Sunday, April 3, 2016

Finally, We’re together (After Story “Never Say Good Bye”)

Ini adalah after story dari Never Say Goodbye yang terdiri dari 3 part. Biar nggak bingung atau pernah baca tapi lupa ceritanya boleh baca dulu  di NSG (part 1) NSG (part 2) NSG (Part 3 End) 



_Kyusided_



Aku sungguh bersyukur akhirnya Hyeon menerimaku kembali setelah lima tahun perpisahan kami. Kalau saja aku tidak menjadi pria yang pengecut. Aku tidak perlu menunggu waktu selama itu  untuk kembali pada Hyeon.



Kalau saja aku tahu Hyeon masih mengharapkan kedatanganku dua tahun setelah perpisahan kami. Aku pasti akan datang dan meminta maaf seperti yang dia katakan.




“Apa kau pikir aku tidak akan memaafkanmu kalau kau datang walaupun sangat terlambat? Kau  seharusnya datang, meminta maaf padaku. Jika aku masih belum memaafkanmu. Teruslah minta maaf. Jika aku masih mengusirmu, kau seharusnya datang lagi esok harinya dan lakukan setiap hari sampai aku memaafkanmu.” 




Itu adalah kata kata Hyeon yang paling ku sesali.




Aku duduk bersama Hyeon di kantin Teater setelah selesai pertunjukan untuk mengganjal perutku. Tenagaku habis. Pertunjukan tadi adalah pertunjukan terakhirku di teater Seoul, dan dua hari lagi aku memulai pertunjukan di beberapa kota.




“Bagaimana kalau aku bertemu ayah dan ibu lagi besok malam?” Tanyaku pada Hyeon. Hyeon masih mengaduk aduk minumannya dan memikirkan sesuatu.




“Kau benar benar yakin akan menemui mereka lagi?”



Hubunganku dengan Hyeon sudah baik baik saja semenjak kejadian dramatis malam itu. Kami kembali menjadi pasangan kekasih dan semakin romantis seperti pasangan baru dari hari ke hari.




Sayangnya, orang tua Hyeon menentang hubungan kami.




Bagaimana tidak? Aku sudah melukainya di hari pernikahan kami. Aku menjadi pengecut di hari pernikahan kami. Meninggalkannya dengan luka dan rasa malu yang mungkin tidak akan pernah dia dan orang tuanya lupakan.



Seharusnya saat itu aku membalas pesannya dan menghubunginya. Bukan hanya mengetik beberapa kata kemudian menghapusnya kembali. Seharusnya aku meneleponnya atau menulis pesan padanya  untuk menungguku.




Kalau saja aku tidak terlalu pengecut aku tidak akan menunggu saat saat seperti ini selama lima tahun.




Bodohnya aku!




Kalau  Jong Hyeon tidak menikah dengan Ji Won. Dia pasti menikah dengan Hyeon, dan aku tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan Hyeon kembali. Ini adalah kesempatanku, aku tidak boleh mengecewakan Hyeon lagi.  




“Aku yakin Hyeon, Aku sudah mengecewakan orang tuamu, jadi tugasku seakarang adalah meyakinkan orang tuamu kembali. Apa perlu aku melamarmu hingga mereka percaya lagi padaku?”




“Kau lari saat pernikahan Kyu, lamaranmu tidak akan ada artinya.”





“Kalau pernikahan?”





“ Apa perlu ku tegaskan lagi? Kau pergi saat pernikahan Kyu. Menjanjikan pernikahan tidak akan ada artinya juga.”




“Apa maksudmu tidak ada kesempatan lagi?”




“Bersabarlah, kita hadapi orang tuaku bersama sama. Ibuku sangat tahu aku masih mencintaimu. Apakah seorang ibu akan membiarkan anaknya bersedih hati sepanjang waktu?”



“Lalu ayahmu?”




“ Kau harus bekerja lebih keras untuk itu.”


****



Satu bulan berlalu setelah pembicaraan itu. Tuhan tahu aku begitu tulus untuk memulainya kembali bersama Hyeon, begitu pula orang tua Hyeon. Mereka menyetujui hubungan kami setelah pembicaraan yang panjang, tak jarang perdebatan terjadi antara Hyeon dan orang tuanya.



