakan dan mengatakan untuk jangan mengkhawatirkannya, dia bisa mngurus dirinya sendiri, katanya.



Ternyata Steve beserta istri dan anaknya harus mengunjungi Korea karena orang tua istri Steve baru saja meninggal. Jadi mau tidak mau Baekhyun harus mengurus dirinya sendiri di Kaysersberg.



“Akan ada seseorang yang menggantikan istriku membereskan rumah dan memasak untuk sarapan, tak apa kan?” Tanya Steve meminta kesediaan Baekhyun. “Dia sudah seperti adik kami sendiri.”lanjut Steve meyakinkan Baekhyun.



“Ya, tak apa. Kau harus segera pergi Steve. Terimakasih atas bantuanmu, aku akan menikmati liburanku disini.” Jawab Baekhyun. Baekhyun kemudian kembali ke rumah penginapannya. Duduk disana menikmati keheningan menyisir ingatannya tentang konser yang begitu riuh.



“Meski aku stress karena jadwal yang sibuk, tetapi aku juga merindukannya.” Gumam Baekhyun. Satu minggu yang lalu dia masih disibukkan dengan jadwal Konser dan sekarang dia duduk di sini sendirian. Dua hal yang saling bertolak belakang, Tetapi sama saja, baginya dia sama sama kesepian.



Bel berbunyi memecah lamunan Baekhyun yang sedang mengingat berbagai kesibukannya sebagai penyanyi. Baekhyun bangkit dari duduknya menuju pintu kayu dengan ornamen bunga bunga plastik berwarna oranye di dindingnya. Baekhyun membuka pintunya tanpa ragu dan mendapati seseorang yang tidak asing di penglihatan Baekhyun.  Mereka berdua sama sama terkejut melihat satu sama lain.




“Any eong Has...seo..” Sapa seseorang di luar terbata. Gadis itu membelalakan matanya besar besar karena tidak percaya dengan seseorang yang berdiri di hadapannya. Byun Baekhyun? Tanyanya dalam hati.



Pucuk dicinta, ulam tiba! Begitu peribahasa yang tepat menggambarkan wajah berseri Baekhyun. Gadis yang mempesonanya dengan sepeda keranjang yang cantik tadi siang,  kini berada di depan pintu penginapannya, menyapa dengan  sedikit gugup.



“Nuguseyo?” tanya Baekhyun. Ekspresi bahagianya ditutupi dengan kepura puraan, sikap acuh yang terlihat jelas dibuat buat.  Semua orang juga tahu dia sangat bahagia melihat gadis cantik bersepeda keranjang itu . Tulisan di dahinya terlalu jelas memberitahukan hal itu.



“Oh, Aku Irene, yang diminta untuk menggantikan bibi Yeon memasak dan membereskan rumah ini.”



“Bibi Yeon siapa?”



“Istri Paman Steve..”



“Oh, jadi kau yang menggantikannya? Syukurlah..” Demi apapun, ini adalah hal terbaik dari liburan Baekhyun.



“ Kalau begitu,  masuklah. Aku tidak tahu apa yang harus kau kerjakan sekarang, rumah ini masih sangat bersih karena aku belum sempat mengotorinya dan juga aku sudah makan sesuatu di perjalanan..” Oh, salah Baekhyun! Kau salah bicara! Harusnya kau membuat dia berlama lama disini.



“Benarkah? Kalau begitu aku hanya akan mengantarkan pie anggur saja untukmu.” Gadis itu menyodorkan satu kotak pie anggur besar pada Baekhyun lalu berniat pergi.



“Sebesar ini? Aku makan sendiri? Yang benar saja. Bagus Baekhyun! Permulaan yang bagus! Puji Baekhyun pada dirinya sendiri. “Mau temani aku?” Lanjut Baekhyun yang disambut oleh senyum setuju gadis itu.




