Sajak Rindu
Aku rindu seseorang
dengan kaos putih birunya menjemputku untuk kencan pertama. Menggunakan sepeda
motor pinjaman dan mengajakku ke sebuah taman dengan berbagai bentuk lampion. Kita
saling bicara di bawah langit malam dengan dua buah bintang. Aku ingin
menyebutnya bintang kita.. tapi aku masih terlalu malu. Itu kencan pertama…
Aku rindu seseorang
mengajakku ke pantai Parangtritis untuk merayakan ulangtahunku. Aku lupa yang
keberapa.. Saat itu dia memberiku sebuah kotak berwarna biru muda dengan pita
biru tua. Isinya adalah sebuah mug, berwarna cokelat dengan ucapan yang cukup
singkat. Sayangnya aku benar benar membantingnya dan pecah menjadi dua karena marah
padanya. Tapi aku masih menyimpannya sampai sekarang..
Aku jadi teringat,
aku pernah jatuh pingsan di pelukannya saat kami selesai berbelanja di sebuah
supermarket. Aku terlalu lelah setelah berjalan jalan bersamanya dan menahan
dismenorku yang sangat menyakitkan. Setelah itu dia menjagaku sepanjang hari.
Aku merindukan
seseorang, yang selalu datang padaku, menjagaku saat aku mengalami dismenor
setiap bulan, dan menepuk nepuk perutku sambil berkata “Cepet sembuh ya?”
Aku rindu seseorang,
yang memberiku resep “Pindang Karamel.” Dia pernah sekali memasaknya untukku
saat aku sedang sibuk sibuknya mengerjakan deadline laporan akhir praktikum
Observasi dan Wawancara. Setelah itu, aku yang selalu memasak untuknya resep
itu. Seiring banyak waktu berlalu, aku sering memasak dan makan bersamanya.
“Enak?” Dia selalu dan selalu bilang “enak..” dan aku menyadari itu. Masakanku
memang cukup bisa diperhitungkan. Tapi Suatu saat eksperimen memasakku gagal.
Aku memasak ayam krispi dan ternyata bagian dekat tulang belum sepenuhnya
matang. “Aku pasti abisin. Apapun dan bagaimanapun masakanmu” Jawabnya. Dan dia
memakannya sampai habis. Aku saja yang memasak tidak melanjutkan makanku.
Suatu saat kami ingin pergi ke
pantai di Gunung Kidul, dia memintaku untuk memasak saja. Kayaknya lebih so
sweet. Entah agar lebih so sweet atau lebih irit sebenarnya tujuan kami membawa
bekal. Yang jelas kami berbelanja bersama dan aku memasak setelahnya. Tapi gara
gara seruas jahe masakanku jadi hancur. Dia mengatakan padaku “Ini adalah
masakanmu yang paling nggak enak.” Jujur saja aku kecewa mendengarnya. Saat aku
bilang “Yaudah nggak usah dimakan, kita makan di luar aja.” Dia menarik mangkuk
masakanku. “Yaudah dimakan aja, walaupun rasanya kayak gini kan aku tetep mau
makan.”
Aku ingat
pertengkaran tidak bermutu ini, dia sudah menjemputku setelah aku jatuh dari
sepeda motor di ringroad utara sepulang kampus. Setelah itu dia memijat kakiku
yang keseleo. Ah iya, bukan memijat, dia hanya mengoles cream anti nyeri. Lalu
pulang ke kosnya. Lalu malam hari aku meminta dia untuk membelikan indomie.
Nah, salah paham terjadi di sini. Maksudku adalah “Mas, Tolong beliin indomie
goreng (di warung burjo).” Karena dengan kondisiku saat itu, tidak mungkin aku
bisa ke dapur dan memasak Indomie sendiri. Aku harap dia paham tanpa ku
beritahu. Tapi dia mengintepretasinya
“Tolong beliin indomie goreng (mentah, di warung atas kontrakanku dan aku akan
memasak sendiri). Sampai di kontrakan, setelah aku berharap dia akan membawa
Indomie siap santap ternyata dia membawa dua buah mie instan. Disitu
pertengkaran terjadi. “Kamu itu harusnya tahu aku lagi sakit mana bisa masak
mie..” “Kamu tuh harusnya ngomong yang jelas dan blab blab blab blab…” Setelah
kawanku mendengar cerita tentang pertengkaran kami, dia hanya tertawa.. ”kalian
itu lucu! ” Dan dia selalu meledekku dengan cerita ini.
Aku selalu merindukan
seseorang, yang selalu menggerak gerakkan kakinya saat duduk atau berbaring.
Tangannya kanannya memegang handphone, dan tangan kirinya bermain rambut di
kepalanya. Kemudian menghampiriku, mengambil remote tv dan memukulnya ke
dahiku. Lalu saling membalas dan akhirnya u*il selalu bertindak sebagai senjata
terakhir. Kalau sudah begini aku bakal teriak “Jorok!!!”
