Bekhyun EXO as Himself
Irene Red Velvet as Irene / Bae Joo Hyun
Rating : PG 14
Story : Purely mine. Actually Mine, Of course it's mine
Aku sedang terbaring lemas di ranjang ketika Bibi Yeon
menghampiriku, memaksaku untuk memberitahu Baekhyun tentang kondisiku sekarang.
Aku menggeleng, menahan rasa sakitku yang tak bisa digambarkan dengan apapun.
Tapi aku tetap bersikukuh dengan
keputusanku.
Biarlah Baekhyun menjalani
kehidupannya dan melupakanku.
Karirnya terlalu cerah untuk
kubebani kondisiku sekarang meskipun dia juga ikut andil dalam masalah yang
kuhadapi.
Awalnya aku benar benar khawatir
karena ada kehidupan baru di rahimku.
Sepertinya aku tidak siap atau sepertinya ini adalah kesalahan jika aku
tetap melahirkannya. Aku akan melukai perasaannya karena dia lahir tanpa seorang ayah. Akal sehatku benar benar hilang ketika langkah
kakiku mantap menuju dokter kandungan dan berpikir untuk menggugurkan bayiku.
“Kau yakin? Kau harus mendengar
ini....” kata dokter kandungan. Dia memperlihatkan layar USG dengan gumpalan
yang bergerak meski belum terbentuk sempurna. Suara berdenyut dari nadinya
membuat hatiku bergetar. Apa salahnya bayi ini hingga aku harus
menggugurkannya. Pikiran macam apa yang membuatku berpikir untuk membunuh benih
ini, bahkan hewan pun tidak pernah membunuh anaknya. Jika aku melakukannya, aku
lebih buruk dari binatang, aku tidak lebih dari monster mengerikan.
“Aku bisa melaluinya sendiri Bi..
yakinlah padaku.” Aku bersikeras mempertahankan keinginanku, daripada
menganggapnya sebagai masalah, bukankah lebih baik aku menganggapnya sebagai anugerah.
Setidaknya jika aku tidak bisa memiliki Baekhyun, aku bisa memiliki bayiku.
“ Hyeonie, kau mungkin bisa bertahan sendiri.
Tapi anak ini? Apa yang akan kau lakukan? Dia membutuhkan ayahnya.” Terang Bibi
Yeon.
Tidak ada yang bisa mengubah
keputusanku untuk tidak memberitahukan Baekhyun tentang bayi yang sedang
kukandung. Sekalipun Bibi Yeon atau paman Steve menyeretku hingga Korea aku
tidak akan memberitahunya, dan mereka pun tidak akan memberi tahu Baekhyun jika
aku tidak mengijinkannya.
Aku menjalani hari hari ku
sebagai wanita hamil yang mandiri, morning
sick yang menyiksaku seperti sekarang ini. Aku akan terbaring lemas di sofa
setelah memuntahkan segala isi perutku. Aku tidak bisa manja seperti wanita
lain pada suaminya, karena yang perlu kuingat. Aku tidak memiliki suami. Dan ketika
memasuki trimester ketiga aku mengalami edema, yaitu pembengkakan pada kedua
kaki yang membuatku sulit beraktifitas.
Hal paling parah dari kehamilanku
adalah aku benci dengan bau pie dari tokoku sendiri, rasanya ingin muntah dan
baunya selalu terngiang di kepalaku. Aku
tidak bisa datang ke toko, jadi bibi Yeon yang mengelolanya selama aku masih
mengalami gejala kehamilan yang benar benar luar biasa ini.
Tapi perlahan aku menikmatinya,
segala kesakitan untuk menjadi seorang ibu. Aku semakin menyayangi bayiku.
Kasih sayang yang setiap detik terus bertambah. Aku bahkan tidak memiliki waktu
untuk menjadi lemah karena aku harus menjaga calon bayiku.
Kelahirannya pun istimewa, aku melahirkan secara normal
seorang bayi laki laki di rumah sakit pada tanggal 6 Mei, tanggal lahir yang
sama dengan ayahnya, Byun Baekhyun.
Wajahnya tak sedikitpun mirip
denganku, semua milik Baekhyun terduplikasi
pada wajah bayiku. Aku menitikkan air mata ketika pertama kali
melihatnya, aku seperti melihat Baekhyun terlahir kembali. Sungguh kebahagiaan
yang tidak ternilai, meski aku tidak memiliki penjelasan apa apa padanya kelak
jika dia bertanya tentang ayahnya.
Lelaki mungil ini akan menjadi
satu satunya harta berhargaku sekarang dan nanti.
*Accidentally Love*
“Young Soo-ya, ayo cepat kau
sudah terlambat.” Ku panggil laki laki berumur lima tahun yang sedang duduk
meringkuk di sebelah rak sepatu.
“Ne, Eomma! Tunggu sebentar aku
belum mengikat tali sepatu kiriku, uh kenapa susah sekali.” Aku menghampirinya yang
masih sibuk dengan sepatunya, menanyakan apa dia perlu bantuanku, dia
menggeleng. “Aku bisa sendiri..” senyumnya mengembang ketika dia berhasil
melakukan tugas paginya.