Irene membuat dua cangkir teh camomile  dan memotong pienya menjadi bagian bagian kecil agar mudah disantap, mereka menikmati pie dan tehnya di lantai atas, dari sana terlihat pegunungan Vosges dengan pohon pohon berdaun jingga karena ini sudah mulai musim gugur. Bekas bekas kastil tua yang masih menjulang gagah juga yang membuat Baekhyun gigih untuk pergi ketempat ini.



Dan bertemu Irene? Adalah keberuntungan kesekian yang membuat Baekhyun semakin menyukai kota ini.



“Ngomong ngomong, apa kau mengenalku?” Tanya Baekhyun yang dijawab anggukan oleh gadis cantik itu.



“Byun Baekhyun, EXO.” Jawabnya “Selama dia adalah gadis yang berasal dari Korea, dia pasti tahu EXO.” Jawab Irene sambil memotong pienya diselingi tawa sombong Baekhyun tentang kepopuleran grupnya bahkan di pedesaan kecil perancis.  



“Lalu bagaimana bisa gadis Korea sepertimu bisa berada di sini?”



“Entahlah,  aku hanya mengikuti kata hatiku.”



Irene, atau gadis yang bernama asli Bae Joo Hyun adalah seorang gadis berusia 24 tahun yang tinggal di Kaysersberg, dia secara kebetulan bertemu dengan keluarga Steve dan menjadi dekat dengan mereka. Awal bagaimana dia berada di Perancis adalah dia melanjutkan kuliahnya di Paris, tetapi sebuah kejadian luar biasa membuatnya berubah haluan, pindah ke desa kecil di Perancis dengan segala beban yang akan ditanggungnya. Dia adalah gadis tangguh yang bekerja ke sana kemari hanya untuk melanjutkan hidupnya.



*Accidentally, love*


Hari kedua Baekhyun berada di KAysersberg, dia pergi berjalan jalan pagi sesekali menikmati udara segar dengan minim kebisingan, tidak seperti Seoul yang ramai, atau Paris yang penuh sesak, Baekhyun sedikit tahu paris karena EXO pernah konser disana. Udaranya juga membuat Baekhyun menyukai tempat ini.  



Langkah Baekhyun berhenti di toko Pie seperti yang Irene katakan kemarin. Irene mengatakan akan datang untuk membersihkan rumah sedikit siang karena ada urusan yang harus diselesaikan,  jadi Baekhyun berencana membeli pie untuk sekedar teman mengobrol mereka nanti.



“Aku akan mentraktirmu pie seperti kemarin, jadi jangan sampai tidak datang.” Tulis baekhyun di halaman chat Irene. Tidak sabar, Baekhyun masuk ke toko pie itu karena harum panggangannya benar benar menggiurkan.



“Ini pasti toko pie terbaik..” kata Baekhyun. Dia mendorong pintu masuk dan melihat sekeliling. Matanya berhenti pada sebuah lukisan mozaik bergambar wajah seseorang, yang tentu tidak asing baginya.



Baekhyun menatap lama lukisan mozaik itu, menebak nebak milik siapa wajah itu sampai seorang pelayan mendatanginya dan menunjukkan tempat pemesanan.



“Permisi aku minta dua buah mini apple pie dan satu buah big grape pie.” Baekhyun mendongak untuk melihat menu menu pie yang menarik. Pelayan menatap Baekhyun penuh pertanyaan. Apakah pria ini benar benar seseorang yang dimaksud olehnya atau bukan. Tanpa berpikir panjang, Pelayan itu bertanya pada Baekhyun.



“Permisi, apa benar anda Byun Baekhyun?”  tanya pelayan.



“Eoh, benar. Kau mengenalku?”Tanya Baekhyun agak terkejut, mengap masih ada yang mengenalnya  di sini. Dia gadis perancis asli, bukan Korea. Kalau Irene yang mengenal Baekhyun, baginya masih wajar karena Irene adalah gadis Korea. Tapi pelayan ini? Dia gadis perancis...



“ Oh benar rupanya, kau lihat lukisan itu, itu adalah wajah anda, anda pasti menyadarinya, dan ini, ini foto anda kan?” tanya pelayan menyerahkan sebuah pigura kecil di depan meja kasir.




