Kakiku bergetar
ketika dadaku tertimpa tubuh kecilnya setelah terdengar suara tembakan dari
senapan pria pria berjas hitam tepat di depanku. Tubuhku tidak lagi kuat
menopang, aku ikut tersungkur kebelakang memeluk erat tubuh mungil gadis yang
sedari tadi tangannya erat ku genggam.
Sorot mataku
mengkristal setelah ku temukan kedua tanganku berlumuran darah.
Pria pria itu segera
berlari meninggalkanku bersama gadis ini. Gadis yang berhasil mengkover tubuhku
agar aku lolos dari tembakan mereka.
Air mataku tidak
bisa lagi ku tahan, hingga aku meloloskannya satu persatu. Gadis yang sangat ku
cintai kini berbaring lemah di depan mata, dalam dekapan eratku. Bibirnya yang
pucat dan tangannya yang terpercik darahnya sendiri sekarang benar benar
tergolek tanpa daya. Matanya tidak sepenuhnya terpejam, dan bibirnya seperti
ingin mengucapkan sesuatu padaku.
“Bertahanlah
Stephanie!! Stephanie Ku mohon bertahanlah!”
Stephanie masih
memandangku. Tatapan lemah tanpa daya dengan sedikit air yang tergenang di sudut
matanya. Membuatku tidak bisa berpikir apapun.
“Aku baik baik
saja..” Katanya. Bibir pucatnya sedikit menyunggingkan senyum yang tidak akan
pernah aku lupakan. “Aku bersyukur kau baik baik saja…” Kata katanya mulai
terbata.
Segera kuambil
handphone di kantung celana ku untuk menelpon bantuan. Tapi cengkraman
tangannya di lenganku mulai melemah. Kemudian perlahan matanya terpejam dengan
senyum bahagia tanpa penyesalan.
“Stephanie. Ku mohon
jangan seperti ini! Stephanie bertahanlaah… Stephanie… Stephanie…
Stephaniee!!!!!!!!!! “ Teriakanku memecah malam diantara rerumputan yang tinggi
di tepi sungai yang gemerlap penuh cahaya neon.
Ambulans datang
sepuluh menit kemudian membawaku yang hampir pingsan karena syok melihat
Stephanie terbaring di hadapanku. Sayup
sayup aku mendengar paramedis mengatakan Stephanie masih memiliki tanda tanda vital kehidupan tetapi sangat lemah. Intinya aku ingin mendengar bahwa Stephanie masih hidup.
Apapun yang terjadi Stephanie harus tetap hidup, jika ada yang harus mati
tentunya orang itu adalah aku, bukan Stephanie.
Hingga akhirnya pandangan mataku mengabur dan tidak tahu apa yang kemudian terjadi.
Tanganku bergerak
disertai gerakan kelopak mataku. Aku masih memicing micingkan mata mengatur
cahaya yang masuk. Spencer dan Marcus, rekan kerjaku berdiri tepat di sebelah
tempat tidurku. Sebuah tempat tidur dan meja putih serta tirai di
sekelilingnya. Ruang IGD.. mengapa aku berada di sini?
****
(Author pov)
“Aiden, kau baik
baik saja? Apa kau terluka?” Spencer menanyakan kondisi sahabatnya.
“Iya, aku baik baik saja. kenapa aku berada disini?” Aiden mengusap kepalanya.
“Kau benar benar tidak ingat?” Tanya Marcus.
Aiden menggeleng
bahkan setelah Spencer dan Marcus menanyainya beberapa kali. “Aku tidak ingat
apapun, aku hanya ingat saat aku pergi dengan mobilku untuk melakukan
pengintaian.”
Aiden mencoba menelusuri memorinya. Kenapa dia yang seharusnya melakukan pengintaian malah sekarang berada di ruang emergency rumah sakit dan terbaring di sana. “Apa aku mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil?” Tanya Aiden. Spencer dan Marcus saling menatap sepertinya ada yang tidak beres dengan temannya ini.
Aiden mencoba menelusuri memorinya. Kenapa dia yang seharusnya melakukan pengintaian malah sekarang berada di ruang emergency rumah sakit dan terbaring di sana. “Apa aku mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil?” Tanya Aiden. Spencer dan Marcus saling menatap sepertinya ada yang tidak beres dengan temannya ini.
“Kau benar benar
tidak mengingat apapun? Ku panggilkan dokter sebentar.” Spencer segera
memanggil dokter di ruang emergency dan menjelaskan apa yang terjadi.
Setelah memeriksa kondisi
Aiden, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan CT Scan. Karena dikhawatirkan
Aiden mengalami benturan pada otaknya yang menyebabkan dia melupakan beberapa memorinya.
****
“Aiden mengalami Localized Amnesia?” Kata Dokter pada
Marcus.
“Localized Amnesia?” Tanya Marcus.
“Iya, ini adalah semacam kehilangan ingatan setelah kejadian traumatik yang menimpa Aiden sebelum dia jatuh pingsan di Ambulans.”
“ Apakah permanen dokter? ”
“Untuk beberapa kasus ada yang sama sekali tidak bisa mengingat sepanjang hidupnya. Tapi sebagian besar, mereka akan mengingatnya setelah beberapa jam atau beberapa hari. Kita butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk ini.”
“Lalu apa yang harus aku katakan tentang Stephanie…” Marcus menggelengkan kepalanya.
