Sofa putih itu
menerima hentakan tubuhku, aku berbaring lemas. Aku berpikir aku melakukan hal
yang benar. Dia menginginkannya dan aku menyanggupinya. Begitu kan cinta berjalan?
“Kita berakhir!”
Katanya mantap. Stephanie memasang wajah frustasi dengan beberapa butir air lolos
dari sudut matanya. Ini bukan yang pertama dia menginginkannya, tapi aku selalu
bisa menahannya di sisiku. Tapi kali ini berbeda, Aku mengiyakannya dan dia terlihat
sangat terluka.
“Baiklah, terserah
kau saja!” Kataku dan membiarkan dia berlalu.
Aku tahu itu bukanlah
jawaban yang Stephanie inginkan. Dia ingin aku menahannya seperti biasa. Aku
juga tahu Stephanie hanya menggertak sama seperti biasanya. Tapi kali ini aku
lelah meladeni sikap kekanakannya itu. Aku hanya perlu menunggunya tiga hari, dan
dia akan kembali padaku.
***
Kotak berwarna coklat yang cukup
besar itu ada di meja kerjaku. Stephanie yang membawanya kemari baru saja. Dari
kata katanya aku bisa menebak apa yang ada di dalam sana. Boneka Winnie the
pooh, tokoh kartun kesukaannya, Lampu hias, kemeja yang sama dengan milikku, cangkir
besar, foto foto kami, dan yang tidak akan pernah tertinggal surat surat cinta
dariku, kalau aku sangat tidak beruntung mungkin dia akan mengembalikan cincin
pemberianku juga.
Aku tertawa, dia
cukup kekanakan dengan menggertakku mengakhiri hubungan kami dan sekarang aku
benar benar menganggapnya sangat kekanakan karena mengembalikan semua barang barang yang
kuberikan padanya.
“ Tidak adakah cara
lain selain cara cara murahan seperti ini untuk mendapat perhatian dariku? Kau
kekanakan sekali.” Aku memang tidak pernah menghubunginya setelah pertengkaran
seminggu yang lalu. Tapi reaksinya sekarang berlebihan sampai harus
mengembalikan seluruh barang pemberianku seperti ini. Aku tertawa ringan, mengambil dua gelas kosong
dan sekotak jus jeruk dari kulkas
berniat kuberikan kepada stephanie.
Aku berdiri
mematung dibelakang minibar ruang kerjaku. Aku melihat tubuhnya bergerak
menjauh. “Aku tidak punya cukup uang untuk membayar over bagasi.” Katanya. Punggungnya
tidak lama lagi akan menghilang dari balik pintu ruang kerjaku.
“Over bagasi? Sial dia benar benar mengancamku
sekarang!” Aku terus saja bergumam kesal, menggerakkan kepalaku tak berarah. Kupandangi
kaki kaki gelas di depanku. Cairan berwarna orange itu masih penuh tidak
tersentuh keduanya. Mungkin sekali teguk
bisa membuatku lebih tenang. Tapi tidak ku lakukan. Aku segera berlari menemui Stephanie,
menarik paksa masuk ke ruang kerjaku lagi.
“Haruskah kau
melangkah sejauh ini? Hah? Jangan main main! “
“Kita sudah berakhir
Andrew!” Jawabnya. Dia meninggalkanku ditempat itu. Ini pertama kalinya dia
menegaskan kalimat perpisahan.
“Kenapa?”
“Aku sudah cukup
mengerti tentang penilaianmu terhadapku, aku tidak tahan. Aku ingin pergi. Kau
tidak tahu kekecewaanku, kau tidak tahu kesedihanku. Kau hanya tahu aku adalah
gadis tukang gertak yang bisa kamu abaikan begitu saja. Hidupku cukup berharga
jika hanya kau anggap seperti itu. Aku tahu tidak akan berguna berbicara panjang
lebar seperti ini padamu karena kau tidak akan pernah peduli.”
aku ingin mengambil gambarmu saat berjalan ke arahku.
Ratusan kali sehari.
Sejak kapan aku menjadi seperti ini?
Kau satu satunya (orang) yang bisa membuat hatiku yang kosong bisa
bernafas .
Aku tidak tahu kekecewaan terkecilmu ataupun kesedihanmu.
Maafkan aku, maafkan aku sayang…
Kita saling mengunci mata hari ini.
Dan aku punya sesuatu hal yang ingin ku katakan padamu.
Aku harap ini hanyalah mimpi,jika ini mimpi berhentilah sampai disini.
Don’t Leave me… don’t leave me
(Apa sih ini nyampah banget akunya, feelnya kurang dapet. Maklum author lg galau parah. Bingung juga endingnya mau gimana. Jadi nggantung gitu kan...hehe)
(Apa sih ini nyampah banget akunya, feelnya kurang dapet. Maklum author lg galau parah. Bingung juga endingnya mau gimana. Jadi nggantung gitu kan...hehe)

No comments:
Post a Comment