Aku memandang Cho Kyuhyun dan Park Yoon
Ji berdiri berdampingan di depan pendeta.
“Harusnya aku
sadar akan berakhir seperti ini.” Sekuat tenagaku habiskan untuk melihat
pemandangan paling memilukan ini. Menjadi pendamping pengantin wanita adalah
permintaan Cho Kyuhyun sebagai sahabat. Katanya dia ingin berbagi kebahagiaan
bersama.
Untung saja aku menolak perusahaanku
untuk menjadi wedding organizernya. Aku beralasan karena hari ini sudah banyak
yang meregistrasikan pernikahan mereka untuk kami tangani. Padahal tentu saja
bukan masalah itu. Perusahaanku sudah bertahun tahun dalam perencanaan
pernikahan, jadi sebanyak apapun klien pada hari itu, perusahaanku tetap bisa
menghandle dengan baik. Tapi kali ini, kliennya adalah Cho Kyuhyun.
Sahabatku sekaligus pria yang aku cintai yang memintaku untuk menghandle
pernikahannya dengan Yoon Ji, kekasihnya. Tentu saja aku harus menolak demi
perasaanku. Pernikahan saja sudah membuatku sakit, apalagi menjadi bagian dari
persiapan pernikahannya. Aku cukup egois untuk menolaknya dan sekali lagi ku
katakan, ini demi hatiku yang sudah hancur ini.
***
“Kau baik baik
saja?” Lee Dong Hae menghampiriku dalam pesta yang di gelar di rumah kecil
dengan taman yang luas di dekat gereja. Aku yang duduk di lantai dua dengan
menyesap cairan keunguan khas pesta pernikahan terkejut mendengar pertanyaan
itu. Apa maksudnya dari kata baik baik saja itu?
“E…em…” Aku
mengangguk sembari memberikan senyum terpaksaku padanya. Dia kemudian duduk di
depanku. Mengambil segelas wine untuk menemaniku minum. “Ayo bersulang…” katanya.
“Untuk?”
“Untuk perjanjian
pembebasan hatimu.”
“Perjanjian macam
apa?” Aku tersenyum miris mengasihani diriku sendiri. Bahkan Dong Hae saja bisa
membaca perasaanku, tapi kenapa Kyuhyun sama sekali tidak bisa?
“Kau mau jalan
jalan? Aku bosan di acara pesta seperti ini.”
Aku mengangguk
saja, ku letakkan gelas berkaki panjang itu dan turun ke taman dan berjalan
jalan sebentar bersama Dong Hae. Dia benar benar berusaha membuatku tertawa.
“Sudahlah, masih
banyak pria lain yang mau bersamamu. Termasuk aku.” Dong Hae tertawa kecil
meledekku yang mulutnya menganga lebar. Aku terlalu terbawa perasaan
hingga ajakan Dong Hae yang hanya
candaan itu terkesan nyata.

No comments:
Post a Comment