Noonan
neomu yeppeoseo namjadeuli gaman an dweo
Huendeullineneun
geunyeoae mam sashil algo isseo
Geunyeoaegae
sarangeun Hansoonganae neukkimil ppoon
Molla
haedo nayegaen salmae everything
(Replay-
SHINee)
“Aku pergi dulu...” Kata
seorang pemuda menjauh dari kerumunan teman temannya. Seperti biasa, dia
memasang earphone di kedua telinganya dan menyalakan lagu favoritnya “Replay-
SHINee” dari ipod. Dia berjalan cepat keluar sebuah gedung sekolah, melewati siswa
siswa lain yang berjalan searah dengannya. Dia selalu begitu setiap hari,
begitu bel berbunyi, dia akan segera
keluar dari sekolah dengan terburu buru.
Seragam kuningnya membuat
remaja SMA ini terkesan imut dan sialan tampan. Para gadis yang sudah tahu
kebiasaannya selalu pulang cepat sudah bergumul sejak dari depan kelasnya
hingga gerbang sekolah hanya untuk melihat pria ini berjalan dengan wajahnya
yang datar. Ada yang sibuk memfotonya, dan ada yang hanya mengikuti pria muda
nan tampan itu dari dekat. Dia bukan artis ataupun selebritis. Tapi
penggemarnya tak bisa kau hitung dengan jarimu.
Dia apatis! Meski dia tahu dia
begitu populer di sekolah.
Bahkan setelah keluar dari
komplek sekolah pun, dia selalu ditatap dengan kekaguman oleh gadis gadis dari
sekolah lain. Tentu saja, seragam kuning yang dipakainya itu juga menarik
perhatian mereka. Tak ada yang lebih menarik perhatian daripada seragam kuning
milik Seoul of Performance and Art. terlebih dia adalah Jeon Jungkook. Salah
satu siswa populer SOPA yang ketampanannya menembus ruang dan waktu... Ah
berlebihan. Tapi sungguh, wajahnya sesempurna cheonsa!
Di balik hingar bingar kehidupan
sekolahnya yang penuh dengan penggemar yang terang terangan mengungkapkan
perasaan padanya atau yang hanya mengaguminya dalam diam, Jeon Jungkook tak
pernah peduli... bahkan tak ada yang tahu bahwa dia membenci apa yang orang
orang kagumkan padanya.
Heuh,
aku membenci kenyataan bahwa aku masih mengenakan seragam berwarna kuning ini,
disaat setiap gadis mengarahkan tiap pandangannya padaku dan mengagumi apa yang
ada padaku dan apa yang melekat di diriku. Aku mulai kesal... Kenapa bukan dia
yang begitu? Mengapa dia tak melihat yang sama seperti gadis gadis itu?
Mengapa
dia begitu membenci seragamku... dan juga wajah imutku.
Jeon Jungkook, Remaja SMA itu
berjalan menyusuri beberapa komplek perkantoran dan berhenti di sebuah kantor
majalah fashion. Tidak tidak, jangan berpikiran terlalu jauh. Dia tidak kesana
untuk menjadi model mereka, tidak... meski dia tahu dia tak akan ditolak jika
masuk ke dalam sana dan mengajukan diri sebagai model mereka.
Karena hal ini berulangkali
terjadi jika dia sedang berada di sana....
Dia hanya berdiri bersandar di
tembok dekat pintu keluar sambil terus memeriksa jam tangannya.
“Bukankah ini sudah waktunya.”
Dia bertanya pada dirinya sendiri. Sambil menghentak hentakkan sepatu kirinya
ke lantai, pemuda ini juga terus menoleh ketika seseorang keluar dari pintu di
hadapannya.
Senyumnya melebar, ketika
hentakan sepatu hak tinggi yang dikenalnya semakin kencang dan seseorang yang
ditunggunya muncul memenuhi bayangan netranya yang bulat. Benar, jangankan
hentakan sepatunya, pemuda itu bahkan tahu betul bagaimana irama nafasnya.
Wanita yang ditunggunya
berhenti, membuang wajahnya dan mendesah kesal. Wanita itu menghampiri Jungkook dengan malas.
“Kau lagi?”
