“Kau datang lagi?” Tanyaku pada seorang pria mengenakan
kemeja bermotif papan catur yang sudah ku pantau akhir akhir ini dia sering
mengambil tempat ternyamanku.
“Memangnya kenapa? Ini kan tempat umum.”
“Tapi kenapa harus di sini. Ini tempatku bersantai dan
menulis.”
“Oh, jadi kau penulis?” Dia tidak mempedulikan alasan alasan
yang ku lontarkan padanya.
“Tidak, hanya hobi saja..” Dengan bodohnya aku juga menjawab
pertanyaan itu.
“Siapa namamu?” Tanyanya dengan tatapan mengerikan penuh
intimidasi. Aku hanya diam dan mengacuhkannya, sibuk dengan tas dan beberapa peralatan yang kubawa.
“Salam kenal Stephanie, aku Andrew..” Jawabnya menjadi berubah ramah seketika. Tapi bagaimana dia tahu namaku?
"Aku tahu semua tentangmu." Jawabnya lagi. Astaga dia bisa membaca pikiranku.
"Kau pikir aku bisa membaca pikiranmu? Haha, yang benar saja. Kau ini lucu sekali." Dia berucap lagi, Lalu kenapa dia masih saja membaca pikiranku?
"Baiklah, aku berhenti melakukannya.." Dia berpaling dari wajahku dan berjalan kecil menuju tempat tujuannya.
Perbincangan itu
terasa sangat nyata di hadapanku. Wajahnya yang pucat dan bibirnya yang biru
masih saja menjadi perhatianku. Pria itu kini duduk di bawah pohon
tempat biasa aku membuka notebookku dan menulis semua yang aku rasakan. “Jadi
dia sudah berani mengambil tempatku.” Gerutuku.
“Kau sedang apa?
Duduklah..” Katanya sambil menepuk
tangannya ke tanah di sampingnya.
“Maaf, aku tidak
terbiasa menulis bersama orang lain.
“Anggap saja aku
tidak ada, aku cuma mau tidur di sini.Haaaah, kenapa anginnya sejuk sekali. aku jadi benar benar ingin tidur.” Jawab Andrew sambil memejamkan kedua matanya. Aku akhirnya mendekati pohon maple itu dan duduk di sampingnya. "Dia benar benar tertidur.." ucapku pelan.
Daun maple berwarna
jingga itu terbang satu persatu , iya..musim panas ini sudah berakhir.
Dan beberapa tumbuhan sudah mulai berguguran. Temperatur udara juga sudah mulai menurun dari sebelumnya, angin
berhembus basah dan kencang. Sebuah daun
maple jatuh di kepala Andrew, pelan pelan kuambil daun dari atas
kepalanya agar dia tidak terbangun. Aku menatap keseluruhan wajahnya. Kenapa dia sangat pucat? Apa dia sakit? Tapi setelah tanganku sampai tepat di
kepalanya. Dia terbangun…
“Astaga!...” Aku membuka mataku yang sedari tadi terpejam di tempat tidur dengan sprei bunga bunga berwarna kuning yang hanya muat untuk tubuhku dan satu bantal besarku. Ku lihat motif bintang bintang di atap kamar, rasanya mereka bergerak gerak dan bercahaya terang. “ Ini yang ke tiga kali aku bertemu dengannya dalam mimpiku. Siapa sebenarnya pria itu?”
(Aduh bolong lagi kan dua hari kemarin. Kan #nulisrandom2015 nya jadi nggak lengkap. Tapi 2 hari kemarin ngerjain skripsi kok beneran deh. Jadi judulnya tetep nulis walaupun nggak di share)


No comments:
Post a Comment