Author : Cho Anna
Genre :
Romance, Drama
Cast :
Cho Kyuhyun
Kim Min Young
Lee Dong Hae
Other Cast :
Find by your self
Kyuhyun yang duduk di bangku depan ruangannya membiarkan Dong Hae berlalu di hadapannya, Kyuhyun tidak akan menyangka persahabatannya dengan Dong Hae akan dibumbui dengan perebutan seorang wanita. Andai saja wanita itu bukan Kim Min Young, andai saja dia tidak mencintai Min Young, andai saja calon tunangan Dong Hae bukan Kim Min Young, maka semuanya akan baik baik saja.
“Min Young, nan gwaencanha?” Tanya
Kyuhyun saat Min Young keluar dari ruangannya dengan wajah lemas.
“Ini semua karena kau..” Kata Min Young lemah.
Min Young segera pergi ke lab kelompok mengambil tasnya dan langsung beranjak pulang. Teman teman di lab memandangnya heran, kenapa wajahnya begitu murung dan tidak enak dilihat, tapi mereka membiarkan Min Young pulang. Tubuhnya terhuyung keluar dari lab, berjalan lemas tanpa arah. ‘Apa Dong Hae akan memutuskan pertunangan kita? apa Eomma dan Ahjussi akan marah padaku? Apa aku menyakiti Dong Hae? Apa aku akan mengecewakan Eomma dan Ahjussi jika Dong Hae membatalkan pertunanganku?’ pertanyaan pertanyaan itu yang muncul di pikiran Min Young saat berjalan keluar.
“Kim Min Young-sshi kau mau kemana? Kembali ke lab sekarang!” Kyuhyun menghentikan langkah Min Young yang hendak menuruni tangga. Tapi dia berjalan lagi, tidak peduli dengan kata kata Cho Kyuhyun.
“Kim Min Young-sshi!” Kyuhyun memanggilnya lagi dan Min Young tetap berjalan.
“Kim Min Young-sshi! Kim Min Young-sshi, kau akan melalaikan tugasmu?” Tanya Kyuhyun yang akhirnya membuat Min Young menyerah untuk tetap berjalan. Kyuhyun menghampirinya, menarik tangannya ke ruangan Kyuhyun.
“Kau tidak bisa seperti ini, Cho Kyuhyun!” Teriak Min Young melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun saat mereka sudah sampai di ruangan Kyuhyun.
“Kenapa tidak bisa? Kau yang membuat masalahnya menjadi seperti ini, kalau saja mulut cerewetmu itu tidak asal bicara, Dong Hae tidak akan tahu. Lagipula bagus juga kalau dia tahu.”
“Mworago?? Apanya yang bagus? Hah?”
“Kau tidak tahu? Kau benar benar tidak tahu?” Tanya Kyuhyun.“Lupakan saja!! Sudah kembali saja ke lab sekarang!” Perintahnya.
“Tidak, aku akan pulang. Aku ingin mengundurkan diri saja dari penelitian ini!! Haish, kau membuatku pusing.” Min Young memegang gagang pintu dan bersiap keluar. Tapi Kyuhyun menahan satu tangannya.
“Kau boleh pulang sekarang, tapi jangan pernah berniat keluar dari penelitian ini, paham! ” Kata Kyuhyun berubah lembut. Min Young hanya berusaha melepaskan tangannya dari Kyuhyun dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Ku tunggu besok pagi di lab kelompok, Kita akan survey kau ingat? Jangan pernah berpikir untuk tidak datang atau ku seret kau ke kampus besok pagi.” ancam Kyuhyun.
***
(Min Young pov)
Kenapa semuanya jadi semakin rumit
seperti ini? Aku tidak pernah berniat membuat Dong Hae terluka. Tapi semuanya
terjadi begitu saja diluar kuasaku. Aku
mencoba menghubungi Dong Hae tapi tidak diangkat, mengiriminya pesan tidak
dibalas, bahkan dibacapun tidak. Aku pergi ke apartemennya, dia tidak ada, dia
pasti belum pulang. Bagaimanapun aku harus bicara padanya, atau kalau tidak aku
tidak akan bisa tidur semalaman.
Aku mengunjungi rumah sakitnya, tapi kata perawat, Dong Hae sudah pergi sejak siang tadi.
Bar? Jam segini bar tentu saja belum
buka. Tapi pasti dia akan kesana nanti, Iya dia akan kesana.
Aku menelepon Cho Im, memintanya
menemani ke bar. Tapi Cho Im menolak karena ibunya sedang sakit, ia ingin menjaga
ibunya. Apa aku harus senekat ini? Seorang wanita ke bar sendirian, bukankah
terlalu bahaya.
Aku tidak peduli, aku harus minta maaf
pada Dong Hae. ‘Aish, siapa sih yang daritadi meneleponku.’
Aku membuka handphoneku dan mendapati nama Cho Kyuhyun di panggilan tidak terjawab. Aku mendengus, dia masih saja meneleponku setelah semua ini. Bukankah dia seharusnya mengejar Dong Hae dan meminta maaf kalau dia telah mencium tunangan sahabatnya. Kenapa dia malah meneleponku berkali kali.
