Thursday, June 4, 2015

Unfulfilled Dream (#nulisrandom2015_day 4)



        Aku memandang Cho Kyuhyun dan Park Yoon Ji berdiri berdampingan di depan pendeta.

“Harusnya aku sadar akan berakhir seperti ini.” Sekuat tenagaku habiskan untuk melihat pemandangan paling memilukan ini. Menjadi pendamping pengantin wanita adalah permintaan Cho Kyuhyun sebagai sahabat. Katanya dia ingin berbagi kebahagiaan bersama.
        Untung saja aku menolak perusahaanku untuk menjadi wedding organizernya. Aku beralasan karena hari ini sudah banyak yang meregistrasikan pernikahan mereka untuk kami tangani. Padahal tentu saja bukan masalah itu. Perusahaanku sudah bertahun tahun dalam perencanaan pernikahan, jadi sebanyak apapun klien pada hari itu, perusahaanku tetap bisa menghandle dengan baik.  Tapi kali ini, kliennya adalah Cho Kyuhyun. Sahabatku sekaligus pria yang aku cintai yang memintaku untuk menghandle pernikahannya dengan Yoon Ji, kekasihnya. Tentu saja aku harus menolak demi perasaanku. Pernikahan saja sudah membuatku sakit, apalagi menjadi bagian dari persiapan pernikahannya. Aku cukup egois untuk menolaknya dan sekali lagi ku katakan, ini demi hatiku yang sudah hancur ini.
***
“Kau baik baik saja?” Lee Dong Hae menghampiriku dalam pesta yang di gelar di rumah kecil dengan taman yang luas di dekat gereja. Aku yang duduk di lantai dua dengan menyesap cairan keunguan khas pesta pernikahan terkejut mendengar pertanyaan itu. Apa maksudnya dari kata baik baik saja itu?
“E…em…” Aku mengangguk sembari memberikan senyum terpaksaku padanya. Dia kemudian duduk di depanku. Mengambil segelas wine untuk menemaniku minum. “Ayo bersulang…” katanya.
“Untuk?”
“Untuk perjanjian pembebasan hatimu.”
“Perjanjian macam apa?” Aku tersenyum miris mengasihani diriku sendiri. Bahkan Dong Hae saja bisa membaca perasaanku, tapi kenapa Kyuhyun sama sekali tidak bisa?
“Kau mau jalan jalan? Aku bosan di acara pesta seperti ini.”
Aku mengangguk saja, ku letakkan gelas berkaki panjang itu dan turun ke taman dan berjalan jalan sebentar bersama Dong Hae. Dia benar benar berusaha membuatku tertawa.
“Sudahlah, masih banyak pria lain yang mau bersamamu. Termasuk aku.” Dong Hae tertawa kecil meledekku yang mulutnya menganga lebar. Aku terlalu terbawa perasaan hingga  ajakan Dong Hae yang hanya candaan itu terkesan nyata.





No comments:

Post a Comment