“Aw.. goodboy! Kkajja!” dia
berlari mendahuluiku, anak itu sudah tidak mau lagi ku gandeng karena aktif
luar biasa. Dia akan mengambil sesuatu di tanah dan menanyakan berbagai hal
padaku, atau menatap langit yang biru dan mengajukan beberapa macam pertanyaan
yang membuatku kelelahan menjawabnya.
“Eomma, bagaimana besi itu bisa
terbang?” katanya ketika melihat pesawat melintas di atas kepalanya. Atau
“Eomma, mengapa salju berwarna putih, apa salju itu berasal dari awan yang
bergelombang gelombang itu dan runtuh ke bumi?”
Hari ini saat kuantar ke sekolah,
pertanyaannya menjadi lebih beragam dan membuatku bingung.
“Eomma, mengapa anggur berwarna
merah?”
“Anggur? Emm, anggur tidak hanya
berwarna merah sayang, ada hijau dan ungu juga.”
“Lalu mengapa berbeda beda
warnanya?”
Lalu akan muncul pertanyaan
mengapa mengapa dan mengapa lanjutan yang akan membuatku tidak sanggup
menjawabnya lagi. Satu satunya penyelamatku adalah ketika kami sudah sampai di
sekolahnya. Dia akan langsung memelukku, menciumku dan berlari pada teman
temannya untuk bermain.
“Eomma, Ciao?” Seru Young Soo
sembari meninggalkanku di gerbang sekolahnya.
“Young Soo-ya! Jangan lupa makan
bekalmu ya?”
“Eoh.” Katanya sambil melambaikan
tangan padaku .
Bae Young So, bayi kecil itu
sudah beranjak dewasa. Dua hari lagi adalah
ulang tahunnya yang ke enam dan aku sudah mempersiapkan pesta kecil kecilan
untuk merayakannya bersama Paman Steve, Bibi Yeon dan Clara.
Setelah mengantarnya ke TK, aku
mengurus toko pie sampai siang hari. Kemudian menjemput Young So dan pulang ke rumah. Menemaninya bermain dan
beristirahat. Sekalipun aku harus mengurus tokoku, aku tidak boleh melalaikan
kewajibanku sebagai ibu dan juga orang tua tunggal untuk Young So. Aku juga
tidak ingin melewatkan perkembangan pada usia emasnya yang selalu membuatku
bahagia dan bahagia menjadi seorang ibu.
Aku masih ingat kapan pertama
kali dia bisa memanggil Eomma, kapan giginya mulai tumbuh, kapan dia bisa
berbalik, duduk, merangkak, berjalan dan berlari. Bagaimana dia belajar toilet
training di usianya dan juga hari pertama dia menolak kutinggalkan pada hari
pertama sekolah.
Siang ini, dia berlari padaku
sambil membawa sebuah piala, dia memenangkan lomba menyanyi di kelas. Dia
sangat bangga dan mengatakan padaku akan
menunjukkan penampilannya saat pesta ulangtahunnya di rumah nanti.
Dia ikut lomba menyanyi?
Tidak tahu kenapa senyumku
semakin lebar saja, tidak ada yang dia buang sedikitpun dari Ayahnya karena
sekarang dia pun suka menyanyi. Dia terus bernyanyi di rumah saat hendak tidur
atau saat berjalan ke toko bersamaku.
Malam pun tiba, Clara dan Bibi
Yeon sama sama membawa kotak hadiah untuk Young Soo, dan aku pun sudah
menyiapkan hadiah sesuai keinginannya. Kami memakai topi kerucut dan juga
terompet kecil. Kue nya sudah lengkap dengan lilin, kami sudah duduk
mengelilingi meja. Tetapi Paman Steve belum datang.
“Noona, paman dimana?” tanya
Young Soo pada Clara.
“Paman Steve sebentar lagi sampai
nak, kalau kau tidak sabar kita bisa meniup lilinnya lebih dulu.” Jawab bibi
Yeon.
“Tidak kita tunggu paman Steve
datang saja.” Kata Young Soo.
Tak lama, paman Steve datang
membawa satu kotak kado yang besar, lebih dari milikku atau milik Bibi Yeon dan
Clara. Young So sangat senang sampai
memeluk paman Steve erat. “Wuaa, truk pasir yang di toko mainan itu ya paman,
wuaah besarnya. Paman, kau yang
terbaik!!” Young Soo mengacungkan
jempolnya pada paman Steve. Young Soo sangat bahagia dengan hadiah dari paman
Steve. Bagi Young Soo, paman Steve sudah seperti ayahnya. Paman Steve pun
menganggapnya demikian.
Kami berkumpul mengelilingi kue
yang kubuat di toko. Clara memintanya untuk mengucapkan permohonannya dengan menutup mata. Young Soo pun memohon di
dalam hati dengan senyum yang mengembang.