“Eoh, Noona...” jawab Jungkook
dengan senyuman terlebarnya yang tak pernah ditunjukkan pada siapapun. Jungkook
terkenal dingin di sekolah dan oleh teman temannya dia dijuluki pria musim
dingin karena jarang bicara apalagi pada gadis gadis yang mengantri padanya di
sekolah. Tapi seketika, pria musim dingin ini akan berubah hangat jika bertemu
dengan Bae Joo Hyun, wanita yang ditunggunya sedari tadi.
“Kau tidak bisa terus seperti
ini Jungkook-a..” wanita bernama Bae Joo Hyun itu mengusap dahinya. Dia lelah
dengan pekerjaannya dan ingin segera pulang. Tapi Jungkook mendatanginya setiap
sore di kantor.
“Mian, tapi aku tak akan
menyerah begitu saja Noona. Jadi berikan aku kesempatan sekali lagi.”
“ Kau tidak akan berhasil, Jeon
Jungkook!” Yakin wanita itu.
“Noona, ayolah. Kita kencan sekali lagi. Ya?”
“Pulanglah, aku hari ini sangat
lelah. Lagipula siapa yang akan berkencan dengan siswa berseragam SMA sepertimu?Yaa!
kau harusnya memikirkan bagaimana caranya masuk universitas dan belajar dengan
giat. Bukan mendatangiku setiap hari dikantor.”
“Ya, setelah aku berkencan
denganmu. Aku akan belajar dengan giat. Joohyun-noona” Janji Jungkook pada
JooHyun.
“Jungkook-ah, ku beritahu
padamu. Noona ini saaaaaangaaaaaaat jauh usianya diatasmu. Tidak bisakah kau
berkencan dengan gadis seusiamu saja?”
“Shireo!! Mereka berisik
merepotkan dan Aku hanya menyukaimu..”
“Yaa, perlu kukatakan berapa
kali padamu. Aku tidak akan memiliki kekasih 6 tahun lebih muda dariku.
Sekalipun aku menyukaimu, aku tidak akan pernah berkencan denganmu. Aku bisa
saja dipenjara karena mengencani anak dibawah umur. Bukankah itu gila?”
“Sekalipun kau menyukaiku?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana caranya agar
noona mau menjadi kekasihku?”
“Jadilah enam tahun lebih tua
dariku.”
“Noona.. tidak masuk akal.”
“Kau mencintaiku. Apa bagimu
itu masuk akal? Bagiku sama sekali tidak!” Joo Hyun meninggalkan Jungkook
didepan kantornya dan berjalan secepat mungkin.
Penolakan ini bukan yang
pertama, Jungkook sudah mengalami yang lebih pedih dari ini dan tentunya berkali
kali. Jadi kata kata JooHyun bukanlah hal yang harus dipikirkan. Dia hanya
perlu datang lagi besok dan mengungkapkan perasaannya lagi. Tak ada yang tahu
kapan air akan menjadikan batu menjadi berlubang. Air hanya akan berusaha terus
menerus menghujaninya.
Jungkook mengekor Joo Hyun,
cukup jauh karena dia tak mau disangka penguntit. Jungkook menatapnya dari
seberang jalan yang lain. Berjalan beriringan. Melihat Joo Hyun kelelahan
dengan sepatu haknya dan beristirahat di salah satu bangku di tepi jalan. Jungkok
bahkan sudah tahu apa yang akan dilakukan Joo Hyun setelah melepaskan sepatunya
yang menyiksa itu.
Sebelum JooHyun merilekskan
saraf saraf tegang di kakinya dengan menepuk nepuk betis, Jungkook menghampiri
JooHyun, dia berlutut di hadapan Joo Hyun, menarik salah satu kakinya dan memijat
punggung kaki Joo Hyun dengan lembut.
Joo Hyun menarik kakinya,
merasa canggung dengan posisi mereka, tapi Jungkook tetap menariknya lagi ke
genggamannya.
“Sudah kubilang, noona
seharusnya bawa sepatu flat untuk pulang ke rumah. Kenapa noona tidak pernah
mau mendengarkanku. Huh?” Kepala Jungkook mendongak ke atas, ia membutuhkan
jawaban Joo Hyun.
“Kau juga tak pernah
mendengarkanku. Kau tetap tidak mau pergi meski sudah kusuruh pergi.”
“Eeii, aku tidak akan pergi
hanya karena Noona menyuruhku pergi. Aku sudah terbiasa dengan omelan, makian,
siksaan dan kalimat kalimat pedas darimu jadi Aku sudah kebal... “ senyumnya
begitu mengembang sempurna. Tak ada yang tahu jika seorang Jeon Jungkook punya
senyum semerekah itu,
“Ciih...” Joo Hyun tersenyum
remeh.
