Monday, May 4, 2015

Don’t Leave Me! Stay with me!



“Aku harap ini hanyalah mimpi. Jika ini mimpi, berhentilah sampai disini.”




Sofa putih itu menerima hentakan tubuhku, aku berbaring lemas. Aku berpikir aku melakukan hal yang benar. Dia menginginkannya dan aku menyanggupinya. Begitu kan cinta berjalan?  
“Kita berakhir!” Katanya mantap. Stephanie memasang wajah frustasi dengan beberapa butir air lolos dari sudut matanya. Ini bukan yang pertama dia menginginkannya, tapi aku selalu bisa menahannya di sisiku. Tapi kali ini berbeda, Aku mengiyakannya dan dia terlihat sangat terluka.
“Baiklah, terserah kau saja!” Kataku dan membiarkan dia berlalu.
Aku tahu itu bukanlah jawaban yang Stephanie inginkan. Dia ingin aku menahannya seperti biasa. Aku juga tahu Stephanie hanya menggertak sama seperti biasanya. Tapi kali ini aku lelah meladeni sikap kekanakannya itu. Aku hanya perlu menunggunya tiga hari, dan dia akan kembali padaku.
***

                Kotak berwarna coklat yang cukup besar itu ada di meja kerjaku. Stephanie yang membawanya kemari baru saja. Dari kata katanya aku bisa menebak apa yang ada di dalam sana. Boneka Winnie the pooh, tokoh kartun kesukaannya, Lampu hias, kemeja yang sama dengan milikku, cangkir besar, foto foto kami, dan yang tidak akan pernah tertinggal surat surat cinta dariku, kalau aku sangat tidak beruntung mungkin dia akan mengembalikan cincin pemberianku juga.
Aku tertawa, dia cukup kekanakan dengan menggertakku mengakhiri hubungan kami dan sekarang aku benar benar menganggapnya sangat kekanakan karena  mengembalikan semua barang barang yang kuberikan padanya.
“ Tidak adakah cara lain selain cara cara murahan seperti ini untuk mendapat perhatian dariku? Kau kekanakan sekali.” Aku memang tidak pernah menghubunginya setelah pertengkaran seminggu yang lalu. Tapi reaksinya sekarang berlebihan sampai harus mengembalikan seluruh barang pemberianku seperti ini.  Aku tertawa ringan, mengambil dua gelas kosong dan sekotak  jus jeruk dari kulkas berniat kuberikan kepada stephanie.
Aku berdiri mematung dibelakang minibar ruang kerjaku. Aku melihat tubuhnya bergerak menjauh. “Aku tidak punya cukup uang untuk membayar over bagasi.” Katanya. Punggungnya tidak lama lagi akan menghilang dari balik pintu ruang kerjaku.
 “Over bagasi? Sial dia benar benar mengancamku sekarang!” Aku terus saja bergumam kesal, menggerakkan kepalaku tak berarah. Kupandangi kaki kaki gelas di depanku. Cairan berwarna orange itu masih penuh tidak tersentuh keduanya.  Mungkin sekali teguk bisa membuatku lebih tenang. Tapi tidak ku lakukan. Aku segera berlari menemui Stephanie, menarik paksa masuk ke ruang kerjaku lagi.
“Haruskah kau melangkah sejauh ini? Hah? Jangan main main! “
“Kita sudah berakhir Andrew!” Jawabnya. Dia meninggalkanku ditempat itu. Ini pertama kalinya dia menegaskan kalimat perpisahan.
“Kenapa?”
“Aku sudah cukup mengerti tentang penilaianmu terhadapku, aku tidak tahan. Aku ingin pergi. Kau tidak tahu kekecewaanku, kau tidak tahu kesedihanku. Kau hanya tahu aku adalah gadis tukang gertak yang bisa kamu abaikan begitu saja. Hidupku cukup berharga jika hanya kau anggap seperti itu. Aku tahu tidak akan berguna berbicara panjang lebar seperti ini padamu karena kau tidak akan pernah peduli.”








aku ingin mengambil gambarmu saat berjalan ke arahku.
Ratusan kali sehari.
Sejak kapan aku menjadi seperti ini?
Kau satu satunya (orang) yang bisa membuat hatiku yang kosong bisa bernafas .
Aku tidak tahu kekecewaan terkecilmu ataupun kesedihanmu.
Maafkan aku, maafkan aku sayang…
Kita saling mengunci mata hari ini.
Dan aku punya sesuatu hal yang ingin ku katakan padamu.
Aku harap ini hanyalah mimpi,jika ini mimpi berhentilah sampai disini.
Don’t Leave me… don’t leave me


(Apa sih ini nyampah banget akunya, feelnya kurang dapet. Maklum author lg galau parah. Bingung juga endingnya mau gimana. Jadi nggantung gitu kan...hehe) 

No comments:

Post a Comment