“Young Soo-ya, apa yang kau
minta?” tanya Clara
“ Kita tidak boleh memberitahukan
pada orang lain agar doa kita terkabul.” Jelas Young So pada Noonanya.
“Siapa yang mengatakan omong
kosong itu? Tentu saja boleh, kita bisa berdoa bersama untuk harapanmu, Iya kan
Eomma?” Bibi Yeon mengangguk.
Young Soo sepertinya ragu dan
menatapku, meminta ijinku untuk memberitahukan doanya pada Clara. Aku hanya
mengusap kepalanya dan mengijinkannya untuk memberitahu permohonannya pada
kami. Karena akupun ingin tahu doa apa
yang malaikat kecilku ucapkan disela sela tiupan lilinnya. “Kalau kau mau kau
boleh memberitahu Nuna.”
“Aku ingin tahun depan, aku bisa
merayakan ulang tahunku bersama Eomma, Clara Noona yang cantik, Clara Eomma
yang baik, Clara Appa yang selalu memberiku hadiah...” Doa anak laki laki enam
tahun yang polos dan sederhana. Kami tertawa mendengar doanya yang begitu
tulus. “Dan juga Appa, aku ingin bertemu dengannya walaupun hanya sekali. Appa
Bogoshipeo. Aku ingin bertemu dengannya sekali saja. “ Akhir Young Soo.
Aku, Bibi Yeon dan Paman Steve
saling bertatapan. Ini adalah pertama kalinya Young Soo membahas tentang
ayahnya yang kemudian menggerakkan hatiku. Rasa bersalahku memuncak ketika aku
tidak memiliki keberanian untuk menjawab pertanyaan tentang keberadaan ayahnya.
*Accidentally Love*
“Aku tahu hari ini akan datang
Hyeonie...” Terang Bibi Yeon yang menemaniku di dapur membereskan makan malam kami baru saja. Setelah
mendengarkan Young Soo bernyanyi sesuai janjinya ketika pulang sekolah, ia bermain
bersama Paman Steve dengan mainan barunya, sedangkan Clara sedang sibuk dengan
ponsel ibunya di ruang tengah.
“Apa yang akan kau katakan
padanya jika dia membahas tentang ayahnya lagi?”
“Entahlah Bi, apa yang harus
kulakukan?”
“Pergilah ke Korea. Temui
Baekhyun dengan Young Soo, katakan padanya tentang Young Soo.”
“Tidak mungkin Bi, aku tidak mau
membuatnya terkejut dengan keadaanku. Ini sudah berlalu hampir enam tahun. Dia
mungkin sudah melupakanku. Tidak tidak, aku tidak mungkin menghancurkan
karirnya dengan masalahku.”
“Lalu bagaimana Young Soo? Akan
kau biarkan sampai mati tidak mengetahui ayahnya? Kenapa begitu egois
membiarkan Young Soo terluka demi tidak melukai Baekhyun. Bagimu siapa yang
lebih penting? Young Soo atau Baekhyun? Aku tidak tahu bagaimana ada seorang
ibu sepertimu. Aku tidak memintamu untuk bicara di depan seluruh media korea,
aku memintamu bicara dengan Baekhyun, apa kau pikir karirnya hancur hanya
dengan bicara padanya?” Kali ini bibi Yeon menasehatiku lagi setelah terakhir
kalinya mungkin empat tahun yang lalu, dan kupikir perkataannya benar.
“Heol Daebak!! Eomma, kau ingat oppa
EXO yang dulu liburan di rumah kita? Baekhyun EXO, Byun Baekhyun EXO!”
“Eoh. Wae?” tanya Bibi Yeon pada
Clara yang tiba tiba ikut membahas orang yang sama tanpa dia ketahui.
“Dia bulan depan akan menikah
dengan kekasihnya... Ya Tuhan Oppa itu kenapa cepat sekali menikahnya. Padahal
setelah bertemu dengannya aku jadi mengidolakannya.” Clara Kesal setelah
melihat berita di salah satu portal online korea.
Akupun tak kalah terkejut, jika
Clara saja kesal, bagaimana perasaan ku saat ini? selama ini dia tidak dikabarkan menjalin kasih
dengan siapapun. Kenapa tiba tiba dia menikah? Perasaanku seperti di cabik
cabik mendengar berita itu.
Aku mengecek handphoneku, mencari
berita yang sama di portal lain dan berita rencana pernikahan Baekhyun ternyata
sudah menjadi daftar pencarian nomor satu di beberapa situs korea.
Baekhyun dikabarkan akan menikahi
salah satu putri salah satu pengusaha korea, dan yang lebih mengejutkan mereka
ternyata sudah menjalin kasih selama dua tahun belakangan tapi tidak pernah
tertangkap kamera. Dispatch pun tidak mampu mengendus skandalnya kali ini.
Dispatch saja tidak tahu, apalagi
aku yang berada sangat jauh darinya. Mungkin dia lebih berhati hati setelah
mereka membongkar hubungannya dengan leader girlgrup Girls Generation dulu.
