Sunday, July 5, 2015

Let's fall in love in heaven (part 3)








"Mungkin besok aku tidak akan datang ke sini. Aku sangat berharap aku tidak datang. Jadi jangan mencariku." 


Aku teringat kata katanya. Waah mimpiku sangat hebat, bahkan dia bisa membuat pengumuman pada mimpi sebelumnya untuk mimpi setelahnya. 


Aku mulai sering bertanya tanya, apakah ini benar benar mimpi? Tapi mimpi ini tidak seperti yang lainnya yang hanya bertahan di sebagian malamku dan esok pagi aku akan melupakannya. Aku juga mulai menerka nerka apakah ini hanya mimpi atau sebuah gambaran masa depan.


Aku semakin mengkhawatirkannya, kenapa dia tidak datang? Apa dia tidak mau menemuiku lagi? Tapi kenapa. Bukankah alasan dia berada di sini adalah aku? Paling tidak itu yang dia pernah katakan padaku.


Dan sekarang dia dengan seenaknya tidak datang setelah memaksaku masuk dalam mimpi berkepanjangan ini. 


Aku menutup notebookku dan mulai berjalan jalan di sekitar pepohonan itu. Semuanya didominasi warna jingga yang cantik dengan daun daun maple yang berguguran menyelimuti tanah cokelat setelah musim panas. 


Udara di sini menyejukkan, terkadang aku sedikit kedinginan hingga harus mengelus kedua lenganku dengan telapak tangan. Kupu kupu seharusnya jarang terlihat di musim seperti ini. Tapi sekarang dia berada di hadapanku mengepakkan sayap putihnya dengan tepian berwarna kuning dan beberapa bintik kecoklatan di tengahnya.  


Aku terlalu asik memandang kupu kupu hingga dia terbang berkelok menuju sebuah pintu gerbang yang tinggi. Pintu gerbang kuno dengan kayu yang terukir indah. 


Aku melihat sosok yang tidak asing di sana. Pria itu berjalan menjauh dari pintu gerbang di depanku. Iyaa, Andrew… pria yang selalu duduk bersamaku dan tertidur di sampingku. Pria yang mengatakan untuk tidak mencarinya dalam mimpi kemarin.

Saat aku berjalan masuk dan mencoba memanggilnya. Pintu itu dengan cepat tertutup. Seperti tidak membiarkanku masuk. Aku memanggilnya berkali kali tapi Andrew tetap tidak menoleh kepadaku. Dia hanya berjalan lambat menjauh dari gerbang itu.

“Andrew!!!” Aku terkejut dengan teriakanku sendiri. Mataku mengerjap ngerjap menjernihkan pandanganku.  Langit langit kamarku seakan menyambutku ke dunia nyata.


“Ya Tuhan, mimpiku berlanjut.”

Jam dinding kamarku menunjuk pukul 11 malam. Aku tertidur 3 jam dan rasanya aku sudah seharian berada di mimpiku.

“Ah, aku lapar..” Aku segera bangkit dari ranjangku menuju dapur menyeduh segelas susu hangat dan mengambil sepotong roti. Aku benar benar tidak yakin dengan mimpiku. Apa ini hanya sebatas mimpi atau sebuah pertanda tentang sesuatu. Tapi Andrew tidak datang, lalu apa yang Andrew lakukan di dalam gerbang itu?

Setelah menghabiskan segelas susu dan rotiku, aku kembali lagi ke kamar melanjutkan pertanyaan pertanyaanku tentang Andrew. Ini jelas saja keterlaluan. Pria yang tidak ku kenal, pria yang tidak pernah kutemui sebelumnya, sekarang sedang menyita pikiranku tentangnya. Tentu saja aku pikir aku sudah mulai sedikit ‘gila’.


****
“Ahjussi… Ahjussi!!” Ahjussi supir bus itu sepertinya tidak mendengar teriakanku dari jauh. Bawaanku terlalu banyak sehingga sulit untuk berlari kencang.

