“Sepertinya aku tidak bisa Cho
Kyuhyun-sshi.” Sesal Emily setelah selama sepuluh menit mereka saling
berhadapan.” Aku takut aku tidak bisa membantu sahabatmu. Aku hanya pegawai
magang LPC. Aku tidak bisa berbuat banyak.” Itu lah alasan Emily pada Cho
Kyuhyun, pria yang sekarang di hadapannya. Wajah optimis yang ditampakkannya
sejak sepuluh menit yang lalu berubah setelah Emily memutuskan untuk tidak
membantunya.
“Pikirkan lagi Emily-sshi.” Cho Kyuhyun
masih membujuknya untuk membantu.
“Emily-sshi, kau tahu kan novelmu
sedang diincar oleh beberapa production house?” Kata Chief Editor Lee Jonghyun
pada Emily.
“Ne..” Jawab Emily
“Jika novelmu dibeli dan difilm
kan segera, maka kemungkinan penjualan
novelmu akan menurun.” Jelas Lee JongHyun lagi.
“Sebenarnya aku juga belum
berniat untuk mengiyakan salah satu dari mereka. Aku benar benar masih
menikmati karyaku dipajang di toko buku. ” Kata Emily.
“Sebenarnya kamipun tidak ingin
membatasimu. Kalau kau menyetujui novelmu difilmkan. Itu adalah hakmu
sepenuhnya. Tapi sekarang, bukanlah waktu yang tepat. Biarkan pembaca
berimajinasi dengan novelmu dulu . Kalau perlu jangan menemui mereka. Jika ada
production house atau agensi yang membuat janji denganmu. Kau bisa mengulur
waktu lebih lama kan?” Pungkas JongHyun. Emily mengerti kegelisahan perusahaan.
Tentu setelah difilm kan, ketertarikan pada novel Emily akan berkurang. Sudah
barang tentu novel akan mengalami penurunan penjualan. “Kami tahu kau akan
bertindak dengan bijak Emily-sshi.”
Percakapan
Emily dan Chief Editor Lee JongHyun pagi tadi adalah sebenar benarnya alasan
Emily untuk menolak permintaan Cho Kyuhyun. Ini bukan soal Emily tidak mau
membantu Kyuhyun, tetapi perusahaan memintanya untuk tidak berurusan dengan
production House sampai batas waktu yang belum ditentukan.
“Mianhae
Kyuhyun-sshi.” Kata Emily. Penyesalan karena tidak mampu membantu Kyuhyun sedikit
membuat Emily merasa tidak enak. Dan yang membuatnya semakin merasa tidak enak
adalah karena yang Kyuhyun cari sekarang sebenarnya berada di hadapannya.
“Tidak
apa apa, aku bisa mencari cara lain.” Kyuhyun menenangkan Emily yang merasa
bersalah.
“Kenapa
kau begitu serius membantu sahabatmu?” Tanya Emily. Emily melihat Kyuhyun lah
yang lebih berusaha mencari cara untuk menemukan Milly Kim daripada sahabatnya
yang bahkan tidak menemui Emily untuk
meminta bantuan
“
Karena aku juga tidak mau perusahaan itu bangkrut. Aku harus membantu sahabatku
menemukan Milly Kim.” Ucap Kyuhyun.
“
Bangkrut? Memangnya kenapa mencari Milly Kim ketika perusahaan akan bangkrut?”
Emily jadi tidak mengerti.
“Produksi
film mereka sedang melemah. Mereka sedang berusaha menaikkan harga saham dengan
memproduksi film film yang berkualitas. Yaa, mereka pikir memfilm-kan novel
Milly Kim yang sangat popular itu akan mampu menyelamatkan perusahaan. Kenapa
kau masih saja tidak mengerti sih?” Jelas Kyuhyun.
“Tidak
adakah novel lain yang menarik untuk difilmkan?” Tanya Emily. Mencari cara agar
pria dihadapannya ini melupakan Memories. “Aku dengar juga novel itu tidak
terlalu bagus. Ini karena perusahaanku saja yang terlampau bagus dalam promo
bukunya.”
“Yaak,
apa kau benar benar sadar dengan bicaramu. Novel yang tidak terlalu bagus tidak
akan mendapat nilai penjualan sefantastis ini. Ini Korea, jika Memories sedang
naik daun maka semua akan memburunya.”