“Joo Hyun-ah, kau dengar? Kalian harus ke Korea temui Baekhyun.” Bujuk
Bibi Yeon.
“Tidak mungkin Bi dia akan segera
menikah, aku tidak mau mengacaukannya.”
“Lalu, kau tidak akan bertemu
dengannya? Bagaimana Young So?
“Young So akan melupakan
keinginannya.” Aku pun tidak yakin dengan segala hal yang kukatakan baru saja.
“Jika tidak? Ini kesempatanmu
sebelum pernikahan Baekhyun Joo Hyun-ah. Kau tdk akan bisa melakukan apapun
setelah dia menikah. Jika pengorbananmu untuk Baekhyun sudah sangat besar, kau
harusnya bisa melakukannya untuk Young Soo. Young So ingin bertemu ayahnya.
Sekali saja temukan dia dengan Baekhyun.“
*Accidentally Love*
Incheon Airport, Korea Selatan
Aku menginjakkan kaki turun dari
pesawat yang membawaku dan Young So dari Perancis ke negara asalku, tempat yang
dulu pernah tak ingin aku datangi lagi. Kali ini demi Young Soo, aku harus
kembali ke Korea.
Aku dijemput oleh kerabat Bibi
Yeon, seseorang yang akan membantuku bertemu Baekhyun. Dia adalah mantan manajer
EXO yang memutuskan untuk berhenti dua bulan yang lalu, dia juga yang dulu
merekomendasikan liburan Baekhyun ke Alsace. Bibi Yeon sudah memberitahukan
semuanya dan dia benar benar ingin membantuku mempertemukan aku dan Young so
dengan Baekhyun.
“Irene-sshi? Bae Young So?”
Seorang pria menghampiriku tepat setelah aku keluar dari pintu kedatangan.Aku
mengenal wajahnya, dia adalah mantan manajer EXO, kerabat Bibi Yeon. Aku juga
familiar dengan wajahnya karena dia juga sering muncul beberapa kali bersama
EXO. “Aku Kang Jun Hoe.. Yeonie Noona menyuruhku menjemputmu di bandara.” Aku
menjabat tangannya dan membungkuk mengucapkan salam.
“Young So-ya, beri salam pada
paman Jun Heo.”
“Anyeong Hasseo!” Young So
langsung membungkukan badannya memberi salam pada seseorang pria yang baru
ditemuinya itu.
“Young So? Wuaaa.... ini benar
benar kembaran Baekhyun. Aku tidak akan meragukannya.” Kata JunHoe yang membuat
Young So tidak mengerti dengan pembicaraan dua orang dewasa ini.
“Emm, Jun Hoe-sshi kemana kita
akan pergi?”
“Aku sudah menyiapkan rumah
Yeonie Noona untuk kau tinggali beberapa hari. Besok aku akan mencari tahu
jadwal Baekhyun. Kita tidak bisa pergi ke dorm atau rumahnya karena ada member
dan keluarganya. Oh iya, aku akan membantumu bertemu dengan Baekhyun tetapi
dengan syarat. Kau tidak boleh memberitahukan siapapun kalau aku yang
membantumu menemukan Baekhyun.”
Aku mengangguk, toh aku kemari
tidak untuk membuat masalah dengan banyak orang. Aku hanya ingin Young Soo
bertemu dengan Baekhyun, setelah itu kami akan kembali ke Kaysersberg. Aku
masuk ke mobil Kang JunHoe, Young Soo yang kelelahan akhirnya terlelap di kursi
belakang. Hal itu menjadikan kesempatanku untuk bicara dengan Kang Jun Hoe
tentang banyak hal.
“Huh, aku tidak menyangka Baekhyun
membuat masalah meski kepergiannya sangat singkat. Ini sudah sangat lama
Irene-sshi, mengapa baru datang sekarang? Bahkan ketika rencana pernikahan
Baekhyun sudah diumumkan.”
“Kau tenang saja. Aku tidak
berencana merusak pernikahan Baekhyun dengan kedatanganku. Aku kemari demi
Young Soo. Dia mengatakan ingin bertemu ayahnya meski hanya sekali saat ulang
tahunnya kemarin.. Jika aku pergi setelah dia menikah, itu akan memperburuk
keadaan, Jadi kupikir aku harus datang sebelum itu.”
“Tapi bagaimana jika sikap
Baekhyun tidak seperti dulu?”
“Aku tidak peduli bagaimana dia
menganggapku, aku sudah memikirkannya. Aku juga tahu saat itu dia hanya bermain
main saja denganku. Kalau dia benar benar menyukaiku, dia akan menghubungiku
setelah dia sampai di sini enam tahun lalu. Tapi dia tidak melakukannya. Aku
kemari demi Young Soo yang ingin bertemu ayahnya. Aku tidak menginginkan hal
lain.”
