Seseorang yang sangat kau cintai itu telah pergi.
Mengapa kau tidak menyadarinya?
Mengapa kau menipu dirimu sendiri?
Apa kau sudah gila?
Sore itu matahari perlahan turun, musim semi kali ini sangat
cerah seakan memancarkan kebahagiaan pada orang orang yang menikmatinya.
Seorang pria muda duduk di teras belakang rumahnya yang sangat luas dengan
pemandangan hamparan bunga bunga berwarna kuning cerah. Di mejanya tergeletak
dua cangkir teh camomile yang masih terisi penuh.
Pria itu nampak berbincang dengan seseorang. Tatapannya
berbinar, seakan menunjukkan cinta yang mendalam pada yang ditatapnya.
Dia tersenyum dan kadang tertawa renyah, entah lelucon apa
yang dia dengarkan. Bahkan semua orang yang melihatnya pun akan tahu bahwa pria
itu sangat bahagia.
“Hahaha, enam? Kau tidak salah. Aku sih kuat saja. Memangnya
kau mau hamil enam kali?” Tanya pria
itu. Kemudian menyeruput sedikit teh camomilenya.
“Iya aku tahu, rumah kita memang sangat besar. Kau pasti
kesepian jika aku pergi ke kantor.” Jawabnya lagi.
“Baiklah, kalau kau mau enam. Aku bahkan mau saja jika kau
menginginkan 13 anak. Aku bisa membentuk Super Junior Jr nanti haha...”
kekehnya setelah mendapat jawaban dari istrinya.
“Yaa, kau tenang saja, uangku tidak akan habis walaupun aku menyekolahkan
seratus anakku di Chohwa.” Pria itu menyombongkan diri lagi.
Sesaat setelah dia tertawa, ekspresinya berubah masam.
Kemudian tatapannya kosong. Dia masuk ke dalam rumahnya.
Rumah dua lantai itu dilengkapi berbagai macam peralatan
tercanggih, dilengkapi pengamanan berlapis dan cctv yang bertebaran di sudut
ruangan. Beberapa pengawal juga berdiri
di segala pintu yang akan dengan sigap menarik gagangnya jika pria ini melintas
dari satu ruangan ke ruangan yang lain.
Tidak mengherankan, karena pria ini adalah pemilik tahta
“chaebol” nomor wahid di Korea Selatan. Pemilik yayasan amal terbesar dan
sekolah para pangeran dan putri petinggi negara, para pemilik perusahaan besar
dan para siswa dengan tingkat kecerdasan diatas rata rata.
Selain yayasan amal dan sekolah elit, dia juga memiliki
empat perusahaan lain, antara lain produsen mobil yang sudah mendunia “Hyundai”
, periklanan, departemen store serta properti. Dia adalah salah satu orang yang
berpengaruh dalam menggerakkan perekonomian nasional.
Wajahnya sering terpampang dalam majalah bisnis atau surat
kabar. Seringkali headline-nya terlalu berlebihan jika memberitakan barisan bisnis
milik pria ini “Kerajaan Cho semakin mendunia.” Atau “Cho Group mendongkrak
ekonomi Asia lewat bisnis properti.” “ Chohwa, sekolah para bangsawan negeri
timur.”
Pria itu bernama Cho Kyuhyun, pria muda dengan sederet
bisnis dan kekayaan yang sangat menggiurkan. Kehebatannya dalam menghandle
semua bisnis miliknya tidak diragukan lagi. Tidak heran jika dia mendapat
sebutan si tangan emas, karena setiap perusahaan yang ditanganinya akan menjadi
ladang emas dengan penghasilan yang mencengangkan. Pemberitaan di media massa
selalu tentang prestasinya. Kebanggaannya memiliki bisnis dengan penghasilan
tertinggi setiap tahun. Banyak yang bisa dibanggakan darinya hingga kehidupan
pribadinya.
Cho Kyuhyun orang yang ramah, kepribadiannya hangat, membuat
semua orang tidak henti hentinya memuji. Bahkan dia didapuk menjadi 10 pria
yang sangat ingin dijadikan suami oleh banyak wanita dengan rentang usia 20
hingga 40 tahun.
Idola baru yang muncul karena bidang bisnis memang jarang
terjadi, dan beberapa tahun terakhir memang Kyuhyun menjadi bintangnya. Pria tampan dan mapan,serta berkepribadian
hangat sudah mencuri hati banyak orang.