“Tunggu Aiden lebih baik, dia akan mengingat semuanya. Lebih baik kita biarkan dia mengingat sendiri tanpa dipaksakan.” Ucap Dokter Tan.
Marcus keluar dari ruangan dokter Tan menuju ruangan Aiden ditempatkan setelah pemeriksaan. Ia melihat Aiden sudah berkemas, Dengan wajah yang terlihat sudah tanpa masalah di tubuhnya, Aiden mengancingkan lengan kemeja yang Spencer bawa.
“Kata Dokter kau
harus beristirahat..” Kata Marcus menahan Aiden yang berencana bersiap keluar dari rumah sakit.
“Kalian Jangan
terlalu khawatir, lagipula pemeriksaan otakku baik baik saja. Oh iya kalian pulang saja dulu, aku ingin
bertemu Stephanie. Sore ini seharusnya aku menjemputnya di gallery. Dia pasti
marah padaku.” Marcus dan Spencer saling bertatap dan berteriak bersama.
“Tidak bisa!!” Pekik mereka berdua
“Kenapaa? Kalian
semangat sekali meneriakiku.” Aiden menghentikan aktifitasnya sejenak
memandangi dua rekan kerjanya.
“ Kau harus ke
kantor hari ini. Tuan Park ingin bertemu denganmu tentang pengintaian tadi.”
Spencer beralasan.
“ Besok saja..Aku
benar benar merasa bersalah pada Stephanie karena tidak menjemputnya.”
“Kau tidak lihat ini
jam berapa?” Marcus menahan Aiden pergi dari ruang rawatnya sambil menunjuk jam
di tangan kanannya.
"Aku tahu, tapi Stephanie pasti menungguku. Ah iya, dimana mobilku?" Tanya Aiden. Marcus dan Spencer hanya bertatapan tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Aku tahu, tapi Stephanie pasti menungguku. Ah iya, dimana mobilku?" Tanya Aiden. Marcus dan Spencer hanya bertatapan tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Aaaaakk….” Tiba tiba Aiden
menyentuh kepalanya. Tubuhnya akan terjatuh jika Spencer tidak menangkapnya. Kepalanya mulai berdenyut menyakitkan.
“Kau baik baik
saja?” Spencer dan Marcus mendudukan Aiden ke tepi tempat tidurnya. Tiba tiba
potongan potongan gambar itu memenuhi otak Aiden.
*****
Aku memejamkan mataku. Kepalaku sedikit pusing sebelum akhirnya aku
melihat potongan potongan peristiwa yang
asing. Aku melihat Stephanie tersenyum ke arahku di depan gallery tempat dia
bekerja seperti biasa. Menjinjing tas peachnya dan membawa segelas kopi
untukku. Tapi potongan potongan itu berakhir dengan aku berlari di semak semak
dan rerumputan yang tinggi menggandeng tangannya. Aku dan Stephanie? kenapa aku
di rerumputan itu bersama dengan Stephanie?
“Aaaaaak….” Aiden
meronta kesakitan, Marcus segera memanggil dokter Tan lagi. Setelah melakukan
pemeriksaan. Aiden diminta untuk beristirahat di rumah sakit malam ini dan
diijinkan pulang setelah sakit kepalanya sudah pulih. Aiden kemudian mengganti
kemeja yang dimilikinya dengan seragam pasien. Duduk di tempat tidur dan
mencari handphone miliknya.
“Marcus, kau tau
bagaimana bisa aku berada di sini?” Aiden merasa putus asa dengan ingatannya.
“Itu yang ingin ku
tanyakan padamu. Kau benar benar tidak bisa mengingatnya?”
“Entahlah.. aku
hanya sedikit mengingat tentang perjalanan menuju gallery Stephanie tapi aku
mendapat panggilan untuk melakukan pengintaian. Jadi aku tidak menjemputnya.” Ungkap
Aiden.
“Sudahlah jangan
dipikirkan sekarang. Yang penting kau sembuh dan segera keluar dari tempat ini.” Ucap
Marcus.
“Tenang saja, aku
akan menyusulmu besok ke kantor.” Aiden tersenyum pada Marcus seolah mengatakan
bahwa dia baik baik saja.
From : Spencer
Kau harus memantau perkembangan
Stephanie sekarang, jadi pergilah.
Spencer mengirimi Marcus sebuah pesan singkat untuk memantau proses operasi pengangkatan peluru di punggungnya.
****
“Aku sangat bosan disini dan tidak melakukan apapun.” Ungkap Aiden pada rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya.
“Kau mau mengobrol
denganku?” Spencer menawarkan diri untuk menemaninya bicara malam ini.
“Tidak terimakasih, Aku
bosan bicara denganmu, Oiya, besok pagi tolong temukan handphone ku ya?”
“Baiklah… sekarang
tidur lah!”
Aiden tidak bisa
tidur, tubuhnya hanya terbolak balik di tempat tidurnya. matanya tetap terbuka
lebar walaupun dokter menyuruhnya istirahat. Dia terus mencoba mengingat apa
yang terjadi padanya sebelum kejadian sore ini. Potongan potongan peristiwa itu terus saja berulang dan mengganggu pikiran
Aiden.
Bosan tidak
melakukan apapun, Aiden segera mengambil remote tv dan menyalakannya. Mengganti
beberapa channel kemudian berhenti pada acara prime time news.
