Friday, June 3, 2016

Emily (part 13)

“”Maaf karena membatalkan pertemuan tadi siang.” Kata Kyuhyun setelah Emily sampai di kedai kopi dekat kantornya.
“Gwaencanha, lagipula aku bertemu temanku. Ah iya, kau tahu? temanku bilang dia adalah manajer produksi CC Entertainment. Apa sahabatmu mungkin mengenalnya? ”
“Benarkah?  ngomong ngomong ada urusan apa dia menemuimu?”
“Ooh, kami kebetulan bertemu saat aku menunggumu di kedai jjajjangmyeon. “
“Aaa, geurae, Jadi kau tidak ada apa apa dengannya?”
“Yaak, pertanyaan macam apa yang kau tanyakan itu?” Emily sedikit terganggu dengan pertanyaan Kyuhyun.
“Ani, maksudku kau tidak akan menghianatiku kan?” Tanya Kyuhyun “Emm, maksudku kau tetap akan membantuku kan?”
“Molla, sebenarnya  bukankah dia sama sepertimu. Mencari Milly Kim untuk CC Entertainment. Kalau dipikir pikir, dia lebih berkepentingan daripada dirimu yang hanya membantu sahabatmu. Dia bekerja di sana dan itu adalah perusahaan kakaknya. Ah entah lah, aku jadi bingung siapa yang harus kubantu.”
“Yaaaak, kau tetap harus membantuku. Kita kan sudah lebih dulu membuat kesepakatan.”
“Mwo ya? Siapa yang sudah membuat kesepakatan denganmu? Lagipula tujuan kalian kan sama saja. Membuat Milly Kim bertemu dengan Presdir CC Entertainment. Jadi tidak ada salahnya aku membantu dua duanya.”
“Haish, jeongmal!! “

“ Aa, sekarang begini saja. Sebenarnya apa yang harus aku lakukan untukmu?”

“Temukan Milly Kim padaku. Kau kan berada satu perusahaan dengannya. Pasti akan lebih mudah menemuinya kan?”

“Baiklah, tapi Apa sahabatmu itu bisa menunggu beberapa saat?”

“Maksudmu…?”

“Aku tidak yakin Milly Kim bisa menemuimu dalam waktu dekat. Jadi bisakah kau menunggu lebih lama?”

“Aku memintamu karena aku sudah tidak punya banyak waktu Emily-sshi.”

“ Tunggu sebentar saja. Aku yakin tidak akan sampai satu bulan. Kau akan mendapat persetujuan tentang kerjasama itu.”

“Waaah, kau sudah mulai percaya diri sekarang? Kau bahkan bisa menjanjikanku hal semacam itu?”

“Itu karena aku harus membantu perusahaan sahabatmu. Ya, aku juga harus membantu perusahaan kakak temanku kan?”

“Kenapa membahas dia lagi sih…” Ucap Kyuhyun pelan.

*****

“Hyeong, Sekretaris Yoo bilang kau bekerja sama dengan orang LPC untuk menemukan Milly Kim? Kau benar benar bekerja keras. Aku salah menilaimu.”

“Apa kau wartawan yang mencari berita di mana mana? Lalu apakah kau disini untuk makan gaji buta?”

“ Eoh?” Min Ho yang berdiri di depan meja Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“Urusi saja pekerjaanmu, kau tidak perlu memikirkan urusanku.”

“Tapi Hyeong, aku juga punya teman di sana dan aku sudah meminta tolong padanya. Jadi kita lihat saja siapa yang bisa membawa kita Milly Kim ke perusahaan?”

“Maksudmu?”

“Jika aku bisa menemukan Milly Kim terlebih dulu dan bisa membawanya ke hadapanmu, tolong perlakukan aku seperti adik yang benar benar kau cintai.”

“Ciih, lakukan saja semaumu.”

“Hyeong, seberapapun kau membenciku, kau tidak akan mampu mengubah apapun. Termasuk mengubah  kenyataan bahwa aku adalah anak aboji dan aku adalah dongsaengmu.”

