Kali ini aku
menjalani kegiatanku seperti biasa, berangkat ke kampus dengan bis kota yang
selalu datang lebih dulu dariku ke halte.
“Ahjussi, tunggu
hentikan bisnya!! Aku mau naik..” Ahjussi supir bus itu mendengar teriakanku
dan berhenti. Membuka pintu depan bus dan menggerutu padaku
“ Kau seharusnya
tiba lima menit sebelumnya, Kau itu selalu membuatku mengerem mendadak.”
“Maafkan aku
ahjussi, lain kali tidak akan terjadi lagi. atau kau boleh meninggalkanku.”
Tentu saja aku hanya beromong kosong padanya. Ahjussi itu orang yang baik, dia
akan menungguku yang sudah melambai lambaikan tanganku dari seberang jalan jika
aku belum sampai di halte.
Kuliah sangat membosankan seperti biasa, dan aku pulang ke kampus bersama sahabatku. Setelah melepas
celana jeansku dan mengganti dengan celana tidur. Aku membaringkan tubuhku di
ranjang sambil melihat hiasan bintang bintang
tiga dimensi di atap. Bayangan tentang pria berbaju kotak kotak yang kutemui
dalam mimpi semalam memenuhi isi kepalaku. Sudah tiga malam ini aku bertemu
dengannya.
Di mimpiku yang
pertama dia hanya berdiri memandangku di antara pohon maple di tempat itu,
kemudian berlalu tanpa mengatakan apapun.
Tempat yang sama setiap kali aku bertemu dengannya, suasana musim gugur
di tempat yang sangat jauh dari keramaian. Hanya aku dan dia diantara sederet
pohon maple berwarna jingga . Di mimpi yang ke dua dia mengambil tempatku biasa
bersantai dan menulis. Tapi mengapa di sana aku sangat suka menulis. Padahal
bagiku menulis adalah sesuatu yang membosankan dan aku juga seorang pemalas
dalam membaca. Jadi di dalam mimpi itu apakah gadis itu benar benar representasi
dari diriku?
Perlahan mata ku
terpejam setelah memikirkan banyak hal tentang pria itu. Tiba tiba dari
pemandangan gelap karena pejaman mataku, muncullah setitik cahaya sangat terang
kemudian cahaya itu membesar dan semakin membesar dan terdengar suara cicitan
burung dan aroma desiran angin musim gugur tercium di hidung kecilku. Pohon
pohon maple itu kembali muncul dengan daunnya yang berguguran.
“Tempat ini
lagi?” Ucapku pelan. Aku sudah menggendong ransel yang isinya tidak pernah
berubah. Sebuah buku bacaan, notebook andalanku di dunia nyata dan buku catatan
tebal serta sebuah pena. Tanpa sadar kuedarkan pandanganku ke sekeliling.
Mencari salah satu sosok yang seharusnya juga ada di tempat itu. Pria berbaju
motif papan catur.
“Kau mencariku?”
Suara itu berasal tepat di telinga kananku. Suara yang sama dengan pertemuan
ketiga kemarin.
“Ommona!” Aku kaget bukan kepalang hingga memukulkan
buku catatan yang sedari tadi sudah ku keluarkan dari tas.
“Aaak… Yak,
kenapa memukulku?” Andrew mengelus dahinya kesakitan.
“Kau
mengagetkanku saja..”
“ Sedang apa
berdiri di sini? Kau mencariku kan?”
“Apa? Mana mungkin!” Aa, kau ada disini
rupanya batinku.
“Iya aku disini.
Aku tidak pernah kemanapun.” Jawabnya dengan tatapan dan senyuman yang mengintimidasi. Dia mulai lagi. Aku benci saat dia
sudah membaca pikiranku lagi.
“Baiklah, aku
tidak akan melakukannya jika kau tidak suka.” Katanya sambil mengikutiku ke
tempat biasa.
Kali ini wajahnya
sudah semakin membaik. Walaupun wajahnya masih terlihat pucat tapi kehitaman di
sekitar mata dan bibir birunya sudah tidak terlihat. Kini dia memakai sebuah
dalaman kaos berwarna putih dan jas kasual berwarna abu abu. Rambut hitam kecoklatannya sedikit berantakan, tapi
membuatnya semakin menarik.
“Kau menulis
lagi?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk dan membiarkannya duduk di sampingku.
“Tenang saja aku
hanya akan tidur...” Katanya lagi. Matanya sudah terpejam saat aku membetulkan
posisi dudukku. Aku membuka notebook kesayanganku dan mulai mengetik beberapa
kata. Tapi mataku lebih tertarik pada pria di sampingku. Kenapa dia selalu
tidur di sini, sama seperti aku. Kenapa aku selalu berada di tempat ini jika
mataku sudah mulai terpejam di tempat tidurku.
