Sudah sekitar seminggu Shinra tinggal di rumah itu.
Berakting selayaknya baby sitter yang menjaga bayi bayi Kyuhyun yang tidak berwujud.
Huh, Aku menggendong
udara, memandikan tanganku sendiri dan bicara pada dinding.
Shinra menghela nafas.
Rumah itu semakin sepi, karena pengawal sudah tidak lagi
berada di sana. Kyuhyun meminta staff kepala untuk membebas tugaskan mereka
karena bayangan Hyeon tidak menyukainya. Hanya tinggal staff kepala dan Bibi
Chang yang tinggal di sana. Staff kepala terkadang sibuk di kantor atau di
rumah Besar, sehingga bibi Chang adalah satu satunya teman bicara Shinra yang
berwujud manusia di rumah sebesar istana
itu. Tapi kini, bibi Chang pun ikut
pergi. Bukan karena Kyuhyun
mengusirnya juga. Tetapi karena penyakit suaminya sudah semakin parah. Bibi Chang harus menjaganya sepanjang waktu
hingga akhirnya dia berpamitan.
“Jae-ya, carikan satu pelayan yang seperti bibi Chang, dia baru saja
meninggalkan rumah. Aku benar benar sedih.” Kyuhyun bicara pada Hyukjae di
teleponnya.
Kyuhyun sangat menyayangi bibi Chang seperti keluarganya
sendiri. Dia sudah bekerja pada keluarga Cho hampir dua puluh lima tahun. Bibi
Chang diperintahkan untuk ikut bersama Kyuhyun di rumahnya sejak 5 tahun lalu
oleh ibunya.
Dia yang paling mengerti selera makan Kyuhyun melebihi ibu
Kyuhyun sendiri. Dia mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah di rumah sebesar
itu sebelum beberapa pelayan membantunya. Namun beberapa pelayan itu juga
akhirnya dipindahkan ke rumah besar. Rumah ayah dan Ibunya, dan hanya bibi
Chang saja yang tersisa. Kyuhyun benar benar sedih ketika Bibi Chang pamit, dan
dia masih berharap suatu saat bibi Chang kembali ke rumahnya.
“Kau suruh saja Shinra mengerjakan pekerjaan bibi Chang, dan
ambil satu pelayan dari rumah besar.” Kata Hyukjae santai.
“Yaak, Shinra hanya bertugas mengurus bayi bayiku Lee
Hyukjae!”
“Sebenarnya aku tidak suka ada orang baru di rumah itu
lagi.” Gumam Hyukjae
Kekhawatiran Hyukjae hanyalah bagaimana jika kondisi Kyuhyun
diketahui lebih banyak orang? jika dia mengambil orang dari luar lagi, dia akan
membuat perjanjian lagi. Maka semakin bertambah orang yang kemudian mengetahui
kondisi Kyuhyun. Itu akan berbahaya, banyak sekali pihak yang menginginkannya
jatuh.
“Yaa! Ini perintah dari atasanmu.”
“Dan aku mengatakan hal itu sebagai sahabatmu Kyu. Sudah lah
aku mau istirahat, kau tahu aku baru saja mengurus pembelian resort mu di
maldives itu kan? Beri aku waktu istirahat sampai besok.”
“Bagaimana kau sudah lihat? Bagus kan tempatnya? Aku ingin
mengajak istriku dan bayi bayiku ke sana. Kau harus mengosongkan beberapa
jadwalku minggu depan.” Kyuhyun membuka percakapan lain yang tidak mendapat
tanggapan bagus dari Hyukjae.
“Ku tutup.” Pungkas Hyukjae.
“Yaak... yaak!! Lee Hyukjae!!!!”
Lee Hyukjae tidak mau lagi berurusan dengan bayangan istri
atau bayi bayinya, kalaupun dia harus berurusan. Maka urusannya adalah
menyadarkan Kyuhyun untuk menerima kenyataan bahwa istri dan anak yang
dikandung istrinya telah meninggal.
Kyuhyun mendengus, Hyukjae semakin seenaknya saja dengan
perintahnya.
“Hyukjae sudah gila, dia pikir siapa bosnya? Berani sekali
menutup teleponku.” Gerutu Kyuhyun.
**********************************************************************************
Shinra mengikat rambut dan menggulung lengan kaos
panjangnya. Dia memakai sarung tangan karet dan mulai sibuk di dapur. Dia
mencuci semua peralatan bekas dia memasak.
Pagi tadi Hyukjae menelepon Shinra, dia minta untuk mengurus
dapur rumah Kyuhyun dan memasak untuk sarapannya, karena Kyuhyun tidak pernah
melewatkan sarapannya sekalipun.
“Shinra shi, kenapa kau disini?”
“Saya hanya mencuci beberapa peralatan yang kotor dan
menyiapkan sarapan.”
“Pergi lihat Hyunra dan Hyunbin. Bukankah sudah waktunya
memandikan mereka?”
“Saya akan menyelesaikan ini dan....”
