Dia mengejarku hingga kemari, dan aku tidak melangkah
sedikitpun untuk mendekatinya atau menjauhinya. Aku hanya tidak pernah beranjak
dari tempatku berpijak walaupun aku sangat ingin memalingkan segala kehidupanku
darinya, tapi lagi lagi tubuh yang semakin besar itu meraihku , merengkuhku
dengan erat dan entah sudah berapa lama kami membeku disana.
Matanya menatap punggungku, tangannya mulai mengusap rambut sebahuku. Rasa nyaman
itu, ditawarkan lagi olehnya tanpa kuasa kutolak.
“ Kau merindukanku?” tanyanya sambil terus memelukku.
Kecupan di ubun ubun itu membuatku meleleh. Rasa benciku yang sudah sebesar
gunung es nyatanya bisa hancur begitu saja. Bayangkan jika rasa benciku adalah sebuah permen kapas,
mungkin dia adalah permen kapas yang telah masuk ke dalam mulutku, seketika hilang... manis, tapi kemudian merasakan kepahitan disela manisnya.. Mungkin ini adalah peristiwa manis lain diantara yang pernah terjadi, tapi pahit getirnya sejarah masa lalu kami masih saja terpaku di kepalaku.
Dan apa?
‘apa aku merindukannya?’
Apa baginya kurang
jelas?
Bagaimana eratnya
dekapanku?
Bagaimana kerasnya
aku memukul mukul punggungnya berulang kali?
Itu tandanya aku
masih begitu....
merindukan dia.
Ya Tuhan aku benar benar tidak tahu harus bagaimana.
“bodoh!” kataku “Kenapa aku harus merindukanmu?” tanyaku
padanya. Dia melepas pelukannya. Menatap
mataku yang sudah berisi kristal kristal yang mencair.
“Karena aku merindukanmu..” jawabnya kemudian memelukku
lagi. Keegoisan macam apa yang sedang
dibangunnya itu, tetapi aku malah seperti patung elastis yang diam saja ketika
dia melepas dan kemudian memelukku lagi lebih erat.
Dan kepasrahan macam
apa yang kulakukan sekarang?
Kami akhirnya duduk berdua saja di sofa panjang beraksen papan catur, berdampingan namun sama sama menatap layar sebesar 32
inchi tanpa bicara sepatah katapun.
“Bagaimana hari harimu?” Tanyanya.
“Menyenangkan...” jawabku. Sungguh aku tidak
bohong, hidupku memang menyenangkan, tetapi tidak bisa dipungkiri aku juga benar benar merindukannya. Sisi ruang hatiku masih
terus memikirkannya setiap hari hingga penghujung malamku.
Dia menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya dan mengusap
rambutku pelan. Ya, aku benar benar merindukan duduk bersamanya seperti
ini, dan aku juga sangat yakin dia merindukanku sebesar rinduku padanya.
“Aku minta maaf... Hyeon” ucapnya sangat lirih. Bahkan suaranya
tidak menyentuh telingaku,
tetapi dia menyentuh hatiku............. sekali lagi....
tetapi dia menyentuh hatiku............. sekali lagi....
No comments:
Post a Comment