Saturday, June 4, 2016

Escape (part 1)

Seseorang yang sangat kau cintai itu telah pergi.

Mengapa kau tidak menyadarinya?

Mengapa kau menipu dirimu sendiri?

Apa kau sudah gila?



Sore itu matahari perlahan turun, musim semi kali ini sangat cerah seakan memancarkan kebahagiaan pada orang orang yang menikmatinya. Seorang pria muda duduk di teras belakang rumahnya yang sangat luas dengan pemandangan hamparan bunga bunga berwarna kuning cerah. Di mejanya tergeletak dua cangkir teh camomile yang masih terisi penuh.



Pria itu nampak berbincang dengan seseorang. Tatapannya berbinar, seakan menunjukkan cinta yang mendalam pada yang ditatapnya.



Dia tersenyum dan kadang tertawa renyah, entah lelucon apa yang dia dengarkan. Bahkan semua orang yang melihatnya pun akan tahu bahwa pria itu sangat bahagia.




“Hahaha, enam? Kau tidak salah. Aku sih kuat saja. Memangnya kau mau hamil enam kali?”  Tanya pria itu. Kemudian menyeruput sedikit teh camomilenya.



“Iya aku tahu, rumah kita memang sangat besar. Kau pasti kesepian jika aku pergi ke kantor.” Jawabnya lagi.




“Baiklah, kalau kau mau enam. Aku bahkan mau saja jika kau menginginkan 13 anak. Aku bisa membentuk Super Junior Jr nanti haha...” kekehnya setelah mendapat jawaban dari istrinya.



“Yaa, kau tenang saja, uangku tidak akan habis walaupun aku menyekolahkan seratus anakku di Chohwa.” Pria itu menyombongkan diri lagi.  



Sesaat setelah dia tertawa, ekspresinya berubah masam. Kemudian tatapannya kosong. Dia masuk ke dalam rumahnya.



Rumah dua lantai itu dilengkapi berbagai macam peralatan tercanggih, dilengkapi pengamanan berlapis dan cctv yang bertebaran di sudut ruangan.  Beberapa pengawal juga berdiri di segala pintu yang akan dengan sigap menarik gagangnya jika pria ini melintas dari satu ruangan ke ruangan yang lain.



Tidak mengherankan, karena pria ini adalah pemilik tahta “chaebol” nomor wahid di Korea Selatan. Pemilik yayasan amal terbesar dan sekolah para pangeran dan putri petinggi negara, para pemilik perusahaan besar dan para siswa dengan tingkat kecerdasan diatas rata rata.



Selain yayasan amal dan sekolah elit, dia juga memiliki empat perusahaan lain, antara lain produsen mobil yang sudah mendunia “Hyundai” , periklanan, departemen store serta properti. Dia adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam menggerakkan perekonomian nasional.



Wajahnya sering terpampang dalam majalah bisnis atau surat kabar. Seringkali headline-nya terlalu berlebihan jika memberitakan barisan bisnis milik pria ini “Kerajaan Cho semakin mendunia.” Atau “Cho Group mendongkrak ekonomi Asia lewat bisnis properti.” “ Chohwa, sekolah para bangsawan negeri timur.”



Pria itu bernama Cho Kyuhyun, pria muda dengan sederet bisnis dan kekayaan yang sangat menggiurkan. Kehebatannya dalam menghandle semua bisnis miliknya tidak diragukan lagi. Tidak heran jika dia mendapat sebutan si tangan emas, karena setiap perusahaan yang ditanganinya akan menjadi ladang emas dengan penghasilan yang mencengangkan. Pemberitaan di media massa selalu tentang prestasinya. Kebanggaannya memiliki bisnis dengan penghasilan tertinggi setiap tahun. Banyak yang bisa dibanggakan darinya hingga kehidupan pribadinya.



Cho Kyuhyun orang yang ramah, kepribadiannya hangat, membuat semua orang tidak henti hentinya memuji. Bahkan dia didapuk menjadi 10 pria yang sangat ingin dijadikan suami oleh banyak wanita dengan rentang usia 20 hingga 40 tahun.



Idola baru yang muncul karena bidang bisnis memang jarang terjadi, dan beberapa tahun terakhir memang Kyuhyun menjadi bintangnya.  Pria tampan dan mapan,serta berkepribadian hangat sudah mencuri hati banyak orang.