“Kau baby sitter, mengapa mengurus pekerjaan rumah huuuh?”
Kyuhyun membentaknya. “Aku akan mendapatkan ganti bibi Chang dan dia akan
mengurus dapurnya. Kau urus saja hyunbin dan Hyunra. Kau dibayar untuk itu.
Bagaimana bisa kau memasak dan mencuci piring kotor sementara kau memegang anak
anakku.”
Shinra sudah tidak bisa berkutik. Dilepasnya sarung tangan
karet pink di tangannya dan pergi ke kamar. Meninggalkan Kyuhyun dengan sederet
sarapan sederhana di atas meja makan.
“Tuan, kata Hyukjae-sshi anda tidak pernah melewatkan sarapan jadi saya
membuatkan beberapa makanan untuk sarapan. Saya harap anda menyukainya.”
Dia kemudian pergi ke kamar Hyunra dan Hyunbin. Dia selalu pergi ke kamar ini, duduk di sana
sendirian sampai Kyuhyun pergi ke kantor. Satu persatu ingatan kembali membawa
Shinra pada peristiwa yang cukup mengguncang perasaannya tiga tahun lalu.
“Yeobo, kapan kau akan
keluar? Sarapan sudah siap.” Seorang wanita paruh baya itu memanggil suaminya
untuk segera sarapan. Putrinya yang berseragam SMA itu duduk di hadapannya. Dia
menunduk, memperhatikan makanan yang sudah dilahap sejak tadi meski ibunya meminta untuk menunggu ayahnya
keluar dan makan bersama.
“Tidak perlu menunggu
ayah, bu. Aku sudah terlambat masuk sekolah. Aku harus sarapan dulu.”
Matanya berkaca kaca,
dia tidak ingin makan bersama ayahnya. Oh ayolah, bukan tidak ingin. Tetapi
tidak bisa.
“Ayah akan mengantarmu
ke sekolah agar kau tidak terlambat.”
“Ibu ku mohon!!!”
gadis itu meletakkan sumpit dan sendoknya kasar dan berteriak.
Gadis itu menangis,
ibunya pun tak lama ikut menangis. Sarapan pagi yang seharusnya menjadi kegiatan
yang membuat semua orang bisa bersemangat melakukan aktifitas. Malah menjadi
adegan memilukan setiap pagi. Gadis itu tidak bisa lagi menahannya setelah
berbulan bulan dia berakting selayaknya sang ayah masih bersamanya. Dia sudah
sangat muak saat ibunya selalu memanggil ayahnya setiap pagi dengan kata
“Yeobo”
Ibu gadis itu tidak
menerima ketiadaan suaminya.
Dan gadis itu adalah
Kim Shinra.
Itulah mengapa dia menerima pekerjaan ini tanpa pikir
panjang. Dia pernah mengalaminya dan sampai saat ini dia masih mengalaminya.
Ibunya baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena skizofrenia. Skizofrenia
ini adalah dampak dari buruknya penerimaan diri ibunya terhadap kematian suaminya.
Dia terus meyakini dan meyakini bahwa suaminya masih hidup
sehingga dia sering berbicara sendiri. Keyakinan itu bukan dia tidak tahu bahwa
suaminya sudah meninggal. Dia tahu dan sangat mengingatnya. Tapi keyakinan
keyakinan bahwa suaminya tidak akan meninggalkan dia di dunia ini menjadi
pemicu delusinya.
Halusinasinya juga semakin berkembang setelah dia mengatakan
mendengar mobil suaminya pulang kantor dan memanggil manggil mereka sambil
membawakan kue ulang tahun Kim Shinra. Itu adalah halusinasi pertama ibunya, dan
makin lama bukan hanya halusinasi auditorinya . Halusinasi visualnya pun
akhirnya nampak pada dua tahun terakhir. Dia bicara seolah suaminya berpamitan
pergi ke kantor atau sarapan bersama seperti biasa.
Bagaimana itu tidak menjadi tekanan pada Shinra, ayahnya
yang sangat menyayanginya pergi untuk selama lamanya, seharusnya dia memiliki
ibu untuk bisa saling menguatkan. Tapi ibunya malah lebih terpuruk daripada
dirinya.
“Mengapa aku masuk ke dunia fantasi seperti ini lagi.”
Keluhnya kemudian.
Bar kecil di sudut kota ini sangat tenang. Tidak seperti bar
lainnya yang dipenuhi musik yang memekakkan telinga. Tempat dimana seseorang
membutuhkan ketenangan atas rasa penat setelah seharian bekerja.
Pria dengan gummy smile khasnya itu duduk dengan segelas
beer. Dia tidak mabuk, tidak akan. Hubungannya dengan seorang gadis sedang
berjalan dengan sangat lancar. Dia bertemu dengan gadis incarannya beberapa
hari lalu dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan ini yang lebih santai dan tenang.
