Gerbang kayu
berwarna coklat keemasan itu sudah menenggelamkan pandanganku pada sosok Stephanie yang memutuskan untuk
pergi meninggalkanku. Kali ini benar benar tanpa negosiasi untuk saling
memperbaiki hubungan. Dia benar benar memutuskan untuk pergi.
Air matanya yang
keluar terakhir kali sungguh menyiratkan kesakitan yang benar benar baru aku
sadari. Begitu tertekannya dia dengan sikapku akhir akhir ini. Aku tidak
menyadari kekecewaan terkecilnya atau bahkan kesedihan yang berulang kali dia
coba sampaikan padaku.
Dia sering mencoba
untuk mengakhiri hubungan kami dan aku selalu menganggapnya sebuah keputusan
kekanak kanakan karena sebenarnya dia tidak benar benar menginginkannya. Dia
hanya mengancam atau menggertak sesaat dan pasti suatu saat dia akan kembali
lagi padaku.
Sekarang pada akhirnya aku sadar itu bukanlah
sebuah ancaman atau gertakan. Hatinya terlalu lembut untuk menggertakku ataupun
mengancamku. Dan kembali padaku setelah pertengkaran hebat adalah bukti dia
sungguh- sungguh mencintaiku dan selalu ingin memberiku kesempatan untuk lebih
saling memahami. Tapi lagi lagi aku membuat hatinya runtuh. Seandainya aku lebih membuka perasaanku, aku akan memahami sepenuhnya bahwa dia hanya ingin dimengerti…
tapi aku sudah terlambat.
Hari hariku
ternyata lebih terluka, hidup dalam ketidaksepahaman bersamanya bahkan lebih
baik daripada duduk di kursi ini sendirian. Resah merindukannya setelah saling
diam karena berbeda pendapat tetap lebih baik daripada meratapi kepergiannya.
Tetap saja hangatnya mentari senja yang
menembus jendela besar ruang kerjaku tidak bisa menghangatkan hatiku yang
kehilangan dia dan kali ini mungkin akan jadi selamanya.
Aku menutup
telingaku, agar aku hanya bisa mendengarnya. Mendengar segala yang dia
keluhkan, kesedihannya, kekecewaannya, Tapi aku menyadari aku sudah benar benar
terlambat.
Aku ingin menutup
mataku, agar aku hanya bisa membayangkannya. Melihat segala tingkah manjanya,
atau tingkah mengaturnya. Aku hanya ingin melihat dia menutup tirai jendela
kerjaku dan kami menghabiskan waktu bersama tertidur di pangkuanku. Aku benar benar hanya ingin melihat dia
berteriak padaku karena aku menggodanya. Sekali lagi, aku benar benar hanya
ingin membayangkan dia. Di sisiku…
Aku tidak bernafas
agar bisa merasakannya. Memegang kedua
tanganku agar bisa menyentuhnya. Menyentuh wajah sendu yang selalu mengeluarkan
ekspresi ekspresi bodoh. Menyentuh tangan halus yang selalu menggenggamku jika
ketakutan.
Bayangan bayangan
itu perlahan mulai kabur, meninggalkanku dalam kenangan yang tidak terbendung. Wajah Stephanie semakin jelas dalam pejaman
mataku dan terpatri kuat di gelombang otakku. Dan tubuhnya yang terasa nyata
selalu hadir dalam mimpiku.
Kenangan itu
semakin membuat aku hampir mati. Tapi aku bertahan … kenangan indah bersamanya telah cukup lama mempermainkanku, mengganggu
tidurku, menyusup ke dalam setiap aktifitasku. Aku benar benar tidak percaya
akan berakhir seperti ini. Begitu banyak
janji yang telah di buat bersamanya. Apa yang harus ku lakukan?

No comments:
Post a Comment