Kami berjalan
sepanjang danau dengan tepi rerumputan yang membentang hijau. Aku tertarik
dengan kursi panjang berwarna putih di salah satu tepian, dan memutuskan untuk
duduk di sana bersama Dong Hae.
Aku menatap Danau itu lekat lekat, perasaanku
sedikit terobati dengan pemandangan di sana, kedamaian dan angin yang berhempus pelan itu. Tempat
ini sudah jauh dari hiruk pikuk pesta pernikahan Kyuhyun dan Yoon Ji. Hanya aku
dan Dong Hae yang sedang memikirkan perasaan masing masing.
Aku tahu perasaan
DongHae tidak lebih baik dariku, dia menyukai Park Yoon Ji sama seperti aku
menyukai Cho Kyuhyun. Bedanya Lee Dong Hae pernah menyatakan cintanya pada Yoon
Ji tapi aku tidak pernah mengatakannya pada Cho Kyuhyun. Walaupun akhirnya Dong Hae tetap di tolak
oleh Yoon Ji.
“Bagaimana? Sudah lebih baik?” Tanya Dong Hae mencemaskanku
“Yaak, jangan berpura pura mengkhawatirkanku. Aku tau kau lebih sakit dariku.”
DongHae tertawa, tawa yang
sungguh tidak menyenangkan dipandang. Wajahnya jelas menyimpan perasaan tidak
bahagia, tapi harus berpura pura bahagia di depan sepupunya dan wanita yang dia
cintai.
“Jadi kau benar benar menyukai sepupuku? Ha? Aku sedang berpikir, aku saja sesakit ini. Bagaimana denganmu..”
“Jadi kau benar benar menyukai sepupuku? Ha? Aku sedang berpikir, aku saja sesakit ini. Bagaimana denganmu..”
“Aku tidak mau merusak kebahagiannya dengan menunjukkan ketidak bahagiaanku. Kau juga harus seperti itu.”
“Tapi dengan melihatmu seperti ini saja, aku bisa melihat kamu tidak bahagia.”
“Kau benar benar pria sensitif.”
“Aku hanya pria yang memahami wanita…”
“Haissh, Jinjja…kau sedang melawak huh?”
Dong Hae berdiri dari duduknya, mengambil handphone di jas hitam yang dikenakannya lalu memotretku tanpa seijinku.
“Yaa, apa yang kau
lakukan..Bagaimana bisa kau memotretku tanpa ijin” Aku berteriak pelan padanya.
“Kau tidak lihat, permandangan indah
seperti ini sangat sayang jika tidak diabadikan.Kau juga lumayan manis untuk ku
jadikan objek foto.” DongHae terus saja memotretku dari beberapa angle.
“Hish, kau tidak kembali ke pesta saja?”
“Tidak, kita kan memiliki perasaan
yang sama dengan pesta ini. Aku akan bersamamu saja disini.” Katanya dan
kemudian duduk kembali di sampingku. “Ah, bagaimana kalau kita berpacaran
saja.. pria dan wanita patah hati sedang duduk bersama di pinggir danau seperti
ini pasti akan memunculkan emosi yang sangat kuat.”
“Kau sepertinya belum makan obatmu
Dong Hae-sshi.” Dia masih saja bercanda dalam kondisi seperti ini. Haha, aku
akui dia sangat lihai memendam rasa sakitnya. Tapi melihat caranya, itu benar benar bukan tipeku menyelesaikan perasaanku.
“Maksudmu, kau pikir aku gila? Haish, kumohon kita jangan bicarakan soal cinta di sini. Kita bisa kembangkan bisnis perusahaan kita kan kalau
kita bersama. Siapa yang tidak kenal
perusahaanku dan perusahaanmu, dua perusahaan organizer besar jika kita bekerjasama pasti kita akan merajai
bisnis ini.” Aku cukup kesal dengan kata katanya barusan. Lalu maksudnya aku menjual perasaanku demi bisnis ini? Aaa tidak tidak. Aku tidak perlu memikirkan hal tidak perlu seperti ini.
“Yaak Hyung, kau sedang merayu
sahabatku huh? Rayuan macam apa itu bodoh sekali.” Kyuhyun datang entah sejak
kapan dan mendekat pada kami. Dia duduk di sebelahku dan merangkul bahuku tanpa
ada perasaan canggung. “Hye Rin-ah, jangan pernah percaya pada kata kata
Hyungku. Dia sangat payah soal wanita.”
“Benarkah? Aku rasa tidak juga..”
Jawabku singkat.
