Tuesday, June 13, 2017

What's Wrong with My Age?









Noonan neomu yeppeoseo namjadeuli gaman an dweo

Huendeullineneun geunyeoae mam sashil algo isseo

Geunyeoaegae sarangeun Hansoonganae neukkimil ppoon

Molla haedo nayegaen salmae everything
(Replay- SHINee)



“Aku pergi dulu...” Kata seorang pemuda menjauh dari kerumunan teman temannya. Seperti biasa, dia memasang earphone di kedua telinganya dan menyalakan lagu favoritnya “Replay- SHINee” dari ipod. Dia berjalan cepat keluar sebuah gedung sekolah, melewati siswa siswa lain yang berjalan searah dengannya. Dia selalu begitu setiap hari, begitu bel berbunyi, dia akan  segera keluar dari sekolah dengan terburu buru.

Seragam kuningnya membuat remaja SMA ini terkesan imut dan sialan tampan. Para gadis yang sudah tahu kebiasaannya selalu pulang cepat sudah bergumul sejak dari depan kelasnya hingga gerbang sekolah hanya untuk melihat pria ini berjalan dengan wajahnya yang datar. Ada yang sibuk memfotonya, dan ada yang hanya mengikuti pria muda nan tampan itu dari dekat. Dia bukan artis ataupun selebritis. Tapi penggemarnya tak bisa kau hitung dengan jarimu.

Dia apatis! Meski dia tahu dia begitu populer di sekolah.

Bahkan setelah keluar dari komplek sekolah pun, dia selalu ditatap dengan kekaguman oleh gadis gadis dari sekolah lain. Tentu saja, seragam kuning yang dipakainya itu juga menarik perhatian mereka. Tak ada yang lebih menarik perhatian daripada seragam kuning milik Seoul of Performance and Art. terlebih dia adalah Jeon Jungkook. Salah satu siswa populer SOPA yang ketampanannya menembus ruang dan waktu... Ah berlebihan. Tapi sungguh, wajahnya sesempurna cheonsa!

Di balik hingar bingar kehidupan sekolahnya yang penuh dengan penggemar yang terang terangan mengungkapkan perasaan padanya atau yang hanya mengaguminya dalam diam, Jeon Jungkook tak pernah peduli... bahkan tak ada yang tahu bahwa dia membenci apa yang orang orang kagumkan padanya.


Heuh, aku membenci kenyataan bahwa aku masih mengenakan seragam berwarna kuning ini, disaat setiap gadis mengarahkan tiap pandangannya padaku dan mengagumi apa yang ada padaku dan apa yang melekat di diriku. Aku mulai kesal... Kenapa bukan dia yang begitu? Mengapa dia tak melihat yang sama seperti gadis gadis itu?

Mengapa dia begitu membenci seragamku... dan juga wajah imutku.


Jeon Jungkook, Remaja SMA itu berjalan menyusuri beberapa komplek perkantoran dan berhenti di sebuah kantor majalah fashion. Tidak tidak, jangan berpikiran terlalu jauh. Dia tidak kesana untuk menjadi model mereka, tidak... meski dia tahu dia tak akan ditolak jika masuk ke dalam sana dan mengajukan diri sebagai model mereka.

Karena hal ini berulangkali terjadi jika dia sedang berada di sana....

Dia hanya berdiri bersandar di tembok dekat pintu keluar sambil terus memeriksa jam tangannya.


“Bukankah ini sudah waktunya.” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Sambil menghentak hentakkan sepatu kirinya ke lantai, pemuda ini juga terus menoleh ketika seseorang keluar dari pintu di hadapannya.

Senyumnya melebar, ketika hentakan sepatu hak tinggi yang dikenalnya semakin kencang dan seseorang yang ditunggunya muncul memenuhi bayangan netranya yang bulat. Benar, jangankan hentakan sepatunya, pemuda itu bahkan tahu betul bagaimana irama nafasnya.


Wanita yang ditunggunya berhenti, membuang wajahnya dan mendesah kesal. Wanita itu  menghampiri Jungkook dengan malas.


“Kau lagi?”