Sebuah bulan berwarna merah terlihat di layar televisi dengan Judul berita Gerhana Bulan Total.
“Gerhana bulan?" Gumam Aiden.
"Aaaaaaak…” Aiden memekik lagi sambil memegangi kepalanya. Spencer yang sudah mulai memejamkan matanya. Akhirnya terbangun mendengar suara teriakan Aiden.
"Aaaaaaak…” Aiden memekik lagi sambil memegangi kepalanya. Spencer yang sudah mulai memejamkan matanya. Akhirnya terbangun mendengar suara teriakan Aiden.
“Kau baik baik
saja?” Tanya Spencer pada Aiden.
*****
(Aiden pov)
Potongan lain
ingatanku sepertinya telah kembali. Iya,
Dokter mengatakan kepadaku kalau aku terkena amnesia terlokalisasi. Jadi
hanya sebagian ingatanku yang hilang, tapi tentu saja bukan tanpa alasan
ingatanku ini hilang. Pasti ada suatu hal yang penting mengapa aku harus
kehilangan ingatanku. Apakah ingatanku yang hilang ini benar benar mengerikan ? Apa benar benar menyakitkan hingga otakku
bahkan tidak ingin mengingatnya.
Gerhana bulan? Gallery? Rerumputan dan kilatan neon? Semuanya bergantian muncul dalam sel sel otakku.
Kilatan cahaya
menghampiri mataku membuatku terpejam. Sekelebat muncul tubuh Stephanie berada
di pelukanku. Tatapanku mengarah pada
tanganku yang tiba tiba muncul noda darah dan kemudian menghilang.
“Kau baik baik
saja?” Spencer berdiri tepat di hadapanku. Tanpa sadar aku menarik kerah
lehernya. Dan membuatnya maju ke arahku.
“Katakan padaku apa
yang terjadi Spencer!!” Wajahku memerah. Spencer pasti tahu apa yang terjadi,
aku sangat yakin. Entah mengapa semua hawa panas tertarik di kepalaku. Tangan
tanganku meremas kerah Spencer semakin kuat. Tanpa peduli apapun.
“Apa ingatanmu sudah
kembali? Aiden, kita bicara baik baik..”
Spencer benar. Aku terlalu terbawa emosi dan memaksakan ingatanku. Aku geram pada diriku sendiri, mengapa waktu satu jam itu bahkan aku tidak bisa mengingatnya. Ingatan terpenting asal mula aku berada di sini.
Spencer benar. Aku terlalu terbawa emosi dan memaksakan ingatanku. Aku geram pada diriku sendiri, mengapa waktu satu jam itu bahkan aku tidak bisa mengingatnya. Ingatan terpenting asal mula aku berada di sini.
Perlahan ku lepas cengkraman di kerah
kemejanya. Aku membiarkan dia bicara.
“Katakan padaku apa
yang kau tahu!”
“Aku tahu kau
diminta melakukan pengintaian mendadak oleh Letnan Park. Selebihnya hanya kau
yang tau. Ingatanmu sangat penting jadi bisakah kau mengingatnya?”
“Aku tidak bisa. Aku
hanya mengingat sebagian lalu terpotong bagian lain.”
“Apa yang kau
ingat?”
“Aku melihat
Stephanie di depan gallery tempatnya bekerja. Sepertinya aku melihatnya dari dalam
mobilku.”
“Lalu?”
“ Aku berlari
bersama Stephanie di dalam rerumputan yang tinggi tapi aku melihat banyak
sekali lampu lampu sehingga mengacaukan ingatanku.”
“Apa lagi?”
“Gerhana bulan.."
“Hari ini memang
terjadi gerhana bulan total, sekitar pukul 18.42 “
"Aku tahu, Jadi mungkinkah semuanya
berhubungan? Aku masih tidak mengerti dengan ketiga potongan ingatanku."
“Lalu apakah aku bersama Stephanie saat kalian menemukanku?”
“Itu…” Spencer
menggaruk kepalanya. Menatap ke luar jendela yang sudah gelap. “Kau harus
mengingatnya! Iya, kau yang harus mengingatnya. Ingatanmu juga sangat penting
dalam penyelidikan kita Aiden.”
Aku semakin tidak
mengerti. Jadi apakah benar Stephanie bersamaku saat pengintaian? Spencer
bahkan tidak mau menjawab pertanyaanku. Tetapi tidak mungkin, aku tidak seceroboh
itu untuk membawa Stephanie dalam keadaan bahaya. Aku selalu menghindari membawa Stephanie dalam pengintaian atau
bahkan hanya untuk menceritakan rencana penyelidikan. Aku tidak akan sebodoh
itu. Yaa, pasti.
Mungkin saja
ingatanku bercampur dengan imajinasiku.
“Jangan terlalu
dipaksakan. Kau harus mengingatnya, tapi kau juga harus memperhatikan
kondisimu.”
Spencer menyuruhku
berbaring. Dia segera mematikan televisi dan kembali ke sofa. “Ingat, kau harus
sembuh dan mengingat semuanya!” Kata Spencer sambil menunjukkan jari
telunjuknya ke arahku. Aku tidak begitu mempedulikan perintahnya. Yang jelas
aku benar benar ingin mengingat semuanya secepat mungkin.