Benar aku memang tidak berniat
menginginkan hal lain kecuali memberitahu Baekhyun bahwa Young Soo adalah
anaknya meski perasaanku pada Baekhyun tidak berubah sejak dulu. Aku
mengidolakannya sejak dia debut bersama EXO, aku menjadi gila berhari hari
setiap melakukan fangirling sampai aku terdampar di Alsace. Aku masih
menyukainya meski waktuku untuk melihatnya tidak sebanyak dulu, aku berjuang
dengan keras di Alsace dan menjadikan fotonya sebagai penyemangatku, dan momen
ketika aku bertemu Baekhyun di sana adalah puncak dimana akhirnya aku benar
benar jatuh cinta pada sosok Byun Baekhyun yang hangat dan juga pandai menggoda.
Perasaan itu tidak berubah sampai
sekarang, perasaan itu tetap saja tumbuh seiring aku merawat Young Soo, dia
mengingatkanku pada Baekhyun sepenuhnya.
“Semoga pertemuanmu dengan
Baekhyun berjalan Baik Irene-sshi, Fighting!”
*Accidentally Love*
Pagi itu aku datang ke gedung
stasiun TV dimana Baekhyun, Chen dan Xiumin sedang melakukan promo terakhir
untuk album terbaru sub unit CBX. Jun Hoe mengantarku masuk melewati restrict
area yang tidak bisa ditembus orang biasa. Kupikir karena Jun Hoe sudah mengenal
beberapa orang staff disana jadi aku bebas leluasa masuk ke ruangan dimana
Baekhyun melakukan persiapan sebelum naik ke panggung.
Aku menggunakan name tag yang
diberikan oleh Jun Hoe untuk mengecoh staff disana dan itu berhasil. Aku duduk
di tempat yang cukup dekat dengan ruang make up sub unit EXO, tetapi Jun Hoe melarangku masuk sebelum mereka
menyelesaikan penampilan mereka.
“Eomma, apa yang kita lakukan disini?” tanya Young Soo.
“Mencari teman ibu nak.”
“Siapa?”
Aku menunjukkan poster dan juga
gambar di layar televisi ketika mereka sedang tampil di acara tersebut.
“Mereka sedang tampil jadi kita
harus menunggunya.”
“Bukankah itu pria yang ada di
toko kita? gambar yang besar itu.” tanya Young Soo. Dia memang pengingat yang
ulung.
“Kau benar sayang, bagaimana kau
bisa ingat? Oh iya, Kita harus menunggunya disini.”
“Dia penyanyi? Teman Ibu
penyanyi? Wuaa... daebak! Aku juga ingin seperti dia” Tunjuk Young Soo pada
Baekhyun.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar
celotehan lelaki kecilku yang manis, dia ingin seperti ayahnya? Oh Ya Tuhan.
Bagian mana dari Young Soo yang mirip denganku?
Aku merogoh tas dan kantung celanaku.
Sepertinya aku melupakan sesuatu. “Handphoneku di toilet.” Aku bergegas
mengambilnya atau jika hilang, aku tidak bisa menghubungi Jun Hoe atau
siapapun.
“Young Soo ya... ibu harus ke toilet handphone
ibu tertinggal jangan kemana mana, Eoh? Eoh?” Young So mengangguk. Aku segera berlari ke toilet dan mencari
handphone yang kutinggalkan tetapi aku tidak menemukannya. Seseorang mengatakan
padaku untuk mencarinya di resepsionis, lalu aku memilih kembali ke tempat
tadi. Aku bisa mengambil handphoneku nanti saja.
Tapi saat aku kembali, Young Soo
sudah tidak ada di tempatnya, aku mencarinya kesana kemari sampai ke sudut
ruangan dan tidak berhasil ku temukan.
“Young Soo ya, eodiseo? Young Soo
ya....” aku bertanya kepada staff dan orang orang di sekitar tetapi mereka
tidak melihat. Aku cemas, pikiranku kacau, aku sudah tidak berpikir untuk menemui
Baekhyun karena Young Soo menghilang.
Aku harus mencari handphoneku
segera, karena Young So kuminta menghafal nomorku jika terjadi sesuatu yang
tidak diinginkan seperti situasi ini.
Aku kembali ke resepsionis di
lantai satu, mereka mengatakan handphoneku berada di bagian keamanan lantai
sebelumnya jadi aku harus kembali ke
atas. Aku kalut, tidak berhenti memanggil Young Soo dengan cemas sampai
seseorang bertubuh tinggi mendatangiku.
“Permisi apa kau mencari Young Soo?”
tanya Pria itu padaku. Aku berbalik dan berharap pria itu tahu dimana Young So
berada.
“P...park Chanyeol...” Aku benar
benar terkejut melihat dia berdiri di hadapanku, membuka pembicaraan denganku
dan .....
It’s not the right time to be happy Bae Joo Hyun!
Kau harus mencari Young Soo...
“Eoh benar, aku park Chanyeol..
kau mencari anak laki laki bernama Young Soo?”
“Iya, kau melihatnya.”