“Noona, aku menyukaimu apapun
yang terjadi. Jadi aku tak akan pernah mundur meski Noona menyuruhku pergi
berkali kali.” Ucap Jungkook. Dia melepas kedua sepatu kets nya dan memberikan
pada JooHyun.
“Pakai saja milikku, perjalanan
pulang masih sangat jauh dan high heels ini pasti akan menyiksamu sepanjang
jalan.” Jungkook berdiri dan tangan
kanannya mengambil sepasang high heels milik JooHyun.
“Yaa, bagaimana dengan kakimu?
Kau juga butuh alas kaki.”
“ Haha, tak apa.” Dia memandang
kakinya sendiri yang hanya terbalut kaus kaki berwarna abu abu sambil
menggerakan jari jarinya.
“Yaa, bagaimana bisa pria dengan
seragam keren itu tidak mengenakan alas kaki? Orang orang pasti akan
memperhatikanmu. Kau tidak malu?”
“Aku tidak peduli, kau bahkan tak menganggapku
begitu. Jadi untuk apa?”
“Jangan memulai atau kusuruh
kau pergi sekarang juga!”
“Noona, Bukankah yang kulakukan ini sangat keren?
Tidak ada pria yang berpikir untuk memberikan sepatunya pada wanita yang
disukainya agar wanitanya tidak kesakitan di jalan.”
“Heol, berhenti menonton drama
romance yang menjijikan Jeon Jungkook. Aku takut kau salah tumbuh menjadi pria
yang hanya memikirkan tentang cinta dan menjadi tidak realistis tentang
kehidupan yang lain.” Jelas Joo Hyun. “Dan satu lagi, jangan menyebutmu pria.
Ku mohon! kau masih remaja di bangku SMA.”
“Ugh, satu satunya yang kubenci
dariku, adalah kenyataan bahwa aku masih SMA, berkeliaran dengan seragam kuning
yang membuatku tampak begitu muda dan menggemaskan!”
“Yaa, kenapa kau membenci itu?
Muda dan menggemaskan. Bukankah itu keren? Semua orang menginginkan itu.”
“Tapi tidak membuat noona suka
padaku.” Jawab Jungkook penuh makna. “aku harus menjadi pria manly seperti
tipemu kan?”
“Yaa, berperilakulah sesuai
usiamu, Jeon Jungkook!”
Bae JooHyun menghela nafas, sulit menjelaskan pada laki laki
belia yang masih menggebu gebu soal cinta. Mau dijelaskan bagaimanapun, Jeon
Jungkook akan melakukan sesuatu sesuka hatinya.
“Aku tidak mau kau pergi ke
tempat kerja ku lagi, atau aku tidak akan pernah menemuimu lagi. Arra?”
“Emm.... entahlah..” Ujar
Jungkook sambil memiringkan kepalanya. Bukan Jeon Jungkook bila mudah menyerah
hanya karena JooHyun menyuruhnya begini dan begitu.
“YA!!”
“Huh, Noona bus kita datang.
Ayo, aku antar kau pulang...” Tunjuk Jungkook pada bus yang akan membawa mereka
pulang ke rumah.
Jeon Jungkook, pemuda ini sudah
menyukai JooHyun sejak dia berusia 15 tahun. Ah atau mungkin malah jauh sebelum
itu. Awal pertemuan mereka adalah ketika
Jungkook masih di awal remaja. Sebuah pertemuan yang emosional saat itu
membuat Jungkook menaruh hati pada JooHyun meski Jungkook tahu, Bae JooHyun
jauh lebih tua darinya.
Perbedaan usia mereka sekitar 6
tahun, tapi Jungkook tidak peduli. Dia selalu yakin bahwa menyukai seseorang
atau bahkan mencintainya tidak harus dibatasi usia. Tidak harus disyaratkan
pria harus lebih tua atau minimal seusia dengannya.
Itu
kuno, sekarang hal hal semacam itu sudah tanpa dinding pembatas. Semua orang
memiliki hak untuk mencintai siapapun tanpa memikirkan rentang usia, atau dogma
tentang pria harus lebih tua daripada wanita.
Aku mencintai
JooHyun noona, dan aku akan membuat JooHyun noona juga mencintaiku.
