Friday, June 5, 2015

unfulfilled dream (#nulisrandom2015_day 5)



Kami berjalan sepanjang danau dengan tepi rerumputan yang membentang hijau. Aku tertarik dengan kursi panjang berwarna putih di salah satu tepian, dan memutuskan untuk duduk di sana bersama Dong Hae. 


Aku menatap Danau itu lekat lekat, perasaanku sedikit terobati dengan pemandangan di sana, kedamaian  dan angin yang berhempus pelan itu. Tempat ini sudah jauh dari hiruk pikuk pesta pernikahan Kyuhyun dan Yoon Ji. Hanya aku dan Dong Hae yang sedang memikirkan perasaan masing masing.

Aku tahu perasaan DongHae tidak lebih baik dariku, dia menyukai Park Yoon Ji sama seperti aku menyukai Cho Kyuhyun. Bedanya Lee Dong Hae pernah menyatakan cintanya pada Yoon Ji tapi aku tidak pernah mengatakannya pada Cho Kyuhyun.  Walaupun akhirnya Dong Hae tetap di tolak oleh Yoon Ji.

“Bagaimana? Sudah lebih baik?” Tanya Dong Hae mencemaskanku

“Yaak, jangan berpura pura mengkhawatirkanku. Aku tau kau lebih sakit dariku.”

DongHae tertawa, tawa yang sungguh tidak menyenangkan dipandang. Wajahnya jelas menyimpan perasaan tidak bahagia, tapi harus berpura pura bahagia di depan sepupunya dan wanita yang dia cintai.

“Jadi kau benar benar menyukai sepupuku? Ha? Aku sedang berpikir, aku saja sesakit ini. Bagaimana denganmu..”

“Aku tidak mau merusak kebahagiannya dengan menunjukkan ketidak bahagiaanku. Kau juga harus seperti itu.”

“Tapi dengan melihatmu seperti ini saja, aku bisa melihat kamu tidak bahagia.”

“Kau benar benar pria sensitif.”

“Aku hanya pria yang memahami wanita…”

“Haissh, Jinjja…kau sedang melawak huh?”
        
Dong Hae berdiri dari duduknya, mengambil handphone di jas hitam yang dikenakannya lalu memotretku tanpa seijinku.

“Yaa, apa yang kau lakukan..Bagaimana bisa kau memotretku tanpa ijin” Aku berteriak pelan padanya.

“Kau tidak lihat, permandangan indah seperti ini sangat sayang jika tidak diabadikan.Kau juga lumayan manis untuk ku jadikan objek foto.” DongHae terus saja memotretku dari beberapa angle.

“Hish, kau tidak kembali ke pesta saja?”

“Tidak, kita kan memiliki perasaan yang sama dengan pesta ini. Aku akan bersamamu saja disini.” Katanya dan kemudian duduk kembali di sampingku. “Ah, bagaimana kalau kita berpacaran saja.. pria dan wanita patah hati sedang duduk bersama di pinggir danau seperti ini pasti akan memunculkan emosi yang sangat kuat.”

“Kau sepertinya belum makan obatmu Dong Hae-sshi.” Dia masih saja bercanda dalam kondisi seperti ini. Haha, aku akui dia sangat lihai memendam rasa sakitnya. Tapi melihat caranya, itu benar benar bukan tipeku menyelesaikan perasaanku. 

“Maksudmu, kau pikir aku gila? Haish, kumohon kita jangan bicarakan soal cinta di sini. Kita bisa kembangkan bisnis perusahaan kita kan kalau kita bersama.  Siapa yang tidak kenal perusahaanku dan perusahaanmu, dua perusahaan organizer besar  jika kita bekerjasama pasti kita akan merajai bisnis ini.” Aku cukup kesal dengan kata katanya barusan. Lalu maksudnya aku menjual perasaanku demi bisnis ini? Aaa tidak tidak. Aku tidak perlu memikirkan hal tidak perlu seperti ini. 

“Yaak Hyung, kau sedang merayu sahabatku huh? Rayuan macam apa itu bodoh sekali.” Kyuhyun datang entah sejak kapan dan mendekat pada kami. Dia duduk di sebelahku dan merangkul bahuku tanpa ada perasaan canggung. “Hye Rin-ah, jangan pernah percaya pada kata kata Hyungku. Dia sangat payah soal wanita.”

“Benarkah? Aku rasa tidak juga..” Jawabku singkat.

