"Mungkin besok aku tidak akan datang ke sini. Aku sangat berharap aku tidak datang. Jadi jangan mencariku."
Aku
teringat kata katanya. Waah mimpiku sangat hebat, bahkan dia bisa membuat
pengumuman pada mimpi sebelumnya untuk mimpi setelahnya.
Aku mulai sering bertanya tanya, apakah ini benar benar mimpi? Tapi mimpi ini
tidak seperti yang lainnya yang hanya bertahan di sebagian malamku dan esok
pagi aku akan melupakannya. Aku juga mulai menerka nerka apakah ini hanya
mimpi atau sebuah gambaran masa depan.
Aku semakin mengkhawatirkannya, kenapa dia tidak datang? Apa dia tidak mau
menemuiku lagi? Tapi kenapa. Bukankah alasan dia berada di sini adalah aku?
Paling tidak itu yang dia pernah katakan padaku.
Dan sekarang dia dengan seenaknya tidak datang setelah memaksaku masuk dalam
mimpi berkepanjangan ini.
Aku menutup notebookku dan mulai berjalan jalan di sekitar pepohonan itu.
Semuanya didominasi warna jingga yang cantik dengan daun daun maple yang
berguguran menyelimuti tanah cokelat setelah musim panas.
Udara di sini menyejukkan, terkadang aku sedikit kedinginan hingga harus mengelus
kedua lenganku dengan telapak tangan. Kupu kupu seharusnya jarang terlihat di
musim seperti ini. Tapi sekarang dia berada di hadapanku mengepakkan sayap
putihnya dengan tepian berwarna kuning dan beberapa bintik kecoklatan di tengahnya.
Aku terlalu asik memandang kupu kupu hingga dia terbang berkelok menuju sebuah
pintu gerbang yang tinggi. Pintu gerbang kuno dengan kayu yang terukir
indah.
Aku melihat sosok yang tidak asing di sana. Pria itu berjalan menjauh dari
pintu gerbang di depanku. Iyaa, Andrew… pria yang selalu duduk bersamaku dan
tertidur di sampingku. Pria yang mengatakan untuk tidak mencarinya dalam mimpi
kemarin.
Saat aku
berjalan masuk dan mencoba memanggilnya. Pintu itu dengan cepat tertutup.
Seperti tidak membiarkanku masuk. Aku memanggilnya berkali kali tapi Andrew
tetap tidak menoleh kepadaku. Dia hanya berjalan lambat menjauh dari gerbang
itu.
“Andrew!!!”
Aku terkejut dengan teriakanku sendiri. Mataku mengerjap ngerjap menjernihkan
pandanganku. Langit langit kamarku seakan
menyambutku ke dunia nyata.
“Ya
Tuhan, mimpiku berlanjut.”
Jam
dinding kamarku menunjuk pukul 11 malam. Aku tertidur 3 jam dan rasanya aku
sudah seharian berada di mimpiku.
“Ah, aku
lapar..” Aku segera bangkit dari ranjangku menuju dapur menyeduh segelas susu
hangat dan mengambil sepotong roti. Aku benar benar tidak yakin dengan mimpiku.
Apa ini hanya sebatas mimpi atau sebuah pertanda tentang sesuatu. Tapi Andrew
tidak datang, lalu apa yang Andrew lakukan di dalam gerbang itu?
Setelah
menghabiskan segelas susu dan rotiku, aku kembali lagi ke kamar melanjutkan
pertanyaan pertanyaanku tentang Andrew. Ini jelas saja keterlaluan. Pria yang
tidak ku kenal, pria yang tidak pernah kutemui sebelumnya, sekarang sedang
menyita pikiranku tentangnya. Tentu saja aku pikir aku sudah mulai sedikit
‘gila’.
****
“Ahjussi…
Ahjussi!!” Ahjussi supir bus itu sepertinya tidak mendengar teriakanku dari
jauh. Bawaanku terlalu banyak sehingga sulit untuk berlari kencang.
“Haish,
gara gara buku buku tebal ini aku tidak bisa mengejar bus. Lagipula siapa yang
mau membaca buku setebal ini. Kangsanim memang menyebalkan.” Aku berjalan
mendekati Halte. Pria bermasker dan bertopi itu sudah berada di sana sejak
tadi.