Keyakinan itu semakin besar setiap melihat JooHyun. Apalagi
ia tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan penuh semangat, selalu
berpikiran positif pada setiap hal. Murah senyum dan mempesona banyak pria.
Ah sial,
aku paling benci hal terakhir.
Pengakuan pertamanya adalah saat dia duduk di bangku akhir
sekolah menengah pertama. Saat itu JooHyun hanya tertawa ketika Jungkook
memberikan sekotak cokelat dan boneka teddy bear. Entah siapa yang mengajarkan
itu semua pada Jungkook, dan JooHyun hanya tertawa geli mendengar pengakuan
anak remaja itu.
“Ini menggelikan Jeon Jungkook, aku noonamu. Enam tahun
lebih tua darimu. Bagaimana aku bisa berkencan denganmu. Heol! kau sudah
seperti adikku jungkook-a, kau tidak bisa melindungiku.”
“Aku bisa!”
“Yaa, Jeon Jungkook. Dengarkan noona. Kau belum dewasa untuk
mengerti apa itu berkencan. Apa itu mencintai. Apa itu berbagi dengan pasangan.
Aku paham karena kau sudah remaja, kau pasti menyukai lawan jenismu. Tapi
menyukai noona itu tidak benar Jungkook-a. Kau harus menyukai teman sebayamu.”
Awalnya Jungkook menyerah dan berusaha menyukai teman
wanitanya di kelas. Tapi Jungkook gagal. Dia selalu membandingkan JooHyun
noona-nya dengan teman wanitanya itu. Dan pada akhirnya, dia selalu berkata “JooHyun noona memang yang terbaik.”
Dia kembali mengejar JooHyun saat dia masuk SMA, dan ini
hampir memasuki tahun ke duanya di SMA.
Pekerjaan Jungkook setelah menyelesaikan pelajarannya di sekolah adalah menemui
JooHyun di kampus, dan setelah JooHyun menyelesaikan studinya. Jungkook masih mengejar
JooHyun hingga ke tempat kerjanya.
Hari itu berlalu seperti biasa, Jungkook mengantar JooHyun
sampai di depan jalan setapak menuju rumah JooHyun. JooHyun selalu menolak jika
Jungkook ingin mengantarnya ke depan pintu rumahnya. Dia hanya menciptakan
batas, agar Jungkook tak perlu berharap lebih lagi pada JooHyun.
Bukan Jeon Jungkook
namanya jika dia menyerah setelah perjuangan panjangnya mengejar JooHyun noona.
Ketika JooHyun memintanya untuk tidak datang ke kantor. Dia memilih menunggu
JooHyun di halte dekat rumah tinggalnya.
Meski Jungkook sering mengikuti kemanapun JooHyun pergi,
tapi Jungkook tak serendah itu untuk menjadi penguntit JooHyun. Yaa, JooHyun pasti
merasa terganggu karena terus dikejar oleh laki laki SMA di usianya yang sudah hampir
seperempat abad. Tapi dia melihat niat baik Jungkook padanya dan JooHyun tidak
melihat obsesi yang berlebihan pada Jungkook terhadap dirinya. Pemuda itu
memiliki cara yang elegan hanya untuk membuat Joohyun terkesima pada setiap
pembuktian pembuktian yang dia lakukan untuk menarik hati wanita itu.
Dan
sekali lagi, aku terkesima melihat bagaimana dia melepas sepatunya dan
memberikannya padaku tanpa ragu... (Bae Joo Hyun)
*WWWMA*
Sore bersinar seperti biasanya,
dan lagi gadis gadis itu terus mengarahkan lensa kameranya pada sosok yang sama
seperti kemarin. Jeon Jungkook. Beberapa bulan belakangan ini dia tidak mencoba
memotong rambutnya, dan membuat hairstyle nya sedikit berbeda. Dia menyemir
rambutnya menjadi sedikit pirang kecoklatan, ah apalah itu yang jelas dia
melakukan sedikit pergantian model rambut hari ini terlepas dari warnanya. Dan
lagi lagi itu membuat semua mata menatapnya dengan kagum... bahkan banyak teman
teman lelakinya iri pada ketampanrupawanan pria musim dingin itu.
Dia tak pergi ke tempat biasa,
dia hanya berlari ke halte bus dan kembali ke rumah. Mengganti seragamnya
dengan kemeja dan membenahi sedikit rambutnya dengan wax lalu kemudian pergi.
