Monday, June 8, 2015

Unfulfilled Dreams (#nulisrandom2015_day 8)










Entah dari mana kabar tentangku yang sedang sakit sampai di telinga Kyuhyun. Dia meneleponku saat aku sedang tidur siang.

        “Hye Rin-ah, Aku tadi mampir ke kantormu dan katanya kau sakit? Kenapa tidak mengabariku?”
      
  “Hanya kelelahan.. aku baik baik saja. Mungkin setelah dua hari istirahat juga sembuh.”
       
“Kau tidak ke dokter?”

 “Tidak usah, aku sudah minum obat.”

 “Kau mau apa biar ku bawakan ke rumahmu?"

“Aku baik baik saja Kyuhyun-ah, tidak perlu repot repot datang kemari.”

“HyeRin-ah, tolong jangan seperti itu. Kau itu jarang sakit dan sekali sakit kau akan sangat manja padaku. Jadi tolong perintah aku sesukamu seperti dulu.”

“Sekarang berbeda Kyuhyun-ah..

"Karena aku sudah menikah?“Tanyanya tepat mengenai maksud dari perkataanku. Aku diam, tidak menjawab pertanyaannya.“Hye Rin-ah, jebal. Hentikan pembicaraan tentang statusku. Aku sebentar lagi ke apartemenmu. Kau ingin ku bawakan apa?”

“Tidak usah Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menutup teleponnya cepat dan setengah jam kemudian Kyuhyun sudah berada di kamarku dengan setumpuk makanan dan buah buahan. Dia menatapku yang terbaring lemah di tempat tidurku. Tempat Kyuhyun juga sering mengistirahatkan tubuhnya jika lelah berada di kantor atau malas pulang ke rumah.

“Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku..”

Aku memandangnya dan tersenyum menenangkan “Aku sebentar lagi sembuh, kau tenang saja. Sudah ku bilang tidak perlu datang. Aku jadi merepotkanmu.”

“Kau panas begini. Ayo ke rumah sakit!” Kyuhyun memegangi dahi dan leherku yang masih berada di temmperatur 40 derajat celcius.

“Tidak usah… kau pulanglah. Sebentar lagi Eomma datang. Aku tidak ingin dia memikirkan hal yang tidak tidak tentang kita.”

“Maksudmu? Eomma kan tahu kita bersahabat.” Jelas Kyuhyun

“Dulu, tapi sekarang Kau sudah beristri Cho Kyuhyun-sshi.” Jawabku lagi

“Hish, itu lagi yang selalu kau bahas..”

“Memangnya apa lagi.. Sudah pulanglah..istrimu pasti menunggu di rumah.”

****
(Cho Kyuhyun pov)
Aku tahu betul apa yang dilakukan Hye Rin, dia hanya kehilangan sahabatnya karena pernikahan. Dia mungkin terpukul, tapi aku baru menyadari itu setelah aku menikah. Wajah sedihnya dalam pernikahan membuatku merasa bersalah padanya. Tapi bagaimanapun bukankah hal ini juga nanti akan terjadi. Kalaupun bukan aku dulu yang menikah, pasti dia dulu yang akan menikah.

          Aku juga baru menyadari, pernikahan ini membuatku tidak bisa bertemu dengannya sebebas dulu. Bermain basket bersama di lapangan dekat kantornya, minum kopi untuk sekedar bercerita pekerjaannya yang melelahkan, pergi ke bar kalau dia sedang merindukan kebisingan atau sekedar mengunjunginya di apartemen dan menumpang istirahat di rumahnya.

          Tentu saja daftar kegiatan itu tidak lagi bisa ku lakukan bersamanya. Di rumahku sudah ada istriku yang menungguku dengan cantik. Yang akan membawakan tas serta melepas jas kerjaku. Berbagi cerita tentang pekerjaanku yang membosankan. Hanya saja, aku tidak bisa bermain basket bersama istriku. Hal ini yang akhir akhir ini ku rindukan. Dulu setiap minggu aku selalu bermain basket bersama Hye Rin setelah jogging hingga setengah siang. Kali ini, tiap minggu aku bersama istriku pergi berbelanja atau hanya bermalas malasan di rumah.


          Aku kehilangannya? Benar…aku benar benar kehilangannya seiring waktu. Tapi ini memanglah resiko yang harus kuambil untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang penuh komitmen. Park Yoon Ji, istriku. Dia adalah gadis yang kusukai sejak aku masuk kuliah. Tapi dia benar benar tidak pernah menatapku sebentar saja. Bahkan menatap, menoleh saja tidak akan sudi. Aku memang cukup tampan di kampus, tapi apa gunanya pria tampan yang kutu buku, yang tidak membawa mobil ke kampus, dan yang tidak sekeren pria pria yang mengincarnya.  Dia termasuk gadis popular di kampus, anggota tim teather di departemenku yang sering mendapatkan peran utama di tiap pementasannya. 

         Lalu bagaimana aku bisa menikahinya? Tentu saja ini atas bantuan orang tuaku. Aku memang tidak meminta bantuannya secara langsung untuk menikahkanku dengan Yoon Ji. Mereka hanya mengatur sebuah kencan buta dengan anak kawan bisnis Ayahku. Dan sangat kebetulan ternyata gadis yang dipasangkan denganku adalah Yoon Ji. Bukankah kebetulan yang sangat hebat? 

        Lalu bagaimana bisa dia menatapku? Ya itu pertanyaan selanjutnya. Aku memang masih kutu buku, tapi penampilanku lebih parlente, pekerjaanku sangat bagus, dan bisnis ayahku berkembang pesat. Mungkin Yoon Ji terkesan materialis bagi semua orang, tapi bukankah semua wanita memang memikirkan hal hal semacam itu untuk mencari pendamping hidupnya. Aku juga tidak pernah keberatan jika memang karena kondisiku  sekarang ini yang membuatnya menjadi jatuh cinta padaku. 





_TBC_

(day 6-7 ternyata nggak posting buat #nulisrandom2015, sebenernya udah nulis tapi mentok nggak selesai. Dua hari ini emang agak butek pikirannya. Sorry tapi udah bukan karena ngegalauin mantan atau kepo kepo twitter orang sih..wahaha ini malah jadi curreal 'curhat real' )

No comments:

Post a Comment