“Aaa, jadi kau menyukainya?” Kyuhyun menggodaku dengan menyentil hidung mancungku.
“Anniyo…(Tidak laah) ”
“Lalu?”
“Kau bisa melepaskan tanganmu dari
tubuhku?” Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuannya sekarang karena Kyuhyun
sekarang sudah menikah. Berbeda dengan dulu. Bahkan untuk tidur di sebelah
kamarku
“Wae yo (Kenapa) ?”
“Kau ini sudah beristri.”
“Memangnya kenapa dengan itu? Kau
tetap sahabatku.”
“Yak, Cho Kyuhyun mana ada seorang
pria beristri memiliki sahabat wanita. Kau ini ada ada saja. Ikhlaskan saja
sahabatmu ini dengan Hyungmu. Dasar pria tidak peka!” Ucap Dong Hae diujung kalimatnya lirih.
“Diamlah kau Hyung. Hye Rin-ah,
apapun yang terjadi kau tetaplah sahabatku. Aku tidak akan melupakan itu. Apa
kau khawatir soal itu? Ah iya, Kenapa aku tidak memikirkan soal itu ya. Maafkan aku.”
“Tidak Kyuhyun-ah, aku bahagia kau akhirnya menikah. Tinggal carikan saja pasangan untukku agar aku bisa segera menyusulmu.” Jawabku sembari menyunggingkan senyum dangkalku.
“Yak, sudah ada aku disini kenapa
kau meminta dia mencarikannya untukmu?” Dong Hae menimpali pembicaraan kami.
“Hyung, kau tidak pantas untuknya.
Dia gadis yang baik..”
Aku bahkan tidak peduli dengan
kata katanya baru saja. Dia tahu aku gadis yang baik, tapi apa gunanya gadis yang baik untuknya tapi dia
tidak bisa memberikan hatinya untukku.
“ Hye Rin-ah, mungkin kita tidak
bisa seperti dulu lagi, makan bersama setelah pulang kantor, atau sekedar minum
kopi dan ke bar. Tapi kau bisa ke rumahku jika rindu padaku. Kau bisa
bersahabat dengan Yoon Ji. Kau bisa pergi dengannya kalau kau mau. Dia pasti
akan dengan senang hati menemanimu. Aku
juga akan selalu ada untukmu. Itu janji persahabatan kita kan?”
“Ne..” jawabku dengan segenap daya
agar air mataku tidak menetes.
“Kalian tidak ingin bergabung ke
pesta, ayo lah kita ke pesta. Sangat sepi rasanya tidak ada kalian.” Pinta
Kyuhyun yang selalu saja tidak bisa ku tolak.
Aku melihat Dong Hae menatapku iba,
aish aku mohon jangan menatapku seperti itu. Rasanya aku menjadi wanita paling
lemah di dunia dengan tatapannya.
***
Pesta berakhir dan aku mulai mengumpulkan kepingan kepingan hati dan semangatku akibat pernikahan Kyuhyun. Setelah pernikahannya, Aku menerima banyak klien bahkan hampir membuatku tidak beristirahat sebentar saja. Tubuhku ku paksakan bekerja siang dan malam untuk melupakan perasaanku. Hingga akhirnya badanku tumbang, panas tubuhku tidak turun setelah ku beri obat penurun panas dari kotak p3k di rumahku.
Akhirnya Eomma dan Appa menyuruhku
beristirahat dan tidak bekerja untuk beberapa hari. Dan Eomma yang akan
menghandle semua pekerjaanku.
Bisnis Wedding Organizerku adalah
bisnis keluarga yang orang tuaku rintis sejak mereka memulai kehidupan rumah
tangga. Lebih tepatnya setelah beberapa bulan mereka menikah dan ayahku tiba
tiba mendapat surat pemutusan hubungan kerja dari perusahaan yang
mempekerjakannya. Tentu saja butuh waktu yang lama untuk bisa sebesar ini dan
menyerahkannya padaku setelah aku menyelesaikan kuliah. Walaupun tidak
diserahkan sepenuhnya. Aku belajar dari bawah untuk bekerja di perusahaan orang
tuaku. Dulu aku hanya tim koordinator bridal itupun hanya anggota, bukan ketua
tim. Lalu dipindahkan ke tim konsumsi,
lalu dipindah lagi untuk peralatan serta sarana prasarana. Ayahku berdalih,
agar aku memahami keseluruhan bagian dari bisnis ini, dan aku cukup mematuhi
keinginannya saja.

No comments:
Post a Comment