“Eoh.. Benar tapi bagaimana bisa...” Baekhyun semakin bingung, mengapa ada foto foto dirinya disana.




“Oh My God, Bos kami adalah fans berat anda. Betapa beruntungnya... sebentar aku ingin memanggilkan bos kami. Apa anda tidak keberatan?” tanya Pelayan. Baekhyun hanya mengangguk. Sambil menunggu pesanannya siap, seseorang keluar dari tempat panggangan. Sambil membawa sebuah pie daging yang besar.



“Nona, betapa beruntungnya kau....” Pelayan itu ikut bersorak gembira melihat pertemuan fans dan idolanya di sebuah toko pie kecil di Kaysersberg. Namun keduanya sama sama terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.



“Itu Byun Baekhyun nona, yang fotonya kau pajang di meja.” Kata Pelayan.



“Baekhyun-sshi?”




“Irene-sshi?”


*Accidentally love*


“Jadi bos toko pie ini fans berat Byun Baekhyun.” Goda Baekhyun. Mereka duduk berhadapan di salah satu meja dekat jendela dengan segelas teh panas yang masih mengepulkan asap.




“Jangan menggodaku, aku sungguh malu.” Kata Irene memegang megang pipinya sendiri.




“Kenapa malu? Aku sungguh merasa terhormat melihat lukisan ku terpajang di sana dan fotoku di meja kasir. Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah tampan pria itu.” Baekhyun mulai besar kepala.




“Cih..”



“Jadi kau pemilik toko ini, kau membangun bisnis ini sendirian di usiamu yang sama denganku. Kau pasti pembuat pie yang hebat.”


“Tidak juga, Keluarga paman Steve membantuku.” Irene melihat jam tangannya dan bergegas ke dapur. “Baekhyun-sshi, jam sepuluh nanti aku akan membereskan rumahmu. Kau bisa memberikan saja kuncinya padaku jika kau ingin pergi jalan jalan.”



“Jam sepuluh sebentar lagi, aku tunggu saja kau disini. Kita bisa pergi sama sama.”



“Eoh?”



“Cepat pergi, jam sepuluh sebentar lagi.”



Irene bergegas ke dapur, menyelesaikan beberapa panggangan pienya sebelum pergi ke penginapan Baekhyun.



Baekhyun duduk dengan sabar menunggu Irene menyelesaikan pekerjaannya. Senyum Baekhyun mengembang sempurna mengingat kebetulan demi kebetulan dalam hubungan mereka.



Apa ini? Mengapa aku memilih Kaysersberg dari sekian banyak kota impianku, mengapa aku terpesona melihat Irene yang melintas dengan sepedanya siang itu, mengapa keluarga Steve pergi ke Korea dan Irene yang menggantikan pekerjaan bibi Yeon untuk mengurus semua perlengkapanku, dan sekarang, dengan sangat kebetulan mengapa Irene adalah fans Byun Baekhyun.



Irene menyelesaikan pekerjaannya segera dan pergi dengan Baekhyun. Dia ikut mengelilingi Kaysersberg karena Baekhyun memintanya menemani.



“Beres beres rumah, aku bisa melakukannya, kenapa aku harus meminta tolong padamu?” Kata Baekhyun ketika Irene protes mengapa dia membawanya berkeliling. “Aku tidak suka berkeliling sendirian. Jadi temani aku saja.” Kata Baekhyun



Oh baiklah, alasan yang bagus. Kalau memang tidak suka berkeliling sendirian mengapa dia tidak mengajak member EXO liburan bersamanya. Chanyeol dengan senang hati mau menemaninya, atau member yang lain pasti tidak menolak untuk pergi bersama jika mereka tidak ada jadwal yang lain. Irene pun tidak akan menolak, toh dia adalah fans Baekhyun, dia pasti akan rela bahkan jika ia dibawa ke belahan dunia manapun asalkan selalu bersama idolanya.



