Cast :
Baekhyun EXO as Byun Baekhyun
Irene Red Velvet as Irene or Bae Joo Hyun
Rating : NC 18
Author : Choi Anna
Matahari sore itu sudah membenamkan dirinya diantara awan
awan berwarna jingga keemasan dan menyadari tugasnya untuk bersiap menyinari
belahan dunia yang lain, perlahan langitpun
berubah kebiruan dan menggelap. Tokyo Dome, Tempat itu bukannya semakin sepi
tak berpenghuni, tetapi malah semakin bising. Suara riuh yang berasal dari gadis gadis dengan lightstick berwarna hitam bercahaya
putih adalah alasan nya . Kata ‘Encore..... Encore...... Encore....’ terus
menerus digaungkan di sebuah venue berkapasitas 55.000 penonton yang membentuk
silver ocean memukau. di stadion bisbol itu sedang diselenggarakan sebuah
konser boy group terkenal Korea Selatan. EXO, begitu mereka disebut. Boygroup
tersukses beberapa tahun belakangan ini sedang melakukan Konser World Tour yang
ketiga, dan Jepang merupakan pemberhentian terakhir untuk konser yang bertajuk
EXOrdium itu
Lagu medley penutup (Encore) pun dibawakan, dan sukses
membuat penonton berteriak ekstrem, mereka tidak ingin konser berakhir. Ada
yang menangis, ada pula yang berteriak kencang tak ingin mereka menyudahinya.
Demi bumi yang menyuarakan lagu lagu mereka, mereka begitu dicintai oleh para
EXO-L, nama fans resmi EXO.
Disela sela encore, suara dari sebagian penonton terdengar
di ujung stadion yang lain“Baekhyun...Baekhyun... Baekhyun...” teriak fans. Mereka kehilangan satu anggota yang juga dinantikan
selama encore. Salah satu main vocal
mereka yaitu Baekhyun, ia tidak muncul ke pannggung setelah sebelumnya mundur ke
backstage bersama member yang lain.
Ketidak hadiran Baekhyun adalah kekacauan yang terjadi di belakang
panggung, Baekhyun jatuh pingsan setelah penampilan terakhirnya saat dia hendak
mengganti baju untuk penampilan encore. Nafasnya memendek, sesak dan tersengal.
Dia dilarikan ke rumah sakit setelah ambulans datang karena
kehabisan nafas. Staminanya tidak begitu baik kala itu tapi dia memaksa untuk
tetap tampil agar tidak mengecewakan fansnya. Profesionalitasnya yang begitu
tinggi itu membuat kondisinya yang sedang buruk semakin parah. Meski begitu, betapapun kacaunya kejadian di backstage, EXO
harus tetap melanjutkan konser tanpa
anggota yang lengkap.
Dokter mendiagnosis Baekhyun mengalami kelelahan bekerja
yang ekstrem dengan tingkat stress yang cukup tinggi, yang di butuhkan Baekhyun
saat ini adalah istirahat dan menjauh dari dunianya sebentar untuk memulihkan
fisik dan psikisnya.
“Baekhyun-ah, kita sudah menyiapkan semuanya.” Kata Manajer. Baekhyun
yang masih bersandar di ranjang rumah sakit dengan infus yang menggantung itu
mengangguk. Kondisi tubuhnya sudah baik setelah tiga hari berada di ranjang
bangsal rawat inap rumah sakit.
“Kau tidak mau kutemani? Kita bisa bersenang senang bersama”
tawar Chanyeol. Sahabat satu grupnya itu khawatir pada Baekhyun, bagaimana bisa
setelah sakit dia malah ingin pergi sendirian tanpa siapapun.
“Tidak Chan, kau bilang keluargamu sangat merindukanmu. Kau
pulang saja, aku juga ingin pergi sendirian.” Tolak Baekhyun. Baekhyun memang ingin melepaskan diri sebentar
dari segala hal tentang EXO baik itu member, kepopuleran dan image yang selama
ini dibangunnya di EXO. Dia sedang merasa lelah atas segala yang sudah
dicapainya. Dia ingin berjalan seperti
pria biasa tanpa menggunakan masker dan topi, tanpa hoodie yang menutupi
kepalanya. Dia ingin berjalan dengan nyaman pergi melihat para pedagang kaki
lima tanpa merasa dikejar dan diminta berfoto bersama oleh fans yang ditemuinya.
Dia benar benar sedang merindukan saat saat dia masih belum dikenal banyak
orang.
“Kau tenang saja, dia akan baik baik saja Chan. Aku sudah
menyiapkan tempat yang nyaman untuk Baekhyun sesuai keinginannya.”
“Kemana?” Tanya Chanyeol penasaran.
“Kaysersberg.” Jawab Manajer Hyung.
“Kay....ser... eodi?” Masa bodoh, Chanyeol bahkan tidak bisa
mengeja namanya.
“Perancis.” Jawab Baekhyun.
“Apa? Sejauh itu?” Chanyeol membelalakan matanya.
