Wednesday, August 5, 2015

Write what you like!







Pagi  yang cerah ini kuawali dengan berjalan cepat menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Dari seberang kamar terdengar suara yang cukup kencang sedikit menceramahiku.


“Heh, Sholat subuh apa sholat duha?!” Nadanya mengomel. Lalu salah siapa tidak membangunkanku kalau kau sudah bangun. Yaa, begitulah kakak kesayangan bila sedang mengingatkanku tentang sesuatu.

“Sholat Suha (Kependekan dari Subuh Duha yang kami buat sendiri).” Jawabku sekenanya.

Setelah menyelesaikan solat subuhku yang sangat terlambat. Aku membuka buku karya teman kampus Kevin yang dia letakkan sore kemarin diatas lemari bajuku.  Kumpulan tulisan di  blog pribadinya yang membuat salah satu publisher buku di Yogyakarta tertarik untuk membukukannya.
“Aku harus bisa seperti dia. Setidaknya jika tidak ada publisher yang menyukainya. Aku bisa mencetaknya sendiri ke Sahara (Sahara : Sebuah badan usaha  yang menyediakan jasa penggandaan (fotocopy) atau pencetakan (printing))

Dia adalah seorang gadis yang sifat dan sikapnya ku ketahui hanya dari Kevin dan itu juga hanya sebagian kecil. Yang membuat aku menjadi menyukainya adalah dia seorang penulis. Hobi yang sama denganku walaupun dia jelas lebih hebat dariku. Kedua dia berasal dari satu kota yang sama denganku. Kota yang jarang orang orang tahu keberadaannya dan menjadikan purwokerto atau wonosobo menjadi patokan untuk memberi tahu letak kota kami. Iya betul, kota kami adalah Banjarnegara gilar gilar.

Aku benar benar terinspirasi dengan perjuangannya. Dengan tiap detail penyampaian ceritanya yang sederhana. DIa menuliskan pengalaman pribadinya dengan baik dan lebih memilih untuk menggunakan dirinya sebagai objek cerita. Berbeda denganku yang menjadikan orang lain sebagai objek cerita namun sebenarnya itu hanyalah sebuah proyeksi dari pengalaman diri sendiri. Aku menyukai kisah kisah fiksi  yang sedikit mendramatisir keadaan. Berbeda dengannya yang terlihat alami dan sesuai dengan kepribadiannya.

Kembali kepada diri sendiri, sejujurnya aku belum begitu berani untuk membagikan cerita dan kisah kisah hasil buah pikirku yang jauh dari kata sempurna. Kadang aku membagikan sebagian tulisanku yang sudah layak baca dan itu hanya sebagian kecil.  Tapi saat mengobrol dengannya via BBM beberapa bulan yang lalu dia mengatakan padaku sebuah pernyataan yang benar benar membuatku berpikir ‘Ah iya, aku belum punya hal itu. Dan aku harus melakukannya ’ Yaitu kalimat  “ Menjadi seorang penulis itu harus PEDE!!”
 Yaa, aku akui aku belum begitu pede dengan hasil tulisanku karena aku hanya seseorang yang  menulis  FF (Fanfiction). Sebuah cerita fiksi dengan mengambil tokoh idola sebagai pemeran utama dalam cerita yang kita buat. Tapi setelah ku baca beberapa artikel, ternyata banyak penulis mengawali coretan coretannya dengan sebuah Fanfiction. Alasannya cukup simple dan logis tentu saja, karena membentuk karakter utama dari sebuah cerita tidaklah mudah. Dengan mengenal pemeran utama terlebih dahulu, kita bisa membuat alur cerita yang sedemikian cocok dengan tokoh idola yang menjadi pemeran utama.

Kali ini aku benar benar bermimpi, bermimpi menjadi penulis sebuah novel roman yang indah dan penuh dengan cinta. Kenapa? Terlalu banyak drama? Bukankah seseorang memiliki kesukaan masing masing. Kenapa harus meributkan seharusnya aku berada di jalur mana? Jika tidak suka dengan karyaku silakan tutup bukunya atau blog yang sedang kau buka ini dan segera cuci matamu agar kau  terbebas dari  kontaminasi kata kata berlebihan yang ku pakai.


Puasa kemarin seorang Dosen mengobrol denganku dan menanyakan padaku tentang mimpi.

“Apa mimpimu?”

“Menulis buku pak..” Jawabku sambil menimbang nimbang pertanyaan apa lagi yang akan dia lontarkan.