Tapi tidak lama setelahnya para wanita itu akhirnya patah hati juga, Cho Kyuhyun tidak terlalu bersemangat menikmati kepopulerannya di kalangan wanita hingga akhirnya dia mengkonfirmasi rencana pernikahannya dengan seorang wanita yang masih sangat muda. Usianya baru 19 tahun dan mereka menikah di Bali, salah satu landmark negeri di Asia Tenggara, Indonesia.



Pernikahannya pun mempengaruhi harga saham perusahaannya, mereka sempat turun beberapa bulan dan sulit beranjak naik. Akhirnya Kyuhyun mencoba membungkam beberapa media untuk menghentikan pemberitaan tentang pernikahannya dan dia berhasil. Tidak sulit bagi Kyuhyun membuat media diam.



Ya, memang mengherankan jika berhubungan dengan seorang idola. Mereka bisa menaik turunkan harga saham hanya dengan mengangkat rumor dating atau pernikahan.



Tapi Kyuhyun mulai bekerja keras lagi setelah pernikahan, mengembalikan kejayaan perusahaannya yang sempat sedikit tergelincir dari posisi nomor satu dan mencoba merebut kembali tahtanya.



Tidak sulit, Kyuhyun selalu melakukannya dengan baik apalagi sudah ada istri disampingnya yang menjadi penyulut semangat setiap waktu. Gadis itu masih sangat kekanakan tetapi cintanya pada Kyuhyun menunjukkan kedewasaan. Dia juga berkepribadian hangat seperti Kyuhyun, dia bisa membuat Kyuhyun yang tegang karena pekerjaan menjadi lebih santai, bagi Kyuhyun, tidak ada obat penenang yang paling ampuh selain senyuman istrinya.



Istrinya sangat cantik, tubuhnya kurus mungil bak manekin hidup. Dia selalu mendampingi Cho Kyuhyun jika ada pertemuan perusahaan. Gadis itu, sangat anggun, seperti departemen store berjalan. 

.

Tidak tahu dimana Cho Kyuhyun menemukan gadis secantik malaikat itu. Tapi Kyuhyun benar benar mencintainya. Apapun dilakukannya untuk gadis itu. Kyuhyun sempat meninggalkan rapat pemegang saham karena mendengar istrinya terbatuk di telepon. Kyuhyun juga membatalkan konferensinya karena tahu istrinya tidak enak badan, dan kejadian terakhir, Kyuhyun memecat seluruh sttaff di rumah dan pelayan nya yang lalai membiarkan istrinya pergi ke supermarket sendirian.



Kyuhyun hanya tidak akan membiarkan hal hal buruk menghampiri istrinya. Bahkan kuman seujung kukupun tidak akan mampu menempel di tubuh istrinya dengan berbagai cara.  Kyuhyun bisa mengusir bahaya yang mengintai istrinya dengan power yang dimilikinya.



“ Sudah ku bilang tidak ada pria setampan aku yang akan mencintamu selamanya, mengapa kau tidak percaya, huh?” ucap Kyuhyun di sela sela candaannya di ruang TV.



Istrinya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun.



“Yeobo, besok aku ingin berbelanja...” kata gadis itu pada suaminya.



“Sebutkan saja dimana tempatnya. Singapore? Milan? Kita bisa berangkat sekarang juga menggunakan jet pribadi karena aku tidak suka dengan penerbangan umum. Terlalu berisik”



“ Woaah Kau bilang apa, aku hanya ingin berbelanja keperluan dapur denganmu. Kenapa jauh jauh menggunakan jet pribadi.” Gerutu Hyeon.



“Kau benar benar akan membuat bibi Chang memakan gaji buta?” Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke layar besar di depan mereka, dia tidak begitu menyukai permintaan istrinya.



“Ayolah Kyu, aku ingin menikmati masa masa seperti dulu. Berjalan bebas seperti dulu.”



“Kyu??” Kyuhyun mendelik memamerkan mata evilnya.



“Oppa? Chagi?” goda Hyeon memasang wajah  aegyo nya.



“Yeobo! Kau tidak ingat kau sudah menjadi istriku, huh?” Kyuhyun menegaskan status Hyeon.