*accidentally, love*
Airport de Strasbourg,
pukul 10.00 pagi
Pesawatnya sudah mendarat di negeri anggur setelah menempuh
perjalanan panjang. Baekhyun menggendong tas ransel kotak berwarna hitam dan
sebuah koper di tangan kanannya, berjalan keluar menuju pintu kedatangan dengan
kacamata hitam bertengger mengapit hidung mancungnya. Mata Bekhyun berkeliling
mencari cari seseorang yang akan menjemputnya sampai dia menemukan seorang gadis berwajah
oriental berusia sekitar empat atau lima tahun yang digendong di pundak seorang pria
perancis. Mereka membawa kertas bertulis nama Baekhyun. Baekhyun menemukannya,
orang yang menyewakan rumah yang akan digunakan Baekhyun selama dia berada di
Kaysersberg sekaligus yang akan mengurusi segala macam keperluan Baekhyun
disana. Oh benar, tidak mungkin Baekhyun hanya dibiarkan saja menuju kesana
tanpa perencanaan matang.
Pria perancis itu bernama Steve, dan anak gadisnya bernama
Clara. Steve adalah orang perancis asli yang menikah dengan perempuan Korea.
Tidak heran jika Clara memiliki wajah perancis dan korea secara bersamaan yang
membuat gadis itu semakin cantik secara genetik.
“Kau tahu EXO?” tanya Baekhyun pada Clara setelah mereka
berkendara menuju pedesaan tempat Baekhyun akan beristirahat.
“ Tentu saja, aku suka Suho.” Jawab Clara dengan bahasa
korea yang sedikit terbata.
“ Kenapa? kenapa tidak suka padaku?” tanya Baekhyun
mengerucutkan bibirnya kesal, pria itu cemburu karena anak secantik dia malah
menyukai Suho Hyung.
“Aku suka pria yang tinggi, mianhae Oppa.” Jawaban Clara
membuat Baekhyun tercengang, ketika tinggi badannya dipermasalahkan oleh gadis
yang tidak lebih tinggi dari pusarnya.
“Aku juga tinggi, lihat kau saja tidak lebih tinggi dari
Oppa.”
“ Karena aku masih kecil, aku akan menyusul tinggi
badanmu jika aku seusiamu, dan Suho Oppa
akan menyukaiku.” Jawab Clara. Ah, hati Baekhyun lagi lagi disayat oleh
perkatan lugu gadis lima tahun itu.
Tak butuh waktu lama untuk masuk ke daerah pedesaan tempat
mereka akan tinggal. Baekhyun langsung disambut oleh udara yang menyegarkan, di
kanannya terdapat pegunungan Vosges yang berderet indah di sebelah barat dan juga pemandangan kebun anggur yang sangat luas. Kaysersberg
adalah salah satu area perkebunan anggur terbaik di Alsace Perancis. Tak cukup
pada pemandangan alamnya yang memukau, bentuk bangunan khas Alsace yaitu rumah
berdinding kayu yang dicat warna warni serta berderet menghimpit membentuk jalanan
sempit itu juga membuat Baekhyun bersemangat untuk selalu berdecak kagum pada
setiap sudut pedesaan itu.
“Gaya Alsace! Yeah” Sorak Baekhyun setelah sampai di kota
kecil impiannya itu.
“Oppa, sampai!” Kata gadis itu. Baekhyun turun dari mobil dan
membantu Steve menurunkan kopernya di bagasi belakang.
“Itu rumahnya, istriku sudah membersihkannya pagi ini.” Kata
Steve. Seperti permintaan Baekhyun, rumahnya juga bergaya Alsace dengan
kekayuan yang berwarna tegas dan bunga bunga yang indah menggantung di dinding
dinding kayu.
“Daebak!” Sorak Baekhyun lagi.
Steve memandu Baekhyun menuju rumah yang akan Baekhyun tempati,
memberitahu letak letak ruangan dan beberapa
tempat yang mungkin bisa Baekhyun kunjungi. Setelah meletakkan koper dan
membereskan baju bajunya ke lemari kecil di kamar utama, dia tak mau membuang
waktunya sia sia dengan diam di penginapan. Baekhyun keluar menghirup udara
segar Kaysersberg. Bau bau anggur kesukaan Baekhyun juga mendominasi karena
tepat di belakang penginapannya. Terbentang ladang anggur milik keluarga Steve.
“Disini kau tidak akan dikenal sebagai EXO, jadi kau bebas
berjalan jalan kemanapun tanpa ada fans yang mengganggu, dan ini nomor teleponku.
Kalau kau ingin butuh sesuatu, merindukan masakan korea atau yang lainnya, akan
kuusahakan dan istriku bisa membuatkan makanan untukmu.” Terang Steve, Baekhyun
mengangguk dan berterimakasih sebelum Steve meninggalkannya di sana. Rumah
Steve tidak jauh dari tempat yang Baekhyun tinggali, hanya berjarak empat rumah
dan satu jalan yang cukup sempit.
“Oppa, kalau kau kembali jangan lupa berikan salamku untuk
Suho Oppa, Anyeong!” Clara memberi lambaian sampai jumpa pada Baekhyun dan
pergi dengan ayahnya. Baekhyun pun membalasnya dengan tak kalah imut. Pria
seperempat abad itu masih sangat hebat untuk membuat ekspresi menggemaskan
setara lelaki lima tahun yang memberikan ucapan sampai jumpa pada temannya.