Langit langit warna pastel ruang perawatanku kupandangi tanpa berkedip. Menata seluruh potongan potongan kecil yang kuingat.
“Aaah…melelahkan!”
Aku harus tidur, berharap besok aku menemukan potongan ingatanku yang hilang. Aku mencoba memejamkan mataku mencari ketenangan agar aku segera tertidur.
“Ingat, Kau harus sembuh dan mengingat semuanya!” Jari telunjuk Spencer tiba tiba berubah
menjadi hitam. Sebuah pistol kedap suara.. jelas itu adalah sebuah pistol kedap
suara. Tiba tiba kepalaku terasa berat dan pusing. Suara suara penghangat
ruangan, jam dinding dan tetesan tetesan air di dalam kamar mandi tiba tiba
menghilang. Aku menjadi tuli seketika. Kilatan kilatan cahaya di mataku membawa
satu persatu potongan potongan kecil. Menatanya kembali, kali ini lebih rinci..
“Sayang, Ku tunggu di depan Gallery. Cepat datang ya?” Kata suara
seorang wanita dari handsfreeku. Aku sedang dalam perjalanan menuju Gallery
Stephanie. Hari ini aku akan berkencan dengannya setelah menghabiskan satu
bulanku dalam pengintaian ke daerah terpencil mengungkap sindikat pembudidaya ganja
kualitas super.
Sore ini kami bertemu setelah Stephanie menyelesaikan pekerjaannya. Aku
menjemputnya dengan mobil baruku yang ku beli dari bonus dan promosiku.
Stephanie adalah gadis yang sangat atraktif. Dia akan mengungkapkan perasaannya
sesuka hati. Jika dia merindukanku dia akan terus saja bicara betapa dia sangat
merindukanku. Jika dia marah padaku, dia akan terus terusan mengomel dan
mengulang ulang kemarahannya.
Kali ini dia menceritakan obrolannya dengan para astronom saat mereka
berkunjung ke Gallery Stephanie siang tadi.
“Malam ini mereka mengatakan padaku akan terjadi Gerhana Bulan total.
Aku benar benar ingin melihatnya. Bisakah kita cari restoran outdoor sayang?”
“Restoran Outdoor? Kau bisa memilih dimanapun kau mau.”
“Ah, aku pernah pergi ke restoran di tepi sungai Han, suasananya sangat
romantis. Aku ingin ke sana.”
“Dengan siapa kau datang ke sana? Aku tidak akan kesana jika itu bekas
tempat kencanmu dengan mantan kekasihmu” aku mengubah raut wajahku saat dia
mengatakan suasananya sangat romantis.
“ Haish benar benar, kau kekanakan sekali. Aku kesana untuk rapat
penggalangan dana pendirian Gallery tempatku bekerja.”
“Jadi tidak ada hubungannya dengan mantan kekasihmu?”
“Emmm….apa kau percaya begitu saja padaku? ” Stephanie juga seorang gadis penggoda yang ulung. Dia benar benar
bisa mengaduk aduk perasaanku dengan kata katanya. Jadi hanya dengan mengatakan
emmmm saja, aku bisa dibuat cemburu olehnya. “Haha, Tidak sayang, aku benar
benar hanya melakukan penggalangan dana di sana.” Tawanya pecah melihat aku
sudah mulai menunjukkan tanduk dan taringku.
Satu bulan tidak bertemu dengan Stephanie benar benar membuatku merindukannya. Wanita dengan segala keceriaan dan eyesmile yang menggoda. Matanya adalah tempat favoritku menciumnya. Sangat cantik.
“Aku ingin bertanya padamu mengapa kau sangat menyukai Gerhana Bulan..”
Tanyaku pada Stephanie.
“Kau benar benar tidak ingat?” Tanyanya terlihat sedikit kekecewaan di
wajahnya. Aku menggeleng. Apa aku melupakan sesuatu?
“Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, aku lahir saat gerhana bulan?”
“Aku juga lahir saat gerhana bulan, tetapi aku tidak menganggapnya special.”
“Aku juga tidak menganggapnya special, tapi ada satu peristiwa yang
membuatku sangat bahagia melihat Gerhana Bulan.”
“Apa itu?”
“Aku bertemu dengan seorang pria yang mengubah hidupku…” Ucapnya.
Aku terdiam, sebuah peristiwa dua tahun yang lalu. Satu satunya orang yang sangat berharga dalam hidupku terenggut nyawanya karena kecerobohanku membawanya dalam pengintaian. Ibuku, Penjahat penjahat itu mengira wanita itu adalah rekan kerjaku. Tusukan demi tusukan itu dihunuskan ke perutnya.Kekejaman yang luar biasa bahkan mereka tunjukkan untuk membunuh wanita. Dan saat itu aku hanya bisa melihat kekejaman mereka dengan kedua mataku yang hanya tergolek lemah karena dikeroyok puluhan orang berjas hitam. Tangan kananku patah dan wajahku bahkan sudah tidak berbentuk seperti manusia.