“Eoh, sepertinya begitu. Dia ada
di... tunggu sebentar, kau temannya
Baekhyun?”
“ Oh bukan, aku...”
“Tapi Young Soo mengatakan
begitu. Dia dan Ibunya mencari Byun Baekhyun kemari. Kau fans Baekhyun? Siapa
namamu? Sepertinya aku tidak asing dengan wajahmu.” Park Chanyeol dengan
kebiasaannya selalu menanyakan banyak hal dalam satu waktu.
“Young Soo dimana?” Awalnya aku
terpesona dengan cara bicara Chanyeol dan suara beratnya. Tetapi mengetahui
dimana Young Soo berada sekarang membuatku sedikit sesak nafas, aku bergetar
dan khawatir.
“Dia di ruang make up EXO kalau
belum diserahkan pada petugas keamanan, mau kuantar?”
“Ruang make up EXO?” aku terkejut
setengah mati mendengar Young So sudah berada di sana. Chanyeol mengantarku ke
ruang make up dan menenangkanku.
“Tenang saja, Young Soo sedang
bermain bersama Baekhyun dan Chen. Aku akan menelepon mereka untuk tidak
membawa Young Soo ke petugas keamanan. Lalu apa hubunganmu dengan Baekhyun? Kau
benar benar temannya? Kenapa bisa masuk kemari? Bukankah ini hanya untuk staff
dan artis saja. Kau staff baru?”
“Hh...” Aku menghela nafas “Bisa
dibilang begitu.”
“Ngomong ngomong siapa namamu?”
“Bae Joo Hyun...” Jawabku dan
Chanyeol mengangguk anggukan kepala. “Aaa, Joo Hyeon-sshi?”
Aku sampai di ruang make up EXO,
tanganku gemetar saat Chanyeol membuka gagang pintu ruang make up dan
mengajakku masuk. “Masuklah...” katanya.
Aku melangkah dengan segenap
kekuatanku demi Young Soo. Aku harus bertemu Baekhyun dan memberikan penjelasan
padanya tentang Young Soo. Aku melihat Baekhyun asik memegang handphonenya
memilih foto mana yang akan dia upload dan menanyakan pada Young So foto mana
yang harus dia upload.
“Young Soo-ya, Hyung akan
memposting foto kita yang ini. Hahaha... kita mirip kan? Hahaha...” Celoteh
Baekhyun pada Young Soo.
Hyung? Ayolah Baek, kau tidak
semuda itu untuk menjadi kakaknya meski wajah imutmu bisa menipu semua orang.
Tapi perlu kukatakan padamu kalau dia adalah ANAKMU... Kau adalah AYAHNYA.
“Young Soo-ya, ibumu sudah
datang!” Chanyeol memanggil Young Soo tetapi wajahku teralihkan pada Baekhyun.
Dia tidak langsung menatapku karena dia sedang sibuk memposting fotonya bersama
Young Soo. Baekhyun pun masih bergumam “Aigo, kau mirip sekali denganku Young Soo-ya.”
Menirukan caption yang sudah di tulisnya di instagram.
Aku memperhatikan Baekhyun
melirik ke arahku sebentar lalu menolehkan kepalanya memastikan apakah dia
tidak salah melihat. Dia langsung berdiri melihatku berada di sana.
“Irene-sshi?” Gumam Baekhyun yang
membuat Chanyeol ikut terkejut. Ada banyak manusia di sana selain Aku, Young
Soo, Baekhyun dan Chanyeol. Chen dan
Xiumin saling menatap, mereka sepertinya tidak tahu aku tapi Chanyeol
menyadarinya.
“Irene? K...kk...kau Irene...
bukannya kau Bae Joo Hyeon?”
“Itu nama Koreaku.”Jawabku
membungkam ketidak percayaan Chanyeol.
“Irene yang di perancis itu?”
“Eomma!” Panggil Young Soo dan
berlari padaku. “ Ahjussi Ini teman Eomma, benar kan?” tanya Young Soo menunjuk
Baekhyun yang masuk terpaku dengan kedatanganku.
“Huh? Eoh... “
“Young Soo-ya, mau main
bersamaku. Eomma ingin bicara dengan temannya.” Chanyeol sepertinya tau
situasinya dan membawa Young Soo pergi dari kami. Dia memberikan aku dan
Baekhyun kesempatanbicara. Kami pergi ke ruang make up kosong disamping ruang
make up EXO.
“Joo Hyun-ah, apa yang kau
lakukan disini? Aku benar benar terkejut kau berada di Korea.” Tanya Baekhyun
“Aku ingin bertemu denganmu.”
Jawabku lirih. Demi Tuhan Byun Baekhyun, aku ingin memelukmu sebelum kau
mengucapkan sepatah katapun. Tapi ‘Apa yang kau lakukan disini?’ bukankah
terlalu kejam untuk sebuah pertanyaan sambutan?