Setelah Steve kembali, Baekhyun berjalan jalan sebentar
sambil menikmati sejuknya udara dan paparan sinar mentari sekaligus di kulitnya.
Baekhyun sangat menyukai suasana baru ini. Dia pikir dia akan betah berada
disana bahkan jika harus selamanya.
Langkah Baekhyun terhenti seketika melihat seorang gadis
berkulit sama sepertinya. Gadis itu juga berwajah oriental, dengan rok putih
selutut mengendarai sepeda keranjang. Rambutnya di ikat ekor kuda dengan poni
terbelah di samping kanan yang menjuntai dan perlahan tersibak angin lembut
membuat Baekhyun terkesima.
Sepedanya berlalu
begitu cepat di belokan ujung jalan. Baekhyun masih saja terpesona meski gadis
itu sudah berlalu dari pandangannya. “Yeppeo!” Kagum Baekhyun, tapi mengingat
tidak banyak gadis gadis oriental disini Baekhyun hanya menebak “Apa dia istrinya
Steve?” gumam Baekhyun lalu berkeliling lagi.
Seraya mengambil foto di jalanan Kaysersberg dan
membagikannya di grup chat EXO, Baekhyun memamerkan keindahan kota tempatnya
berlibur itu pada mereka.
“Yaa, kutebak, kau
hanya pura pura tertekan agar bisa sampai ditempat seindah itu.” Kata Chanyeol
“Hyung, aku akan
menyusulmu segera.” Kata Sehun.
“Woaa, apa aku harus
jatuh pingsan ditengah konser agar aku bisa menikmati pemandangan seperti itu?”
Sindir Suho.
“Daebak!”
“Baekhyun-ah, baik
baik kau disana, Eoh?”
“Cepat kembali, aku
rindu padamu..”
Baekhyun sengaja tidak membalas semua chat dari para member
karena niatnya hanya menggoda mereka.
Sesaat handphonenya berdering, nama Steve tertulis di layar berukuran 5 inchi
digenggamannya. Dia mengangkat dan mereka berbicara singkat. Baekhyun hanya
mengiyakan dan mengatakan untuk jangan mengkhawatirkannya, dia bisa mngurus
dirinya sendiri, katanya.
Ternyata Steve beserta istri dan anaknya harus mengunjungi
Korea karena orang tua istri Steve baru saja meninggal. Jadi mau tidak mau
Baekhyun harus mengurus dirinya sendiri di Kaysersberg.
“Akan ada seseorang yang menggantikan istriku membereskan
rumah dan memasak untuk sarapan, tak apa kan?” Tanya Steve meminta kesediaan
Baekhyun. “Dia sudah seperti adik kami sendiri.”lanjut Steve meyakinkan
Baekhyun.
“Ya, tak apa. Kau harus segera pergi Steve. Terimakasih atas
bantuanmu, aku akan menikmati liburanku disini.” Jawab Baekhyun. Baekhyun
kemudian kembali ke rumah penginapannya. Duduk disana menikmati keheningan
menyisir ingatannya tentang konser yang begitu riuh.
“Meski aku stress karena jadwal yang sibuk, tetapi aku juga
merindukannya.” Gumam Baekhyun. Satu minggu yang lalu dia masih disibukkan
dengan jadwal Konser dan sekarang dia duduk di sini sendirian. Dua hal yang
saling bertolak belakang, Tetapi sama saja, baginya dia sama sama kesepian.
Bel berbunyi memecah lamunan Baekhyun yang sedang mengingat
berbagai kesibukannya sebagai penyanyi. Baekhyun bangkit dari duduknya menuju
pintu kayu dengan ornamen bunga bunga plastik berwarna oranye di dindingnya.
Baekhyun membuka pintunya tanpa ragu dan mendapati seseorang yang tidak asing
di penglihatan Baekhyun. Mereka berdua
sama sama terkejut melihat satu sama lain.
“Any eong Has...seo..” Sapa seseorang di luar terbata. Gadis
itu membelalakan matanya besar besar karena tidak percaya dengan seseorang yang
berdiri di hadapannya. Byun Baekhyun? Tanyanya dalam hati.
Pucuk dicinta, ulam tiba! Begitu peribahasa yang tepat
menggambarkan wajah berseri Baekhyun. Gadis yang mempesonanya dengan sepeda
keranjang yang cantik tadi siang, kini
berada di depan pintu penginapannya, menyapa dengan sedikit gugup.
“Nuguseyo?” tanya Baekhyun. Ekspresi bahagianya ditutupi
dengan kepura puraan, sikap acuh yang terlihat jelas dibuat buat. Semua orang juga tahu dia sangat bahagia melihat
gadis cantik bersepeda keranjang itu . Tulisan di dahinya terlalu jelas
memberitahukan hal itu.
“Oh, Aku Irene, yang diminta untuk menggantikan bibi Yeon
memasak dan membereskan rumah ini.”
“Bibi Yeon siapa?”
“Istri Paman Steve..”
