Rintik hujan pagi
ini mengantarkanku pada sebuah bangunan klasik nan megah yang telah dipadati
oleh beberapa tamu. Setelah mobilku terparkir aku segera masuk ke ruang tunggu pengantin
wanita.
Dari kejauhan pria itu berdiri di depan pintu dengan gagahnya
mengenakan tuxedo hitam dan menyambut beberapa kerabat dan sahabat dekatnya
yang hadir. Wajahnya sangat menawan dengan rambut kecoklatan, dari jendela saja
aku melihat kebahagiaan itu terpancar
dari wajah putih pucatnya.
Acara segera di
mulai, melihat pria itu tersenyum saat aku mendekat padanya adalah hal yang sangat
aku harapkan selama hidupku.
Menghampirinya yang sedang menungguku di depan altar pernikahan adalah impianku
sejak lama. Saling mengucap sumpah setia pernikahan di depan pendeta dan saling
bertukar cincin. Tidak henti hentinya
raut wajah itu melempar senyum karena ini
adalah hari paling bahagia untuknya.
Tapi aku berhenti setelah sampai separuh jalan di lorong gereja
itu, karena sang pengantin wanita harus berjalan menuju altar pernikahan menggandeng
tangan ayahnya. Bukan dengan gadis yang mengangkat ekor gaun pengantin.
Pria yang mengenakan tuxedo hitam di
depan altar itu adalah Cho Kyuhyun, wajahnya yang sangat berbinar itu bahkan
tidak mampu ku rusak dengan pedihnya perasaanku. Cho Kyuhyun adalah sahabatku
sejak kami sama sama berusia delapan tahun. Kami tumbuh bersama, bersekolah di
tempat yang sama dan melanjutkan kuliah di universitas yang sama. Karena
kebersamaan yang terlalu lama inilah aku mempunyai perasaan lebih padanya.
Dan gadis yang beruntung itu, aku sangat
berharap dia adalah aku. Aku berharap gadis yang berjalan bersama ayahnya di
lorong gereja itu adalah aku, Aku berharap yang mengucapkan sumpah di
sampingnya adalah aku, bukannya Park Yoon Ji.
(To be Continued)

TBC karena ngantuk..
ReplyDelete