Em... Pembicaraan itu berlangsung setahun yang lalu. Kini Kyuhyun duduk termangu di ruang kerjanya. Menatap foto besar pernikahannya dengan Hyeon. Tuxedo hitamnya dan gaun putih tulang Hyeon yang sangat anggun. Wajahnya masih kekanakan tapi itulah pesonanya. Kyuhyun mencintai Hyeon tanpa ada sisa lagi di ruang hatinya.




Surat kabar di meja kerjanya kembali dihamburkan ke sembarang tempat. Wajah frustasinya nampak lagi untuk yang kesekian kalinya setiap hari.



Sekuat dan sekaya apapun diri Kyuhyun, dia tidak bisa bernegosiasi dengan Tuhan soal  nyawa. Tidak ada seorang manusia pun yang mampu membeli kehidupan, Istrinya meninggal dalam kecelakan mobil dalam perjalanannya menjemput Kyuhyun yang baru saja menghadiri konferensi di San Fransisco. Hyeon meninggal sesaat setelah diturunkan dari ambulans yang membawanya ke rumah sakit.



Hari harinya begitu terpukul, dia menggelap dan depresi.  Satu bulan dia habiskan di dalam rumahnya tanpa pergi kemanapun. Pekerjaannya di handle oleh sahabatnya yang menjadi kaki tangannya di perusahaan. Lee Hyuk Jae.



Rumahnya tidak lagi penuh pengawal pribadi, hanya beberapa penjaga pintu utama dan pelayan serta satu juru masak. Kyuhyun memindahkan pengawal pengawal mereka ke tempat yang lain. Katanya itu adalah permintaan Hyeon. Istrinya.



“Kau harus memindahkan beberapa pengawal ke tempat lain, istriku tidak nyaman jika rumahnya banyak pengawal seperti ini. Apalagi ini adalah waktu kami sedang berdua..” Kata Kyuhyun.



Kepala Staff rumah Kyuhyun mengerutkan dahinya.



“Kau tidak dengar yang istriku bilang? Dia ingin pengawal pengawal itu pergi!!” Kepala staff kemudian menuruti saja. Tekanan kematian istrinya membuat Kyuhyun menjadi sangat temperamen.



Berdiam diri, sering murung dan temperamental, begitulah Kyuhyun setelah kepergian istrinya, Hyeon. Tapi yang lebih aneh, Kyuhyun mulai bicara sendiri. Dia bicara sendiri di ruang TV, di dapur dan di kamarnya. Kyuhyun akan marah jika pelayannya menyiapkan satu piring saja di meja makan, dia selalu bicara sendiri sambil memakan sarapannya atau makan malamnya. Dia juga akan marah jika pelayannya hanya menyiapkan satu cangkir teh saja di teras halaman belakang.



“Bunga bunga yang kau tanam itu sudah tumbuh indah, kau memang berbakat membuat keindahan.” Kata Kyuhyun suatu sore. Dia menoleh di samping kirinya. Secangkir teh dan sebuah kursi kosong yang tersisa.



Kepala staff menghubungi Lee Hyuk Jae soal ini, dan Hyuk Jae pun mendapati sahabatnya mulai bicara sendiri. Seolah dia sedang bicara dengan istrinya.




Hyuk Jae duduk di kursi kosong di samping kirinya.



Kyuhyun membentaknya dan berteriak “Mengapa kau duduk di pangkuan istriku. Apa kau sudah gila?”



Hyuk Jae merinding, apa benar di sana ada arwah istrinya atau Kyuhyun yang mulai berhalusinasi.



“Yaak, jangan membuatku takut begitu. Bikin merinding saja.”



Kyuhyun mendebat, dan Hyuk Jae tetap bersikeras mengatakan Hyeon sudah meninggal. Tapi Kyuhyun malah menghadiahi Hyuk Jae bogem mentahnya yang membuat sudut bibir Hyuk Jae sedikit robek.



“Kau saja yang mati Hyuk Jae-ah! Bukan Hyeon!” Kyuhyun meraih kerah baju Hyuk Jae dan mengangkatnya tinggi tinggi. Dia marah karena Hyuk Jae menganggap istrinya sudah meninggal.