“Oh, jadi kau yang menggantikannya? Syukurlah..” Demi
apapun, ini adalah hal terbaik dari liburan Baekhyun.
“ Kalau begitu, masuklah.
Aku tidak tahu apa yang harus kau kerjakan sekarang, rumah ini masih sangat
bersih karena aku belum sempat mengotorinya dan juga aku sudah makan sesuatu di
perjalanan..” Oh, salah Baekhyun! Kau salah bicara! Harusnya kau membuat dia
berlama lama disini.
“Benarkah? Kalau begitu aku hanya akan mengantarkan pie
anggur saja untukmu.” Gadis itu menyodorkan satu kotak pie anggur besar pada
Baekhyun lalu berniat pergi.
“Sebesar ini? Aku makan sendiri? Yang benar saja. Bagus
Baekhyun! Permulaan yang bagus! Puji Baekhyun pada dirinya sendiri. “Mau temani
aku?” Lanjut Baekhyun yang disambut oleh senyum setuju gadis itu.
Irene membuat dua cangkir teh camomile dan memotong pienya menjadi bagian bagian
kecil agar mudah disantap, mereka menikmati pie dan tehnya di lantai atas, dari
sana terlihat pegunungan Vosges dengan pohon pohon berdaun jingga karena ini
sudah mulai musim gugur. Bekas bekas kastil tua yang masih menjulang gagah juga
yang membuat Baekhyun gigih untuk pergi ketempat ini.
Dan bertemu Irene? Adalah keberuntungan kesekian yang
membuat Baekhyun semakin menyukai kota ini.
“Ngomong ngomong, apa kau mengenalku?” Tanya Baekhyun yang
dijawab anggukan oleh gadis cantik itu.
“Byun Baekhyun, EXO.” Jawabnya “Selama dia adalah gadis yang
berasal dari Korea, dia pasti tahu EXO.” Jawab Irene sambil memotong pienya
diselingi tawa sombong Baekhyun tentang kepopuleran grupnya bahkan di pedesaan
kecil perancis.
“Lalu bagaimana bisa gadis Korea sepertimu bisa berada di
sini?”
“Entahlah, aku hanya
mengikuti kata hatiku.”
Irene, atau gadis yang bernama asli Bae Joo Hyun adalah
seorang gadis berusia 24 tahun yang tinggal di Kaysersberg, dia secara
kebetulan bertemu dengan keluarga Steve dan menjadi dekat dengan mereka. Awal
bagaimana dia berada di Perancis adalah dia melanjutkan kuliahnya di Paris,
tetapi sebuah kejadian luar biasa membuatnya berubah haluan, pindah ke desa
kecil di Perancis dengan segala beban yang akan ditanggungnya. Dia adalah gadis
tangguh yang bekerja ke sana kemari hanya untuk melanjutkan hidupnya.
*Accidentally, love*
Hari kedua Baekhyun berada di KAysersberg, dia pergi
berjalan jalan pagi sesekali menikmati udara segar dengan minim kebisingan,
tidak seperti Seoul yang ramai, atau Paris yang penuh sesak, Baekhyun sedikit
tahu paris karena EXO pernah konser disana. Udaranya juga membuat Baekhyun
menyukai tempat ini.
Langkah Baekhyun berhenti di toko Pie seperti yang Irene
katakan kemarin. Irene mengatakan akan datang untuk membersihkan rumah sedikit
siang karena ada urusan yang harus diselesaikan, jadi Baekhyun berencana membeli pie untuk
sekedar teman mengobrol mereka nanti.
“Aku akan mentraktirmu pie seperti kemarin, jadi jangan
sampai tidak datang.” Tulis baekhyun di halaman chat Irene. Tidak sabar,
Baekhyun masuk ke toko pie itu karena harum panggangannya benar benar
menggiurkan.
“Ini pasti toko pie terbaik..” kata Baekhyun. Dia mendorong
pintu masuk dan melihat sekeliling. Matanya berhenti pada sebuah lukisan mozaik
bergambar wajah seseorang, yang tentu tidak asing baginya.
Baekhyun menatap lama lukisan mozaik itu, menebak nebak
milik siapa wajah itu sampai seorang pelayan mendatanginya dan menunjukkan
tempat pemesanan.
“Permisi aku minta dua buah mini apple pie dan satu buah big
grape pie.” Baekhyun mendongak untuk melihat menu menu pie yang menarik. Pelayan
menatap Baekhyun penuh pertanyaan. Apakah pria ini benar benar seseorang yang
dimaksud olehnya atau bukan. Tanpa berpikir panjang, Pelayan itu bertanya pada
Baekhyun.
“Permisi, apa benar anda Byun Baekhyun?” tanya pelayan.
“Eoh, benar. Kau mengenalku?”Tanya Baekhyun agak terkejut,
mengap masih ada yang mengenalnya di
sini. Dia gadis perancis asli, bukan Korea. Kalau Irene yang mengenal Baekhyun,
baginya masih wajar karena Irene adalah gadis Korea. Tapi pelayan ini? Dia
gadis perancis...
