“”Maaf karena membatalkan
pertemuan tadi siang.” Kata Kyuhyun setelah Emily sampai di kedai kopi dekat
kantornya.
“Gwaencanha, lagipula aku
bertemu temanku. Ah iya, kau tahu? temanku bilang dia adalah manajer produksi
CC Entertainment. Apa sahabatmu mungkin mengenalnya? ”
“Benarkah? ngomong ngomong ada urusan apa dia menemuimu?”
“Ooh, kami kebetulan
bertemu saat aku menunggumu di kedai jjajjangmyeon. “
“Aaa, geurae, Jadi kau
tidak ada apa apa dengannya?”
“Yaak, pertanyaan macam apa
yang kau tanyakan itu?” Emily sedikit terganggu dengan pertanyaan Kyuhyun.
“Ani, maksudku kau tidak
akan menghianatiku kan?” Tanya Kyuhyun “Emm, maksudku kau tetap akan membantuku
kan?”
“Molla, sebenarnya bukankah dia sama sepertimu. Mencari Milly Kim
untuk CC Entertainment. Kalau dipikir pikir, dia lebih berkepentingan daripada
dirimu yang hanya membantu sahabatmu. Dia bekerja di sana dan itu adalah
perusahaan kakaknya. Ah entah lah, aku jadi bingung siapa yang harus kubantu.”
“Yaaaak, kau tetap harus
membantuku. Kita kan sudah lebih dulu membuat kesepakatan.”
“Mwo ya? Siapa yang sudah membuat
kesepakatan denganmu? Lagipula tujuan kalian kan sama saja. Membuat Milly Kim
bertemu dengan Presdir CC Entertainment. Jadi tidak ada salahnya aku membantu
dua duanya.”
“Haish,
jeongmal!! “
“
Aa, sekarang begini saja. Sebenarnya apa yang harus aku lakukan untukmu?”
“Temukan
Milly Kim padaku. Kau kan berada satu perusahaan dengannya. Pasti akan lebih
mudah menemuinya kan?”
“Baiklah,
tapi Apa sahabatmu itu bisa menunggu beberapa saat?”
“Maksudmu…?”
“Aku
tidak yakin Milly Kim bisa menemuimu dalam waktu dekat. Jadi bisakah kau
menunggu lebih lama?”
“Aku
memintamu karena aku sudah tidak punya banyak waktu Emily-sshi.”
“
Tunggu sebentar saja. Aku yakin tidak akan sampai satu bulan. Kau akan mendapat
persetujuan tentang kerjasama itu.”
“Waaah,
kau sudah mulai percaya diri sekarang? Kau bahkan bisa menjanjikanku hal
semacam itu?”
“Itu
karena aku harus membantu perusahaan sahabatmu. Ya, aku juga harus membantu
perusahaan kakak temanku kan?”
“Kenapa
membahas dia lagi sih…” Ucap Kyuhyun pelan.
*****
“Hyeong,
Sekretaris Yoo bilang kau bekerja sama dengan orang LPC untuk menemukan Milly
Kim? Kau benar benar bekerja keras. Aku salah menilaimu.”
“Apa
kau wartawan yang mencari berita di mana mana? Lalu apakah kau disini untuk
makan gaji buta?”
“
Eoh?” Min Ho yang berdiri di depan meja Kyuhyun mengerutkan keningnya.
“Urusi
saja pekerjaanmu, kau tidak perlu memikirkan urusanku.”
“Tapi
Hyeong, aku juga punya teman di sana dan aku sudah meminta tolong padanya. Jadi
kita lihat saja siapa yang bisa membawa kita Milly Kim ke perusahaan?”
“Maksudmu?”
“Jika
aku bisa menemukan Milly Kim terlebih dulu dan bisa membawanya ke hadapanmu, tolong
perlakukan aku seperti adik yang benar benar kau cintai.”
“Ciih,
lakukan saja semaumu.”
“Hyeong,
seberapapun kau membenciku, kau tidak akan mampu mengubah apapun. Termasuk
mengubah kenyataan bahwa aku adalah anak
aboji dan aku adalah dongsaengmu.”
Laki
laki itu, walaupun tubuhnya yang padat melambangkan kekuatan dan kemandirian
yang seolah olah tidak membutuhkan bantuan dan kasih sayang dari siapapun.