Tapi tidak lama setelahnya para wanita itu akhirnya patah
hati juga, Cho Kyuhyun tidak terlalu bersemangat menikmati kepopulerannya di
kalangan wanita hingga akhirnya dia mengkonfirmasi rencana pernikahannya dengan
seorang wanita yang masih sangat muda. Usianya baru 19 tahun dan mereka menikah
di Bali, salah satu landmark negeri di Asia Tenggara, Indonesia.
Pernikahannya pun mempengaruhi harga saham perusahaannya,
mereka sempat turun beberapa bulan dan sulit beranjak naik. Akhirnya Kyuhyun
mencoba membungkam beberapa media untuk menghentikan pemberitaan tentang
pernikahannya dan dia berhasil. Tidak sulit bagi Kyuhyun membuat media diam.
Ya, memang mengherankan jika berhubungan dengan seorang
idola. Mereka bisa menaik turunkan harga saham hanya dengan mengangkat rumor
dating atau pernikahan.
Tapi Kyuhyun mulai bekerja keras lagi setelah pernikahan, mengembalikan
kejayaan perusahaannya yang sempat sedikit tergelincir dari posisi nomor satu
dan mencoba merebut kembali tahtanya.
Tidak sulit, Kyuhyun selalu melakukannya dengan baik apalagi
sudah ada istri disampingnya yang menjadi penyulut semangat setiap waktu. Gadis
itu masih sangat kekanakan tetapi cintanya pada Kyuhyun menunjukkan kedewasaan.
Dia juga berkepribadian hangat seperti Kyuhyun, dia bisa membuat Kyuhyun yang
tegang karena pekerjaan menjadi lebih santai, bagi Kyuhyun, tidak ada obat
penenang yang paling ampuh selain senyuman istrinya.
Istrinya sangat cantik, tubuhnya kurus mungil bak manekin
hidup. Dia selalu mendampingi Cho Kyuhyun jika ada pertemuan perusahaan. Gadis
itu, sangat anggun, seperti departemen store berjalan.
.
Tidak tahu dimana Cho Kyuhyun menemukan gadis secantik
malaikat itu. Tapi Kyuhyun benar benar mencintainya. Apapun dilakukannya untuk
gadis itu. Kyuhyun sempat meninggalkan rapat pemegang saham karena mendengar
istrinya terbatuk di telepon. Kyuhyun juga membatalkan konferensinya karena
tahu istrinya tidak enak badan, dan kejadian terakhir, Kyuhyun memecat seluruh sttaff
di rumah dan pelayan nya yang lalai membiarkan istrinya pergi ke supermarket
sendirian.
Kyuhyun hanya tidak akan membiarkan hal hal buruk menghampiri
istrinya. Bahkan kuman seujung kukupun tidak akan mampu menempel di tubuh
istrinya dengan berbagai cara. Kyuhyun
bisa mengusir bahaya yang mengintai istrinya dengan power yang dimilikinya.
“ Sudah ku bilang tidak ada pria setampan aku yang akan
mencintamu selamanya, mengapa kau tidak percaya, huh?” ucap Kyuhyun di sela
sela candaannya di ruang TV.
Istrinya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu
Kyuhyun.
“Yeobo, besok aku ingin berbelanja...” kata gadis itu pada
suaminya.
“Sebutkan saja dimana tempatnya. Singapore? Milan? Kita bisa
berangkat sekarang juga menggunakan jet pribadi karena aku tidak suka dengan
penerbangan umum. Terlalu berisik”
“ Woaah Kau bilang apa, aku hanya ingin berbelanja keperluan
dapur denganmu. Kenapa jauh jauh menggunakan jet pribadi.” Gerutu Hyeon.
“Kau benar benar akan membuat bibi Chang memakan gaji buta?”
Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke layar besar di depan mereka, dia tidak
begitu menyukai permintaan istrinya.
“Ayolah Kyu, aku ingin menikmati masa masa seperti dulu.
Berjalan bebas seperti dulu.”
“Kyu??” Kyuhyun mendelik memamerkan mata evilnya.
“Oppa? Chagi?” goda Hyeon memasang wajah aegyo nya.
“Yeobo! Kau tidak ingat kau sudah menjadi istriku, huh?”
Kyuhyun menegaskan status Hyeon.