“ Oh benar rupanya, kau lihat lukisan itu, itu adalah wajah
anda, anda pasti menyadarinya, dan ini, ini foto anda kan?” tanya pelayan
menyerahkan sebuah pigura kecil di depan meja kasir.
“Eoh.. Benar tapi bagaimana bisa...” Baekhyun semakin
bingung, mengapa ada foto foto dirinya disana.
“Oh My God, Bos kami adalah fans berat anda. Betapa
beruntungnya... sebentar aku ingin memanggilkan bos kami. Apa anda tidak
keberatan?” tanya Pelayan. Baekhyun hanya mengangguk. Sambil menunggu
pesanannya siap, seseorang keluar dari tempat panggangan. Sambil membawa sebuah
pie daging yang besar.
“Nona, betapa beruntungnya kau....” Pelayan itu ikut
bersorak gembira melihat pertemuan fans dan idolanya di sebuah toko pie kecil
di Kaysersberg. Namun keduanya sama sama terkejut melihat siapa yang ada di
hadapannya.
“Itu Byun Baekhyun nona, yang fotonya kau pajang di meja.”
Kata Pelayan.
“Baekhyun-sshi?”
“Irene-sshi?”
*Accidentally love*
“Jadi bos toko pie ini fans berat Byun Baekhyun.” Goda Baekhyun.
Mereka duduk berhadapan di salah satu meja dekat jendela dengan segelas teh
panas yang masih mengepulkan asap.
“Jangan menggodaku, aku sungguh malu.” Kata Irene memegang
megang pipinya sendiri.
“Kenapa malu? Aku sungguh merasa terhormat melihat lukisan
ku terpajang di sana dan fotoku di meja kasir. Pantas saja aku merasa tidak
asing dengan wajah tampan pria itu.” Baekhyun mulai besar kepala.
“Cih..”
“Jadi kau pemilik toko ini, kau membangun bisnis ini sendirian
di usiamu yang sama denganku. Kau pasti pembuat pie yang hebat.”
“Tidak juga, Keluarga paman Steve membantuku.” Irene melihat
jam tangannya dan bergegas ke dapur. “Baekhyun-sshi, jam sepuluh nanti aku akan
membereskan rumahmu. Kau bisa memberikan saja kuncinya padaku jika kau ingin
pergi jalan jalan.”
“Jam sepuluh sebentar lagi, aku tunggu saja kau disini. Kita
bisa pergi sama sama.”
“Eoh?”
“Cepat pergi, jam sepuluh sebentar lagi.”
Irene bergegas ke dapur, menyelesaikan beberapa panggangan
pienya sebelum pergi ke penginapan Baekhyun.
Baekhyun duduk dengan sabar menunggu Irene menyelesaikan
pekerjaannya. Senyum Baekhyun mengembang sempurna mengingat kebetulan demi
kebetulan dalam hubungan mereka.
Apa ini? Mengapa aku
memilih Kaysersberg dari sekian banyak kota impianku, mengapa aku terpesona
melihat Irene yang melintas dengan sepedanya siang itu, mengapa keluarga Steve
pergi ke Korea dan Irene yang menggantikan pekerjaan bibi Yeon untuk mengurus
semua perlengkapanku, dan sekarang, dengan sangat kebetulan mengapa Irene
adalah fans Byun Baekhyun.
Irene menyelesaikan pekerjaannya segera dan pergi dengan
Baekhyun. Dia ikut mengelilingi Kaysersberg karena Baekhyun memintanya
menemani.
“Beres beres rumah, aku bisa melakukannya, kenapa aku harus
meminta tolong padamu?” Kata Baekhyun ketika Irene protes mengapa dia
membawanya berkeliling. “Aku tidak suka berkeliling sendirian. Jadi temani aku
saja.” Kata Baekhyun
Oh baiklah, alasan yang bagus. Kalau memang tidak suka
berkeliling sendirian mengapa dia tidak mengajak member EXO liburan bersamanya.
Chanyeol dengan senang hati mau menemaninya, atau member yang lain pasti tidak
menolak untuk pergi bersama jika mereka tidak ada jadwal yang lain. Irene pun
tidak akan menolak, toh dia adalah fans Baekhyun, dia pasti akan rela bahkan jika
ia dibawa ke belahan dunia manapun asalkan selalu bersama idolanya.
Mereka berkeliling, melewati perkebunan anggur yang luas,
tempat dimana bahan utama wine wine terkenal dibuat. Ini juga tempat dimana
Irene memperoleh anggur anggurnya untuk isian pie yang paling terkenal di
seluruh Kaysersberg.
“Kau sudah lama disini?” tanya Baekhyun.
“Sekitar 1 tahun, sebelumnya aku di Paris.”
“Tidak mau kembali ke Korea?”
“ Aku memutuskan untuk tidak kembali kesana.”
Terlihat raut wajah Irene berubah ketika Baekhyun menanyakan
tentang kembali ke Korea sehingga Baekhyun tidak mau melanjutkannya lagi. Mereka
kembali ke penginapan setelah membeli beberapa bahan makanan. Selain
membereskan rumah, Irene juga ditugaskan untuk memasak jika Baekhyun ingin makanan
rumahan.