“Aaa, jadi kau menyukainya?” Kyuhyun menggodaku dengan menyentil hidung mancungku. 

“Anniyo…(Tidak laah) ”

“Lalu?”

“Kau bisa melepaskan tanganmu dari tubuhku?” Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuannya sekarang karena Kyuhyun sekarang sudah menikah. Berbeda dengan dulu. Bahkan untuk tidur di sebelah kamarku

“Wae yo (Kenapa) ?”

“Kau ini sudah beristri.”

“Memangnya kenapa dengan itu? Kau tetap sahabatku.”

“Yak, Cho Kyuhyun mana ada seorang pria beristri memiliki sahabat wanita. Kau ini ada ada saja. Ikhlaskan saja sahabatmu ini dengan Hyungmu. Dasar pria tidak peka!” Ucap Dong Hae diujung kalimatnya lirih. 

“Diamlah kau Hyung. Hye Rin-ah, apapun yang terjadi kau tetaplah sahabatku. Aku tidak akan melupakan itu. Apa kau khawatir soal itu? Ah iya, Kenapa aku tidak memikirkan soal itu ya. Maafkan aku.”

“Tidak Kyuhyun-ah, aku bahagia kau akhirnya menikah. Tinggal carikan saja pasangan untukku agar aku bisa segera menyusulmu.” Jawabku sembari menyunggingkan senyum dangkalku.

“Yak, sudah ada aku disini kenapa kau meminta dia mencarikannya untukmu?” Dong Hae menimpali pembicaraan kami.

“Hyung, kau tidak pantas untuknya. Dia gadis yang baik..”

Aku bahkan tidak peduli dengan kata katanya baru saja. Dia tahu aku gadis yang baik, tapi  apa gunanya gadis yang baik untuknya tapi dia tidak bisa memberikan hatinya untukku.

“ Hye Rin-ah, mungkin kita tidak bisa seperti dulu lagi, makan bersama setelah pulang kantor, atau sekedar minum kopi dan ke bar. Tapi kau bisa ke rumahku jika rindu padaku. Kau bisa bersahabat dengan Yoon Ji. Kau bisa pergi dengannya kalau kau mau. Dia pasti akan dengan senang hati menemanimu.  Aku juga akan selalu ada untukmu. Itu janji persahabatan kita kan?”

“Ne..” jawabku dengan segenap daya agar air mataku tidak menetes.

“Kalian tidak ingin bergabung ke pesta, ayo lah kita ke pesta. Sangat sepi rasanya tidak ada kalian.” Pinta Kyuhyun yang selalu saja tidak bisa ku tolak.

Aku melihat Dong Hae menatapku iba, aish aku mohon jangan menatapku seperti itu. Rasanya aku menjadi wanita paling lemah di dunia dengan tatapannya.

***

Pesta berakhir dan aku mulai mengumpulkan kepingan kepingan hati dan semangatku akibat pernikahan Kyuhyun. Setelah pernikahannya, Aku menerima banyak klien bahkan hampir membuatku tidak beristirahat sebentar saja. Tubuhku ku paksakan bekerja siang dan malam untuk melupakan perasaanku. Hingga akhirnya badanku tumbang, panas tubuhku tidak turun setelah ku beri obat penurun panas dari kotak p3k  di rumahku.

Akhirnya Eomma dan Appa menyuruhku beristirahat dan tidak bekerja untuk beberapa hari. Dan Eomma yang akan menghandle semua pekerjaanku.

Bisnis Wedding Organizerku adalah bisnis keluarga yang orang tuaku rintis sejak mereka memulai kehidupan rumah tangga. Lebih tepatnya setelah beberapa bulan mereka menikah dan ayahku tiba tiba mendapat surat pemutusan hubungan kerja dari perusahaan yang mempekerjakannya. Tentu saja butuh waktu yang lama untuk bisa sebesar ini dan menyerahkannya padaku setelah aku menyelesaikan kuliah. Walaupun tidak diserahkan sepenuhnya. Aku belajar dari bawah untuk bekerja di perusahaan orang tuaku. Dulu aku hanya tim koordinator bridal itupun hanya anggota, bukan ketua tim. Lalu dipindahkan ke  tim konsumsi, lalu dipindah lagi untuk peralatan serta sarana prasarana. Ayahku berdalih, agar aku memahami keseluruhan bagian dari bisnis ini, dan aku cukup mematuhi keinginannya saja.


No comments:

Post a Comment