Mereka berkeliling, melewati perkebunan anggur yang luas, tempat dimana bahan utama wine wine terkenal dibuat. Ini juga tempat dimana Irene memperoleh anggur anggurnya untuk isian pie yang paling terkenal di seluruh Kaysersberg.


“Kau sudah lama disini?” tanya Baekhyun.



“Sekitar 1 tahun, sebelumnya aku di Paris.”



“Tidak mau kembali ke Korea?”



“ Aku memutuskan untuk tidak kembali kesana.”



Terlihat raut wajah Irene berubah ketika Baekhyun menanyakan tentang kembali ke Korea sehingga Baekhyun tidak mau melanjutkannya lagi. Mereka kembali ke penginapan setelah membeli beberapa bahan makanan. Selain membereskan rumah, Irene juga ditugaskan untuk memasak jika Baekhyun ingin makanan rumahan.



Karena tidak tega melihat Irene bekerja sendirian, Baekhyun memutuskan untuk bekerja sama, Baekhyun yang membereskan rumah dan Irene  yang memasak untuk makan siang. Mereka menghabiskan  waktu bersama seharian ini.



Baekhyun menyukai Irene dari awal dan Irene, adalah fans berat Baekhyun. Tak ada yang menyangkal mereka akhirnya menyukai satu sama lain dalam waktu yang singkat. Mereka menjadi dekat dan menunjukkan ketertarikan. Bagi Baekhyun, dunia sangat mendukung rasa sukanya, bagi Irene dunia berada di pihaknya karena akhirnya dia bisa menghabiskan hari bersama Baekhyun. Sebuah kesempatan yang mungkin diharapkan oleh jutaan gadis gadis diluar sana.
Semakin petang, kedua insan manusia ini duduk berdua di sofa. Baekhyun membaca buku berbahasa perancis dan Irene mengupas sebuah apel untuk mereka berdua. Baekhyun mendekat padanya karena tidak mengerti arti sebuah kalimat.



“Ini apa artinya?” tanya Baekhyun yang langsung disambut oleh tatapan Irene pada buku setebal kamus Oxford.




“Eoh, ini.... emm... kau tidak bisa menghalangi siapapun untuk masuk dalam hidupmu. Meski kau tidak pernah membayangkannya.”



“Jadi Shannon dan Ark mungkin akan saling ikut campur kehidupan masing masing?”




“Mmm... entahlah, Kenapa tidak kau baca sendiri saja?” tanya Irene, karena Baekhyun sudah lebih banyak bertanya ketimbang membacanya.




“Yaa, bahasa Perancisku kan tidak begitu bagus. Kau mau menceritakannya padaku?” Pinta Baekhyun.




“Baiklah...” Tak ada penolakan dari Irene, dia sudah pasti terbius oleh Baekhyun hingga tak bisa menolak apapun permintaan Baekhyun. Ia duduk di samping Irene, mendengarkan dengan seksama celotehan gadis Korea yang terdampar di pedesaan kecil di Alsace, membacakan cerita roman padanya.  




“Tak ada yang bisa membendung perasaan mereka satu sama lain dan......” Irene menghentikan kalimatnya.  




“Dan apa?”



 “Dan... kau tidak lapar? Bukankah ini waktunya makan malam?” Irene mengalihkan pembicaraan mereka tentang  buku ini karena isinya membuatnya malu untuk mengatakan secara terang terangan pada Baekhyun.




“Dan apa? Kenapa tidak dilanjutkan” Baekhyun berakting begitu penasaran.




“Dan....” Irene terlalu ragu ragu untuk melanjutkan. “Bibir mereka disatukan dengan gairah...” Lanjut Irene dengan wajah memerah seperti tomat matang. Setelah Irene berhenti pada suatu titik kalimat yang ditunggu tunggu Baekhyun. Baekhyun mendaratkan  bibirnya pda bibir berwarna pink alami milik Irene dengan kecepatan cahaya.



“Ireohke?” tanya Baekhyun setelah dia berhasil mencuri ciuman pada Irene.




