Friday, June 3, 2016

Emily (part 12)

“Sepertinya aku tidak bisa Cho Kyuhyun-sshi.” Sesal Emily setelah selama sepuluh menit mereka saling berhadapan.” Aku takut aku tidak bisa membantu sahabatmu. Aku hanya pegawai magang LPC. Aku tidak bisa berbuat banyak.” Itu lah alasan Emily pada Cho Kyuhyun, pria yang sekarang di hadapannya. Wajah optimis yang ditampakkannya sejak sepuluh menit yang lalu berubah setelah Emily memutuskan untuk tidak membantunya.

“Pikirkan lagi Emily-sshi.” Cho Kyuhyun masih membujuknya untuk membantu.
 




“Emily-sshi, kau tahu kan novelmu sedang diincar oleh beberapa production house?” Kata Chief Editor Lee Jonghyun pada Emily.

“Ne..”  Jawab Emily

“Jika novelmu dibeli dan difilm kan segera,  maka kemungkinan penjualan novelmu akan menurun.” Jelas Lee JongHyun lagi.

“Sebenarnya aku juga belum berniat untuk mengiyakan salah satu dari mereka. Aku benar benar masih menikmati karyaku dipajang di toko buku. ” Kata Emily.

“Sebenarnya kamipun tidak ingin membatasimu. Kalau kau menyetujui novelmu difilmkan. Itu adalah hakmu sepenuhnya. Tapi sekarang, bukanlah waktu yang tepat. Biarkan pembaca berimajinasi dengan novelmu dulu . Kalau perlu jangan menemui mereka. Jika ada production house atau agensi yang membuat janji denganmu. Kau bisa mengulur waktu lebih lama kan?” Pungkas JongHyun. Emily mengerti kegelisahan perusahaan. Tentu setelah difilm kan, ketertarikan pada novel Emily akan berkurang. Sudah barang tentu novel akan mengalami penurunan penjualan. “Kami tahu kau akan bertindak dengan bijak Emily-sshi.”



Percakapan Emily dan Chief Editor Lee JongHyun pagi tadi adalah sebenar benarnya alasan Emily untuk menolak permintaan Cho Kyuhyun. Ini bukan soal Emily tidak mau membantu Kyuhyun, tetapi perusahaan memintanya untuk tidak berurusan dengan production House sampai batas waktu yang belum ditentukan.


“Mianhae Kyuhyun-sshi.” Kata Emily. Penyesalan karena tidak mampu membantu Kyuhyun sedikit membuat Emily merasa tidak enak. Dan yang membuatnya semakin merasa tidak enak adalah karena yang Kyuhyun cari sekarang sebenarnya berada di hadapannya.

“Tidak apa apa, aku bisa mencari cara lain.” Kyuhyun menenangkan Emily yang merasa bersalah.

“Kenapa kau begitu serius membantu sahabatmu?” Tanya Emily. Emily melihat Kyuhyun lah yang lebih berusaha mencari cara untuk menemukan Milly Kim daripada sahabatnya yang bahkan tidak menemui Emily  untuk meminta bantuan

“ Karena aku juga tidak mau perusahaan itu bangkrut. Aku harus membantu sahabatku menemukan Milly Kim.” Ucap Kyuhyun.
“ Bangkrut? Memangnya kenapa mencari Milly Kim ketika perusahaan akan bangkrut?” Emily jadi tidak mengerti.
“Produksi film mereka sedang melemah. Mereka sedang berusaha menaikkan harga saham dengan memproduksi film film yang berkualitas. Yaa, mereka pikir memfilm-kan novel Milly Kim yang sangat popular itu akan mampu menyelamatkan perusahaan. Kenapa kau masih saja tidak mengerti sih?” Jelas Kyuhyun.

“Tidak adakah novel lain yang menarik untuk difilmkan?” Tanya Emily. Mencari cara agar pria dihadapannya ini melupakan Memories. “Aku dengar juga novel itu tidak terlalu bagus. Ini karena perusahaanku saja yang terlampau bagus dalam promo bukunya.”

“Yaak, apa kau benar benar sadar dengan bicaramu. Novel yang tidak terlalu bagus tidak akan mendapat nilai penjualan sefantastis ini. Ini Korea, jika Memories sedang naik daun maka semua akan memburunya.”