Laki laki itu, walaupun tubuhnya yang padat melambangkan kekuatan dan kemandirian yang seolah olah tidak membutuhkan bantuan dan kasih sayang dari siapapun. Sebenarnya dia adalah laki laki yang lembut. Setelah ibunya meninggal dia hidup sendiri.  Mempertemukan dia  dengan Ayahnya adalah keinginan ibunya sebelum meninggal.

“Kenapa tidak meminta saham atau kedudukan perusahaan yang lebih tinggi?”

“Hyeong, mereka saja tidak mempercayai anak sah Aboji untuk memegang kuasa perusahaan. Apalagi aku yang anak entah dari mana ini?”

“ Hah, kau menghiburku sekarang? Pergilah… urusi saja departemenmu.”

“Call?”

“Mwo?”

“Kita lihat siapa yang bisa membawa Milly Kim kemari. Call?”
“ Terserah kau saja…”

“Aaaah Hyeong… Jebal..”

“Keuman! Kenapa aku menuruti  permainan anak anak sepertimu.”

“Call… baiklah.. kuanggap kau setuju dengan kesepakatan ini. Bye Hyeong! Aku akan membawa Milly Kim padamu.” Min Ho keluar dari ruangan Kyuhyun dengan wajah yang berbunga bunga. Senyumnya mengembang penuh dan menyapa seluruh pegawai di depan ruangan Kyuhyun.

“Kesepakatan pantatku!  aku bahkan tidak pernah menyetujuinya” Kyuhyun merutuk.

****
Kyuhyun mengambil handphone di kantung dalam jasnya. Mencari nomor yang sudah menjadi salah satu orang penting bagi Kyuhyun. Dial 5…

“Kau dimana?” Tanya Kyuhyun

“Di kantor. Wae?”

“Bagaimana dengan Milly Kim? Kau sudah bertemu dengannya?”

“Ajig..”

“Bisakah kau lebih cepat sedikit?”

“Bisakah kau menutup teleponmu? Aku sedang bekerja sekarang.”

“Jebal Emily sshi..”

“Jebal  Kyuhyun-sshi.. Kau pemilik gallery yang terlalu sibuk mengurusi perusahaan sahabatmu, bolehkah aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Aku akan menghubungi setelah ada perkembangan.”

“Yak yak yak…”

“Kututup.” Jawab Gadis itu padat. Kyuhyun semakin gemas saja dengan gadis itu.

Kenapa dia menutup teleponku sementara aku belum selesai bicara? Memangnya dia siapa? Dia hanya pegawai magang perusahaan penerbitan. Aku adalah presiden direktur CC Entertainment. Kenapa dia mengabaikanku? Kenapa dia berani mengabaikanku? Hah? Memangnya dia hebat membuatku meneleponnya? Jebal…. Aku pasti sudah gila. Lagipula kenapa aku meneleponnya ?

“Jangan jangan… Jeongmal, Min Ho sialan!” Kyuhyun mulai menebak nebak.

To : Emilly-sshi
‘Emilly-sshi, ayo bertemu sepulang kau bekerja. Ada yang ingin kutanyakan padamu.’

***********

“Kau tidak mengkhianatiku kan?” Tanya Kyuhyun menatap Emily curiga

“ Wae? Kenapa aku harus menghianatimu?”

“Kau lebih memilih membantu temanmu daripada aku?”

“Kau bertemu denganku hanya ingin membahas hal konyol semacam ini? Yang benar saja. Aku buru buru menyelesaikan pekerjaanku untuk mendengar kau mengatakan ini?”

“ Kau mengabaikan teleponku.”
“Benarkah? Kapan?”

“Tadi siang.”

“ Aku mengangkatnya kan?”

“Tapi kau…”

“Astaga aku, aku hanya sedang menyelesaikan pekerjaanku. Aku tidak suka ada yang mengganggu pekerjaanku.Ah lebih tepatnya aku tidak suka diganggu ketika sedang melakukan pekerjaanku.”

“ Jadi meneleponmu saat jam kerja adalah gangguan?”

“Bukan begitu Kyuhyun-sshi…”

“Jadi?”

“maksudku kau harusnya tahu, menelepon seorang pegawai pada saat jam kerja pasti akan mengganggu pekerjaannya kan?”

“Jadi jam berapa aku harus meneleponmu?”
“Aku tidak punya jawaban untuk itu.”

