Suara khas tanda gambar manusia yang menyala hijau di simpang empat Westminster bridge road berbunyi sejak tadi, Demian melangkah lebih
cepat dan menapaki zebra cross bersama puluhan
pejalan kaki yang lain.
“Aah…akhirnya aku berada di sini lagi ..”
Tuturnya pelan. Demian adalah seorang pria lajang yang akan merasa
bahagia jika melihat kota London. Ada satu alasan pria ini bahagia dengan London, dan satu alasan ini pula yang menjadikannya melajang. Dia telah jatuh cinta...
***
Angin siang itu sangat kencang tapi udara sudah mulai membuat banyak orang sangat kepanasan.
Angin siang itu sangat kencang tapi udara sudah mulai membuat banyak orang sangat kepanasan.
“Hai, kau siapa?”
Tanya lelaki belasan tahun berperawakan kurus kering itu pada seorang gadis di jalanan dekat Houses of Parliament. Gadis itu terlihat lusuh, mengenakan rok kotak kotak berwarna merah hitam dan atasan kaos merah polos. Dia menyeka keringat di
dahinya dan terus memandang lelaki itu. Pertanyaan pertama di benak lelaki kurus kering itu, siapa nama gadis itu?
“Hei, kau tidak
dengar ya? Namamu siapa?” Tanya lelaki itu lagi. Gadis itu hanya berkedip tanpa
menjawab. Karena kesal akhirnya lelaki itu pergi meninggalkannya. Tapi sungguh,
kakinya terlalu sulit untuk menjauh. Ada satu hal yang ingin dipastikannya,
kenapa gadis ini selalu berada di sini setiap hari.
Demian, dia adalah lelaki belasan tahun itu, ia berjalan menjauh, tapi otaknya mengkomando tubuhnya
untuk mencari titik dimana dia bisa melihat gadis itu dari tempatnya. Matanya
tidak beredar kemanapun, hanya kepada gadis itu saja. Tidak peduli betapa
ramainya Westminster road saat musim semi yang sedang bergerak menuju
musim panas itu.
Tak lama
memandangnya, gadis itu dihampiri seorang pria tua, di tangan kanannya
bertengger sebuah badan biola dan di sebelah kirinya adalah sebuah kotak
berwarna hitam. Sepintas seperti pria yang mengamen di Victoria station. Demian cukup paham karena dia sering turun di Victoria untuk datang ke sini. Pria tua itu meletakkan semua yang bertengger di tangannya ke tepi jembatan. Wajahnya memandang
gadis itu dan menggerak gerakkan kedua tangannya. Gadis itu mengangguk dan pergi bersamanya. "Apa dia ayahnya?" pikir Demian.
Esoknya Demian
datang lagi, memandang sekeliling area Westminster dan mencari gadis itu. Dia
menemukannya bermain di dekat jembatan, diantara sekumpulan orang yang berjalan dan tidak mempedulikannya. Merentangkan
kedua tangannya ke samping dan berlari dari ujung jembatan satu ke ujung jembatan dekat Elizabeth tower, sendirian. Wajahnya
terlampau ceria, menggemaskan. Baju sederhana yang selalu dipakainya itu
menarik perhatianku.
Elizabeth tower
berdentang, Gadis itu menghentikan langkahnya, memandang menara jam besar di
sebelahnya dan tersenyum. Setelah dentangannya berhenti dia berlarian lagi.
Demian masih ditempat yang sama memperhatikan setiap langkah kecil gadis itu,
lalu seorang pria tua mendatanginya, pria tua yang sama seperti kemarin, dia
mengajak gadisnya pergi.
Setiap hari
Demian melakukan hal yang sama. Pergi ke Westminster untuk mencari gadisnya
lagi dan selalu merasa lega jika melihat gadisnya sedang berlarian di sana
dan berhenti jika Elizabeth tower sedang berdentang gagah.