Mulai saat itu Hyuk Jae tidak pernah lagi membahas kematian Hyeon. Tidak lucu wajah tampannya selalu dirusak oleh Kyuhyun jika dia berkunjung untuk membahas pekerjaan.



Hyuk Jae pun mulai berakting selayaknya dia bisa melihat Hyeon ada di sana. Menyapa Hyeon di samping Kyuhyun dan berpura pura tertawa dengan lelucon dari Hyeon yang bahkan tidak pernah dia dengar. Namun Kyuhyun menjadi baik baik saja karena sikapnya. Kyuhyun semakin membaik dengan meyakini bahwa Hyeon masih hidup.



Apa yang harus Hyuk Jae lakukan?




*******

“Kenapa dasi yang ini, aku lebih suka yang itu Hyeon.” Kata Kyuhyun di dalam kamarnya. Dia mulai lagi dan Hyuk Jae mendengarnya dari luar kamarnya saat dia akan menjemput Kyuhyun di kamarnya.. Hyuk Jae mulai khawatir dengan Kyuhyun, jika dibiarkan Kyuhyun mungkin akan lebih parah dan muncul halusinasi dan delusi yang lain. Ah yang benar saja, jika orang sepenting dia harus menderita skizofrenia.



“Ini tidak boleh terjadi, sebelum dia menjadi lebih parah, dia harus diobati. Harus... hatinya harus diobati.” Ucap Lee Hyuk Jae mantap.



Di rumah, Lee Hyuk Jae termenung memikirkan sahabatnya yang sudah seperti orang gila karena selalu bicara sendiri. Kyuhyun hanya melakukannya di rumah, tapi di kantor, dia seperti Cho Kyuhyun yang biasanya. Hanya saja boss nya itu lebih pendiam dan temperamental. Kehangatan yang selalu dia tularkan ke siapapun telah hilang.



“Kau kenapa?” tanya Lee Sora.



“aku sedang memikirkan Kyuhyun,  dia benar benar tidak bisa diabaikan.”




“Apa semakin parah? Kenapa tidak membawanya ke psikiater?”




“Dia mungkin akan membunuhku karena menyangka dia gila. Hrrrrr, aku benar benar merasa dia bicara dengan arwah istrinya. Dan aku juga berpura pura melihatnya.“




“Yaaak, apa gila itu penyakit menular? Kenapa kau ikut gila?”




“Yaak! Jangan menyebutnya gila.”




“Lalu harus ku sebut apa? Bawalah ke rumah sakit kejiwaan Hyuk Jae-ah, aku benar benar kasian mendengarnya. Kyuhyun itu adik yang baik. Emm, Bahkan lebih baik dari adikku sendiri.”




“YaaK!”




“Wae? Dia yang membiayai kuliahku di Harvard saat adikku ini sudah tidak peduli padaku.”




“Dan sekarang aku bekerja padanya untuk membayar hutang hutang pendidikanmu itu. Kau pikir Kyuhyun memberimu uangnya secara cuma cuma? Kau tidak tahu saja dia memanfaatkan kepintaranku ini untuk mengurus perusahaannya.”



“Aaah, kau benar juga.  Dan Kyuhyun menggajimu lima kali lipat lebih tinggi dari para  petinggi perusahan. Perusahaan macam apa yang melakukan itu pada orang sepertimu. Kyuhyun memang sudah gila sejak awal”



“Noona, jika kau tidak bisa membantuku lebih baik pergi saja. Pergi sana...”




“Em, bagaimana jika kau bawa Kyuhyun pada kenalanku, dia psikiater di rumah sakit Hakwon, lulusan terbaik di John Hopkins university.  Ku dengar pengalaman penanganannya jugaa sudah cukup banyak. Mungkin Kyuhyun akan baik jika dibawa ke sana.”




“Rumah Sakit Jiwa Hakwon?”




“ Aish, aku heran dengan Kyuhyun, dari sekian banyak bidang  perusahaannya. Mengapa dia tidak mendirikan rumah sakit?  Yayasan sosial, panti asuhan, lembaga amal dia memiliki semuanya. Tetapi Dia tidak memikirkan kesehatan dirinya dan banyak orang. ”




“Dia punya, satu di Afghanistan, satu di palestina,  dua di Uganda dan satu di Afrika Selatan.”



“Jjinjja? Wuaaah, daebak! Lalu apa yang dia tak punya?”




