Ponselku baru saja berdering ketika aku menyelesaikan
artikel yang harus ku serahkan pada editor besok pagi. Lagi lagi telepon dengan
nomor yang disembunyikan.
Aku sudah sedikit malas meladeni telepon ini. Dia selalu
membuang waktuku tanpa bicara sepatah katapun di ujung sana.
“Hallo, kau tidak mau bicara? Yasudah kututup saja..” jawabku seperti biasa.
Sepertinya ini telepon yang ke enam dan aku sudah berencana
tidak akan mengangkatnya lagi jika dia menelepon.
“Hallo...Hyeonie-ya.” jawabnya kemudian.
Entah berapa waktu yang sudah kuhabiskan untuk membeku
setelah dua patah kata itu yang juga berhasil
mematahkan hatiku lagi.
“Hyeon...” panggilnya lagi
Sekali lagi dia memanggil namaku, aku bisa terkena serangan
jantung di tengah malam ini.
“Siapa di sana?” tanyaku. Aku sangat yakin dan mengenal
suaranya, aku hanya tidak tahu harus bagaimana ketika orang itu meneleponku
lagi setelah sekian lama waktu berlalu.
“Aw, hatiku benar benar sakit kau tak mengenali suaraku.”
“ Hatiku juga benar benar sakit ketika suara ini mengatakan ingin berpisah dariku.”
“Dan kau selalu bisa
menusuk hatiku dengan kata katamu.” Katanya.
“Ada apa? Bukannya tidak sopan menelepon orang lain malam
malam begini?”
“Dulu kau tidak
pernah keberatan ku telpon bahkan jam 3 pagi. Bagiku kau bukan orang lain.”
“Bagiku kau orang lain.”
“Hyeon...”
“Kyu!” Aku meninggikan suaraku. Dia bahkan tidak berhak
bicara lebih jauh lagi padaku.
“Kau tahu kan sekarang hari apa?”
“apa peduliku?”
“Ini 1 Agustus kita yang keempat.”
“Kita? Kau tidak salah? Bukan satu bulan lagi menuju kalian yang
pertama?”
“Aku sudah berpisah dengan Jae Rim. Hyeon”
“Aku tahu.”
“Lalu apa salahnya aku menghubungimu begini.”
“aku tidak tahu. Aku hanya berpikir ini salah.”
“apa kabarmu?”
“Baik...”
“Aku dengar kau masih sendiri.”
“Kau blak blakan sekali.”
“ Bukan karena masih mencintaiku?”
“Memangnya aku harus masih mencintai orang yang
meninggalkanku demi wanita lain?”
“Sepertinya aku harus terbiasa lagi mendengar kata katamu
yang selalu menusuk hatiku begini. Oh iya, Aku dengar kau bekerja di Elle
sekarang..” Dia tidak berubah, selalu bisa menurunkan ritme bicaraku yang sudah
mencapai oktaf tertinggi dan mengalihkan topik pembicaraan.
“kau sepertinya mendengar banyak tentangku. Kau tidak punya
pekerjaan lain?”
“Aku masih ditempat yang sama.”
“Aku tahu. Tapi bukan itu maksudku.”
“Waah, Kau juga tahu banyak tentangku. Kau mencari tahu
tentangku?”
“Cih, pembicaraan macam apa ini?”
“Aku akan ke Seoul minggu depan, Aku ingin bertemu
denganmu.”
Tut...tut...tut...
*********
Aku yakin jika telepon itu ku teruskan, aku akan kehilangan
kesempatanku membangun dinding yang tinggi untuk menghalangi pandanganku
tentangnya lagi.
Aku sudah berusaha sejauh ini untuk hidup lebih baik.
Bukankah tidak adil jika dia merusak dinding yang ku buat itu dengan hanya
pembicaraan tak masuk akal selama lima menit ini.