“Wae? Kau bilang aku mengganggu pekerjaanmu kan. Jadi jam berapa teleponku tidak mengganggu pekerjaanmu?”

Handphone Emilly berdering dan Emily segera mengangkatnya.

“Ne, Min Ho-ya.. Eoh… Aku sedang di luar. Sudah kok, aku sudah pulang dari kantor… Kemana? Aaa, baiklah… kau bisa menungguku? Aku ada urusan sebentar dengan seseorang.  Nee… nee… nee….”

“Nugu?”

“Chingu..”

“Kau berniat membantunya?”

“ Lagipula tujuan kalian sama kan? JAdi apa salahnya aku membantu kalian semua?”

“Yak, kau sudah membuat kesepakatan denganku lebih dulu.”

“Tidak ada bedanya. Aku juga membantumu, dan juga membantu dia. Lagipula perusahaan kalian sama. Apa harus kuulangi lagi kalimat kalimat ini?”

“Kau membantuku? Kau mengabaikanku, menutup teleponku dan sekarang berdebat denganku tentang temanmu itu. Itu yang kau bilang membantuku menemukan Milly Kim? Aku jadi khawatir apa kau bisa kuandalkan..”

“ Kalau kau merasa aku tidak bisa diandalkan untuk membantumu kenapa kau meminta bantuanku? Kau tidak percaya padaku kan? Kau menuduhku menghianatimu kan? Jadi apa lebih baik begitu saja? Aku akan membantu perusahaan lain untuk mendapatkan Milly Kim. Itu kan yang kau tuduhkan? Kenapa tidak ku buat jadi nyata saja tuduhanmu itu?” Emily gerah, rasanya ingin menyiram kopi dimejanya ke wajah orang dihadapannya itu. Tapi Emily tidak sekejam itu untuk melakukannya. Dia hanya mendorong kursi yang didudukinya kebelakang. Mengambil tas jinjingnya dan beranjak keluar dari kedai. 

“ Emily-sshi…” Panggil Kyuhyun.

Emily setengah berlari keluar dari kedai, disambut salju yang hampir memenuhi seluruh jalanan Seoul. Hatinya yang panas langsung terasa membeku, kekesalannya membuncah.

Kyuhyun mengikutinya dari belakang, merasa bersalah karena membuat emosi gadis itu memuncak.


niga animyeon andwae
(It can’t be if it’s not you)

neo eobsin nan andwae
(i can’t be without you)

na ireoke haru handareul tto illyeoneul
(that i want to see you and hold you more)

na apado joha
(it’s fine even if my heart’s hurts)


nae mam dachyeodo joha nan
(it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this)

geurae nan neo hanaman saranghanikka
(yes because i’m just in love with you)


(Yesung, It Has to Be You)

“Emily sshi, Emily sshi…. Mianhanda.” Kyuhyun berjalan di belakang Emily sambil mengeratkan mantel dinginnya. Udara semakin dingin mencekat, tapi Emily tetap berjalan cepat meninggalkan Kyuhyun yang mengikutinya dari belakang.

Lampu hijau bagi pejalan kali tinggal beberapa detik lagi, Emily mempercepat langkahnya agar cepat sampai di ujung persimpangan yang lain.
****
(Emily-pov)
Tanganku ditarik oleh seseorang sebelum mobil melintas tepat dihadapanku. Bruk…suara yang tidak asing lagi bagiku karena aku sudah pernah mengalaminya, tapi kali ini tidak sekeras saat itu.  Aku tidak menyadari apapun sepersekian detik setelah tangan besar itu meraihku.

Aku terkejut bukan main ketika sebuah tubuh tinggi berada di hadapanku. Merengkuhku, mengeratkan tangannya di punggungku.

“Kau mau mati, huh? Kenapa aku selalu melihatmu beradu dengan mobil?”  Bukan pertanyaan ejekan ataupun bentakan, suaranya lemah dan parau menandakan kekhawatiran. Aku merasakan detakan jantungnya lebih cepat daripada detak jantungku. Tangan besar di punggungku gemetar hebat.