****
Emily
melangkah gontai, berjalan menuju halte bus dengan sisa sisa tenaganya. Ini
sudah jam 8, salju yang turun tidak membuat jalanan sepi. Semuanya menikmati
salju musim dingin ini. Begitu pula Emily, gadis tropis yang selalu kedinginan
karena belum terbiasa dengan musim dingin itu malah menerjang hujan salju, dan
parahnya. Dia tidak merasa kedinginan. Pikirannya entah kemana. Mungkin
memikirkan sahabat Cho Kyuhyun yang ingin sekali bertemu dengannya. Aah, dengan
Milly Kim maksudnya. Si penulis Memories itu. Hati sensitif milik Emily membuat
dia merasa bersalah berkali kali lipat. Pertama, karena dia berbohong soal
Milly Kim, Kedua dia tidak bisa membantu Kyuhyun menemukan Milly Kim sementara
dia adalah Milly Kim yang Kyuhyun cari, dan ketiga karena perusahaan yang
hampir kolaps itu. Emily bahkan tidak tahu letak, bentuk dan apa itu CC
Entertainment. Tapi mengapa dia mampu menyelamatkan perusahaan itu dari masa sulit?
“Apa
yang harus kulakukan?” Emily mendengus. Ditatapnya wajah yang kemerahan itu
dari layar handphone, lalu membuka lockscreen. Memasang earphone di telinga dan memutar playlist handhonenya.
baramkkocci
nalligo haega gireojyeo gago
(The flowers fly in the wind, the sun sets later)
(The flowers fly in the wind, the sun sets later)
ijen i
gireul bamsae georeodo georeodo
(Now even when I walk all night on this street)
(Now even when I walk all night on this street)
son
kkeuti sirijiga anha
(My hands don’t get cold)
(My hands don’t get cold)
mugeoun
neoui ireumi barame naraoreuda
(Your heavy name flies up in the wind)
(Your heavy name flies up in the wind)
tto dasi
nae balkkeute tteolgwojyeo
(And it falls next to my feet once again)
(And it falls next to my feet once again)
ajik
neodo nal tteonaji anhneun geolkka
(Have you not left me yet either?)
(Have you not left me yet either?)
aju
gakkeumeun neol ijgo haruga jinago
(Sometimes, I forget you and a day passes)
(Sometimes, I forget you and a day passes)
aju
gakkeumeun neo anin dareun sarameul kkumkkwodo
(Sometimes, I dream about someone who’s not you)
(Sometimes, I dream about someone who’s not you)
naui
maeumeseon neoran kkocci jakku panda
(But in my heart, your flower keeps growing)
(But in my heart, your flower keeps growing)
gaseume
no no no no
(In my heart, no no no no)
(In my heart, no no no no)
apeun
niga panda
(The painful you grows)
(The painful you grows)
(Kwill
– Growing)
***
Udara dingin pagi ini
menghinggapi Seoul dengan segala hiruk pikuknya. Ini baru pukul 05.30 KST
tetapi jalanan sudah mulai sibuk. Kyuhyun duduk di kursi belakang mobilnya
sambil terus membaca beberapa info yang telah Sekretaris Yoo kumpulkan tentang
Milly Kim.
“ Sekretaris Yoo. Buatkan aku janji dengan Chief Editor LPC tapi jangan dulu katakan apapun tentang Memories padanya. Mereka masih terlalu sensitive untuk membahas kerjasama tentang Memories.”
“Ne, algesseumnida Sajangnim.” Jawab Sekretaris Yoo sambil menuliskan to do listnya hari ini.
“ Sekretaris Yoo. Buatkan aku janji dengan Chief Editor LPC tapi jangan dulu katakan apapun tentang Memories padanya. Mereka masih terlalu sensitive untuk membahas kerjasama tentang Memories.”
“Ne, algesseumnida Sajangnim.” Jawab Sekretaris Yoo sambil menuliskan to do listnya hari ini.
Kyuhyun merogoh
kantung dalam jasnya, mengambil handphone yang baru saja bergetar.
From : Emily Sshi.
Gezzz,aku berpikir keras
semalaman ini dan sepertinya aku harus menanyakan ini padamu. apakah aku masih
dibutuhkan untuk membantu sahabatmu menemukan Milly Kim?
To. Emily-sshi
Apakah pertanyaanmu masih
perlu dijawab? Nanti temui aku di kedai kopi biasa saat jam makan siang.
From Emily-sshi
Bagaimana ya? Sebenarnya
siang ini aku benar benar ingin makan jajangmyeon.
Wajahnya berubah sedikit
cerah. Senyum yang cukup lebar di wajah putih pucatnya itu menandakan suasana
hatinya sedikit membaik. Kyuhyun terkekeh mendapat chat balasan dari Emily.
Aigo, gadis ini.
****
Seperti biasanya Emily akan
datang lebih dulu dan Kyuhyun selalu terlambat beberapa menit. Tapi kali ini
lebih lama dari biasanya.
Sosok pria tinggi yang
Emily kenal muncul dari balik pintu. Mengedarkan pandangannya dan menemukan
Emily yang sudah duduk sendirian.
“Eo? Kau kesini juga?”
Tanyanya setelah mendekat menuju meja Emily.
“Eo? Choi Min Ho -sshi?”
