Tuesday, April 12, 2016

(before all in 4)


Cerita ini cuma kisah sebelum all in part 4 karena saya lagi males nulis banyak, sekarang masih ngurus modul dan tryout alat tes. Cuma buat pemanasan aja dan cerita selanjutnya bakal jadi Kyu sided, atau Kyu pov. Mengungkapkan sisi sebenarnya dari Kyuhyun dan sikap sikapnya. Apakah dia benar benar tidak ingin bercerai dengan Hyeon, ataukah ada alasan lain. Cinta kah? Dendam yang belum terbalaskan kah? Atau entahlaah...  happy reading. 



*******



“Oppa... ayo bercerai saja!” kata Hyeon, kata katanya lemah tapi menyiratkan keyakinan. Mereka berdua mematung di depan rumah sakit. Kyuhyun sangat terkejut dengan kata kata yang keluar dari mulut Hyeon Jung. Kyuhyun tidak mau membahasnya sekarang.


Mereka sudah berada di depan rumah sakit. Tapi Kyuhyun tidak berencana masuk dengan kondisi Hyeon yang berantakan, Kyuhyun tidak ingin orang tua Hyeon heran dengan penampilan  Hyeon yang sudah mirip gadis berandalan, Keringat yang bercucuran dan rambut yang tidak tertata, seragamnya juga sedikit kotor karena Hyeon sempat tersungkur saat bermain di taman. Walaupun wajahnya masih tetap manis..

“ Kita bicarakan ini di rumah saja.”


“Oppa!” suaranya satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya.


“Wae?”


“Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?”


“Bagiku itu bukan pertanyaan.”

Kyuhyun menarik Hyeon ke mobil, mereka masih terdiam dengan pikiran masing masing. Hyeon menatap keluar jendela dan Kyuhyun masih sibuk menyetir. Sesekali Kyuhyun melirik ke arah Hyeon yang masih lekat dengan pandangannya di luar mobil. Sepertinya sekarang, Kyuhyun bukan lagi perhatiannya.

“Kau sudah makan?”


“Aku tidak ingin.”


“Kita makan dulu.”


“Aku ingin pulang!!”


Kyuhyun mengalah dan menuruti mau Hyeon, tidak mau memperdebatkan masalah kecil semacam ini karena masalah besar sudah menanti mereka di rumah. Mobilnya mengarah ke apartemen mereka. Setelah sampai di parkiran, Hyeon keluar dari mobilnya dengan cepat, dia berjalan  di depan Kyuhyun karena tidak mau menyamai langkah meski Kyuhyun sudah mempercepat jalannya.

Hyeon Jung langsung masuk ke kamarnya tanpa bicara apapun. Mengunci pintunya dan berbaring di ranjangnya. Pikirannya bercabang cabang.

Dia marah, sedih dan juga kecewa. Tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya dia rasakan. Di sisi lain dia marah dan terluka karena Kyuhyun masih menjalin hubungan dengan Sarah dibelakangnya. Sedih karena ternyata orang tuanya membuat Kyuhyun kehilangan keluarganya, dan kecewa karena Kyuhyun hanya bermain main dengan pernikahannya.


“Hyeon, bisa kita bicara?”


“Tidak!” Jawab Hyeon dari dalam kamarnya. Kyuhyun menghela nafas.


“Kau bilang ingin bercerai padaku, kau tidak mau mendengar jawabanku?”

Hati Hyeon malah khawatir, apakah benar dia memang memikirkan perceraian dengan Kyuhyun. Apa dia sungguh sungguh dengan kata katanya tadi. Hyeon tidak menjawab. Dia masih berpikir dan berpikir. Apakah dia akan membuka pintunya atau  membiarkan Kyuhyun berbicara di depan pintunya.

Hyeon membuka pintu kamarnya, kemudian duduk di depan ruang TV.  Di hadapannya, Kyuhyun berdiri menantang. Berjalan mondar mandir.

“Aku pusing melihatmu begitu, kenapa tidak duduk saja?” kata Hyeon yang merasa terganggu dengan pergerakan Kyuhyun di hadapannya.

Kyuhyun akhirnya berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di meja sebelah Televisinya. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.


“Kau benar benar serius dengan perceraian kita?”


“ Iya..”


“Kenapa?” Tanya Kyuhyun.


“Kau tidak menyadari apapun?” Hyeon kesal. Selama ini dia sudah menahan semuanya dan berharap semuanya akan berubah, tapi apa yang Hyeon dapatkan dari Kyuhyun. Dia hanya mendapatkan pengkhianatan dan sikap Kyuhyun yang tidak pernah bersahabat, dan yang terakhir, dia hanya menjadi bahan balas dendamnya.


“Karena Sarah? Apa ini karena pertemuanku dengan Sarah di Casino kemarin malam?” Tanya Kyuhyun.


“Kau hanya menyadari satu hal Oppa..” Jawab Hyeon.


“Lalu? Apa kau tahu yang sebenarnya terjadi?”


“ Aku tahu semuanya! Bahkan saat kau menghabiskan setiap malammu bersama wanita itu dulu. Ah, aku bisa gila kalau mengingat apa yang ku tahu tentangmu.” Tegas Hyeon. “Kita bercerai saja. Aku lelah dengan semuanya Oppa.”


“Kau sangat mudah mengajakku menikah, kau juga sangat mudah mengajakku bercerai. Apa kau pikir pernikahan kita main main? Yang bisa kau akhiri begitu saja?” Kyuhyun naik darah, merasa dirinya dipermainkan oleh Hyeon. Diajak menikah dan bercerai begitu saja.


“Bukankah maumu begitu? Kau sudah mendapatkan perusahaanku.”


“Hyeon, kau pikir aku menikah denganmu hanya karena perusahaanmu?


“Lalu apa? Bukankah sudah sangat jelas. Kau sudah mendapatkan perusahaanku, maka kau sudah tidak perlu bersamaku lagi.”

“Hyeon!!”


“Aku tidak meminta perusahaan yang sudah ku berikan padamu kembali. Anggap saja itu sebagai kompensasi karena perbuatan ayahku pada ayahmu.”

Kyuhyun terkejut, sikapnya yang berapi api berubah khawatir. Matanya menatap ke dalam mata Hyeon yang menggelap. Dia melihat Hyeon sedang menahan seluruh kepedihannya di sana.


“Darimana kau tahu tentang itu?” tanya Kyuhyun.


“Aku akan mempertanggung jawabkan semuanya. Jika dengan kepemilikan perusahaan kau sudah sangat puas. Maka kau sudah mendapatkannya. Apalagi yang perlu kau pertahankan dari hubungan kita. Lagipula.... kau tidak pernah mencintaiku, Oppa.”


“Hyeon, dengarkan dulu...”


“ Apa lagi?”


“Aku tidak akan bercerai denganmu.” Jawab Kyuhyun. Lalu meninggalkan Hyeon ke kamarnya. Dia menaiki tangga sampai tepat di ujung atas. Dia menoleh ke bawah. “Sampai kapanpun!”







No comments:

Post a Comment