Hari hari
dengan awan gelap kemurungan ini terus saja menjelajah hari hariku. Tidak peduli
mentari pagi bersinar sangat cerah di luar sana. Selimut putih tebalku melekat ,tidak
pernah lepas dari atas tubuhku sejak dua hari ini.
“Aku pikir aku
harus bermalas malasan lagi hari ini, aku janji ini yang terakhir kalinya.” Aku menggumam pada diriku sendiri. Aku
rasa aku masih belum menerima kenyataan yang terjadi pada diriku. Tirai yang
menutupi jendela besarku itu masih tertutup rapat beberapa hari. Bahkan pintu
kamarku masih terkunci sejak kemarin pagi. Makan? Tidak usah ditanya..aku jelas
makan. Aku sudah menyimpan beberapa makanan di kamarku. Walaupun hanya sepotong
roti sebesar kepalan tangan lelaki dan sebotol air mineral.
Tiba tiba
terdengar getaran di nakas sebelah tempat tidurku. Handphoneku tergeletak di
sana dengan layar menyala.
“Hallo..”
“Yaak, Youngie-ah
apa kau mau mendekam dikamarmu saja setiap hari. Cepat bukakan pintu. Aku sudah
di depan rumahmu.”
“Hmm…tunggu
sebentar..” Setelah mengerjap ngerjapkan mata dan mulai menyeimbangkan tubuhku,
aku melangkah keluar membuka pintu rumah sewaku. Seorang gadis mungil berwajah
ceria dengan bando pink di kepalanya itu menyeruduk masuk, tidak peduli tubuhku
hampir terpelanting ke belakang pintu. Ia mempercepat langkahnya menuju
kamarku.
“Astaga, bau
sekali kamarmu!” Berapa hari kau tidur tiduran tidak produktif di kamarmu? Mengapa tidak membuka
jendela? Ini sudah hari ke berapa setelah kejadian itu Min Young-ah kau masih
mau seperti ini terus..?” Gadis itu mulai mengomel padaku.
“Aku tidak
menghitung, tapi rasanya baru kemarin.” Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang lagi. Ingin melanjutkan acara malas malasan di ranjang tidurku.
“Yaaak, Bangun!!
Min Young-ah!” Dia berteriak padaku tepat didepan telinga kananku.
“Wae? (Apa?) ”
“Parabwa!! (lihat
aku!!)”
“Hish, kau benar
benar mengganggu tidurku saja.” Aku cukup kesal dengan tingkah sahabatku ini. Kenapa dia datang malah membuatku ingin membekap mulutnya.
“Oke kalau kau
tidak mau melihatku, lihat jendelamu itu!!”
Gadis ini mulai
mengambil kuasa atas tubuhku, ditariknya tanganku ke samping ranjang. Menghadap
tirai abu abu yang lebar di sebelah kanan tempat tidurku.
“Kau lihat tirai
yang menutup jendela kamarmu? Membuat kamarmu gelap kan, udaranya lembab dan
bau. Matahari tidak pernah bersinar. Siapa yang mau hidup di tempat seperti
ini? ”
"Kau ini bicara apa?" Aku memalingkan wajahku dari jendela.
Wajahnya berubah serius setelah menarik narik tanganku tadi. “Kau mau terus hidup ditempat seperti ini?” Kali ini aku tidak menjawab. Tatapan marahnya padaku terlihat menyenangkan. Wajah sepertinya memang tidak pantas mengomel. Aku menggeleng pelan.. aku tau dia menatapku iba, tapi dia terus saja memperlihatkan wajah marahnya.
“Kalau tidak mau,
cobalah untuk membuka tirai
jendelamu!! Kau tahu kan udara pagi di bawah sinar matahari sangat hangat.” Aku terdiam, tidak mengerti arah pembicaraannya.
“Kita memang tidak tahu apakah ada sinar matahari di luar sana saat tirai tertutup. Untuk membuktikannya, kau perlu berjalan untuk membuka tiraimu kan? Bahkan kalau kau tidak mampu berjalan untuk membuka tirai itu. Cukup lihat ke sekeliling tirai, pasti ada celah kecil di sana. Tanpa peduli ijinmu pasti sinarnya akan menerobos masuk. Hidup juga seperti itu. Kau harus bergerak maju untuk mendapatkan hidup menyenangkanmu kembali. Membuka tirai untuk mendapatkan sinar matahari itu seperti kau yang harus tetap bergerak maju untuk melihat masa depanmu yang cerah. Terpapar sinarnya seperti mendapat kekuatan baru. Hidupmu akan lebih hangat, tidak akan gelap seperti sebelumnya. Kalau kau belum bisa melakukannya, percayalah pada harapan. Celah kecil yang membuat sinar matahari menyusup ke kamarmu adalah sebuah harapan. Harapan untuk memastikan bahwa dibalik titik kecil yang bersinar itu ada titik sinar yang lebih besar. Titik sinar yang lebih besar itu adalah harapan hidup baikmu yang sudah kau sia siakan dengan terperosok ke ruangan mengerikan ini.”