Ini baru jam setengah Sembilan, dan
bar buka jam sebelas. Aku tidak mungkin pulang atau aku tidak akan bisa keluar
lagi. Walaupun ini demi Dong Hae, keluar di jam malam tidak akan diperbolehkan
oleh Eomma ataupun Ahjussi. Kabur dari rumah? Itu bukan keahlianku, Lagipula
ada Soo Young, Soo Young itu penjilat, sangat suka jika aku dimarahi oleh
Eomma. Aku mengirim pesan pada Eommaku kalau aku akan pulang larut karena tugas
dalam penelitian belum selesai.
Aku pikir lebih baik aku ke rumah Han
Cho Im dulu untuk meminjam baju dan menunggu sampai jam 11 tiba , karena tidak
mungkin ke bar dengan baju kuliahku seperti ini.
“Memangnya kenapa kau mau ke bar?
Bukannya kau tidak suka ke tempat tempat seperti itu?”Tanya Cho Im.
“Jadi begini….” Aku menceritakan semua permasalahan yang terjadi diantara aku dan Dong Hae yang juga melibatkan Cho Kyuhyun.
“Jadi Cho Kyuhyun menciummu? Waah, aku
tidak bisa percaya..kalian memang sedekat itu kan sebelum dia jadi dosen kita
di kampus. Aku sudah curiga pada kalian berdua sejak dia kena alergi udang” Han
Cho Im mencecarku dengan pertanyaan pertanyaannya.
“Ah soal itu, akan ku ceritakan lain waktu, aku sudah hampir terlambat. Terimakasih bajunya, apa aku terlihat cantik?”
“Apa penting sekarang? Yang penting kau bertemu dengan Dong Hae kan? Tapi apa tidak terlalu bahaya kau sendirian ke bar? Apa perlu ku temani saja ya? Kalau Eommaku sudah tidur kita bisa pergi.”
“Tidak usah, Eommamu sedang sakit, jangan tinggalkan sendirian. Nan Gwaencanha..”
“Segera kembali kalau kau tidak melihat Dong Hae disana. Bar bukan tempat yang aman untuk gadis sepertimu.” Cho Im menasehatiku.
“Nee,, aku pergi dulu. Sudah jam 11 lebih…” Aku segera beranjak dari tempat tidur Cho Im menuju mobilku yang terparkir di halaman depan, menstaternya, melaju melewati jalanan malam kota Seoul. Bahkan jam segini Seoul belum sepi.
Aku pernah masuk ke bar ini dua tahun
yang lalu, saat merayakan kelulusan SMA. Aku berbohong pada Eomma kalau aku
akan berlibur bersama teman teman di pulau jeju. Aku memang kesana tapi
keesokan harinya. Bukan tengah malam.
Setelah memarkirkan mobilku di
basement, aku berjalan masuk. Aku memakai rok diatas lutut dan kaos tanpa
lengan, tapi kututup mantel bulu sepanjang lutut. Rambutku kubiarkan tergerai
dengan sebuah bando hitam diatasnya. Aku hanya memakai bedak dan lipstik
tipis, tidak mau terlalu mencolok karena
tujuanku adalah mencari Dong Hae bukan menebar pesona.
Dengan langkah berani aku masuk ke bar
dan mencari ke sekeliling meja untuk mencari Dong Hae. Aku melihat di
sekeliling pintu masuk, tapi tidak menemukannya. Aku mencoba masuk lebih dalam
ke ruang lain, memeriksa satu persatu meja. Aku tidak menemukannya dimanapun.
Aku tidak menemukan pria yang sedang menyesap wine sendirian.
“Apa dia tidak ke bar? Atau dia belum datang?” Lalu aku teringat Han Cho Im untuk segera pergi dari bar kalau aku tidak menemukan Dong Hae.
Aku masih memandang sekeliling, melihat ke lantai dansa bahkan Dong Hae tidak ada di sana. Aku hampir putus asa tidak menemukan Dong Hae dimanapun, tapi kemudian mataku menangkap bayangan itu, seorang namja yang duduk di meja bartender sendirian, baju itu yang dipakai Dong Hae tadi di kampus. Aku segera mendekat padanya... tapi sebelum aku sampai, ada seorang gadis menempelinya. Langkahku terhenti. Dong Hae bahkan tidak menolak gadis itu bergelayut di tubuhnya.
“Kau mau champagne nona cantik?” Samar
samar aku mendengar Dong hae bicara pada gadis itu. Gadis itu menggeleng.
“Apa kau sedang merayakan sesuatu? Aku ingin Sex on the beach…” katanya.
Gadis itu duduk bersebelahan dengan Dong Hae. Aku melihat Dong Hae tersenyum padanya dan tidak ragu menyentuh pinggangnya.
“Apa kau sedang merayakan sesuatu? Aku ingin Sex on the beach…” katanya.
Gadis itu duduk bersebelahan dengan Dong Hae. Aku melihat Dong Hae tersenyum padanya dan tidak ragu menyentuh pinggangnya.
Aku tentu saja Syock dengan pemandangan semacam itu di depan mataku, bingung akan melanjutkan langkahku lagi atau perlahan mundur selangkah demi selangkah lalu berbalik.
‘Jadi ini yang dilakukannya selama di bar? Ini yang dia lakukan?’ aku terus saja berpikir keras, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mundur selangkah demi selangkah sampai ada seorang pria mabuk menabrakku dan marah marah membuat Dong Hae menoleh pelan.
Dong Hae menengok ke arahku, mendapatiku sedang berdiri di belakangnya memandang mereka.
Dia berdiri dari kursinya menatapku.