Em... Pembicaraan itu berlangsung setahun yang lalu. Kini
Kyuhyun duduk termangu di ruang kerjanya. Menatap foto besar pernikahannya
dengan Hyeon. Tuxedo hitamnya dan gaun putih tulang Hyeon yang sangat anggun.
Wajahnya masih kekanakan tapi itulah pesonanya. Kyuhyun mencintai Hyeon tanpa
ada sisa lagi di ruang hatinya.
Surat kabar di meja kerjanya kembali dihamburkan ke
sembarang tempat. Wajah frustasinya nampak lagi untuk yang kesekian kalinya
setiap hari.
Sekuat dan sekaya apapun diri Kyuhyun, dia tidak bisa
bernegosiasi dengan Tuhan soal nyawa.
Tidak ada seorang manusia pun yang mampu membeli kehidupan, Istrinya meninggal
dalam kecelakan mobil dalam perjalanannya menjemput Kyuhyun yang baru saja
menghadiri konferensi di San Fransisco. Hyeon meninggal sesaat setelah
diturunkan dari ambulans yang membawanya ke rumah sakit.
Hari harinya begitu terpukul, dia menggelap dan
depresi. Satu bulan dia habiskan di
dalam rumahnya tanpa pergi kemanapun. Pekerjaannya di handle oleh sahabatnya
yang menjadi kaki tangannya di perusahaan. Lee Hyuk Jae.
Rumahnya tidak lagi penuh pengawal pribadi, hanya beberapa
penjaga pintu utama dan pelayan serta satu juru masak. Kyuhyun memindahkan
pengawal pengawal mereka ke tempat yang lain. Katanya itu adalah permintaan
Hyeon. Istrinya.
“Kau harus memindahkan beberapa pengawal ke tempat lain,
istriku tidak nyaman jika rumahnya banyak pengawal seperti ini. Apalagi ini
adalah waktu kami sedang berdua..” Kata Kyuhyun.
Kepala Staff rumah Kyuhyun mengerutkan dahinya.
“Kau tidak dengar yang istriku bilang? Dia ingin pengawal
pengawal itu pergi!!” Kepala staff kemudian menuruti saja. Tekanan kematian
istrinya membuat Kyuhyun menjadi sangat temperamen.
Berdiam diri, sering murung dan temperamental, begitulah
Kyuhyun setelah kepergian istrinya, Hyeon. Tapi yang lebih aneh, Kyuhyun mulai
bicara sendiri. Dia bicara sendiri di ruang TV, di dapur dan di kamarnya.
Kyuhyun akan marah jika pelayannya menyiapkan satu piring saja di meja makan, dia
selalu bicara sendiri sambil memakan sarapannya atau makan malamnya. Dia juga
akan marah jika pelayannya hanya menyiapkan satu cangkir teh saja di teras
halaman belakang.
“Bunga bunga yang kau tanam itu sudah tumbuh indah, kau
memang berbakat membuat keindahan.” Kata Kyuhyun suatu sore. Dia menoleh di
samping kirinya. Secangkir teh dan sebuah kursi kosong yang tersisa.
Kepala staff menghubungi Lee Hyuk Jae soal ini, dan Hyuk Jae
pun mendapati sahabatnya mulai bicara sendiri. Seolah dia sedang bicara dengan
istrinya.
Hyuk Jae duduk di kursi kosong di samping kirinya.
Kyuhyun membentaknya dan berteriak “Mengapa kau duduk di
pangkuan istriku. Apa kau sudah gila?”
Hyuk Jae merinding, apa benar di sana ada arwah istrinya
atau Kyuhyun yang mulai berhalusinasi.
“Yaak, jangan membuatku takut begitu. Bikin merinding saja.”
Kyuhyun mendebat, dan Hyuk Jae tetap bersikeras mengatakan
Hyeon sudah meninggal. Tapi Kyuhyun malah menghadiahi Hyuk Jae bogem mentahnya
yang membuat sudut bibir Hyuk Jae sedikit robek.
“Kau saja yang mati Hyuk Jae-ah! Bukan Hyeon!” Kyuhyun
meraih kerah baju Hyuk Jae dan mengangkatnya tinggi tinggi. Dia marah karena
Hyuk Jae menganggap istrinya sudah meninggal.