“ Istri... dia kehilangan istri. Kau tau? Betapa terlukanya dia eoh?”



“Aaah iya, kau benar.”




“Oh Noona, Dokternya laki laki atau....?” antena feromon Hyuk Jae bersungut sungut.



“Jangan berani menggodanya Jae-ya!”




“Aaa, dia wanita.” Hyuk Jae mengangguk gembira. Baiklah, akan ku bawa Kyuhyun ke sana. Bersiaplah noona, psikiater itu akan menjadi adik iparmu.” Hormon hormon cinta Hyukjae selalu saja mudah terprovokasi oleh kata kata “dia wanita.” Oh baiklah, bagaimana jika dia kambing wanita. Apa hormon cintanya akan terprovokasi juga?




“Yaak Yaaak, ku bilang jangan menggodanya!”


Hyuk Jae hanya menari nari sambil melambaikan tangan pada kakak perempuannya, sebelum 
akhirnya mobil hitam yang dikendarainya menembus jalanan malam menuju rumah super mewah milik Kyuhyun.



“Kenapa datang malam malam? Apa ada masalah di perusahaan?” Tanya Kyuhyun



“Kyuhyun-ah, aku ingin bicara padamu. Aku datang sebagai sahabatmu, bukan bawahanmu.”



“Tentang...”



“Istrimu..”



“Berhenti menyebutnya sudah mati atau kau pergi saja ke neraka!”




“Hyeon sudah meninggal Kyu, kau harusnya tahu.”



Kyuhyun tetap mengelak, dia mengatakan  istrinya masih hidup dan sedang mengurus kelahiran anaknya. Hyuk Jae semakin kesal dan menunjukkan foto foto prosesi pemakaman dan berita di surat kabar tentang kecelakaan maut di San Fransisco yang merenggut istrinya, tapi Kyuhyun masih menyangkal dan mengatakan istrinya sedang memeriksa kandungannya. Kyuhyun semakin tidak masuk akal, dan Hyuk Jae selalu saja kalah melawan Kyuhyun. Jadi usahanya untuk membawa Kyuhyun ke psikiater mungkin akan sia sia.



“Aku tidak bisa diam saja seperti ini. Ah, aku mungkin harus membawa rekaman cctv dan menemui psikiaternya sendiri.”




Esok paginya, Kyuhyun menelepon Hyuk Jae. Dia membutuhkan seorang baby sitter karena anaknya sudah lahir dan mereka kembar. Hyeon belum bisa mengurus mereka bersamaan jadi dia membutuhkan tenaga baru. Kyuhyun meminta Hyuk Jae mencarikan baby sitter yang paling berpengalaman, dia harus berlisensi dan tidak memiliki daftar hitam dalam pekerjaannya.



Hyuk Jae merasa frustasi, niatnya menyembuhkan Kyuhyun rasanya semakin sulit karena muncul dua objek halusinasi lainnya.




Tapi Hyuk Jae tidak menyerah. Dia pergi ke Rumah sakit Hakwon dan bertemu dengan kenalan kakaknya.



Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan nama yang sudah disodorkan Soora. Han So Hee. Hyukjae masuk keruangan itu dan menyapa.



“Silakan, ada yang bisa ku bantu?”



“Permisi, Aku  lee Hyuk Jae”



“Ooh, kau adiknya Sora eonni kan?  Dia bilang adiknya akan datang bersama temannya. Lalu dimana temanmu? ” wanita itu mengikat rambutnya ke belakang memperlihatkan leher putihnya yang menggoda. Matanya besar dan bibir merah mudanya membuat Hyuk benar benar terpesona. 



Uuuu uuu uuu....

her eyes, her eyes make the stars look like they're not shining

Her hair, her hair falls perfectly without her trying

She's so beautiful

And I tell her everyday
.
Mata Hyuk Jae tidak berhenti berbinar menatap dokternya. Hyuk Jae benar benar dibuat jatuh hati pada pandangan pertama. Ooh, betapa bersyukurnya dia memiliki kakak seperti Sora. Oh tidak, mungkin maksudnya memiliki kakak yang memiliki teman secantik dokter ini. Hyuk Jae mungkin rela menjadi gila agar bisa menemuinya  setiap terapi.