“Kim Min Young-sshi, apa yang kau lakukan disini?” Aku tidak menjawab, hanya menggeleng pelan, tidak kuat menahan sesuatu dari mataku yang akan mendesak keluar. Aku segera berbalik arah dan meninggalkan Dong Hae yang berdiri mematung. Tak lama setelahnya, aku merasa tanganku digenggam.
“Kim Min Young-sshi, aku bisa jelaskan..” Dong Hae menggenggam pergelanganku erat sampai seseorang datang pada kami.
“Sudah ku bilang berhenti melakukan
ini Dong Hae-ya!!” Kyuhyun datang dan memukul wajah Dong Hae tepat di wajahnya.
Dong Hae tersungkur jatuh karena dia mungkin sudah setengah mabuk.
***
(Cho Kyuhyun pov)
AKu hampir terlelap di sofa ruang tengah apartemenku saat layar handphoneku menyala. Aku mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Benarkah?” Tanyaku, aku langsung membuka lebar lebar mataku dan segera meraih jaket dan kunci mobil.
“Anak itu benar benar!!” aku menancap gas mobilku dalam dalam, pergi ketempat sahabat orang yang meneleponku baru saja. Setelah sampai di parkir basement, aku segera turun dan menuju bar. Aku benar benar tidak habis pikir apa tujuan gadis itu kemari. Kenapa dia begitu ingin bertemu Dong Hae sampai harus menemuinya di bar.
Aku melihat semua yang Min Young lihat, Dong Hae sedang bersama gadis itu, dan tidak ragu gadis itu bersandar mesra di bahu Dong Hae. ‘Aaaish, benar kan.. Dong hae selalu bermain dengan wanita jika mabuk.”
“Sudah ku bilang berhenti melakukan ini Dong Hae-ya!! Apa kurang puas pukulan kemarin” Kyuhyun datang dan memukul wajah Dong Hae tepat di wajahnya. Dong Hae tersungkur jatuh, aku tahu dia sudah mabuk jadi mudah sekali tumbang.
“Ayo pulang!” Aku membawanya keluar dari bar menuju parkiran, lebih tepatnya aku menariknya menuju parkiran, jalannya terseok seok mengimbangi jalan cepatku sambil memegangi roknya yang sedaritadi menjadi pusat perhatian laki laki di sana. Setelah sampai di parkiran aku melepaskan genggamanku di pergelangannya. Min Young meringis kesakitan, aku pikir aku menggenggamnya terlalu erat.
“Apa kau sudah gila hah? Kenapa kau
malam malam ke sini? Kau tahu kan tempat ini bahaya untuk wanita sepertimu!!” Aku
memarahi Min Young yang hanya menunduk.
“Yak, lihat aku bicara!” Min Young terus saja menunduk, aku melihat cairan bening menetes turun melewati wajahnya. “Kau menangis?” Tanyaku padanya.
Min Young semakin terisak ketika ku tanya, kuputuskan menariknya ke mobil agar orang orang tidak melihat dia menangis bersamaku. Atau mereka akan menatapku karena membuat wanita menangis. Aku pasti terlihat sangat brengsek.
“Kapan kau akan berhenti menangis?” Tanyaku. Min Young malah mengencangkan isakannya.
“Baiklah kuantar kau pulang!” Kataku, lalu menyalakan mesin mobilku.
“Lalu mobilku?” Min Young kesini membawa mobil, tidak mungkin dia tinggalkan di sini. “Nanti pakai jasa sopir saja untuk mengambil mobilmu.”
“Tapi Kangsanim, aku tidak ingin pulang dengan baju dan keadaan seperti ini. Pasti Eomma akan marah padaku.”
“Lalu kau mau bagaimana?”
“Antar saja aku ke rumah Cho Im, aku akan tidur di sana.”
Min Young menelepon Han Cho Im setelah
dia sampai di depan rumahnya, tapi Han Cho Im tidak mengangkatnya.
“Bagaimana?”Tanyaku yang melihatnya putus asa menelepon sahabatnya puluhan kali.
“Dia pasti sudah tidur..” Jawab Min Young sambil memandang layar handphonenya. Aku menawari tempat tinggalku untuk tempatnya menginap malam ini. Tapi dia menolak.
“Lalu kau mau kemana? Kalau kau tidak mau, lebih baik kuantar kau pulang saja.” Aku menyalakan mesin mobilku dan melaju cepat di jalanan Seoul yang sudah mulai sepi.
“Baiklah, ke apartemenmu saja. Tapi jangan pernah lakukan apapun padaku!” Min Young mengancamku. Aku terkekeh geli..
“Baiklah, memangnya apa yang akan ku lakukan padamu? Otakmu itu yang berpikiran macam macam.”Jawabku
“Lagipula besok pagi kita akan melakukan survey, jangan terlambat bangun!”
Min Young mengangguk pelan dan memalingkan wajahnya dari arahku.
“Apa kau dan Dong Hae selalu seperti
itu di bar?” Min Young membuka percakapan setelah sepuluh menit kami diam. Aku
menggeleng,” Dong Hae tidak seperti itu.”
“Lalu?”
“Dia bukan orang yang suka mengencani wanita di bar, dia hanya terlalu ramah pada setiap orang.” Jawabku “Dong Hae itu ‘nothing to lose’, ketika merasa mendapat kesempatan dia akan melakukan, tapi jika tidak dia tidak akan mencari cari kesempatan itu. Aku pikir gadis itu yang mendekatinya tadi dan sama seperti kemarin malam. Wanita mana yang tidak mengincar Dong Hae. Semuanya terpesona dengan keramahannya. Hah, kau sangat beruntung menjadi tunangannya.”