“Mau sampai kapan
kau memandangku seperti itu?” Katanya masih dengan menutup matanya. Sial dia
benar benar tau apa yang aku lakukan padanya. Ah tenang Stevy, kau harus santai
menanggapi pertanyaan pertanyaannya.
“Kenapa kau
selalu tidur disini?” Tanyaku padanya yang sama sekali tidak menggerakan tubuhnya,
menengok padaku saja tidak atau bahkan membuka mata.
“Karena ada kau.”
Jawabnya santai sambil menghirup nafas panjang. Wajahnya berubah kemerahan dan
ada sedikit lekukan di bibirnya tapi matanya masih tetap terpejam.
“Aku? Memangnya
ada apa denganku.” Aku menghentikan aktifitas menulisku dan menutup notebook yang
berada diatas lutut. Tatapanku kini melekat pada wajah pucat pria di sampingku.
“Singkirkan
wajahmu dari hadapanku. Aku tahu aku sangat tampan! Tapi sampai kapan kau akan
memandangiku seperti itu?” Dia benar benar membuatku salah tingkah dengan ucapannya. “Kau
ingin bertanya sesuatu?” Tanyanya lagi
"Iya.."
"Katakan saja."
"Kenapa denganku? Kenapa kita selalu bertemu di sini? Dan kenapa harus tempat ini?"
" Karena takdir memberiku kesempatan ini."
"Aku tidak mengerti.."
"Mungkin besok aku tidak akan datang ke sini. Aku sangat berharap aku tidak datang. Jadi jangan mencariku dan Oh iya, kau pasti akan segera mengerti.
Pembicaraan kami terus berlanjut hingga terdengar sebuah pintu terbuka secara paksa. Dan semuanya membuyarkanku tentang mimpi bersama Andrew. Eomma membangunkanku dengan kekuatan supernya. Benar benar alarm terbaik.
"Kau tidak ke kampus?"
"Astaga! Aku terlambat.." Aku mengambil handuk dan segera berlari ke kamar mandi. Setelah berdandan seadanya. Seperti biasa, rutinitasku berangkat ke kampus adalah mengejar bis.
"Ahjussi, tunggu aku!" Supir bus itu tidak memperhatikan lambaian tanganku atau dia benar benar mendengarkan ucapanku kemarin. Yang benar saja?!!
Dia benar benar meninggalkanku setelah perjanjian kami kemarin. Aish, ku pikir itu hanya omong kosong yang tidak perlu ku jelaskan.
"Dasar tukang terlambat!" Ucap seseorang yang sedari tadi duduk di halte. Aku menyadari kemudian, orang ini adalah orang yang beberapa bulan lalu selalu duduk di sini dengan masker dan topi. Aku pernah ketakutan dengan hadirnya orang ini di halte setiap pagi. Tapi dia sama sekali tidak pernah menggangguku. Mengucapkan sepatah katapun tidak. Tapi kali ini mengeluarkannya untuk mengataiku. Memangnya dia siapa?
"Kau bicara padaku?"
Orang itu hanya mengangguk Menatapku dengan ekor mata yang memicing seperti ada senyuman dibalik masker hitamnya.
"Memangnya siapa kau?"
"Eo, busnya datang? Kau tidak mau naik?" Katanya menunjuk sebuah bus berwarna merah yang mendekati halte tempatku menunggu.
Setelah pintu terbuka akhirnya aku masuk ke dalam bus tanpa mempedulikan pria itu lagi. Aku berjalan di dalam koridor bus tapi pandanganku lagi lagi terpaku pada pria di luar sana. Yang sedang berdiri menatap bus yang membawaku pergi. Dan aku juga memandangnya menjauh dari tempatku berdiri. Setelah cukup jauh dia beranjak pergi begitu saja.
Aku berjalan di taman kampus sambil mengingat mimpi semalam. Baru kali ini aku bermimpi sangat jelas setiap harinya. Bahkan terlalu jelas hingga aku tidak bisa membedakan apakah itu benar benar hanya mimpi atau sebuah kenyataan. Setiap detiknya sangat terasa, setiap pembicaraan kami terekam jelas dalam memori otakku.
"Hei Stevie, Ada apa dengan wajahmu?" Sapa sahabatku Je Min.
"Aku ? Ah tidak...." Jawabku malas sambil terus berjalan menuju ruang kelas.
"Bohong.. Kau sedang memikirkan sesuatu?" Cecarnya.
"Sedikit.."
"Mungkin aku bisa membantumu jika kau mau bercerita padaku.."
"Lupakan saja..." Jawabku tersenyum. Menarik tangan Je Min untuk bersama sama masuk ke kelas.
Mata Kuliah ini benar benar membosankan, ah baiklah baiklah.. jujur saja akhir akhir ini aku sedang bosan dengan perkuliahanku. Tapi mau bagaimanapun kuliah adalah tanggung jawabku. Aku harus menghandle suasana hatiku yang sedang malas ini.