Sapa Emily.
“Kau sendirian saja?”
“Menurutmu aku akan makan
jajangmyeon sendirian?”
“Kenapa tidak, kau juga
selalu di kedai sendirian. Geez, Aku rasa kau benar benar tidak punya teman.”
“Katakan apapun sesukamu
Min Ho-sshi.”
Min Ho tertawa melihat
wajah kesal Emily.
“Aiish, kau ini. Aah aku
lapar. Ahjumma. Tolong berikan aku satu jajangmyeon. Ah jangan lupa acar
lobaknya.” Teriak Min Ho.
“Ne…” Sahut Ahjumma pemilik
toko jajangmyeon itu dari dapurnya.
Min Ho kembali bicara pada
gadis dihadapannya. Memperbaiki duduk tegaknya agar dia bisa bicara lebih
santai dengan Emily.
“Sebenarnya aku masih ingin
berbincang denganmu tentang Memories.” Ucap Min Ho
“Kenapa?”
“Entah kenapa kau membuatku
penasaran tentang bagaimana kau tahu begitu banyak soal novel ini. Kau bahkan
tahu versi asli dari Memories. Tempat tempat seperti apa latar ceritanya..”
“ Sudah kubilang aku pernah
menghadiri promo bukunya.”
“Apa dia bercerita sedetail
itu? Yak, mana mungkin dia membuka semua ceritanya sementara dia harus menjual
bukunya.”
“Aku juga datang ke
fanclubnya.”
“Sepertinya kau fans
beratnya… “ Min Ho mencoba menilai. “Eo? Terimakasih Ahjumma.” Ucapnya setelah
pesanannya datang.
“ngomong ngomong kenapa
pesananmu belum datang? Jangan jangan, kau sedang menunggu seseorang? ” Tanya
Min Ho. Emily mengangguk.
“Eoh, makanlah…”
“Waah jadi sejak tadi kau
menunggu seseorang. baiklah kalau begitu aku pindah saja.”
“aaah tidak usah, kau kan
sedang makan, nanti kalau dia datang aku yang akan mengganti meja.”
“Nugu? Kekasihmu?”
“Ani… rekan bisnis.”
“Kau yakin membawa rekan
bisnismu ke tempat seperti ini? Yak, kau harusnya mengajak dia ke tempat yang
lebih mahal sedikit.”
“Lihat lihat, siapa yang
sedang mengurusi hidupku?” Emily sedikit kesal.
“Aaash, Bukan begitu, aku
paham tentang kerjasama dengan Klien, Aku ini manajer produksi. Kau tau?”
“Mwo? Hahahaha… Manajer
produksi membahas kerjasama Klien. Jebal, kau membuatku ingin tertawa. Yaak,
kalau kau manajer pemasaran aku baru percaya padamu. Haish kau ini ada ada
saja.”
“Yak, entah manajer produksi entah manajer
pemasaran. Tidak ada bedanya. Mereka sama sama melayani klien dengan baik.”
Katanya masih menyumpit jajangmyeon dengan porsi besar.
“ Geez, lebih baik kau
lanjutkan makanmu dan segera kembali ke kantor. Jam istirahat sudah hampir
habis.”
“Yak yak, gadis ini. Siapa
yang mengajarimu mengatakan itu padaku.”
“Kau…”
“Nega? Eonje?”
“Saat kita pertama kali
bertemu di kedai kopi.”
“Jinjja? Aku mengatakannya?
Kekanakan sekali. Umm, tapi kupikir
tidak akan masalah jika aku terlambat. Hyungku kan Presdir di sana.”
“Aish, kau menyalah gunakan
posisi kakakmu sekarang?”
“Haha, aku hanya bercanda.
Dia itu Hyung yang menyebalkan,.bahkan jika aku terlambat sekali saja. Dia bisa
menendangku ke luar dari perusahaan..”
“Lalu tunggu apa lagi?
selesaikan makanmu dan kembalilah.”
“Tenang, dia tidak akan
melakukan itu padaku.”
Emily tertawa, pria ini
sangat mudah mengatakan ini lalu mengatakan itu. Berbalik dari mengatakan ini
menjadi mengatakan itu. Berkilah dari mengatakan ini menjadi mengatakan itu.
“Ngomong ngomong kau
bekerja dimana?” Tanya Min Ho.
“LPC.” Jawab Emily Singkat.
“Mwo? Lee Publishing
Company?”
“E’em.”
“Pantas saja kau tahu
tentang Milly Kim, kau di bagian apa?”
“Aku hanya karyawan magang
di bagian produksi.”
“Sepertinya aku harus
bertemu denganmu lagi. Aku benar benar mencari orang LPC untuk membantu
perusahaanku. Kau benar benar datang di waktu yang tepat.”