“Eoh, Noona...” jawab Jungkook dengan senyuman terlebarnya yang tak pernah ditunjukkan pada siapapun. Jungkook terkenal dingin di sekolah dan oleh teman temannya dia dijuluki pria musim dingin karena jarang bicara apalagi pada gadis gadis yang mengantri padanya di sekolah. Tapi seketika, pria musim dingin ini akan berubah hangat jika bertemu dengan Bae Joo Hyun, wanita yang ditunggunya sedari tadi.

“Kau tidak bisa terus seperti ini Jungkook-a..” wanita bernama Bae Joo Hyun itu mengusap dahinya. Dia lelah dengan pekerjaannya dan ingin segera pulang. Tapi Jungkook mendatanginya setiap sore di kantor.


“Mian, tapi aku tak akan menyerah begitu saja Noona. Jadi berikan aku kesempatan sekali lagi.”


“ Kau tidak akan berhasil, Jeon Jungkook!” Yakin wanita itu.


“Noona, ayolah.  Kita kencan sekali lagi. Ya?”


“Pulanglah, aku hari ini sangat lelah. Lagipula siapa yang akan berkencan dengan siswa berseragam SMA sepertimu?Yaa! kau harusnya memikirkan bagaimana caranya masuk universitas dan belajar dengan giat. Bukan mendatangiku setiap hari dikantor.”


“Ya, setelah aku berkencan denganmu. Aku akan belajar dengan giat. Joohyun-noona” Janji Jungkook pada JooHyun.


“Jungkook-ah, ku beritahu padamu. Noona ini saaaaaangaaaaaaat jauh usianya diatasmu. Tidak bisakah kau berkencan dengan gadis seusiamu saja?”


“Shireo!! Mereka berisik merepotkan dan Aku hanya menyukaimu..”


“Yaa, perlu kukatakan berapa kali padamu. Aku tidak akan memiliki kekasih 6 tahun lebih muda dariku. Sekalipun aku menyukaimu, aku tidak akan pernah berkencan denganmu. Aku bisa saja dipenjara karena mengencani anak dibawah umur. Bukankah itu gila?”  


“Sekalipun kau menyukaiku?”


“Ya.”



“Lalu bagaimana caranya agar noona mau menjadi kekasihku?”



“Jadilah enam tahun lebih tua dariku.”



“Noona.. tidak masuk akal.”

“Kau mencintaiku. Apa bagimu itu masuk akal? Bagiku sama sekali tidak!” Joo Hyun meninggalkan Jungkook didepan kantornya dan berjalan secepat mungkin.

Penolakan ini bukan yang pertama, Jungkook sudah mengalami yang lebih pedih dari ini dan tentunya berkali kali. Jadi kata kata JooHyun bukanlah hal yang harus dipikirkan. Dia hanya perlu datang lagi besok dan mengungkapkan perasaannya lagi. Tak ada yang tahu kapan air akan menjadikan batu menjadi berlubang. Air hanya akan berusaha terus menerus menghujaninya.

Jungkook mengekor Joo Hyun, cukup jauh karena dia tak mau disangka penguntit. Jungkook menatapnya dari seberang jalan yang lain. Berjalan beriringan. Melihat Joo Hyun kelelahan dengan sepatu haknya dan beristirahat di salah satu bangku di tepi jalan. Jungkok bahkan sudah tahu apa yang akan dilakukan Joo Hyun setelah melepaskan sepatunya yang menyiksa itu.


Sebelum JooHyun merilekskan saraf saraf tegang di kakinya dengan menepuk nepuk betis, Jungkook menghampiri JooHyun, dia berlutut di hadapan Joo Hyun, menarik salah satu kakinya dan memijat punggung kaki Joo Hyun dengan lembut.

Joo Hyun menarik kakinya, merasa canggung dengan posisi mereka, tapi Jungkook tetap menariknya lagi ke genggamannya.


“Sudah kubilang, noona seharusnya bawa sepatu flat untuk pulang ke rumah. Kenapa noona tidak pernah mau mendengarkanku. Huh?” Kepala Jungkook mendongak ke atas, ia membutuhkan jawaban Joo Hyun.

“Kau juga tak pernah mendengarkanku. Kau tetap tidak mau pergi meski sudah kusuruh pergi.”


“Eeii, aku tidak akan pergi hanya karena Noona menyuruhku pergi. Aku sudah terbiasa dengan omelan, makian, siksaan dan kalimat kalimat pedas darimu jadi Aku sudah kebal... “ senyumnya begitu mengembang sempurna. Tak ada yang tahu jika seorang Jeon Jungkook punya senyum semerekah itu,


“Ciih...” Joo Hyun tersenyum remeh.


