Pagi yang cerah ini kuawali dengan berjalan cepat
menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Dari seberang kamar terdengar suara
yang cukup kencang sedikit menceramahiku.
“Heh, Sholat subuh
apa sholat duha?!” Nadanya mengomel. Lalu salah siapa tidak membangunkanku
kalau kau sudah bangun. Yaa, begitulah kakak kesayangan bila sedang mengingatkanku
tentang sesuatu.
“Sholat Suha (Kependekan
dari Subuh Duha yang kami buat sendiri).” Jawabku sekenanya.
Setelah
menyelesaikan solat subuhku yang sangat terlambat. Aku membuka buku karya teman
kampus Kevin yang dia letakkan sore kemarin diatas lemari bajuku. Kumpulan tulisan di blog pribadinya yang membuat salah satu publisher
buku di Yogyakarta tertarik untuk membukukannya.
“Aku harus bisa
seperti dia. Setidaknya jika tidak ada publisher yang menyukainya. Aku bisa
mencetaknya sendiri ke Sahara (Sahara : Sebuah badan usaha yang menyediakan jasa penggandaan (fotocopy)
atau pencetakan (printing))
Dia adalah seorang
gadis yang sifat dan sikapnya ku ketahui hanya dari Kevin dan itu juga hanya
sebagian kecil. Yang membuat aku menjadi menyukainya adalah dia seorang
penulis. Hobi yang sama denganku walaupun dia jelas lebih hebat dariku. Kedua
dia berasal dari satu kota yang sama denganku. Kota yang jarang orang orang
tahu keberadaannya dan menjadikan purwokerto atau wonosobo menjadi patokan
untuk memberi tahu letak kota kami. Iya betul, kota kami adalah Banjarnegara
gilar gilar.
Aku benar benar
terinspirasi dengan perjuangannya. Dengan tiap detail penyampaian ceritanya
yang sederhana. DIa menuliskan pengalaman pribadinya dengan baik dan lebih
memilih untuk menggunakan dirinya sebagai objek cerita. Berbeda denganku yang
menjadikan orang lain sebagai objek cerita namun sebenarnya itu hanyalah sebuah
proyeksi dari pengalaman diri sendiri. Aku menyukai kisah kisah fiksi yang sedikit mendramatisir keadaan. Berbeda
dengannya yang terlihat alami dan sesuai dengan kepribadiannya.
Kembali kepada diri
sendiri, sejujurnya aku belum begitu berani untuk membagikan cerita dan kisah
kisah hasil buah pikirku yang jauh dari kata sempurna. Kadang aku membagikan
sebagian tulisanku yang sudah layak baca dan itu hanya sebagian kecil. Tapi saat mengobrol dengannya via BBM beberapa
bulan yang lalu dia mengatakan padaku sebuah pernyataan yang benar benar
membuatku berpikir ‘Ah iya, aku belum punya hal itu. Dan aku harus melakukannya
’ Yaitu kalimat “ Menjadi seorang
penulis itu harus PEDE!!”
Yaa, aku akui aku belum begitu pede dengan
hasil tulisanku karena aku hanya seseorang yang
menulis FF (Fanfiction). Sebuah
cerita fiksi dengan mengambil tokoh idola sebagai pemeran utama dalam cerita
yang kita buat. Tapi setelah ku baca beberapa artikel, ternyata banyak penulis
mengawali coretan coretannya dengan sebuah Fanfiction. Alasannya cukup simple
dan logis tentu saja, karena membentuk karakter utama dari sebuah cerita
tidaklah mudah. Dengan mengenal pemeran utama terlebih dahulu, kita bisa
membuat alur cerita yang sedemikian cocok dengan tokoh idola yang menjadi
pemeran utama.
Kali ini aku benar
benar bermimpi, bermimpi menjadi penulis sebuah novel roman yang indah dan
penuh dengan cinta. Kenapa? Terlalu banyak drama? Bukankah seseorang memiliki
kesukaan masing masing. Kenapa harus meributkan seharusnya aku berada di jalur
mana? Jika tidak suka dengan karyaku silakan tutup bukunya atau blog yang sedang
kau buka ini dan segera cuci matamu agar kau terbebas dari kontaminasi kata kata berlebihan yang ku
pakai.
Puasa kemarin
seorang Dosen mengobrol denganku dan menanyakan padaku tentang mimpi.
“Apa mimpimu?”
“Menulis buku pak..”
Jawabku sambil menimbang nimbang pertanyaan apa lagi yang akan dia lontarkan.