****

Emily melangkah gontai, berjalan menuju halte bus dengan sisa sisa tenaganya. Ini sudah jam 8, salju yang turun tidak membuat jalanan sepi. Semuanya menikmati salju musim dingin ini. Begitu pula Emily, gadis tropis yang selalu kedinginan karena belum terbiasa dengan musim dingin itu malah menerjang hujan salju, dan parahnya. Dia tidak merasa kedinginan. Pikirannya entah kemana. Mungkin memikirkan sahabat Cho Kyuhyun yang ingin sekali bertemu dengannya. Aah, dengan Milly Kim maksudnya. Si penulis Memories itu. Hati sensitif milik Emily membuat dia merasa bersalah berkali kali lipat. Pertama, karena dia berbohong soal Milly Kim, Kedua dia tidak bisa membantu Kyuhyun menemukan Milly Kim sementara dia adalah Milly Kim yang Kyuhyun cari, dan ketiga karena perusahaan yang hampir kolaps itu. Emily bahkan tidak tahu letak, bentuk dan apa itu CC Entertainment. Tapi mengapa dia mampu menyelamatkan perusahaan itu dari  masa sulit?

“Apa yang harus kulakukan?” Emily mendengus. Ditatapnya wajah yang kemerahan itu dari layar handphone, lalu membuka lockscreen. Memasang earphone  di telinga dan memutar playlist handhonenya.
baramkkocci nalligo haega gireojyeo gago
(The flowers fly in the wind, the sun sets later)
ijen i gireul bamsae georeodo georeodo
(Now even when I walk all night on this street)
son kkeuti sirijiga anha
(My hands don’t get cold)
mugeoun neoui ireumi barame naraoreuda
(Your heavy name flies up in the wind)
tto dasi nae balkkeute tteolgwojyeo
(And it falls next to my feet once again)

ajik neodo nal tteonaji anhneun geolkka
(Have you not left me yet either?)
aju gakkeumeun neol ijgo haruga jinago
(Sometimes, I forget you and a day passes)
aju gakkeumeun neo anin dareun sarameul kkumkkwodo
(Sometimes, I dream about someone who’s not you)
naui maeumeseon neoran kkocci jakku panda
(But in my heart, your flower keeps growing)
gaseume no no no no
(In my heart, no no no no)
apeun niga panda
(The painful you grows)

(Kwill – Growing)


***
Udara dingin pagi ini menghinggapi Seoul dengan segala hiruk pikuknya. Ini baru pukul 05.30 KST tetapi jalanan sudah mulai sibuk. Kyuhyun duduk di kursi belakang mobilnya sambil terus membaca beberapa info yang telah Sekretaris Yoo kumpulkan tentang Milly Kim.

“ Sekretaris Yoo. Buatkan aku janji dengan Chief Editor LPC tapi jangan dulu katakan apapun tentang Memories padanya. Mereka masih terlalu sensitive untuk membahas kerjasama tentang Memories.”

“Ne, algesseumnida Sajangnim.”  Jawab Sekretaris Yoo sambil menuliskan to do listnya hari ini.

Kyuhyun merogoh kantung dalam jasnya, mengambil handphone yang baru saja bergetar.

From : Emily Sshi.
Gezzz,aku berpikir keras semalaman ini dan sepertinya aku harus menanyakan ini padamu. apakah aku masih dibutuhkan untuk membantu sahabatmu menemukan Milly Kim?

To. Emily-sshi
Apakah pertanyaanmu masih perlu dijawab? Nanti temui aku di kedai kopi biasa saat jam makan siang.
From Emily-sshi
Bagaimana ya? Sebenarnya siang ini aku benar benar ingin makan jajangmyeon.
Wajahnya berubah sedikit cerah. Senyum yang cukup lebar di wajah putih pucatnya itu menandakan suasana hatinya sedikit membaik. Kyuhyun terkekeh mendapat chat balasan dari Emily. Aigo, gadis ini.

****
Seperti biasanya Emily akan datang lebih dulu dan Kyuhyun selalu terlambat beberapa menit. Tapi kali ini lebih lama dari biasanya.
Sosok pria tinggi yang Emily kenal muncul dari balik pintu. Mengedarkan pandangannya dan menemukan Emily yang sudah duduk sendirian.

“Eo? Kau kesini juga?” Tanyanya setelah mendekat menuju meja Emily.
“Eo? Choi Min Ho -sshi?” Sapa Emily.
“Kau sendirian saja?”