“Noona, aku menyukaimu apapun yang terjadi. Jadi aku tak akan pernah mundur meski Noona menyuruhku pergi berkali kali.” Ucap Jungkook. Dia melepas kedua sepatu kets nya dan memberikan pada JooHyun.


“Pakai saja milikku, perjalanan pulang masih sangat jauh dan high heels ini pasti akan menyiksamu sepanjang jalan.”  Jungkook berdiri dan tangan kanannya mengambil sepasang high heels milik JooHyun.

“Yaa, bagaimana dengan kakimu? Kau juga butuh alas kaki.”



“ Haha, tak apa.” Dia memandang kakinya sendiri yang hanya terbalut kaus kaki berwarna abu abu sambil menggerakan jari jarinya.


“Yaa, bagaimana bisa pria dengan seragam keren itu tidak mengenakan alas kaki? Orang orang pasti akan memperhatikanmu. Kau tidak malu?”


 “Aku tidak peduli, kau bahkan tak menganggapku begitu. Jadi untuk apa?”


“Jangan memulai atau kusuruh kau pergi sekarang juga!”


“Noona,  Bukankah yang kulakukan ini sangat keren? Tidak ada pria yang berpikir untuk memberikan sepatunya pada wanita yang disukainya agar wanitanya tidak kesakitan di jalan.”


“Heol, berhenti menonton drama romance yang menjijikan Jeon Jungkook. Aku takut kau salah tumbuh menjadi pria yang hanya memikirkan tentang cinta dan menjadi tidak realistis tentang kehidupan yang lain.” Jelas Joo Hyun. “Dan satu lagi, jangan menyebutmu pria. Ku mohon! kau masih remaja di bangku SMA.”


“Ugh, satu satunya yang kubenci dariku, adalah kenyataan bahwa aku masih SMA, berkeliaran dengan seragam kuning yang membuatku tampak begitu muda dan menggemaskan!”

“Yaa, kenapa kau membenci itu? Muda dan menggemaskan. Bukankah itu keren? Semua orang menginginkan itu.”


“Tapi tidak membuat noona suka padaku.” Jawab Jungkook penuh makna. “aku harus menjadi pria manly seperti tipemu kan?”


“Yaa, berperilakulah sesuai usiamu, Jeon Jungkook!”


Bae JooHyun menghela nafas, sulit menjelaskan pada laki laki belia yang masih menggebu gebu soal cinta. Mau dijelaskan bagaimanapun, Jeon Jungkook akan melakukan sesuatu sesuka hatinya.


“Aku tidak mau kau pergi ke tempat kerja ku lagi, atau aku tidak akan pernah menemuimu lagi. Arra?”


“Emm.... entahlah..” Ujar Jungkook sambil memiringkan kepalanya. Bukan Jeon Jungkook bila mudah menyerah hanya karena JooHyun menyuruhnya begini dan begitu.


“YA!!”


“Huh, Noona bus kita datang. Ayo, aku antar kau pulang...” Tunjuk Jungkook pada bus yang akan membawa mereka pulang ke rumah.

Jeon Jungkook, pemuda ini sudah menyukai JooHyun sejak dia berusia 15 tahun. Ah atau mungkin malah jauh sebelum itu. Awal pertemuan mereka adalah ketika  Jungkook masih di awal remaja. Sebuah pertemuan yang emosional saat itu membuat Jungkook menaruh hati pada JooHyun meski Jungkook tahu, Bae JooHyun jauh lebih tua darinya.

Perbedaan usia mereka sekitar 6 tahun, tapi Jungkook tidak peduli. Dia selalu yakin bahwa menyukai seseorang atau bahkan mencintainya tidak harus dibatasi usia. Tidak harus disyaratkan pria harus lebih tua atau minimal seusia dengannya.

Itu kuno, sekarang hal hal semacam itu sudah tanpa dinding pembatas. Semua orang memiliki hak untuk mencintai siapapun tanpa memikirkan rentang usia, atau dogma tentang pria harus lebih tua daripada wanita.


Aku mencintai JooHyun noona, dan aku akan membuat JooHyun noona juga mencintaiku.