“Apa kau pikir aku seberuntung itu? Tapi tunggu, Kemarin malam?” Min Young
mempertanyakan penjelasanku. Dan sepertinya aku salah, seharusnya aku tidak memberitahukannya.
“Ah tidak, hanya saja aku kemarin melihatnya di bar dan aku memukulnya.” Jawabku singkat. ”Kau mau makan dulu sebelum pulang? Kau pasti belum makan” Aku mengubah topic pembicaraanku tentang Dong Hae.
Setelah kejadian ini, aku memutuskan untuk bersaing dengan Dong Hae, tapi sekalipun begitu, aku tidak mau dengan cara menjelek jelekannya didepan Min Young.
“Ini kamarmu…” Aku menunjukkan kamar tamu untuk ditinggali Min Young malam ini. “Itu remote ACnya, ini remote tv, ini lampu tidurnya. Ah iya, kau harus tidur, jangan menonton Tv. Kita ada acara besok pagi!”
“Ne, Kangsanim..” Jawab Min Young patuh. Aku segera keluar dari kamar Min Young menuju kamarku. Menutup tirai, berganti pakaian, dan mematikan lampu agar segera tidur.
***
(Author pov)
Kyuhyun mengetuk pintu kamar Min Young berkali kali, benar benar sesuai dugaan. Min Young masih saja tidur di balik selimut tebalnya. Menyerah mengetuk pintu akhirnya Kyuhyun masuk ke kamar Min Young yang tidak terkunci, menggoyang goyangkan tubuh Min Young agar bangun dan sepertinya cara itu juga gagal.
“Anak ini benar benar!” Kyuhyun hampir putus asa membangunkan Min Young. Selimut yang melapisi tubuhnya ditarik. Rok pendeknya tersingkap naik ke atas memperlihatkan paha mulusnya yang tanpa gores sedikitpun. Menyadari pemandangan yang tidak seharusnya itu, Kyuhyun kembali melempar selimutnya ke tubuh Min Young. Sadar tubuhnya terlempar sesuatu, Min Young terbangun.
“Mwo ya? Kenapa wajah Cho Kangsanim yang ada dalam mimpiku.” Min Young mengerjap ngerjapkan matanya. Dan pandangannya semakin jelas. Wajah itu bahkan tidak hilang walaupun dia sudah sadar sepenuhnya.
“Aigo.. apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Min Young sambil menyilangkan tangan di kedua bahunya. Kyuhyun semakin mendekat, menundukkan tubuhnya mendekati kepala Min Young.. “Hajima! Hajima Cho Kyuhyun..Hajima!” Min Young berteriak sambil memejamkan matanya. Rasanya dahinya telah menyentuh sesuatu.
“Kau pikir aku mau melakukan apa? Dasar, otakmu itu kotor sekali!” Kyuhyun mendorong kepala Min Young dengan jari telunjuknya. “ Cepat mandi, kita hampir terlambat!”
“Bagaimana tidak berpikiran kotor, kau saja bisa menciumku seenaknya!” Min Young segera berlari menuju kamar mandi membawa selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. “Yak Yak Yak, kau pikir aku akan tergoda dengan tubuhmu! “ Kyuhyun membuka lemari mengambil beberapa baju wanita untuk Min Young pakai dan meninggalkan kamar Min Young.
**
“Kau punya banyak baju wanita, ini milik kekasihmu?” Tanya Min Young menuruni tiap anak tangga setelah memilih salah satu baju yang cocok dengannya. Kyuhyun berada di anak tangga terbawah sedang menuangkan teh ke dalam cangkir mereka.
“milik Noona.” Ucap Kyuhyun singkat dan mengambil roti panggang untuk membuat beberapa sandwich.
“Mobilku di mana?” Tanya Min Young mengambil sandwich yang Kyuhyun sodorkan padanya.
“Mobilku di mana?” Tanya Min Young mengambil sandwich yang Kyuhyun sodorkan padanya.
“Kita satu mobil saja aku tahu kau baru tidur sebentar. Tidak akan ku biarkan kau menyetir.” Kyuhyun mengambil tas kerjanya dan menarik Min Young yang masih sibuk dengan sarapannya. “Sudah hampir terlambat, ayo!”
Perjalanan ke kampus menghabiskan
waktu kurang lebih 20 menit, Pagi hari jalanan Seoul jelas sangat ramai dengan
mobil dan pejalan kaki. Min Young jadi teringat kejadian semalam. Tapi kenapa
ada Kyuhyun di sana?
"Kangsanim, bagaimana kau bisa di bar semalam? Kau ingin ke bar juga?” Min Young penasaran. Kenapa mereka sangat kebetulan berada di sana.
“Cho Im meneleponku. Dia bilang dia khawatir padamu.” Jawab Kyuhyun tanpa menoleh pada Min Young.
“
Han Cho Im?” Min Young memastikan, Kyuhyun mengangguk pelan, membelokkan mobilnya ke gerbang kampus menuju tempat parkir gedung departemennya.
Han Cho Im?” Min Young memastikan, Kyuhyun mengangguk pelan, membelokkan mobilnya ke gerbang kampus menuju tempat parkir gedung departemennya.
.
“Lalu apa yang akan kau lakukan pada
Dong Hae?” Kyuhyun berjalan masuk ke gedung departemen bersama dengan Min Young.