“Haish, gara gara buku buku tebal ini aku tidak bisa mengejar bus. Lagipula siapa yang mau membaca buku setebal ini. Kangsanim memang menyebalkan.” Aku berjalan mendekati Halte. Pria bermasker dan bertopi itu sudah berada di sana sejak tadi. 

“Lagi?” Dia tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

Tatapan mata mengejeknya sungguh membuatku kesal. Sudah dua kali ini dia duduk disini dan menertawai keterlambatanku.

“Kenapa tertawa?” Tanyaku pada pria bertopi dan bermasker hitam itu. “Kau menertawaiku?” tanyaku lagi. Aku mulai kesal karena dia tidak berhenti tertawa dan menggelengkan kepalanya.

“Kau selalu terlambat mengejar bus. Tidak bisakah kau datang lebih cepat?” Ucapnya dengan menahan tawa.

“Bukan urusanmu.” Memangnya siapa dia berani menyuruhku ini dan itu. Terlambat mengejar bus juga urusanku. Lagipula aku tidak bisa mengejar karena bawaanku cukup berat hari ini jadi aku tidak selincah biasanya.

“Perlu ku bawakan buku bukumu? Sepertinya kau kesulitan.”

“Tidak usah aku bisa membawanya…” Pria ini, bisa saja membaca apa yang ada di pikiranku. Mirip Andrew..


‘Ayolah Stephanie, apa sekarang Andrew sudah jadi seseorang yang selalu kau ingat?’

“Perkenalkan namaku Cho Kyuhyun.” Kata Pria itu menyodorkan tangan kanannya untuk menjabatku.

“Maaf, Aku tidak berkenalan dengan pria tidak jelas. Apalagi hanya ku temui di halte dengan masker dan topi.” Jawabku sambil membenahi buku buku tebal di tas yang ku jinjing. Aku tidak mempedulikannya lagi, tatapanku kembali mengarah pada jalan raya menanti bus datang dan segera pergi dari pria menyebalkan ini.

Sepuluh menit kemudian bus datang, aku benar benar kesulitan membawa buku buku ini naik. Hingga seseorang menyerobot masuk dan merebut tas yang ku jinjing. “Sudah ku bilang aku akan membantumu.” Setelah menaiki tangga bus satu persatu dia mencari tempat duduk yang kosong, tepat di depan kursi paling belakang.

Matanya memicing tandanya dia sedang tersenyum padaku dibalik masker hitamnya. Dia menepuk kursi di sebelahnya. “Duduklah..” Memoriku terus saja mengacu pada Andrew. Tingkah mereka sama.

Dengan terpaksa aku duduk di sampingnya karena buku buku tebal yang ku bawa berada di tangannya.

“Haahh, akhirnya aku merasakan naik bus lagi.” Katanya.  “Aku mau tidur, jadi bangunkan aku ditempat kau akan turun.”

“Memangnya kau mau kemana?”

“Berkeliling kota.”

“Kau tidak bekerja? Kenapa jam kerja kau malah berkeliling kota.”

“Wajahku bukan wajah seorang pekerja kan? Aku orang yang menikmati hidup. Bukan orang yang mencari penghidupan.” Katanya sambil menyandarkan kepalanya di kursi dan melirik ke arahku.

“Jadi kau anak keluarga kaya raya yang manja dan hanya memanfaatkan uang orang tuamu untuk menikmati hidup?”

“Terserah penilaianmu saja.” Jawabnya kemudian menurunkan topinya sedikit untuk menutupi matanya.

Sekarang apa lagi? Apa yang kulakukan di sini? Duduk di bus bersama pria yang tidak kukenal, dan tidak kuketahui wajahnya. Dan aku juga membuka percakapan dengannya.

“Bangunkan aku saat kau akan turun. Arra?” Katanya.

“Arraseo!”




(Hari ini saya baru berpakaian sebagai author dan belum memakai pakaian editor, jadi cerita ini belum mengalami proses edit. Cerita ini murni pemikiran saya dan apabila ada alur cerita, tokoh dan kesamaan dalam hal apapun itu semua hanya sebuah kebetulan semata. terimakasih. Happy Reading :) 

No comments:

Post a Comment