Entah dari mana kabar tentangku
yang sedang sakit sampai di telinga Kyuhyun. Dia meneleponku saat aku sedang
tidur siang.
“Hye Rin-ah, Aku
tadi mampir ke kantormu dan katanya kau sakit? Kenapa tidak mengabariku?”
“Hanya
kelelahan.. aku baik baik saja. Mungkin setelah dua hari istirahat juga
sembuh.”
“Kau tidak ke
dokter?”
“Tidak usah,
aku sudah minum obat.”
“Kau mau apa
biar ku bawakan ke rumahmu?"
“Aku baik baik
saja Kyuhyun-ah, tidak perlu repot repot datang kemari.”
“HyeRin-ah,
tolong jangan seperti itu. Kau itu jarang sakit dan sekali sakit kau akan
sangat manja padaku. Jadi tolong perintah aku sesukamu seperti dulu.”
“Sekarang berbeda Kyuhyun-ah..“
"Karena aku
sudah menikah?“Tanyanya tepat mengenai maksud dari perkataanku. Aku diam, tidak
menjawab pertanyaannya.“Hye Rin-ah, jebal. Hentikan pembicaraan tentang
statusku. Aku sebentar lagi ke apartemenmu. Kau ingin ku bawakan apa?”
“Tidak usah Kyuhyun-ah..”
Kyuhyun
menutup teleponnya cepat dan setengah jam kemudian Kyuhyun sudah berada di
kamarku dengan setumpuk makanan dan buah buahan. Dia menatapku yang terbaring
lemah di tempat tidurku. Tempat Kyuhyun juga sering mengistirahatkan tubuhnya
jika lelah berada di kantor atau malas pulang ke rumah.
“Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku..”
Aku
memandangnya dan tersenyum menenangkan “Aku sebentar lagi sembuh, kau tenang
saja. Sudah ku bilang tidak perlu datang. Aku jadi merepotkanmu.”
“Kau panas
begini. Ayo ke rumah sakit!” Kyuhyun memegangi dahi dan leherku yang masih
berada di temmperatur 40 derajat celcius.
“Tidak usah… kau
pulanglah. Sebentar lagi Eomma datang. Aku tidak ingin dia memikirkan hal yang
tidak tidak tentang kita.”
“Maksudmu? Eomma kan tahu kita bersahabat.” Jelas Kyuhyun
“Dulu, tapi sekarang Kau sudah beristri Cho Kyuhyun-sshi.”
Jawabku lagi
“Hish, itu lagi yang selalu kau bahas..”
“Memangnya apa lagi.. Sudah pulanglah..istrimu pasti
menunggu di rumah.”
****
(Cho Kyuhyun pov)
Aku tahu betul
apa yang dilakukan Hye Rin, dia hanya kehilangan sahabatnya karena pernikahan.
Dia mungkin terpukul, tapi aku baru menyadari itu setelah aku menikah. Wajah sedihnya
dalam pernikahan membuatku merasa bersalah padanya. Tapi bagaimanapun bukankah
hal ini juga nanti akan terjadi. Kalaupun bukan aku dulu yang menikah, pasti
dia dulu yang akan menikah.
Aku juga baru menyadari, pernikahan
ini membuatku tidak bisa bertemu dengannya sebebas dulu. Bermain basket bersama
di lapangan dekat kantornya, minum kopi untuk sekedar bercerita pekerjaannya
yang melelahkan, pergi ke bar kalau dia sedang merindukan kebisingan atau
sekedar mengunjunginya di apartemen dan menumpang istirahat di rumahnya.
Tentu saja daftar kegiatan itu tidak
lagi bisa ku lakukan bersamanya. Di rumahku sudah ada istriku yang menungguku
dengan cantik. Yang akan membawakan tas serta melepas jas kerjaku. Berbagi
cerita tentang pekerjaanku yang membosankan. Hanya saja, aku tidak bisa bermain
basket bersama istriku. Hal ini yang akhir akhir ini ku rindukan. Dulu setiap
minggu aku selalu bermain basket bersama Hye Rin setelah jogging hingga
setengah siang. Kali ini, tiap minggu aku bersama istriku pergi berbelanja atau
hanya bermalas malasan di rumah.
Aku kehilangannya? Benar…aku benar
benar kehilangannya seiring waktu. Tapi ini memanglah resiko yang harus kuambil
untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang penuh komitmen. Park Yoon Ji,
istriku. Dia adalah gadis yang kusukai sejak aku masuk kuliah. Tapi dia benar
benar tidak pernah menatapku sebentar saja. Bahkan menatap, menoleh saja tidak
akan sudi. Aku memang cukup tampan di kampus, tapi apa gunanya pria tampan yang
kutu buku, yang tidak membawa mobil ke kampus, dan yang tidak sekeren pria pria
yang mengincarnya. Dia termasuk gadis popular
di kampus, anggota tim teather di departemenku yang sering mendapatkan peran
utama di tiap pementasannya.
Lalu bagaimana aku bisa menikahinya? Tentu saja
ini atas bantuan orang tuaku. Aku memang tidak meminta bantuannya secara
langsung untuk menikahkanku dengan Yoon Ji. Mereka hanya mengatur sebuah kencan
buta dengan anak kawan bisnis Ayahku. Dan sangat kebetulan ternyata gadis yang
dipasangkan denganku adalah Yoon Ji. Bukankah kebetulan yang sangat hebat?
Lalu
bagaimana bisa dia menatapku? Ya itu pertanyaan selanjutnya. Aku memang masih
kutu buku, tapi penampilanku lebih parlente, pekerjaanku sangat bagus, dan bisnis
ayahku berkembang pesat. Mungkin Yoon Ji terkesan materialis bagi semua orang,
tapi bukankah semua wanita memang memikirkan hal hal semacam itu untuk mencari
pendamping hidupnya. Aku juga tidak pernah keberatan jika memang karena
kondisiku sekarang ini yang membuatnya
menjadi jatuh cinta padaku.
_TBC_
(day 6-7 ternyata nggak posting buat #nulisrandom2015, sebenernya udah nulis tapi mentok nggak selesai. Dua hari ini emang agak butek pikirannya. Sorry tapi udah bukan karena ngegalauin mantan atau kepo kepo twitter orang sih..wahaha ini malah jadi curreal 'curhat real' )

No comments:
Post a Comment