Siang itu aku mendapat sebuah pesan dari Shafira isinya kurang lebih begini “Mbak, jemput dong.” Ini baru jam 11.00 tapi Shafira sudah minta dijemput, Oiya aku lupa kalau dia sedang Ujian Kenaikan Kelas. Karena tidak banyak kegiatan di rumah, segera aku melajukan Xeon Merah kesayangan menembus jalanan Banjarnegara yang tidak begitu ramai. Aku berhenti di depan sebuah SMA dimana aku pernah menjadi bagian di dalamnya. Iya benar, SMA Negeri 1 Banjarnegara, orang orang biasa menyebutnya Smansabara atau SMA mBanjar.
Aku agak lupa bentuk depan sekolahku dulu tapi yang jelas tidak seindah sekarang.
Tentu saja perkembangan pembangunan terjadi seiring berjalannya waktu. Kalau di lihat ke dalam sekolah, aaish sudah sangat sangat berbeda. Area hijau lebih banyak daripada saat aku belajar di sana. Ruang kelas X ku dulu sudah berubah, sepertinya dirombak menjadi ruang kesiswaan. Dan apa kabar kelas reot XI IPA 3? Apa yang terjadi padamu? Dan kelas XII IPA 3 ku di lantai tiga yang luasnya sejagat raya. Apa sisa bagian belakangmu masih semultifungsi dulu? Haha..kalau kalian anggota Alfreth (All Friends in Science Three) pasti tau maksud dari multifungsi yang kubicarakan. Tapi tunggu sebentar, aku tidak akan membahas tentang perkembangan fisik almamater SMA ku. Aku hanya ingin membagi sedikit kenangan tentang bagaimana aku pulang sekolah saat masih duduk di kelas X.
Aku menunggu Shafira di depan gerbang keluar persis. Rasanya ada yang hilang di sini, rasanya lebih lengang dan jalanan terasa lebih luas. Di deretan aku menunggu adikku keluar dari sekolahnya. Aku teringat kendaraan yang mengantarku pulang sekolah selalu berderet deret rapi di sini dan di seberang jalan sana.
****
Kami berlima adalah Anna Fahda, Witantra Dhamar Hutami, Geubri Bilqis Syakura, Lisa Adina Pratiwi dan Antusias Dwi Hayati. Kami saling mengenal sejak satu kelas di SMP dan karena rumah kami satu arah jadi kami selalu pulang bersama jika tidak ada kegiatan setelah sekolah. Kendaraan yang selalu membawa kami pulang ke rumah adalah delman atau di daerahku sendiri biasa disebut ‘dhokar’. Bagi murid murid di angkatan dua ribu yang belum belasan seperti kami naik dhokar / delman adalah hal yang biasa dan yang jelas sangat menyenangkan. Selain bisa mengobrol santai karena satu delman akan kami kuasai, naik delman juga lebih bisa mendapat udara segar daripada naik angkot biru atau naik mikro (bis satu pintu) yang pasti berdesakan karena jam pulang sekolah.
Kami berlima berbeda kelas, jika bel sekolah berakhir setiap dari kami akan berlari keluar sekolah mencari delman yang masih kosong. Delman, dulu adalah salah satu alternatif kendaraan untuk pulang sekolah para siswa yang tujuannya adalah Banjarnegara kota, entah dari SMA ku ataupun sekolah sebelah. Jadi mencari delman adalah salah satu aktifitas yang harus dilakukan secepatnya atau kita akan kehabisan stok delman yang sedang nge-tem di depan sekolah.
Kami sering berlomba untuk segera sampai di delman yang akan kami naiki, berlari dari koridor depan kelas hingga pintu gerbang hanya untuk berebut tempat duduk. Tempat di belakang kusir (orang yang mengendarai delman ) hanya memuat empat orang sedangkan kami berjumlah lima orang, jadi salah satu dari kami harus rela duduk di depan bersama sang kusir, dengan pemandangan bagian belakang kuda yang kadang suka buang hajat dan kentut kentut sembarangan. Bagi kami duduk di depan adalah suatu ketidak beruntungan. Jadi kami harus lomba berlari agar mendapat tempat di belakang kusir.
Pernah suatu hari, kekonyolan perlombaan lari itu membuat kami hampir tertabrak mikro karena mengejar delman yang sedang parkir di seberang sekolah. Dengan memasang muka tidak bersalah kami menghentikan langkah kami di tengah jalan setelah mendapat klakson kencang dari sopir mikro itu, kami syok saling memandang tapi kemudian tertawa bersama, padahal kami baru saja membahayakan nyawa kami .
Obrolan diatas delman juga tidak kalah menyenangkan, membahas apapun yang telah kami lalui sepanjang di sekolah tadi. Lisa, Gebi dan Usi turun di perempatan ‘fresnel’ atau prapatan buntil, lalu Tantra turun di Kepatihan, dan akhirnya aku turun di terminal delman pasar, atau kalau beruntung aku bisa turun di perempatan Krandegan dengan melobi si bapak Kusir. “Pak lewat prapatan Krandegan nggih?”
***
“dek, kok sekarang jarang ada dhokar ya?” Tanya ku pada Shafira.
“Ada kok, sering lewat sini..” Jawabnya sambil membawa makanan kecil yang baru saja dia beli di tangannya
“Maksudku yang nge-tem di sini..”
“Ngapain? Nggak ada yang naik dhokar sekarang mbak.”
“Masa sih?”
“Iyaa, Nggak ada.”
“Kenapa? Kan asik naik dhokar? Gengsi ?”
“Dari aku sekolah di sini nggak ada murid yang naik dhokar mbak, jadi sampe sekarang aku juga nggak pernah naik dhokar pulang sekolah.”
“Ah padahal asik dek..”
Adikku tidak terlalu peduli pertanyaan pertanyaanku, dia mengambil helm yang kusodorkan padanya, memakai nya dan membonceng di belakangku. Aku pun mengakhiri obrolan kecil itu dan segera melajukan sepeda motorku ke rumah.
Aku jadi berpikir, kenapa anak anak SMA jaman adikku tidak mau naik delman seperti anak anak jamanku. Tentu saja karena jaman telah berubah, entah karena gengsi yang tinggi atau karena delman akan memakan terlalu banyak waktu sampai di tempat tujuan. Mengingat jaman sekarang mobilitas tiap orang sudah sangat tinggi. Jadi tidak banyak waktu untuk duduk santai di delman dan mengobrol banyak hal. Ah iya, dulu belum ada smartphone, jadi kami bercerita tanpa ada gangguan notifikasi atau sekedar mengecek media sosial.
Yang jelas kenangan itu kurindukan, pemandangan siswa berseragam putih abu abu diatas delman yang saling menyalip atau beriringan di sepanjang jalan Suprapto, kantor PLN, Alun alun Banjanegara hingga pasar induk Banjarnegara.

No comments:
Post a Comment