Thursday, August 20, 2015

Sepotong emosi untuk dia.






Untuk seseorang yang merasa lumrah dengan candaan menggoda dengan alasan kami telah melakukannya sejak lama, bahkan lebih dulu sebelum mengenalmu… Apakah  kau tipe pria yang mudah mengeluarkan kata kata seperti itu pada wanita yang lebih dulu kau kenal daripada aku?


Hei, Apa kau masih laki laki yang menenteng tas dan bergaya memasuki kampus?  Apa kau masih seorang mahasiswa dengan segala sikap tanpa komitmen? Apa kau masih tipe pria dengan segala kebebasanmu?

    Bahkan candaan juga mengenal usia,

Seusia kita, Kita tidak akan membercandai seseorang dengan mengolok olok nama orang tuanya. Karena membercandai seseorang seperti itu adalah tingkah laku anak pubertas yang menginjakkan kakinya di bangku SMP.

Kita tidak memainkan candaan seperti itu seusia kau berada sekarang. 

Bahkan candaan juga mengenal status.

Kau boleh membercandai seorang gadis jika kau adalah seorang yang masih sendiri. Tidak ada hati yang terikat. Tapi jika kau mempunyai seseorang dihatimu tapi kau juga membercandai ah lebih tepatnya candaan yang menggoda pada gadis lain? Bukankah kau tidak ada bedanya dengan temanmu yang selalu kau sebut suka menggoda banyak gadis?

Seusia kita, kita tidak bisa mengumbar godaan kesana kemari. Menbercandai seseorang gadis lain  sementara kamu menaruh hatimu pada seseorang. Tidak bisakah kamu paling tidak memikirkan perasaannya?

Kamu memutuskan untuk berbagi hidup dengan seseorang, maka sebuah komitmen untuk seminimal mungkin tanpa saling menyakiti seharusnya ada dalam daftar tujuan bersama.

Kamu memutuskan untuk berbagi hidup dengan orang lain, maka seharusnya kamu bisa mengerti batas candaan apa yang seharusnya kamu mainkan dengan gadis gadis yang lebih dulu kau kenal itu. Karena apa? Karena kamu memiliki seseorang yang menjaga perasaanmu. Maka, tidakkah kau harus melakukan hal yang sama dgn orang yang kau jaga perasaannya?

Dengan statusmu sekarang, apa kau masih akan melakukan candaan menggoda itu? 


Apa? Berlebihan? Ketakutan kau tinggalkan lagi? Lalu jika iya kau mau apa?

Apa kau tidak takut ku tinggalkan?

Jika tidak takut harusnya kita selesaikan saja dulu, tidak perlu menelepon kembali dan mengatakan hal yang tidak perlu. 


Ah terlalu sulit bicara dengan orang bebal, egois dan menang sendiri. 

No comments:

Post a Comment