“Penulis?”
“Doanya pak.”
“Kau sudah menulis?”
“Saya tidak akan
bermimpi menjadi penulis kalau saya sendiri belum menulis dong pak...” Jawabku
“Lalu apa usahamu
sekarang menuju mimpimu?”
“Usaha sekarang
hanya membuat naskah saya lebih baik dan ringan dibaca orang lain pak. Saya hanya berpikir, nanti saja bertemu
publishernya. Yang jelas saya harus membuat tulisan saya lebih baik”
“Genrenya apa?”
“Genre? Saya lebih
suka ke fiksi roman si pak.”
“Mau kayak William
Shakespear?”
“Wah nggak kuat pak,
melegenda itu.”
“Lho yang namanya
mimpi jangan tanggung tanggung. Pokoknya tetap pada fokus mimpimu dan jangan
sekali kali puas atas apa yang kamu dapat jika itu belum setara dengan mimpimu.”
“Iya ya pak.” Aku
manggut manggut mencerna tiap kalimat beliau. “Tapi pak, apakah tidak apa apa
ketika kita menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan budaya kita? Terkadang
saya menulis dengan latar luar negeri yang tentu saja kebiasaan, adat dan
budayanya jauh berbeda dengan kita. Dan pernah satu pembaca menyuruh saya untuk
jangan berpikir terlalu jauh dan mengatakan padaku ‘kenapa tidak menulis buku
islami saja, kan bermanfaat untuk orang lain dan pasti berpahala di mata Allah?’
Nah ketika kata kata itu muncul saya menjadi benar benar minder pak, apakah tulisan
saya benar benar menyesatkan mereka dan tidak diterima mereka atau malah ada
yang menyebutnya omong kosong.”
“ Lalu jawabanmu
atas pertanyaan itu apa?”
“Saya bingung pak,
saya bilang saja. Saya kan masih belajar dan menulis masih suka suka hati saya.
Maaf kalo belom bermanfaat untuk kamu baca.”
“Ya sudah, Jangan
dipikirkan tentang tulisan islami itu. Saya tahu tulisan islami tentu saja
bagus apalagi kamu kuliah di kampus yang keislamannya telah dikenal di
Indonesia. Yaa benar kata kamu tadi, menulis suka suka kamu itu sebenarnya
adalah kuncinya. Kalau kamu belum sepenuh hati mengerjakan tulisan yang berbau
islami. Jangan dipaksakan atau hasilnya mungkin akan buruk. Jadi jalani yang
sesuai dengan hati kamu. Bukan tidak mungkin hati kamu juga terbuka untuk
belajar dan membuat tulisan tulisan islami. Daripada kamu memaksa menulis yang
berbau islami tapi ternyata dengan sumber yang salah, kan malah menyesatkan.
Tulislah apa yang kamu tahu dulu..”
Obrolan tidak
sengaja ini sedikit membuka mataku tentang tulisanku. Tidak ada yang buruk
tentang tulisan fiksi roman, yang penting itu adalah hasil karya dari hati.
Karena yang berasal dari hati selalu menyenangkan dan melegakan serta tidak
pernah menjadi beban.
“Bapak pernah nulis
buku atau bahkan punya buku?”
“Saya pernah
beberapa kali jadi tim penyusunan buku dan sekarang sedang mencoba membukukan
tulisan tulisan yang nganggur selama ini di laptop.”
“Waaah, hebat..”
“Kamu juga suatu
saat nanti bisa mencetak bukumu di salah satu penerbit.”
“Amiin amiin pak,
doanya ya pak.”
Pembicaraan itu
berakhir dengan obrolan lain dan temanku datang untuk bertemu dengan beliau.
Obrolan dan kisah
kisah singkat tentang menulis selalu membuatku berpikir apakah aku akan mampu
menjadi penulis. Tapi selama aku masih menulis dan terus menulis. Maka
kesempatan untuk menjadi penulis dan menerbitkan salah satu buku masih bisa
tercapai. Karena yang menjadi penulis adalah orang yang menulis, dan yang
menerbitkan buku adalah orang yang memiliki naskah untuk dibukukan.
So? Just try to
write and write… !! Jangan pedulikan omongan orang yang Cuma akan menjatuhkan
semangatmu untuk menjadi apa yang kamu inginkan. Cemoohan atau ejekan yang
tidak ada gunanya itu pasti dialami oleh semua orang sukses. Jadi kalau ingin
sukses jangan mundur hanya karena hinaan orang orang atas tulisanmu.

No comments:
Post a Comment