Tapi wangi yang menguar dari tubuhnya tidak pernah asing bagiku. Parfum yang akhir akhir ini menyita perhatianku dan mengingatkan pada pria itu. Pria yang baru saja kutinggalkan dengan perasaan kesal yang membuncah. Pria yang kutinggalkan dengan merutuki omelannya.

Tunggu, siapa yang memelukku?

Aku mencoba melepaskan pelukannya tapi dia malah mengeratkan tangannya ke punggungku.

“Apa kau selalu membahayakan dirimu jika aku tidak ada?”

“Kyuhyun-sshi…”

“ Hm…?”

“Kau tidak akan melepasku?” Tanyaku, tapi Kyuhyun menggeleng tanpa ragu.

“Ini di tempat umum Kyuhyun-sshi.” Kyuhyun segera menyadarinya dan melepaskan pelukannya. “Em, mianhae..” Jawabnya sambil memperbaiki letak coatnya yang tidak berubah sedikitpun.

*****

Kyuhyun menyodorkan segelas Americano untuk Emily.

“ Mianhae… Sepertinya sikapku terlalu berlebihan tadi”

“Lupakan saja. Aku juga  sedikit kesal tadi.”
“Mau kuantar pulang?”

“Aku mau bertemu temanku. Kau pulanglah dulu. Oh ya, tentang membantumu menemukan Milly Kim. Kau tidak perlu meragukanku. Seandainyapun aku tidak bisa membantumu. Itu bukan karena aku membantu orang lain untuk menemukannya.”

“E’em… aku percaya padamu.”

***


(Emily part XXXX)
 Can I See U again? Winter…
Kali ini bukan di kedai kopi atau di kedai jjajjangmyeon, tapi di tepi sungai Han dengan udara yang benar benar membuatnya menggigil. Pakaiannya sudah lapis empat plus coat setebal selimut kamar bintang lima. Tapi gigi atas dan bawahnya masih beradu, menimbulkan suara geretak geretak yang hanya bisa didengar oleh pemiliknya. Hidung kecil Emily seperti potongan ceri merah dan pipinya sudah hampir membeku sempurna.

Emily hanya berjalan sepanjang tepi sungai setelah salju turun. Kyuhyun menemuinya di sana setelah Emily memberitahu posisinya sekarang.

“Kau tidak menggunakan kemeja dengan lengan digulung lagi?” Emily meledeknya setelah pertemuan di Kedai Kopi saat itu yang membuatnya menggigil hebat di dalam Kedai.

“Kau menertawakanku sekarang?”

“Baguslah, kau seharusnya memakai pakaian seperti ini saat musim dingin. “

‘Apa aku terlihat tampan dengan coat ini?”

“Yang jelas kau tidak terlihat kedinginan dengan coat itu.”

“Hahaha… kau membahasnya lagi.”

“Oiya soal Milly Kim. Aku belum menemukan apapun yang…”

“ Gwaencanha. Aku mengajakmu bertemu tidak untuk membahas pekerjaan.”

“ Lalu?”

“aku hanya sedang lelah. Tidak ada yang mengajakku keluar.”

“Temanmu?”

“Aku tidak punya teman setelah masuk ke dunia ini.”

“Dunia ini?”

“Aaah lupakan saja, aku hanya ingin mengajak seseorang pergi menikmati musim dingin di dekat sungai Han.”

“Kau harus mengkoreksi ucapanmu tuan Cho, Aku yang memberitahumu dimana posisiku dan kau yang mengikutiku kemari.”

“Baiklah, aku mengikutimu nona Emily. Tapi ngomong ngomong apa yang kau lakukan di tempat sedingin ini sendirian.”

“Bukankah aku bersamamu sekarang?”

“Bukan itu, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Mencari inspirasi, menikmati keindahan sungai Han, menikmati musim dingin, menikmati suasana yang mungkin tidak akan kutemui tahun depan.”

“Kau jangan menakutiku dengan bicara yang tidak tidak.”

“Apanya yang tidak tidak, aku benar benar serius dengan ucapanku.”

“Jangan mati konyol karena hal yang masih bisa kau atasi.”

“ Haahaha… kau bicara apa Kyuhyun-sshi. Aku geli mendengarnya.”