“Menurutmu aku akan makan jajangmyeon sendirian?”
“Kenapa tidak, kau juga selalu di kedai sendirian. Geez, Aku rasa kau benar benar tidak punya teman.”
“Katakan apapun sesukamu Min Ho-sshi.”
Min Ho tertawa melihat wajah kesal Emily.
“Aiish, kau ini. Aah aku lapar. Ahjumma. Tolong berikan aku satu jajangmyeon. Ah jangan lupa acar lobaknya.” Teriak Min Ho.
“Ne…” Sahut Ahjumma pemilik toko jajangmyeon itu dari dapurnya.
Min Ho kembali bicara pada gadis dihadapannya. Memperbaiki duduk tegaknya agar dia bisa bicara lebih santai dengan Emily.
“Sebenarnya aku masih ingin berbincang denganmu tentang Memories.” Ucap Min Ho
“Kenapa?”
“Entah kenapa kau membuatku penasaran tentang bagaimana kau tahu begitu banyak soal novel ini. Kau bahkan tahu versi asli dari Memories. Tempat tempat seperti apa latar ceritanya..”
“ Sudah kubilang aku pernah menghadiri promo bukunya.”
“Apa dia bercerita sedetail itu? Yak, mana mungkin dia membuka semua ceritanya sementara dia harus menjual bukunya.”
“Aku juga datang ke fanclubnya.”
“Sepertinya kau fans beratnya… “ Min Ho mencoba menilai. “Eo? Terimakasih Ahjumma.” Ucapnya setelah pesanannya datang.
“ngomong ngomong kenapa pesananmu belum datang? Jangan jangan, kau sedang menunggu seseorang? ” Tanya Min Ho. Emily mengangguk.