Keyakinan itu semakin besar setiap melihat JooHyun. Apalagi ia tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan penuh semangat, selalu berpikiran positif pada setiap hal. Murah senyum dan mempesona banyak pria.

Ah sial, aku paling benci hal terakhir.


Pengakuan pertamanya adalah saat dia duduk di bangku akhir sekolah menengah pertama. Saat itu JooHyun hanya tertawa ketika Jungkook memberikan sekotak cokelat dan boneka teddy bear. Entah siapa yang mengajarkan itu semua pada Jungkook, dan JooHyun hanya tertawa geli mendengar pengakuan anak remaja itu.

“Ini menggelikan Jeon Jungkook, aku noonamu. Enam tahun lebih tua darimu. Bagaimana aku bisa berkencan denganmu. Heol! kau sudah seperti adikku jungkook-a, kau tidak bisa melindungiku.”


“Aku bisa!”


“Yaa, Jeon Jungkook. Dengarkan noona. Kau belum dewasa untuk mengerti apa itu berkencan. Apa itu mencintai. Apa itu berbagi dengan pasangan. Aku paham karena kau sudah remaja, kau pasti menyukai lawan jenismu. Tapi menyukai noona itu tidak benar Jungkook-a. Kau harus menyukai teman sebayamu.”

Awalnya Jungkook menyerah dan berusaha menyukai teman wanitanya di kelas. Tapi Jungkook gagal. Dia selalu membandingkan JooHyun noona-nya dengan teman wanitanya itu. Dan pada akhirnya, dia selalu berkata  “JooHyun noona memang yang terbaik.”


Dia kembali mengejar JooHyun saat dia masuk SMA, dan ini hampir memasuki tahun ke duanya  di SMA. Pekerjaan Jungkook setelah menyelesaikan pelajarannya di sekolah adalah menemui JooHyun di kampus, dan setelah JooHyun menyelesaikan studinya. Jungkook masih mengejar JooHyun hingga ke tempat kerjanya.

Hari itu berlalu seperti biasa, Jungkook mengantar JooHyun sampai di depan jalan setapak menuju rumah JooHyun. JooHyun selalu menolak jika Jungkook ingin mengantarnya ke depan pintu rumahnya. Dia hanya menciptakan batas, agar Jungkook tak perlu berharap lebih lagi pada JooHyun.


 Bukan Jeon Jungkook namanya jika dia menyerah setelah perjuangan panjangnya mengejar JooHyun noona. Ketika JooHyun memintanya untuk tidak datang ke kantor. Dia memilih menunggu JooHyun di halte dekat rumah tinggalnya.


Meski Jungkook sering mengikuti kemanapun JooHyun pergi, tapi Jungkook tak serendah itu untuk menjadi penguntit JooHyun. Yaa, JooHyun pasti merasa terganggu karena terus dikejar oleh  laki laki SMA di usianya yang sudah hampir seperempat abad. Tapi dia melihat niat baik Jungkook padanya dan JooHyun tidak melihat obsesi yang berlebihan pada Jungkook terhadap dirinya. Pemuda itu memiliki cara yang elegan hanya untuk membuat Joohyun terkesima pada setiap pembuktian pembuktian yang dia lakukan untuk menarik hati wanita itu.


Dan sekali lagi, aku terkesima melihat bagaimana dia melepas sepatunya dan memberikannya padaku tanpa ragu... (Bae Joo Hyun)

*WWWMA*


Sore bersinar seperti biasanya, dan lagi gadis gadis itu terus mengarahkan lensa kameranya pada sosok yang sama seperti kemarin. Jeon Jungkook. Beberapa bulan belakangan ini dia tidak mencoba memotong rambutnya, dan membuat hairstyle nya sedikit berbeda. Dia menyemir rambutnya menjadi sedikit pirang kecoklatan, ah apalah itu yang jelas dia melakukan sedikit pergantian model rambut hari ini terlepas dari warnanya. Dan lagi lagi itu membuat semua mata menatapnya dengan kagum... bahkan banyak teman teman lelakinya iri pada ketampanrupawanan pria musim dingin itu.

Dia tak pergi ke tempat biasa, dia hanya berlari ke halte bus dan kembali ke rumah. Mengganti seragamnya dengan kemeja dan membenahi sedikit rambutnya dengan wax lalu kemudian pergi.