Karena tidak tega melihat Irene bekerja sendirian, Baekhyun
memutuskan untuk bekerja sama, Baekhyun yang membereskan rumah dan Irene yang memasak untuk makan siang. Mereka
menghabiskan waktu bersama seharian ini.
Baekhyun menyukai Irene dari awal dan Irene, adalah fans
berat Baekhyun. Tak ada yang menyangkal mereka akhirnya menyukai satu sama lain
dalam waktu yang singkat. Mereka menjadi dekat dan menunjukkan ketertarikan.
Bagi Baekhyun, dunia sangat mendukung rasa sukanya, bagi Irene dunia berada di
pihaknya karena akhirnya dia bisa menghabiskan hari bersama Baekhyun. Sebuah
kesempatan yang mungkin diharapkan oleh jutaan gadis gadis diluar sana.
Semakin petang, kedua insan manusia ini duduk berdua di
sofa. Baekhyun membaca buku berbahasa perancis dan Irene mengupas sebuah apel
untuk mereka berdua. Baekhyun mendekat padanya karena tidak mengerti arti
sebuah kalimat.
“Ini apa artinya?” tanya Baekhyun yang langsung disambut
oleh tatapan Irene pada buku setebal kamus Oxford.
“Eoh, ini.... emm... kau tidak bisa menghalangi siapapun untuk
masuk dalam hidupmu. Meski kau tidak pernah membayangkannya.”
“Jadi Shannon dan Ark mungkin akan saling ikut campur
kehidupan masing masing?”
“Mmm... entahlah, Kenapa tidak kau baca sendiri saja?” tanya
Irene, karena Baekhyun sudah lebih banyak bertanya ketimbang membacanya.
“Yaa, bahasa Perancisku kan tidak begitu bagus. Kau mau menceritakannya
padaku?” Pinta Baekhyun.
“Baiklah...” Tak ada penolakan dari Irene, dia sudah pasti
terbius oleh Baekhyun hingga tak bisa menolak apapun permintaan Baekhyun. Ia
duduk di samping Irene, mendengarkan dengan seksama celotehan gadis Korea yang
terdampar di pedesaan kecil di Alsace, membacakan cerita roman padanya.
“Tak ada yang bisa membendung perasaan mereka satu sama lain
dan......” Irene menghentikan kalimatnya.
“Dan apa?”
“Dan... kau tidak
lapar? Bukankah ini waktunya makan malam?” Irene mengalihkan pembicaraan mereka
tentang buku ini karena isinya
membuatnya malu untuk mengatakan secara terang terangan pada Baekhyun.
“Dan apa? Kenapa tidak dilanjutkan” Baekhyun berakting
begitu penasaran.
“Dan....” Irene terlalu ragu ragu untuk melanjutkan. “Bibir
mereka disatukan dengan gairah...” Lanjut Irene dengan wajah memerah seperti
tomat matang. Setelah Irene berhenti pada suatu titik kalimat yang ditunggu
tunggu Baekhyun. Baekhyun mendaratkan bibirnya
pda bibir berwarna pink alami milik Irene dengan kecepatan cahaya.
“Ireohke?” tanya Baekhyun setelah dia berhasil mencuri
ciuman pada Irene.
“Baekhyun-sshi...”
“Kurang bergairah?” Baekhyun mengecup lagi, cukup lama bibir
mereka saling bersentuhan sampai baekhyun berani melumatnya. Belum ada balasan
dari Irene tapi Baekhyun tidak menyerah. Dia masih melumat lembut agar tidak
seperti sebuah paksaan.
“Shireo?” tanya Baekhyun.
“Eoh?”Irene yang seperti tersadar dari keterkejutannya balik
membalas ciuman Baekhyun. Tidak ada yang berhenti meski nafas mereka hampir
habis. Ciuman lembut itu berubah panas ketika keduanya sama sama sudah tidak
dalam puncak kesadaran, dikuasai gairah
pria dan wanita.
Baekhyun hilang akal, dia merapatkan tubuhnya pada Irene.
Melepas pagutannya dan memeluk Irene.
“Baekhyun-sshi, hentikan.”
“Wae?”
“Aku takut ini akan berbahaya untukmu. Kau publik figur yang
harus menjaga image yang baik. “
“Sudah kukatakan berkali kali, aku kemari bukan untuk
diperlakukan sebagai EXO.”
“Lalu...”
“Aku disini sebagai pria yang menyukaimu.”
“Kau menyukaiku?” Irene terkejut. Baekhyun mengangguk. “Tetap saja kau itu milik fansmu, aku tidak berhak seperti
ini.” Kata Irene meyakinkan Baekhyun.
“Kau juga fansku, jadi aku juga milikmu.” Baekhyun kembali
ke posisi duduknya semula.”Kau menolakku.” Baekhyun kecewa.
“Bukan begitu Baek, Segala apapun yang kau lakukan untukku,
Aku tidak akan pernah bisa menolak. Tapi
aku benar benar memikirkan karir masa depanmu jika kita bertindak lebih dari
ini.”
“Apapun yang kau pikirkan sekarang, aku hanya mengikuti kata
hatiku, kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama?”