“Baekhyun-sshi...”




“Kurang bergairah?” Baekhyun mengecup lagi, cukup lama bibir mereka saling bersentuhan sampai baekhyun berani melumatnya. Belum ada balasan dari Irene tapi Baekhyun tidak menyerah. Dia masih melumat lembut agar tidak seperti sebuah paksaan.



“Shireo?” tanya Baekhyun.



“Eoh?”Irene yang seperti tersadar dari keterkejutannya balik membalas ciuman Baekhyun. Tidak ada yang berhenti meski nafas mereka hampir habis. Ciuman lembut itu berubah panas ketika keduanya sama sama sudah tidak dalam puncak kesadaran,  dikuasai gairah pria dan wanita.



Baekhyun hilang akal, dia merapatkan tubuhnya pada Irene. Melepas pagutannya dan memeluk Irene.



“Baekhyun-sshi, hentikan.”


“Wae?”


“Aku takut ini akan berbahaya untukmu. Kau publik figur yang harus menjaga image yang baik. “



“Sudah kukatakan berkali kali, aku kemari bukan untuk diperlakukan sebagai EXO.”



“Lalu...”



“Aku disini sebagai pria yang menyukaimu.”



“Kau menyukaiku?” Irene terkejut. Baekhyun mengangguk. “Tetap saja kau itu milik fansmu, aku tidak berhak seperti ini.” Kata Irene meyakinkan Baekhyun.




“Kau juga fansku, jadi aku juga milikmu.” Baekhyun kembali ke posisi duduknya semula.”Kau menolakku.” Baekhyun kecewa.




“Bukan begitu Baek, Segala apapun yang kau lakukan untukku, Aku tidak akan pernah bisa menolak.  Tapi aku benar benar memikirkan karir masa depanmu jika kita bertindak lebih dari ini.”




“Apapun yang kau pikirkan sekarang, aku hanya mengikuti kata hatiku, kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama?”




Irene tertunduk lesu, dia benar benar tidak ingin membuat Baekhyun menjadi pria yang buruk jika ada yang tahu Baekhyun bercumbu dengannya, bagaimana dia akan mengecewakan seluruh fansnya. Sejujurnya cinta Irene untuk Baekhyun sangatlah murni, Irene tidak ingin menghancurkan  karirBaekhyun hanya karena Baekhyun tidur dengannya.  Tetapi cinta juga terdorong oleh naluri alami antara sepasang pria dan wanita.  Irene pun tak menyangkal hati kecilnya ingin memiliki Baekhyun sepenuhnya.



Baekhyun mendorong Irene pelan hingga dia terbaring di sofa panjang berwarna hitam yang sedari tadi mereka dduduki, bibir BAekhyun menjejak dari dahi Irene, ke pipinya... menciuminya lembut. Merasakan wangi yang menguar dari rambut panjang Irene serta membelainya dengan penuh rasa.



Tak lama, bibir mereka berpagut bersama nafas yang menderu, tubuh Irene bergidik merinding saat nafas Baekhyun mengarah ke leher jenjang nan putih miliknya. Nafasnya bahkan tak bisa teratur. Bagian kenikmatan yang tidak pernah dirasakan keduanya.



Bekhyun mengganti posisi, dia bertumpu pada lututnya diatas sofa, tangannya sejajar kepala Irene yang semakin terlihat mempesona. Keringat yang terjulur membuat Baekhyun ingin menghabisi gadis manis ini.Tangannya meraih leher Irene, menariknya lembut agar ciumannya lebih dalam. Tangan Irene pun mendekap kepala Baekhyun. Baekhyun semakin tak terbendung ketika tangannya dengan sigap melepas  satu persatu kancing baju Irene tanpa penolakan.
Baekhyun membuangnya ke segala arah, menyisakan sebuah bra putih dengan tali spageti yang mudah dilepas dengan sekali tarikan.  Dua gundukan kecil didepan matanya itu membuatnya mabuk. Tangan kanannya bermain main disana, sementara bibirnya masih sibuk bermain dengan leher irene yang putih bersih.