Wajah pucat pria itu tiba tiba muncul di layar proyektor, lalu muncul di depan pintu kelas, di atas buku catatanku, di dinding kelas, di wajah teman teman priaku. Aarrgh...Aku merasa frustasi dibuatnya..
"Nona Kim, kau baik baik saja?" Tanya Je Min.
"Eoh?" Aku terkejut oleh tepukan Je Min di bahu kiriku.
"Kelas sudah berakhir, kau masih mau disini?"
"Apa?" Wajah linglungku membuat Je Min khawatir. Sepertinya sahabatnya ini perlu pertolongan.
"Kalau ada masalah cerita saja padaku.."
"Je Min-ah, apa kau pernah bermimpi setiap hari?" Aku benar benar penasaran dengan apa yang aku alami. Sepanjang hidupku. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini.
"Tentu saja pernah. Hari ini aku bermimpi buruk esoknya aku bermimpi indah esoknya lagi aku lupa mimpi apa."
"Mimpi yang berlanjut... Seperti episode dalam drama." Je Min hanya menggeleng pelan.
"Memangnya kenapa?" Tanyanya.
"Sudah hampir seminggu ini setiap malam aku bermimpi berada di tempat yang sama, dengan orang yang sama dan suasana yang sama." Ucapku.
" Benarkah?"
"Apa menurutmu itu masuk akal?" Je Min menggeleng.
"Aku belum pernah mengalami yang seperti itu." Jawab Je Min.
****
Mimpi itu tetap tidak bisa terpecahkan walaupun aku sudah bercerita kepada Je Min. Dan aku masih membawa misteri itu dalam perjalanan pulangku.
Aku benar benar ingin membuktikan apakah mimpi ini akan berlanjut seperti sebelumnya atau tidak. Setelah pulang kampus aku sengaja bersiap siap untuk tidur tidak peduli betapa aku tidak mengantuk. Aku hanya ingin membuktikan apakah mimpi itu akan berlanjut lagi.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mata ini terpejam karena aku memang cukup lelah dengan aktifitasku hari ini. Dan benar, seperti yang terjadi biasanya titik putih itu kembali menyeruak semakin membesar dan membawaku pada pemandangan pohon maple yang nyaman. Aroma angin yang semakin ku kenal serta peralatan yang selalu ku bawa. Aku berjalan menuju tempat biasa aku menulis. Menunggu Andrew datang untuk tidur di sampingku. Dia bilang, alasannya kemari adalah aku. Jadi dia pasti akan berada di sini sekarang, seperti biasanya.
Aku membuka notebookku sambil menunggunya datang. Tapi dia tidak muncul. Rasanya sudah berjam jam aku menunggunya di sini. Tapi dia tidak datang..
"Mungkin besok aku tidak akan datang ke sini. Aku sangat berharap aku tidak datang. Jadi jangan mencariku."
"Iya.."
"Katakan saja."
"Kenapa denganku? Kenapa kita selalu bertemu di sini? Dan kenapa harus tempat ini?"
" Karena takdir memberiku kesempatan ini."
"Aku tidak mengerti.."
"Mungkin besok aku tidak akan datang ke sini. Aku sangat berharap aku tidak datang. Jadi jangan mencariku dan Oh iya, kau pasti akan segera mengerti.
Pembicaraan kami terus berlanjut hingga terdengar sebuah pintu terbuka secara paksa. Dan semuanya membuyarkanku tentang mimpi bersama Andrew. Eomma membangunkanku dengan kekuatan supernya. Benar benar alarm terbaik.
"Kau tidak ke kampus?"
"Astaga! Aku terlambat.." Aku mengambil handuk dan segera berlari ke kamar mandi. Setelah berdandan seadanya. Seperti biasa, rutinitasku berangkat ke kampus adalah mengejar bis.
"Ahjussi, tunggu aku!" Supir bus itu tidak memperhatikan lambaian tanganku atau dia benar benar mendengarkan ucapanku kemarin. Yang benar saja?!!
Dia benar benar meninggalkanku setelah perjanjian kami kemarin. Aish, ku pikir itu hanya omong kosong yang tidak perlu ku jelaskan.
"Dasar tukang terlambat!" Ucap seseorang yang sedari tadi duduk di halte. Aku menyadari kemudian, orang ini adalah orang yang beberapa bulan lalu selalu duduk di sini dengan masker dan topi. Aku pernah ketakutan dengan hadirnya orang ini di halte setiap pagi. Tapi dia sama sekali tidak pernah menggangguku. Mengucapkan sepatah katapun tidak. Tapi kali ini mengeluarkannya untuk mengataiku. Memangnya dia siapa?
"Kau bicara padaku?"