“Dia tidak bisa datang. Tapi aku membawa rekaman cctv.“ ucap Hyukjae.




“Oh, baiklah. Ayo kita lihat...” mereka nampak mengamati satu demi satu rekaman cctv  dari rumahnya, tapi Hyuk Jae malah tidak bisa berkonsentrasi, matanya sibuk melirik ke arah wanita di sampingnya dan mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang satu itu.



Dokter jiwa ini benar benar tahu caranya mengambil jiwaku yang kesepian ini...Hehei, Aku sudah gila! Aku tergila-gila.




“Sepertinya dia tidak berhalusinasi. Dia juga tidak melihat istrinya.”




“Tapi mengapa dia bicara sendiri seolah oleh melihat seseorang disampingnya?” Tanya Hyukjae. Dia mulai serius. Ini menyangkut kesehatan sahabatnya dan juga nasib deretan perusahaannya yang mungkin akan memburuk dengan kabar ini.




“Dia hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggal. Jadi dia menyangkalnya, dia terus menyangkalnya setiap hari. Buktinya dia sering terlihat menangis di ruang TVnya”




“Apa tidak berbahaya jika dibiarkan saja?”



“Tentu saja berbahaya, resiliensinya sangat rendah karena dia begitu mencintai istrinya, dan ada tendensi dia mengalami delusi. Karena terus menerus menyangkal kematian , dia mungkin akan meyakini kehidupan istrinya, jika dibiarkan terus menerus dia bisa menderita Skizofrenia”



“Skizo? Hh.. tidak, dia tidak boleh. Lalu apa yang harus ku lakukan?” Hyukjae cemas.



“Kau harus membuatnya menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggal. Apa kau benar benar  tidak bisa membawanya kemari?”



“Eoh? Mmm... entahlah. Dia mungkin marah jika aku membawanya ke rumah sakit jiwa. Emm.. apa kebetulan kau bisa bertemu di luar rumah sakit. Di restoran misalnya?”


Oke baiklah, Hyukjae mulai menyerang dengan memanfaatkan kesempatan. Kali ini bukan hanya demi sahabatnya tetapi untuk dirinya sendiri. Hyukjae menginginkan pertemuan selanjutnya dengan dokter jiwa yang sudah menawan hatinya.



“Mmm... tentu saja. Kapan saja kau ada waktu.”


Hyukjae tersenyum, karena harapan untuk pertemuan selanjutnya terbuka lebar, dan sepertinya dokter jiwa itu juga menyukai Hyukjae.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Akan kuhubungi untuk pertemuan selanjutnya.”Tutup Hyukjae. Dokter itu hanya mengangguk dan tersenyum. Hyukjae pergi dari ruangannya, namun sedetik kemudian dia mengetuk lagi.


“Mm... kita mungkin harus membuat janji sebelum bertemu. Jadi, bolehkah aku...meminta nomormu?”


“Kau bisa memintanya pada Sora Eonni.”


“Aaa, kau benar. Tapi akan sangat canggung meminta padanya....”


Dokter cantik itu menghampiri Hyukjae yang berdiri di depan pintu dan mengambil handphone dari tangan Hyukjae. Mengetikkan beberapa deret angka dan menyerahkan kembali pada Hyukjae. Wajah Hyukjae memerah. Dia tersenyum malu karena dokter itu lebih terang terangan.


“Mm, baiklah.. terimakasih, mm...  aku akan meneleponmu. Segera.... ”

Kali ini apa yang dilakukan Hyukjae di depan ruangan Han So Hee. Dia melompat dan menari sekenanya. Mengekspresikan kebahagiaan yang tiada tara. Hubungannya dengan dokter itu mungkin akan berlanjut.

Hyukjae tidak menyadari berapa pasang mata yang menyelidiknya. Ingin tahu apa yang dia lakukan di sana. Mengapa dia menggerak gerakkan tangan, kaki dan kepala serta senyumannya yang tidak pernah berhenti.


“Huh, sepertinya aku sudah menjadi pasien sakit jiwa...” Hyukjae menepuk kemejanya dan berjalan tanpa mantap tanpa peduli orang orang yang menatapnya geli.

Tak apa karena dokter jiwanya Han So Hee yang begitu cantik
******








No comments:

Post a Comment