Baekhyun meremas dan sesekali memilin payudara Irene yang tidak cukup besar, tetapi Baekhyun tetap saja menyukai setiap jengkal tubuh gadis ini. Irene melenguh mendapat perlakuan Bekhyun yang semakin tak terbendung. Bibirnya bahkan menciumi dada Irene dan menggigitnya dengan lembut serta sengaja meninggalkan kiss mark di gundukan itu.



Kalimat Irene terbata bata dan nafasnya semakin memburu. Tidak puas bermain diantara dua gundukan menggairahkan itu. Baekhyun mulai usil, tangannya turun ke rok Irene, menariknya ke bawah dan membuangnya ke lantai.  Tangan kirinya juga menelusup ke dalam celana yang tersisa dari tubuh bagian bawah Irene.



Baekhyun menyadari, Irene sudah lebih dari basah untuk bermain dengannya.



“Baek, kau curang..” Kata Irene. Bekhyun tahu maksud kata katanya dan segera menanggalkan seluruh pakaiannya ke lantai.



Keduanya sudah sama sama ingin melepaskan apa yang sudah ditahannya. Inti Baekhyun menembus kedalam Irene perlahan karena tidak ingin melukai gadis cantik ini. Irene meringis, pertahanannya yang selama ini dijaga untuk calon suaminya. Akhirnya berakhir oleh milik Baekhyun.



“Aaaah...” Baekhyun melenguh, karena milik Irene terlalu sempit. Dia memaju mundurkan miliknya perlahan sampai Irene mampu menyeimbangkan irama hentakan Baekhyun atas dirinya. Irene juga menggigit bibirnya agar tidak bersuara. Tapi tidak berhasil, desahan demi desahan tidak mampu dibendung oleh bibir Irene. Bagi Baekhyun desahan Irene adalah suara tersexy sepanjang hidupnya.



Bibir mereka masih beradu dengan nafas yang menyatu, keringat mengucur diantara mereka dan menyatu di perut datar Irene. Baekhyun masih siap menggempur Irene, ditariknya lengan Irene dan memintanya berbalik. Baekhyun ingin melihat punggung indah Irene yang mulus, Baekhyun makin mengganas. Tubuhnya menggelinjang ketika dia hampir menuju puncaknya.



“Irene-sshi, aku hampir selesai.... aah...” Seru Baekhyun yang langsung menyemburkan cairan kehidupannya di dalam rahim Irene.



Malam panas itu akhirnya berakhir, Baekhyun dan Irene berbaring bersama di ranjang besar Baekhyun, berselimut kain tebal berwarna putih.



Irene berbaring dengan lengan Baekhyun sebagai bantalan. Berbagi cerita tanpa ragu lagi. Bagi Irene, menyerahkan kehormatannya kepada Baekhyun adalah sebuah kesalahan, tetapi dia tidak pernah menyesalinya, rasa kagum Irene pada Baekhyun membuatnya buta. Bahkan jika Baekhyun meninggalkannya setelah ini dia tidak peduli. Dia tidak egois untuk membuat Baekhyun tetap disisinya karena perasaan Irene untuk Baekhyun terlanjur tulus. Baekhyun harus tetap bersinar meski dia harus meninggalkan Irene disini bahkan jika Baekhyun akhirnya meluopakannya.



One Night Stand? Anggap saja begitu


Aku tidak akan mengganggu hidupnya hanya karena aku pernah tidur dengannya.

Kesalahan? Ini tidak hanya kesalahan Baekhyun karena memintaku.

Tetapi aku juga menyerahkan begitu saja harta ku yang paling berharga padanya.


Kejadian semalam membuat Baekhyun dan Irene semakin dekat. Selayaknya pasangan kekasih yang baru dimabuk cinta. Sifat asli Baekhyun yang manja dan suka menempel itu akhirnya nampak ketika  Irene akan pergi ke Toko. Dia tidak merelakan sedetik aja Irene pergi darinya.