Aku terdiam, sebuah peristiwa dua tahun yang lalu. Satu satunya orang yang sangat berharga dalam hidupku terenggut nyawanya karena kecerobohanku membawanya dalam pengintaian. Ibuku, Penjahat penjahat itu mengira wanita itu adalah rekan kerjaku. Tusukan demi tusukan itu dihunuskan ke perutnya.Kekejaman yang luar biasa bahkan mereka tunjukkan untuk membunuh wanita. Dan saat itu aku hanya bisa melihat kekejaman mereka dengan kedua mataku yang hanya tergolek lemah karena dikeroyok puluhan orang berjas hitam. Tangan kananku patah dan wajahku bahkan sudah tidak berbentuk seperti manusia.
Stephanie adalah seseorang yang menemukanku
saat dia sedang mencari spot indah untuk melukis. Dia menemukanku di dekat
danau tidak sadarkan diri. Dengan kekuatannya dia membawaku sendirian ke rumah
sakit. Menungguku hingga aku terjaga. Mencari tahu semua tentangku hingga
mengurusi pemakaman ibuku saat aku masih tidak sadarkan diri.
Mulai saat itu Stephanie benar benar hidup
untuk mengurusku tanpa ku minta. Saat aku sadar dari koma beberapa hari, dia sedang
menggenggam satu tanganku dengan wajah penuh kekhawatiran. Aku memandang tidak
mengerti, seorang gadis yang sama sekali tidak ku kenal berada di hadapanku
menggenggam tanganku seolah mengenalku lebih dari siapapun. Wajah cemasnya
berubah tersenyum melihatku membuka mata.
Stephanie adalah seseorang yang tetap di sampingku
di saat saat depresi sepeninggal ibuku.Dia yang mengajari ku bangkit. Dia yang
menyemangatiku dan dia adalah orang yang membuatku ingin melindunginya. Dia
yang meyakinkanku bahwa suatu saat aku pasti menjadi seorang detektif yang handal dan penuh perhitungan. Saat
itulah aku mulai jatuh cinta padanya, tidak peduli apapun aku harus bisa
melindungi Stephanie.
“ Aku tidak ingin ada kenangan kesedihan jika kau melihat gerhana bulan.
Aku ingin menganggapnya special karena aku bertemu denganmu saat gerhana bulan
dan aku ingin kita menghapus kenangan burukmu tentang gerhana bulan.” Kata kata
dari bibir kecilnya seakan meruntuhkan
benteng pertahananku.
Orang orang menganggap aku terlalu sensitive sebagai seorang pria, jadi aku sangat mudah tersentuh atau bahkan menangis terharu.
Orang orang menganggap aku terlalu sensitive sebagai seorang pria, jadi aku sangat mudah tersentuh atau bahkan menangis terharu.
Tapi kali ini sebelum air mataku menetes, aku harus tersenyum mengucapkan terimakasih padanya dan mengemudi
dengan baik.
“Terimakasih…” Ucapku sambil mencium punggung tangannya yang sedari
tadi ku genggam. Stephanie hanya tersenyum lembut.
“Kita bisa jalan sekarang? Aku sudah lapar.” Ucap Stephanie.
****
Jadi aku mengajaknya
pergi malam ini, lalu apa yang terjadi? Mengapa aku tidak ingat kejadian
selanjut… “Aaaak….” Kepalaku berkedut kedut bahkan sekarang lebih keras.
Telingaku kembali menuli dan bayang bayang Stephanie terengah engah berlari
bersamaku muncul lagi.
“Kejar mereka!!! Jangan sampai lolos…” Suara itu samar samar ku ingat,
suara berat yang memerintahkan anak buahnya mengejar kami berdua. Diantara rerumputan
yang tinggi.
Seharusnya malam ini adalah malam penangkapan, Aku mendapat telepon
dari Letnan Park untuk melakukan penggerebekan transaksi jual beli Heroin di
dekat Sungai Han saat menuju perjalanan ke restoran. Karena aku sudah sangat
dekat dengan lokasi, aku sampai di sana lebih cepat dari rekan setimku. Aku
menyuruh Stephanie pergi ke restoran lebih dulu tapi kali ini dia bersikeras
untuk tetap bersamaku. Kami sempat bertengkar karena sama sama mempertahankan
keinginan kami.
Sampai akhirnya salah satu anggota mafia berjas hitam itu melihat kami.
“Aish, sial!!!” Aku menyeret Stephanie bersamaku menyusuri tepi tepi
sungai yang penuh rerumputan dan padang ilalang yang tinggi. Menghindari orang
orang itu dan berlari sejauh mungkin. Aku berlari secepat mungkin sambil terus
menggandeng Stephanie. Tidak tahu berapa lama lagi aku dan Stephanie harus
berlari hingga semuanya berakhir di sebuah tanah lapang yang luas. Sebuah truk
besar dan beberapa orang berjas hitam dengan beberapa koper.
Aku dan Stephanie berhenti diantara transaksi jual beli Heroin yang
seharusnya menjadi tempat penangkapan.
Tanpa peringatan apapun, Stephanie berlari memelukku sebelum akhirnya
senapan kedap suara milik salah satu dari mereka melepaskan peluru ke arah
punggung Stephanie. AKu benar benar merasakan sentakan tubuhnya menyentuh
dadaku dengan kuat kemudian tubuhnya melemah kebawah.Darah segar mengalir dari
punggungnya membanjiri seluruh pakaian putihnya dan tangan besarku.
Satu persatu memoriku tentang kejadian itu
muncul. Aku berhasil mengingat semuanya, potongan potongan ingatan itu telah
menjadi satu. Dan benar, hal itu sungguh menghancurkan hatiku.