Emily semakin bingung
dengan pria pria yang sekarang sedang berurusan dengannya. Memangnya ada apa
dengan dirinya. Mengapa perusahaan perusahaan itu mencari Milly Kim.
Yak,
kau lupa Emily? Siapa yang menyuruhmu membuat karya sehebat Memories?
“Aku
tidak tahu kenapa Hyungku begitu bodoh tidak bisa menemukan celah untuk
mendapatkan Milly Kim. Pria yang sok dewasa itu benar benar membuatku kesal.”
“Yaak, kau tidak boleh
mengatakan hal buruk pada kakakmu.”
“Hal buruk apanya? Kau
tidak tahu kalau dia sedang mengataiku seperti apa. Jika hatiku tidak sebesar
ini. Aku mungkin tidak akan berada satu pihak dengannya.” Jawab Min Ho dengan mulut yang masih tersumpal penuh jajangmyeonnya.
“Aku pikir kepribadian
kalian sama saja.”
“Sama apanya? Hah sudahlah.
Mengapa aku jadi kesal begini?” Min Ho mengambil acar lobak dimejanya.
“Min Ho-sshi, memangnya kau
kerja dimana?”
“ CC Entertainment.”
“Mwo? CC Entertainment?”
“E’em, the big five.”
“CC Entertainment yang
gedungnya di ujung jalan ini?”
“Memangnya ada CC
Entertainment selain itu.? Uum, sebenarnya perusahaanku sedang sedikit
bermasalah sejak kepemimpinan Hyungku. Setidaknya aku harus membantunya kan?
Jadi maukah kau membantuku?” Min Ho menghentikan makannya dan mengambil posisi
duduk yang lebih serius.
“Bantuan apa lagi?”
“Aigo gadis inii, aku baru
meminta tolong satu kali dan kau mengatakan bantuan apa lagi?”
“Aaa benarkah?”
“Aigo aigo, kau ini. Oh
iya, sejak tadi aku tidak melihat orang yang mendatangimu? Apa dia tidak jadi
datang?” Min Ho tersenyum.
“ Molla seo, seharusnya dia
datang kalau keadaannya memang segenting itu. Entahlah”
Emily mengambil
handphonenya mencoba menghubungi Kyuhyun. Tapi dia kalah cepat dari telepon
yang masuk di handphonenya.
“Yeobseo, Kyu…”
“Mianhae Emily-sshi, aku
tidak bisa datang sekarang karena gallery ku benar benar sedang ramai.
Bagaimana kalau nanti setelah kau pulang kerja. Aku akan menjemputmu di
kantor.”
“Aa. Tidak usah. Kita
bertemu di kedai kopi saja.”
“Jeongmal mianhae, aku
tidak tahu jika keadaannya seperti ini. Kau pasti menungguku sangat lama.”
“Gwaencanha, aku bertemu
dengan temanku. Jadi tidak terasa lama. Eoh...Arrayo.. Nan Gwaencanha. Eoh…
Eoh… Eoh.. sampai nanti.”
“Aku tidak yakin dia klien
katika bahasa yang kau gunakan seperti itu.”
“Urusi saja jjajjangmyeonmu
yang hampir habis itu Choi Min Ho-sshi!”
***
Kyuhyun
terlambat satu jam dari perjanjian awalnya. Kantornya sedang mengalami banyak
kendala jadi dia tidak bisa keluar saat jam makan siang. Tapi mobilnya kini
sudah berada di parking area rumah makan jajangmyeon tempatnya bertemu dengan
Emily.
Melangkah
sedikit bahagia dengan menarik kedua ujung bibirnya ke atas.sambil memutar
mutar kunci mobilnya. Tapi langkahnya terhenti sebelum sempat masuk ke dalam
rumah makan itu. Gadis dan pria yang sama sama dikenalnya itu sepertinya sedang
asik mengobrol dengan selingan tawa dan gesture yang sangat dekat.
“Punya
hubungan apa mereka? Mengapa aku tidak tahu?” Kyuhyun berbalik menuju mobilnya.
“Apa
yang sedang mereka lakukan? Apa mereka merencanakan sesuatu yang buruk padaku?”
Kyuhyun masih berpikir keras tentang pertemuan mereka. “Min Ho-ya, Emily-sshi…
Apa yang kau rencanakan dibelakangku?”
“Yeobseo,
Kyu…”
“Mianhae
Emily-sshi, aku tidak bisa datang sekarang karena gallery ku benar benar sedang
ramai. Bagaimana kalau nanti setelah kau pulang kerja. Aku akan menjemputmu di
kantor.”
“Aa.
Tidak usah. Kita bertemu di kedai kopi saja.”
“Jeongmal
mianhae, aku tidak tahu jika keadaannya seperti ini. Kau pasti sudah menungguku
sangat lama.”
No comments:
Post a Comment