Asal kalian tahu saja, dia
menjadi puluhan kali tampan dengan kemeja dan warna rambutnya yang baru. Dia
cocok.... So Fucking Handsome!
Meski tak ke kantor JooHyun, Jeon
Jungkook tetap berniat menemui wanita itu. Tepat... dia menunggu di halte
tempat dia biasa turun sepulang kantor. Sore yang cerah itu berlarut larut
menjadi gelap. Jeon Jungkook tetap berada di halte bus, menunggu sosok JooHyun
yang selalu membuatnya cinta mati.
“Noona, aku ingin memberitahumu
sesuatu. Bisakah kita bertemu setelah kau pulang kerja?”
Tapi waktu menunjukkan pukul
09.00 malam dan JooHyun belum nampak juga. Pesan dari Jungkook bahkan belum
terbaca. Apa dia begitu sibuk sampai menyelesaikan pekerjaan sampai selarut
ini? Batin Jungkook.
Setiap bus yang datang, menjadi
harapan baru bagi Jungkook dan bus kali ini adalah harapan yang ke sembilan.
Tapi JooHyun masih saja belum nampak meski hanya desahan nafas kesalnya jika ia
melihat Jungkook di depan matanya.
“Noona, kenapa malam sekali kau
pulang?” gumam Jungkook.
Tak
keluar dari bus, sosok yang ditunggunya datang. Berjalan sempoyongan dari sisi
kanan jalan. Wajahnya memerah penuh dan
langkahnya tak beraturan.
“Aigoo,
wanita ini minum minum ternyata.” Sangka Jungkook. “ Apa harinya sangat berat?”
“Noona,
gwaencanha? Kau mabuk?” Jungkook menggenggam lengan JooHyun tapi Wanita itu
melepasnya.
“Lepas
Kookie-a!!” selorohnya “Jangan menyentuhku, jangan mengikutiku, jangan
menggangguku. Araseo!!”
“Noona, kau tidak baca pesanku?” tanya Jungkook.
“Aku tidak tahu, aku tidak mau tahu dan jangan mengirimiku
pesan! Kau anak kecil menyebalkan. Jangan ganggu noona!” bicara Joohyun semakin
tak karuan. Sudah dipastikan, dia pasti sudah menenggak beberapa botol soju.
“Noona, berapa botol yang kau minum? Kau terlihat sangat
mabuk.”
“Tidak aku tidak mabuk, Yak! Jangan bicara denganku. Jauh
jauh dariku!”
“Tidak noona, aku akan mengantarmu pulang.”
“Yaa Jeon Jungkook, kenapa kau tidak pernah mendengarkanku,
kenapa... kenapa... kenapa... kenapa? ” JooHyun berteriak. Dia bersikap bodoh
di depan banyak orang, melempar senyum pada setiap pria dan bertingkah sok
manis. “jangan mengikutiku!” teriak Joohyun lagi. Jungkook kemudian diam.
Mundur dan pura pura tak peduli. Joohyun berjalan gontai, dengan bau alkohol
yang menguar dari bibir pink alaminya.
Jungkook berjalan di belakang wanita mabuk itu.
memastikannya untuk pulang ke rumah dengan selamat.
“Jungkook-a, jangan mengikutiku!!” teriak Joohyun dari jauh
setelah ia tiba di gang dekat rumah Joohyun. Meski mabuk, Joohyun masih sadar
akan banyak hal. Termasuk langkah kaki yang sedari tadi mengikutinya.
“Aku memaafkanmu kali ini, tapi lain kali. Aku tak akan berbaik
hati membiarkanmu mengikutiku.”
“ Noona!”
“Pulanglah!” kata Joohyun dalam keadaan mabuknya. Dia menyuruh
Jungkook kembali.
“Yaa yaa.. Baiklah.” Jawab Jungkook menurut. Jungkook
berbalik arah, dan mengurungkan niatnya untuk memberitahu Joohyun tentang hal
besar yang ingin diceritakannya sejak tadi.
Meski sudah menjauh, tapi perhatiannya masih terpusat pada
JooHyun. Jungkook berjalan mundur agar tetap bisa melihat Joohyun berjalan
menuju rumahnya.
“Waaa, lihat! Bukankah itu Joohyun?” Suara muncul dari
sekelompok pria yang berjalan tepat di depan Jungkook. Jungkook mengalihkan
perhatiannya pada mereka.
“Yaa, bagaimana? Sepertinya dia mabuk.” Kata suara yang
lain.