“Nadinya masih berdenyut! Dia masih hidup tapi tekanan darahnya sangat
rendah. Kita harus menghentikan pendarahannya!” Aku mengingat beberapa paramedis yang
memeriksanya mengatakan hal itu sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri.
“Stephanie….”
Aku bergegas melepas infuse yang masih melekat di tanganku. Tidak peduli darah dari
bekas infusku menetes, aku hanya ingin mengetahui keadaan Stephanie.
“Katakan Stephanie
berada dimana!!!Spencer, Katakan padaku!!!” Spencer terkejut dengan perlakuanku. Teriakan
itu jelas saja mengundang perhatian dokter dan perawat yang akan melakukan
pemeriksaan.
“Apa ada masalah di
sini!”
“Dokter, katakan
padaku di mana Stephanie!! Katakan padaku Dokter…Katakan!!!” Aku benar benar dibuat gila oleh mereka yang
semuanya terdiam. Kepalaku bahkan tidak mampu kuajak berkompromi, benar benar
rasa sakit luar biasa ini membuatku tertatih mencari tempat Stephanie di rawat.
“Aiden, Ku mohon
berhenti.” Spencer menarik tubuhku. Yang sudah kehilangan keseimbangan.
Perasaanku benar benar kacau karena tidak mengetahui kondisi Stephanie.
“ Spencer katakan
padaku Stephanie dimana!! Apa dia baik baik saja! Jebal!”
“Dia di ruang
operasi. Sedang dilakukan pengangkatan
peluru.”
Kakiku secara
refleks mencari ruang operasi rumah sakit ini.
“Sial, kenapa rumah
sakit ini sangat besar!!” Aku tidak mempedulikan rasa sakit di kepalaku dan berlari menyusuri koridor koridor rumah
sakit yang sudah mulai gelap. Ruangan ruangan kosong dan pintu pintu penghubung
ku buka secara paksa.
****
(Author pov)
Aiden berlari tanpa
kontrol menelusuri bangunan rumah sakit hanya untuk menemukan ruang operasi.
Matanya berkeliling melihat plang bertuliskan ruang operasi. Hingga sebuah
lorong yang sangat panjang membawanya ke sebuah pintu. Di depan sana Marcus
sedang berdiri bersandar pada tembok dan menyilangkan ke dua kakinya.
“Stephanie….” Aiden
beringsut memaksa masuk ke dalam ruang operasi, selangkah lagi dia akan
berhasil tapi Marcus menahannya sekuat tenaga.
“Yak, apa kau gila?”
“Aku ingin melihat
Stephanie!!”
“Kau sudah ingat
semuanya?” Tanya Marcus memastikan
“Biarkan aku masuk,
aku ingin bersama Stephanie!!”
“Pelurunya sedang diangkat,
tidak bisakah kau tenang disini!!!”
“ Dia di sana karena
aku! Apa aku masih bisa tenang? Hah?” Dia membentak dan merutuk. Menyesali apa
yang dilakukannya pada Stephanie.
“Lalu dengan kau
masuk ke sana apakah membantu? Hah!! Gunakan akal sehatmu Aiden.” Marcus masih
mengunci perut Aiden dengan kedua tangannya.
Aiden masih mencoba
melepaskan diri dari Marcus. Dia tetap saja ingin masuk, mendampingi masa masa
sulit Stephanie. Walaupun Aiden tahu hal ini bukanlah standar yang
diperbolehkan untuk Aiden lakukan. Tapi bagaimanapun, Aiden ingin bersama
Stephanie apapun yang terjadi.
****
Aiden, Marcus dan
Spencer duduk dengan perasaan cemas menunggu operasi Stephanie berakhir. Tidak tahan hanya duduk dengan perasaan tidak
karuan. Aiden mencoba menenangkan diri dengan berjalan sepanjang koridor lalu
kembali ke depan pintu operasi, berjalan ke ujung koridor lalu kembali lagi.
Lampu operasi sudah
meredup, Aiden berlari menuju depan pintu ruang operasi menunggu tim dokter dan
paramedis keluar.
“Maafkan kami,
Stephanie kehilangan banyak darah saat di bawa ke mari. Kami hanya berhasil
mengangkat pelurunya tapi nyawa Stephanie tidak tertolong.”
Aiden kehilangan kata katanya, bahkan menopang tubuhnya saja Aiden tidak mampu. Dia terhuyung
masuk ke dalam ruang operasi. Aiden menatap tubuh yang biasanya hangat itu yang
kini terbujur kaku di ruang operasi. Alat alat penyangga kehidupan Stephanie di
lepas satu persatu oleh perawat.
“Waktu kematian
pukul 22.58 “ Kata salah satu perawat yang mencatat waktu kematian Stephanie.
“Tidak Stephanie,
kau tidak boleh mati. Stephanie…Kau tidak boleh meninggalkanku. Aku yang seharusnya
mati, bukan kau. Stephanie!!!” Pelukan
Aiden pada tubuh Stephanie semakin erat. Air matanya tidak berhenti menetes
mengiringi kepergian kekasihnya.
***
(Aiden pov)
Aku tidak tahu apa
yang aku rasakan sekarang. Setelah kematian Stephanie aku benar benar membenci
pekerjaanku, pekerjaanku telah membunuh dua orang yang benar benar aku cintai.