Aku merindukan
seseorang yang tidak pernah mau diganggu acara futsal rutinnya. “Aku senin
sparring futsal, perginya selasa aja ya.” “Pilih aku apa futsal?” “Futsal dulu
baru kamu.” Aku sudah terbiasa dengan kalimat itu. Sakit hati? Awalnya, tapi setelah
jauh mengenalnya aku sadar interest dia memang di futsal. Aku tidak akan jadi perusak
minatnya.
Sama halnya dengan
malam Minggu, aku kadang heran kenapa Manchester United selalu bertanding pada
malam Minggu. “Aku mau nonton MU, Aku pulang dulu ya?”
Aku sudah terbiasa
dengan kata kata itu. Aku marah padanya pun tidak akan membuatnya tetap
bersamaku. Seperti katanya lagi “Kamu itu setelah MU. Kalau MU nomer 4 berarti
kamu nomer 5.” Aku tahu dia sedang membicarakan tentang klasemen. Dan aku akan
meledeknya“Aku fans Chelsea, jadi aku nomer satu. Lalu kami akan menjadi musuh chat
dalam semalam. “Apa kamu? dasar fans
karbitan, apa kamu? dasar fans setan..”
Pagi hari aku selalu
mengecek hasil pertandingan MU dengan rivalnya di smartphoneku. Kalau MU
menang, aku akan mengaku kalau aku mendukung MU semalam. Kalau kalah aku
mengucapkan selamat pagi dengan kata “Selamat pagi, Perlu dipukpuk?” Aku tidak
bermaksud untuk mengejeknya. Aku hanya mencoba tertarik dengan apa yang dia
sukai. Aku pikir aku tidak perlu menyukai MU untuk bersama dengan seorang
United Army. Aku hanya perlu mengerti apa yang dia sukai. “Dasar fans
karbitan!” Balasnya.
Aku merindukan
seseorang, yang setelah futsal terkadang menumpang mandi di kontrakan. Setelah
dia selesai menggunakan kamar mandi. Aku pasti melihat air di bak mandi sudah
seperti susu. “Kamu mandi apa berendem di bak sih? Kok bisa airnya jadi kaya
gitu.” Dia cuma tertawa “Mandiku emang kaya gitu, iya, maaf maaf.”. Aku memang
mengomel padanya, tapi aku jadi semakin tahu kebiasaan kebiasaan tentang dia.
Aku tidak bisa marah kalau begini.
Ini nih kalo kita lagi
sama sama kehabisan uang, aku rindu banget. Dia selalu datang pagi hari dan
membawa dua bungkus mie instan dan dua telur atau kadang hanya satu telur. “Kok
telurnya cuma satu?”tanyaku setelah membuka plastik hitam yang dibawaku ke
dapur. “Yaudah dijadiin satu aja masaknya.” Jawabnya dari ruang tv.
“piringnya?Aku males nyuci banyak banyak. Jadiin satu aja ya?” “Iyaa..”
jawabnya lagi.
Ini tingkah
kekanakan kami kalau lagi makan. Aku selalu melindungi laukku dari dia. Karena
bisa jadi tangannya atau sendoknya dengan cepat mengambil lauk milikku. “Apa
sih?Kamu kan punya sendiri” Aku menggerutu kesal. Dia pernah mengambil satu
buah tahu goreng yang sedari tadi aku sayang sayang untuk ku makan, karena
merasa bersalah dia pergi membeli tahu ditempat yang sama untuk mengganti
tahuku yang dia makan.
Ini yang ingin sekali aku tanyakan dibalik seluruh kerinduanku padanya. "Apa kamu benar benar tidak memiliki perasaan yang sama lagi? Semudah itu kah? Setelah perjalanan panjang yang kita lalui? Aku tahu masih banyak yang kurindukan tentangmu yang tidak bisa kutulis. Menyusuri malioboro sambil menggenggam es krim misalnya, atau pesan singkatmu yang berkata 'De, ini udah 3 hari loh, masa mau diem dieman aja?' Benarkah kau semudah itu melupakan kenangan kenangan selama hampir tiga tahun ini? Apa jarak benar benar menyiksamu? Apa jarak memutuskan perasaanmu begitu saja? Ah iya, aku mungkin terlalu agresif ketika tidak ingin berpisah. Tapi aku cukup beralasan. Karena kita telah bersama untuk sekian waktu yang lama. Mengenal orang lain lagi pasti akan sangat melelahkan. Saling memahami lagi pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kita hanya perlu memperbaiki cara kita saling mencintai dan memahami. Yang menjadi tidak beralasan adalah ketika ada seseorang yang bertindak sangat agresif untuk memilikimu, tapi dia tidak pernah berjuang selayaknya aku"

No comments:
Post a Comment