Sebenarnya dia adalah laki laki yang lembut. Setelah ibunya meninggal dia hidup
sendiri. Mempertemukan dia dengan Ayahnya adalah keinginan ibunya sebelum
meninggal.
“Kenapa
tidak meminta saham atau kedudukan perusahaan yang lebih tinggi?”
“Hyeong,
mereka saja tidak mempercayai anak sah Aboji untuk memegang kuasa perusahaan.
Apalagi aku yang anak entah dari mana ini?”
“
Hah, kau menghiburku sekarang? Pergilah… urusi saja departemenmu.”
“Call?”
“Mwo?”
“Kita
lihat siapa yang bisa membawa Milly Kim kemari. Call?”
“
Terserah kau saja…”
“Aaaah
Hyeong… Jebal..”
“Keuman!
Kenapa aku menuruti permainan anak anak
sepertimu.”
“Call…
baiklah.. kuanggap kau setuju dengan kesepakatan ini. Bye Hyeong! Aku akan
membawa Milly Kim padamu.” Min Ho keluar dari ruangan Kyuhyun dengan wajah yang
berbunga bunga. Senyumnya mengembang penuh dan menyapa seluruh pegawai di depan
ruangan Kyuhyun.
“Kesepakatan
pantatku! aku bahkan tidak pernah
menyetujuinya” Kyuhyun merutuk.
****
Kyuhyun
mengambil handphone di kantung dalam jasnya. Mencari nomor yang sudah menjadi
salah satu orang penting bagi Kyuhyun. Dial 5…
“Kau dimana?” Tanya Kyuhyun
“Di kantor. Wae?”
“Bagaimana dengan Milly Kim? Kau sudah bertemu
dengannya?”
“Ajig..”
“Bisakah kau lebih cepat sedikit?”
“Bisakah kau menutup teleponmu? Aku sedang bekerja
sekarang.”
“Jebal Emily sshi..”
“Jebal Kyuhyun-sshi..
Kau pemilik gallery yang terlalu sibuk mengurusi perusahaan sahabatmu, bolehkah
aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Aku akan menghubungi setelah ada
perkembangan.”
“Yak yak yak…”
“Kututup.”
Jawab Gadis itu padat. Kyuhyun semakin gemas saja dengan gadis itu.
Kenapa dia menutup teleponku sementara aku belum
selesai bicara? Memangnya dia siapa? Dia hanya pegawai magang perusahaan
penerbitan. Aku adalah presiden direktur CC Entertainment. Kenapa dia
mengabaikanku? Kenapa dia berani mengabaikanku? Hah? Memangnya dia hebat
membuatku meneleponnya? Jebal…. Aku pasti sudah gila. Lagipula kenapa aku
meneleponnya ?
“Jangan jangan… Jeongmal, Min Ho sialan!” Kyuhyun
mulai menebak nebak.
To : Emilly-sshi
‘Emilly-sshi, ayo bertemu sepulang kau bekerja. Ada
yang ingin kutanyakan padamu.’
***********
“Kau
tidak mengkhianatiku kan?” Tanya Kyuhyun menatap Emily curiga
“
Wae? Kenapa aku harus menghianatimu?”
“Kau
lebih memilih membantu temanmu daripada aku?”
“Kau
bertemu denganku hanya ingin membahas hal konyol semacam ini? Yang benar saja.
Aku buru buru menyelesaikan pekerjaanku untuk mendengar kau mengatakan ini?”
“
Kau mengabaikan teleponku.”
“Benarkah?
Kapan?”
“Tadi
siang.”
“
Aku mengangkatnya kan?”
“Tapi
kau…”
“Astaga
aku, aku hanya sedang menyelesaikan pekerjaanku. Aku tidak suka ada yang
mengganggu pekerjaanku.Ah lebih tepatnya aku tidak suka diganggu ketika sedang
melakukan pekerjaanku.”
“
Jadi meneleponmu saat jam kerja adalah gangguan?”
“Bukan
begitu Kyuhyun-sshi…”
“Jadi?”
“maksudku
kau harusnya tahu, menelepon seorang pegawai pada saat jam kerja pasti akan
mengganggu pekerjaannya kan?”
“Jadi
jam berapa aku harus meneleponmu?”
“Aku
tidak punya jawaban untuk itu.”
“Wae?