Asal kalian tahu saja, dia menjadi puluhan kali tampan dengan kemeja dan warna rambutnya yang baru. Dia cocok.... So Fucking Handsome!



Meski tak ke kantor JooHyun, Jeon Jungkook tetap berniat menemui wanita itu. Tepat... dia menunggu di halte tempat dia biasa turun sepulang kantor. Sore yang cerah itu berlarut larut menjadi gelap. Jeon Jungkook tetap berada di halte bus, menunggu sosok JooHyun yang selalu membuatnya cinta mati.

“Noona, aku ingin memberitahumu sesuatu. Bisakah kita bertemu setelah kau pulang kerja?”


Tapi waktu menunjukkan pukul 09.00 malam dan JooHyun belum nampak juga. Pesan dari Jungkook bahkan belum terbaca. Apa dia begitu sibuk sampai menyelesaikan pekerjaan sampai selarut ini? Batin Jungkook.


Setiap bus yang datang, menjadi harapan baru bagi Jungkook dan bus kali ini adalah harapan yang ke sembilan. Tapi JooHyun masih saja belum nampak meski hanya desahan nafas kesalnya jika ia melihat Jungkook di depan matanya.


“Noona, kenapa malam sekali kau pulang?” gumam Jungkook.

Tak keluar dari bus, sosok yang ditunggunya datang. Berjalan sempoyongan dari sisi kanan jalan. Wajahnya memerah penuh dan  langkahnya tak beraturan.

“Aigoo, wanita ini minum minum ternyata.” Sangka Jungkook. “ Apa harinya sangat berat?”
“Noona, gwaencanha? Kau mabuk?” Jungkook menggenggam lengan JooHyun tapi Wanita itu melepasnya.


“Lepas Kookie-a!!” selorohnya “Jangan menyentuhku, jangan mengikutiku, jangan menggangguku. Araseo!!”



“Noona, kau tidak baca pesanku?” tanya Jungkook.


“Aku tidak tahu, aku tidak mau tahu dan jangan mengirimiku pesan! Kau anak kecil menyebalkan. Jangan ganggu noona!” bicara Joohyun semakin tak karuan. Sudah dipastikan, dia pasti sudah menenggak beberapa botol soju.

“Noona, berapa botol yang kau minum? Kau terlihat sangat mabuk.”



“Tidak aku tidak mabuk, Yak! Jangan bicara denganku. Jauh jauh dariku!”


“Tidak noona, aku akan mengantarmu pulang.”


“Yaa Jeon Jungkook, kenapa kau tidak pernah mendengarkanku, kenapa... kenapa... kenapa... kenapa? ” JooHyun berteriak. Dia bersikap bodoh di depan banyak orang, melempar senyum pada setiap pria dan bertingkah sok manis. “jangan mengikutiku!” teriak Joohyun lagi. Jungkook kemudian diam. Mundur dan pura pura tak peduli. Joohyun berjalan gontai, dengan bau alkohol yang menguar dari bibir pink alaminya.

Jungkook berjalan di belakang wanita mabuk itu. memastikannya untuk pulang ke rumah dengan selamat.

“Jungkook-a, jangan mengikutiku!!” teriak Joohyun dari jauh setelah ia tiba di gang dekat rumah Joohyun. Meski mabuk, Joohyun masih sadar akan banyak hal. Termasuk  langkah  kaki yang sedari tadi mengikutinya.


“Aku memaafkanmu kali ini, tapi lain kali. Aku tak akan berbaik hati membiarkanmu mengikutiku.”


“ Noona!”


“Pulanglah!” kata Joohyun dalam keadaan mabuknya. Dia menyuruh Jungkook kembali.

“Yaa yaa.. Baiklah.” Jawab Jungkook menurut. Jungkook berbalik arah, dan mengurungkan niatnya untuk memberitahu Joohyun tentang hal besar yang ingin diceritakannya sejak tadi.


Meski sudah menjauh, tapi perhatiannya masih terpusat pada JooHyun. Jungkook berjalan mundur agar tetap bisa melihat Joohyun berjalan menuju rumahnya.



“Waaa, lihat! Bukankah itu Joohyun?” Suara muncul dari sekelompok pria yang berjalan tepat di depan Jungkook. Jungkook mengalihkan perhatiannya pada mereka.


“Yaa, bagaimana? Sepertinya dia mabuk.” Kata suara yang lain.