Pekerjaanku telah merenggut nyawa orang orang yang mencintaiku. Kecerobohanku
membuat dua orang wanita yang sangat berarti dalam hidupku menjadi korban.
Orang orang tidak bersalah itu menjadi korban kebiadaban para mafia narkoba.
Tapi dendamku
kepada mereka tidak akan terbalas jika aku hanya menyerah pada pekerjaanku. Aku
ingat, wajah Ibuku sangat bangga saat aku dipindah ke dalam tim investigasi. Dia
membuat pesta kecil kecilan dengan para tetangganya dan membanggakanku di
hadapan mereka.
Stephanie, dia
selalu mendukungku dan berharap aku menjadi detektif yang hebat. Dia rela kencannya
tertunda jika aku tiba tiba ditugaskan untuk melakukan pengintaian. Dia sangat
benci dengan para mafia yang selama ini ku kejar. Dia seperti punya dendam
tersendiri pada mereka, Tapi dia terus saja mengelak dan berdalih hanya ingin negaranya terbebas dari barang haram bernama Narkoba yang merusak generasi generasi muda bangsanya.
Jadi, aku harus berhasil menangkap penjahat
penjahat kejam itu. Aku akan tetap menjadi kebanggaan Ibuku dan detektif yang
hebat seperti keinginan Stephanie.
Setelah mengganti pakaianku, aku segera mengurus kepulangan Stephanie untuk diautopsi dan di semayamkan. Tapi terlambat ketika bagian administrasi mengatakan padaku bahwa keluarganya telah membawanya pulang. Aku tidak tahu menahu tentang keluarga Stephanie karena stephanie tidak pernah menceritakannya. Dia mengatakan padaku untuk tidak menanyakannya. Dia lebih suka hidup sendiri. Dan sekarang aku benar benar tidak tahu dimana Stephanie dibawa pulang oleh keluarganya.
Aku semakin merasa menjadi pria yang sangat tidak berguna. Aku bahkan tidak tahu kemana Stephanie dibawa. Ketika ku tanyakan pada petugas administrasi tentang tempat tinggal keluarganya mereka tidak mampu menjawab.
"Bagaimana bisa kalian tidak tahu siapa yang membawanya pulang? dan kemana mereka membawanya?" Tanyaku.
"Ini diluar kuasa kami." Jawab mereka dengan tenang.
"Apakah kalian sudah memastikan yang menjemput adalah benar benar keluarganya?" Tanya Marcus pada petugas saat itu.
"Dia dijemput oleh ayahnya, dan beberapa orang pengawal. mereka membawa surat surat keluarga dan membawa ambulans sendiri."
"Bagaimana dengan autopsi?"Spencer menimpal.
"Keluarga tidak berkenan melakukannya." jawab petugas rumah sakit.
"Apa? Sulit dipercaya. Bagaimana bisa anaknya mati dengan cara seperti itu keluarganya tidak ingin mengusut kasus ini." Marcus melihat ada yang janggal dengan dibawanya Stephanie.
"Kita seharusnya memastikan apakah benar stephanie dibawa oleh keluarganya."
"Kenapa kalian begitu ceroboh mengijinkan korban pembunuhan dibawa pulang tanpa sepengetahuan kami, hah?" Aku membentak petugas Administrasi yang mengurus kepulangannya. Aku sudah sangat frustasi dengan kematian stephanie dan ingin mengurus semua pemakamannya tapi sekarang Stephanie menghilang dibawa oleh seseorang yang mengaku keluarganya.
Aku segera mengecek ke apartemen Stephanie. Mencari tahu tentang keluarganya dan alamat kemana Stephanie dibawa. Pasti di rumahnya ada petunjuk tentang itu semua.
Cukup mudah masuk ke dalam apartemennya karena kami sudah berbagi kode pintu. Tujuan pertamaku adalah ruang tengah. Meja tempatnya meletakkan televisi. Ada banyak laci di sana. Ku telusuri satu demi satu laci di ruang tengah yang kutemukan hanya setumpukan kertas dan leaflet promosi gallerynya. Aku belum menemukan sesuatu yang mengantarkanku pada tempat dimana aku bisa menemukan Stephanie.
Tempat ke dua adalah kamar tidurnya, Aku membuka seluruh lemari dan meja nakas di sebelah tempat tidur, dan semuanya tanpa hasil. Perpustakaan kecil di ujung kamar tidurpun tidak memberitahuku kemungkinan kemungkinan kemana jasad Stephanie dibawa. Rasanya aku hampir putus asa hingga melakukan penyelidikan ini. Tapi sepertinya aku melupakan satu hal. Tempat Stephanie menghabiskan seluruh waktunya jika tidak sedang bersamaku.
Ruangan itu cukup sulit untukku temukan karena stephanie membawaku kesana hanya satu kali dan itupun melewati pintu belakang rumahnya.
Akhirnya ku putuskan untuk masuk melewati pintu dimana Stephanie pernah membawaku. Pintu dengan aksen tua yang sangat tidak mungkin kalau di sana banyak sekali karya Stephanieku yang menakjubkan.