“Lagi?”
Dia tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Tatapan
mata mengejeknya sungguh membuatku kesal. Sudah dua kali ini dia duduk disini
dan menertawai keterlambatanku.
“Kenapa
tertawa?” Tanyaku pada pria bertopi dan bermasker hitam itu. “Kau menertawaiku?”
tanyaku lagi. Aku mulai kesal karena dia tidak berhenti tertawa dan
menggelengkan kepalanya.
“Kau
selalu terlambat mengejar bus. Tidak bisakah kau datang lebih cepat?” Ucapnya
dengan menahan tawa.
“Bukan
urusanmu.” Memangnya siapa dia berani menyuruhku ini dan itu. Terlambat
mengejar bus juga urusanku. Lagipula aku tidak bisa mengejar karena bawaanku
cukup berat hari ini jadi aku tidak selincah biasanya.
“Perlu ku
bawakan buku bukumu? Sepertinya kau kesulitan.”
“Tidak
usah aku bisa membawanya…” Pria ini, bisa saja membaca apa yang ada di pikiranku.
Mirip Andrew..
‘Ayolah
Stephanie, apa sekarang Andrew sudah jadi seseorang yang selalu kau ingat?’
“Perkenalkan
namaku Cho Kyuhyun.” Kata Pria itu menyodorkan tangan kanannya untuk
menjabatku.
“Maaf, Aku
tidak berkenalan dengan pria tidak jelas. Apalagi hanya ku temui di halte
dengan masker dan topi.” Jawabku sambil membenahi buku buku tebal di tas yang
ku jinjing. Aku tidak mempedulikannya lagi, tatapanku kembali mengarah pada
jalan raya menanti bus datang dan segera pergi dari pria menyebalkan ini.
Sepuluh menit
kemudian bus datang, aku benar benar kesulitan membawa buku buku ini naik.
Hingga seseorang menyerobot masuk dan merebut tas yang ku jinjing. “Sudah ku
bilang aku akan membantumu.” Setelah menaiki tangga bus satu persatu dia
mencari tempat duduk yang kosong, tepat di depan kursi paling belakang.
Matanya memicing tandanya
dia sedang tersenyum padaku dibalik masker hitamnya. Dia menepuk kursi di
sebelahnya. “Duduklah..” Memoriku terus saja mengacu pada Andrew. Tingkah
mereka sama.
Dengan
terpaksa aku duduk di sampingnya karena buku buku tebal yang ku bawa berada di
tangannya.
“Haahh,
akhirnya aku merasakan naik bus lagi.” Katanya.
“Aku mau tidur, jadi bangunkan aku ditempat kau akan turun.”
“Memangnya kau mau kemana?”
“Berkeliling kota.”
“Kau
tidak bekerja? Kenapa jam kerja kau malah berkeliling kota.”
“Wajahku
bukan wajah seorang pekerja kan? Aku orang yang menikmati hidup. Bukan orang
yang mencari penghidupan.” Katanya sambil menyandarkan kepalanya di kursi dan melirik
ke arahku.
“Jadi kau
anak keluarga kaya raya yang manja dan hanya memanfaatkan uang orang tuamu
untuk menikmati hidup?”
“Terserah
penilaianmu saja.” Jawabnya kemudian menurunkan topinya sedikit untuk menutupi
matanya.
Sekarang
apa lagi? Apa yang kulakukan di sini? Duduk di bus bersama pria yang tidak kukenal,
dan tidak kuketahui wajahnya. Dan aku juga membuka percakapan dengannya.
“Bangunkan
aku saat kau akan turun. Arra?” Katanya.
“Arraseo!”
(Hari ini saya baru berpakaian sebagai author dan belum memakai pakaian editor, jadi cerita ini belum mengalami proses edit. Cerita ini murni pemikiran saya dan apabila ada alur cerita, tokoh dan kesamaan dalam hal apapun itu semua hanya sebuah kebetulan semata. terimakasih. Happy Reading :)

No comments:
Post a Comment