“Bagaimana kalau...” para pria itu saling bertatapan dengan senyuman bengis.


“Kita perlu memberinya pelajaran karena dia menolakku dengan kasar kan?” kata salah satu dari mereka.


“Yaa, dia juga melaporkanku ke polisi karena  aku terus saja mengikutinya.”


“Bagaimana?” tanya yang lain. Anggukan pria yang lain memberikan tanda mereka harus beraksi. Jungkook Melihat ada yang tak beres  dengan mereka segera mengikuti sekelompok pria tadi.


“Yaa, Joohyun-ah...” teriak salah satu dari mereka dan sementara yang lain dengan sigap langsung mengambil langkah untuk menghalangi jalan wanita itu ke rumahnya.


Seseorang menyentuh tangan Joohyun, menariknya dengan paksa dan membenturkannya ke pagar rumah orang lain.

“YAA! Lepaskan tangan kotor kalian!”  Pekik seseorang. Jeon Jungkook menghampiri mereka. Memukul satu persatu dengan tangan kekarnya. Pemain taekwondo sabuk hitam itu menendang salah satu dari mereka hingga tersungkur. Jungkook belum tersentuh oleh tangan mereka sedikitpun. Satu persatu dari mereka jatuh tak berdaya oleh tendangan dan hantaman kaki Jungkook.


Mereka masih tidak menyerah, satu dengan seseorang yang lain bekerja sama,  mereka menyerang dari segala arah dan membuat Jungkook terkena satu pukulan tepat di pipinya. Saat Jungkook lemah, seseorang dari arah berlawanan berusaha menyentuh punggungnya tapi Jungkook mampu menghindar.


“Pria brengsek!”


Jungkook melepas tendangan berputarnya dan membuat salah satu limbung. Tapi dia tak bisa menghindari tendangan di sampingnya yang membuat dia terjatuh tepat di hadapan Joohyun.


“Jungkook-a!” Joohyun gemetar.


Jungkook marah seketika melihat wanita yang dicintainya ketakutan. “Noona, tenanglah. Aku akan menghajar mereka semuanya.”


Jungkook pantang mundur, dia menghampiri  sekelompok pria itu dan menghajarnya satu persatu. Meski Jungkook tak bisa terhindar dari pukulan, tapi dia berhasil membuat mereka bertekuk lutut dan kesakitan. Jungkook menang atas perkelahian satu banding lima. Dibantu dengan jurus jurus dari ekstrakulikuler taekwondonya di SMA.


Jungkook berdiri, menghampiri Joohyun yang masih ketakutan dan menggenggam tangannya.


“Gwaenchana?” tanya Jungkook khawatir dan Joohyun mengangguk. Rasa rasanya pengaruh alkohol pada Joohyun sudah menguap hilang. Joohyun sadar penuh dan tetapi kakinya terasa lemas.

Tak mau mengambil resiko. Jungkook memaksa untuk mengantar Joohyun pulang dan wanita itu hanya mengangguk. Hening, mereka berjalan bersama tanpa ada sepatah katapun terucap. Mereka sibuk dengan pikirannya masing masing meski mereka tahu, mereka sedang memikirkan satu sama lain.


“Sampai...” Kata Jungkook. “Masuklah... setelah itu baru aku akan pergi.” Kata Jungkook.  Joohyun menatap laki laki yang sudah menyelamatkannya malam itu. Dia melihat beberapa goresan di dekat bibirnya dan pipinya lebam.


“Bibirmu berdarah, Jungkook-a.” Kata Joohyun memeriksa wajah Jungkook.


“Tak apa..” jawab Jungkook.


“Masuklah, kau boleh pulang setelah aku mengobatimu!”


“Tidakpapa noona, akan kuobati sendiri.” Kata Jungkook. “Aku lihat kau lelah dan harus istirahat.” Tapi Joohyun menarik tangan Jungkook masuk ke rumahnya.


“Sekali saja kau harus mendengarkanku.” Kata Joohyun.


Setelah mengetik password pintunya, Joohyun masuk diikuti Jungkook yang mengekor padanya seperti seorang adik.

“Duduklah, aku ambil kotak obat dulu.” Kata Joohyun.

Jungkook lagi lagi menurut, dia duduk di sofa panjang berwarna biru sementara Joohyun masuk ke dalam mengambil perlengkapan p3k miliknya.

