Thursday, June 2, 2016

(before story) Would You Love Me the Same?

Dia mengejarku hingga kemari, dan aku tidak melangkah sedikitpun untuk mendekatinya atau menjauhinya. Aku hanya tidak pernah beranjak dari tempatku berpijak walaupun aku sangat ingin memalingkan segala kehidupanku darinya, tapi lagi lagi tubuh yang semakin besar itu meraihku , merengkuhku dengan erat dan entah sudah berapa lama kami membeku disana.



Matanya menatap punggungku, tangannya  mulai mengusap rambut sebahuku. Rasa nyaman itu, ditawarkan lagi olehnya tanpa kuasa kutolak.



“ Kau merindukanku?” tanyanya sambil terus memelukku. Kecupan di ubun ubun itu membuatku meleleh. Rasa benciku yang sudah sebesar gunung es nyatanya bisa hancur begitu saja. Bayangkan jika rasa benciku adalah sebuah permen kapas, mungkin dia adalah permen kapas yang telah masuk ke dalam mulutku, seketika hilang... manis, tapi kemudian merasakan kepahitan disela manisnya.. Mungkin ini adalah peristiwa manis lain diantara yang pernah terjadi, tapi pahit getirnya sejarah masa lalu kami masih saja terpaku di kepalaku.



Dan apa?

‘apa aku merindukannya?’

Apa baginya kurang jelas?

Bagaimana eratnya dekapanku?

Bagaimana kerasnya aku memukul mukul punggungnya berulang kali?

Itu tandanya aku masih begitu....

 merindukan dia.

Ya Tuhan aku benar benar tidak tahu harus bagaimana. 


“bodoh!” kataku “Kenapa aku harus merindukanmu?” tanyaku padanya.  Dia melepas pelukannya. Menatap mataku yang sudah berisi kristal kristal yang mencair.


“Karena aku merindukanmu..” jawabnya kemudian memelukku lagi.  Keegoisan macam apa yang sedang dibangunnya itu, tetapi aku malah seperti patung elastis yang diam saja ketika dia melepas dan kemudian memelukku lagi lebih erat.



Dan kepasrahan macam apa yang kulakukan sekarang?



Kami akhirnya duduk berdua saja di sofa panjang beraksen papan catur, berdampingan namun sama sama menatap layar sebesar 32 inchi  tanpa bicara sepatah katapun.



“Bagaimana hari harimu?” Tanyanya.




“Menyenangkan...” jawabku. Sungguh aku tidak bohong, hidupku memang menyenangkan, tetapi tidak bisa dipungkiri aku juga benar benar merindukannya. Sisi ruang hatiku masih terus  memikirkannya setiap hari hingga penghujung malamku.



Dia menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya dan mengusap rambutku pelan. Ya, aku benar benar merindukan duduk bersamanya seperti ini, dan aku juga sangat yakin dia merindukanku sebesar rinduku padanya.



“Aku minta maaf... Hyeon” ucapnya sangat lirih. Bahkan suaranya tidak menyentuh telingaku,


tetapi dia menyentuh hatiku............. sekali lagi....









No comments:

Post a Comment