“Eoh, makanlah…”
“Waah jadi sejak tadi kau menunggu seseorang. baiklah kalau begitu aku pindah saja.”
“aaah tidak usah, kau kan sedang makan, nanti kalau dia datang aku yang akan mengganti meja.”
“Nugu? Kekasihmu?”
“Ani… rekan bisnis.”
“Kau yakin membawa rekan bisnismu ke tempat seperti ini? Yak, kau harusnya mengajak dia ke tempat yang lebih mahal sedikit.”
“Lihat lihat, siapa yang sedang mengurusi hidupku?” Emily sedikit kesal.
“Aaash, Bukan begitu, aku paham tentang kerjasama dengan Klien, Aku ini manajer produksi. Kau tau?”
“Mwo? Hahahaha… Manajer produksi membahas kerjasama Klien. Jebal, kau membuatku ingin tertawa. Yaak, kalau kau manajer pemasaran aku baru percaya padamu. Haish kau ini ada ada saja.”
“Yak,  entah manajer produksi entah manajer pemasaran. Tidak ada bedanya. Mereka sama sama melayani klien dengan baik.” Katanya masih menyumpit jajangmyeon dengan porsi besar.
“ Geez, lebih baik kau lanjutkan makanmu dan segera kembali ke kantor. Jam istirahat sudah hampir habis.”
“Yak yak, gadis ini. Siapa yang mengajarimu mengatakan itu padaku.”
“Kau…”
“Nega? Eonje?”
“Saat kita pertama kali bertemu di kedai kopi.”
“Jinjja? Aku mengatakannya? Kekanakan sekali. Umm, tapi kupikir  tidak akan masalah jika aku terlambat. Hyungku kan Presdir di sana.”
“Aish, kau menyalah gunakan posisi kakakmu sekarang?”
“Haha, aku hanya bercanda. Dia itu Hyung yang menyebalkan,.bahkan jika aku terlambat sekali saja. Dia bisa menendangku ke luar dari perusahaan..”
“Lalu tunggu apa lagi? selesaikan makanmu dan kembalilah.”
“Tenang, dia tidak akan melakukan itu padaku.”
Emily tertawa, pria ini sangat mudah mengatakan ini lalu mengatakan itu. Berbalik dari mengatakan ini menjadi mengatakan itu. Berkilah dari mengatakan ini menjadi mengatakan itu.
“Ngomong ngomong kau bekerja dimana?” Tanya Min Ho.
“LPC.” Jawab Emily Singkat.
“Mwo? Lee Publishing Company?”
“E’em.”
“Pantas saja kau tahu tentang Milly Kim, kau di bagian apa?”
“Aku hanya karyawan magang di bagian produksi.”
“Sepertinya aku harus bertemu denganmu lagi. Aku benar benar mencari orang LPC untuk membantu perusahaanku. Kau benar benar datang di waktu yang tepat.”
Emily semakin bingung dengan pria pria yang sekarang sedang berurusan dengannya. Memangnya ada apa dengan dirinya. Mengapa perusahaan perusahaan itu mencari Milly Kim.
Yak, kau lupa Emily? Siapa yang menyuruhmu membuat karya sehebat Memories?
Aku tidak tahu kenapa Hyungku begitu bodoh tidak bisa menemukan celah untuk mendapatkan Milly Kim. Pria yang sok dewasa itu benar benar membuatku kesal.”
“Yaak, kau tidak boleh mengatakan hal buruk pada kakakmu.”
“Hal buruk apanya? Kau tidak tahu kalau dia sedang mengataiku seperti apa. Jika hatiku tidak sebesar ini. Aku mungkin tidak akan berada satu pihak dengannya.” Jawab Min Ho dengan mulut yang masih tersumpal penuh jajangmyeonnya.
“Aku pikir kepribadian kalian sama saja.”
“Sama apanya? Hah sudahlah. Mengapa aku jadi kesal begini?” Min Ho mengambil acar lobak dimejanya.
“Min Ho-sshi, memangnya kau kerja dimana?”
“ CC Entertainment.”
“Mwo? CC Entertainment?”
“E’em, the big five.”
“CC Entertainment yang gedungnya di ujung jalan ini?”
“Memangnya ada CC Entertainment selain itu.? Uum, sebenarnya perusahaanku sedang sedikit bermasalah sejak kepemimpinan Hyungku. Setidaknya aku harus membantunya kan? Jadi maukah kau membantuku?” Min Ho menghentikan makannya dan mengambil posisi duduk yang lebih serius.
“Bantuan apa lagi?”
“Aigo gadis inii, aku baru meminta tolong satu kali dan kau mengatakan bantuan apa lagi?”
“Aaa benarkah?”
“Aigo aigo, kau ini. Oh iya, sejak tadi aku tidak melihat orang yang mendatangimu? Apa dia tidak jadi datang?” Min Ho tersenyum.
“ Molla seo, seharusnya dia datang kalau keadaannya memang segenting itu. Entahlah”
Emily mengambil handphonenya mencoba menghubungi Kyuhyun. Tapi dia kalah cepat dari telepon yang masuk di handphonenya.
“Yeobseo, Kyu…”
“Mianhae Emily-sshi, aku tidak bisa datang sekarang karena gallery ku benar benar sedang ramai. Bagaimana kalau nanti setelah kau pulang kerja. Aku akan menjemputmu di kantor.”
“Aa. Tidak usah. Kita bertemu di kedai kopi saja.”
“Jeongmal mianhae, aku tidak tahu jika keadaannya seperti ini. Kau pasti menungguku sangat lama.”
“Gwaencanha, aku bertemu dengan temanku. Jadi tidak terasa lama. Eoh...Arrayo.. Nan Gwaencanha. Eoh… Eoh… Eoh.. sampai nanti.”
“Aku tidak yakin dia klien katika bahasa yang kau gunakan seperti itu.”
“Urusi saja jjajjangmyeonmu yang hampir habis itu Choi Min Ho-sshi!”
***
Kyuhyun terlambat satu jam dari perjanjian awalnya. Kantornya sedang mengalami banyak kendala jadi dia tidak bisa keluar saat jam makan siang. Tapi mobilnya kini sudah berada di parking area rumah makan jajangmyeon tempatnya bertemu dengan Emily.
Melangkah sedikit bahagia dengan menarik kedua ujung bibirnya ke atas.sambil memutar mutar kunci mobilnya. Tapi langkahnya terhenti sebelum sempat masuk ke dalam rumah makan itu. Gadis dan pria yang sama sama dikenalnya itu sepertinya sedang asik mengobrol dengan selingan tawa dan gesture yang sangat dekat.
“Punya hubungan apa mereka? Mengapa aku tidak tahu?” Kyuhyun berbalik menuju mobilnya.
“Apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka merencanakan sesuatu yang buruk padaku?” Kyuhyun masih berpikir keras tentang pertemuan mereka. “Min Ho-ya, Emily-sshi… Apa yang kau rencanakan dibelakangku?”
“Yeobseo, Kyu…”
“Mianhae Emily-sshi, aku tidak bisa datang sekarang karena gallery ku benar benar sedang ramai. Bagaimana kalau nanti setelah kau pulang kerja. Aku akan menjemputmu di kantor.”
“Aa. Tidak usah. Kita bertemu di kedai kopi saja.”

“Jeongmal mianhae, aku tidak tahu jika keadaannya seperti ini. Kau pasti sudah menungguku sangat lama.”

No comments:

Post a Comment