“Jika itu masalah pekerjaanmu bukankah perusahaan temanku akan mengusahakannya untukmu, dan jika itu soal pria, maka seharusnya kau…”

“Yak yak yak… aku tidak membicarakan soal mengakhiri hidupku dengan bunuh diri Tuan Cho.”

“Eoh? Benarkah?” Kyuhyun yang tadinya terlalu bersemangat mengoceh itu akhirnya terdiam. Mukanya memerah karena memikirkan hal yang tidak tidak. “Tapi maksudku juga bukan itu..” katanya menutupi rasa malunya.

“Lalu apa maksudmu dengan pekerjaan dan soal pria?”
“Oh itu, tidak. Lalu apa maksudmu tidak bisa menikmati suasana seperti ini tahun depan?”

“Maksudku… maksudku. Kau sangat cerewet Cho Kyuhyun-sshi.” Setelah mengatai Kyuhyun, Emily berjalan satu langkah di depan Kyuhyun. Pria yang entah sejak kapan membuatnya nyaman berjalan seperti ini.

Mereka menghabiskan waktu bersama di sore yang indah setelah turun salju. Tumpukan salju seputih kapas di tepi pedestrian itu menggunung. Dahan dahan pohon di tepian jalan juga dihiasi dengan salju yang meleleh.

“Aku lapar, Kau mau makan?” Tanya Kyuhyun. Emily mengangguk. Emily sudah menyiksa perutnya sedari tadi karena dibiarkan kosong seharian dan dipaksa menikmati udara dingin. Daging sapi panggang dan sebotol soju memang hidangan paling tepat di musim dingin, tapi Emily tidak menyentuh sojunya setetespun.

“Aku masih ada pekerjaan nanti.” Jawab Emily setelah Kyuhyun menawarinya segelas soju.

“Segelas saja?”

“Aku harus bekerja dalam keadaan sadar Kyuhyun-sshi.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu.”
Tangan Emily yang gemetar sudah pulih dan wajah kedinginan mereka sudah hilang.

“Kuantar kau pulang..”

“ Kau pulang saja dulu. Aku akan bertemu dengan temanku.”

“Manajer Produksi CC Ent lagi?” Emily mengangguk. “Kau jadi sering bertemu dengannya.”

Tidak juga, mungkin karena kebetulan kalian selalu bertemu denganku di hari yang sama. Aah aku juga heran. Jika ada yang tahu aku menemui dua pria dalam sehari. Aku pasti disangka player. Padahal mereka hanya ingin tahu info tentang Milly Kim. Menyebalkan bukan?”

“ Kalau begitu bertemu denganku saja…”

“Yak, kau mulai lagi…” Kyuhyun tertawa. Tapi perlahan dia mulai menjaga perasaan gadis ini. Agar tidak meninggalkannya dengan rutukan rutukan jengkel seperti sebelumnya. Karena jika itu terjadi lagi, kesempatan menstabilkan pemasukan perusahaan akan menghilang begitu saja. Aaah apakah itu alasan saja? Seharusnya memang tidak ada alasan lain lagi, tapi nyatanya Kyuhyun menyimpan satu alasan lagi untuk tetap menjaga perasaan Emily. Karena dia tidak ingin Emily terluka karenanya. Luka? Entah fisik entah hati. Yang jelas Kyuhyun tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Dia tidak ingin perasaannya kacau, dan hatinya berdebar karena takut.

****
“Kau sudah menunggu lama?” Tanya Min Ho. Emily menggeleng. “Kenapa  mencari tempat dingin, bukannya lebih baik kita mencari tempat yang lebih hangat.”

“Aku suka di sini.”

“Bagaimana? Kau sudah menemukan Milly Kim?”

“ Ajik…”

“Oh iya, boleh aku cerita padamu? AKu membuat kesepakatan dengan Hyeong.”

“ Tentang?”

“Jika aku bisa membawamu ke perusahaan dan menandatangi kontrak denganmu. Aku akan dianggap selayaknya adik.”

“Bukankah selama ini kalian baik baik seperti adik kakak?”

“Anniyo, masalahnya tidak semudah itu. Tapi kau mau membantuku kan?

“ Aku akan membantu, tapi aku tidak menjanjikan bisa mempertemukanmu dengan Milly Kim.”

“Baiklah...”


No comments:

Post a Comment