“Penulis?”

“Doanya pak.”

“Kau sudah menulis?”

“Saya tidak akan bermimpi menjadi penulis kalau saya sendiri belum menulis dong pak...” Jawabku

“Lalu apa usahamu sekarang menuju mimpimu?”

“Usaha sekarang hanya membuat naskah saya lebih baik dan ringan dibaca orang lain pak. Saya  hanya berpikir, nanti saja bertemu publishernya. Yang jelas saya harus membuat tulisan saya lebih baik”

“Genrenya apa?”

“Genre? Saya lebih suka ke fiksi roman si pak.”

“Mau kayak William Shakespear?”

“Wah nggak kuat pak, melegenda itu.”
“Lho yang namanya mimpi jangan tanggung tanggung. Pokoknya tetap pada fokus mimpimu dan jangan sekali kali puas atas apa yang kamu dapat jika itu belum setara dengan mimpimu.”

“Iya ya pak.” Aku manggut manggut mencerna tiap kalimat beliau. “Tapi pak, apakah tidak apa apa ketika kita menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan budaya kita? Terkadang saya menulis dengan latar luar negeri yang tentu saja kebiasaan, adat dan budayanya jauh berbeda dengan kita. Dan pernah satu pembaca menyuruh saya untuk jangan berpikir terlalu jauh dan mengatakan padaku ‘kenapa tidak menulis buku islami saja, kan bermanfaat untuk orang lain dan pasti berpahala di mata Allah?’ Nah ketika kata kata itu muncul saya  menjadi benar benar minder pak, apakah tulisan saya benar benar menyesatkan mereka dan tidak diterima mereka atau malah ada yang menyebutnya omong kosong.”

“ Lalu jawabanmu atas pertanyaan itu apa?”

“Saya bingung pak, saya bilang saja. Saya kan masih belajar dan menulis masih suka suka hati saya. Maaf kalo belom bermanfaat untuk kamu baca.”

“Ya sudah, Jangan dipikirkan tentang tulisan islami itu. Saya tahu tulisan islami tentu saja bagus apalagi kamu kuliah di kampus yang keislamannya telah dikenal di Indonesia. Yaa benar kata kamu tadi, menulis suka suka kamu itu sebenarnya adalah kuncinya. Kalau kamu belum sepenuh hati mengerjakan tulisan yang berbau islami. Jangan dipaksakan atau hasilnya mungkin akan buruk. Jadi jalani yang sesuai dengan hati kamu. Bukan tidak mungkin hati kamu juga terbuka untuk belajar dan membuat tulisan tulisan islami. Daripada kamu memaksa menulis yang berbau islami tapi ternyata dengan sumber yang salah, kan malah menyesatkan. Tulislah apa yang kamu tahu dulu..”
Obrolan tidak sengaja ini sedikit membuka mataku tentang tulisanku. Tidak ada yang buruk tentang tulisan fiksi roman, yang penting itu adalah hasil karya dari hati. Karena yang berasal dari hati selalu menyenangkan dan melegakan serta tidak pernah menjadi beban.

“Bapak pernah nulis buku atau bahkan punya buku?”

“Saya pernah beberapa kali jadi tim penyusunan buku dan sekarang sedang mencoba membukukan tulisan tulisan yang nganggur selama ini di laptop.”

“Waaah, hebat..”

“Kamu juga suatu saat nanti bisa mencetak bukumu di salah satu penerbit.”

“Amiin amiin pak, doanya ya pak.”

Pembicaraan itu berakhir dengan obrolan lain dan temanku datang untuk bertemu dengan beliau.

Obrolan dan kisah kisah singkat tentang menulis selalu membuatku berpikir apakah aku akan mampu menjadi penulis. Tapi selama aku masih menulis dan terus menulis. Maka kesempatan untuk menjadi penulis dan menerbitkan salah satu buku masih bisa tercapai. Karena yang menjadi penulis adalah orang yang menulis, dan yang menerbitkan buku adalah orang yang memiliki naskah untuk dibukukan.


So? Just try to write and write… !! Jangan pedulikan omongan orang yang Cuma akan menjatuhkan semangatmu untuk menjadi apa yang kamu inginkan. Cemoohan atau ejekan yang tidak ada gunanya itu pasti dialami oleh semua orang sukses. Jadi kalau ingin sukses jangan mundur hanya karena hinaan orang orang atas tulisanmu. 

No comments:

Post a Comment