Kau bilang aku mengganggu pekerjaanmu kan. Jadi jam berapa teleponku tidak mengganggu
pekerjaanmu?”
Handphone
Emilly berdering dan Emily segera mengangkatnya.
“Ne,
Min Ho-ya.. Eoh… Aku sedang di luar. Sudah kok, aku sudah pulang dari kantor…
Kemana? Aaa, baiklah… kau bisa menungguku? Aku ada urusan sebentar dengan
seseorang. Nee… nee… nee….”
“Nugu?”
“Chingu..”
“Kau
berniat membantunya?”
“
Lagipula tujuan kalian sama kan? JAdi apa salahnya aku membantu kalian semua?”
“Yak,
kau sudah membuat kesepakatan denganku lebih dulu.”
“Tidak
ada bedanya. Aku juga membantumu, dan juga membantu dia. Lagipula perusahaan
kalian sama. Apa harus kuulangi lagi kalimat kalimat ini?”
“Kau
membantuku? Kau mengabaikanku, menutup teleponku dan sekarang berdebat denganku
tentang temanmu itu. Itu yang kau bilang membantuku menemukan Milly Kim? Aku
jadi khawatir apa kau bisa kuandalkan..”
“
Kalau kau merasa aku tidak bisa diandalkan untuk membantumu kenapa kau meminta
bantuanku? Kau tidak percaya padaku kan? Kau menuduhku menghianatimu kan? Jadi
apa lebih baik begitu saja? Aku akan membantu perusahaan lain untuk mendapatkan
Milly Kim. Itu kan yang kau tuduhkan? Kenapa tidak ku buat jadi nyata saja
tuduhanmu itu?” Emily gerah, rasanya ingin menyiram kopi dimejanya ke wajah
orang dihadapannya itu. Tapi Emily tidak sekejam itu untuk melakukannya. Dia
hanya mendorong kursi yang didudukinya kebelakang. Mengambil tas jinjingnya dan
beranjak keluar dari kedai.
“
Emily-sshi…” Panggil Kyuhyun.
Emily
setengah berlari keluar dari kedai, disambut salju yang hampir memenuhi seluruh
jalanan Seoul. Hatinya yang panas langsung terasa membeku, kekesalannya
membuncah.
Kyuhyun
mengikutinya dari belakang, merasa bersalah karena membuat emosi gadis itu
memuncak.
niga animyeon andwae
(It can’t be if it’s not you)
neo eobsin nan andwae
(i can’t be without you)
na ireoke haru handareul tto illyeoneul
(that i want to see you and hold you more)
na apado joha
(it’s fine even if my heart’s hurts)
nae mam dachyeodo joha nan
(it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this)
geurae nan neo hanaman saranghanikka
(yes because i’m just
in love with you)
(Yesung,
It Has to Be You)
“Emily
sshi, Emily sshi…. Mianhanda.” Kyuhyun berjalan di belakang Emily sambil
mengeratkan mantel dinginnya. Udara semakin dingin mencekat, tapi Emily tetap
berjalan cepat meninggalkan Kyuhyun yang mengikutinya dari belakang.
Lampu
hijau bagi pejalan kali tinggal beberapa detik lagi, Emily mempercepat
langkahnya agar cepat sampai di ujung persimpangan yang lain.
****
(Emily-pov)
Tanganku
ditarik oleh seseorang sebelum mobil melintas tepat dihadapanku. Bruk…suara
yang tidak asing lagi bagiku karena aku sudah pernah mengalaminya, tapi kali
ini tidak sekeras saat itu. Aku tidak
menyadari apapun sepersekian detik setelah tangan besar itu meraihku.
Aku
terkejut bukan main ketika sebuah tubuh tinggi berada di hadapanku.
Merengkuhku, mengeratkan tangannya di punggungku.
“Kau
mau mati, huh? Kenapa aku selalu melihatmu beradu dengan mobil?” Bukan pertanyaan ejekan ataupun bentakan,
suaranya lemah dan parau menandakan kekhawatiran. Aku merasakan detakan
jantungnya lebih cepat daripada detak jantungku. Tangan besar di punggungku
gemetar hebat.
Tapi
wangi yang menguar dari tubuhnya tidak pernah asing bagiku. Parfum yang akhir
akhir ini menyita perhatianku dan mengingatkan pada pria itu. Pria yang baru
saja kutinggalkan dengan perasaan kesal yang membuncah. Pria yang kutinggalkan
dengan merutuki omelannya.