“Kita memang tidak tahu apakah ada sinar matahari di luar sana saat tirai tertutup. Untuk membuktikannya, kau perlu berjalan untuk membuka tiraimu kan? Bahkan kalau kau tidak mampu berjalan untuk membuka tirai itu. Cukup lihat ke sekeliling tirai, pasti ada celah kecil di sana. Tanpa peduli ijinmu pasti sinarnya akan menerobos masuk. Hidup juga seperti itu. Kau harus bergerak maju untuk mendapatkan hidup menyenangkanmu kembali. Membuka tirai untuk mendapatkan sinar matahari itu seperti kau yang harus tetap bergerak maju untuk melihat masa depanmu yang cerah. Terpapar sinarnya seperti mendapat kekuatan baru. Hidupmu akan lebih hangat, tidak akan gelap seperti sebelumnya. Kalau kau belum bisa melakukannya, percayalah pada harapan. Celah kecil yang membuat sinar matahari menyusup ke kamarmu adalah sebuah harapan. Harapan untuk memastikan bahwa dibalik titik kecil yang bersinar itu ada titik sinar yang lebih besar. Titik sinar yang lebih besar itu adalah harapan hidup baikmu yang sudah kau sia siakan dengan terperosok ke ruangan mengerikan ini.”
Aku mencerna dengan baik setiap kata kata yang keluar dari bibir mungilnya. Kali ini aku tahu, dia sedang menceramahiku tentang kehidupan.
Sekali ucapan panjangnya itu membuatku menyadari, dia benar, Kenapa aku harus terkurung di tempat menyedihkan ini tanpa udara segar dan sinar mentari yang menghangatkan. Sementara di luar sana hari hari menyenangkan masih disediakan Tuhan untukku. Aku berjalan mendekati jendela. Menatap celah kecil di sudut bawah tirai abu abuku dan mengangkat tanganku menggenggam sinar yang membentuk garis lurus itu. Tanganku menghangat..
Sekali ucapan panjangnya itu membuatku menyadari, dia benar, Kenapa aku harus terkurung di tempat menyedihkan ini tanpa udara segar dan sinar mentari yang menghangatkan. Sementara di luar sana hari hari menyenangkan masih disediakan Tuhan untukku. Aku berjalan mendekati jendela. Menatap celah kecil di sudut bawah tirai abu abuku dan mengangkat tanganku menggenggam sinar yang membentuk garis lurus itu. Tanganku menghangat..
“Kau mungkin benar.. Selalu
ada cara untuk membaik..” Aku menggumam pelan, Entah ekspresi apa yang aku
tunjukan padanya. Yang jelas suara sepatunya semakin mendekat ke arahku.
Tangannya menyentuh pundakku, kemudian merangkulku.
“Youngie-ah,
Jangan seperti orang kehilangan harapan. Kau masih punya aku, sahabatmu.”
Sebelah tangannya
menarik tirai agar terbuka. Kami berdua terdiam menatap keluar jendela di bawah
sinar matahari. Cerah dengan langit biru dan awan yang bergelombang putih pekat.
“Lihat, kau tidak
akan menemukan pemandangan indah itu kalau kau hanya tertidur di sana dengan
tirai ditutup.”
Aku tersenyum padanya. Dia pun membalas senyumanku
sebentar, lalu tiba tiba menepuk bahuku kencang.
“Yak, kau pikir
tempat apa ini. Cepat bereskan kamarmu. Lihat, itu kue berapa hari sampai ada
semut dimana mana. Itu juga air putihmu, sudah berapa lama di
nakasmu. Handuk di ranjang, baju berceceran di lantai. Hish, apa ini benar
benar kamar. Kau juga bau sekali. Kapan terakhir kali kau keramas?”
“Arraseo
arraseo.. dasar cerewet. Aku akan mandi dan membereskan kamarku! Kau tunggu saja di depan. ” Aku
meninggalkannya mengomel sendirian. Mengambil handuk yang menjuntai setengah di
lantai dan segera menuju kamar mandi.
See Video Lyric a new day has come
*Curhat dikit dibalik pembuatan flashfiction apalah apalah ini. Jujur saja inspirasi cerita emang dari author yang lagi gegana ini. Tapi isinya benar benar fiktif dan dilebih lebihkan, Biar keliatan dramanya... blognya aja tellingdrama.. masa isinya nggak drama?

No comments:
Post a Comment