Kim Min Young
berjalan lunglai menuju tepi ranjangnya,
tangan yang baru saja memegang mouse itu gemetar tidak karuan. Komputer jinjing
di meja belajarnya masih menyala terang berlatar belakang warna biru serta symbol
sebuah media sosial bergambar burung.
Setelah tangannya
yang menunjukkan gejala kecemasan, matanya berkedut berusaha menahan cairan
bening yang sudah membentuk kaca kaca. Diremasnya sprei bergambar bunga
berwarna hijau yang menjuntai di ranjang. Hatinya benar benar terluka setelah
melakukan hal itu, sebuah aktifitas yang rentan akan perasaan gundah. Hal yang
membuat perasaannya bisa kacau. Ya, Aktifitas itu bernama Stalking…
Tidak salah baginya
melakukan hal itu, karena yang ingin dia tahu adalah akun media sosial milik kekasihnya.
Tapi apa yang dilihatnya adalah sesuatu
yang jelas membuat semua wanita geram. Melihat kekasihnya sudah menjalin kedekatan
dengan wanita lain. Oke baiklah, Kim Min Young dan kekasihnya, Cho Kyuhyun memang sudah putus
beberapa minggu yang lalu, dan ini adalah putus yang entah keberapa kali. Itulah mengapa Cho Kyuhyun berani melangkah
lebih jauh untuk mengenal wanita lain
lebih jauh.
Tapi mudahkah hal
itu diterima Kim Min Young? Jelas saja tidak. Bagi Kim Min Young putus adalah
hal yang biasa terjadi dan mungkin
semuanya akan baik baik saja setelah beberapa hari. Karena Min Young tahu hal
itu sudah terjadi sejak lama. Dan putus sebenarnya adalah cara mereka
mengetahui betapa mereka tidak bisa hidup tanpa masing masing.
Gigi Min Young
mengerat, tiba tiba tubuhnya berubah panas dan tulang tulangnya tidak mampu
menopang duduknya. Dia tergeletak di ranjang dan bulir bulir air dari matanya
turun seketika.
***
Dadaku mendadak menjadi sesak, nafasku memendek dan jantungku berdebar
sangat cepat. Aku tahu ini adalah reaksi psikologis seseorang yang terluka
hatinya. Dan orang itu adalah Aku.
Menjalin hubungan jarak jauh adalah hal yang
paling ku benci sejak dulu. Aku memiliki pengalaman buruk dengan hubungan
semacam ini. Yaa, aku pernah ditinggalkan karena aku tidak bisa dekat
dengannya, dan kekasihku memilih wanita lain yang secara geografis bisa
menenangkan dia. Aku jatuh terpuruk saat itu sebelum akhirnya aku bertemu
dengan Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun bagiku adalah seperti obat, dia penyembuh luka.
Membawa sebuah kegembiraan yang tidak
pernah aku rasakan sebelumnya. Menjadi sangat berarti di matanya adalah hal
yang indah, meyakini dia mencintaiku adalah yang terbaik.Sejak saat itu aku
tidak pernah menginginkan hubungan jarak jauh lagi sepanjang hidupku, sampai
saat ini aku masih tidak menghilangkan pikiran bahwa hubungan jarak jauh adalah
hal buruk. Aku tau kemungkinan berhasil dalam hubungan ini jelas kurang dari 50
persen. Bahkan 20 persen saja tidak. Tapi aku bertahan karena aku tidak ingin
menganggap Cho Kyuhyun sama dengan orang itu. Cho Kyuhyun lebih baik, aku pasti
bisa melakukannya.
Sungguh konyol kupikir, aku berdiri diatas
sesuatu yang tidak pernah aku yakini. Apa aku salah? Aku merasa aku salah jika dengan
melihat sisi hatiku. Kenapa tidak? Kami hanya terhalang jarak, cinta kami tidak
berubah. Tapi aku akan merasa keyakinanku tentang hubungan jarak jauh adalah
salah ketika melihat bukti bukti yang begitu tercecer berantakan dihadapanku.
Temanku, sahabatku, orang orang itu, bahkan dosen Sosialku mengatakan hal yang
sama. Hubungan jarak jauh itu tidak akan pernah masuk akal.
***
Mereka menjalani
waktu bersama sama selama di Seoul sebagai mahasiswa. Min Young berasal dari Sokcho, Cho Kyuhyun berasal dari
Busan dan Seoul adalah tempat pertemuan pertama mereka. Di
tempat mereka menimba ilmu ini lah cinta mereka berkembang. Mereka menjaga
cintanya dengan sederhana. Pertengkaran hebat, putus dan kembali saling
mencintai adalah hal biasa bagi mereka. Kehidupan sederhana juga mewarnai kisah
kisah mereka. Mereka tidak selalu bisa makan enak dan mahal seperti orang orang
lain membawa pasangannya berkencan atau ketempat tempat mahal yang lain,
membelanjakan kekasihnya barang yang mewah. Mereka menyadari, ini bukan kisah
cinta pangeran dan putri. Jadi jangan
terlalu bermimpi untuk hidup seperti itu. Jika uang saku mereka habis, mereka
tidak akan kencan di luar. Cukup membeli ramen dan menonton film di flat Min
Young. Mereka baik baik saja dengan itu.
Siapa yang bisa
menerima kekurangan Cho Kyuhyun selain Kim Min Young, dan siapa yang paling
tahan dengan tingkah menyebalkan Kim Min Young selain Cho Kyuhyun ? Mereka
tidak terlalu memikirkan siapa orang orang itu yang jelas mereka hanya akan
bersama.
“Kalau kau sukses
setelah menyelesaikan studimu kau pasti akan meninggalkanku..” Min Young
merajuk seperti biasa. Dan Cho Kyuhyun akan menenangkannya dengan sangat
pandai. “Aku bukan orang yang seperti itu.” Katanya singkat tanpa melihat ke
arah Min Young. Ketika Cho Kyuhyun mengatakan keinginannya bekerja di Tokyo, Min Young sangat terpukul, karena ini artinya
dia akan berjauhan dengan kekasihnya, Cho Kyuhyun. Dan ini adalah hubungan jarak
jauhnya yang ke dua.
Seperti orang
terkena trauma yang sangat membekas dihatinya, perasaannya tidak karuan.
Menghitung hari demi hari keberangkatannya membuat Min Young cemas. “Aku takut
kau akan berubah..” Kata Min Young. “Aku bukan orang seperti itu, percayalah..”
Cho Kyuhyun tersenyum menenangkan Min Young. Kekuatan Min Young jelas berasal dari
kepercayaannya pada kata kata Kyuhyun.
Tapi kali ini
semuanya terlihat sangat tidak sama dengan janji yang dia buat, dia mendekati
wanita lain hanya karena sedang tidak sejalan dengan Min Young. Cho Kyuhyun
merasa nyaman dengan wanita lain. Tentu saja hati Min Young sakit, betapa
tidak? Begitu mudahnya Cho Kyuhyun melakukan itu sementara Min Young menunggu
dia untuk berbaikan. Ini seperti Cho Kyuhyun datang di hidupnya dengan tangan
kiri menggenggam obat dan sebelah kanannya menggenggam pisau. Kenapa tidak pisau
di sebelah kiri dan obatnya di sebelah kanan? Karena mengobati dengan tangan
kiri tidak akan jadi masalah, tapi menusuk dengan tangan kanan lukanya akan
lebih dalam. Setelah mengobati Min Young dari luka tusukan orang lain , Cho
Kyuhyun hadir menjadi penyemangat hidupnya, tapi kemudian dia malah menusuk
kembali ditempat yang sama.

No comments:
Post a Comment