“Molla, aku tidak ingin membahasnya sekarang. Aku masih tidak habis pikir dengannya. Bayangkan wanita itu meminta sex on the beach. Hah, gadis itu!” Min Young mempercepat langkah kakinya mengimbangi irama langkah Cho Kyuhyun. Kyuhyun hanya tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Kau punya handphone? "
"Ne..." Min Young mengeluarkan smartphone canggihnya dari dalam tas dan memperlihatkan pada Cho Kyuhyun.
"Kau bisa cari sex on the beach di situ... hahaha kau itu polos sekali." Kyuhyun meninggalkan Min Young yang masih tidak mengerti.
“Sunbae!” Seorang gadis mengenakan rok
hitam dan atasan blazer merah menyala berdiri dari duduknya di depan ruangan
Kyuhyun menyapanya dengan gembira seolah mereka akhirnya bertemu setelah sekian
lama.
“Hye Rin-ah? Waah apa kabarmu? Ada
yang bisa ku bantu? Masuklah…” Kyuhyun tersenyum melihat kedatangan Hye Rin di
kampusnya kemudian membimbingnya menuju ruangan Kyuhyun.
Min Young yang mematung di depan mereka kemudian mendapat perhatian dari Kyuhyun.
Min Young yang mematung di depan mereka kemudian mendapat perhatian dari Kyuhyun.
“Min Young-sshi, kau ke lab saja dulu. Nanti aku menyusul.”
Kyuhyun segera menutup pintu ruangannya, meninggalkan Min Young yang masih berdiri di depan pintu.
“Ne, Kangsanim.” Jawab Min Young melangkahkan kaki kaki kecilnya menuju ruangan diatas sana.
(Min Young pov)
“Ne, Kangsanim.” Aku melangkahkan kaki kaki kecilku menuju lab kelompok, mempersiapkan kertas kertas survey dan menunggu Cho Kyuhyun datang.
Ini sudah lewat 30 menit setelah Kyuhyun menyuruhku pergi ke lab terlebih dahulu. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum sampai juga. Pertemuan para anggota keluarga ODS akan selesai satu jam lagi di Yayasan ODS care.
Lagipula gadis itu siapa sih? Apa junior Kyuhyun? Mereka terlihat sangat dekat. Sampai Kyuhyun saja memanggilnya Hye Rin ah. Aish..kenapa aku jadi semakin penasaran?
“Min Young, Mianhae aku sama sekali tidak dengar kau meneleponku semalaman. Lalu kau semalam tidur di mana?”
“Di rumah Cho Kangsanim.”
“Mwo??”
“Kau kan yang memberitahunya aku ada di bar, jadi tidak usah kaget begitu.”
“Daebak, beruntungnya kau!”
Pintu Lab dibuka kasar oleh Cho Kyuhyun,
sudah jadi kebiasaannya membuka pintu seenaknya membuat semua anggota timnya
tersentak kaget. Lebih kagetnya lagi dia membawa gadis itu di pertemuan kami.
“Selamat pagi semuanya, apa segala sesuatunya sudah siap?”
“Ne, kangsanim..”
“Ah iya, aku perkenalkan.. Ini adalah Kim Hye Rin. Dia seorang Psikolog di rumah sakit Busan. Kami satu sekolah di Swedia beberapa tahun lalu. Dan sekarang beliau akan membantu kita dalam survey. “
“Anyeong Hasseo Seonsaengnim.” Sapa kami padanya.
(Author pov)
Setelah melakukan technical meeting dan ditambah beberapa instruksi dari Cho Kyuhyun dan Kim Hye Rin, anggota tim segera pergi menuju tempat pertemuan para keluarga ODS (Orang dengan Skizofrenia) dengan menggunakan mobil yang disediakan kampus. Sementara Cho Kyuhyun dan Kim Hye Rin dengan mobil pribadinya.
“Apa hubungan mereka hanya sebatas
senior dan junior? Melihat ekspresi Kyuhyun bertemu dengannya saja sangat
berbunga bunga. Berbeda sekali jika berurusan denganku. Wajahnya pasti langsung
seperti balok es, kaku dan dingin.” Min Young berbisik pada Han Cho Im di kursi
paling belakang.
“Kau cemburu?”
“Mworago? Malddo Andwae ! Apa kau tidak penasaran sepertiku? Kau kan lebih tergila gila padanya daripada aku”
“ Mmm… sedikit!” Jawab Cho Im sambil menempelkan jari telunjuk dengan ibu jarinya dan memicingkan mata kirinya. Han Cho Im kembali pada aktifitasnya membuka buka lembar survey serta berlatih memberikan instruksi dan tidak begitu mempedulikan celotehan sahabatnya.
Min Young masih saja berpikir dan kadangkala mendengus kencang hingga teman teman tim nya jengkel karena mereka semua sedang berlatih memberikan instruksi.
“Yak, memangnya harus se kaku itu. Berikan instruksi sesantai mungkin dan tidak usah berbelit belit. Mereka umumnya bukan dari orang yang berpendidikan tinggi jadi pakai saja istilah umum yang biasa dipakai.” Kata Min Young memberikan penjelasan kepada rekan timnya.
Kepalanya disandarkan ke kursi dan wajahnya menatap ke jalanan yang sudah tidak terlalu ramai. Perhatiannya tidak lagi tertuju pada survey hari ini. Tapi pada mobil yang membawa dua orang yang kini berhenti tepat di sebelah mobil yang membawanya. Persimpangan ini cukup sibuk pada jam jam aktif perkantoran.