Pernikahan kami dilaksanakan di Seoul. Tapi kami memutuskan untuk mengundang keluarga dan kerabat dekat saja.



“Kalau kau tidak pergi saat itu, kita tidak perlu menghabiskan uang dua kali untuk pesta pernikahan.” Kata Hyeon padaku




“Aku bisa membiayai pernikahan yang sama seperti sebelumnya. Bahkan lebih mewah.”



Hyeon mendelik padaku. Apa naluri seorang istrinya sudah mulai muncul, untuk menghemat pengeluaran suaminya atau ada alasan lain.




“Apa gunanya lebih mewah kalau kau pergi lagi...” jawab Hyeon




Aku tersenyum menenangkannya. “Tidak akan Hyeon, kali ini percayalah padaku.”




***


Lima Tahun Kemudian...




“Cho Hyun Ra... mandi!!!”




Seorang gadis kecil berlari kearahku. Kemudian bersembunyi di balik badanku, tangannya memegang sisi kanan dan kiri jahitan celanaku dan memiringkan kepalanya,  mengintip ibunya yang sudah kelelahan mengejarnya untuk mandi sore.



“Ayah, ibu berteriak padaku.”




“Hyeon, kenapa berteriak padanya?” Tanyaku.




“Aku sedikit lelah mengurus rumah hari ini, tapi masih harus berkejar kejaran dengan Hyun Ra selama satu jam, dan dia tetap tidak mau mandi.”





“Hyun Ra sayang, kenapa kau tidak mau mandi?”Tanyaku. Anakku yang satu ini sedikit keras kepala, sama sepertiku.




“Aku masih ingin bermain yah.” Kata Hyun Ra dengan suara kecilnya.




“Kau bisa bermain lagi setelah mandi sayang, dan kau harus menuruti apa kata ibumu. Arraci?”





“Ne, algesseumnida...” Ucap gadis kecilku.




Tiba tiba suara bayi menangis dari kamar kami.



“Kau dengar Yeobo? Aku ingin memandikan Hyun Ra sebelum Hyun Bin bangun. Tapi karena Hyun Bin sudah bangun. Kau saja yang memandikan Hyun Ra.”




Lma tahun sudah berlalu, aku dan Hyeon sudah memiliki dua orang anak. Cho Hyun Ra, gadis kecil berusia empat tahun itu sangat dekat denganku dan selalu menempel padaku sepulang kerja. Dia memiliki sifat dan fisik yang mirip sepertiku. Anak ke dua kami adalah Cho Hyun Bin. Anak laki laki berusia lima bulan, Karena Hyun Bin masih bayi dan butuh pengawasan ibunya selalu, Hyeon keluar dari pekerjaannya dan ku minta untuk fokus pada mereka berdua.




Untung Hyeon adalah istri yang penurut. Dia mengorbankan karirnya untuk kedua buah hati kami. Mungkin awalnya berat bagi Hyeon, dari seorang wanita karir gila kerja menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus dua anaknya dan bayi besar ini.  Tapi Hyeon tahu, kedua buah hati kami lebih berharga daripada apapun. Hyeon tidak menyesalinya.




Seiring berjalannya waktu, aku semakin mencintainya.  Mencintai Hyeon dan dua buah hati kami yang tumbuh dengan sangat baik.



Masa lalu yang terjadi diantara kami adalah pelajaran hidup  bagi kami untuk menghargai setiap waktu, untuk tidak bersikap pengecut, untuk berani mengambil resiko dan untuk berani mengakui kesalahan dan kebesaran hati untuk memaafkan.



Kalau saja aku tidak bekerja bersamanya, aku mungkin akan tersiksa dengan kesendirianku karena selalu merasa bersalah pada Hyeon. Kalau saja aku tidak berani meminta maaf atas kesalahanku, aku mungkin akan menyesalinya seumur hidupku.Hyeon mungkin tidak akan hidup bersamaku dan kedua anak anakku.



Bersamanya adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan. Ternyata lebih baik hidup saling diam setelah bertengkar hebat daripada harus diam sendiri karena tidak berani mengakui bahwa diri kami masih saling mencintai.




No comments:

Post a Comment