Satu jam Irene meninggalkan Baekhyun untuk mengecek tokonya, ia kembali lagi ke penginapan. Sama seperti Baekhyun, Irene pun tidak ingin berlama lama jauh dari Baekhyun.



Irene bergegas menemui Baekhyun yang sedang menunggunya, begitu kata Baekhyun saat Irene mengiriminya pesan.



“Irene-sshi...” Kata Baekhyun ketika melihat Irene sudah kembali ke penginapan. Ekspresinya berbeda dengan saat Irene pergi meninggalkannya ke Toko.



“Yaa Baek...” Jawab Irene yang mendekati Baekhyun dan memeluknya.



“Aku benar benar menyesal, tapi aku harus segera kembali ke Korea.” Kata Baekhyun menyampaikan berita yang benar benar berat untuk disampaikan.



“Kapan? Bukankah kau bilang kau disini selama satu minggu?”



“Produser memintaku memajukan jadwal rekaman kolaborasi. Kami berencana melakukannya setelah aku selesai liburan tetapi teman kolab ku memiliki jadwal yang bentrok. Jadi aku harus memajukan jadwal rekaman kami”



Ada raut kecewa pada Irene yang ditutupi dengan senyumannya.



“Tak apa Baek, kau memang harus cepat kembali jika permasalahannya begitu. Jangan mengkhawatirkan apapun. Kembalilah ke Korea. Aku juga ingin mendengarkan karyamu lagi” Kata Irene memberi semangat pada Baekhyun.




“Benarkah? Aku senang kau tidak keberatan. Aku benar benar mengkhawatirkanmu. Aku takut kau 
kecewa padaku.”



“Haha, aku akan lebih kecewa jika kau menunda rekaman dan menunda comeback. Buatlah lagu yang bagus dan aku akan mendengarkannya disini.”




“Demi Tuhan Irene-sshi, aku tidak ingin meninggalkanmu.”




“Kau tetap harus kembali Baek, jangan pikirkan aku.”



*Accidentally Love*


Airport de Strasbourg, Jam 16.00

Baekhyun kembali ke Korea dengan koper dan tas gendong hitamnya. Irene mengantar kepergian Baekhyun ke Bandara, mereka terlihat berat hati untuk saling melepaskan. Tapi apa daya, Baekhyun harus menaati jadwalnya dan Irene tidak berhak untuk menahan kepergian Baekhyun.



“Maafkan aku Joo Hyun-ah.” Lirih Baekhyun ketika akan masuk ke pintu keberangkatan.  Irene berdiri di hadapan Baekhyun dengan menahan seluruh air matanya.



“Baekhyun-sshi, bolehkah aku meminta satu hal padamu?”




“Bisa kabari aku ketika kau sampai di Korea?” Pinta Irene. Baekhyun berpikir cukup lama. “Tak perlu mengabariku secara pribadi. Kau bisa mengupdate fotomu di SNS saat sudah mendarat di Korea. Itu tandanya kau selamat sampai di Korea”




Mungkin begitu lebih baik



Pikir Irene



Baekhyun mengangguk, mendekap Irene yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya dan segera masuk ke pintu keberangkatan.



Baekhyun yang harus kembali ke Korea dan Irene yang sudah memutuskan untuk tidak kembali ke Korea adalah akhir dari kisah cinta singkat dua insan manusia. Baekhyun dan Irene akhirnya tetap menjadi seorang fans dan idola meski mereka sudah saling mengisi hari hari bersama.


Irene tidak berharap Baekhyun akan kembali padanya, karena kemungkinan itu tidak pernah masuk akal. Baekhyun mungkin akan segera melanjutkan karirnya dan melupakan Irene seiring berjalannya waktu.


******* Accidentally Love*****
  *
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Satu bulan kemudian.....



Irene duduk di toilet dengan menggenggam sebuah batangan berbahan plastik berwarna putih. Dia merenung menatap sebuah tanda berwarna merah dengan simbol plus di genggamannya.





 To Be Continued....








No comments:

Post a Comment