Tunggu, siapa yang memelukku?
Aku
mencoba melepaskan pelukannya tapi dia malah mengeratkan tangannya ke
punggungku.
“Apa
kau selalu membahayakan dirimu jika aku tidak ada?”
“Kyuhyun-sshi…”
“ Hm…?”
“Kau
tidak akan melepasku?” Tanyaku, tapi Kyuhyun menggeleng tanpa ragu.
“Ini
di tempat umum Kyuhyun-sshi.” Kyuhyun segera menyadarinya dan melepaskan
pelukannya. “Em, mianhae..” Jawabnya sambil memperbaiki letak coatnya yang
tidak berubah sedikitpun.
*****
Kyuhyun
menyodorkan segelas Americano untuk Emily.
“
Mianhae… Sepertinya sikapku terlalu berlebihan tadi”
“Lupakan
saja. Aku juga sedikit kesal tadi.”
“Mau
kuantar pulang?”
“Aku
mau bertemu temanku. Kau pulanglah dulu. Oh ya, tentang membantumu menemukan
Milly Kim. Kau tidak perlu meragukanku. Seandainyapun aku tidak bisa
membantumu. Itu bukan karena aku membantu orang lain untuk menemukannya.”
“E’em…
aku percaya padamu.”
***
(Emily
part XXXX)
Can I See U again? Winter…
Kali
ini bukan di kedai kopi atau di kedai jjajjangmyeon, tapi di tepi sungai Han
dengan udara yang benar benar membuatnya menggigil. Pakaiannya sudah lapis
empat plus coat setebal selimut kamar bintang lima. Tapi gigi atas dan bawahnya
masih beradu, menimbulkan suara geretak geretak yang hanya bisa didengar oleh
pemiliknya. Hidung kecil Emily seperti potongan ceri merah dan pipinya sudah
hampir membeku sempurna.
Emily
hanya berjalan sepanjang tepi sungai setelah salju turun. Kyuhyun menemuinya di
sana setelah Emily memberitahu posisinya sekarang.
“Kau
tidak menggunakan kemeja dengan lengan digulung lagi?” Emily meledeknya setelah
pertemuan di Kedai Kopi saat itu yang membuatnya menggigil hebat di dalam
Kedai.
“Kau
menertawakanku sekarang?”
“Baguslah,
kau seharusnya memakai pakaian seperti ini saat musim dingin. “
‘Apa
aku terlihat tampan dengan coat ini?”
“Yang
jelas kau tidak terlihat kedinginan dengan coat itu.”
“Hahaha…
kau membahasnya lagi.”
“Oiya
soal Milly Kim. Aku belum menemukan apapun yang…”
“
Gwaencanha. Aku mengajakmu bertemu tidak untuk membahas pekerjaan.”
“
Lalu?”
“aku
hanya sedang lelah. Tidak ada yang mengajakku keluar.”
“Temanmu?”
“Aku
tidak punya teman setelah masuk ke dunia ini.”
“Dunia
ini?”
“Aaah
lupakan saja, aku hanya ingin mengajak seseorang pergi menikmati musim dingin
di dekat sungai Han.”
“Kau
harus mengkoreksi ucapanmu tuan Cho, Aku yang memberitahumu dimana posisiku dan
kau yang mengikutiku kemari.”
“Baiklah,
aku mengikutimu nona Emily. Tapi ngomong ngomong apa yang kau lakukan di tempat
sedingin ini sendirian.”
“Bukankah
aku bersamamu sekarang?”
“Bukan
itu, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di sini?”
“Mencari
inspirasi, menikmati keindahan sungai Han, menikmati musim dingin, menikmati
suasana yang mungkin tidak akan kutemui tahun depan.”
“Kau
jangan menakutiku dengan bicara yang tidak tidak.”
“Apanya
yang tidak tidak, aku benar benar serius dengan ucapanku.”
“Jangan
mati konyol karena hal yang masih bisa kau atasi.”
“
Haahaha… kau bicara apa Kyuhyun-sshi. Aku geli mendengarnya.”
“Jika
itu masalah pekerjaanmu bukankah perusahaan temanku akan mengusahakannya
untukmu, dan jika itu soal pria, maka seharusnya kau…”
“Yak
yak yak… aku tidak membicarakan soal mengakhiri hidupku dengan bunuh diri Tuan
Cho.”