Orang itu hanya mengangguk Menatapku dengan ekor mata yang memicing seperti ada senyuman dibalik masker hitamnya.
"Memangnya siapa kau?"
"Eo, busnya datang? Kau tidak mau naik?" Katanya menunjuk sebuah bus berwarna merah yang mendekati halte tempatku menunggu.
Setelah pintu terbuka akhirnya aku masuk ke dalam bus tanpa mempedulikan pria itu lagi. Aku berjalan di dalam koridor bus tapi pandanganku lagi lagi terpaku pada pria di luar sana. Yang sedang berdiri menatap bus yang membawaku pergi. Dan aku juga memandangnya menjauh dari tempatku berdiri. Setelah cukup jauh dia beranjak pergi begitu saja.
Aku berjalan di taman kampus sambil mengingat mimpi semalam. Baru kali ini aku bermimpi sangat jelas setiap harinya. Bahkan terlalu jelas hingga aku tidak bisa membedakan apakah itu benar benar hanya mimpi atau sebuah kenyataan. Setiap detiknya sangat terasa, setiap pembicaraan kami terekam jelas dalam memori otakku.
"Hei Stevie, Ada apa dengan wajahmu?" Sapa sahabatku Je Min.
"Aku ? Ah tidak...." Jawabku malas sambil terus berjalan menuju ruang kelas.
"Bohong.. Kau sedang memikirkan sesuatu?" Cecarnya.
"Sedikit.."
"Mungkin aku bisa membantumu jika kau mau bercerita padaku.."
"Lupakan saja..." Jawabku tersenyum. Menarik tangan Je Min untuk bersama sama masuk ke kelas.
Mata Kuliah ini benar benar membosankan, ah baiklah baiklah.. jujur saja akhir akhir ini aku sedang bosan dengan perkuliahanku. Tapi mau bagaimanapun kuliah adalah tanggung jawabku. Aku harus menghandle suasana hatiku yang sedang malas ini.
Wajah pucat pria itu tiba tiba muncul di layar proyektor, lalu muncul di depan pintu kelas, di atas buku catatanku, di dinding kelas, di wajah teman teman priaku. Aarrgh...Aku merasa frustasi dibuatnya..
"Nona Kim, kau baik baik saja?" Tanya Je Min.
"Eoh?" Aku terkejut oleh tepukan Je Min di bahu kiriku.
"Kelas sudah berakhir, kau masih mau disini?"
"Apa?" Wajah linglungku membuat Je Min khawatir. Sepertinya sahabatnya ini perlu pertolongan.
"Kalau ada masalah cerita saja padaku.."
"Je Min-ah, apa kau pernah bermimpi setiap hari?" Aku benar benar penasaran dengan apa yang aku alami. Sepanjang hidupku. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini.
"Tentu saja pernah. Hari ini aku bermimpi buruk esoknya aku bermimpi indah esoknya lagi aku lupa mimpi apa."
"Mimpi yang berlanjut... Seperti episode dalam drama." Je Min hanya menggeleng pelan.
"Memangnya kenapa?" Tanyanya.
"Sudah hampir seminggu ini setiap malam aku bermimpi berada di tempat yang sama, dengan orang yang sama dan suasana yang sama." Ucapku.
" Benarkah?"
"Apa menurutmu itu masuk akal?" Je Min menggeleng.
"Aku belum pernah mengalami yang seperti itu." Jawab Je Min.
****
Mimpi itu tetap tidak bisa terpecahkan walaupun aku sudah bercerita kepada Je Min. Dan aku masih membawa misteri itu dalam perjalanan pulangku.
Aku benar benar ingin membuktikan apakah mimpi ini akan berlanjut seperti sebelumnya atau tidak. Setelah pulang kampus aku sengaja bersiap siap untuk tidur tidak peduli betapa aku tidak mengantuk. Aku hanya ingin membuktikan apakah mimpi itu akan berlanjut lagi.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mata ini terpejam karena aku memang cukup lelah dengan aktifitasku hari ini. Dan benar, seperti yang terjadi biasanya titik putih itu kembali menyeruak semakin membesar dan membawaku pada pemandangan pohon maple yang nyaman. Aroma angin yang semakin ku kenal serta peralatan yang selalu ku bawa. Aku berjalan menuju tempat biasa aku menulis. Menunggu Andrew datang untuk tidur di sampingku. Dia bilang, alasannya kemari adalah aku. Jadi dia pasti akan berada di sini sekarang, seperti biasanya.
Aku membuka notebookku sambil menunggunya datang. Tapi dia tidak muncul. Rasanya sudah berjam jam aku menunggunya di sini. Tapi dia tidak datang..
"Mungkin besok aku tidak akan datang ke sini. Aku sangat berharap aku tidak datang. Jadi jangan mencariku."

No comments:
Post a Comment