Pertanyaan ke dua
muncul, Demian ingin memastikan mengapa gadis itu selalu berhenti jika jam
raksasa di Elizabeth tower terdentang. Tapi bagaimana caranya?
“Satu satunya cara
adalah aku harus bertanya padanya. Tapi bagaimana kalau dia tidak menjawabku
lagi?” Demian tidak peduli dengan kalimat terakhirnya, dia mendekati gadis itu.
Menanyakan hal yang sama seperti kemarin.
“Kau benar benar
tidak mau memberi tahu namamu?” "Kenapa kau selalu memandang jam besar itu jika berdentang? Bagiku tidak ada yang sepesial dengan dentangan itu." Tanya Demian putus asa, dan lagi lagi gadis itu
hanya memandangnya lekat lekat.
Pria tua itu datang
lagi, memandang gadis itu, menggerakkan tangannya dan membawanya pulang. Demian
kecewa, dia tidak bisa berkenalan dengan gadis itu. Perkenalan kedua GAGAL dan pertanyaan kedua BELUM terjawab.
Demian akan datang
esok hari dan akan memaksanya membuka mulut. Gadis itu benar benar membuat
Demian penasaran. Dia duduk ditempat biasa, ditempat dia bisa memandang gadis
itu bermain dan memandang jam raksasa itu. Satu jam dia mengedarkan
pandangannya, tak ada yang di dapat. Matanya tidak bisa menangkap bayangan
gadis itu.
“Apa dia tidak
kesini?” Apa karena aku?”
Demian menunggu
hingga petang tapi tidak mendapatinya di manapun. Esok harinya dia datang, dan
sudah tidak menemukan gadis itu.berbulan bulan Demian melakukannya dan hasilnya
tetap Gadis itu tidak pernah muncul lagi.
Seiring bertambahnya
usia, Demian tetap memikirkan gadis itu. Memorinya sangat kuat dan dan seiring pemahaman otaknya semakin bertumbuh Demian baru
menyadari mengapa gadis itu tidak pernah memberi tahukan namanya.
Saat itu, Demian adalah pelajar Junior High School, Pelajaran pelajaran yang sangat tidak di sukainya itu selalu membuat dia frustasi, angka angka berderet atau kombinasi angka dan huruf yang menyebalkan, Demian selalu meninggalkan pelajaran tambahan, lebih memilih berjalan jalan di Westminster dan sekedar mengawasi gadis itu.
***
Setelah dua puluh tahun melakukan perjalanan kemanusiaan ke beberapa daerah di Afrika, kini Demian kembali ke London, kota masa kecilnya. London ini lah yang membuatnya berkeliling dunia dan gadis itu adalah alasannya.
***
Setelah dua puluh tahun melakukan perjalanan kemanusiaan ke beberapa daerah di Afrika, kini Demian kembali ke London, kota masa kecilnya. London ini lah yang membuatnya berkeliling dunia dan gadis itu adalah alasannya.
Demian tentu saja bukan mencari
gadis itu di negara yang ia singgahi, baginya gadis itu adalah kenangan terindahnya
di London. Walau tidak sempat tahu apapun tentangnya. Demian hanya percaya takdir, jika memang dia ditakdirkan bertemu lagi, maka dia akan bertemu bagaimanapun kebetulannya. Jikapun tidak dia sudah cukup berterima kasih kepada Tuhan tentang kenangannya.
London berubah sedikit demi
sedikit, meninggalkannya selama 20 tahun membuat dia sangat merindukan kota
kelahirannya ini. Pemandangan ini, mengingatkannya puluhan tahun yang lalu.
Dia berjalan
disekitar Elizabeth tower. Menemukan potongan memori memori masa remajanya, bayangan indah seperti dulu, seorang gadis yang tersenyum melihat jam
raksasa berdentang gagah. Ah, kenangan
kecil itu sungguh tidak bisa lepas.