Irene tertunduk lesu, dia benar benar tidak ingin membuat
Baekhyun menjadi pria yang buruk jika ada yang tahu Baekhyun bercumbu
dengannya, bagaimana dia akan mengecewakan seluruh fansnya. Sejujurnya cinta
Irene untuk Baekhyun sangatlah murni, Irene tidak ingin menghancurkan karirBaekhyun hanya karena Baekhyun tidur
dengannya. Tetapi cinta juga terdorong
oleh naluri alami antara sepasang pria dan wanita. Irene pun tak menyangkal hati kecilnya ingin
memiliki Baekhyun sepenuhnya.
Baekhyun mendorong Irene pelan hingga dia terbaring di sofa
panjang berwarna hitam yang sedari tadi mereka dduduki, bibir BAekhyun menjejak
dari dahi Irene, ke pipinya... menciuminya lembut. Merasakan wangi yang menguar
dari rambut panjang Irene serta membelainya dengan penuh rasa.
Tak lama, bibir mereka berpagut bersama nafas yang menderu,
tubuh Irene bergidik merinding saat nafas Baekhyun mengarah ke leher jenjang
nan putih miliknya. Nafasnya bahkan tak bisa teratur. Bagian kenikmatan yang
tidak pernah dirasakan keduanya.
Bekhyun mengganti posisi, dia bertumpu pada lututnya diatas
sofa, tangannya sejajar kepala Irene yang semakin terlihat mempesona. Keringat
yang terjulur membuat Baekhyun ingin menghabisi gadis manis ini.Tangannya
meraih leher Irene, menariknya lembut agar ciumannya lebih dalam. Tangan Irene
pun mendekap kepala Baekhyun. Baekhyun semakin tak terbendung ketika tangannya
dengan sigap melepas satu persatu
kancing baju Irene tanpa penolakan.
Baekhyun membuangnya ke segala arah, menyisakan sebuah bra
putih dengan tali spageti yang mudah dilepas dengan sekali tarikan. Dua gundukan kecil didepan matanya itu
membuatnya mabuk. Tangan kanannya bermain main disana, sementara bibirnya masih
sibuk bermain dengan leher irene yang putih bersih.
Baekhyun meremas dan sesekali memilin payudara Irene yang
tidak cukup besar, tetapi Baekhyun tetap saja menyukai setiap jengkal tubuh
gadis ini. Irene melenguh mendapat perlakuan Bekhyun yang semakin tak
terbendung. Bibirnya bahkan menciumi dada Irene dan menggigitnya dengan lembut serta
sengaja meninggalkan kiss mark di gundukan itu.
Kalimat Irene terbata bata dan nafasnya semakin memburu.
Tidak puas bermain diantara dua gundukan menggairahkan itu. Baekhyun mulai
usil, tangannya turun ke rok Irene, menariknya ke bawah dan membuangnya ke
lantai. Tangan kirinya juga menelusup ke
dalam celana yang tersisa dari tubuh bagian bawah Irene.
Baekhyun menyadari, Irene sudah lebih dari basah untuk
bermain dengannya.
“Baek, kau curang..” Kata Irene. Bekhyun tahu maksud kata
katanya dan segera menanggalkan seluruh pakaiannya ke lantai.
Keduanya sudah sama sama ingin melepaskan apa yang sudah
ditahannya. Inti Baekhyun menembus kedalam Irene perlahan karena tidak ingin
melukai gadis cantik ini. Irene meringis, pertahanannya yang selama ini dijaga
untuk calon suaminya. Akhirnya berakhir oleh milik Baekhyun.
“Aaaah...” Baekhyun melenguh, karena milik Irene terlalu
sempit. Dia memaju mundurkan miliknya perlahan sampai Irene mampu
menyeimbangkan irama hentakan Baekhyun atas dirinya. Irene juga menggigit
bibirnya agar tidak bersuara. Tapi tidak berhasil, desahan demi desahan tidak
mampu dibendung oleh bibir Irene. Bagi Baekhyun desahan Irene adalah suara
tersexy sepanjang hidupnya.
Bibir mereka masih beradu dengan nafas yang menyatu,
keringat mengucur diantara mereka dan menyatu di perut datar Irene. Baekhyun
masih siap menggempur Irene, ditariknya lengan Irene dan memintanya berbalik.
Baekhyun ingin melihat punggung indah Irene yang mulus, Baekhyun makin
mengganas. Tubuhnya menggelinjang ketika dia hampir menuju puncaknya.
“Irene-sshi, aku hampir selesai.... aah...” Seru Baekhyun
yang langsung menyemburkan cairan kehidupannya di dalam rahim Irene.
Malam panas itu akhirnya berakhir, Baekhyun dan Irene
berbaring bersama di ranjang besar Baekhyun, berselimut kain tebal berwarna
putih.