Han So Hee, ingat kan? Psikiater yang dia temui. Teman
kakaknya, Lee Sora. Tidak disangka hubungan mereka berjalan cukup baik walaupun
Hyukjae baru menemuinya sekali setelah pertemuan pertamanya. Jadi ini adalah
pertemuan ketiga, namun tujuannya adalah membahas kondisi Kyuhyun. Baiklah
bukan hanya itu, sambil menyelam minum
air ditambah berpose selfie di dasar sana. Mungkin istilah terbarunya begitu.
Selain membahas kondisi Kyuhyun, Hyukjae
juga ingin bertemu dengan So Hee.
“Bagaimana kondisi Kyuhyun?” gadis yang ditunggu Hyukjae itu
datang, dia langsung duduk dan tanpa basa basi dia menyodorkan pertanyaan inti
pertemuan.
“Masih sama, dan... aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Kau tidak mengikuti permainannya kan?”
“M.. em, seperti saranmu.”
“Memang sulit untuk membujuknya pergi memeriksakan diri.
Tapi aku benar benar berpikir dia harus mendapatkan konseling.”
“Lalu bagaimana aku bisa membawanya?Kau sudah tau dia pasti
akan...”
“Lee Hyukjae, disini kau rupanya.” Sosok tinggi yang
dikenalnya menghampiri meja dan duduk di kursi kosong yang tersisa. “Siapa? pacarmu?
Sepertinya yang kemarin bukan dia?” serang sosok tinggi itu yang tidak lain
adalah sahabat sekaligus bosnya. Cho Kyuhyun.
“Yaak!” Hyukjae kesal atas selorohan Kyuhyun.
“ Siapa?” tanya So Hee pada Hyukjae.
Hyukjae hanya mengedikkan bahu “Abaikan saja dia.”
“Yaa, kau tidak mau mengenalkan pacar baru pada sahabatmu?”
“Oh jadi kau sahabatku? Kau tidak pulang saja? Kenapa di sini?”
“Aku ingin mampir minum sebentar, tapi karena ada kau selera
minumku jadi hilang. Sebenarnya aku
sedikit bosan sendirian di rumah. Aku pergi dulu. ”
“Kkah...” usir Hyukjae.
“Oh ya, aku mau liburan ke villa baruku bersama Hyeon,
Hyunbin dan Hyunra. Dan kau, sepertinya harus ikut untuk menghandle pekerjaan
di sana.”
“Apa aku boleh bawa dia?” tunjuk Hyukjae pada So Hee.
“Asal jangan membawa kakakmu yang cerewet itu Lee Hyukjae
haha.”
“Sialan!!”
Kyuhyun pergi dari bar setelah lima menit bersama Hyukjae.
Kyuhyun bisa saja duduk bersama mereka dan minum bersama tapi dia memilih
pulang.
“Itu Kyuhyun kan?” Tanya So Hee, hyukjae mengangguk
. “Kau tidak mengambil hati kata kata temanku tadi kan?”
So Hee mengerutkan dahi, tidak mengerti “Tentang?”
“Jangan salah paham karena aku bukan pria yang memiliki banyak
wanita.”
“Hahaha, yang benar saja. Kenapa aku harus memikirkan hal
itu?”
“Mm... jadi kau tidak memikirkan hal itu kan? Syukurlah.”
“Jangan salah paham, Kita hanya psikiater dan perantara
klien. Apa yang perlu aku pikirkan tentang kau mempermainkan banyak wanita.
Bukankah itu urusanmu? Dan apa kau tidak sadar? kau baru saja mengusir klien
yang seharusnya bisa menemui psikiaternya... hahaha” jawab So Hee.
Jawabannya meruntuhkan hati Hyukjae. Jadi dia hanya perantara
klien. Hyukjae kemudian kehilangan semangat. Kupu kupu yang menari nari di dalam perutnya seakan
teracuni dan mati.
“Bukankah Kyuhyun mengatakan dia bosan sendirian di rumah?” tanya So Hee.
“Molla...” Hyukjae sudah sebal dengan pembahasan ini.
“Itu artinya dia tidak berdelusi atau berhalusinasi.”
“Bisa kau jelaskan intinya saja?”
“Jangan marah padaku dan temui aku di rumah sakit pada jam
istirahat.” So Hee menyunggingkan senyumnya.
“Aku besok sibuk.”
“Apa kau pikir aku tidak? Kita bisa lihat besok apa Lee
Hyukjae yang menyukaiku akan tetap menjadi perantara klien atau lebih dari
itu.”
“Aku tidak menyukaimu.”
“Haha, benarkah? Ya sudah kalau begitu kau hanya akan jadi
perantara klien selamanya.”
Aah sial, Hyukjae terpesona. Dia berniat mengangkat tinggi
tinggi gengsinya tapi dia tetap penasaran. Gadis ini bisa saja membuat Hyukjae
membumbung tinggi, menjatuhkannya, dan kemudian membuat Hyukjae semakin ingin
menemuinya.
**********************************************************************************
No comments:
Post a Comment