Ditempatnya berdiri sekarang, datang sekelompok anak anak mendekati elizabeth tower membawa balon warna warni. Demian sangat
menyukainya, dipandanginya mereka yang berjalan di hadapannya. pekerjaannya kini memang selalu berhubungan dengan anak
anak jadi dia menyukai suasana ini.
Di dekat mereka, nampak seorang gadis mengenakan topi bulat hitam di rambut keemasannya yang di kepang longgar. Dia memakai coat merah memandu anak anak itu, menggerakkan tangannya pada sekelompok anak anak itu dan kenangan itu tiba tiba saja menyeruak hadir.
Di dekat mereka, nampak seorang gadis mengenakan topi bulat hitam di rambut keemasannya yang di kepang longgar. Dia memakai coat merah memandu anak anak itu, menggerakkan tangannya pada sekelompok anak anak itu dan kenangan itu tiba tiba saja menyeruak hadir.
“Gadis itu, gadisku…”
Tutur Demian. Senyumannya saat memandu anak anak itu sama persis dengan gadis yang tersenyum memandang elizabeth tower. Dia segera mendekati kerumunan itu, memastikan apakah dia
adalah gadis yang dulu ditatapnya sepanjang hari sepulang sekolah. Demian
menepuk pundak gadis itu pelan.
Gadis itu menengok terkejut, matanya reflek melihat pria yang menepuknya. Manik matanya menatap manik mata pria dihadapannya, lama, seperti membangkitkan kenangan keduanya. Senyumnya mengembang sempurna.
Demian mulai menggerakkan
tangannya, “Kali ini aku aku harus mendapatkan namamu.” Kata Demian pada gadis itu.
Gadis itu benar benar terkejut, pria di hadapannya bisa melakukan itu.
Gadis itu mengulurkan
tangannya, dan Demian pun menyambutnya. Beberapa detik berjabat, Gadis itu melepaskan jabat tangannya,
Gadis itu mengangkat masing masing jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya membentuk huruf
X mengetuknya du kali, meletakkan kepalan
tangan kanannya di dada dan mengerakkan satu tangan kanannya di udara. Membentuk
deretan huruf huruf indah. Demian memandangnya dan mengerti.
mengatakan “Namaku S-A-N-D-A-R-A“ Ungkap Gadis itu.
___
Note (answer) : Sandara adalah Gadis Bisu dan Tuli, karena keterbatasannya itu, dia tidak memiliki teman. Itu mengapa dia hanya bermain sendirian di Westminster setiap hari. Pria itu, dia kakeknya. Kenapa dia selalu tersenyum saat jam raksasa di elizabeth tower berdentang, Karena hanya itu saja suara dan getaran yang bisa dirasakan inderanya. Jangan berpikir yang dia dengarkan adalah suara seperti yang orang lain dengar.Tidak, bahkan bukan. Tetapi lebih kepada gendang telinganya yang bergetar sedikit. Dan kenapa dia tidak pernah datang lagi sejak kejadian itu? Sandara sakit, dan pergi ke Dunster, Sumerset, tempat tinggal orang tuanya.
Sandara menyadari Demian sejak dulu, dan sekarangpun dia menyadari Demian. itu mengapa senyumnya langsung mengembang saat dia melihat demian di hadapannya.
Demian bekerja sebagai relawan ECC for Africa (Europe Care Children) untuk para anak anak difabel di Afrika, Dia pernah berada di Tanzania selama 3 tahun, Gambia 2 tahun, Kenya 9 tahun, dan sisa tahun tahun terakhirnya Ethiopia sebelum dia kembali ke London.
Sandara kembali ke london 5 tahun lalu, sebagai pengajar di sebuah sekolah luar biasa spesialis tuna rungu dan tuna wicara.
(Jawaban ini didapat setelah perbincangan lebih jauh antara Demian dan Sandara) Ending? Author membebaskan pembaca membuat ending sendiri. haha... author males mah ini namanya.