Tapi aku bisa menangkap senyum dibalik kaca mobil putih itu, yang berhasil menyita seluruh perhatian Min Young. Wajah itu bisa tertawa lepas bersama seseorang di sampingnya.Senyum saat dia bersama Cho Ahra atau saat bersama ayahnya. Akhirnya Min Young melihatnya lagi. Tapi hatinya mengkerut, tidak bisa dipungkiri Min Young sedikit kecewa karena orang itu bukanlah dia. Tapi apa pedulinya? Memangnya kenapa kalau bukan Min Young. Toh tidak ada pengaruhnya.
Kyuhyun terus saja memalingkan wajahnya ke seseorang yang berada di sampingnya dan sesekali melihat ke jalanan dengan tertawa. Sejenak Kyuhyunpun menyadari mobil di sampingnya adalah mobil yang membawa timnya. Dan bingo… Kyuhyun mendapati Min Young sedang memperhatikan mereka di dalam mobil,sesegera mungkin Min Young membuang pandangannya ke depan. Sayangnya, Kyuhyun telah menangkap basah tatapan itu.
Setelah melanjutkan perjalanan sekitar
30 menit. Akhirnya mereka sampai di sebuah gedung yang masih berada di
lingkungan rumah sakit Jiwa “Gwang Jang”, dan bertemu dengan para keluarga ODS
yang sedang melakukan pertemuan program pemerintah dan pembekalan penanganan
keluarga ODS.
Pertemuan ini dilakukan rutin setidaknya 3 bulan sekali dan bertujuan untuk membekali keluarga beberapa cara menangani ODS yang sudah dinyatakan sembuh atau melakukan rawat jalan agar symptom symptom yang sudah hilang tidak dengan mudah muncul lagi di kemudian hari.
Pertemuan ini dilakukan rutin setidaknya 3 bulan sekali dan bertujuan untuk membekali keluarga beberapa cara menangani ODS yang sudah dinyatakan sembuh atau melakukan rawat jalan agar symptom symptom yang sudah hilang tidak dengan mudah muncul lagi di kemudian hari.
Tim penelitian akan diberi waktu saat
pembekalan telah selesai jadi mereka masih bisa mempersiapkan segala hal dengan
sempurna.
“Ini pengambilan data, jadi pastikan
semua pertanyaan survey dijawab. Karena walaupun dari 120 pertanyaan tersebut ada yang tidak
di jawab satu nomer saja. Maka lembar survey ini tidak bisa tindak lanjuti dan itu
artinya kita kehilangan satu subjek. Itu sangat disayangkan. Mengerti?” Kata
Cho Kangsanim pada timnya.
“Ne, Aegesseumnida!” Jawab mereka
serempak.
“Baiklah kalau begitu, segera
laksanakan dengan baik.”
“Ne, Kangsanim..”
Tugas memberikan instruksi di berikan
kepada Han Cho Im, dan yang lain akan melakukan pembagian kuisionaire / Lembar
survey. Mereka semua bekerja keras untuk pengambilan data ini. Tidak terkecuali
ketua tim ini, Kim Min Young. Selain melakukan tugasnya dengan baik sebagai
pengorganisir timnya, dia juga masih memiliki kesempatan untuk mencuri
perhatiannya kepada Cho Kangsanim dan Hoobaenya. Mereka terlihat sangat akrab
dan tidak terpisahkan bahkan saat mengawasi timnya mengambil data.
***
(Min Young Pov)
“Akhirnya selesai juga.” Ucapku sambil
membawa ratusan lembar hasil survey di tanganku dan memasuki ruang persiapan.
“Apa tidak apa apa aku memakai
kuisioner mu?”
“Memangnya kenapa? Kita sudah berada
di bidang ini beberapa lama dan kita tahu hal itu diperbolehkan. Kau juga tidak
perlu repot membuat kuisioner jika memang sudah ada yang membuat ini
sebelumnya.”
“Kau benar, jika sudah dimudahkan,
kenapa kita harus mempersulit?”
“Kau benar, lagipula kuisioner ini
cocok untuk penelitianmu juga kan? Pakailah.”
“Baiklah Sunbae, Aku benar benar
berterimakasih padamu.”
“Tidak usah begitu, aku sangat senang
bisa membantumu. Kau bisa memberikan alamat emailmu padaku Nanti malam akan ku
kirimkan filenya padamu.”
Aku sengaja menahan langkahku dan ingin
mendengar lebih banyak. Dan sepertinya aku tahu maksud dari perbincangan mereka.
Aku masih berdiri di depan pintu dengan ratusan lembar kertas saat akhirnya
pintu ruang persiapan di buka oleh Cho Kyuhyun yang di susul oleh Kim Hye Rin.
“Ada apa kau disini?” Tanya Kyuhyun seolah menginterogasiku
“Aku mau meletakkan ini, tapi sepertinya anda sedang berbicara dengan Kim Hye Rin Seonsaeng jadi aku menunggu di sini.” Jawabku sambil memperlihatkan kertas yang bertumpuk di kedua tanganku.
“Masuk saja, lagipula tidak ada pembicaraan penting.” Jawab Cho Kyuhyun dengan ekspresi tidak pedulinya.