“Aku tidak tahu apa maumu tetapi
aku akan menikah sebentar lagi. Aku tidak mau mendengar rumor apapun
tentang kita. Aku sudah melupakan
hubungan kita Bae Joo Hyun.”
“Young Soo.... Bae Young Soo... aku kemari demi dia. Dia ingin bertemu
ayahnya.”
Baekhyun tertawa mengejek kata
kata yang bahkan enam tahun tidak bisa ku sampaikan padanya.
“Lalu, apa kau pikir masuk akal? Kau kemari
setelah kita berpisah enam tahun yang lalu, dan kau membawa kabar....haha
jangan membodohiku Bae Joo Hyun” tatapan sinis Baekhyun bahkan mampu merobek
perasaanku.
“Sejujurnya aku tidak ingin
mengganggumu lagi Baek, demi Tuhan. Tapi Young Soo mengatakan ingin bertemu
ayahnya.” Aku menatapnya tajam, meyakinkan Baekhyun tentang apa yang
kubicarakan ini bukanlah omong kosong.
“Apa buktinya kalau aku ayah anak
itu?” Tantang Baekhyun.
“Kau tidak melihatnya? Tanpa ku
beritahu buktinya kau harusnya tahu dengan hanya melihatnya saja. Kau bahkan
sudah menyadarinya sejak awal. Young Soo sangat mirip denganmu” Uraiku.
“Kita hidup di jaman kita bisa
mengubah wajah seseorang dengan mudah.”
“Lalu kau pikir aku membuat anak
berusia enam tahun merasakan pisau bedah demi menipumu dan mendapat pengakuan
darimu?”
“ Kelakuan fangirl sekarang
bermacam macam Joo Hyun-sshi.”
Aku tertawa miris “ Jadi aku
hanya fangirl yang bertingkah macam macam?.” Sungguh apa aku sedang mengasihani
diriku sendiri.
“Yaa, kau harusnya tahu setelah
aku kembali kemari dan tidak menghubungimu. Ini sudah berlalu sangat lama,
siapa yang bisa menjamin Young Soo adalah anakku. Kau...kau.... aku tidak
menjamin hanya aku satu satunya pria yang tidur denganmu. Kau bahkan sangat
mudah kuajak tidur bersama.”
“Baekhyun-sshi, aku tidak ingin
berdebat lebih panjang lagi denganmu. Itu urusanmu jika tidak menyukaiku lagi
atau tidak peduli padaku atau tidak mempercayaiku yang hanya tidur denganmu
saja.” Irene mengatur nafasnya. Keberanian yang sudah dia kumpulkan bertahun
tahun ini akhirnya tersampaikan juga pada Baekhyun. Saat ulang tahunnya
kemarin, dia berdoa agar bisa menemui ayahnya. Young Soo ingin bertemu ayahnya sekali saja. Aku
mohon padamu Baek, setelah itu kami akan kembali ke Alsace. Luangkan waktu
bersamanya sehari saja. Aku tidak akan meminta apa apa padamu dan jangan
khawatirkan pernikahanmu. Aku tidak memiliki niat untuk menggagalkannya.
“Aku sibuk, kau tahu kan ini
adalah jadwal comebackku dan sebentar lagi aku menikah.”
“Oh ayolah Byun Baekhyun, ini
adalah goodbye stagemu, jangan membuat alasan berlebihan. Aku mohon padamu, ini
demi Young Soo.” Aku beranjak pergi, meninggalkan Baekhyun yang masih
dibentengi egoisme tertinggi.
Chanyeol dan Young Soo menungguku
di ruang tunggu sambil bermain bersama. Aku menghampiri mereka dan berencana
kembali ke rumah karena suasana hatiku sangat buruk. Akupun sudah
memprediksikan kemungkinan terburuk yang akan kualami, tetapi ini lebih buruk
dari yang kubayangkan.
“Sudah bicara padanya?” tanya
Chanyeol padaku.
“Sepertinya tidak berhasil.
Padahal aku hanya meminta menemui Young Soo sehari saja.” jawaban lemah ku mungkin
membuat Chanyeol bersimpati.
“Kau tenang saja aku akan
membujuk Baekhyun. Boleh aku minta nomor handphone dan alamatmu? Aku akan
mengabarimu jika aku bisa membujuknya.” Kata Chanyeol. “Aku janji akan membawa
dia padamu, kalau perlu aku akan memastikan dia menemui Young Soo. Sebagai pria
dia harus bertanggung jawab Irene-sshi.”
“Huh?” aku heran mengapa Chanyeol
mengatakan hal semacam itu.
“Aku tahu situasi macam apa ini,
kau tenang saja.”
Terimakasih Tuhan dari berbagai
manusia diantara kami, setidaknya ada satu orang lagi yang akan membantuku
mempertemukan Young Soo dan Baekhyun, dan dia adalah Park Chnayeol, sahabat
terbaik Baekhyun.