“Bagaimana kalau...” para pria itu saling bertatapan dengan
senyuman bengis.
“Kita perlu memberinya pelajaran karena dia menolakku dengan
kasar kan?” kata salah satu dari mereka.
“Yaa, dia juga melaporkanku ke polisi karena aku terus saja mengikutinya.”
“Bagaimana?” tanya yang lain. Anggukan pria yang lain
memberikan tanda mereka harus beraksi. Jungkook Melihat ada yang tak beres dengan mereka segera mengikuti sekelompok pria
tadi.
“Yaa, Joohyun-ah...” teriak salah satu dari mereka dan sementara yang lain
dengan sigap langsung mengambil langkah untuk menghalangi jalan wanita itu ke
rumahnya.
Seseorang menyentuh tangan Joohyun, menariknya dengan paksa
dan membenturkannya ke pagar rumah orang lain.
“YAA! Lepaskan tangan kotor kalian!” Pekik seseorang. Jeon Jungkook menghampiri
mereka. Memukul satu persatu dengan tangan kekarnya. Pemain taekwondo sabuk
hitam itu menendang salah satu dari mereka hingga tersungkur. Jungkook belum
tersentuh oleh tangan mereka sedikitpun. Satu persatu dari mereka jatuh tak
berdaya oleh tendangan dan hantaman kaki Jungkook.
Mereka masih tidak menyerah, satu dengan seseorang yang lain
bekerja sama, mereka menyerang dari
segala arah dan membuat Jungkook terkena satu pukulan tepat di pipinya. Saat
Jungkook lemah, seseorang dari arah berlawanan berusaha menyentuh punggungnya
tapi Jungkook mampu menghindar.
“Pria brengsek!”
Jungkook melepas tendangan berputarnya dan membuat salah
satu limbung. Tapi dia tak bisa menghindari tendangan di sampingnya yang
membuat dia terjatuh tepat di hadapan Joohyun.
“Jungkook-a!” Joohyun gemetar.
Jungkook marah seketika melihat wanita yang dicintainya
ketakutan. “Noona, tenanglah. Aku akan menghajar mereka semuanya.”
Jungkook pantang mundur, dia menghampiri sekelompok pria itu dan menghajarnya satu
persatu. Meski Jungkook tak bisa terhindar dari pukulan, tapi dia berhasil
membuat mereka bertekuk lutut dan kesakitan. Jungkook menang atas perkelahian
satu banding lima. Dibantu dengan jurus jurus dari ekstrakulikuler taekwondonya
di SMA.
Jungkook berdiri, menghampiri Joohyun yang masih ketakutan
dan menggenggam tangannya.
“Gwaenchana?” tanya Jungkook khawatir dan Joohyun
mengangguk. Rasa rasanya pengaruh alkohol pada Joohyun sudah menguap hilang.
Joohyun sadar penuh dan tetapi kakinya terasa lemas.
Tak mau mengambil resiko. Jungkook memaksa untuk mengantar
Joohyun pulang dan wanita itu hanya mengangguk. Hening, mereka berjalan bersama
tanpa ada sepatah katapun terucap. Mereka sibuk dengan pikirannya masing masing
meski mereka tahu, mereka sedang memikirkan satu sama lain.
“Sampai...” Kata Jungkook. “Masuklah... setelah itu baru aku
akan pergi.” Kata Jungkook. Joohyun
menatap laki laki yang sudah menyelamatkannya malam itu. Dia melihat beberapa
goresan di dekat bibirnya dan pipinya lebam.
“Bibirmu berdarah, Jungkook-a.” Kata Joohyun memeriksa wajah
Jungkook.
“Tak apa..” jawab Jungkook.
“Masuklah, kau boleh pulang setelah aku mengobatimu!”
“Tidakpapa noona, akan kuobati sendiri.” Kata Jungkook. “Aku
lihat kau lelah dan harus istirahat.” Tapi Joohyun menarik tangan Jungkook
masuk ke rumahnya.
“Sekali saja kau harus mendengarkanku.” Kata Joohyun.
Setelah mengetik password pintunya, Joohyun masuk diikuti
Jungkook yang mengekor padanya seperti seorang adik.
“Duduklah, aku ambil kotak obat dulu.” Kata Joohyun.
Jungkook lagi lagi menurut, dia duduk di sofa panjang
berwarna biru sementara Joohyun masuk ke dalam mengambil perlengkapan p3k
miliknya.