Dulu ketika aku sangat ingin mengunjungi rumahnya, dia tidak pernah memberi kesempatan itu. Tapi saat aku tidak sedang menginginkannya. Dia membiarkanku masuk begitu saja... Joohyun noona memang tak bisa ditebak.

Dia hidup dengan baik, seluruh ruangannya rapi, foto itu... ya Tuhan itu sangat lucu. Joohyun noona saat kecil sangat imut. Dia memang sudah cantik sejak kecil, pantas saja jika sekarang dia bagaikan bidadari.

“Mwohae?” tanya Joohyun ketika mendapati Jungkook sedang melakukan safari tour melihat foto foto Joohyun di dinding.


“Hanya melihat lihat, noona sudah cantik sejak kecil.” Aku Jungkook.


Joohyun hanya tersenyum “Duduklah... aku akan mengobati lukamu.” Kata Joohyun.


Jungkook menghampiri Joohyun. Mereka duduk berhadapan sementara Joohyun mengambil sebuah cutton bud dan mengoleskan salep luka disana.

“Sedikit perih, tahanlah...” kata Joohyun. Jungkook menahan sentuhan kapas yang menepuk nepuk pelan pipi dan sudut bibirnya. Sesekali dia terkejut ketika Joohyun berhasil menemukan robekan luka yang berdarah itu. Tapi Jungkook menahannya sekuat tenaga.

“Sakit?” tanya Joohyun. Jungkook menggeleng. “Maaf, membuatmu jadi begini.” Sesal Joohyun. Dia menundukkan wajahnya.


“Jangan meminta maaf karena aku akan lebih terluka jika hal yang buruk terjadi pada noona.”  Jawaban Jungkook membuat Joohyun menatapnya.

“Noona....” sebut Jungkook. “Apa benar kau tidak bisa menyukaiku?”


“Jungkook-a, aku...” Joohyun membuang wajahnya.


“Noona menyukaiku!”  kata Jungkook.


“Tidak...” Joohyun bersikeras


“Bohong...”


“Aku tidak bohong..”


“Matamu mengatakannya noona.”


“Sejak kapan kau bisa bicara dengan mataku.”


Jungkook tidak tertawa dengan candaan Joohyun. Dia terus menatap Joohyun lekat lekat. Begitupun Joohyun yang merasa candaannya tidak berhasil memilih membuang wajahnya lagi. Tapi Jungkook menegakkan dagu Joohyun dengan dua tangannya. Tanpa jeda, Jungkook dan Joohyun bisa saling merasakan tarikan nafas keduanya. Perasaan gugup melanda Joohyun, tapi Joohyun tak berusaha menghindarinya.

Tatapan mereka semakin dalam dan selang sedetik kemudian, bibir Jungkook sudah mendarat persis di bibir Joohyun. Tak disangka, Joohyun memilih memejamkan matanya daripada memprotes perlakuan Jungkook.

Mengapa aku bahkan tak bisa menolak pesona lelaki ini sekarang? Bukankah sudah berkali kali aku berhasil melakukannya? Tapi mengapa kali ini aku tidak bisa? Apa aku masih mabuk? Oh tidak tidak, sepenuhnya aku sadar apa yang terjadi. Tapi mengapa Jeon Jungkook tak bisa kuabaikan? Apa aku juga menyukainya.

Jungkook menuntunnya, menyentuh pipi Joohyun dengan kedua tangannya, . Ciuman lembut mereka terasa penuh cinta. Melebur perasaan mereka yang akhirnya tersampaikan. Ciuman singkat itu berakhir dengan kebingungan Joohyun.



“ Jungkook-a.” Panggil Joohyun setelah mereka melepaskan tautan bibir merah muda keduanya.


“Uh?”



“Datanglah padaku saat kau sudah dewasa.”


“Dengan begitu kau akan menerimaku?” tanya Jungkook, dan wanita di hadapannya itu mengangguk.


“Yaa, aku akan mempertimbangkanmu, Jeon Jungkook”


Senyum lebar Jungkook menghias di wajah tampannya. Perjuangannya mengejar seorang Noona paling tidak tak akan berakhir sia sia. Dia hanya perlu menunggu beberapa tahun lagi hingga usianya menjadi dewasa.


No comments:

Post a Comment