Mulai saat itu Hyuk Jae tidak pernah lagi membahas kematian
Hyeon. Tidak lucu wajah tampannya selalu dirusak oleh Kyuhyun jika dia
berkunjung untuk membahas pekerjaan.
Hyuk Jae pun mulai berakting selayaknya dia bisa melihat
Hyeon ada di sana. Menyapa Hyeon di samping Kyuhyun dan berpura pura tertawa
dengan lelucon dari Hyeon yang bahkan tidak pernah dia dengar. Namun Kyuhyun
menjadi baik baik saja karena sikapnya. Kyuhyun semakin membaik dengan meyakini
bahwa Hyeon masih hidup.
Apa yang harus Hyuk Jae lakukan?
*******
“Kenapa dasi yang ini, aku lebih suka yang itu Hyeon.” Kata
Kyuhyun di dalam kamarnya. Dia mulai lagi dan Hyuk Jae mendengarnya dari luar
kamarnya saat dia akan menjemput Kyuhyun di kamarnya.. Hyuk Jae mulai khawatir
dengan Kyuhyun, jika dibiarkan Kyuhyun mungkin akan lebih parah dan muncul
halusinasi dan delusi yang lain. Ah yang benar saja, jika orang sepenting dia
harus menderita skizofrenia.
“Ini tidak boleh terjadi, sebelum dia menjadi lebih parah,
dia harus diobati. Harus... hatinya harus diobati.” Ucap Lee Hyuk Jae mantap.
Di rumah, Lee Hyuk Jae termenung memikirkan sahabatnya yang
sudah seperti orang gila karena selalu bicara sendiri. Kyuhyun hanya melakukannya
di rumah, tapi di kantor, dia seperti Cho Kyuhyun yang biasanya. Hanya saja
boss nya itu lebih pendiam dan temperamental. Kehangatan yang selalu dia
tularkan ke siapapun telah hilang.
“Kau kenapa?” tanya Lee Sora.
“aku sedang memikirkan Kyuhyun, dia benar benar tidak bisa diabaikan.”
“Apa semakin parah? Kenapa tidak membawanya ke psikiater?”
“Dia mungkin akan membunuhku karena menyangka dia gila.
Hrrrrr, aku benar benar merasa dia bicara dengan arwah istrinya. Dan aku juga
berpura pura melihatnya.“
“Yaaak, apa gila itu penyakit menular? Kenapa kau ikut
gila?”
“Yaak! Jangan menyebutnya gila.”
“Lalu harus ku sebut apa? Bawalah ke rumah sakit kejiwaan
Hyuk Jae-ah, aku benar benar kasian mendengarnya. Kyuhyun itu adik yang baik. Emm,
Bahkan lebih baik dari adikku sendiri.”
“YaaK!”
“Wae? Dia yang membiayai kuliahku di Harvard saat adikku ini
sudah tidak peduli padaku.”
“Dan sekarang aku bekerja padanya untuk membayar hutang
hutang pendidikanmu itu. Kau pikir Kyuhyun memberimu uangnya secara cuma cuma?
Kau tidak tahu saja dia memanfaatkan kepintaranku ini untuk mengurus
perusahaannya.”
“Aaah, kau benar juga. Dan Kyuhyun menggajimu lima kali lipat lebih
tinggi dari para petinggi perusahan.
Perusahaan macam apa yang melakukan itu pada orang sepertimu. Kyuhyun memang
sudah gila sejak awal”
“Noona, jika kau tidak bisa membantuku lebih baik pergi
saja. Pergi sana...”
“Em, bagaimana jika kau bawa Kyuhyun pada kenalanku, dia psikiater
di rumah sakit Hakwon, lulusan terbaik di John Hopkins university. Ku dengar pengalaman penanganannya jugaa sudah
cukup banyak. Mungkin Kyuhyun akan baik jika dibawa ke sana.”
“Rumah Sakit Jiwa Hakwon?”
“ Aish, aku heran dengan Kyuhyun, dari sekian banyak
bidang perusahaannya. Mengapa dia tidak
mendirikan rumah sakit? Yayasan sosial,
panti asuhan, lembaga amal dia memiliki semuanya. Tetapi Dia tidak memikirkan
kesehatan dirinya dan banyak orang. ”
“Dia punya, satu di Afghanistan, satu di palestina, dua di Uganda dan satu di Afrika Selatan.”
“Jjinjja? Wuaaah, daebak! Lalu apa yang dia tak punya?”