Irene berbaring dengan lengan Baekhyun sebagai bantalan. Berbagi
cerita tanpa ragu lagi. Bagi Irene, menyerahkan kehormatannya kepada Baekhyun
adalah sebuah kesalahan, tetapi dia tidak pernah menyesalinya, rasa kagum Irene
pada Baekhyun membuatnya buta. Bahkan jika Baekhyun meninggalkannya setelah ini
dia tidak peduli. Dia tidak egois untuk membuat Baekhyun tetap disisinya karena
perasaan Irene untuk Baekhyun terlanjur tulus. Baekhyun harus tetap bersinar
meski dia harus meninggalkan Irene disini bahkan jika Baekhyun akhirnya
meluopakannya.
One Night Stand? Anggap
saja begitu
Aku tidak akan
mengganggu hidupnya hanya karena aku pernah tidur dengannya.
Kesalahan? Ini tidak
hanya kesalahan Baekhyun karena memintaku.
Tetapi aku juga
menyerahkan begitu saja harta ku yang paling berharga padanya.
Kejadian semalam membuat Baekhyun dan Irene semakin dekat.
Selayaknya pasangan kekasih yang baru dimabuk cinta. Sifat asli Baekhyun yang
manja dan suka menempel itu akhirnya nampak ketika Irene akan pergi ke Toko. Dia tidak merelakan
sedetik aja Irene pergi darinya.
Satu jam Irene meninggalkan Baekhyun untuk mengecek tokonya,
ia kembali lagi ke penginapan. Sama seperti Baekhyun, Irene pun tidak ingin
berlama lama jauh dari Baekhyun.
Irene bergegas menemui Baekhyun yang sedang menunggunya,
begitu kata Baekhyun saat Irene mengiriminya pesan.
“Irene-sshi...” Kata Baekhyun ketika melihat Irene sudah
kembali ke penginapan. Ekspresinya berbeda dengan saat Irene pergi
meninggalkannya ke Toko.
“Yaa Baek...” Jawab Irene yang mendekati Baekhyun dan
memeluknya.
“Aku benar benar menyesal, tapi aku harus segera kembali ke
Korea.” Kata Baekhyun menyampaikan berita yang benar benar berat untuk
disampaikan.
“Kapan? Bukankah kau bilang kau disini selama satu minggu?”
“Produser memintaku memajukan jadwal rekaman kolaborasi.
Kami berencana melakukannya setelah aku selesai liburan tetapi teman kolab ku
memiliki jadwal yang bentrok. Jadi aku harus memajukan jadwal rekaman kami”
Ada raut kecewa pada Irene yang ditutupi dengan senyumannya.
“Tak apa Baek, kau memang harus cepat kembali jika
permasalahannya begitu. Jangan mengkhawatirkan apapun. Kembalilah ke Korea. Aku
juga ingin mendengarkan karyamu lagi” Kata Irene memberi semangat pada
Baekhyun.
“Benarkah? Aku senang kau tidak keberatan. Aku benar benar mengkhawatirkanmu.
Aku takut kau
kecewa padaku.”
“Haha, aku akan lebih kecewa jika kau menunda rekaman dan
menunda comeback. Buatlah lagu yang bagus dan aku akan mendengarkannya disini.”
“Demi Tuhan Irene-sshi, aku tidak ingin meninggalkanmu.”
“Kau tetap harus kembali Baek, jangan pikirkan aku.”
*Accidentally Love*
Airport de Strasbourg,
Jam 16.00
Baekhyun kembali ke Korea dengan koper dan tas gendong
hitamnya. Irene mengantar kepergian Baekhyun ke Bandara, mereka terlihat berat
hati untuk saling melepaskan. Tapi apa daya, Baekhyun harus menaati jadwalnya
dan Irene tidak berhak untuk menahan kepergian Baekhyun.
“Maafkan aku Joo Hyun-ah.” Lirih Baekhyun ketika akan masuk
ke pintu keberangkatan. Irene berdiri di
hadapan Baekhyun dengan menahan seluruh air matanya.
“Baekhyun-sshi, bolehkah aku meminta satu hal padamu?”
“Bisa kabari aku ketika kau sampai di Korea?” Pinta Irene. Baekhyun
berpikir cukup lama. “Tak perlu mengabariku secara pribadi. Kau bisa mengupdate
fotomu di SNS saat sudah mendarat di Korea. Itu tandanya kau selamat sampai di
Korea”
Mungkin begitu lebih
baik
Pikir Irene
Baekhyun mengangguk, mendekap Irene yang mungkin akan
menjadi terakhir kalinya dan segera masuk ke pintu keberangkatan.
Baekhyun yang harus kembali ke Korea dan Irene yang sudah
memutuskan untuk tidak kembali ke Korea adalah akhir dari kisah cinta singkat dua
insan manusia. Baekhyun dan Irene akhirnya tetap menjadi seorang fans dan idola
meski mereka sudah saling mengisi hari hari bersama.
Irene tidak berharap Baekhyun akan kembali padanya, karena
kemungkinan itu tidak pernah masuk akal. Baekhyun mungkin akan segera
melanjutkan karirnya dan melupakan Irene seiring berjalannya waktu.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Satu bulan kemudian.....
Irene duduk di toilet dengan menggenggam sebuah batangan
berbahan plastik berwarna putih. Dia merenung menatap sebuah tanda berwarna
merah dengan simbol plus di genggamannya.

No comments:
Post a Comment