“Eoh? Ne..aegesseumnida.” Aku segera masuk ke ruang persiapan dan meletakkan kertas kertas itu di kotak plastik. Aku mendengar samar samar Nona Kim Hye Rin pamit pulang pada Cho Kangsanim. Jadi tujuannya kemari hanya untuk mendapatkan ijin memakai kuisioner kami? wanita itu benar benar!
“Haish, penderitaan belum berakhir
walaupun kau sudah terisi penuh hai kertas kertas!” Aku mengomel sendiri dengan
kertas survey yang ku bawa tadi. Mencoba melupakan percakapan antara Cho
Kangsanim dan wanita itu.
“Jadi bagimu ini penderitaan,nona
Kim?” Tanya seseeorang dengan suara tegas yang kental dalam ingatanku.
“ Eoh? Kangsanim… bukan begitu.” Jawabku terkejut.
“Sudahlah, terserah kau saja mau menyebutnya apa. Aku sudah memberi kesempatan mundur untukmu saat itu tapi kau tidak mau. Jadi nikmatilah penderitaanmu ini sampai akhir!” Jawabnya senyuman mengejek dan berlalu dari ruang persiapan.
“Cho Kangsanim!”
“Wae?” Cho Kyuhyun berhenti di depan pintu dan menoleh kepadaku.
“Tentang percakapan kalian tadi..”
“Wae? Ada apa dengan percakapan tadi.”
“aku benar benar minta maaf karena
telah mendengar semuanya.”
“Jadi?”
“Eeem…”
“Sudah lah, percakapan tadi bukan
sebuah rahasia. Jadi kau tenang saja.”
“Kau akan memberikannya begitu saja?”
“Apa maksudmu?”
“Kuisioner kita?”
“Memangnya apa yang salah? Dalam
penelitian kita bisa mengambil angket, skala atau kuisioner dari siapapun, kita
juga bisa memodifikasi sesuai kebutuhan kita.”
“Semudah itu setelah perjalanan panjang kami?”
“Anggap saja kita berbuat baik pada
orang lain.”
“Tapi kami bekerja keras untuk
penyusunan kuisioner ini Kangsanim.”
“Kami? Maksudmu tim penelitian? Lalu
aku? Aku yang punya hak atas penelitian ini dan kuisioner itu. Kalian
ditugaskan untuk membantu dan meringankan beberapa tugasku dengan kompensasi
yang sesuai. Kau masih mau menyebut ini hasil kami?”
“Tapi Kangsanim…”
“Kau harusnya tahu ini bukan hanya
tentang penelitian dan kehebatan alat ukurmu. Tapi juga manfaat untuk
kedepannya, manfaat untuk orang lain setelah penelitian ini. Atau bagaimana
orang lain akan mengembangkan penelitian ini. Apa kau akan sangat pelit
memberikan kuisionermu?”
“Apa karena dia juniormu yang cantik?”
“Kau ini semakin tidak masuk akal..”
“Atau karena kau menyukainya?” entah
kenapa lidahku tidak bisa menahan semua perasaanku. Rasanya pertanyaan
pertanyaan ini berkecamuk di hati dan otakku
“ Kim Min Young-sshi. Aku pikir kau
sedang cemburu sekarang!”
“Apa?”
“Kau cemburu pada Kim Hye Rin?”
Kyuhyun menahan tawanya sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanan.
“ Kangsanim, sepertinya anda salah
paham. Maaf, kalau kata kataku salah. Aku akan membantu pekerjaan teman teman
yang lain. Permisi..” Ucapku dan berlalu pergi. Tapi Kyuhyun menarik lengan
kananku. Mencengkeram kuat membuatku sedikit sakit.
“Aaw…” Kyuhyun segera mengendurkan
cengkeramannya setelah mendengar jeritan kecil dari mulutku. Dia tersenyum
asimetris.
“Kau cemburu kan?”
“Gzzz, yang benar saja. Tidak akan!”
“Tapi sepertinya begitu?” Katanya di dekat telinga kiriku.
“Tidak..jangan suka menerka nerka.”
“Oppamu ini sangat mengerti ekspresi
wajahmu.”
“Hish, jangan pernah menyebut dirimu
oppa lagi Cho Kyuhyun-sshi!”
“Wae? Apa sekarang aku bukan oppamu
lagi?”
“You’ve made it! Kau yang sudah
membuat dirimu bukan oppaku lagi.”
“Bukankah lebih baik begitu?”
“Maksudmu?”
“Maksudku adalah…” Kyuhyun menarik
tanganku lagi, lebih dekat ke tubuhnya. Kini kami hanya berjarak sepersekian
centi. Dan tubuhku sudah mengeluarkan gejala psikologis, jantungku berdebar kencang dan mulai kepanasan. Aku tidak mau kejadian beberapa saat yang
lalu terulang lagi, jadi aku menundukkan wajahku serendah rendahnya. Tapi
Kyuhyun tidak hilang akal. Dia menarik sedikit rambutku ke belakang
“Aaak Appo..” Aku menegakkan posisi
kepalaku dan memekik karena sedikit sakit.
“Yak, kau sedang mencari uang di
lantai?”
“Anniyo..”
“Lalu?” Kyuhyun tiba tiba melepaskan
cengkeramannya dan sedikit mendorongku ke belakang. Haish, dasar orang aneh.
Mau apa sebenarnya dia.