(Akhirnya tulisan Geje author nangkring lagi di sini, Flash Fictionnya dibuat secepet kilat dan embuh banget. Hari ini niatnya mau ke Jogja pagi pagi, tapi karena kesel handphone batrenya kosong song setelah di charge semaleman ternyata nggak ke charge sama sekali. *malah curhat* Akhirnya untuk ngisi batre dan ngisi waktu yang sebenernya nggak luang juga, author menuliskan sebuah mahakarya yang embuh ini. wkwkwk.... mahakarya? Yaa ya...oke oke buat kalian mungkin bukan mahakarya, tapi bagi author ini adalah mahakarya, sebuah langkah kecil agar author terus menulis.)
Kata seseorang "Menulislah dulu, entah apapun. Konten bermutu bisa dipelajari seiring waktu."
"Jadi jangan pedulikan kontenmu bermutu atau tidak. Jangan pernah terbebani karena tulisanmu tidak mengandung pesan moral, yang penting menulis dulu. Kalau sudah pandai, kau bisa memilih konten apa yang bermutu untuk tulisanmu dan pesan moral, itu tugasnya pembaca yang nyari" haha
___
Note (answer) : Sandara adalah Gadis Bisu dan Tuli, karena keterbatasannya itu, dia tidak memiliki teman. Itu mengapa dia hanya bermain sendirian di Westminster setiap hari. Pria itu, dia kakeknya. Kenapa dia selalu tersenyum saat jam raksasa di elizabeth tower berdentang, Karena hanya itu saja suara dan getaran yang bisa dirasakan inderanya. Jangan berpikir yang dia dengarkan adalah suara seperti yang orang lain dengar.Tidak, bahkan bukan. Tetapi lebih kepada gendang telinganya yang bergetar sedikit. Dan kenapa dia tidak pernah datang lagi sejak kejadian itu? Sandara sakit, dan pergi ke Dunster, Sumerset, tempat tinggal orang tuanya.
Sandara menyadari Demian sejak dulu, dan sekarangpun dia menyadari Demian. itu mengapa senyumnya langsung mengembang saat dia melihat demian di hadapannya.
Demian bekerja sebagai relawan ECC for Africa (Europe Care Children) untuk para anak anak difabel di Afrika, Dia pernah berada di Tanzania selama 3 tahun, Gambia 2 tahun, Kenya 9 tahun, dan sisa tahun tahun terakhirnya Ethiopia sebelum dia kembali ke London.
Sandara kembali ke london 5 tahun lalu, sebagai pengajar di sebuah sekolah luar biasa spesialis tuna rungu dan tuna wicara.
(Jawaban ini didapat setelah perbincangan lebih jauh antara Demian dan Sandara) Ending? Author membebaskan pembaca membuat ending sendiri. haha... author males mah ini namanya.
(Akhirnya tulisan Geje author nangkring lagi di sini, Flash Fictionnya dibuat secepet kilat dan embuh banget. Hari ini niatnya mau ke Jogja pagi pagi, tapi karena kesel handphone batrenya kosong song setelah di charge semaleman ternyata nggak ke charge sama sekali. *malah curhat* Akhirnya untuk ngisi batre dan ngisi waktu yang sebenernya nggak luang juga, author menuliskan sebuah mahakarya yang embuh ini. wkwkwk.... mahakarya? Yaa ya...oke oke buat kalian mungkin bukan mahakarya, tapi bagi author ini adalah mahakarya, sebuah langkah kecil agar author terus menulis.)
Kata seseorang "Menulislah dulu, entah apapun. Konten bermutu bisa dipelajari seiring waktu."
"Jadi jangan pedulikan kontenmu bermutu atau tidak. Jangan pernah terbebani karena tulisanmu tidak mengandung pesan moral, yang penting menulis dulu. Kalau sudah pandai, kau bisa memilih konten apa yang bermutu untuk tulisanmu dan pesan moral, itu tugasnya pembaca yang nyari" haha

No comments:
Post a Comment