Tapi aku baru tahu betapa dahsyatnya dampak telepon itu
bagiku setelah aku mengakhiri pembicaraanku dengannya. Malam itu aku terjaga
hingga pagi, tidak mampu memikirkan apapun kecuali kata “Minggu depan aku ke Seoul, aku ingin bertemu denganmu.” Dan selamat!! program diet tanpa rencana
akhirnya terlaksana. Aku tidak bisa makan apapun. Bukan tidak bisa, tapi tidak
ingin. Nafsu makanku kembali turun.
Seminggu berlalu,
Dia benar benar menemuiku, dia sudah berada di depan pintu
flatku saat aku baru kembali dari kantor. Memberiku seikat bunga mawar berwarna
merah muda dan ungu muda. Entah kenapa dia mulai berperilaku seperti ini lagi. Aku jadi ingat saat kami masih bersama dulu.
Dia selalu memberiku bunga seperti ini saat hari ulang tahunku. Yaa, aku rasa dia
sedang menggali kenangan indah kami
dulu.
Aku membuka pintu flatku dan membiarkannya masuk. Sebenci apapun aku padanya, aku tidak begitu tega
mengusir orang yang jauh jauh dari Tokyo ke Seoul untuk menemuiku.
“Teh, Kopi atau...?” tanyaku padanya.
“Hyeon, Aku bisa mengambil minum sendiri. Perlakukan aku
seperti biasanya. Kau membuatku merinding saja.” Katanya.
“kenapa kau merinding? Aku tidak punya potassium sianida, atau
aku harus membelinya dulu?”
“Aku yakin kau benar benar membenciku. “ Jawabnya setelah
mendengar candaan malasku.
“Dan kau lebih peka sekarang. Darimana kau tahu flat
baruku?”
“Seperti katamu aku mendengar banyak tentangmu. Jangan
terlalu membenciku, aku khawatir kau jadi menyukaiku lagi. Jarak antara benci
dan cinta itu sedekat nadi.”
“Tapi sayangnya kita
sudah sejauh matahari.”
“ Kenapa? Bukankah matahari ini sudah mencoba mendekat
lagi.”
“Aku tidak mendekati matahari, aku tidak mau tubuhku
terbakar lagi.”
“Yaa! Kau benar benar pintar bicara...” katanya.
“Dan kau benar benar pintar melukaiku.” balasku
“Hyeon, apa kita tidak bisa bicara baik baik?”
“Bukankah ini pembicaraan yang cukup baik.”
“Sepertinya aku harus datang lagi besok pagi. Kau mungkin lelah
bekerja seharian jadi emosimu tidak terkontrol.”
“Jangan membuat asumsi sendiri.”
“Kita bertemu besok. Aku akan menjemputmu.”
“Jangan datang lagi...”
“Kenapa? Aku tahu kau masih mencintaiku. Jangan berusaha
terlalu keras Hyeon. Kalau kau merindukanku kau bisa memelukku. Kalau kau marah
padaku, kau bisa menamparku memukulku. Katakan saja apa maumu, kalau kau ingin
memakiku silakan memakiku aku akan mendengarkan semuanya.”
“ .............................”
“Tapi setelah itu aku mohon maafkan aku..”
Aku
yakin penyesalanmu pasti akan terjadi.
Apa kau pikir hatiku
akan sama?
Bahkan jika hatiku masih sama.
Bukan berarti aku
harus kembali padamu kan?
Kau pikir aku terlalu
mudah kau ajak kembali setelah kau
membuangku demi wanita itu?
Demi wanita yang kau
pikir kau mencintainya
Tapi nyatanya
setengah hatimu masih tidak bisa berhenti
mencintaiku.
Dan hari demi hari
kau malah semakin mencintaiku dan menyesali kebodohanmu karena mengira
rasa suka sesaatmu
itu sebagai cinta.
Lalu, apa bagimu kau
cukup pantas untuk merampas kehidupan dan perasaanku lagi seperti dulu?
Sepertinya tidak,
Kau hanya seseorang yang datang dan pergi sesuka hati.
Tak ubahnya bus kota
di halte pemberhentian
No comments:
Post a Comment