*Accidentally Love*
(Author pov)
Mereka kembali ke dorm, Baekhyun
hanya diam sepanjang perjalanan memikirkan hal yang mustahil itu. Dia masih
tidak percaya sepenuhnya pada Irene, tapi tentang Young Soo, Baekhyun merasa
sedikit terikat dengannya meski baru pertama kali bertemu. Dia mengecek gallery handphonenya dan menatap
foto fotonya bersama Young Soo saat di backstage.
Chanyeol menyeret Baekhyun ke
kamar mereka, mengunci pintunya dan berbicara, tidak tidak, lebih tepatnya
mengomel (mungkin?)
“Chanyeol-ah, aku....”
“Aku tahu... dan kau harus tetap
menemuinya.”
“bagaimana dengan Yewon?” Tanya
Baekhyun. Tak bisa dipungkiri, dia sudah melupakan Irene sejak lama dan
sekarang dia benar benar mencintai calon istrinya itu.
“Yaa, kau membuat Irene hamil
Baek, kau membuatnya merawat anak itu selama enam tahun. Mereka hanya ingin
menemuimu!” Kata Chanyeol. Dia menyandarkan tubuhnya ke meja kamar menatap
Baekhyun yang terlihat kalut.
“Aku tidak memintanya, mengapa
dia tidak menggugurkan saja, atau harusnya dia mengatakan padaku kalau dia
hamil jadi aku bisa memintanya menggugurkan kandungannya saat itu. Dia membuat
masalah dimana aku hampir menikah. Dia sengaja melakukan itu.”
“Apa begini Baekhyun yang
kukenal, huh? Apa kata itu saja yang bisa kau keluarkan dari mulutmu?”
“kau membelanya?”
“Eoh, karena kau salah.”
“Chanie, kau tidak tahu
situasinya. Mungkin saja dia berbohong tentang anak itu”
“Kau mengatakan padaku dulu kau
tidur dengannya. Jadi bukan tidak
mungkin dia anakmu. Dia kemari memintamu untuk bertemu dengan Young Soo kan?
Kalau begitu temuilah. Jadilah ayah yang baik untuk Young Soo. Dia hanya ingin
bertemu denganmu paling tidak sekali selama hidupnya. Apa mereka terlihat akan
menghancurkan pernikahanmu?”
Chanyeol bangkit, dia menepuk
bahu Baekhyun hingga Baekhyun limbung. “Pikirkan itu Baekie, dan kita harus
memberitahukan ini pada Suho Hyung segera.”
Dia merasa sekujur tubuhnya melemah, mengetahui
kenyataan bahwa dia memiliki anak dari Irene.
Baekhyun duduk di tempat
duduknya, wajahnya kusut dan tentu saja raut frustasi bergelayut di wajah imut
innocentnya. Dia tidak mau melakukan apa apa selain berbaring, membolak balikkan
tubuhnya dan memikirkan bagaiamana jika seluruh dunia tahu kabar ini.
Dia membuka akun instagram
miliknya untuk melihat reaksi follower
jutaannya tentang foto terakhir yang dia post beberapa saat lalu.
“Wua, mereka benar benar mirip...”
Tulis komentar salah satu akun.
Jangan berlebihan
“Baekie Baekie, dia adalah doppelganger
baby Baekhyun.”
Dia tidak semirip itu
“Imutnya, apa dia Baekhyun junior?”
Baekhyun junior apanya?
“Lihat matanya... luar biasa
mirip. Young Soo-ya Kumohon jangan gunakan eyeliner atau kau akan membuatku tak
bisa membedakan kalian berdua.”
Heish, kenapa fans fansku jadi berlebihan begini. Apa miripnya dia
denganku? Oh otteoke, dia memang mirip denganku.
“Oh sial, aku akan berhenti
menyukai Baekhyun setelah dia menikah dan menyukai anak ini saja.”
Coba saja kalau kau bisa!
“Heol, Oppa, apa dia anakmu?
Kalian sangat mirip kkkkkkk.”
Eoh, seseorang mengatakan kalau dia anakku. Puas?Apa kau akan menambahkan
kkkkk ketika kau tahu dia benar benar anakku? Kau pikir ini lelucon?
“Yaa, mengapa kau membocorkan
wajah anak kita pada dunia Oppa?” Tulis salah satu followernya. Baekhyun berhenti pada salah komentar @mybabyBaek di
sana. Baekhyun kesal dengan komentarnya dan menghapus itu segera.
“Anak kita? Jaga kata katamu
Mybabybaek!” Ejek Baekhyun yang akhirnya bersuara juga.
Sebenarnya masih banyak komentar
yang lebih keterlaluan dari ini, Baekhyun pun sebenarnya sudah terbiasa melihat
fansnya mengaku ngaku sebagai kekasihnya, istrinya, anaknya, kakaknya, adiknya, ayahnya
dan semuanya. Baekhyun kesal karena sedang sensitif dengan permasalahannya.
Tiba tiba sebuah pesan masuk ke
ponselnya.
“Mwohae? Apa Goodbye stagenya lancar?” Yewon.
“Aaaaa... molla!”

No comments:
Post a Comment