(Author pov)
“Lalu apa? Hah? Kau menarikku dan
mendorongku seenaknya seperti ini. Kau pikir aku mainan bisa kau tarik kemudian
kau dorong.” Min Young yang terlihat sangat kesal diperlakukan bak mainan oleh
Kyuhyun tidak menyadari kehadiran rekan rekan timnya di belakang. Mereka tentunya
terkejut dengan pemandangan di depan mereka, Cho Kangsanim dan Min Young yang
hanya berjarak beberapa millimeter dan tingkah Min Young yang bicara informal
dengan Cho Kangsanim.
“Ayo semuanya cepat bersiap dan kita
kembali ke kampus.” Kata Kyuhyun mengalihkan suasana canggung di ruang
persiapan dan tanpa menunggu lagi mereka segera membereskan perlengkapan dan
membawanya menuju mobil.
“Aish, matilah aku!”
Tatapan Han Cho Im dan rekan rekan Min
Young yang lain mengandung arti “Apa yang kau lakukan dengan Cho Kangsanim di
sini?” Atau “Berani beraninya kau menggoda Kangsanimku!” dan mungkin ada yang
menatap Min Young dengan pertanyaan “Aaa, Jadi kalian punya hubungan Khusus?”
“Ayo, segera bereskan perlengkapan
kita. Aku akan membawa ini” Kata Min Young meredam tatapan tatapan penuh arti
itu dan membawa setumpuk kertas yang sudah dimasukan dalam keranjang plastik
agar segera terhindar dari pertanyaan mereka.
“Kim Min Young-sshi…” Panggil Cho
Kyuhyun sambil menggerakkan kepalanya kearah mobilnya sebagai tanda Min Young
harus ikut bersamanya. Min Young menggeleng dan segera memasukkan keranjang
plastiknya ke dalam mobil. Untuk menghindari pembicaraan yang tidak penting
dengan Kyuhyun. Min Young berencana masuk ke ruang perlengkapan lagi untuk
membantu rekan rekannya. Tapi Kyuhyun bergerak lebih cepat menarik tangan Min
Young masuk ke mobilnya.
“Yak, Kenapa sih kau selalu bertindak
sesukamu?”
“Diam lah.” Kyuhyun mengambil
handphone nya dan memberitahu supir mereka untuk membantu membereskan
perlengkapan di ruang persiapan.
“ Aku bisa membantu mereka! Mereka
sudah melihat kita tadi, lalu apa yang akan mereka pikirkan tentangku kalau aku
ikut pulang bersamamu.”
“Kau itu terlalu banyak memikirkan
pikiran orang lain. Lagipula siapa yang akan mengajakmu pulang bersama. Aku
ingin kau memesankan tempat untuk kita makan siang.”
“Kita? Berdua?”
“Tim kita…”
“Aaa, aku pikir…” Min Young menggigit
bibir bawahnya.
“Kau mau kita makan berdua saja? Kau
berpikiran seperti itu..? Hahaha…”
“Aniya..”
“Baiklah, kalau kau mau kita makan
berdua saja. Kau mau makan dimana? Kita bisa membungkusnya untuk mereka.”
“Tidak usah…kita makan bersama saja.”
“Aah, tapi sepertinya aku terlalu
lapar kalau menunggu mereka. Biarkan mereka sampai di kampus dulu dan kita
makan berdua.”
“Lalu mereka?”
“Kita bisa membungkusnya untuk
mereka..”
“Ya sudah terserah kau saja.”
Min Young dan Kyuhyun masuk ke
restoran dan memesan beberapa makanan.
“Permisi, apa menu ini bisa tanpa
udang?” Tanya Min Young pada pelayan pencatat menu pesanan.
“Ne….”
“Kalau begitu kami pesan 2, dan yang 1
tanpa udang.”
“Baiklah, mohon tunggu sebentar.”
Pelayan dengan kemeja putih itu berlalu dari meja kami.
“Bagaimana dengan Dong
Hae?”
“Entahlah, lalu hubunganmu?”
“Dengan?”
“Dong Hae.. pertemanan kalian.”
“Aku rasa baik baik saja. Bukankah
harusnya minggu depan kalian bertunangan..”
“Entahlaah, apa aku harus bertunangan
dengannya atau tidak.”
“Kau mencintainya?”
“Aku menyukainya..”
“Cinta?”
“Cinta bisa bertumbuh seiring waktu.”
“ Kau benar! Cinta bertumbuh seiring
waktu. Bahkan sampai waktu waktu bersama cinta itu telah habis. Dia masih
bertumbuh…”
“Kau sedang membicarakan Hye Rin
Seonsaeng?”
“ Kalau kau rasa begitu, yaa Anggap
saja begitu…”
“Kau benar benar mencintainya?”
“AKu menyukainya..”
“Cinta?”
“Kenapa kau membalikan pertanyaanku? Huh?”
“Jadi?”
“Kau cemburu?”
“Jebal!, sudah berapa kali aku bilang
aku tidak pernah cemburu padamu. Lalu kenapa kau menanyakan Dong Hae? Apa kau
juga cemburu jika aku kembali dengannya.”
“Eoh!”
“Eoh?”
“Bukankah kau tadi bertanya padaku.
Aku sudah menjawabnya.”
“Aku sedang lapar Cho Kangsanim,
biarkan aku makan dulu sebelum kau mengoceh yang tidak jelas.”
“Jadi jawabanku kurang jelas?”
“Jadi kau cemburu padaku?” Kyuhyun hanya
menggeleng mendapat pertanyaan itu “Lalu?”
“Aku cemburu pada Dong Hae.”

No comments:
Post a Comment