“ Istri... dia kehilangan istri. Kau tau? Betapa terlukanya
dia eoh?”
“Aaah iya, kau benar.”
“Oh Noona, Dokternya laki laki atau....?” antena feromon
Hyuk Jae bersungut sungut.
“Jangan berani menggodanya Jae-ya!”
“Aaa, dia wanita.” Hyuk Jae mengangguk gembira. Baiklah,
akan ku bawa Kyuhyun ke sana. Bersiaplah noona, psikiater itu akan menjadi adik
iparmu.” Hormon hormon cinta Hyukjae selalu saja mudah terprovokasi oleh kata
kata “dia wanita.” Oh baiklah, bagaimana jika dia kambing wanita. Apa hormon
cintanya akan terprovokasi juga?
“Yaak Yaaak, ku bilang jangan menggodanya!”
Hyuk Jae hanya menari nari sambil melambaikan tangan pada
kakak perempuannya, sebelum
akhirnya mobil hitam yang dikendarainya menembus jalanan
malam menuju rumah super mewah milik Kyuhyun.
“Kenapa datang malam malam? Apa ada masalah di perusahaan?”
Tanya Kyuhyun
“Kyuhyun-ah, aku ingin bicara padamu. Aku datang sebagai
sahabatmu, bukan bawahanmu.”
“Tentang...”
“Istrimu..”
“Berhenti menyebutnya sudah mati atau kau pergi saja ke
neraka!”
“Hyeon sudah meninggal Kyu, kau harusnya tahu.”
Kyuhyun tetap mengelak, dia mengatakan istrinya masih hidup dan sedang mengurus
kelahiran anaknya. Hyuk Jae semakin kesal dan menunjukkan foto foto prosesi
pemakaman dan berita di surat kabar tentang kecelakaan maut di San Fransisco
yang merenggut istrinya, tapi Kyuhyun masih menyangkal dan mengatakan istrinya
sedang memeriksa kandungannya. Kyuhyun semakin tidak masuk akal, dan Hyuk Jae
selalu saja kalah melawan Kyuhyun. Jadi usahanya untuk membawa Kyuhyun ke
psikiater mungkin akan sia sia.
“Aku tidak bisa diam saja seperti ini. Ah, aku mungkin harus
membawa rekaman cctv dan menemui psikiaternya sendiri.”
Esok paginya, Kyuhyun menelepon Hyuk Jae. Dia membutuhkan
seorang baby sitter karena anaknya sudah lahir dan mereka kembar. Hyeon belum
bisa mengurus mereka bersamaan jadi dia membutuhkan tenaga baru. Kyuhyun
meminta Hyuk Jae mencarikan baby sitter yang paling berpengalaman, dia harus
berlisensi dan tidak memiliki daftar hitam dalam pekerjaannya.
Hyuk Jae merasa frustasi, niatnya menyembuhkan Kyuhyun
rasanya semakin sulit karena muncul dua objek halusinasi lainnya.
Tapi Hyuk Jae tidak menyerah. Dia pergi ke Rumah sakit
Hakwon dan bertemu dengan kenalan kakaknya.
Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan nama
yang sudah disodorkan Soora. Han So Hee. Hyukjae masuk keruangan itu dan
menyapa.
“Silakan, ada yang bisa ku bantu?”
“Permisi, Aku lee
Hyuk Jae”
“Ooh, kau adiknya Sora eonni kan? Dia bilang adiknya akan datang bersama
temannya. Lalu dimana temanmu? ” wanita itu mengikat rambutnya ke belakang
memperlihatkan leher putihnya yang menggoda. Matanya besar dan bibir merah
mudanya membuat Hyuk benar benar terpesona.
Uuuu
uuu uuu....
her eyes, her eyes make the stars look like they're not
shining
Her hair, her hair falls perfectly without her trying
She's so beautiful
And I tell her everyday
.
Mata Hyuk Jae tidak berhenti berbinar menatap dokternya.
Hyuk Jae benar benar dibuat jatuh hati pada pandangan pertama. Ooh, betapa
bersyukurnya dia memiliki kakak seperti Sora. Oh tidak, mungkin maksudnya
memiliki kakak yang memiliki teman secantik dokter ini. Hyuk Jae mungkin rela
menjadi gila agar bisa menemuinya setiap
terapi.
