Aku belum siap dengan pernyataan Baekhyun yang begitu
mendadak, tapi aku rasa dia memang sungguh sungguh dengan perasaannya.
Hari ini dia mengajakku ke suatu tempat, entahlah tempat apa yang akan kami
kunjungi tapi aku sekarang benar benar tidak sabar. Pekerjaanku selesai tepat
sebelum Baekhyun mengirimiku pesan dan berencana menjemputku.
Ku lepas jas putih yang sedari pagi melekat di tubuhku. Aku
hanya mencuci wajah sebentar dan memulas lipstick dan sedikit bedak.
Huh? Jangan katakan ini adalah kencan, tapi aku benar benar
berdebar menunggu Baekhyun menjemputku. Apa ini benar benar hari pertama kami?
Tapi Baekhyun belum memintaku untuk menjadi kekasihnya, jadi
sebenarnya bagaimana hubunganku dengan Baekhyun. Apa yang harus kulakukan saat
dia menjemputku? Bersikap biasa saja seperti dulu atau marah seperti tadi pagi....
Aku keluar dari Klinik saat mendengar mobil Baekhyun
berhenti di depan. Aku memang selalu terpesona dengan Baekhyun, apalagi malam
ini. Dia sudah tersenyum padaku saat kedua mata kami bertemu. Mengenakan kemeja
hitam dengan rompi berwana senada.
“Kau dari mana?” Tanyaku. “Pakaianmu luar biasa.” aku melanjutkan kata kataku ketika aku sudah duduk di sampingnya.
“Semua yang ku pakai selalu luar biasa Yeonie.” Baekhyun
besar kepala.
‘Ciih...jadi serapi ini penampilanmu saat di studio?” Tanyaku
sambil menarik lengan bajunya.
“Tidak, aku baru saja menghadiri konser temanku.” Jawab Baekhyun
santai.
“Konser Cello?” Aku menebak
“Eoh, bagaimana kau ta...”
“Pantas saja...” Aku jadi semakin kesal jika membahas konser
cello. Jadi dia berdandan sekeren ini untuk menemui perempuan itu, bukan untuk
menemuiku. Hanya kebetulan saja waktunya bersamaan.
“Pantas apa?” Baekhyun menggaruk kepalanya bingung.
“Tidak apa apa.. kita mau kemana?”
“Kau sudah makan?”
“Jadi kita mau makan saja?”
“Tidak, aku juga akan mengajakmu ke suatu tempat.”
“Yasudah langsung saja ke tempat itu, Aku sedang tidak ingin
makan.”
“Kenapa? Kau sakit?” Tanya Baekhyun mengusap dahiku.
Mengecek apakah aku demam hingga tak mau makan.
“Aku malas...”
“Hehei, sepertinya kau marah padaku. Ada apa? ” tanya
Baekhyun.
“Tidak ada apa apa.”
“Oh iya, Chanyeol besok mau meresmikan cafe barunya, bagaiimana
kalau kita datang bersama ?”
“Hmm, kenapa tidak bersama temanmu yang pemain Cello itu,
bukankah kalian sangat dekat?”
“Yaa... aku kan ingin.... “ Baekhyun berhenti melanjutkan
kata katanya. “Aaa, jadi itu masalahnya? Sudah berapa kali ku bilang Yeonie,
dia itu temanku.” Lanjutnya setelah menyadari bahwa aku cemburu pada gadis itu.
“Aku tahu kau sudah mengatakannya berkali kali.”
“Lalu apa masalahnya? Kau cemburu padanya?”
“Tidak...”
“Iya..!”
‘Tidak..!” Aku terus mengelak
“Matamu mengatakan itu...”
“Mataku tak bisa bicara Byun Baekhyun.”
“Aku melihatnya, dia bicara padaku.” Canda Baekhyun yang
semakin tidak lucu.
“Kalau cemburu kau mau ap...” Tiba tiba Baekhyun menarik
tanganku mendekatinya hingga seluruh tubuhku melembam dan tertarik ke arahnya.
Cup... kecupan bibir Baekhyun menginterupsi kata kataku. Dia
membuatku bungkam dengan menciumku. Aargh, ini menyebalkan... kemarahanku tadi
tiba tiba lenyap begitu saja. Aku terkejut hingga bibirku kaku, aku menyentuh
bibirku dengan tangan kananku.
“Kau tidak perlu cemburu padanya, aku menyukaimu, aku
mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau masih tidak percaya dengan kata
kataku?”
“Sebagai?”
“Sebagai wanita Jung Chaeyeon. Aku sudah mengatakannya
padamu tadi pagi kau tidak memperhatikanku kan? Apa perlu kuulangi?” Tanya
Baekhyun padaku. Aku senang, mengangguk dan tersenyum. “Ya, kau perlu mengulanginya.”
“Jung Chayeon, maafkan aku karena tidak menyadarinya sejak
lama. Aku tidak mengerti kenapa perasaanku menjadi seperti ini dan entah sejak
kapan aku memulainya. Aku menyukaimu, sebagai sahabatku aku selalu menyukaimu.
Kita selalu bersama kemanapun dan dimanapun. Hingga aku berjanji akan
menjadikanmu sahabatku sampai kapanpun, tak ada yang berubah. Saat kau memintaku
menjadi kekasihmu, aku pun berusaha mengabaikan perasaanmu. Aku tidak ingin kita berpisah nanti jika kita
menjadi sepasang kekasih. Kau pun tahu alasan itu kan? Tapi perlahan lahan, perasaanku semakin aneh,
aku tidak tahu jika rasa sukaku tumbuh menjadi perasaan cinta. Aku sering
cemburu, aku jadi bergantung padamu tanpa kau tahu. Tapi semua itu tumbuh
perlahan lahan sampai aku tidak menyadari kalau aku sudah mencintaimu. Sangat
perlahan... kejadian malam itu, saat kau
pulang bersama Chanyeol, aku baru tahu seberapa besar perasaanku. Aku
marah saat aku tahu kau tak mau pulang denganku. Aku marah karena kau memilih
pulang bersama Chanyeol daripada bersamaku. Kau dulu tidak pernah menolakku
Yeon, jadi bagiku itu sangat menyakitkan.”
“Aku hanya pulang bersama Chanyeol Baek, itu juga karena aku
sangat lelah dengan hati dan pikiranku. Selama di pesta kau membuatku kesal dan
cemburu.”
“Aku tahu aku tidak
memahami perasaanmu...“
“ Dan kau terus marah padaku.”
“Aku cemburu Yeon, aku menyadarinya. Saat itu aku cemburu
padamu dan Chanyeol. Aku tidak suka kau dekat dengannya. Itu yang membuatku
berpikiran untuk memotong jalan kalian dan memintamu turun.”
“Benarkah?”tanyaku. Baekhyun mengangguk.
“Kau mau memaafkanku kan?” tanya Baekhyun
“Aku senang Baek...”
"Tak apa... itu lebih baik daripada kau tidak pernah menyadarinya."
“Jadi, bagaimana? Ini hari pertama kita?”
Aku mengangguk dan mengatupkan ibu jari dan jari telunjuk membentuk simbol OK yang menandakan ini adalah hari pertama kami.
Hari ini aku dan Baekhyun sudah memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Aku lega... Perlu bertahun tahun bagi Baekhyun menyadari perasaannya. Tapi aku tetap bersyukur.
Seperti musik yang mengalun dan mengantarkan kami ke tempat yang kami tuju,
dengan tempo sedang perlahan, tak berbeda dengan perasaan yang Baekhyun sadari
padaku... perlahan lahan.... andante!
No comments:
Post a Comment