Sunday, June 28, 2015

Day Dream ( Sequel, Don’t Leave Me Stay with me!) #nulisrandom2015day28





Gerbang kayu berwarna coklat keemasan itu sudah menenggelamkan pandanganku pada sosok Stephanie yang memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Kali ini benar benar tanpa negosiasi untuk saling memperbaiki hubungan. Dia benar benar memutuskan untuk pergi.


Air matanya yang keluar terakhir kali sungguh menyiratkan kesakitan yang benar benar baru aku sadari. Begitu tertekannya dia dengan sikapku akhir akhir ini. Aku tidak menyadari kekecewaan terkecilnya atau bahkan kesedihan yang berulang kali dia coba sampaikan padaku.

Dia sering mencoba untuk mengakhiri hubungan kami dan aku selalu menganggapnya sebuah keputusan kekanak kanakan karena sebenarnya dia tidak benar benar menginginkannya. Dia hanya mengancam atau menggertak sesaat dan pasti suatu saat dia akan kembali lagi padaku.

 Sekarang pada akhirnya aku sadar itu bukanlah sebuah ancaman atau gertakan. Hatinya terlalu lembut untuk menggertakku ataupun mengancamku. Dan kembali padaku setelah pertengkaran hebat adalah bukti dia sungguh- sungguh mencintaiku dan selalu ingin memberiku kesempatan untuk lebih saling memahami. Tapi lagi lagi aku membuat hatinya runtuh.  Seandainya aku lebih  membuka perasaanku, aku akan memahami  sepenuhnya bahwa dia hanya ingin dimengerti… tapi aku sudah terlambat.

Hari hariku ternyata lebih terluka, hidup dalam ketidaksepahaman bersamanya bahkan lebih baik daripada duduk di kursi ini sendirian. Resah merindukannya setelah saling diam karena berbeda pendapat tetap lebih baik daripada meratapi kepergiannya.

 Tetap saja hangatnya mentari senja yang menembus jendela besar ruang kerjaku tidak bisa menghangatkan hatiku yang kehilangan dia dan kali ini mungkin akan jadi selamanya.

Aku menutup telingaku, agar aku hanya bisa mendengarnya. Mendengar segala yang dia keluhkan, kesedihannya, kekecewaannya, Tapi aku menyadari aku sudah benar benar terlambat.

Aku ingin menutup mataku, agar aku hanya bisa membayangkannya. Melihat segala tingkah manjanya, atau tingkah mengaturnya. Aku hanya ingin melihat dia menutup tirai jendela kerjaku dan kami menghabiskan waktu bersama tertidur di pangkuanku.  Aku benar benar hanya ingin melihat dia berteriak padaku karena aku menggodanya. Sekali lagi, aku benar benar hanya ingin membayangkan dia. Di sisiku…

Aku tidak bernafas agar bisa merasakannya.  Memegang kedua tanganku agar bisa menyentuhnya. Menyentuh wajah sendu yang selalu mengeluarkan ekspresi ekspresi bodoh. Menyentuh tangan halus yang selalu menggenggamku jika ketakutan.

Bayangan bayangan itu perlahan mulai kabur, meninggalkanku dalam kenangan yang tidak terbendung.  Wajah Stephanie semakin jelas dalam pejaman mataku dan terpatri kuat di gelombang otakku. Dan tubuhnya yang terasa nyata selalu hadir dalam mimpiku.

Kenangan itu semakin membuat aku hampir mati. Tapi aku bertahan … kenangan indah bersamanya  telah cukup lama mempermainkanku, mengganggu tidurku, menyusup ke dalam setiap aktifitasku. Aku benar benar tidak percaya akan berakhir seperti ini.  Begitu banyak janji yang telah di buat bersamanya. Apa yang harus ku lakukan?




 _AndrewCho_

No comments:

Post a Comment