“Dia tidak bisa datang. Tapi aku membawa rekaman cctv.“ ucap
Hyukjae.
“Oh, baiklah. Ayo kita lihat...” mereka nampak mengamati
satu demi satu rekaman cctv dari rumahnya,
tapi Hyuk Jae malah tidak bisa berkonsentrasi, matanya sibuk melirik ke arah
wanita di sampingnya dan mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang satu itu.
Dokter jiwa ini benar
benar tahu caranya mengambil jiwaku yang kesepian ini...Hehei, Aku sudah gila!
Aku tergila-gila.
“Sepertinya dia tidak berhalusinasi. Dia juga tidak melihat
istrinya.”
“Tapi mengapa dia bicara sendiri seolah oleh melihat
seseorang disampingnya?” Tanya Hyukjae. Dia mulai serius. Ini menyangkut
kesehatan sahabatnya dan juga nasib deretan perusahaannya yang mungkin akan
memburuk dengan kabar ini.
“Dia hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya
telah meninggal. Jadi dia menyangkalnya, dia terus menyangkalnya setiap hari.
Buktinya dia sering terlihat menangis di ruang TVnya”
“Apa tidak berbahaya jika dibiarkan saja?”
“Tentu saja berbahaya, resiliensinya sangat rendah karena
dia begitu mencintai istrinya, dan ada tendensi dia mengalami delusi. Karena
terus menerus menyangkal kematian , dia mungkin akan meyakini kehidupan
istrinya, jika dibiarkan terus menerus dia bisa menderita Skizofrenia”
“Skizo? Hh.. tidak, dia tidak boleh. Lalu apa yang harus ku
lakukan?” Hyukjae cemas.
“Kau harus membuatnya menerima kenyataan bahwa istrinya
telah meninggal. Apa kau benar benar
tidak bisa membawanya kemari?”
“Eoh? Mmm... entahlah. Dia mungkin marah jika aku membawanya
ke rumah sakit jiwa. Emm.. apa kebetulan kau bisa bertemu di luar rumah sakit.
Di restoran misalnya?”
Oke baiklah, Hyukjae mulai menyerang dengan memanfaatkan
kesempatan. Kali ini bukan hanya demi sahabatnya tetapi untuk dirinya sendiri.
Hyukjae menginginkan pertemuan selanjutnya dengan dokter jiwa yang sudah
menawan hatinya.
“Mmm... tentu saja. Kapan saja kau ada waktu.”
Hyukjae tersenyum, karena harapan untuk pertemuan
selanjutnya terbuka lebar, dan sepertinya dokter jiwa itu juga menyukai
Hyukjae.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Akan kuhubungi untuk pertemuan
selanjutnya.”Tutup Hyukjae. Dokter itu hanya mengangguk dan tersenyum. Hyukjae
pergi dari ruangannya, namun sedetik kemudian dia mengetuk lagi.
“Mm... kita mungkin harus membuat janji sebelum bertemu.
Jadi, bolehkah aku...meminta nomormu?”
“Kau bisa memintanya pada Sora Eonni.”
“Aaa, kau benar. Tapi akan sangat canggung meminta padanya....”
Dokter cantik itu menghampiri Hyukjae yang berdiri di depan
pintu dan mengambil handphone dari tangan Hyukjae. Mengetikkan beberapa deret
angka dan menyerahkan kembali pada Hyukjae. Wajah Hyukjae memerah. Dia
tersenyum malu karena dokter itu lebih terang terangan.
“Mm, baiklah.. terimakasih, mm... aku akan meneleponmu. Segera.... ”
Kali ini apa yang dilakukan Hyukjae di depan ruangan Han So
Hee. Dia melompat dan menari sekenanya. Mengekspresikan kebahagiaan yang tiada
tara. Hubungannya dengan dokter itu mungkin akan berlanjut.
Hyukjae tidak menyadari berapa pasang mata yang
menyelidiknya. Ingin tahu apa yang dia lakukan di sana. Mengapa dia menggerak
gerakkan tangan, kaki dan kepala serta senyumannya yang tidak pernah berhenti.
“Huh, sepertinya aku sudah menjadi pasien sakit jiwa...”
Hyukjae menepuk kemejanya dan berjalan tanpa mantap tanpa peduli orang orang
yang menatapnya geli.
Tak apa karena dokter jiwanya
Han So Hee yang begitu cantik
******
No comments:
Post a Comment