Lukisan lukisan wajah dengan ukuran beragam berada di sana disejajarkan satu persatu. Lalu aku melihat lukisan wajahku bersama dua orang wanita, foto wajah kami berdua yang ditengahnya terdapat wajah ibuku yang dia lukis dari foto di dalam dompet milikku. Dia mengatakan padaku ingin memberikannya saat pernikahan kami, dia ingin ibu ku selalu bersama kami dengan lukisannya.
Mengingatnya begitu menyakitkan, satu persatu harapan itu musnah karena Stephanie harus berkorban nyawa untuk pria bodoh sepertiku. Pria bodoh yang untuk kedua kalinya tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya. Pria bodoh ini yang seharusnya menggantikan posisi stephanie. Tertembak dalam pengintaian, kesakitan saat dibawa ke rumah sakit, dan berjuang dalam melepaskan peluru yang menembus hatinya. Semua kesakitan kesakitan itu seharusnya aku yang merasakan, bukan tubuh lemah Stephanie.
Meja meja ruang kerjanya gelap. Aku mencari sakelar untuk menyalakan lampu.
Ya Tuhan, wangi ruangan ini adalah aroma tubuh Stephanie. Aku benar benar frustasi berada di sini. Kenangan kenangan tentang stephanie seperti ikut terbawa di ruangan ini. Dia seperti sedang melukis di ujung sana, kemudian sedang menjepit foto fotonya di ujung lainnya.
Tanganku menyentuh sebuah kayu berbentuk persegi di dalam lacinya.
Aku menemukan sebuah foto dengan bingkai yang sangat kuno. Seorang Laki laki tinggi besar dengan seorang wanita separuh baya dengan eyesmile yang sama dengan gadis kecil di tengah mereka berdua.
Dari senyumannya saja aku tahu dia adalah gadisku, dan kedua orang ini tentu saja adalah orang tuanya.
'Jadi lukisan besar itu foto ayahnya?' Tapi tunggu, kenapa lukisan ini tertuju untukku?
'Untuk detektif terhebatku, Aiden.' Itulah sign yang diberikan Stephanie di bawah lukisan wajah ayahnya.
"Jadi mereka yang membawa Stephanie pergi?" Aku masih saja bertanya tanya, apakah benar mereka yang mengajaknya pergi? Aku harus membawanya untuk ku tunjukkan pada pegawai administrasi. Yang aku takutkan adalah jasad Stephanie diambil oleh orang orang yang menembaknya kemarin.
21 Agustus 2012.
"Aku terus saja tidak mengerti tentang ayah."
Lembar berikutnya berisi tentang pertemuanku dengannya saat gerhana bulan. Ah mungkin lebih tepatnya dia menemukanku dalam keadaan aku hampir saja mati dihajar mafia mafia jahat itu.
22 Agustus 2012
"Aku bertemu seseorang yang membuka mataku. Aku menemukannya di danau dengan kondisi yang mengerikan. Tubuhnya membiru, tulangnya patah. Aku pikir aku menemukan mayat. Tapi setelah aku memastikannya, pria itu masih hidup. Di sampingnya ada seorang mayat perempuan dengan luka tusukan yang sangat banyak. Aku bahkan tidak berani melihatnya. Aku ketakutan"
Lembar berikutnya :
24 Agustus 2012
"Aku merasa bertanggung jawab atas semua ini, kenapa aku dilahirkan dalam keluarga mengerikan ini."
Aaa, jadi karena ini dia tidak suka membicarakan keluarganya. Tapi apakah semengerikan itu keluarganya?
Ku buka lembar demi lembar buku diarynya ::
25 Agustus 2012
"Ayah, lagi lagi kau memisahkan anak dari ibunya. Apa kurang cukup bagimu memisahkan aku dengan ibu?"
Jadi ayahnya yang memisahkan dia dari ibunya. Stephanie, karena itukah kau selalu merasa kita sama. Hidup tanpa ibu disamping kita.
26 Agustus 2012
"Lalu apa salah orang ini hingga kau memisahkan orang ini dengan ibunya."
Siapa yang disebut orang ini oleh stephanie?
7 September 2012
Aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan menjaga pria itu.
Ini adalah hari hari dimana aku masih terbaring di rumah sakit. Apa pria itu adalah aku?
9 September 2012
Dia sadar dari koma, dan menemukan kenyataan bahwa ibunya telah meninggal. Apa yang harus aku lakukan? Dia berubah depresi dan menjadi murung.
10 September 2012
Ayah, aku tidak akan memaafkanmu apapun yang terjadi. Sudah cukup aku melihat semua kekejamanmu dan anak buahmu. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahanmu pada pria ini.
12 September 2012
Ayah, Kau tidak tahu bahwa kehilangan ibu sangat menyakitkan sama seperti yang terjadi padanya. Dia depresi, dia frustasi, dia menjadi pendiam, dan tidak mau bicara. Seperti aku saat aku remaja dan kau memisahkanku dari ibu dengan sikap kejammu. Apa kau tidak akan pernah merasa bersalah karena orang orangmu telah membunuh banyak orang??
Aku terkejut dengan tulisan terakhir yang ku baca. Muncul dugaan dugaan kecil yang mencurigakanku. Aku segera meletakkan buku itu tapi tiba tiba muncul sebuah note kecil yang terselip di halaman terakhir buku diarynya.
"Ayah, jika aku mencintai Aiden. Apa kau akan tetap membunuhnya seperti kau membunuh ibunya?"

No comments:
Post a Comment