“Eoh?
Benarkah?” Kyuhyun yang tadinya terlalu bersemangat mengoceh itu akhirnya
terdiam. Mukanya memerah karena memikirkan hal yang tidak tidak. “Tapi maksudku
juga bukan itu..” katanya menutupi rasa malunya.
“Lalu
apa maksudmu dengan pekerjaan dan soal pria?”
“Oh
itu, tidak. Lalu apa maksudmu tidak bisa menikmati suasana seperti ini tahun
depan?”
“Maksudku…
maksudku. Kau sangat cerewet Cho Kyuhyun-sshi.” Setelah mengatai Kyuhyun, Emily
berjalan satu langkah di depan Kyuhyun. Pria yang entah sejak kapan membuatnya
nyaman berjalan seperti ini.
Mereka
menghabiskan waktu bersama di sore yang indah setelah turun salju. Tumpukan
salju seputih kapas di tepi pedestrian itu menggunung. Dahan dahan pohon di
tepian jalan juga dihiasi dengan salju yang meleleh.
“Aku
lapar, Kau mau makan?” Tanya Kyuhyun. Emily mengangguk. Emily sudah menyiksa
perutnya sedari tadi karena dibiarkan kosong seharian dan dipaksa menikmati
udara dingin. Daging sapi panggang dan sebotol soju memang hidangan paling
tepat di musim dingin, tapi Emily tidak menyentuh sojunya setetespun.
“Aku
masih ada pekerjaan nanti.” Jawab Emily setelah Kyuhyun menawarinya segelas
soju.
“Segelas
saja?”
“Aku
harus bekerja dalam keadaan sadar Kyuhyun-sshi.”
“Baiklah,
aku tidak akan memaksamu.”
Tangan
Emily yang gemetar sudah pulih dan wajah kedinginan mereka sudah hilang.
“Kuantar
kau pulang..”
“
Kau pulang saja dulu. Aku akan bertemu dengan temanku.”
“Manajer
Produksi CC Ent lagi?” Emily mengangguk. “Kau jadi sering bertemu dengannya.”
“Tidak juga, mungkin karena
kebetulan kalian selalu bertemu denganku di hari yang sama. Aah aku juga heran.
Jika ada yang tahu aku menemui dua pria dalam sehari. Aku pasti disangka
player. Padahal mereka hanya ingin tahu info tentang Milly Kim. Menyebalkan
bukan?”
“ Kalau
begitu bertemu denganku saja…”
“Yak,
kau mulai lagi…” Kyuhyun tertawa. Tapi perlahan dia mulai menjaga perasaan
gadis ini. Agar tidak meninggalkannya dengan rutukan rutukan jengkel seperti
sebelumnya. Karena jika itu terjadi lagi, kesempatan menstabilkan pemasukan
perusahaan akan menghilang begitu saja. Aaah apakah itu alasan saja? Seharusnya
memang tidak ada alasan lain lagi, tapi nyatanya Kyuhyun menyimpan satu alasan
lagi untuk tetap menjaga perasaan Emily. Karena dia tidak ingin Emily terluka
karenanya. Luka? Entah fisik entah hati. Yang jelas Kyuhyun tidak ingin
kejadian kemarin terulang lagi. Dia tidak ingin perasaannya kacau, dan hatinya
berdebar karena takut.
****
“Kau
sudah menunggu lama?” Tanya Min Ho. Emily menggeleng. “Kenapa mencari tempat dingin, bukannya lebih baik
kita mencari tempat yang lebih hangat.”
“Aku
suka di sini.”
“Bagaimana?
Kau sudah menemukan Milly Kim?”
“
Ajik…”
“Oh
iya, boleh aku cerita padamu? AKu membuat kesepakatan dengan Hyeong.”
“
Tentang?”
“Jika
aku bisa membawamu ke perusahaan dan menandatangi kontrak denganmu. Aku akan
dianggap selayaknya adik.”
“Bukankah
selama ini kalian baik baik seperti adik kakak?”
“Anniyo,
masalahnya tidak semudah itu. Tapi
kau mau membantuku kan?”
“ Aku akan membantu, tapi aku tidak menjanjikan
bisa mempertemukanmu dengan Milly Kim.”
“Baiklah...”
No comments:
Post a Comment