Dulu
ketika aku sangat ingin mengunjungi rumahnya, dia tidak pernah memberi
kesempatan itu. Tapi saat aku tidak sedang menginginkannya. Dia membiarkanku
masuk begitu saja... Joohyun noona memang tak bisa ditebak.
Dia
hidup dengan baik, seluruh ruangannya rapi, foto itu... ya Tuhan itu sangat
lucu. Joohyun noona saat kecil sangat imut. Dia memang sudah cantik sejak
kecil, pantas saja jika sekarang dia bagaikan bidadari.
“Mwohae?” tanya Joohyun ketika mendapati Jungkook sedang
melakukan safari tour melihat foto foto Joohyun di dinding.
“Hanya melihat lihat, noona sudah cantik sejak kecil.” Aku
Jungkook.
Joohyun hanya tersenyum “Duduklah... aku akan mengobati
lukamu.” Kata Joohyun.
Jungkook menghampiri Joohyun. Mereka duduk berhadapan
sementara Joohyun mengambil sebuah cutton bud dan mengoleskan salep luka
disana.
“Sedikit perih, tahanlah...” kata Joohyun. Jungkook menahan
sentuhan kapas yang menepuk nepuk pelan pipi dan sudut bibirnya. Sesekali dia
terkejut ketika Joohyun berhasil menemukan robekan luka yang berdarah itu. Tapi
Jungkook menahannya sekuat tenaga.
“Sakit?” tanya Joohyun. Jungkook menggeleng. “Maaf,
membuatmu jadi begini.” Sesal Joohyun. Dia menundukkan wajahnya.
“Jangan meminta maaf karena aku akan lebih terluka jika hal
yang buruk terjadi pada noona.” Jawaban
Jungkook membuat Joohyun menatapnya.
“Noona....” sebut Jungkook. “Apa benar kau tidak bisa
menyukaiku?”
“Jungkook-a, aku...” Joohyun membuang wajahnya.
“Noona menyukaiku!” kata Jungkook.
“Tidak...” Joohyun bersikeras
“Bohong...”
“Aku tidak bohong..”
“Matamu mengatakannya noona.”
“Sejak kapan kau bisa bicara dengan mataku.”
Jungkook tidak tertawa dengan candaan Joohyun. Dia terus
menatap Joohyun lekat lekat. Begitupun Joohyun yang merasa candaannya tidak
berhasil memilih membuang wajahnya lagi. Tapi Jungkook menegakkan dagu Joohyun
dengan dua tangannya. Tanpa jeda, Jungkook dan Joohyun bisa saling merasakan
tarikan nafas keduanya. Perasaan gugup melanda Joohyun, tapi Joohyun tak
berusaha menghindarinya.
Tatapan mereka semakin dalam dan selang sedetik kemudian,
bibir Jungkook sudah mendarat persis di bibir Joohyun. Tak disangka, Joohyun
memilih memejamkan matanya daripada memprotes perlakuan Jungkook.
Mengapa
aku bahkan tak bisa menolak pesona lelaki ini sekarang? Bukankah sudah berkali
kali aku berhasil melakukannya? Tapi mengapa kali ini aku tidak bisa? Apa aku
masih mabuk? Oh tidak tidak, sepenuhnya aku sadar apa yang terjadi. Tapi
mengapa Jeon Jungkook tak bisa kuabaikan? Apa aku juga menyukainya.
Jungkook menuntunnya, menyentuh pipi Joohyun dengan kedua
tangannya, . Ciuman lembut mereka terasa penuh cinta. Melebur perasaan mereka
yang akhirnya tersampaikan. Ciuman singkat itu berakhir dengan kebingungan
Joohyun.
“ Jungkook-a.” Panggil Joohyun setelah mereka melepaskan
tautan bibir merah muda keduanya.
“Uh?”
“Datanglah padaku saat kau sudah dewasa.”
“Dengan begitu kau akan menerimaku?” tanya Jungkook, dan
wanita di hadapannya itu mengangguk.
“Yaa, aku akan mempertimbangkanmu, Jeon Jungkook”
Senyum lebar Jungkook menghias di wajah tampannya.
Perjuangannya mengejar seorang Noona paling tidak tak akan berakhir sia sia.
Dia hanya perlu menunggu beberapa tahun lagi hingga usianya menjadi dewasa.

No comments:
Post a Comment